WARNING(S): AU, OOC, TYPO(S) PERHAPS?, KURORO X FEM! KURAPIKA, GAJE, ABAL, FIKSI PERTAMA DI FHI!~
DISCLAIMER: Kalau HxH punya saya, saya bakal jadiin Kurapika sama Kuroro selalu bersama sampe akhir! Makanya itu, HxH punya Yoshihiro Togashi-sensei!~
Previous Chapter: "Kurapika?" Bukan suara keibuan yang biasa membalas salamnya melainkan suara bariton laki-laki yang menyahut.
"Kau."
4. STRANGE
…
"Lho, kenapa dengan rambutmu, eh?" Laki-laki berambut perak berantakan itu menunjuk-nunjuk kepala temannya dengan raut herannya.
"Belum sisiran, ya Kurapika?" Laki-laki lainnya yang lebih pendek dan berambut hitam menambahkan dengan santai dan polosnya hingga membuat perempuan blonde yang dimaksud hanya diam maklum sambil menunduk.
"Bukan, Gon! Ini gara-gara tadi ada orang aneh yang mengejar-ngejarku saat di jalan tadi. Beruntung, orang itu tidak terlalu nekat untuk mengejar sampai gerbang." jawab si manis Kurapika dengan sedikit gerutuan yang terdengar agak berbeda. Ya, berbeda sebab menggerutu dan berdecak itu sama sekali bukan sifatnya.
"Kenapa sih, Kurapika? Kelihatannya kau kesal sekali." Killua yang tentunya menyadari ini langsung saja bertanya. 'Kan malu bertanya sesat di jalan!~
"Sedang PMS ya?" Kali ini sebuah kalimat yang amat sangat tidak terduga yang keluar dari mulut seorang anak polos macam Gon yang otomatis membuat kedua temannya yang sedang berjalan di sampingnya itu menoleh serentak ke arahnya. Dengan wajah kaget dan horor masing-masing tentunya.
"HAH? Kau bilang apa, Gon?" Kurapika sekalipun tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. Seorang Kurapika, lho!
"… Gon…" Laki-laki perak yang satunya saja sampai kehilangan kata-kata dan tenaga hingga ia berhenti berjalan. Kepalanya tertunduk hingga tidak terlihat jelas seperti apa ekspresinya saat itu.
"Kemana Gon bodoh nan polos yang selama ini kukenaaaaal?" jerit Killua dengan raut horor hingga semua penghuni sekolah di dekat mereka menolehkan pandangan mereka hanya untuk sekedar melihat reaksi dramatis sang Zaoldyeck muda.
"Ih, apa sih Killua? Kau berlebihan deh. Kalau masalah itu sih aku tahu dari Bibi Mito! Lagian kenapa masalah seperti ini dibesar-besarkan, sih?" balas Gon sambil sedikit cemberut. Tentu saja ia sedikit kesal dengan sikap teman terbaiknya ini yang selalu heboh tiap kali Gon bertindak atau berkata hal-hal yang bukan seperti anak kecil. Lagipula, ya ampun! Di fanfiksi ini Gon sudah kelas 1 SMA lho! Wajar saja 'kan Gon bertindak dan berkata seperti remaja pada umumnya?
"Lho, tentu saja masalah ini HARUS dipertanyakan sebab ini menyangkut akhir dunia, lho! Kalau kau saja mulai tidak 'polos' berarti kiamat sudah dekat!" ucap Killua dengan nada dan ekspresi luar biasa horor. Entah ia bermaksud bercanda atau tidak, dua pukulan langsung saja mendarat mulus di kepala perak itu.
BUAGH
"..Duh… Kalian apa-apaan sih? Kalau aku amnesia, bagaimana? Kalian mau tanggung jawab?" gerutu Killua tak terima dengan perlakuan dua orang 'teman'nya itu.
"Aku sih tak masalah kau amnesia. Jadi kami bisa membuat otakmu yang aneh itu menjadi bekerja senormalnya." jawab Kurapika sarkastis dengan lirikan tajam tentunya.
"Hahaha!~ Kau benar Kurapika! Ayo kita buat Killua menjadi 'normal'!" Gon tertawa geli sementara sang Zaoldyeck muda hanya bisa terdiam dengan wajah pucat yang memerah. Bagaimana tidak? Bahkan seorang Gon yang polosnya setengah hidup pun ikut men-declare kalau Killua memang harus di'cuci' otak.~ *Author dikepret Killua*
Kedua orang di depan Killua semakin tertawa menjadi-jadi begitu melihat respon Killua yang malah terlihat sangat aneh dan sedikit seperti perempuan. Biasanya Killua akan pura-pura mengambek atau apalah, kali ini ia hanya duduk diam dengan rona merah di seluruh wajahnya. Mungkin karena dirinya masih syok dengan sikap Gon yang mulai 'tak polos'?―menurut sudut pandang Killua.
"Ugh! H-hentikan tertawa kalian, dong! K-kenapa kalian malah makin keras sih?" ucap Killua terbata, masih menahan emosi.
"Hahaha~ Ahaha, habis kau juga ikut aneh sih hari ini!~" jawab Kurapika sambil berusaha berhenti tertawa.
"Hm, coba ingat deh. Hari ini kita semua memang aneh, 'kan? Pertama Kurapika, lalu Killua. Aku sih tidak aneh, Killua saja yang seenaknya berkata begitu." Gon memberi alasan―atau pembelaan diri atas dirinya yang dituduh aneh. Tetapi memang jikalau dilihat dari sisi orang ketiga, mereka bertiga memang aneh.
"Mungkin gara-gara orang aneh yang mengejar-ngejar Kurapika tadi pagi? Aku sering dengar ucapan 'kalau bertemu orang gila di suatu hari maka di satu hari itu kau akan sial'." Killua mengemukakan pendapatnya―sebenarnya sih sedang berusaha mengalihkan topik dan membangkitkan harga dirinya.
"Ah, dengar kalimat itu darimana? Aku baru dengar itu dari kau. Lagipula, jangan percaya takhayul seperti itu, Killua." balas Gon memperingati temannya itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa ada orang yang mengejar-ngejarmu, Kurapika?" tanya Killua menyadari topik awal pembicaraan mereka sempat berbelok kemana-mana.
"Huh, aku sendiri juga tak tahu. Pokoknya aku cuma berjalan ke sekolah seperti biasa. Orang itu berdiri di pojokan jalan sendirian. Ia memintaku untuk memilih salah satu kartu yang ada di tangannya, setelah aku memilih, ia malah menyeringai aneh dan berkata sesuatu dengan bahasa asing lalu mulai mengejarku." ucap Kurapika cepat dengan raut mulai pucat dan mata melebar. Tentunya ia masih sedikit takut dengan kejadian tadi pagi.
"Jangan-jangan kau dikutuk, Kurapika?" ucap Killua histeris dengan efek dramatis. Sungguh, Kill, untung saja dirimu didukung dengan wajah yang tampan dan uang melimpah, jika tidak… yah, begitulah.
"Apasih, Killua? Sudah kubilang 'kan jangan percaya dengan takhayul. Daripada omongan kita makin belok, kita ke kelas saja yuk!"
Dan bertepatan dengan selesainya ucapan Gon, bel masuk benar-benar berbunyi.
Lelaki berbaju merah itu kembali menyeruput kopi hitamnya. Mata coklat kehitamannya tak beralih dari huruf-huruf rapat barisan artikel koran pagi itu. Pengusaha muda di bidang mainan itu sedang menikmati pagi liburnya dengan nikmat dan santai.
"Shizuku? Kau sudah bangun?" tanya pemuda itu agak heran begitu melihat wanita berambut hitam yang mengenakan gaun tidur sedang berjalan menuju dapur.
"Ah, ya. Memangnya kenapa, Shal?" tanya sang wanita balik dengan raut heran polosnya.
"Ah tidak, jarang saja melihatmu sudah berkutat di dapur sepagi ini." ucap sang pemuda dengan senyum manis sembari kembali menyeruput kopinya.
"Oh. Entahlah, aku terbangun begitu saja karena aku lapar. Kau tidak ke kantor, hm?"
"Ahaha, sudah kubilang tadi malam kalau hari ini aku libur? Hmm, lagipula nanti siang aku mau ke rumah baru Danchou, kau mau ikut? Kudengar yang lainnya juga akan ke sana hari ini." ucap sang pria rambut pasir sambil melipat korannya dan menyesap habis kopinya.
"Mau ke rumah Danchou? Tentu saja aku ikut!~ Kira-kira sudah 6 bulan lebih ya, terakhir bertemu dengannya?" jawab sang wanita dengan nada sumringah sambil mengeluarkan beberapa makanan beku dari kulkas dan siap menghangatkannya di microwave.
"Hee, benar juga, ya? Memang sih aku hanya berkontak via Internet selama ini, tapi apa Danchou banyak berubah, ya? Mungkin saja akhirnya ia sudah punya tunangan rahasia, ya? Ahaha~"
"Hoo, bisa juga. Syukurlah kalau benar begitu, akhirnya Danchou single itu menghapus 'gelarnya'. Ah, lebih baik aku telepon Machi sekarang. Ia juga akan datang, 'kan?" tanya sang wanita rambut hitam dengan wajah masih berbinar walau kesan berantakan sehabis bangun tidur masih terlihat jelas.
"Ooh, kalau dia sih mungkin sudah datang sedari tadi pagi, atau bahkan kemarin? Sebab entah kenapa aku merasa si joker aneh itu sudah berada di kota ini…" Tak ada angin dan apapun, seketika pemuda itu merasa merinding untuk beberapa saat. Mungkin karena efek membicarakan seseorang?
"Ahahaha, benar juga ya? Padahal kemarin sore aku sudah menemukan kartu ucapan aneh di kotak pos. Aku lupa menaruhnya dimana." ucap wanita itu polos sambil mengangkat baconnya dari wajan dan membawa makanannya itu ke tempat suaminya duduk.
Ya benar, suami. Kalian tidak salah baca. Mereka adalah pasangan suami-istri berusia 7 bulan yang tinggal di kota yang sama dengan sang Danchou namun berbeda lokasi dan jarak rumah mereka terpaut cukup jauh jikalau ditempuh menggunakan kaki atau sepeda motor.
"AH! Pantas saja semenjak pulang kantor tadi malam sudah ada aura tidak enak seperti ini. Hmm, ya sudahlah, sampai sekarang aku masih heran apa yang menyebabkan orang itu selalu mengeluarkan aura seperto ini. Teman-teman Danchou memang aneh-aneh." komentar sang kepala rumah tangga sambil menyentuh sarapan yang barusan dibuat Shizuku.
"Berarti kita juga aneh, dong?"
"Teman-teman Danchou memang aneh kecuali kita, hee.~" ucap Shalnark lagi sembari memberi senyum jenakanya dan kembali melahap roti isi telur dan bacon itu.
"Auch! Sakit sekali." gumam sang gadis pirang sambil sedikit meringis.
"Hah? Kenapa Kurapika? Ada apa dengan kakimu?" tanya Gon khawatir sambil melihat kaki sang Kuruta.
"Tidak tahu juga. Tiba-tiba saja aku merasa sendi kakiku bergeser. Mungkin aku kurang minum air putih?" jawab sang gadis rasional. Ia tidak terlalu memikirkan hal itu dan kembali berjalan normal bersama teman-temannya.
Mereka bertiga tengah berjalan menuju kantin. Bel istirahat kedua baru saja berbunyi dan memang sekarang adalah waktu makan siang.
"Tuh 'kan! Apa kubilang tentang orang gila? Kau pasti akan sial sepanjang hari ini, Kurapika!" ujar sang Zaoldyeck tak mau kalah sambil terus saja mengunyah snack tersayang.
"Ih apa sih, Kill? Kurasa kau terlalu banyak menonton sinetron, deh. Apa kubilang? Lebih baik nonton anime, 'kan?" ucap Gon dengan nada sinis mendengar ucapan takhayul temannya.
"Ih, siapa juga yang nonton sinetron? Oh iya, aku sudah nonton anime yang kau bilang itu! Apa itu namanya? HunterXHunter kalau tak salah? Aku suka sekali dengan tokoh berambut pirang putihnya, dia keren sekali!~"
"Ooh! Anime itu. Aku juga pernah menontonnya di An*m*x dulu. Aku suka dengan tokoh laki-laki yang warna matanya berubah itu, entah kenapa ia seperti mirip sekali denganku." komentar Kurapika sembari menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Hahaha, kalian akhirnya menonton anime itu, toh? Iya 'kan? Itu memang keren. Ayahku bilang ia ikut terlibat dalam pembuatannya, tapi tak tahu juga sih. Ia juga pernah bilang kalau dirinya yang membuat game super 'Greed Island' itu." ucap Gon dengan nada riang di awal dan nada malas di akhir. Mungkin karena ayahnya itu tidak kunjung pulang ke rumah dan bercerita macam-macam padanya? Tentunya seorang remaja seperti Gon masih bisa merasakan rasa rindu pada sang ayah. Makanya om Ging, kenapa kok gak pulang-pulang? Anakmu, anakmu manggil-manggil nama―plakk!―oke, lanjut cerita!
"Hee, lagi-lagi ayahmu terlinat dalam proyek besar ya? Kalau begitu ia sudah sukses, dong? Kenapa masih tidak pulang juga?" tanya Killua penasaran sambil menarik kursi meja kantin dan mendudukkan dirinya dengan posisi senyaman mungkin.
"Ah, tidak tahu juga. Orang itu selalu pulang dan pergi seenaknya." ucap Gon dengan suara memelan dan ekspresi yang agak sulit dijabarkan.
"… Hahaha, jangan sedih begitu, Gon!~ Kau masih memiliki aku dan Killua di sini, ya 'kan Kill?" ucap Kurapika sembari tersenyum manis dan menepuk pundak Gon pelan. Disaat-saat seperti ini, Kurapika memang lebih terlihat seperti kakak Gon daripada teman sekelasnya.
"Iya Gon!~ Mungkin saja saat ia pulang nanti kau malah ikut diajak pergi entah kemana―mengingat ia tipikal orang yang seenaknya. Ayo daripada murung, kita pesan makan saja!~" usul sang Zaoldyeck yang memang perutnya itu sudah berdering minta diisi sejak jam pelajaran ke-6 tadi. Dasar Killua…
"Benar. Aku juga sudah lapar! Waiter!" panggil Gon dengan nada kembali riang gembira seperti Gon biasanya.
"Hehehe, Gon kembali!~ Eh, nanti pulang sekolah kita main, yuk? Besok 'kan Sabtu, jadi tak masalah 'kan?" usul Killua lagi dengan nada sama riangnya. Memang atmosfer di sekitar tiga sekawan itu cepat sekali bergonta-ganti karena dua anak itu.
"Boleh-boleh. Eh, bukannya kemarin kita sudah memutuskan akan ke rumah Kuroro-sensei? Ingat? Kita ingin belajar, bukan?" balas Gon mengingat kemarin sahabat pirang putihnya itu 'bersemangat' sekali ingin ke rumah sang guru.
"Hee? Iya juga ya? Aku juga lupa, jadi belum sempat bilang ke orangnya." ucap Kurapika sambil meletakkan daftar menu yang sedari tadi dipegangnya.
"Ah, biar saja tak usah bilang. Kita langsung datang sa―"
"Anda sudah siap memesan?" sela sang waiter rambut samurai dengan wajah dan nada sama annoying-nya. Ya, readers sekalian pun sudah pasti tahu siapa waiter jutek ini.
"Huft! Kenapa mereka masih saja memperkejakan orang seperti ini, ya?" ucap Killua sarkastis namun wajah dan pandangannya hanya lurus tertuju pada menu.
"Jadi? Tidak ingin memesan? Baiklah." Waiter jutek itu tak kalah sarkastisnya dan bersiap pergi meninggalkan meja mereka.
"Eh! Eh! Tunggu! Aku mau pesan pasta dan jangan lupa vanilla oat milk* ya! Kau mau apa, Kurapika?" tanya Gon menoleh kepada teman pirangnya itu.
"Hm, kurasa aku yakisoba saja. Minumnya cukup air putih. Kau Killua? Aku tahu kau lapar, jadi lebih baik pesan sekarang." ucap Kurapika menyarankan sambil menatap maklum temannya yang amat moody itu.
"Ha-ah~ Ya, ya. Aku mau mochi saja dengan teh hangat. Jangan pakai lama, ya!" ucap Killua dengan nada sama sinisnya dengan yang tadi sambil menatap malas sang waiter―yang sama-sama membalas tatapan sinis Killua dengan jutek dan cuek.
"Jadi, pasta, yakisoba, mochi, teh, air putih, dan vanilla oat milk? Ditunggu 10 menit." jawab pelayan itu singkat dan datar sambil berlalu.
"Huh, waiters di sekolah ini ada berapa sih? Kenapa selalu dia yang muncul dan mencatat pesanan kita?" gerutu Killua begitu sang pelayan bermasalah sudah meninggalkan meja mereka.
"Sabar, Kill! Sabar. Mungkin memang mood-nya sedang jelek." komentar Gon dengan segala keoptimisannya.
"Masa tiap hari dan tiap saat mood-nya selalu jelek? Madesu sekali orang itu!" balas Killua lagi masih dengan nada kesalnya.
"Hahaha, ya sudahlah. Yang lalu biar saja berlalu. Lagipula dia tidak menyusahkan kita 'kan? Memang sih aku akui sikapnya itu agak menyebalkan, tetapi selama dia tidak macam-macam sih biar saja." Kurapika berkomentar maklum karena ia sendiri juga agak jengah melihat sikap sang pelayan satu itu.
"Ha-ah~ Ya sudahlah.~"
"Kyaaa!~ Kyaaa!~ Itu dia! Itu dia!~~" Tiba-tiba saja serentetan teriakan fangirls yang sepertinya kelewat senang itu terdengar sampai ke meja mereka. Langsung saja ketiga makhluk pemeran utama fanfiksi ini menolehkan kepala ke asal suara-suara bising itu.
"Ah!~ Aku ingin makan siang bersama sensei!~~"
"Eh! Yang akan makan siang bersama sensei itu aku!"
"Sudahlah, ingat perjanjian klub kita? Sensei itu milik kita bersama!~ Sekarang lebih baik kita pikirkan cara mengajak sensei mau makan bersama kita!~" ucap seorang gadis yang sepertinya ketua klub dadakan itu dengan wajah memerah, seperti gadis yang lainnya.
"Ya, ketua benar!~ Ayo kalau begitu!~~" sahut gadis yang lainnya.
Dan serombongan gadis itu langsung saja berlomba-lomba menuju tempat Kuroro sedang memesan makanan―yang ternyata selama ini sang guru sedang berdiri di depan counter kantin tak jauh dari meja tiga sahabat itu.
"Sensei!~ Kyaa!~" Dan masih banyak lagi sahutan lainnya yang Author sendiri malas mengetikkannya.
Sedangkan ketiga sahabat itu hanya ber-sweat dropped ria melihat tingkah serombongan gadis fangirls itu.
"Ya ampun! Sepertinya dimanapun Kuroro-sensei berada pasti memancing keributan, ya?" ucap Gon masih sambil menatap agak seram ke rombongan gadis yang sedang menerjang sang guru.
"Yaah, sedikit banyak aku agak kasihan padanya." Killua berkomentar sambil melirik rombongan itu malas. Ingat kalau ia memang agak sensi dengan hal ini?
"Kenapa memangnya? Bukannya kau malah iri ya?" tanya Gon balik.
"Hmm, ya coba bayangkan saja jika kau jadi sensei. Setiap hari atau bahkan setiap saat akan ada banyak orang men-stalk kegiatanmu. Aah, aku jadi bersyukur menjadi laki-laki biasa!~" jawab Killua masih sambil melirik malas rombongan yang tengah mencapai kantin.
Waiter yang tadi sempat dibicarakan kembali dengan membawa senampan berisi pesanan-pesanan mereka. Tidak ada yang berkomentar dan tak ada satupun yang berbicara kepada sang waiter yang juga hanya diam dengan wajah tertekuk.
"Iya juga sih. Nah, begitu dong Kill! Akhirnya kau berkata satu hal yang benar." ucap Gon sambil tertawa dan mengelus dada―meledek sang Zaouldyeck sih intinya.
"Huh, apa sih Gon? Aku selalu berkata hal normal, kok!" protes Killua tak mau kalah. Kemudian ia melirik ke arah temannya yang satu lagi yang sedari tadi tidak terdengar suaranya.
"Kurapika? Kau sedang melamun atau bagaimana?" tanya Killua heran begitu melihat sang Kuruta sedang terdiam menoleh ke arah rombongan fangirls itu―atau ke arah objek yang dituju oleh para fangirls.
"A-ah! Haha, tidak kok. Memang sedang membicarakan apa?" tanya Kurapika kepada kawan-kawannya itu.
"Hmm, kau sedang memikirkan sesuatu, eh Kurapika? Atau sedang melihat sesuatu?" tanya Killua dengan nada iseng dan kumis kucing mulai muncul di wajahnya.
"Jangan-jangan kau juga tidak sadar kalau pesanan kita sudah sampai?" tanya Gon memastikan.
"He-eh ah?" Kurapika memang benar baru sadar di bawah kepalanya sudah tersaji yakisoba pesanannya tadi. "A-a-ah ya, begitulah. Aku tadi sedikit tak fokus. Maaf yah? Kalian sedang membicarakan sesuatu?" tanya Kurapika lagi sedang berusaha berdalih. Ya, berdalih. Sebab memang benar ia mungkin agak melamun tadi, dan kebetulan ia melamun dengan pandangan mata ke arah sang guru. Eh? Mungkin juga dia tidak sedang melamun dan memang hanya sedang memperhatikan sang guru. Ya, soal ini hanya Kurapika sendiri yang mengetahui kebenarannya.
"Hmmm, begitu ya Kurapika?~ Hehe, sepertinya aku punya sesuatu yang bisa kujadikan kerjaan baru.~" ucap Killua dengan seringaian kucing isengnya―atau boleh juga membayangkan trollface seorang Killua―yang membuat jantung Kurapika berdegup kencang.
"Ap-apa maksudmu sih Killua? Benar kok, aku memang sedang tak fokus tadi! Sudahlah, ayo makan makananmu, keburu dingin nanti!" ucap Kurapika agak gugup dengan sedikit semburat merah muncul di wajah manisnya.
"Hei, Killua, nanti beritahu aku ya apa maksudmu." tambah Gon ikut iseng sebelum ia menyentuh pastanya. Oh, Gon! Kau benar-benar sudah remaja!~
"Tenang saja Gon!~ Fufufu~"
Dan sang Kuruta kembali berdalih dengan suara makin gugup dan wajah memerah. Oh, seharusnya Kurapika bersyukur bahwa ini merupakan tanda kalau dirinya masih merupakan gadis normal yang bisa jatuh cinta, 'kan? Eh? Jatuh cinta? Apa benar begitu? Ya, sekali lagi, hal ini hanya diketahui oleh sang Kuruta seorang. Mungkin karena efek bertemu orang aneh tadi pagi, seharian ini sang Kuruta memang menjadi agak aneh.
"Yaah, padahal aku benar-benar mau melihat isi rumah orang itu!" Killua mendesah pelan dalam kekecewaan begitu melihat rumah bergaya Victorian itu dipenuhi oleh beberapa mobil dan motor. Sepertinya banyak orang yang sedang mengunjungi sang pemilik baru rumah tersebut.
"Tenang saja Kill, 'kan masih ada hari esok!~ Atau esoknya lagi? Untung 'kan rumahnya cukup dekat dengan rumah Kurapika?" hibur Gon dengan nada bicara penuh keoptimisan.
"Ya, ya. Lagipula kita memang belum bilang akan berkunjung ke rumahnya 'kan? Oh iya, lagipula ada seseorang yang ingin bertemu kalian di rumahku!~" tambah Kurapika teringat akan kunjungan orang itu kemarin.
"Hee? Siapa? Siapa?" tanya Gon dan Killua penasaran.
"Ahaha, nanti juga kalian akan lihat sendiri!~" jawab Kurapika senang dengan senyum penuh misteri―setidaknya itulah arti senyum Kurapika bagi Killua dan Gon.
Mereka pun akhirnya sampai di depan rumah Kurapika dan Senritsu. Ya, setelah mengetahui bahwa mereka tak mungkin mengunjungi rumah Kuroro yang penuh tamu itu―entah kenapa hal itu malah membuat Kurapika menjadi lega―mereka memutuskan untuk berkunjung ke rumah Kurapika.
"Tadaima!~" ucap Kurapika sembari melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. Hal itu juga dilakukan Killua dan Gon.
"Ooh! Kau sudah pulang Kurapika?~" balas suara bariton dengan nada riang terdengar dari dalam rumah.
"Oooh! Jadi orang yang maksud dia, Kurapika?~" ucap Killua memastikan dengan wajah kembali ceria.
Kurapika hanya mengangguk pelan dengan senyum tak kalah ceria dari Gon dan Killua. Kedua anak itu pun langsung saja berlari masuk rumah menuju pemilik suara bariton ceria itu.
"Waah!~ Gon dan Killua, 'kan?~ Kalian sudah besar yah?~" ucap suara bariton itu begitu melihat sosok Gon dan Killua.
"Leorio!~ Kau sendiri sudah terlihat lebih tua, ya?" jawab Gon dengan wajah dan nada polosnya, yang malah mengundang tawa geli dari sang Zaoldyeck.
"HAHAHAHA!~ Haha, memang benar 'kan kataku? Kau memang sudah seharusnya memakai titel 'Paman', eh PAMAN Leorio!~" ucap Killua meledek dengan penekanan yang, oh, sungguh sangat meledek.
"Heh! Heh! Sudah kubilang berkali-kali panggil aku Leorio saja, muka kucing!" balas sang pria tak mau kalah melawan anak-anak remaja ini.
"Hahaha, nah kalian sudah lihat sendiri 'kan siapa orangnya?" tambah Kurapika yang baru saja muncul di dapur tempat sang pria sedang membuat makanan untuk dirinya sendiri.
"Oh iya, aku lupa kalau kau satu sekolah dengan mereka, Kurapika-chan!~ Padahal tadinya sebelum kembali ke York Shin aku mau mengunjungi kalian dulu." ucap sang pria sambil mengangkat mie-nya dan menaruhnya di mangkuk.
"Eh? Memang PAMAN Leorio kapan akan kembali lagi ke York Shin? Baru saja kau sampai sini, 'kan?" tanya Killua masih dengan keisengannya sambil duduk di meja makan ruangan itu.
"Bukan 'Paman'! Dan ya, aku akan kembali nanti malam sebab tadi pagi aku dapat telepon dari atasanku untuk segera kembali karena ada sedikit masalah di rumah sakit." ucap Leorio sambil melahap mie instan buatannya.
"Eeeh?" Ketiga remaja berseragam sekolah itu sontak saja mengeluarkan reaksi yang sama begitu mendengar pernyataan sang dokter kota besar itu―yang merupakan mantan guru privat Gon dan Killua dan merupakan teman satu kampus Senritsu dan ibu Kurapika. Masalah umur, sebenarnya Kurapika dan Leorio juga hanya terpaut 8 tahun, dengan Gon dan Killua 10 tahun. Ia sama seperti Gon dan Killua dulu, banyak meraih beasiswa dan menjalani akselerasi sehingga ia cepat mapan seperti ini. Untuk keterangan lebih lanjutnya, tunggu chapter-chapter selanjutnya―plakk!
"Tapi kau baru saja sampai kemarin, 'kan Leorio? Kenapa tidak tinggal sebentar di sini?" tanya Kurapika penasaran kepada teman baik ibunya itu sekaligus mantan pengasuhnya dulu. Ya, sewaktu Kurapika berumur 5 tahun, Leorio pernah menjadi pengasuhnya sewaktu ia sedang mencari pekerjaan sambilan untuk kuliah. Ibu Kurapika menawarkan untuk menjaga anaknya selama ia bekerja dan Leorio setuju. Maka dari itu ia sudah terlihat seperti paman bagi Kurapika.
"Iya! Kenapa tidak berkunjung ke rumahku dulu? Bibi Mito pasti senang melihatmu kembali!" protes Gon sama kecewanya. Gon sendiri juga menganggap sang dokter baru itu sebagai paman, sebab berkat privat bersama Leorio itulah dirinya dan Killua bisa dengan mudah melewati program akselerasi.
"Ya, ya, anak-anak! Maaf yah! Namanya juga dokter baru, pasti masih agak repot, bukan? Lagipula, Hatsuki pasti menunggu aku pulang, bukan? Hahaha~"
"Hatsuki-san? Oh iya, kenapa tidak sekalian saja bawa tunanganmu itu ke sini? Kami 'kan juga ingin melihatnya secara langsung, bukan dari foto saja." ucap Killua membayangkan wanita bernama Hatsuki itu, yang pernah ia dan Gon lihat dalam foto di dompet sang dokter.
"Iya, aku juga ingin bertemu dengannya. Oh iya, kau sudah bilang Senritsu kalau kau akan pulang malam ini?" tanya sang Kuruta masih dengan raut kecewa tersisa di wajahnya.
"Belum sih, Makanya nanti aku baru akan pamit saat ia pulang. Hmm, ngomong-ngomong sedang ada apa kalian kemari? Kerja kelompokkah?" tanya sang pria sambil mneyesap kuah yang tersisa di mangkuk itu.
"Tidak kok. Tadinya kami mau pergi ke rumah gebetan Kurapika, eh tidak jadi karena ternyata di rumahnya sedang banyak tamu." jawab Killua santai, mungkin tanpa sadar sebab ketiga orang lainnya di ruangan itu membeku seketika mendengar ucapan santai sang Zaoldyeck muda.
"H-hah? Apa kau bilang Killua? Apa aku tidak salah dengar? Ahahaha~ akhirnya anak asuhanku sudah dewasa, yah?~" Seketika itu juga ruangan itu dipenuhi tawa geli nan nge-bass dari sang dokter.
"Yah, ketahuan deh Kill." ucap Gon sambil tersenyum iseng sembari melirik Kurapika yang entah sudah semerah apa wajahnya saat itu.
"Ap-ap-apa-apa-apaan sih K-Killua? S-ss-siapa y-yang suka sih?"
"Ah iya!~ Maaf Kurapika, aku kelepasan!~" ucap Killua santai nan tenang sambil tersenyum kucing dan menggaruk pipinya yang tak gatal.
"Killuaaaa!"
Setidaknya sore itu menjadi sore yang aneh dan tak biasa di kediaman Kurapika.
"Heee!~ Danchou, kau tahu? Aku bertemu dengan seorang nenek, pria, dan gadis yang memiliki aura menarik sekali!~ Pantas saja kau memilih pindah ke sini, hm?" ucap seorang pria berambut jingga kemerahan yang berpenampilan paling aneh dan eksentrik di ruangan penuh tamu itu.
"Hmph, aku pindah karena aku butuh. Lagipula aku tidak mengerti hal seperti apa yang kau maksud." ucap sang Danchou, atau sebut saja Kuroro, santai sembari meminum sirupnya.
"Aww, kau sudah tidak seru, Danchou!~ Aku menemukan gadis ini tadi pagi, berambut pirang dan mengenakan…um… aku rasa seragam sekolah? Dan ia berlari menuju tempatmu bekerja." tutur sang joker dengan seringai anehnya itu sambil kembali mengocok dan membuka-buka kartunya.
Alis Kuroro sedikit bereaksi begitu mendengar ucapan sang teman lama itu. "Berlari? Kau tidak berbuat macam-macam padanya 'kan, eh Hisoka?" tanya Kuroro dengan nada datar dan atmosfer di sekitarnya sedikit berubah menjadi agak berat. Tentunya sang joker menyukai reaksi ini.
"Tidak kok. Aku hanya menyuruhnya memilih takdirnya. Dan karena ia memilih takdir yang amat sangat sial, aku kasihan padanya dan mencoba menghindarkannya. Aku itu orang baik, Danchou!~ Tak sepertimu!~" balas sang joker santai yang membuat sang Danchou terdiam dengan wajah agak memucat dan tertunduk. Sepertinya pangkal ucapan sang joker benar-benar berefek besar terhadap sang pemusik handal itu.
"…Tolong jangan ingatkan aku soal itu lagi. Dan terima kasih atas usahamu." ucap Kuroro pelan dan datar sembari meninggalkan orang itu tersenyum sendirian.
"Oi Danchou!~ Ayo sini ikut main! Sudah lama 'kan kita tidak main bareng?" ajak pemuda berambut coklat pasir itu dengan nada ceria.
"Hm." jawab Kuroro singkat kemudian menghampiri Shalnark dan yang lainnya yang tengah bermain mahjong. Mungkin sekilas terlihat permainan orang tua, tetapi sungguh, kau tidak akan pernah tahu betapa menyenangkannya bermain ini bersama. Apalagi bersama teman dan sembari bernostalgia.
Ah! Kuroro sedang tidak ingin bernostalgia dan mengingat kejadian-kejadian itu.
Sang joker kembali menyeringai di tempatnya duduk. "Apa kau mau memilih nasibmu, eh Machi?" ucap sang joker tanpa melihat kemanapun kecuali kartu-kartunya. Seorang perempuan cantik berambut ungu kemudian duduk di temapt Kuroro tadi duduk.
"Kenapa kau kembali mengingatkannya? Sudah 7 tahun berlalu bukan?" ucap sang wanita itu dengan dingin dan datar tanpa menggubris pertanyaan sang joker sebelumnya.
"Bukan urusanmu, 'kan? Lagipula sudah kubilang aku ini orang baik. Rumah ini penuh dengan tekanan dan Danchou yang sekarang sangatlah lemah." ucap sang joker santai sambil terus melihat kartu-kartunya.
"Anggap saja aku membalas hutangku." lanjut sang joker kemudian membuka salah satu kartu bergambarkan seorang pria tegantung terbalik dengan tulisan 'The Hanged Man' di bawahnya.
...
*vanilla oat milk: menu baru di pizza h*t, silakan coba, enak lho!~ #plak
A/N: HONTOU NI GOMENNASAI! Saya tau ini ngaret gak tau diri banget, semoga masih ada yang mau baca yah? T_T
DANKE FüR DIE REVIEWS, VOLK!
WhitePearl, Kaoru Hiiyama, Kay Lusyifniyx, Rei-no-otome, N and S and F, Kujo Kazuza Phantomhive, RedMahlova, Apdian Laruku, Natsu Hiru Chan,
dan semua pembaca hening!~
.
Tunggu aja balesan revi anda-anda ya! Dan yang baca, masih mau kasih revi gak? TTwTT~~
Salam, Kurofer... ;_;
