DEAD AT HEART

Cast:

CHO KYUHYUN

LEE SUNGMIN

Other Cast

Rate: T


"Terima kasih."

Kyuhyun dan Sungmin membungkukkan badannya pada penjual roti 24 jam yang baru saja mereka beli rotinya. Malam ini, Kyuhyun ingin bertemu dengan orang tua Sungmin sebagai teman, dan untuk itu, Kyuhyun harus membawa sesuatu.

"Tidak apa hanya membawa roti?" tanya Kyuhyun saat mereka berdua sudah memasuki mobil.

Sungmin menggeleng imut, "tidak membawa apa-apa saja juga tidak apa, Kyu."

Kyuhyun tersenyum manis kepada calon kekasihnya ini. Mobil sudah berjalan dan keheningan menyelimut mereka berdua selama beberapa menit. Mungkin karna Kyuhyun sedang fokus menyetir dan Sungmin yang sibuk bermain handphone.

"Besok kau tidak ada acara, Kyu?" tanya Sungmin sambil menyimpan handphonenya di saku. Kyuhyun melirik sebentar, "tidak, kenapa?"

"Ani. Hanya ingin berkunjung ke Apartmentmu setelah mengantar Appa dan Eomma." Jawab Sungmin tanpa melirik Kyuhyun. Sebenarnya ia malu berkata seperti ini.

Kyuhyun menarik ujung bibirnya saat mendengar Sungmin yang terkesan malu-malu. Satu tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambut Sungmin. "Datanglah. Aku akan sangat senang bila menghabiskan hari minggu bersamamu."


"Ini Kyuhyun, temanku." Sungmin memperkenalkan Kyuhyun pada Ayah dan Ibunya yang masih menginap di Apartmentnya. Kyuhyun membungkukkan badannya sebelum dipersilahkan duduk diruang tengah ruang Apartment mewah itu.

"Annyeong haseyo." Tutur Kyuhyun yang dibalas senyuman oleh kedua orangtua itu. Tuan Lee mempersilahkan Kyuhyun duduk. Sementara Nyonya Lee ijin ke dapur untuk memberikan Kyuhyun minuman.

Sungmin duduk di sebelah Kyuhyun, sementara Ayah Sungmin duduk dihadapan mereka berdua. Terasa canggung untuk ketiganya, ini bukan seperti memperkenalkan sahabat pada orangtua sahabatnya, tapi seperti memperkenalkan kekasih kepada orangtua.

"Kyuhyun-ssi, ku dengar perusahaanmu sedang berada di titik sukses, ne?" tanya Tuan Lee mencairkan suasana.

Kyuhyun tersenyum sambil menundukkan kepalanya sebentar, "Terima kasih atas pujiannya, Tuan Lee. Namun perusahaanku masih harus belajar pada Sendbill Corp. yang masih berjalan sampai sekarang dalam kesuksesan."

"Ya! Biasanya kau selalu membanggakan perusahaanmu didepanku." Sungmin menepuk lengan Kyuhyun saat mendengar gombalan Kyuhyun yang terdengar menjijikan di telinganya. Tuan Lee yang melihat kedua tingkah manusia sama gender dihadapannya hanya menganggap hubungan sahabat yang dekat tanpa berpikir jauh.

"Hey, kapan aku membanggakan perusahaanku? Aku ini rendah hati, Min." ujar Kyuhyun sambil tersenyum kepada Tuan Lee, agar ayah dari calon kekasihnya itu dapat memaklumi pertengkaran kecil mereka.

"Sudahlah, Min. Sebaiknya kau ganti dulu bajumu itu." Sungmin mengangguk malas seraya berdiri dan berjalan menuju kamarnya saat Ayahnya memberikan perintah.

Tidak lama setelah Sungmin masuk kamar, Nyonya Lee datang sambil membawakan segelas susu hangat untuk Kyuhyun.

"Minumlah, Kyuhyun-ssi. Cuaca malam ini sangat dingin." Tutur Nyonya Lee sambil menaruh gelas penuh susu itu dihadapan Kyuhyun.

"Ah, maaf merepotkan, Nyonya Lee." Kyuhyun membungkukkan badannya, merasa tidak enak karna sudah malam begini masih saja merepotkan orang yang akan pergi esok hari.

"Kyuhyun, apa kau sudah mempunyai kekasih?" Kyuhyun tersentak mendengar pertanyaan Nyonya Lee yang terkesan to the point. Kyuhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pertanyaan ini sungguh awkward, bagaimana tidak, calon kekasihnya itu kan adalah anak dari Nyonya Lee.

"Belum, Ahjumma." Jawab Kyuhyun sambil tersenyum tipis. Ada rona merah yang menghiasi wajahnya karna menahan malu.

"Jinjja? Kau tampan dan sangat mapan, kenapa tidak mencari kekasih?" Kini Tuan Lee yang sepertinya memberikan interview khusus pada Kyuhyun.

"Aku sedang mencari, menunggu malah, hahaha." Kyuhyun sedikit terkekeh saat mengingat bahwa orang yang sedang ia bicarakan adalah anak dari pasangan yang juga sedang tertawa mendengar jawabannya.

"Baguslah. Sayang bila kau terlalu asyik dengan kerjaanmu sampai lupa dengan cinta." Tuan Lee melirik sebentar sang istri yang berada disebelahnya, "seperti Lee Sungmin. Dia terlalu asyik mengejar kedudukan tertinggi sampai lupa dengan urusan cinta, untung saja aku sudah menyiapkan calon untuknya."

DEG

Air muka Kyuhyun seketika berubah menjadi kelam mendengar gurauan Tuan Lee. Entah itu benar atau hanya bercanda, perkataan itu sungguh menancap dihatinya.

"A-apa? Calon?" tanya Kyuhyun untuk meyakinkan apa yang ia dengar.

Tuan Lee mengangguk, "ya. Ku lihat dia tidak pernah mengenalkan kekasihnya pada kami. Dan dulu dia pernah bilang kalau menyerahkan urusan seperti itu pada kami. Jadi, aku selama ini mencari calon yang benar-benar sesuai criteria ku dan tentunya criteria Sungmin."

Tubuh tinggi itu membeku mendengar penjelasan Tuan Besar pemilik Perusahaan Sendbill Corp. Sungmin sudah mempunyai calon, atau lebih tepatnya sudah disiapkan calon oleh kedua orangtuanya. Seketika rasa marahnya bangkit, merasa kecewa dan merasa telah dipermainkan oleh namja manis itu. Calon kekasihnya itu sudah mempunyai calon kekasih yang lain, malahan calon istri. Lalu untuk apa dia disini? Untuk apa semua perkenalan yang sedang ia jalani sekarang?

"Kyu."

Kyuhyun mendengar suara tenor itu memanggil namanya. Sepertinya Sungmin sudah selesai membersihkan diri dan sudah kembali bergabung bersamanya dan orangtuanya di ruang tengah.

"Kyu? Kau kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa." Kyuhyun tersadar dari lamunannya saat merasakan tangan Sungmin menggoncang bahunya, "sepertinya sudah terlalu malam. Saya mohon pamit dulu."

Kyuhyun berdiri dari duduknya yang ditatap bingung oleh Sungmin. Tuan dan Nyonya Lee yang tidak menyadari perubahan sikap Kyuhyun hanya menanggapi sambil tersenyum.

"Baiklah, terima kasih sudah berkunjung, Kyu." Ujar Nyonya Lee yang mengantar Kyuhyun sampai ke depan pintu. Sungmin yang mengikuti dari belakang hanya memasang tampang bingung.

"Annyeong." Kyuhyun membungkukkan badannya dihadapan Tuan dan Nyonya Lee. Dia tersenyum, namun tidak pada Sungmin. Namja tampan itu seperti menghindari kontak mata pada onyx foxy itu. Sungmin yang menyadari ada yang aneh dari Kyuhyun langsung menyelak kedua orangtuanya untuk mengantar Kyuhyun sampai ke lift.

"Kyu!" teriak Sungmin saat Kyuhyun sudah berjalan menuju lift. Namja itu menengok, namun kembali menatap ke depan seolah tidak memperdulikan Sungmin yang sedang berlari kecil ke arahnya.

"Tunggu aku." Sungmin berhasil menyusul Kyuhyun. Kebetulan, pintu lift terbuka dan kosong. Ditariknya lengan Kyuhyun untuk masuk ke dalam lift.

"Kau kenapa?"

Sungmin menengok ke Kyuhyun yang berada disebelahnya. Tangan Kyuhyun yang sedang dipegangnya terasa dingin dan tidak ada kelembutan sama sekali. Belum ada semenit mereka di dalam lift, pintu itu sudah terbuka. Dengan cepat, Kyuhyun menghempaskan tangan Sungmin dan berjalan menuju kamar Apartmentnya tanpa memperdulikan Sungmin yang heran dengan sikapnya.

BRAK

"Ya! Kau ini kenapa sih, Kyu?" Sungmin sudah hilang kendali. Dia paling tidak suka tidak dianggap, apalagi diperlakukan seperti ini dengan Kyuhyun, namja yang special dihatinya. Tangan kecil itu memukul pintu Apartment Kyuhyun saat calon kekasihnya itu sedang mengetik password.

Kyuhyun menatap Sungmin dengan pandangan yang tidak bisa Sungmin artikan. Semua emosi terasa terkumpul disitu sampai-sampai Sungmin harus mengalihkan pandangan matanya karna tidak sanggup menatap kedua manik coklat itu.

"Kau telah berbohong, Min."

Sungmin segera mengalihkan lagi matanya pada wajah Kyuhyun. "Apa maksudmu? Berbohong apa?"

Merasa situasi yang semakin memanas, Kyuhyun membuka pintu Apartmentnya dan menarik tangan Sungmin untuk masuk ke dalam. Setelah sampai di ruang tengah, Kyuhyun melepaskan tangan kecil dan lembut itu. Matanya seakan mengilat merah karna menahan kesal.

"Kau ini kenapa sih, Kyu?!" Sungmin berteriak karna tidak paham dengan apa yang terjadi pada Kyuhyun. Perasaan saat dia meninggalkan Kyuhyun untuk bersih diri, namja ini masih tersenyum padanya. Namun kenapa sekarang Kyuhyun mengatakan kalau dia telah berbohong?

"Sungguh aku tidak mengerti apa maksudmu dengan mengatakan kalau kita akan menjadi kekasih padahal kau sudah mempunyai calon istri seorang yeoja? Kau mempermainkanku, Lee Sungmin?"

Sungmin tercengang mendengar penuturan Kyuhyun, nada bicara namja ini sungguh tenang namun tersirat kekecewaan yang mendalam. "K-kyu, aku masih belum mengerti. Calon istri? Siapa?"

Kyuhyun tersenyum seakan mengejek Sungmin, "orangtuamu sendiri yang bilang seperti itu, Sungmin. Jangan membodohiku."

"Aku tidak membodohimu! Demi Tuhan aku tidak tahu apa-apa tentang calon istriku itu, Cho Kyuhyun! Dan jangan bicara seakan-akan aku ini telah mempermainkanmu!" Sungmin berteriak lagi. Nafasnya tersengal-sengal. Kyuhyun yang dibentakpun hanya bisa diam sambil menatap Sungmin.

"Aku tidak tahu kalau orangtuaku mempunyai pikiran akan menjodohkanku. Aku tidak punya siapapun sampai kau datang dikehidupanku, Kyu." Wajah Kyuhyun yang menahan amarah seketika langsung melembut mendengar penuturan Sungmin yang serasa seperti angin sejuk di telinganya.

"Ja-jadi? Orangtuamu menjodohkanmu? Kau tidak tahu?" tanya Kyuhyun. Sungmin sendiri sudah duduk di sofa Kyuhyun, menatap Kyuhyun yang masih berdiri dihadapannya. Kepalanya mengangguk, "aku tidak tahu apa-apa."

"Kau tidak menerimanya?"

"TENTU SAJA TIDAK!"

SRET

Mata foxy itu terbelalak kaget saat mendapat pelukan tiba-tiba dari Kyuhyun. Sepertinya namja itu terlalu senang mendapat pengakuan bahwa Sungmin tidak tahu apa-apa tentang calon yang dibicarakan oleh Tuan dan Nyonya Lee. Pelukan tangan Kyuhyun semakin erat saat Sungmin sudah membalas pelukannya.

"Ah, kau hampir membuatku mati saat mengetahui hal itu, Min." Kyuhyun menyenderkan dagunya di bahu Sungmin, "syukurlah, bahwa kau tidak menerima itu semua."

Sungmin tersenyum dari balik punggung Kyuhyun, tangan kecilnya mulai mengusap-usap punggung sang calon kekasih, "lain kali langsung tanyakan padaku. Jangan tiba-tiba marah begitu."

"Aku panic. Aku takut kehilanganmu, Min." tutur Kyuhyun, pelukannya sudah terlepas. Kini dia sudah berlutut dihadapan Sungmin yang sedang duduk disofanya. Digenggamnya kedua tangan Sungmin.

"Kau tidak akan kehilanganku, Cho." Sungmin tersenyum manis, yang membuat bibir tebal Kyuhyun ikut tertarik membentuk senyuman.

"Tidak ada jaminan selagi kau bukan milikku, Lee." Manik coklat hitam menatap lurus ke manik foxy. Menyelami lautan kepercayaan Sungmin untuk benar-benar membuka hatinya sekarang juga untuk Kyuhyun masuki.

Sungmin tidak membalas perkataan Kyuhyun. Dia hanya tersenyum dan memandang teduh wajah tampan dihadapannya. Jarak mereka semakin dekat, eratan di jari-jari mereka semakin intens. Tidak ada satupun yang dapat mengganggu karna hanya mereka berdua di Apartment itu. Perlahan namun pasti, wajah Kyuhyun semakin dekat untuk menghapus jarak yang memisahkan kedua bibir miliknya dan milik Sungmin. Dekat sampai kedua pasang mata itu terpejam, dekat sampai akhirnya tidak ada jarak diantara keduanya, dekat sampai kedua hidung bangir itu bersentuhan.

Ini ciuman pertama bagi mereka berdua. Terasa manis dan benar-benar menghangatkan ruang hati keduanya yang disakiti karna cinta pertama. Lumatan ringan yang berujung kasar akhirnya terjadi. Tangan yang tadinya saling menggenggam terlepas untuk merasakan setiap detail tubuh sang pasangan.

Tanpa melepas pautan bibir, Kyuhyun membimbing Sungmin untuk berdiri dari duduknya. Matanya terbuka untuk membimbing mereka berdua untuk berjalan menuju kamar Kyuhyun yang tidak jauh dari ruang tengah, tentunya mereka tidak rela melepas ciuman mereka hanya untuk berjalan ke kamar Kyuhyun.

Sesampainya di kamar, kebutuhan oksigen kembali membuat jarak yang masih terlalu dekat diantara mereka. Keduanya tersenyum, bahkan diselingi kekehan kecil. Menyadari betapa hotnya mereka tadi berciuman.

Namun sedetik kemudian, pandangan mereka berdua berubah kembali menjadi lembut. Menyadari adanya kebutuhan napsu yang disertai dengan kesempatan. Kyuhyun yang pertama memulai untuk menghapus kembali jarak dibibir mereka, menghempaskan tubuh kecil Sungmin ke kasurnya.

Saat jari-jari panjang itu mulai merambat masuk ke dalam kaos Sungmin,

"Tunggu,"

Kyuhyun menatap heran kepada Sungmin yang menatapnya dengan bingung, "Hm?"

"Apa kita sudah menjadi kekasih?"

Namja penyuka salju itu terkekeh kecil lalu mengecup kening Sungmin,

"dari awal kita bertemu, kau sudah kekasihku, Lee Sungmin."

.

.

Dan dimulailah malam pertama untuk dua hati yang sudah tenggelam di dalam jiwa satu sama lain..


Sinar matahari mulai merambat masuk disela-sela kecil gorden jendela yang masih tertutup itu. Membiarkan bias-bias sinarnya menerpa wajah kedua namja yang masih tertidur sambil berpelukan di ranjang yang sudah tidak bisa dikatakan rapi.

Kyuhyun dan Sungmin sepertinya menikmati malam pertama mereka. Terbukti dari aktivitas yang baru selesai pukul 4 pagi tadi. Baju dan celana bersebaran diseluruh penjuru kamar bertembok biru ini. Bahkan bantal guling tidak pada tempatnya. Kyuhyun dan Sungmin hanya perlu tubuh satu sama lain agar menyamankan tidur mereka. Kepala Sungmin tergeletak di dada bidang Kyuhyun, tangannya pun memeluk pinggang Kyuhyun yang terekspos seakan tidak ingin namja itu menjauh darinya. Kyuhyun sendiri memeluk pinggang Sungmin yang juga terekspos dengan kedua tangannya.

Sungmin mulai gelisah saat sinar-sinar matahari mulai bergerak menerpa wajahnya. Dengan perlahan dia membuka matanya, sedikit mengerjap-ngerjap untuk membiasakan diri dengan cahaya.

"Engh, Kyu~"

Sungmin perlahan bangkit dari tidurnya, duduk disamping Kyuhyun yang tetap tidur terlelap tanpa menyadari Sungmin sudah tidak lagi dipelukannya. Tangan kecil itu mulai menepuk-nepuk pipi Kyuhyun karna dirasa hari sudah siang.

"Ireona, Kyu." Sungmin terkekeh geli saat Kyuhyun menggeliat sambil berusaha untuk membuka matanya. Dia memasang senyum yang paling manis saat kedua mata coklat itu terbuka sempurna.

"Min? kau sudah bangun?" tanya Kyuhyun sambil memposisikan diri untuk duduk. Dia menyenderkan tubuhnya dipinggir ranjang, menarik pinggang Sungmin agar dapat dia peluk dari belakang. Sungmin pun menurut, disenderkan kepalanya di dada bidang Kyuhyun.

"Ya, aku sudah bangun karna aku bermimpi bahwa ayah dan ibuku sedang mengamuk karna aku tidak sempat mengantar mereka pulang." Jawab Sungmin. Jemari kecilnya terangkat untuk memainkan jari jari Kyuhyun yang berada di pinggangnya yang terekspos.

Kyuhyun tersenyum manis, bibirnya mengecup ringan puncak kepala Sungmin. "Aku sangat sedih mendengarnya. Jadi kau tidak memimpikan malam pertama kita?"

Sungmin menatap Kyuhyun dengan tatapan pura-pura kesalnya, "kau membuatku malu, Tuan Cho."

"Mianhae. Ah, apa kau sudah menghubungi orangtuamu?" tanya Kyuhyun sambil melirik wajah Sungmin yang tepat berada dibawahnya.

Sungmin menggeleng, "nanti saja. Aku masih mau berada disampingmu."

Namja bermarga Cho itu mengeratkan pelukannya. Pikirannya terbang ke ingatan tadi malam saat semua sentuhan, peluh, dan cairan mereka berubah menjadi satu. Namun ternyata ingatannya terlalu jauh, dia menjadi teringat tentang orangtua Sungmin.

"Min,"

"Ya?"

"Orangtuamu tidak tahu bahwa kau…. penyuka sesama jenis?" tanya Kyuhyun, nada bicaranya sangat hati-hati, takut melukai hati sang calon kekasih, ah mungkin kini sudah menjadi kekasih.

Ada jeda sebentar yang membuat Sungmin bisa merasakan debaran jantung panic dari Kyuhyun,

"Tidak. Mereka tidak tahu dan mungkin kalau mereka tahu, mereka tidak akan menyetujuinya."

Terbesit rasa kecewa mendengar jawaban Sungmin, ada juga rasa takut berpisah dari Sungmin bila kedua orangtua kekasihnya itu tidak merestui hubungan mereka. "Lalu bagaimana dengan hubunganmu yang dulu, Min?"

Sungmin terdiam. Kyuhyun sudah kembali membuka ingatannya pada sosok namja yang selalu menjadi mimpi buruk untuknya.

"Min? Apa aku salah bertanya?"

"Eh? Tidak. Orangtuaku? Mereka tidak tahu tentang hubunganku yang dulu. Kalau mereka tahu, mungkin cerita nya akan berbeda."

Kyuhyun menahan napas mendengar itu semua. Orangtua Sungmin menganggap Sungmin adalah pria normal. Menganggap anak lelaki sulungnya itu mencintai yeoja dan akan hidup norma seperti mereka. Lalu bagaimana bila orangtua Sungmin mengetahui hal itu?

"Kyu? Kau melamun."

Sungmin mendongakkan kepalanya sambil menatap wajah Kyuhyun yang kini sudah tersenyum kepadanya.

"Ani. Hanya memikirkan masa depan kita." Tangan Kyuhyun terangkat untuk mengelus-elus pipi Sungmin.

"Masa depan? Masa depan kita akan cerah, Kyu. Kita akan selalu bersama~"

Mau tak mau bibir tebal itu tersenyum mendengar suara manja Sungmin. Dia juga dapat merasakan punggung tangannya dikecup lembut oleh bibir tipis berwarna pink itu.

"Apapun, Min. Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk pergi. Kita baru memulai, jangan berhenti ditengah jalan." Ucap Kyuhyun seraya membalikkan badan Sungmin. Memegang tubuh naked itu agar menghadap kearahnya.

Sungmin tersenyum, bibirnya dengan cepat bertemu dengan bibir tebal Kyuhyun.

"Apapun, Kyu. Apapun aku akan berjanji untuk tetap berada disampingmu. Saranghae."

Rasanya seperti surga mendengar kata cinta dari bibir Sungmin. Kyuhyun seperti dibawa pergi menuju langit tanpa memperdulikan dunia yang mungkin akan membawanya kembali ke realita. Kyuhyun seperti tenggelam di dalam dunia yang tidak mungkin tidak membahagiakannya.

"Nado saranghae, Min."


"Aku tidak percaya kau sudah melakukannya."

Donghae menggelengkan kepalanya setelah mendengar cerita Kyuhyun tentang apa yang terjadi kemarin. Sudah waktu makan siang, Donghae yang sedang disekitar kantor Kyuhyun, menyempatkan diri untuk makan siang bersama sahabatnya ini.

"Aku berani bersumpah bahwa aku dan Hyungmu itu sudah menjadi kekasih." Kyuhyun melirik menggoda Donghae, "dan aku juga berani bersumpah kalau malam pertamaku sungguh sempurna."

Kyuhyun tertawa kecil saat melilhat wajah sahabatnya antara tidak percaya dengan takjub. Dia dan Donghae memang tidak pernah menutupi suatu hal satu sama lain. Apapun yang terjadi, apapun yang mereka alami, pasti satu sama lain tahu.

Donghae berjalan mendekati Kyuhyun yang sudah kembali sibuk dengan laptop di meja kerjanya. "Kau sudah bertemu dengan Lee Ahjusshi?"

"Hm." Jawab Kyuhyun singkat, sambil mengangguk.

"Mereka tahu hubunganmu?" Donghae memajukan kepala serta tubuhnya, condong menghadap Kyuhyun sampai-sampai namja itu harus melindungin laptopnya agar tidak mengenai Donghae.

"Ya tentu saja tidak, Pabbo! Menyingkirlah!"

Donghae akhirnya menegakkan tubuhnya kembali. Kembali duduk di bangku yang disediakan di depan meja Kyuhyun. "Akan menjadi masalah besar bila mereka tahu."

Merasa kalau topic yang sedang dibicarakan adalah hal penting baginya, Kyuhyun menengokkan kepalanya. Meninggalkan sedikit dokumen yang terpampang di layar laptopnya. "Maksudmu?"

"Orangtua Sungmin hyung itu adalah orang yang keras dan mungkin terkesan egois. Kau tahu? Sungjin tidak mau meneruskan perusahaan Sendbill karna berkeinginan untuk menjadi seorang pelukis. Karna itu juga Sungmin hyung meninggalkan sekolah seninya untuk menggantikan Sungjin yang tidak mungkin menjadi penerus Sendbill."

Kyuhyun mengangguk, walau sebenarnya bukan itu yang ingin ia dengar. Ia hanya ingin dengar mengapa akan menjadi masalah besar bila hubungannya dan Sungmin terbongkar.

"Dan tentunya, Sendbill memerlukan keturunan untuk menggantikan Sungmin Hyung. Keturunan dari Sungjin tidak akan diterima karna itu sudah menjadi perjanjian saat Sungjin memilih sekolah lukis dibanding sekolah bisnis. Hanya Sungmin hyung harapan mereka."

Kini namja tampan itu tertegun. Mencerna setiap kata dari kalimat Donghae agar dapat diterima diotak serta hatinya. Sesulit itukah mempertahankan masa depan yang sudah dia rancang bersama Sungmin? Mengapa Sungmin tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya?

"Apa tidak ada harapan bila aku meneruskan hubunganku dengan Sungmin?" tanya Kyuhyun. Donghae hanya melirik Kyuhyun tanpa menjawab. Mungkin dia punya jawaban, hanya saja hatinya tidak rela.

"Aku tidak ingin menyerah, Hae-ah. Aku baru mulai dan aku belum mencoba. Segala kemungkinan itu pasti ada, kan?" Kyuhyun menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya masih lurus memandang Donghae yang sedang menghela nafas.

"Aku tidak menyuruhmu menyerah karna aku yakin kau bukan tipikal lelaki yang mudah menyerah. Aku hanya ingin kau mempersiapkan diri,"

Kyuhyun menarik satu alisnya, ucapan Donghae seperti ambigu baginya.

"Yeah, mempersiapkan diri. Entah itu untuk menikah dan hidup bahagia bersama Sungmin hyung. Atau mungkin pergi dan melihat Sungmin hyung menikah dengan orang lain."


Kepala namja mungil itu mendongak, seperti berusaha mencari sesuatu di tengah kerumunan di depan gedung bertingkat tinggi. Wajahnya seperti kesal karna tidak dapat menemukan apa yang dia cari. Berkali-kali dia melihat jam tangan berhias emas di tangan kirinya, berkali-kali juga dia duduk dan bangkit lagi.

"Ryeowook-ah?"

Ryeowook, namja mungil, itu menengok ke sumber suara. Terlihat namja dengan tubuh proporsional sedang tersenyum kepadanya.

"Yesung hyung!" Ryeowook berjingkit kaget melihat sosok yang dikenalnya sedang menghampirinya.

Ryeowook sedikit menggeser duduknya agar Yesung dapat duduk disampingnya. Ditengah-tengah kerumunan orang-orang yang baru selesai bekerja, mereka berdua duduk di bawah rindangnya pohon besar.

"Kau menunggu Kyu? Kenapa tidak langsung masuk ke dalam?" tanya Yesung sambil sedikit merapikan poninya yang diterpa angin sore.

"Tidak. Aku anti dengan urusan bisnis, masuk ke dalam gedung itu sama saja berurusan dengan bisnis. Apalagi mereka semua menganggapku seorang raja." Jawab Ryeowook, "aku sedang menunggu Kyuhyun Hyung."

"Kau menunggunya? Dia sudah pulang daritadi, Wookie-ah." Yesung terkekeh kecil, ditatapnya wajah Ryeowook yang sudah berubah menjadi kesal.

"Jinjja? Aish! Tega sekali dia!" namja imut itu menghentakkan kakinya di lantai. Mengumpat sang hyung dengan kata-kata andalannya.

Yesung hanya tersenyum manis melihatnya, melihat perkembangan Ryeowook yang dulu hanya ia anggap anak kecil kini sudah berubah menjadi pria dewasa yang tidak hilang kadar keimutannya.

"Biarkan saja hyungmu itu bersenang-senang dengan namjachingunya." Tutur Yesung sambil menepuk-nepuk kepala Ryeowook.

Ryeowook menoleh ke arahnya, "Kyuhyun hyung sedang bersama Sungmin hyung?"

Yesung mengangguk, "katanya mereka ingin menghabiskan waktu bersama."

Wajah kesal Ryeowook berubah menjadi sebuah senyuman. Mungkin dia bisa merasakan bahagianya Kyuhyun saat bersama Sungmin. Matanya melirik lagi ke arah Yesung, "sudah merestui hubungan Kyuhyun hyung dengan Sungmin hyung?"

"Aku hanya memikirkan kebahagiaan Kyuhyun saat ini. Entah dia akan kembali menjadi dulu atau tetap bahagia, aku akan tetap menjaganya sebagai Hyung." Tutur Yesung, pandangan matanya seperti menari-nari menatap langit yang berubah menjadi oranye.

Ryeowook tidak membalas atau menanggapi ucapan Yesung. Dirinya ikut diam seperti menunggu apalagi yang akan diucapkan namja yang ada disebelahnya.

Sedikit demi sedikit orang-orang yang berlalu lalang berkurang. Langit pun mulai gelap dan lampu-lampu jalan mulai dinyalakan. Namun Ryeowook dan Yesung tetap duduk bersebelahan. Pikiran mereka melayang dengan berbagai imajinasi yang berbeda. Namun hanya satu yang mereka pikirkan,

Kyuhyun.


"Pantas saja mukamu itu tua! Lebih muda Yesung Hyung daripada kau!"

Sungmin membalikkan badannya, berjalan lebih dulu daripada Kyuhyun yang kesulitan mendorong trolly. Mereka berdua sedang berada di supermarket. Kebutuhan seharian Sungmin sudah mulai menipis, begitu juga dengan Kyuhyun. Untunglah tidak ada jadwal yang mendesak sehabis pulang kerja, jadi Kyuhyun bisa menjemput Sungmin untuk berbelanja.

Namun baru saja mereka masuk dan menuju tempat sayuran, pertengkaran kecil dimulai. Sungmin menaruh berbagai sayuran yang nanti akan dia masak untuk dirinya dan Kyuhyun, tapi namja yang pembenci sayuran itu kembali menaruh sayuran yang dimasukkan trolly oleh Sungmin ke tempat asal mulanya.

"Dari kecil aku memang tidak suka itu, Min!" Kyuhyun sedikit meninggikan suaranya. Tidak besar sekali volumenya karna akan mencari perhatian dari sekitar mereka.

"Belajarlah untuk suka, Kyu!" Sungmin membalikkan badannya lagi, menghadap Kyuhyun yang sedang menatapnya dengan tampang kesal. "Setidaknya belajarlah untuk menyukai apa yang kusuka."

Wajah Kyuhyun kembali melembut mendengar suara Sungmin yang juga lembut. Bibirnya tersenyum dan kini dia mulai berjalan mendekati Sungmin. Tangannya mulai terangkat untuk merapikan poni Sungmin yang mulai berantakan.

"Iya. Aku akan mencobanya." Ucap Kyuhyun sambil memajukan wajahnya, menepis semua jarak yang ada diantara keduanya.

Keduanya menyangka bahwa lorong tempat sayuran ini sepi. Tidak ada pengunjung yang kebetulan lewat atau bahkan cctv. Ya, mereka hanya bisa mengira-ngira.

Kenyataannya ada kilasan lampu blitz kasat mata yang merekam kejadian romantis mereka.


"Kalau kau datang kesini hanya untuk menyuruhku mentraktirmu, lebih baik kau pergi, Donghae-ssi."

Eunhyuk melemparkan deathglare pada Donghae yang baru saja membuka pintu ruang kerjanya. Namja bertubuh kurus itu memutar matanya malas saat Donghae tersenyum padanya.

"Ya! Kau tidak boleh begitu padaku!" tutur Donghae seraya duduk di sofa, "aku ingin berbagi cerita padamu."

Eunhyuk kembali menoleh ke Donghae, menatap pria itu dengan penuh penasaran, "cerita apa?"

"Kemarilah. Tidak enak bicara dari jarak jauh seperti ini." Ujar Donghae seraya menepuk-nepuk space kosong di sebelahnya. Bagai tersihir, Eunhyuk berdiri dari kursinya dan berjalan menuju Donghae. Duduk disebelah namja itu dan kembali bertanya, "apa yang ingin diceritakan?"

"Sungmin hyung sudah resmi menjadi kekasih dari Kyuhyun."

"MWO?!"

Donghae tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Terlihat senang saat melihat ekspresi tidak percaya yang dikeluarkan Eunhyuk.

"Bagaimana bisa? Mengapa kau tidak melarangnya?!" Eunhyuk membuang muka lagi, wajahnya masih menunjukkan bahwa dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Donghae.

"Ya~ aku hanya ingin mereka bahagia. Kalau dengan jalan yang penuh sejuta halangan itu mereka dapat bahagia, kenapa tidak?" tutur Donghae, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa merah yang empuk. Melirik Eunhyuk yang masih enggan menatapnya. "Mengapa kau kelihatan tidak suka sekali mendengarnya? Ada hubungan apa kau dengan Sungmin hyung atau Kyuhyun?"

"Ya! Tidak ada apa-apa! Bahkan aku tidak pernah bertemu langsung dengan mereka!" bentak Eunhyuk sambil memutar tubuhnya menghadap Donghae, "apa kau tidak pernah memikirkan akibat dari hubungan mereka?

Kini Donghae yang memutar matanya malas. Malas kembali mendengar ketakutan yang sama saja dibicarakan Eunhyuk maupun Yesung. "Buat apa? Mengapa kita harus memikirkan akibat?"

"Tentu saja perlu, Hae. Kau tidak ingin keduanya menderita kan? Mereka bisa saja bahagia sekarang, tapi nanti?" Eunhyuk memandang frustasi Donghae. Menghembuskan nafasnya karna menyerah meyakini Donghae yang menganggap semuanya akan berjalan lancar.

"Menderita? Karna apa? Status mereka yang terpandang di Negara bahkan dunia, hah? Omong kosong." Donghae berdiri dari duduknya, mata yang biasanya teduh kini memandang Eunhyuk dengan penuh amarah.

"Aku tidak tahu bagaimana kau dan kebanyakan orang diluar sana memandang cinta. Memandang cinta dengan status atau embel-embel lainnya. Tapi aku, aku adalah normal yang memandang cinta dengan bahagia atau tidaknya kau bersama pasanganmu." Donghae mulai membalikkan badannya, berjalan menuju pintu ruang kerja Eunhyuk. Namja gummy smile itu tidak berkutik, ucapan Donghae seperti ribuan pisau yang tepat menghujam jantungnya.

Tepat saat pintu terbuka, Donghae kembali membalikkan badannya dan menatap Eunhyuk,

"Pantas saja selama ini kau tidak dapat mewujudkan cintamu, Eunhyuk-ssi. Kau terlalu takut kehilangan semuanya demi mengejar cintamu."

Sekali lagi, Eunhyuk hanya bisa menahan semua perasaannya. Sampai akhirnya pintu itu tertutup, air mata barulah bisa jatuh perlahan dari matanya.


Sungmin tersenyum puas saat melihat hasil masakannya sudah siap saji di meja makan. Dia sedang berada di Apartment Kyuhyun, sama seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada kesepakatan bahwa Sungmin akan tinggal di Apartment Kyuhyun, namun semenjak mereka meresmikan hubungan mereka, semunya seperti berjalan apa adanya. Kini Apartment Sungmin hanya digunakan pemiliknya bila ada pakaian atau barang yang harus diambil. Untuk makan, tidur, bahkan mandi, Sungmin melakukan itu di Apartmetn Kyuhyun.

"Kyu, makan malam sudah siap!" teriak Sungmin agar Kyuhyun yang sedang berpakaian habis mandi segera keluar kamar.

Kyuhyun keluar dari kamar, sudah berpakaian piyama birunya, berjalan menuju Sungmin yang sibuk menata piring dan gelas. Jiwa jahilnya keluar, dengan cepat dia memeluk pinggang Sungmin dari belakang.

"Woah, kau hampir membuatku menjatuhkan piring ini, Kyu!" teriak Sungmin kaget karna mendapat pelukan surprise dari kekasihnya. Sedangkan Kyuhyun hanya terkekeh geli sambil meletakkan dagunya di bahu Sungmin.

Sungmin menghentikkan menata meja makan, karna ruang geraknya dibatasi oleh namja yang masih bahkan mengeratkan pelukannya. "Tuan Cho, apa kau tidak mau makan?"

"Nanti saja, aku masih ing-"

Drrrttt…. Drrrttt….

Sungmin melepas pelukan Kyuhyun secara paksa saat mendengar suara handphonenya di meja depan tv di ruang tengah. Sedikit berlari, takut bila yang menelfon keburu mematikan telefonya, Sungmin segera mengangkat telfon itu.

"Yeoboseyo." Ucap Sungmin pada orang diseberang sana yang belum sempat ia lihat id callernya. Bibirnya juga bergumam 'mianhae' kepada Kyuhyun yang sedang bersandar di tembok sambil memperhatikannya.

"Kau sedang dimana, Sungmin?"

Sungmin sedikit kaget karna mengetahui bahwa suara itu adalah suara Appanya. "aku berada dirumah teman, ada apa, Appa?"

"Apa rumah Presiden Direktur SparCorp? Cho Kyuhyun?"

Diam. Sungmin hanya bisa diam karna mendengar suara Appanya yang jauh dari kata menggoda atau marah.

"Mengapa diam? Benarkah aku? Berarti berita itu benar adanya?"

Berita? Sungmin segera menyalakan tv tanpa menyahut terlebih dahulu ucapan Tuan Lee. Kyuhyun yang melihat Sungmin seperti itu, segera menghampiri Sungmin.

Tv sudah menyala. Sungmin mengganti-ganti channel seperti mencari apa yang dibicarakan sang Appa.

Tepat saat tiga kali Sungmin mengganti channel, fotonya dengan Kyuhyun sedang terpampang jelas disana.

Presiden Direktur Cho Kyuhyun dari SparCorp terlihat mesra sambil menggandeng tangan Presiden Direktur Lee Sungmin dari Sendbill Corp yang baru beberapa bulan ini menjabat.

Kyuhyun maupun Sungmin terdiam. Bukan hanya foto-foto mereka yang sedang bergandengan tangan didepan supermarket. Foto Kyuhyun yang mendorong trolly dan Sungmin yang berjalan didepannya sambil memilih-milih barang juga ada, dan yang membuat mereka tidak dapat berkutik bahkan seluruh nafas mereka terasa berhenti saat ada foto mereka berdua sedang berciuman di lorong supermarket yang sepi.

"Min? Kau masih disana? Appa harap kau temui Appa secepatnya dan jelaskan semua ini. Sungguh memalukan."

Tut Tut Tut.

Tepat saat Tuan Lee menutup telfonnya secara pihak, saat itu juga handphone Sungmin terlepas dari genggamannya. Sungmin menatap Kyuhyun yang masih mengamati tv yang menampilkan berita miring tentang mereka.

"Kyu.."

Kyuhyun segera menoleh ke arah Sungmin yang kini sudah mulai menitikkan air mata. Ditariknya tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.

"Tenang, kau harus tenang, Lee Sungmin." Kyuhyun mengecup puncak kepala Sungmin sambil mengelus-elus punggung namja yang mulai mengeluarkan isakannya itu.

"Aku takut.. Aku sungguh takut, Kyu…"

Kyuhyun menutup matanya. Dia sendiri juga takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi di hubungan yang baru seumur jagung ini. Ucapan Donghae seperti berputar lagi di otaknya. Bagaimana bila orangtua Sungmin memisahkan mereka berdua? Bagaimana bila Sungmin harus diusir dari keluarganya? Bagaimana dan bagaimana?

Beruntung Sungmin sedang berada dipelukannya, namja berwajah stoic itu tidak perlu menutupi setetes dua tetes bahkan hampir tetesan air mata yang membasahi pipinya.

"Kita lalui ini bersama, Min. Kita harus tetap bersama. Aku berjanji."


TBC

maaf banget kalo chapter ini kurang ya...

aku lagi sakit tapi keingetan kalo ini belum selese:( dan lagi juga aku gak ngecek lagi ada typo atau enggak, mianhaeya:(