Tittle :: Feeling Lost -Chap4-
Cast::
Do Kyungsoo -D.O-
Kim Jongin -Kai-
Wu Yifan -Kris-
Warn:: Typo! Genderswitch/Transgender/!
Yang tidak suka harap menjauh perlahan dari sekarang.
Jeongmal mianhae.. Maaf banget atas kehiatusan ku yang lamanya tak terduga(?) maaf yang udah buat readers yang udah nunggu ff abal ku. Aku diculik ke kamar kaisoo buat rekamin kegiatan mereka tiap malem muehehehe. Sekarang aku kambek membawa 3 ff sekaligus (feeling Lost chap4/188cm Vs 158cm chap5/ dan /Your Death My Fault part1 of 2/)
Saya mengutuk Silent readers so Yang udah baca langsung Review! Buat semangat kambek ne..
Shim Kyunghee Present
:::::Feeling Lost:::::
(masih dalam masa flashback)
' Bisakah pramugari ini ku sumpal sebentar saja. Ck.. Sangat mengganggu. ' itulah yang kini berada di dalam hati pria tampan dengan kacamata hitam berada setia di hindung mancungnya. Kris melihat layar smartphone mahalnya yang telah terputus sambungan dengan kekasih. Mematikan ponselnya dan memasukan ke dalam saku celana hitam yang kini ia pakai. Beberapa jam menempuh perjalanan pikirannya terus berkelana menebak apa yang terjadi pada gadisnya.
:::::::::: Feeling Lost ::::::::::
Sunyi.. Tak ada suara bising seperti beberapa menit yang lalu. Itulah yang Kyungsoo rasakan. Berada di kegelapan langit-langit rumahnya dengan airmata yang membasahi pipi chuby Kyungsoo, Rambut hitam basah dibeberapa bagian akibat keringat yang mengucur deras, serta bibir merah mudanya yang ia tutup agar tak ada suara isak yang keluar, sebab itulah yang dipesankan sang ayah.
Membuka perlahan sebuah sisi langit-langit itu, tak didengarnya suara tembakan atau langkah kaki di rumah yang kyungsoo kenal saat dia baru mengenal dunia, hanya suara detak jarum yang berada pada dinding putih itu. Menjulurkan kaki nya perlahan, bermaksud melompat dari ketinggian dua setengah meter dari lantai rumah. Kursi yang digunakan ayahnya untuk menggendong Kyungsoo menaiki atap, kini telah tergeletak. Menutup matanya, mencoba menahan rasa takut pada ketinggian.
Haaapp bruuuk
Kyungsoo jatuh pada lantai dingin dengan kaki yang sedikit tertekuk.
" hikss appa appoyo " rintihnya pelan dan memegang pergelangan kakinya itu. Mencoba bangkit dengan menjadikan tembok sebagai rambatan. Terseok demi membawa diri ke hadapan ayah gagahnya yang kini telah...
" appaaa! " tergenang darah segar di sekitar tubuh besar tingginya, mata terpejam rapat serta luka yang tak mampu Kyungsoo bayangkan. Berlari dengan terpincang, merengkuh kepala sang ayah berada di pangkuannya. Memanggil, menepuk, mengguncang, berteriak dan memukul pelan tubuh ayah tercinta adalah cara Kyungsoo mencoba membangunkan si kepala keluarga.
" ku mohon appa bangunlah,, aku mohon hikss jangan tinggalkan aku seperti ini appa, aku dan eomma membutuhkanmu hiks "
Eomma...
Terdiam. Pikirannya kini tertuju pada wanita tercantik bagi Kyungsoo. Meletakan perlahan kepala sang ayah pada lantai marmer itu. Kembali berlari dengan susah payah demi mendapatkan kepastian tentang ibu cantik nya.
Ckleekk
Bruuuk...
Lemas. Tak bersuara. Mata Kyungsoo terpejam erat dengan airmata yang tak ada hentinya mengalir. Hanya mampu jatuh terduduk bersandar pada pintu coklat kamar kedua orangtuanya.
Kyungsoo tak ingin membuka kedua matanya, yang ia tahu bahwa hanya akan membawanya pada sosok yang tak bernyawa dengan luka tusuk di beberapa bagian pada perut ibunya. Tempat dia berada sewaktu di kandung kini tercabik oleh pisau yang masih menancap. Tersandar pada tepi ranjang dengan tubuh yang sedikit terguling ke arah kiri, itulah posisi si wanita cantik yang Kyungsoo kenali sebagai ibu kandungnya.
" eomma hikss. Kumohon eomma jangan tinggalkan aku hikss " dan Kyungsoo belum beranjak dari posisi terakhirnya.
:::::::::: Feeling Lost ::::::::::
Dua bulan sudah Kyungsoo lalui tanpa kehadiran siapapun orang tersayangnya. Ayah Ibu ataupun Kris. Setelah meninggalnya kedua orangtua Kyungsoo, dirinya tak pernah membuka diri dengan siapapu, Bahkan Baekhyun teman terdekat di kampusnya. Kyungsoo mengambil cuti dari kuliahnya, menghabiskan waktu dirumah tanpa komunikasi terhadap dunia luar. Tubuh mungilnya semakin mengurus akibat tak teraturnya asupan pangan yang di peroleh pencernaannya serta otak yang terus bekerja terbayang kejadian laknat bagi Kyungsoo.
Kris.. Menyebut nama itupun tak pernah lagi. Kyungsoo tak ingin mengharap terlalu banyak seperti saat itu,
hanya terdiam walau hatinya menunggu Kris.
.
.
.
.
.
.
Pikiran yang berbeda ada di dalam otak pintar Kris. Menelfon beribu kali keponsel Kyungsoo, tidak melewatkan telpon rumah kekasihnya, dan jawaban tetaplah Nihil, Tak ada kontak yang bisa tersambung. Itu adalah kerjaan rutin tiap harinya sepulang ia bekerja menjalankan perbisnisan sang ayah.
Frustasi dengan beban kantor yang kian hari semakin menumpuk. Tak ada celah dirinya untuk istirahat beberapa hari, bahkan jam tidurnya pun terpotong dan mengerjakan beberapa berkas penting di rumah mewah miliknya di negara yang terkenal dengan musim dinginnya itu. Bulan ke tiga tak ada perkembangan dari berita Kyungsoo yang Kris dapat di telinganya bahkan memasuki bulan ke Empat tak bisa juga menemukan satu katapun bagaimana keadaan Kyungsoo. Kris sudah menyuruh orang-orang terpercayanya untuk mencari secercah kabar Kyungsoo. Dan ke-Nihil-an tersebut mencapai bulan kelima Kris semakin resah. Tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Meminta izin kepada sang ayah? Berulang kali dia memohon, bukan tidak mendapatkan izin, tapi terlalu banyak beban pekerjaan yang memberatkan Kris untuk ditinggalkan begitu saja. Setidaknya 2000 jiwa yang bergantung pada perekonomian perusahaan keluarganya itu.
Tokk tokk tokk
Sebuah suara menginterupsi konsentrasi Kris dari tulisan-tulisan di lembaran yang terserak pada meja kayu kualitas terbaik itu. Mengangkat kepalanya dan mengintip dari frame kacamata minusnya untuk melihat siapa seseorang di balik pintunya.
" masuklah " gumam Kris yang membawa langkah seorang wanita berdarah asli canada itu memasuki ruang kerja Kris sebagai atasannya.
" I'm sorry to bother you sir, I just want to tell, that you are called by your father in his office now " ungkapnya dihadapan Kris yang kini melepas alat bantunya dalam membaca, melepaskan mata tajamnya dari persembunyian.
" Alright, Thanks tiff " jawaban Kris membawa senyum dari bibir tebal yang penuh dengan lipstik merahnya.
Kris melangkahkan kaki jenjangnya kesebuah ruangan yang lima bulan ini telah ditinggalkan pemiliknya karna memang sudah waktunya si pemilik berhenti mengabdi pada perusahaan yang telah dia besarkan. Oleh sebab itu dirinyalah yang kini mengambil alih kerja keras ayahnya. Memasuki pintu kokoh itu setelah mengetuk beberapa kali atas tanda kesopanan.
" Kris duduklah kita mempunyai tamu penting Mr. Yoo dari Exellent Group " senyuman cerah dari Mr. Wu dengan memperkenalkan sahabat lamanya sebagai sesama Businessman yang sukses.
" saya Wu Yifan, senang bertemu dengan anda " sapanya di barengi dengan senyum serta jabatan tangan oleh keduanya.
" oh? Anda bisa berbicara bahasa korea? " kaget Mr. Yoo dengan kalimat yang Kris keluarkan menggunakan bahasa asal negara Mr. Yoo itu.
" anakku kuliah di Kyunghee Univercity. Dia tinggal di korea beberapa tahun belakangan ini, dan aku menariknya kembali saat aku pensiun kemarin hahaha " jelas Mr. Wu dengan sedikit tawa sebagai pencair suasana.
" whoa~ bagus bagus aku suka kau kuliah disana. Cara bicaramu juga sudah fasih rupanya " tepukan di bahu Kris sebagai bentuk sanjungan dari Mr. Yoo
" ahh dan Kris ini adalah dia adalah pemegang saham terbesar kedua di exellent group serta merangkap sebagai hakim ketua di korea selatan. " masih dengan senyum yang tertera di bibir pria dengan umur lebih dari setengah abad itu.
" saya Park Yoo- " terputusnya ucapan dari seorang pria dewasa yang tampan karna selaan dari Kris.
" Hakim ketua? Apa maksud anda Hakim ketua? Bukankah hakim ketua adalah Mr. Do ? "
Keningnya sedikit berkerut yang mengakibatkan bertemunya dua alis tebal yang Kris miliki.
" eoh? Anda mengenal Mr. Do " anggukan dari Kris setelah mendengar ucapan Park Yoochun hakim muda tersebut.
" tapi apakah anda tak mengetahui bahwa Mr. Do telah meninggal karna terbunuh? " ucapan dari Mr. Park membuat Kris serasa terkena sambaran petir.
" apa maksud anda Mr. Do telah meninggal? " nada yang berubah sedikit lebih tinggi Kris keluarkan.
" calm Yifan " peringat dari Mr. Wu yang bagi Kris tak berarti
" mereka Terbunuh lima bulan yang lalu karna serangan dari anak buah bandar narkotika yang telah Mr. Do hakimi. Bandar narkotika itu marah kepadanya saat Mr. Do menolak uang sogokan untuk pembebasannya " cerita Yoochun.
" M-mereka ? " lain halnya dengan pertanyaan Kris sebelumnya. Pertanyaannya kini berada di nada rendah yang sedikit bergetar. Menggengam lengan kursi sebagai plampiasan perasaannya yang tak menentu.
" ya.. Mr. Do serta Istrinya "
Kris tak bisa mengucapkan apapun. Tubuhnya menegang. Hanya satu yang terlintas dipikirannya sedari tadi yang belum terucap siapapun. Baik dirinya atau Yoochun.
" Kyungsoo, Do Kyungsoo. Bagaimana keadaannya?! " tanya Kris dengan menatap serius menunggu jawaban dari mulut Yoochun.
" dia tinggal seorang diri saat ini. Dan menutup diri dengan semua orang " ungkapan terakhir Yoochun tak dibalas dengan terimakasih atau kata lainnya. Kris segera berlari dan memerintahkan Tiffani -sang sekretaris- segera memesankan tiket pesawat untuknya menuju seoul.
- Seoul -
Tak pernah Kris bayangkan segitu cepatnya appa dan eomma kekasihnya meninggal dunia. Nyonya Do yang Kris anggap sebagai ibunya sendiri telah pergi. Serta Tuan Do, seseorang yang Kris jadikan panutan dan Kris kagumi kini telah tiada. Kyungsoo. Nama yang tak akan pernah lepas dari pikiran dan hati Kris dimanapun Kris berada termasuk saat ini, di mobil sport berwarnakan Red Pearl itu melaju dengan kencang menuju rumah yang sering ia Kunjungi. Tak ada kerjaan, tak ada satupun berkas, tak ada satupun tender yang ada di pikirannya. Saat ini hanya ada satu nama di pikirannya. Dan satu kata yang ia ucap.
Kyungsoo
Dan
Maaf..
Terlihat bangunan putih bersih di depan Kris. Tak besar, namun tidak kecil pula. Tidak mewah, namun tidak terlihat ada yang kurang dari rumah minimalis itu.
Tokk Tokk Tokk
Tak ada jawaban
Tookkk tookk tookk
Mengetuknya sedikit lebih keras.
Tak ada jawaban
Toook toook too-
Cklekk
Cahaya mata bulat yang membuatnya jatuh cinta kini meredup. Bibir penuh tampak segar dengan warna merah muda yang selalu ingin ia cium kini sedikit memucat. Serta pipi chuby yang ingin dia kecup setiap saat kini menirus.
Do Kyungsoo.. Gadis yang selalu berada dipikirannya kini ada di hadapannya, namun dengan kondisi yang sangat jauh dari kata baik.
" Kyungie.. " ucapnya pelan. Hanya wajah datar Kyungsoo tak berubah saat membuka pintu tadi yang menjawab panggilan Kris. Pintu itu hampir menutup dan Kris yang tersadar langsung menahannya. Tak mau kalah dengan si tamu, si pemilik pintu terus berusaha ingin menutupnya, tidak mau bertemu dengan orang yang membuatnya kecewa
" pergi kau. Kini aku tak butuh kamu Kris. " sesak itu kembali Kyungsoo rasakan, menahan panas di matanya yang bisa berubah menjadi cairan jernih,siap meluncur.
" kyungsoo kumohon dengarkan aku. Aku mohon beri aku kesempatan menjelaskan semuanya " entah kekuatan dari mana Kyungso mendorong semakin kencang dari arah dalam rumah yang semakin membuat celah pintu itu mengecil.
" Arrghhhh " Kris sengaja memasukan tangan ke celah pintu itu, memutuskan agar menjadikan telapak tangannya sebagai pengganjal agar pintu itu tidak tertutup sempurna. Kyungsoo terus mendorong pintu itu. Dapat dilihat Kyungsoo tangan Kris yang mulai memerah
" hiks pergi.. Kau sudah memilih pergi. Untuk apa kembali sekarang hiks itu terlambat Kris " usir Kyungsoo pada pemuda yang kini mengeluarkan darah dari tangannya.
" aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku tak tahu dengan apa yang terjadi olehmu Kyung, aku baru mengetahuinya pagi ini. Dan aku langsung kesini saat itu juga. Jangan kau pikir aku tidak mencari mu, aku sudah melakukan cara apapun demi mendapatkan informasimu namun tak sedikitpun kabar yang aku terima. Kumohon Kyungie biarkan aku masuk, Jebal. " Kris menjelaskan dengan cepat dia tak bisa menahan perih terlalu lama lagi di tangannya, diapun tak bisa menahan sesak lagi setelah lima bulan yang dia rasakan. Kris mendorong pintu yang terasa melemah dengan dorongan dari dalam. Membukanya dan melihat Kyungsoo duduk meringkuk tak jauh dari pintu dengan bahu terguncang menandakan si pemilik tengah terisak kembali.
" Kyung... " panggil Kris pelan. Mendekati secara perlahan, membawa tubuh mungil yang di rindukannya ke pelukan hangat Kris. Walau tanpa balasan darinya.
T. B. C
Hahhh.. Akhirnya bisa updet lagi. Anda mau NC? Chap5 aja.. Saya bingung buat Nc KaiSoo atau KriSoo wkwk. Vote ya sekalian dibarengi Review nya.
Maaaaaaaf buat readers yang sudah menunggu lama /bow/
Ada yang Mau gabung di SM Roleplayer di Wa?
Jika berminat silahkan PM dengan format
Nama asli_ Cast yang diperankan_ Notelpon.
Thank gomawo ^_^
