EXO
Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Lee (Byun) Taeyong, Jung (Kim) Jaehyun
Rate : T
Disc : Cast bukan milik author :v
.
.
.
.
Happy reading!
.
.
.
.
"AHH! KUSO!"
"Jangan disana! YA! YA!"
"NOOOO!! YOU- AAAHHHH!! BAKA!"
BUK BUK
"Baekhyun hyung! Hentikan itu atau ku hancurkan komputermu!" Teriak Taeyong dengan wajah kesal.
Sedari tadi Taeyong tidak fokus membaca di kamarnya karena Baekhyun sangat berisik. Apalagi kamar mereka bersebelahan. Rasanya Taeyong ingin meminta pada ayahnya supaya kamar Baekhyun di buat kedap suara.
Taeyong berhenti memukul permukaan pintu Baekhyun setelah tidak terdengar suara lagi di dalam
Namun, baru satu langkah Taeyong menuju kamarnya, teriakan satu oktaf Baekhyun kembali mengejutkannya.
"AAAHHHH F*CK! KUSO! BAKA! PABO! YO-"
"TERIAK SEKALI LAGI DAN KOMPUTERMU HANCUR DI TANGANKU!" teriak Taeyong geram.
Baekhyun dengan cepat membuka pintu kamarnya dan melotot pada Taeyong.
"Jangan! Kau menganggu saja!"
Taeyong menggertakan giginya.
"Malah kau yang menggangguku, hyung! Lihat! Jam berapa ini?!"
Baekhyun hanya menyengir lebar setelah melihat jam yang kini menunjukan jam 09.32 p.m.
"Kau bisa menggangu tetangga, hyung. Suaramu itu loh. Main game biasa saja, jangan heboh. Main jari saja teriakanmu naik satu oktaf." Taeyong mencibir.
Baekhyun mendengus. "Main jari itu ada manfaatnya, Taeyongie. Jariku jadi lentik begini karena rajin olahraga jari." Ucap Baelhyun dengan raut sombong.
"Jari seperti perempuan itu kau banggakan? Jangan bercanda." Taeyong berdecak, "Untung kau itu di 'bawah', bukan di 'atas'. Kalau iya aku sudah mengejekmu!"
Taeyong berjalan menuju pintu kamarnya, meninggalkan Baekhyun yang menahan kesal.
"Setidaknya aku ini ban hitam di hapkido!"
Baekhyun berdecak. Kembali masuk ke dalam kamarnya sambil membanting pintu kuat kuat. Ingin memberitahu pada orang orang yang berada di dalam rumahnya kalau dia sedang kesal. Kekana kanakan kalau kata Taeyong. Taeyong itu sih, hati uke tapi mulut setipe seme cool :v
Baekhyun kembali duduk di depan meja komputernya. Baekhyun bertambah kesal karena harus memulai lagi di tambah Taeyong yang menaikkan emosinya.
Lalu dengan perasaan kesal teramat sangat, Baekhyun dengan penuh 'perasaan' menakan tombol komputer sampai suaranya terdengar keras.
"Hah! Dapat kau!"
"Oh! Oh! You- HAH!"
"Eh! Eh!"
"Ya! Kau ini tahu cara bermain atau tidak?!"
Bicara sendiri, hm.
Tombol terakhir di tekan. Baekhyun berdiri, mengepal tangannya dan meninju udara sambil tersenyum lebar.
"AKU MENANG! HAHAHAHA! KALAU MAIN LOL HARUS BEGITU! HUAHAHA!"
BRAK!
"Berisik!"
BUK
BRAK!
"ITTE! TAEYONG!"
.
.
"Hyung, kau marah padaku?"
"Sepertinya aku mendengar sesuatu.."
"HYUNG!"
Baekhyun menutup sebelah matanya saat Taeyong berteriak. Jarinya mengelus lembut telinganya dan melotot pada Taeyong. Sedangkan Taeyong memasang wajah merajuk padaku.
"Ayolah, hyung. Jangan marah." Bujuk Taeyong.
Baekhyun mengangguk angguk lalu memandang Taeyong tajam. "Ya ya, jangan marah setelah kau melempari jidatku dengan novel tebalmu itu!" Baekhyun berucap sambil memperlihatkan jidatnya yang di plester, terlihat ada sedikit memar biru disana.
Yang untungnya tertutupi oleh poninya yang mulai memanjang. Taeyong meringis. Lagipula, Baekhyun juga salah tiba tiba berteriak membuatnya jatuh dari kasur. Saking kagetnya ia.
"Baekkie hyung~~ maafkan Taeyongie~~"
Aegyo sialan. Yang lebih sialan Taeyong terlihat imut. Baekhyun mengeram kesal. Juga, jarang jarang Taeyong rela bersikap imut hanya karena Baekhyun marah.
"Hn, terserah."
Taeyong menyengir.
Baekhyun dan Taeyong turun ke lantai bawa dan berjalan menuju dapur. Ny. Byun dan Tn. Byun sudah duduk manis disana. Di atas meja sudah ada roti dan juga susu untuk Baekhyun dan Taeyong.
"Kenapa lagi kalian berdua?" Tanya Ny.Byun.
"Baekhyun hyung marah padaku." Adu Taeyong membuat Baekhyun melotot.
"Kalian itu kakak adik, tidak baik kalau kalian bertengkar. Baekhyuna, maafkan adikmu."
Baekhyun mendengus. "Tapi dia membuat jidatku luka, eomma." Rajuk Baekhyun.
"Taeyong-ah, kau apakan kakakmu?" Kali ini Tn.Byun yang bersuara.
"Aku melemparinya buku karena terlalu berisik." Aku Taeyong dengan santainya.
Baekhyun mengambil roti dan memakannya rakus. Melampiaskan rasa gemasnya karena Taeyong seolah tidak melakukan kesalahan apapun. Seperti kejadian Taeyong mengemis maaf darinya tadi tidak pernah terjadi.
"Lain kali jangan begitu, Baekhyun-ah. Atau appa cabut komputer dan wi-fimu."
"JANGAN APPA!-UHUKK!"
Akibatnya, Baekhyun tersedak. Dengan cepat ia meminum susunya, lalu berdiri. Ny.Byun dan Tn.Byun menggeleng kepala. Sedangkan Taeyong malah berpikir kenapa dia bisa punya kakak seperti Baekhyun.
"Eomma, dadaku sakit. Aku akan mati, eomma." Ucap Baekhyun ngawur.
Ny.Byun memukul jidat Baekhyun tepat di lukanya. "Ey! Sudah, cepat! Kalian akan terlambat."
Baekhyun cemberut sambil mengelus jidatnya yang di plester. Ia dan Taeyong keluar rumah, dengan Baekhyun yang sedikit menjauhi Taeyong. Sampai di depan rumah sudah ada yang menunggu mereka. Yaitu Jaehyun.
Baekhyun? Lupakan saja.
"Pagi, Yongie." Sapa Jaehyun sambil tersenyum.
"Pagi juga, Jae."
Jaehyun memeluk pinggang Taeyong dan mencium pipi Taeyong. Dunia seolah menjadi milik mereka berdua di pagi ini. Melupakan Baekhyun yang jengkel dengan mereka. Baekhyun sih, punya pacar tapi berasa jomblo.
"Hentikan itu!" Seru Baekhyun dengan raut kesal yang kentara.
Masih pagi tapi mata sucinya sudah di beri pertunjukan 'laknat' dari adiknya.
Jaehyun memberi tanda peace, berbeda dengan Taeyong yang mengejek Baekhyun dengan menjulurkan lidahnya singkat.
'Kenapa aku harus berangkat dengan mereka, astaga.' Batin Baekhyun.
.
.
"Jaehyun, bagaimana kau bisa menyukai makhluk ini hah?!"
"Yang kau sebut makhluk ini sedarah denganmu loh."
Baekhyun mengepal tangannya, emosinya sudah hampir meledak kalau bukan Jaehyun yang menenangkannya. Lihat, Jaehyun itu adik idaman. Tidak seperti Taeyong yang malah memegang kuasa darinya.
"Aku tidak tahu, Baekhyun hyung." Jawab Jaehyun polos.
Taeyong tersenyum mengejek pada Baekhyun, setelah itu dengan kurang ajarnya menarik Jaehyun berjalan lebih cepat. Meninggalkan Baekhyun yang seperti orang bodoh di koridor sekolah.
"Kurang ajar." Gunam Baekhyun semakin geram.
Kakinya mulai berjalan dengan langkah sedikit lebar.
"Kalau saja dia bukan adikku, sudah kupatahkan tangannya! Kaki! Oh, bibirnya ku hancurkan! Hah! Byun-"
"Oh? Kau yang kemarin kan?"
Segala rencana yang keluar dari mulut Baekhyun berhenti kala seorang pemuda berkulit lebih hitam darinya, menghalangi jalannya. Mata Baekhyun sedikit menyipit saat menangkap 2 batang rokok si saku kemeja pemuda didepannya.
"Siapa?" Tanya Baekhyun.
Pemuda itu terlihat tidak percaya. "Dengan mudahnya kau melupakan kejadian itu?! Beraninya-"
"Aku Kai! Ingat itu baik baik!"
Baekhyun mengangkat sebelah alisnya. Dia bingung dengan si Kai itu. Brandalan kok datangnya pagi pagi begini? Seharusnya brandalan itu datang terlambat lalu berakhir dihukum.
Ah! Baekhyun ingat, kemarin Baekhyun meng-hapkido Kai karena sudah memukul Chanyeol.
"Pft, apa dia mau mengancamku? Oh, bukannya dia juga ingin merebutku dari-"
"Merebutmu?"
Baekhyun dengan cepat membalikkan badannya, dan tersenyum cerah saat melihat Chanyeol.
"Chanyeol! Selamat pagi!"
Chanyeol mengangguk kecil sebagai balasan.
"Jam istirahat temui aku di atap sekolah." Ucap Chanyeol to the point.
Baekhyun mengerjap. "Hah?"
Chanyeol tersenyum tipis. Ia menepuk pucuk kepala Baekhyun dan melewati Baekhyun. Baekhyun menyentuh kepalanya dan menatap punggung Chanyeol yang menjauh hingga tidak terlihat lagi.
'Perasaanku saja, atau di saku kemejanya ada rokok?' Batin Baekhyun bingung.
.
.
Baekhyun berjalan keluar kantin. Tangannya tengah membawa kresek berisi 2 sandwich dan juga 2 cola. Ini jam istirahat, dan Baekhyun lapar sekarang.
Untuk jaga jaga, dia juga membawakan satu untuk Chanyeol. Lagipula sandwichnya berukuran besar.
Baekhyun berdecak saat menyadari ada begitu banyak sepasang mata yang tengah memandanginya dari atas sampai bawa. Memangnya ada yang salah dengannya? Oh, atau mungkin mereka adalah fans Chanyeol yang iri dengannya karena sudah mendapat hati Chanyeol?
Untuk yang terakhir, lupakan.
Bahkan Baekhyun tidak yakin apa Chanyeol benar benar menyukainya. Tapi, melihat senyum tulus yang Chanyeol berikan padanya, Baekhyun mencoba percaya.
"Hooh, kita bertemu lagi kerdil."
Dahi Baekhyun berkedut saat mendengar suara menyebalkan. Apalagi dia dikatai kerdil.
Baekhyun menatap Kai tajam.
"Kerdil begini tapi pernah membuatmu pingsan." Balas Baekhyun pedas.
Kai membuka mulutnya ingin membalas, sayangnya tidak ada satu katapun yang keluar. Karena yang dikatakan Baekhyun benar adanya.
"Dasar orang aneh. Minggir atau ku patahkan tulangmu!"
Kai cepat cepat menyingkir. Dia jadi tidak ingin mencari gara gara dengan Baekhyun. Sebenarnya, dia hanya ingin mencari masalah dengan Chanyeol dengan mengatakan kalau ingin merebut Baekhyun darinya.
Ternyata Baekhyun itu tidak seperti yang di pikirkannya. Kai mengira Baekhyun itu manis, lemah, dan cengeng. Ternyata kebalikan dari itu semua. Nyatanya Baekhyun itu pecicilan, kuat, dan berani.
Padahal banyak siswa yang tidak berani dengannya. Jangankan mendekat, mengancam saja tidak!
"Chanyeol sudah gila." Gunamnya sambil bergidik.
Baekhyun meniup poninya dan berjalan lebih cepat. Menaiki tangga menuju atap dengan sedikit berlari.
Baekhyun membuka pintu atap pelan pelan. Baekhyun mengambil satu langkah lalu menutup pintu atap. Angin sepoi sepoi langsung menerpa wajahnya dengan lembut.
Baekhyun tersenyum. Matanya mulai mencari keberadaan Chanyeol.
Chanyeol tengah duduk dilantai sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Tapi di detik kemudian Baekhyun melotot.
Chanyeol merokok!
"Chanyeol!"
Chanyeol menoleh. Baekhyun duduk didepannya lalu mematapnya tajam.
"Kau merokok?!"
"Hn."
Baekhyun mendesis. Dan entah dapat keberanian darimana, Baekhyun merampas rokok Chanyeol dan membuangnya sembarang.
Chanyeol melotot. "Baekhyun!"
"Apa?! Rokok itu tidak sehat! Kalau terjadi sesuatu pada paru parumu bagaimana?" Bentak Baekhyun, tapi setelahnya Baekhyun menutup mulutnya.
"Aku sudah lama seperti ini. Tapi tidak pernah terjadi apa apa." Ucap Chanyeol acuh.
Chanyeol membuang muka, Baekhyun menghela nafas menahan kesal.
"Jadi kalau sudah terjadi apa apa baru kau sadar?" Ucap Baekhyun sinis.
Chanyeol menatapnya tajam. "Sejak kapan kau jadi berani padaku?"
"Sejak kau mengantarku pulang." Jawab Baekhyun tenang.
Chanyeol terdiam. Matanya mulai mengamati gerak gerik Baekhyun yang tengah mengambil sesuatu di dalam kresek yang dibawahnya.
"Makan ini. Maaf, tadi aku membentakmu. Aku khawatir."
Chanyeol mengambil sandwich yang disodorkan Baekhyun dan memakannya dalam diam. Baekhyun tersenyum tipis dan ikut memakan sandwichnya.
"Chanyeol, apa kau benar benar menyukaiku?"
Chanyeol berhenti mengunyah. Sedangkan Baekhyun mengalihkan pandangannya.
"Kalau begitu,"
Chanyeol membuat Baekhyun menatapnya dengan menahan dagu Baekhyun.
"Apa kau juga menyukaiku?"
Baekhyun terdiam, sebelum mengangguk samar.
"Suki." Gunam Baekhyun.
Chanyeol tersenyum tipis saat mendapati rona merah tipis dipipi Baekhyun.
"Aku juga.."
.
.
To Be Continue
*gue tau ini pendek, maaf banget. Ohya, maaf kalo alurnya kecepatan, gue kalo nulis emang suka gak sadar :v Review lagi boleh?
Thank's to : Byunsex shbrn.chanbaek AlienBaby88 Cahaya Azahra Pitterluck chalienBee04 LyWoo fujokuu SHINeexo jeffreyyahaeng Guest RaraChan2662
