Pukul 13.20
Sebuah rumah makan cepat saji yang terletak dipinggir jalan terlihat sibuk. Setiap lima menit, rumah makan itu akan kedatangan pengunjung yang sebagian besar adalah karyawan. Wajar saya, lokasi tempat itu yang berdekatan dengan gedung-gedung perkantoran membuatnya menjadi tempat makan siang favorit para karyawan kantor setempat.
Seorang namja berpipi tembam terlihat sibuk mencatat pesanan pelanggan didepannya. Ia mengetuk-ngetuk kakinya. Sudah lima menit ia berdiri ditempatnya dan sang pelanggan belum juga menyebutkan pesanannya. Namja itu menghela napas panjang. Ia sudah terbiasa dengan tipe pelanggan seperti itu.
Kyungsoo masih bersabar menunggui pelanggan didepannya ketika seseorang menepuk pundaknya, membuat perhatiannya teralin.
"Kyungsoo."
Xiumin, salah satu pelayan di rumah makan itu memanggilnya.
"kau kemeje nomor 026 sekarang. Seseorang menunggumu."
Kyungsoo mengernyit. Siapa?
"aku tidak tahu. Cepatlah. Dia sudah cukup lama menunggumu. Biarkan aku yang menangani pelanggan didepanmu."
Kyungsoo mengangguk kecil, masih dengan wajah penasarannya.
Namja bermata bulat itu lalu berjalan meninggalkan Xiumin, setelah memberikan catatan kecil berserta pulpennya kepada temannya itu. Kyungsoo mengambil langkah besar-besar. Tidak lain agar ia cepat sampai dan menemukan orang yang cukup mengganggu kesibukannya hari ini.
Kyungsoo mempercepat langkahnya ketika melihat meja bertuliskan '026'. Ekor matanya menangkap siluet seseorang yang duduk membelakangi Kyungsoo. Langkah Kyungsoopun melambat. Sepertinya ia mengenali orang itu.
"Baekhyun hyung."
Namja itu mendongak, lalu tersenyum.
"maaf, membuatmu menunggu lama."
Namja itu menggeleng singkat, "aniya. Duduklah."
Kyungsoo mengangguk. Ia lalu menarik kursi didepan Baekhyun dan mendudukkan dirinya.
"ada apa, hyung?"
Baekhyun tersenyum tipis.
"apa kabar, Kyung?"
Bukannya menjawab, Baekhyun malah memberikan pertanyaan balik.
"baik. Bagaimana denganmu, hyung?"
Baekhyun kembali tersenyum. Kyungsoo hanya memandangi sahabat baiknya itu dengan tatapan penasaran. Baekhyun adalah orang ter-cerewet yang pernah Kyungsoo kenal selama hidupnya. Dan Baekhyun didepannya sangat berbeda dari Baekhyun yang ia kenal.
"tidak biasanya kau diam, hyung." Kyungsoo menelan ludahnya. Ia mencoba mencairkan suasana yang terasa beku. Dan semoga saja ia berhasil.
Baekhyun kembali tersenyum. Kyungsoo semakin mengernyit. Ada apa sebenarnya?
Kedua namja itu lalu terdiam untuk beberapa menit kedepan. Membiarkan mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kyungsoo-yah."
Suara lirih Baekhyun terdengar. Memecah kesunyian yang menyelimuti mereka.
"kau—"
Baekhyun menghela napasnya, yang tiba-tiba terasa berat.
"—bisa hamil, kan?"
Kyungsoo terdiam beberapa saat. Mengapa tiba-tiba hyungnya menanyakan hal itu. sudah lama mereka berteman dan hyungnya tidak pernah menanyakan hal-hal aneh seperti itu.
"n-ne. kenapa, hyung."
Baekhyun menggeleng, "ani. Kau beruntung."
Baekhyun tersenyum sendu. Hatinya terasa perih. Namun, juga lega disaat yang bersamaan.
"Dokter memvonisku tidak bisa hamil."
Mata Kyungsoo membulat. Perlahan-lahan, ia mulai mengerti alasan dibalik hilangnya keceriaan hyung-nya itu.
"dan kau tahu sendiri, Jongin adalah pewaris tunggal Kim Corp. Jika Jongin tidak memiliki keturunan, perusahaan itu tidak akan punya penerus."
Napas Kyungsoo tertahan. Ia tidak pernah menyangka, sahabatnya yang sangat ceria itu akan memiliki nasib semenyedihkan itu.
"sabarlah, hyung." ucap Kyungsoo seadanya. Baekhyun tersenyum.
"kyungsoo."
"ne?"
"kalau aku meminta bantuanmu, kau akan membantuku, kan? kita sahabat kan?"
"tentu saja, hyung! Aku akan selalu membantumu kapanpun kau membutuhkanmu."
Baekhyun menatap namja didepannya itu. Ia lalu menggigit bibirnya. Keraguan itu muncul, haruskah ia mengatakannya kepada Kyungsoo sekarang?
"aku butuh bantuanmu, Kyung."
"apa, hyung? katakan apa yang bisa aku bantu."
Baekhyun kembali menghela napasnya. Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, lalu membuka mulutnya, "berikan keturunan untuk Jongin."
"a-apa maks—a- aku tidak mengerti, hyung." Kyungsoo tergagap.
"tolonglah, Kyung. Menikahlah dengan Jongin. Aku yakin kau bisa memberi keturu—"
"tidak, hyung!"
Mata Kyungsoo membulat. Bibirnya bergetar. Perasaan dihatinya campur aduk. Kecewa, sedih, bingung, kaget, entahlah perasaan apa itu.
"tapi, Kyung—"
"kau ingin aku melukaimu, hah? Dengan menikahi suamimu? Begitu?"
"Kyung—"
"kau bisa saja mengadopsi anak jika kau mau, hyung. Itu bahkan lebih mudah—"
"Kyungsoo!"
Baekhyun berteriak. Tanpa sadar, ia telah memukul meja didepannya, membuat para pelanggan disekitar mereka menoleh.
"kumohon dengarkan aku dulu. kumohon."
Hati Kyungsoo luluh mendengar suara Baekhyun yang bergetar, seolah-olah dalah hitungan detik, namja itu akan segera meletus dan hancur berkeping-keping.
"seandainya aku bisa mengadopsi anak, aku akan melakukannya sejak dulu, Kyung."
Baekhyun berhenti sejenak. Ia menyeka buliran air mata yang entah sejak kapan, mengalir di pipi indahnya.
"ayah Jongin tidak ingin kami mengadopsi anak. Dia tidak ingin perusahaannya dipegang oleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan keluarganya."
Baekhyun kembali berhenti. Kali ini, ia terhenti karena isakannya yang semakin keras.
"kumohon, Kyung. Bantulah aku. Aku mempercayakan Jongin untukmu. Aku yakin kau bisa memberikan keturunan yang baik untuknya."
"tapi, hyung, aku tidak mengenal Jongin. Bagaimana mungkin aku menikah orang yang tidak aku kenal?"
"permisi."
Seorang pelayan datang, memotong percakapan mereka. Baekhyun segera mengalihkan wajahnya, menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya.
"ini pesanan anda."
Ia lalu meletakkan sekotak makanan yang entah berisi apa dan segelas jus jeruk yang telah dibungkus rapi di atas meja.
"terima kasih." ucap Baekhyun, masih dengan suara bergetar.
Pelayan itupun menunduk dan segera pergi, meninggalkan kedua namja yang masih bergelut dengan hati masing-masing.
"kau bilang kau tidak mengenal Jongin, kan?"
Baekhyun menatap Kyungsoo dan berusaha tersenyum. kyungsoo hanya mengangguk lemah.
"kalau begitu, bisa bantu aku mengantarkan makanan ini kekantor Jongin? Ia pasti belum makan siang."
Mata Kyungsoo kembali membulat, "kau jangan mengada-ada, hyung!"
"Kumohon."
Baekhyun menunduk. Menyembunyikan air matanya yang kembali jatuh.
"kumohon, Kyungsoo. kumohon. Aku akan sangat bahagia jika kau mau membantuku. Kumohon."
Kyungsoo emgnalihkan pandangannya. Ia lalu meringis kecil. Kemana garis takdir akan membawanya? Kenapa hal semacam ini bisa terjadi dalam hidupnya?
Kyungsoo menghabiskan beberapa menit diam dan menggigit bibirnya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan. Keputusan apa yang harus ia ambil.
Baekhyun juga masih terdiam. Isakannya sudah mereka. Namun, sesekali air mata masih jatuh dari mata kecil nan indah miliknya.
"hyung."
Baekhyun mendongak. Ia sedikit bingung menemukan Kyungsoo yang sudah berdiri dari tempatnya.
"berikan alamat kantor Jongin kepadaku."
Jongin menundukkan badannya kepada para peserta rapat yang satu per satu mulai meninggalkan ruang rapat. Mulutkan sesekali menggumamkan ucapan terima kasih kepada tamu-tamunya itu. Rapat hari ini berjalan lancar. Dan juga melelahkan.
Setelah memastikan tidak ada orang lagi didalam ruangan selain dirinya, Jongin lalu bergegas membereskan barangnya. Sekarang sudah jam makan siang. Dan rapat tadi menghabiskan cukup banyak energinya.
Ia lalu berjalan meninggalkan ruang rapat, menuju ruang kantornya. Bibirnya membentuk seulas senyum. Baekhyun berjanji akan membawakannya bekal makan siang hari ini. Jongin lalu mempercepat langkahnya. Bagaimana jika ternyata istrinya sudah ada diruangannya, duduk rapi diatas sofa, dengan sekotak bekal ditangannya?
Sampai didepan ruangannya, seorang sekertaris menyambutnya.
"Tuan Kim, seseorang sudah menunggu anda didalam."
Jongin hanya mengangguk kecil. Hati berdebar-debar, tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang paling dicintainya itu.
"baekhyun hyung!"
Jongin berteriak seraya membuka pintu. Ia lalu memutar badannya dan seketika membeku. Senyumnya memudar. Ia lalu menatap seorang namja yang berdiri didepan sofa. Namja itu memegang kantong plastik yang berisi sekotak makanan cepat saji dan segelas minuman.
"siapa kau?"
Nada suara Jongin yang tadinya hangat, berubah menjadi dingin detik itu juga.
"a-ah. Kau Kim Jongin, kan?"
Suara Kyungsoo bergetar. Entah mengapa, ia merasa kecil didepan namja didepannya. Namja itupun tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
"a-ah, ini. Baekhyun hyung menyuruhku mengant—"
"namamu Kyungsoo?"
Jongin memotong ucapan Kyungsoo, membuat mata bulat namja itu semakin membulat.
"k-kau tahu namaku?"
Kyungsoo tergagap. Namja ini mengenalnya? Apakah Baekhyun sudah menceritakan dirinya kepada namja itu?
"sudah kuduga." Jongin mengeringai.
"dia menemuimu barusan?"
Kyungsoo mengangguk cepat. Suaranya tertahan dipangkal tenggorokan, yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"letakkan saja kotak itu diatas meja dan pergi dari ruanganku."
Kyungsoo seketika membeku. Jantungnya terasa seperti ditikam oleh perkataan Jongin barusan.
"n-ne. k-kalau begitu, aku pergi dulu. an-annyeong, Jongin-sshi."
Kyungsoo bergegas meninggalkan ruangan itu. ia berjalan melewati Jongin, yang masih berdiri didepan pintu. Kyungsoo memegang knop pintu. Ia baru saja akan memutarnya, ketika sebuah suara menghentikan gerakan tangannya.
"kau—"
Kyungsoo menahan napas. Suara itu terdengar sangat dingin, seakan bisa membekukan Kyungsoo dan seluruh isi ruangan saat itu juga.
"kau menerima tawaran Baekhyun?"
Kyungsoo terdiam. Ia mengerti maksud dari arti kata 'tawaran' itu sendiri. Ia sangat mengerti.
"apa yang ia tawarkan padamu?"
Belum sempat Kyungsoo menjawab, Jongin kembali mengajukan pertanyaan.
"apakah ia menawarkanmu sejumlah uang?"
Kyungsoo memutar badannya. apa dia bilang? Uang?
"atau rumah? Mobil? Atau bahkan emas?"
Kyungsoo menatap tidak percaya namja didepannya. Ia baru tahu kalau ternyata dimuka bumi ini terdapat orang-orang yang sama sekali tidak bisa menjaga ucapannya.
"Aku memang menerima tawaran istrimu. Tapi bukan karena harta atau apapun. Aku bersedia menerimanya karena ia sahabat baikku."
"tidak mungkin. Pasti ia menawarkan sejumlah uang. Sebutkan saja jumlah yang kau mau. Akan kubayar kau berapapun, asal kau menolak tawaran Baek—"
PLAK!
Air mata jatuh dari mata indah Kyungsoo seiring dengan ayunan tangannya yang menghantam pipi Jongin. Dada namja itu kembang kempis karena emosi. Tidak pernah dalam hidup Do Kyungsoo seseorang memandangnya sehina itu.
"maafkan aku, Jongin-sshi. Tapi, aku tidak sehina yang kau pikirkan. Walaupun hidupku pas-pasan, tapi aku tidak akan menghalalkan segala cara agar bisa bertahan hidup. Aku masih punya otak untuk berpikir, Tuan Jongin."
Kyungsoo menatap penuh emosi namja didepannya. Jujur dari hati yang terdalam, ia sangat ingin membunuh suami sahabatnya itu.
Kyungsoo pun menghapus air matanya kasar, lalu berbalik. Pintu sudah terbuka, dan Kyungsoo sudah akan keluar dari ruangannya itu. Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"dan satu lagi, Jongin-sshi. Selain masih punya otak, aku juga masih punya hati. Tidak sepertimu."
Kyungsoo menyelesaikan ucapannya dalam satu helaan napas. Ia juga tidak menoleh se-sentipun kearah Jongin. Ia lalu melangkahkan kakinya menjauhi ruangan yang lebih mirip neraka baginya itu. Meninggalkan seorang Kim Jongin yang masih meringis kesakitan dengan seringaian kecil dibibirnya.
"namja kecil itu ternyata punya nyali yang jauh lebih besar dari badannya."
TBC
Author's note:
Aloha! Saya kembali lagi dengan fanfic abal bin gagal milik saya. Akhir-akhir ini saya lagi sibuk sama tugas + bimbel dan juga midterm, which is just finished just today huhuhu btw maafkan saya kalo chapter ini + chapter yang kemarin2 mengecewakan. Maafkan saya atas segala kekurangan ff ini. dan juga makasih banyak buat kalian2 yang udah setia baca dan review. Tons of love I give to you guys.
Dan last but not least, jangan lupa review nya ya.
((dan juga doain saya yah biar nilai midterm saya bagus hehehe see you in next chapter))
