Hujan turun dengan deras. Air dari langit itu tumpah seraya langit malam semakin gelap daripada biasanya. Bulan pun seolah dilarang untuk menampakkan dirinya. Kediaman Besar Aozora juga sudah terlelap. Di sebuah lorong di rumah itu seseorang berhenti dan melihat melalui jendela. Tangannya meraih penutup mata yang biasa ia pakai dan melepaskannya. Mata kanannya berwarna putih. Nyaris sama seperti milik keluarga Hyuuga.
Wanita itu memijat keningnya. Ia menghentikan kegiatannya itu saat merasakan seseorang menarik pelan bajunya. Ia menoleh, "ada apa?"
Sosok berkulit pucat itu tersenyum lebar, "hehe, tidak ada. Ran sendiri? Ini sudah larut, kenapa tidak tidur?"
"Hmm, aku sedang berpikir."
Ageha mendekat ke arah Ran, "tentang?"
"Ini semua 'kan rencanamu. Bagaimana seandainya tidak berjalan sesuai dengan perkiraanmu? Naruto sudah bersiap ingin membunuhku tadi gara-gara aku beritahu, kitalah yang membawa orang 'itu' kemari," ujar Ran.
Ageha tertawa kecil, "ahh, tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Meskipun si Sakura itu menjadi penghalang, kita bisa melakukan sesuatu tentang dia. Ran 'kan selalu menjadi penyelamat'ku'?"
Yang bersangkutan hanya menghembuskan nafas, "ya ya, terserahlah. Melihat rambut pink itu saja sudah membuatku sakit mata. Lalu kenapa kau di sini?"
"Umm…" Ageha menggaruk pipinya.
"Tidak bisa tidur?"
Anak perempuan berambut biru itu menggangguk.
Ran menghembuskan nafas sekali lagi dan tersenyum, "ya sudahlah. Sini aku temani."
A/N: Ohayou, Konnichiwa, Konbanwa, minna-san.Sebelumnya, Nami mo minta maaf atas kterlambatan updetnya. Nami akan terima julukan apapun yg readers berikan, author yg keren ato bahkan plagiat. Jujur Nami ga terlalu peduli dgn itu. Klo pun cerita ini memang mirip dgn author tertentu ato fandom tertentu, Nami minta maaf. Nami ga suka plagiat dan Nami ga punya niatan utk mnjdi salah satunya. Cerita ini muncul murni karena Nami sudah nonton movie shippuuden 2 KIZUNA, kalo masi tetep keberatan dgn cerita ini bilang aja, Nami ga akan marah ato mengutuk. Dgn senang hati Nami akan berhenti. Nami hanya mengikuti kemauan pembaca.So, please enjoy this chapter…
Random Quote:
Aku tidak terlalu peduli; jika kau mencintaiku, jika kau membenciku, kau tidak bisa menyelamatkanku, oh sayang. Hidupku sudah bahagia sebelumnya dan sekarang aku berpikir; oohh, WHAT THE HELL!?(What the Hell-Avril Lavigne)
KIZUNA – chapter IV – Life is a duty, completes it
Burung-burung berkicau dan bunga-bunga bermekaran. Sungguh hari yang indah. Warga di desa tempat Klan Aozora tinggal juga sedang ramai pagi itu. Para lelaki sibuk memotong kayu dan mengecat. Para wanita sibuk memasak di dapur dan anak-anak bermain di luar. Hari itu adalah hari yang spesial bagi desa itu.
"Festival?" Sakura menaikkan sebelah alisnya.
Ran mengangguk. Sebenarnya hari ini dia sedang sibuk. Hal itu juga dikarenakan festival tahunan desa tempatnya tinggal.
"Begitulah. Karena itu kalian bertiga, Kakashi-san, Kiba-san, dan Sasuke-san harus ikut membantu. Tentunya kalian bisa ikut menikmati festival tahunan pada malam harinya."
Kiba yang memang suka dengan keramaian ikut angkat bicara, "festival tentang apa sebenarnya ini?"
Ran sudah membuka mulut tapi orang lain yang menjawab Kiba, "festival untuk berterima kasih kepada dewa penjaga."
Semua mata tertuju pada sosok mungil berambut hitam. Hikari melanjutkan, "desa ini di lindungi oleh seorang dewa. Katanya sih, konon ketua klan Aozora di janjikan seorang titisan dewa sebagai pelindung keluarga juga desa ini. Titisan dewa itu di lambangkan seekor phoenix di sini. Makanya kebanyakan aksesorisnya berwarna merah dan berlambang api."
Sakura dan Kiba mengangguk-angguk.
"Kalian bisa membantu di mana saja yang kalian mau. Aku harus pergi ke dapur sekarang," ujar Ran dan berlalu pergi bersama dengan Hikari.
Sejak Ran mengatakan bahwa dia dan Ageha yang membawa ninja-ninja Konoha, pria berambut cerah itu selalu terlihat serius. Dan terlihat lebih diam dari biasanya. Ryuu dan Hikari juga sudah mulai merasa ada sesuatu yang sedang di pikirkan Kaa-san mereka. Karena beberapa kali Naruto tidak mendengarkan panggilan keduanya atau orang lain yang sedang menyapanya. Karena hal itu juga dia menolak makan bersama di ruang makan. Hal itu jelas membuat si kembar khawatir.
Sebenarnya reaksi Naruto yang seperti itu sudah Ran perkirakan. Sejujurnya dia tidak suka menjadi bad-guy. Tapi, harus ada orang yang memainkan peran itu sekarang. Lagipula ini juga demi Naruto sendiri. Ageha mengatakan Naruto tidak bisa bersembunyi selamanya. Cepat atau lambat keberadaan Ryuusuke dan Hikari harus diberitahukan kepada 'ayah' mereka. Tidak hanya itu, teman dan orang-orang terdekat Naruto juga pasti sudah amat sedih. Orang-orang yang memang menyayangi Naruto pasti masih berharap bahwa sang Uzumaki masih hidup entah di mana.
Karena itu, Ageha tidak bisa membiarkan pria itu tinggal di Kediaman Aozora. Naruto masih menyayangi seseorang yang berusaha ia lupakan. Orang 'itu' tetap membayangi hidupnya meskipun ia terlihat bahagia.
Ran melihat semua orang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing di dapur. Ia segera mengambil celemek dan mengikatkannya di pinggang. Dan sekali lagi dia melihat Naruto memasang pandangan kosong.
Ran menghembuskan nafas sebelum mendekati pria itu, "Naruto, udang goreng-mu gosong."
Secepat kilat Naruto terbangun dari lamunannya, "hah? Apa?"
"…"
"Maaf, Ran. Sepertinya aku butuh udara segar," dengan segera Naruto melangkah pergi.
Ran memanggilnya, "ingat Naruto Uzumaki, kau tidak bisa selamanya lari dari kenyataan. Aku sudah berusaha mempertemukan kalian. Aku harap kau tidak melewatkan kesempatan ini. Ryuusuke dan Hikari perlu mengetahui bahwa 'ayah' mereka tidak meninggal."
Pemuda bermata biru cerah itu hanya menggigit bibirnya dan memandang ke arah samping. Ia tahu hal itu. Apalagi dengan keberadaan'nya' di sini. Kemiripan Ryuu dengan 'dia' sangat terlihat. Naruto tidak tahu harus berbuat apa ketika Ran bilang dia membawa pulang ninja Konoha, terutama Sasuke. Tidak peduli jika ia disebut penakut. Hanya saja dia tidak bisa membawa dirinya menghadapi mantan sahabatnya itu. Apa mungkin dia bersama dengan Sakura dan Kakashi? Atau Sai?
Naruto terus berjalan dan berhenti saat melihat Ryuu dan Hikari bermain dengan teman mereka. Sasuke ada di sini, beberapa meter entah di sisi sebelah mana dari desa. Apakah dia sudah melihat kedua 'anak'nya? Senyum pahit berkembang di wajah Naruto.
I am Cheshire cat line break. No one can smile as wide as me! HAHAHAHA
Sasuke memasukkan kedua tangannya di saku celana. Bukannya dia tidak ingin membantu, Sasuke juga bukanlah orang yang sebegitu bencinya berbicara dengan orang lain. Hanya saja, Sasuke Uchiha bukanlah orang yang sosialis. Dia lebih nyaman dengan dirinya sendiri. Dia lebih suka bekerja sendiri. Jika dia ingin seseorang di sampingnya, yang jelas orang itu harus tahu bagaimana menghadapi sifat es-nya itu.
Dia baru saja membantu memotong kayu untuk membuat gerbang. Dengan tebasan katana miliknya itu bukan hal yang sulit. Setelah mengambil minum Sasuke langsung berlalu pergi. Dia tidak butuh berlama-lama dengan orang-orang desa. Karenanya di sinilah dia, berjalan menyusuri hutan dekat desa. Ia tidak tahu kenapa Kakashi memutuskan untuk tinggal sedikit lebih lama di desa kecil ini. Desa kecil ini sungguh ramai dan 'ceria'. Semuanya tampak tersenyum dan tidak ada yang merasa kesusahan. Sasuke merasa desa itu terlalu 'berkilau' untuk seseorang sepertinya.
Dan seperti yang sudah ia duga. Sasuke bisa mendengar tawa anak kecil. Mungkin di balik pepohonan lebat itu banyak anak kecil yang bermain. 'Tch, anak kecil,' pikirnya. Sasuke makin tidak suka dengan anak kecil setelah bertemu dengan duo bocah itu. Meski mereka mempunyai mata yang berwarna biru, mereka tetap menyebalkan.
Kalau dia pintar, Sasuke pasti sudah pergi meninggalkan tempatnya berdiri saat ini. Tapi, entah kenapa ia ingin melihat anak-anak itu bermain dari jauh. Toh tidak ada salahnya untuk melihat.
Sasuke menggunakan Chakra di kakinya dan memanjat pohon. Dia mencari batang pohon besar dan bersandar di sana. Dia melihat anak-anak kecil berlarian. Beberapa dari mereka bermain bola. Ia juga melihat si duo Ryuu dan Hikari. Wajah Sasuke menjadi masam saat melihat kedua anak itu. Ia tetap memperhatikan saat kedua bocah itu berdiri dan Hikari berteriak 'Kaa-san'. Oh, akhirnya Sasuke bisa menyalahkan perbuatan jahil anak-anak itu setelah dia melihat ibu mereka.
Entah kenapa, sepertinya dewi keberuntungan sedang menghembuskan angin segar padanya. Sasuke merasa nafasnya berhenti untuk sejenak di tenggorokan. Di sana berdiri seseorang dengan rambut berwarna kuning cerah. Matahari membuat rambut orang itu bersinar dan terlihat lembut, membuatnya ingin menyisirkan jarinya di helaian rambut itu. Matanya yang biru terlihat semakin menyipit seraya senyumnya makin melebar. Tubuh ideal nan slender itu berbalut pakaian putih. Tiga garis di masing-masing pipi berkulit tan itu membuktikan sesuatu. Sasuke mengedipkan matanya berulang kali. Bayangan itu tidak berubah.
Tanpa banyak pikir lagi, ia turun dari tempatnya duduk. Sejenak sosok di hadapannya tertawa dan kemudian menoleh.
"S-Sasuke?"
Suara yang sangat ingin ia dengar. Pemuda berambut gelap itu meraih ingin meraih tangan orang di hadapannya sebelum—
PLAK
"Jangan sentuh Kaa-san kami!" ujar Ryuu dengan dingin.
"Aku dengar dari kakak, kau mengatai Kaa-san kami dengan kata-kata buruk," sambung Hikari.
Sasuke mengedipkan matanya, "…Kaa-san? Apa maksudnya itu? Naru—"
Naruto menunduk,"maaf. Saya bukanlah orang yang anda maksud—tuan."
Sang Uchiha mengerutkan dahinya, "Kaa-san? Dan lagi, apa maksudmu dengan 'tuan', Dobe?"
Ryuu semakin marah saat mendengar kata itu di tujukan pada Kaa-san-nya, "kau-!"
"Sudahlah Ryuu-kun, Hika-chan, kita pulang. Kalian ingin membantu Kaa-san 'kan?" ujar Naruto dengan senyuman sedih.
Hikari menggigit bibirnya. Dia tidak suka melihat Kaa-san-nya seperti itu. Pokoknya, apapun yang berhubungan dengan ninja itu, sepertinya membuat Kaa-san-nya gelisah. Dari awal memang si pantat bebek itu sudah menyebalkan. Tidak pernah tersenyum dan selalu memasang wajah batu. Hikari menarik lengan baju Naruto dan mengajaknya pergi, "ayo Ryuu, Kaa-san."
Sementara itu sang Uchiha hanya berdiri dalam diam. Dia benar-benar tidak menyangka bocah-bocah itu adalah anak Naruto. Lalu bagaimana sekarang? Apa jangan-jangan Naruto menikah di desa ini dan memiliki anak dengan istrinya? Tapi, anak itu jelas-jelas memanggil Naruto dengan 'Kaa-san'? Kalau diperhatikan, Ryuu dengan rambut panjangnya itu mirip dengan seseorang…
Itachi?
Apa mungkin?
Sasuke yang masih sibuk berpikir tidak merasakan seseorang juga sedang melihat peristiwa itu. Sosok itu menutup mulutnya untuk mencegah teriakan atau suara macam apa pun muncul. Bagaimanapun caranya, ia harus memberitakan hal itu. Sosok itu bergegas pergi.
I am black line break. I am the only color that everybody loves. I always found everywhere.
Sementara itu di sisi lain desa, Kiba dan Kakashi sedang beristirahat setelah membantu warga desa. Kedua ninja itu melihat semuanya teroganisasi dengan baik. Warga di desa itu bekerja tanpa di suruh, tetapi sangat cepat tanggap. Mendengar cerita dari warga sekitar, desa itu percaya bahwa dewa yang melindungi mereka akan melihat apapun yang mereka kerjakan. Desa itu juga jarang terkena musibah karena sang dewa. Mereka selalu melakukan festival itu untuk memberkati sang dewa dan kekuatannya. Supaya mereka bisa terus hidup dengan damai.
Dan ternyata, kepala klan bukanlah Ran atau Ageha. Seseorang yang di temui Kiba berkata kepala Klan Aozora adalah paman Ageha yang kebetulan sedang bepergian dengan anak lelakinya. Klan itu bukanlah klan yang hebat, tapi setiap generasinya memiliki kepandaian dalam hal pedang.
Kiba meneguk air dan duduk di bawah pohon. Ia melihat penduduk sudah semakin mendekati tujuan mereka. Stan makanan, permainan, dan yang lain-lain. Alat music di letakkan di tengah untuk memulai festival nanti malam. Kiba berpikir cukup mirip dengan festival musim panas.
Sejenak ia memandang, Kakashi berjalan dan bersandar di pohon yang sama, "jadi, bagaimana Kiba?"
Kiba menghembuskan nafasnya, "positif."
"Mmm, ternyata memang tidak salah ya."
Kiba meneguk perlahan airnya sebelum melanjutkan, "Kakashi-san menurutmu berapa umur mereka?"
Kakashi melipat tangannya, "dilihat dari fisik, mungkin sekitar tujuh hingga sembilan. Aku tidak tahu pasti. Aku masih mengingat sesuatu tentang Naruto sebelum ia pergi. Kau mau tahu?"
Kiba mengangguk.
Kakashi menoleh dan memastikan tidak ada yang mendengar dan ikut duduk dengan Kiba, "masi ingat dengan misi yang melibatkan Negara Langit?" *
"Hmm. Misi Negara Langit? Sepertinya itu sudah lama sekali," ujar Kiba sambil berpikir dan mengelus dagunya.
"Kira-kira tujuh atau delapan tahun yang lalu."
Kiba mengangguk, "lanjutkan."
"Kau tahu 'kan, Naruto berhasil mengalahkan Negara Langit itu juga beserta pemimpinnya."
"Ya, aku tahu. Hinata selalu menceritakan itu padaku dan Shino," kata Kiba sambil menangis a la anime.
"Tapi, Naruto tidak mengalahkan Rei-bi sendiri."
Kiba mengedipkan matanya, "benarkah? Hinata tidak pernah bilang padaku tentang itu. Tapi, dia pernah bilang—"
"Dia melihat Sasuke. Dan itu memang benar. Yang tahu hal itu hanyalah Hinata dan gadis berambut merah itu. Aku sedang di tepi pantai melihat istana itu di ambang kehancuran bersama Shino, Sai, dan Shikamaru. Tapi, tidak ada yang melihat saat Sasuke terbang menjauh dari istana melayang. Aku pikir itu hanya burung atau apa."
"Bagaimana kau tahu itu Sasuke? Bahkan Hinata hanya memberitahukan itu padaku dan Shino saja."
Kakashi menggelengkan kepalanya, "aku tidak tahu. Mungkin Naruto sudah memintanya untuk tidak memberitahu yang lain. Dan untuk pertanyaanmu yang lainnya, aku tahu karena aku sempat berbicara dengan Sasuke."
"Haa? Mana mungkin?" Kiba menaikkan alisnya.
"Kami tidak langsung pulang begitu saja setelah misi itu. Sakura memaksa untuk menginap sehari di sebuah penginapan. Aku tidak bisa tidur malam itu, jadi aku putuskan untuk berjalan mengecek kamar masing-masing dari tim. Aku berhenti di depan kamar Naruto karena aku mendengar sesuatu.
"Aku membuka pintu itu dan melihat Naruto tidur dan Sasuke yang sudah bersiap melompat dari jendela. Saat itu aku bertanya padanya, hanya saja Sasuke tidak menjawab dan pergi. Di pagi hari, Sakura yang membangunkan Naruto mempermasalahkan sesuatu. Saat kami pulang Naruto sedikit… aneh."
"Aneh? Maksudnya?" Kiba menaikkan alisnya lagi.
Kakashi menggaruk pipinya, "yah, dia berjalan dengan agak—"
"Whooa! Aku tahu maksudmu, Kakashi-san! Tidak usah dilanjutkan. Teruskan ceritamu," Kiba menyilangkan tangannya membentuk huruf X.
"Singkatnya, aku mengerti ada sesuatu yang terjadi malam itu. Jadi, aku memaksa Naruto untuk ku gendong. Lagipula aku mengerti muridku yang satu itu paling tidak suka membuat orang khawatir."
Kiba mengangguk mengerti, "ohh. Dan kemudian dia menghilang. Dan anak-anak itu memang memiliki bau Naruto sebagai orang tuanya."
"Jadi, kemungkinannya dia menikah dengan seseorang di sini?"
Kiba merasa dia berada di suatu tempat di mana dia tidak bisa bergerak maju maupun mundur. Sebenarnya ia tidak bisa menyimpan informasi yang mungkin sangat penting. Hanya saja, jika memang benar itu seperti yang ia perkirakan, mana mungkin dua orang lelaki melakukannya? Kiba merasa kepalanya benar-benar pusing. Tapi, jika ia beritahukan itu pada Kakashi-san mungkin dia bisa menjelaskan sesuatu.
"Ano, Kakashi-san."
"Ada apa?"
Kiba sedikit tidak enak mengatakannya, "sebenarnya ada sesuatu yang aku tidak mengerti."
"Apa?"
"Ehem, begini. Memang benar aku mencium bau Naruto dari kedua anak itu. Dan aku juga mencium bau lainnya yang nyaris hilang. Mungkin karena tidak berdekatan dengan 'orang tua' yang satunya. Dan bau itu—"
"Siapa? Sasuke?"
Kiba mengangguk pelan, "apa hal itu bisa? Maksudku—"
"Aku tahu maksudmu. Kita harus menemukan Naruto segera. Dia tidak akan jauh dari Ryuusuke atau Hikari. Meyakinkannya dan membawanya pulang. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Kyuubi. Mungkin Hokage-sama punya suatu informasi tentang ini. Aku benar-benar tidak habis pikir bisa sampai serumit ini."
"Tapi, apa mungkin bisa? Dengan situasi Konoha yang sekarang. Para Dewan tua itu tidak suka dengan Naruto, bagaimana dengan anaknya?"
Kakashi tersenyum mendengar itu. Senyum itu berubah licik sesaat, "jika anak itu adalah seorang Uchiha? Mereka tak akan punya kata-kata untuk menolak. Semua orang tahu, orang-orang tua itu sangat menyukai Uchiha."
"Tapi, Kakashi-san. Jika kau mengatakannya seperti itu, Naruto seolah dalam posisi yang tidak menguntungkan. Dia hanya akan dilihat sebagai 'penghasil keturunan'. Aku sebagai temannya, tidak bisa membiarkan itu."
"Aku tahu. Itu akan berubah jika Sasuke sendiri yang membela Naruto di hadapan para dewan. Dan lebih bagus seandainya dia bisa mengerti perasaan Naruto."
Kiba mengangguk. Kedua ninja itu terus berbicara. Tak ada yang sadar ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Sosok itu mengepalkan tangannya yang bersematkan cincin. Ia menggigit bibirnya hingga nyaris mengeluarkan darah. Kedua mata hijaunya menyipit. Dalam hati, ia tidak bisa membiarkan semuanya berakhir buruk. Ia benar-benar harus melaporkan hal ini. Sudah cukup buruk baginya menemukan Sasuke dan Naruto saling bertemu.
Dan sekarang, kenyataan bahwa bocah-bocah itu memiliki hubungan dengan keduanya? Tidak. Tidak bisa. Tidak bisa dan tidak boleh terjadi. Ia harus memiliki akhir bahagia bersama orang yang sudah ia idamkan. Sosok itu mengusap kedua matanya dan bergegas pergi.
I am cake line break. Oh, my, don't I taste really sweet? Melt in your mouth.
Hikari meringkuk di bawah sebuah pohon sekarang. Sebenarnya ia baru saja keluar dari rumah besar. Ia ingin memberikan kue itu untuk si paman bajak laut dan temannya. Tapi berakhir dengan tidak bagus. Meski ia pintar, Hikari dan Ryuu selalu memiliki musuh karena keunikan mereka. Hari ini adalah salah satunya. Keranjang kue miliknya sudah hilang entah kemana. Hikari tahu dan sudah berjanji tak akan menggunakan Chakra untuk melawan anak-anak desa. Karena Kaa-san bilang mereka bisa terluka dan itu tidak baik.
Hikari hanya bisa menghindar. Ia tetap marah dengan apa yang sudah terjadi. Padahal ia hanya ingin membantu Kaa-san. Terkadang emosinya membuat Chakra keluar dengan sendirinya. Hikari tidak sepandai Ryuu dalam hal mengendalikan Chakra. Setiap ia marah, Chakra akan keluar. Ia menutup kedua matanya dan membukanya kembali. Ia yakin pasti ada yang salah dengan matanya.
Anak perempuan itu tidak tahu sejak kapan itu terjadi. Tapi, setiap ia menjadi seperti itu matanya akan berubah. Ia tidak suka melihat matanya yang merah dan terlihat menakutkan. Hal itu juga yang membuat anak desa yang memusuhinya pergi menjauh. Hikari mendekap kedua lututnya dan menutup matanya. Berharap matanya segera kembali seperti semula. Ia ingin tahu apakah Ryuu juga pernah mengalami hal yang sama.
Anak berkepang dua itu membeku sesaat. Ia menengadah dan melihat manusia pantat bebek berdiri di hadapannya. Dan lelaki tinggi itu terdiam menatap ke bawah, ke arah sepasang mata merah milik Hikari.
"Ternyata kau benar-benar anak Naruto. Tidak melawan meski kau tahu bisa menang."
Sasuke membungkuk dan melanjutkan berbicara, "aku sempat bingung kenap anak-anak itu lari darimu. Ternyata ini penyebabnya. Kenapa kau memiliki mata itu?"
Hikari menggigit bibirnya, "aku tidak tahu! Kaa-san tidak punya mata seperti ini! Kenapa aku? Aku tidak tahu! Pergi kau pantat bebek!"
Sasuke hanya menghembuskan nafas, "apa kau tahu siapa 'ayah'mu?"
Hikari mengusap pipinya yang basah karena air mata, "tidak tahu. Aku tidak tahu."
"Berapa umurmu?"
"Aku akan genap berumur delapan tahun akhir Desember," ujar Hikari tanpa melihat lawan bicaranya.
Sasuke terdiam sejenak. Tujuh atau delapan tahun lalu ia masih berada dalam genggaman Orochimaru. Dan dia— apa jangan-jangan. Tidak, tidak mungkin. Terakhir kali dia membaca, tidak ada laki-laki yang bisa melahirkan. Meski begitu, jika memang benar, Sasuke sudah bertekad akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya miliknya. Naruto akan menjadi miliknya. Dan mengubah persepsi bocah-bocah ini memang tak akan mudah. Apalagi mengingat keduanya sangat protektif.
Apapun yang terjadi ia akan membawa Naruto kembali. Dan membatalkan pertunangan gila itu. Jika para tua bangka itu menolak, Sasuke tak akan peduli. Lebih baik ia pergi dari Konoha. Semoga saja semuanya bisa berjalan seperti yang ia inginkan.
"Hey, kau."
"Aku punya nama, pantat bebek!"
"Aku Sasuke dan jangan panggil aku pantat bebek," ujar sang Uchiha.
"Aku Hikari. Mau apa kau di sini? Kau membuat Kaa-san-ku sedih. Aku tidak suka denganmu! Ryuu-chan juga tidak suka denganmu!"
Pria itu menghembuskan nafasnya sekali lagi, "aku tahu itu. Aku harus memperbaiki sesuatu agar Naruto mau melihat ke arahku."
Hikari tidak mengerti apa yang orang itu bicarakan. Apa pantat bebek bersalah hingga Kaa-san-nya seperti itu?
"Kau berbuat sesuatu yang buruk di masa lalu?" tanya gadis kecil itu.
"Begitulah."
Hikari hanya mengangguk pelan, "ohh."
Sasuke memperhatikan Hikari perlahan tenang tapi Sharingan miliknya belum hilang.
"Hey, kau mau aku menghilangkan mata merah itu?"
Hikari mengedipkan matanya, "kau bisa?"
Sasuke mengangguk, "karena aku juga memiliki mata itu."
Hikari melihat si pantat bebek menutup matanya dan membukanya kembali. Mata pria dewasa di hadapannya berubah menjadi merah. Hikari merasa orang itu memiliki hubungan dengannya. Ia yakin, tak mungkin orang asing yang baru ia temui memiliki kesamaan yang sudah membuatnya ketakutan. Dan orang itu bersedia membantunya untuk membuat mata merahnya kembali biru.
Sepanjang sore itu, Hikari tidak segera kembali. Ia sudah melupakan kejadian dengan anak-anak desa. Dan Sasuke mengajarinya bagaimana cara untuk mengembalikan matanya menjadi normal. Ia tidak terkejut Hikari bisa mengerti dengan cepat. Toh keturunan Uchiha memang seperti itu. Pria itu mendapati dirinya tersenyum. Ia harus membuat Naruto kembali percaya padanya. Ia akan bertanya apakah kedua anak ini memang bagian dari darah dagingnya. Dia juga berhak tahu tentang hal itu. Karena dialah yang seharusnya bertanggung jawab dengan semua masalah yang sudah terjadi. Termasuk membuat Naruto pergi dari Konoha.
Sasuke melihat Hikari meloncat dengan girang saat melihat matanya kembali menjadi biru di sungai. Hari mulai gelap dan keduanya berjalan pulang. Mereka menyadari bahwa musik festival begitu ramai terdengar. Hikari segera menarik tangan Sasuke. Dan sang Uchiha hanya mengikuti saat dituntun Hikari.
I am Rin Kagamine line break. I love orange. I sing Meltdown that everyone loves. So, love me!
Festival tahun itu sangat meriah. Naruto sudah pasti akan menikmati kegembiraan itu jika saja Hikari tidak menghilang. Ryuu juga sudah ikut mencari. Saat Hikari dijahili Ryuu melihatnya. Anak laki-laki itu juga melihat adiknya berlari ke hutan. Malam juga sudah menaungi langit. Suara tabuhan musik terdengar jelas. Naruto hanya berharap Hikari pergi ke festival itu. Jadi ia bisa menemukannya.
Pria itu kemudian mendengar sesuatu di tengah keramaian…
"KAA-SAN!"
Dan Naruto sudah bersiap untuk di terjang tubuh mungil Hikari.
Naruto tidak tahu harus berkata apa, "kau gadis muda, benar-benar dalam masalah besar!"
Hikari hanya tersenyum lebar saat Kaa-san-nya mencubit kedua pipinya, "hehehe."
"Ya sudahlah, ayo pulang," ujarnya tapi langkahnya terhenti saat Hikari menyahut.
"Kaa-san! Aku ingin lihat-lihat festivalnya," rengek Hikari.
"Ah, ah, ah. Tidak bisa. Kau sudah membuatku dan Ryuu-chan khawatir. Pulang sekarang."
Hikari sudah bersiap untuk menjawab tapi, "Lepaskan saja dia. Dia hanya ingin bersenang-senang."
Naruto membeku di tempat dan menoleh, "itu bukan urusanmu."
Pria berambut hitam itu melipat tangannya dan berjalan mendekat. Ia hanya mendekat beberapa meter untuk mencegah Naruto kabur.
"Dia bersamaku sepanjang sore," kata Sasuke.
Naruto menoleh ke arah Hikari dengan tatapan tajam seolah bertanya 'benarkah, Hika-chan?'
"Aku ingin kita bicara. Ada sesuatu yang harus kusampaikan, Naruto."
Mata birunya menyipit, "tidak ada yang harus di bicarakan."
Sasuke menghembuskan nafas. Ia sudah memprediksi ini bukanlah hal mudah untuk di tangani. Memang salahnya ia meninggalkan Konoha lebih dulu. Tapi, hati manusia selalu membuat masalah yang rumit semakin rumit. Satu hal yang saat ini harus ia lakukan adalah segera meyakinkan Naruto untuk pulang. Setelah itu memenangkan hatinya kembali dan membuang cincin terkutuk itu dari jarinya. Malam festival ini jelas akan menjadi malam yang panjang bagi sang Uchiha. Karena tugasnya untuk mengkonfrontasi manusia paling keras kepala yang ia sayangi.
"Aku hanya ingin tahu siapa ayah Hikari," ujar Sasuke.
Random facts:
*) di dalam movie KIZUNA, Kiba emang ga ikut dalam misi nyari istana melayang. Yang ada dalam misi itu pertama Kakashi, Shikamaru, Sai, plus Shino. Kemudian Yamato-sensei dateng ama Neji dan Chouji. Yang lainnya ada Jiraiya, Sakura, dan Hinata. Makanya Kiba ga tahu tentang 'keanehan cara berjalan' Naruto pas setelah di penginapan itu. Yang tahu adl Kakashi ma Shikamaru.
Review answer:
Gimana? Nami udah penuhi keinginan terbesar readers. Naru-chan ma Sasu-teme udah ketemu. Tapi, emang rada ga enak juga suasananya. Maaf klo kadar SasuNaru-nya kurang. Karena untuk chapter-chapter depan sudah pasti bakal berjibaku dgn usaha Sasu-teme buat ngedapetin Naru-chan. Jadi, Nami harap readers bisa sabar.
Q: kapan ada lemon lagi?
A: maaf ya, Nami udah perkirakan ga akan ada lemon dalam waktu dekat. Cuz, klo tiba2 ada lemon bkal ngancurin ceritanya. Tapi, tetep bakal ada lemon dalam waktu yg masih lama.
Q: kenapa Sasu-teme ga langsung mengira Ryuu n Hikari adl anaknya?
A: klo utk yg ini, coba kalian pikirkan, seandainya kalian berada di posisi Sasu-teme. Kalian menyukai seseorang yg ternyata sahabat kalian sendiri, stlh sekian lama akhirnya bertemu dan mendapati orang itu punya ank yg manggil sahabat kalian 'ibu'? Dan jangan lupa, kejadian 'lemon' itu di sini udah bertahun-tahun lalu. Ada orang yg pernah bilang ke Nami; orang yg kelewat jenius biasanya paling lemot utk masalah perasaan, apalagi cinta. Singkatnya, Sasu-teme itu emang rada lemot dlam hal menyadari sesuatu.
Q: Ryuu manggil Sasu-teme 'pantat bebek'?
A: Ryuu ma Hikari itu meskipun punya muka mirip ma si Teme, sifatnya hampir sama kaya Naruto. Jadi, masalah manggil orang-orang dengan julukan2 kaya gitu, itu juga karena sifat bawaan dari si 'ibu'. =_= ngerti 'kan?
Okeh, itu semua adl pertanyaan yg mendominasi review. Before I forgot. To my princess out there, I thank you for your review. As you wish, I put 'that' scene in this chapter. Sorry, I didn't put it at chapter 3, I have my plan. And, I hope you'll like it. Don't forget to be my first reviewer, ne? ^^
Dan, terima kasih untuk semua alert, fav, dan review dari para readers. Kalian semua selalu membuat Nami tersenyum dengan review2 kalian. Meski terkadang ada beberapa yg menganggap review kalian bodoh ato tdk berguna tapi, itu bkin Nami senang. Untuk tamu kali ini adalah… Gaara!
Gaara: …
Ah, gaara-kun selamat datang!
Gaara: Apakah aku akan muncul juga di sini?
Well, klo itu si… *scratch cheek* Nami belum nemu tempat cocok untuk Gaara-kun muncul… Kecuali tiba2 ada readers yg mengajukan ide dan bisa dipertimbangkan.
Gaara: Oh… T_T
Maaf Gaara-kun!
Gaara: Kalau kalian pintar jangan beri review yg bermutu kepada satu orang ini *look at readers*
*froze* *hide at the corner of the room*
Gaara: Tch, oke fine! Satu kata untuk kalian, R.E.V.I.E.W
