"Sudah kuduga. Akhirnya.. kebenaran."
Hermione Granger hanya bisa memandang putus asa ke arah sobatnya yang nangkring di atas sofa, wajah lelah itu mendadak kelihatan bersemangat sekali. Parameter mood Harry sedang bagus hari ini, Hermione baru saja menceritakan ancaman seseorang yang mungkin mengandung sekelumit fakta soal Pelahap Maut— obsesi Harry belakangan ini, sebagaimana obsesi semua penyihir yang punya cukup kadar perasaan untuk merasa cemas.
Perihal pembantaian terang-terangan yang terjadi di mana-mana, teror yang menyelubungi lingkup masyarakat sampai ke pelosok-pelosok benua, dan bahkan tidak seorang pun peduli kalau-kalau para pengikut Pangeran Kegelapan itu lupa soal batas-batas dunia sihir. Semuanya dimangsa. Kawasan Muggle diserang. Yang katanya bencana alam itu sebenarnya ulah mereka, kan? Jembatan raksasa putus, ribuan korban jiwa melayang. Macam-macam yang dilakukan.
Kemuraman turut bermukim di Hogwarts, kabar-kabar duka yang diantar burung hantu tiap sarapan— biasanya sayap mereka terluka, entah apa yang dialami di perjalanan. Beberapa orang bilang burung hantu dicegati Kementerian, paranoid yang tak bisa disalahkan sekali pun melanggar privasi— mereka selalu bisa berdalih tentang kebaikan khalayak umum, atau apalah. Sekarang ini penduduk cuma bisa angguk-angguk kepala, terlalu sibuk pasang pengamanan di sekeliling rumah, kayak berguna saja mengingat sihir hitam itu bisa menembus Protego Maxima semudah merapalkan Wingardium Leviosa.
Lagipula Hogwarts juga lama kelamaan tidak terasa seperti rumah lagi. Kastil raksasa itu lebih terasa seperti benteng yang dibangun semasa perang, tujuannya tidak lain hanyalah untuk melindungi penghuninya dari aktivitas Pelahap Maut itu sendiri. Memang sih, mereka tidak tersentuh seujung kuku pun, tapi kalau spekulasi Harry terbukti benar—ada Pelahap Maut di Hogwarts—tinggal tunggu tanggal mainnya saja sebelum asrama bakal disusupi dan Tanda Kegelapan bakal mejeng di langit lapangan Quidditch.
Hermione menghembuskan napas keras-keras. Mati sajalah ia sekarang, kalau begitu. Orang tuanya menghilang, tidak jelas status nyawanya. Hidup atau mati. Dibunuh dengan sihir atau terbunuh karena ledakan sewaktu melarikan diri. Kabur ke hutan atau sudah duduk-duduk di surga. Satu kata: kepastian. Hermione perlu kepastian, sebelum ia sendiri ikutan bunuh diri saking tidak sabarnya menanti daftar korban penyerangan di kawasan Muggle menampakkan diri dalam halaman Daily Prophet terbitan khusus.
Ia tidak menderita sendirian, beruntungnya, karena Harry dan Ron juga setia menemaninya— bahkan dalam urusan bercemas-cemas ria. Ron nyaris gila karena ibunya mau ia pulang waktu natal dan tidak usah kembali ke Hogwarts sekalian. Sudah cukup lima tahun, biar ayahmu carikan pekerjaan di divisinya, jadi tukang sapu-sapu Kementerian saja tidak apa-apa, Mum ikhlas. Hermione bisa mati tertawa saking merananya nasib sahabat rambut merahnya itu. Kalau Harry? Ia sih, tidak usah ditanya. Sudah bawaan dari lahir untuk cemas memikirkan Voldemort-bangkit-dan-aku-bakal-mati-sebentar-lagi. Ditambah Ginny yang masih sewot masalah partner tugas Ramuan Harry, si Astoria-Perfect-Greengrass, itu sudah cukup untuk meledakkan kepalanya dalam sekali pikir.
"Waktu kita mengikutinya ke Borgin and Burkes, apa yang dia lakukan?"
Ron menatap Harry dengan sedikit lelah. "Kalau kau lagi-lagi bicara soal Malfoy, dia memerhatikan lemari jelek di pojokan, oke? Jadi kenapa?"
"Dan setelah itu?"
Hermione kali ini menyahut bosan. "Dia bicara dengan pemilik tokonya, membahas 'yang satunya lagi' atau semacam itu."
"Benar," Harry menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Matanya berkilat antusias. "Kalian sudah dengar waktu aku menyusup ke kompartemen Slytherin di Hogwarts Express musim gugur kemarin, kan?"
"Yang hidungmu patah gara-gara dihajar Malfoy?" Ron mendengus.
"Malfoy bilang," Harry pura-pura tidak mendengar Ron. "Dia akan melakukan sesuatu yang besar dan mungkin tidak akan kembali lagi ke Hogwarts tahun depan."
"Mungkin maksudnya ia tidak berniat lulus NEWT," celetuk Hermione. "Yah, mengingat otaknya cuma dipenuhi bayangan-bayangan soal isi rok cewek—"
"Oh, kau tahu sekali soal Malfoy, ya." Ron menyindir. "Tidak heran sih, kau kan nyaris masuk daftarnya."
"Sori, Weasley, bisa diperjelas? Daftar apa?" Hermione melipat tangan di dada dengan jengkel.
"Hei, kalian berdua," Harry memijat pelipis. "Tolong fokus."
Ron berdeham sedikit. "Oke, maaf, tuan detektif. Sekarang kau boleh lanjutkan sesi penyelidikanmu."
"Terserah kau, Ron." Harry meneruskan dengan kalem, sama sekali tidak merasa terganggu dengan interupsi semi meledek dari kedua temannya itu. "Lalu, kemarin malam, Malfoy mengakuinya sendiri—"
"Dengar dulu, Harry," sela Hermione. "Bukan maksudku membubarkan harapanmu yang sudah menggelembung indah itu—" sedikit bumbu sarkas, "tapi, Malfoy tidak mengaku, oke?"
"Kau tahu biasanya ancaman selalu dilebih-lebihkan," tanggap Ron. "Mungkin dia tidak benar-benar sudah bergabung dalam Pelahap Maut, cuma ingin menggertak Hermione saja."
"Kau pikir dia mungkin main-main dengan keanggotaan Pelahap Maut?"
"Kenapa tidak?" Hermione membalas. "Dia main-main dengan segalanya, Harry. Lagipula, aku tidak habis pikir kenapa Pangeran Kegelapan mau menerima bocah enam belas tahun sebagai anggota Pelahap Maut."
Harry sedikit ragu. Iris hijaunya menatap Ron dan Hermione dengan pandangan bertanya. "Begitukah.. menurutmu?"
"Mungkin kita bisa pasang mata kalau kau masih curiga padanya."
"'Kita' itu termasuk aku?" Hermione mendecih. "Oh, makasih banyak, deh."
"Sayang, padahal kau bagus buat umpan." Ron mengangkat bahu.
Tidak perlu kata-kata lagi, Hermione otomatis menerjang Ron dengan bantalan sofa ("APANYA YANG UMPAN KAU IDIOT—"), sementara Harry hanya mampu menghela napas keras-keras untuk yang kesekian kalinya. Seperti yang sudah-sudah, pertarungan ini bakal berlangsung selamanya.
Andai.. saja ia bisa tertawa sekarang.
o0o
a Dramione fanfiction written by GinevraPutri:
THE DEAD HEART
—
Harry Potter © J.K. Rowling
Hogwarts, 1996
o0o
IV
"Drake?"
Melempar amplop merah muda menggelikan satu-persatu ke perapian yang menyala, Draco Malfoy menyahut enggan. "Blaise?"
"Surat cinta lagi?" Blaise Zabini nyengir kuda, mendekat selangkah dua langkah ke perapian, sebelum menyandarkan dirinya ke dinding. "Dari siapa?"
"Entah," Draco menggeleng bosan. "Tidak kubuka. Siapa tahu ada yang nekat membubuhkan Amortentia."
Blaise terkekeh. "Omong-omong soal Ramuan, kau sudah dengar hadiah yang dijanjikan Slughorn hari ini?"
"Mm-hm?"
"Katanya ia sedang berbaik hati, mau memberikan sebotol kecil Felix Felicis gratis buat yang bisa meramu Tegukan Hidup Bagai Mati di kelasnya hari ini," Blaise meneruskan. "Tadi siang, jamnya Ravenclaw-Hufflepuff, tidak ada yang berhasil."
Draco mengibaskan tangannya begitu tumpukan surat cinta itu tuntas terbakar habis di perapian. "Lalu?"
Blaise mengangkat alisnya sebelah. "Felix Felicis itu nama lain dari Cairan Keberuntungan."
Jeda.
"Apa?"
"Sekali teguk, semua usaha sulitmu akan berhasil. Yang kudengar dari Ravenclaw sih, begitu."
Draco menegakkan diri, memusatkan perhatiannya kini. "Kita ada Ramuan kan, sore ini? Dengan.. Gryffindor?"
Blaise mengangguk. "Yakin deh, kita bakal disuruh bikin Tegukan Hidup Bagai Mati." Dehaman. "Omong-omong partnernya sama seperti kemarin."
Draco mengumpat. "Sama seperti kemarin?"
Brengsek. Pupus sudah harapannya membawa pulang Felix Felicis kalau harus bekerja sama dengan Longbottom si otak udang.
"Selamat berjuang, Drake." Slytherin di hadapannya itu nyengir sekali lagi— yang secara otomatis mengingatkan Draco pada partner kerja Blaise.
Holy shit.
Tahu begini ia setujui saja ajakan tukar partner itu kemarin-kemarin.
o0o
"Dipotong, bukan digerus— Potter."
Astoria Greengrass berkacak pinggang menghadapi sosok penyihir legendaris di depannya yang kini tengah menyerngitkan dahi— memelototi buku panduan Ramuan yang kondisinya mengenaskan. Coretan tinta memenuhi halaman-halamannya, nyaris tak menyisakan ruang untuk membaca petunjuk cara pembuatan yang dibutuhkan.
"Di sini tertulis digerus," Harry Potter mengangkat bahu, membetulkan gagang kacamatanya. Gryffindor itu kembali tenggelam dalam upayanya membaca tulisan tak berbentuk di bukunya.
Astoria mendesis tak suka, menghela napas melihat kacang Sopophorus yang meloncat-loncat kegirangan di atas meja. Dasar kacang menyebalkan, tidak tahu diri— sudah bagus ia mau memunguti bahan-bahan Tegukan Hidup Bagai Mati dari lemari penyimpanan yang mungkin sudah seribu tahun tidak dibersihkan itu dengan tangannya sendiri. Sekarang ia masih harus memotong-motong kacang konyol ini— dan meladeni partnernya yang menyuruh-nyuruh untuk mengabaikan instruksi buku.
Awalnya ia kira lumayan bagus kalau dia bisa berpartner dengan Harry Potter (memangnya siapa lagi yang bisa ia harapkan), hitung-hitung mendongkrak popularitasnya yang belakangan ini dikalahkan Lavender Brown dengan pacar barunya, si Won-Won siapalah itu. Sebagai bonus, Ginny Weasley mungkin juga bakal mengajaknya duel— sempurna. Makin banyak yang membicarakannya. Astoria Greengrass menjadi orang ketiga dalam hubungan The Chosen One— headline majalah Parvati Patil yang ia harap-harapkan.
Tapi Astoria tidak menyangka berpartner dengan Harry bakal jadi semenyusahkan ini. Benar-benar butuh kerja keras untuk tidak menyumpahi gaya bossy Gryffindor itu. Belum lagi titah-titahnya yang sering menyelentang dari buku— tapi anehnya malah berhasil.
Astoria menatap heran pada kacangnya yang mulai mengeluarkan cairan lebih banyak dari sebelumnya— digerus, bukan dipotong. Secara magis, warna ramuan di kuali itu mendadak berubah persis seperti yang disebutkan di buku. Astoria mengerjap heran. Kalau begini terus, bisa-bisa Felix Felicis itu jatuh ke tangannya.
Mengangkat bahu, menjernihkan pikiran. Apa pun itu yang Harry lakukan, mungkin Astoria pikir ia bisa bersabar sedikit lebih lama lagi— demi keberuntungannya.
o0o
"Daftar korbannya sudah keluar?"
Ungu pekat. Hermione menghembuskan napas keras-keras, frustasi. Mengerling ke arah Blaise Zabini setengah hati, gadis itu menggeleng pelan.
"Tolong masukkan cairan dari kacangnya,"
Blaise menurut.
—hitam. Oh, Hermione menyerah. Instruksi sialan di buku benar-benar tidak membantu. Iris hazelnya mengedarkan pandang ke sekeliling kelas. Gumam-gumam tertekan mengudara. Kelihatannya Felix Felicis itu belum bisa berpindah tangan juga sampai sore ini.
"Waktunya lima menit lagi, anak-anak."
Blaise tersenyum kecut menanggapi pengumuman singkat dari Slughorn yang sangat membesarkan hati tersebut. Bahkan Hermione Granger tidak sanggup mengatasi ramuan ini. Perlahan matanya mencari-cari Draco dan Neville Longbottom— sekedar ingin tahu. Oh, ketemu. Blaise berjinjit sedikit untuk mengintip warna cairan di dalam kuali. Oranye? Mereka sedang mengerjakan proyek jeli rasa jeruk atau apa, sih?
"Aduk terus saja, deh." Hermione mendesah. "Searah jarum jam enam kali."
Blaise menggaruk tengkuknya. Ia jadi ikut putus asa.
o0o
"Searah jarum jam enam kali, kemudian tambahkan satu adukan berlawanan."
Bening. Sialan. Harry tidak percaya ini. Warnanya sama persis dengan yang disebutkan buku.
"Kau bercanda," Astoria menggeleng takjub.
Harry hanya mengangkat bahu, jari-jemarinya menyentuh permukaan buku panduan bekas yang ada di tangannya. Brilian. Siapa pun Pangeran Berdarah Campuran ini— nama pemilik buku yang sebelumnya —jelas dia benar-benar Ahli Ramuan.
"Potter, dia ke sini."
Harry mengangkat wajah tepat ketika Proffesor Slughorn berjingkat ke arahnya untuk memeriksa hasil akhir. Gryffindor itu bertukar pandang dengan partnernya sebelum menegakkan diri.
Felix Felicis— salam kenal.
o0o
Kalau ia yang dapat Cairan Keberutungan itu, mungkin tugas dari Dark Lord sudah rampung— ia bisa berleha-leha dengan menggoda Granger atau ikut Blaise menyelundupkan wiski api ilegal dari Hogsmeade ke asrama. Tapi, masalahnya, ia gagal mendapatkan hadiahnya, dan botol kecil itu malah jatuh ke tangan pahlawan kesiangan favorit Gryffindor— The Chosen One dan segala tetek bengeknya, Harry Potter si Kepala Pitak.
Yeah, ia tidak begitu keberatan kalau Astoria seorang diri yang mendapatkannya, dia bisa minta seteguk atau apalah— tapi karena si Greengrass itu berpasangan dengan si idiot ini, Draco tidak bisa berbuat apa-apa. Mana mungkin ia meminta-minta ramuan itu ke Potter? Hah? Yang benar saja.
Bicara soal si kacamata busuk itu, serahkan padanya untuk cari muka di depan Slughorn— yang langsung memberinya predikat macam-macam sebagai Ahli Ramuan, Siswa Teladan, inilah itulah. Seakan-akan gelar Anak-Yang-Bertahan-Hidup masih kurang istimewa saja. Lama-lama Draco mual juga mendengarnya.
Belum lagi prospek tugas itu— ah, Draco bisa gila kalau begini caranya. Ia butuh hiburan sekarang, atau paling tidak, target pelampiasan. Dan mungkin Merlin sedikit merasa bersalah karena tidak memberikan Felix Felicis itu pada Draco, maka ia menakdirkan Hermione Granger lewat beberapa meter dari sana.
Bagus. Roknya di atas lutut lagi.
Draco melonggarkan dasi, bergegas memacu langkahnya menghampiri Hermione, siapa tahu pesonanya bisa membuat rok itu terlepas sekalian.
o0o
Kecurangan. Hermione menggeram dalam hati. Tentu saja itu curang namanya, selama kau tidak mengikuti aturan buku tapi sukses— pokoknya semua jalan pintas itu curang. Argh. Pertama kalinya ia dikalahkan dalam kelas, dan rasanya benar-benar menyebalkan. Apalagi kalau pelakunya tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Sialan. Ia harus segera menemukan siapa Pangeran-Pangeran yang menjadi pemilik buku sebelumnya— dan Harry harus mengembalikannya. Titik. Tidak koma, tidak tanda tanya. Lagipula, bagaimana ceritanya sih ia 'kebetulan' tidak berminat ikut kelas Ramuan tahun ini, 'kebetulan' tidak membeli buku panduan, dan 'kebetulan' menemukan buku bekas di lemari penyimpanan? Dasar Merlin dan takdirnya yang semena-mena— Hermione meneruskan gerutuannya dalam hati. Perpustakaan akhirnya menjadi pilihannya. Langkahnya terdengar menggema di dinding koridor. Matahari hampir terbenam. Cahaya keemasan perlahan memancar dari sela-sela jendela kastil. Semoga ia berhasil menemukan buku yang tepat sebelum makan malam.
Hermione sedikit mempercepat langkahnya, menekan paranoid ke dasar otak. Sudah dua kali dirinya nyaris terancam mampus gara-gara ada—
"Sendirian saja, Granger?"
—musang pirang berdarah dingin.
"Perlu kutemani?"
Tawa hambar— "Tidak, terima kasih." —kendati trauma sudah terbit.
"Ah.. ya. Seperti biasa, jual mahal."
Dengusan itu terdengar familiar. Hermione sudah menghabiskan waktunya berulang kali mendengar dengusan itu— suara itu. Nadanya yang memuakkan.
Ia menyumpah dalam hati.
Draco tak berniat untuk pergi, kakinya sendiri membayangi langkah kaki Hermione, menyamakan iramanya. Seperti yang belakangan ini ia lakukan terus menerus. Hermione melirik roknya. Oh, brengsek. Di atas lutut lagi— mungkin itu alasan utama Malfoy datang merecokinya.
"Besok libur. Mungkin aku akan ke Hogsmeade, membeli beberapa rok baru. Jangan khawatir."
Draco tertawa. "Kau yang jangan khawatir. Mau rokmu sepanjang mata kaki pun, aku akan tetap di sini, kok."
Mendesah. Terserah kau sajalah, Malfoy.
"Omong-omong, Granger tidak termasuk korban di penyerangan kemarin."
Hening.
Hermione menghentikan langkahnya. Berbalik secepat kilat, menyahut. "Apa?"
"Orang tuamu sepertinya masih hidup— kecuali mereka dimakan binatang buas atau semacamnya." Draco mengangkat bahu.
"Dari mana—" Hermione menyipitkan mata curiga. Ada yang janggal— tapi mungkin ia akan memikirkannya nanti. "Kau tidak asal bicara, kan?"
Memutar mata. "Menurutmu?"
"Oh."
Hermione menggumam pelan. Separuh dari dirinya terlalu lega untuk merespon sengit. Ia harus apa sekarang? Bilang terima kasih? Itu informasi yang sangat terbatas, tentu saja, tidak ada dimana-mana. Kendati masih diragukan kebenarannya, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Hermione. Setidaknya ia punya harapan sekarang. Jadi.. keputusan akhirnya, Nona-Tahu-Segala, bilang atau tidak?
"Jangan terlalu keras berpikir, Granger. Kalau kau mau mengucapkan terima kasih dengan satu malam di ranjang, tentu akan kuterima dengan senang hati."
Jeda.
Ha-ha. Oh, Merlin, tolong bunuh dia— dan lupakan saja terima kasihnya.
o0o
To Be Continued
o0o
A/N: Saya ngaret berapa dekade, kira-kira? Ide baru mengalir malam ini sih, maafkan ya. Terima kasih untuk daisyalien, undhott, narcissy, someandmany, AoKeisatsukan, Riska662, Staecia, Jovia Slytheris, yvonne. ching, semua Guest yang sudah me-review, semua yang sudah mem-follow dan mem-favo, serta semua yang sudah mau membaca. Omong-omong, ada perbaikan sedikit di chapter satu dan dua, hanya pembetulan ejaan dan beberapa bagian yang kurang sreg dibaca saja, kok. Akhir kata, mohon review-nya supaya chapter selanjutnya lebih baik, ya? Sampai ketemu di chapter depan (dan doakan idenya nggak macet lagi, hehe xD)! –GP.
