-Naega Animyeon.-
By : cronos01
Cast & Pair :Hunhan/Kristao/Kaisoo/Chanbaek dan beberapa unofficial pair
Pendamping : BIGBANG, beberapa member Super Juniorserta tambahan pemain lainnya seiring kebutuhan.
Genre : Romance, Friendship, Angst
Rate T
Warning : Semua orang tua diganti berdasarkan marga member EXO. NO BASH! YAOI! TYPO(s)
ATTENTION : Ada sedikit ralat, Sehun mengalami kecelakaan 2 tahun yang lalu.
So, Enjoy it!
Chapter 3
Previously…
"kau ingin gege mengobati luka yang diberikannya kemarin?" tanya Kris.
Mengerti dengan maksud Kris, Tao mengangguk dan membawa Kris keatas tempat tidurnya. Kris mulai mengecup Tao dengan sangat lembut hingga tanpa mereka sadari sepertinya pagi hari ini mereka habiskan dengan kegiatan mereka diatas ranjang.
.
.
.
.
Next…
Flashback.
Sebuah televisi saat ini tengah menayangkan acara berita-berita para artis papan atas, secara tidak sengaja Siwon memilih channel televisi tersebut karena sebuah berita mengejutkan didapatkannya. Acara tersebut meliput Kyuhyun yang dimintai pendapat mengenai pernikahannya yang kedua. Tangan Siwon yang menggenggam remote tampak terlihat sedkit bergetar. Rasa benci dan cemburu menguasainya.
Tanpa Siwon sadari, Sehun yang berada dibelakangnya menatap televisi itu dengan nanar. Tas ransel yang dipunggungnya tadi terjatuh begitu saja membuat Siwon kaget dengan suara tersebut, Sehun langsung pergi meninggalkan tasnya dan berlari keluar dari rumah.
"Sehun!" teriak Siwon tapi Sehun tetap pergi.
Jalan raya Seoul yang sangat lenggang membuat Sehun semakin menaikan tingkat kecepatan mobil yang dikendarainya seakan, segala rasa kesalnya bisa terluapkan dengan menginjak pedal gasnya dengan penuh. Digenggamnya erat setir hingga buku-buku jarinya memutih, air mata keluar dengan perlahan tidak deras hanya berbutir-butir karena sang empu yang berusaha untuk menahannya. Dirasa ia masih belum puas meluapkan segalanya, Sehun berteriak, ia berteriak sekencang mungkin hingga tiba-tiba tanpa disadarinya saat ia melewati merempat jalan Seoul sebuah truk besar melintas menghantam mobilnya. Sehun sadar, ia menyadari semua kejadian yang terjadi, saat mobilnya terbalik beberapa kali dan saat seperti ini, saat ia tidak bisa bernafas dengan normal, saat dirasakannya hanya sakit disekujur tubuhnya.
Satu hal yang bisa menyelamatkannya, sebuah sabuk pengaman masih melindung tubuh Sehun walau masih bisa dipastikan tubuh Sehun past berbenturan dengan setir mobilnya. Hingga tidak ada lagi yang bisa Sehun lakukan, semuanya gelap.
End of Flashback
.
.
.
.
Siwon turun dari lantai dua rumahnya, saat ia melirik ke kaca, ia melihat Sehun masuk kedalam mobil sport yang sudah lama Sehun simpan di garasi mereka. Kedua alis Siwon bertaut, ia langsung bergegas turun kebawah dan mencari pelayan Shim. Akhirnya seseorang yang dicarinya ia temukan di taman belakang rumahnya.
"Ajusshi."
Pelayan Shim yang sedang menyiram tanaman langsung berbalik badan menghadap sang majikan."Nde, tuan. Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertanya, sejak kapan Sehun mulai bawa mobil kembali?" tanya Siwon.
Pelayan Shim tersenyum karena sepertinya Siwon sudah mulai menghawatirkan Sehun."Sejak 2 hari yang lalu, Tuan. Saat Sehun keluar malam hari."
"Jinjja? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" tanya Siwon lagi.
"hm, itu soal itu…soalnya tuan sibuk dengan yeo—"
"Ah, benar. Terima kasih, Ajusshi."
Mengerti dengan jawaban pelayan Shim, Siwon langsung memotongnya dan berlalu.
.
.
.
.
Sehun masuk kedalam sekolah dengan langkah gontai tepat saat ia ingin menaiki tangga menuju lantai dua, Kai menghadangnya. Sehun menatap Kai dengan tajam sementara Kai tetap tenang menatap Sehun.
"Jauhi Luhan hyung." tukas Kai.
Sehun tertawa, "Cih, wae? Kenapa aku harus menjauhinya?" tanyanya.
Kai pun tak mau kalah menertawakan Sehun, "Kau bahkan tak menyukainya. Kalian bukan anak kecil lagi dan Luhan hyung sudah berbeda." Bisik Kai.
Tangan Sehun yang berada didalam kantong celana kini sudah terkepal.
"Jadi urus saja yeoja mu itu. Jangan lukai Luhan hyung." lanjut Kai.
Sehun masih membeku ditempatnya sampai Kai beranjak dari hdapannya, matanya menatap Kai benci.
"Orang itu apakah kurang mengambil semua orang disekitarku." Ujar Sehun dalam hati.
.
.
.
.
Kris makan satu meja bersama Chanyeol, Baekhyun, Kai dan Luhan. Ditengah kenikmatan mereka menyantap makan siang, Kai membuka pembicaraan.
"Kris hyung, bagaimana keadaan Tao?" tanyanya.
"Dia sudah lebih tenang, Kai tapi, aku masih belum membolehkanya masuk dahulu." Jawab Kris.
Luhan tersenyum, "Bagaimana Tao tidak cepat pulih, Kris langsung menghapus luka yang Seunghyun lakukan dengan menajalani terapi di pagi hari." Tukas Luhan.
"Yak, Luhan hyung. Bagaimana mun—"
"Kris bagaimana mungkin aku yang lebih tua darimu tidak mengetahui sifatmu." Potong Luhan.
Sementara dilain sisi, Baekhyun tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan.
"Apa yang kalian bicarakan? Apa yang terjadi dengan Tao?" tanya Baekhyun polos.
Kai terheran, "Eoh? Chanyeol hyung tidak memberi tau mu?" tanyanya.
Baekhyun langsung menatap Chanyeol tajam.
"YAK, PARK CHANYEOL! APA YANG KAU SEMBUNYIKAN DARIKU?!" kembali Baekhyun berteriak dengan suara cemprengnya hingga orang-orang yang duduk makan disekitar mereka pun langsung berbalik menatap mereka.
Chanyeol menundukan kepalanya ke orang-orang sekelilingnya untuk meminta maaf atas keributan yang Baekhyun lakukan.
"Jawab aku!" kembali Baekhyun membentak sambil menarik rambut Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dengan aneh dan melepaskan dengan lembut tangan sang kekasih yang menjambak rambutnya.
"Yak, Park Baekhyun. Kecantikanmu itu kan luntur kalau kau berteriak dan melotot seperti ini. Aku hanya tidak ingin kau khawatir, Tao kembali berurusan dengan Seunghyun." Jawab Chanyeol lembut.
"Choi Seunghyun?!" kembali lagi Baekhyun berteriak karena kesal.
Chanyeol langsung menyambar bibir Baekhyun yang habis berteriak, ia mengecup sedikit.
"Kalau kau berteriak lagi, nona Park. Kau akan mendapatkan yang lebih dari itu." Ucap Chanyeol.
Sementara Baekhyun, ia masih menutup mulutnya dengan tangannya dan matanya terbelalak. Semua yang ada dimeja makan itu langsung tertawa.
.
.
.
.
Sehun kembali pulang sekolah sangat larut, seharusnya ia sudah sampai dua jam yang lalu namun, ia baru sampai kerumah tepat pukul 8 malam. Sehun meluangkan waktunya di arena balap beberapa jam, hanya ingin bersenang-senag sembari mengesah keahliannya. Ketika Sehun ingin berjalan menaiki tangga, suara sang ayah menghentikan langkahnya.
"Oh Sehun!" teriak Siwon.
Sehun berbalik dengan wajah yang dingin."Wae geurae, abeoji?"
"Apa yang kau lakukan diluar sana? Hingga malam begini!" tanya Siwon.
Sehun tersenyum mengejek, "menghabiskan waktu di arena balap. Waeyo?" tanyanya tenang.
Siwon berusaha meredakan amarahnya. "jadi kau membawa mobil untuk berbalapan liar?! Seorang anak pengusaha tidak menghabiskan waktunya dengan hal bodoh seperti itu!" teriak Siwon.
Sebuah kata-kata yang sangat membuat Sehun tersinggung. "Geuraeso? Lalu apa yang harus dilakukan anak pengusaha?"
"Ah, matchi. Apa ia juga harus seperti ayahnya. Bermain wanita?" lanjut Sehun dan sukses membuat Siwon sangat marah saat ini. Tamparan yang beberapa saat lalu ditahan oleh pelayan Shim kini tersampaikan juga. Siwon menampar Sehun.
"Itukah hal yang pantas dikatakan kepada ayahmu?!" teriak Siwon.
Pelayan Shim mendengar keributan dari lantai atas, ia pun langsung bergegas turun dan saat melihat Sehun ditampar oleh sang ayah, pelayan Shim hendak ingin mendekat namun, langkahnya ia tahan saat mendengar Sehun berbicara.
"abeoji, kenapa tidak dari dulu saja kau hajar aku seperti ini?" ucap Sehun sambil tertawa sinis.
"Bukankah ini yang kau mau?! Bukankah dengan MENYINGKIRKAN ANAK INI DARI HIDUPMU AKAN MEMBUATMU NYAMAN?! KENAPA KAU BIARKAN DIA HIDUP?!" lanjut Sehun dengan berteriak.
Siwon hanya bisa menatap Sehun, tubuhnya kaku, tubuhnya tidak bisa merespon apapun. Perkataan anaknya membuatnya sungguh merasa malu.
Sehun dengan wajah yang mulai memucat dan dengan nafas yang tersendat sendat kembali melanjutkan perkataannya, "Aku tau sekarang kenapa eomma pergi karena ia tidak tahan hidup bersama dengan mu, abeoji." Sebuah kata terakhir yang kembali membuat Siwon tercekat.
Sedangkan Sehun ia langsung pergi setelah puas meluapkan setidaknya sedikit kata-kata yang ingin ia ucapkan dari beberapa hari yang lalu, ia pergi dengan langkah yang mulai lunglai. Sehun menaiki tangga dengan mencoba menompangkan tubuhnya ke pinggiran tangga, saat dipertengahan tangga pelayan Shim langsung membantunya berjalan. Raut wajah Sehun kembali merasa kesakitan, keringat dingin mengucur di wajahnya tapi sebisa mungkin Sehun menunjukan dirinya baik-baik saja kepada pelayan Shim. Saat pelayan Shim hendak membawanya masuk kedalam kamar, Sehun melepas tangan pelayan Shim yang berada dilengannya dengan lembut.
"Ajusshi, tinggalkan aku sebentar. Sebentar saja." Ujar Sehun dengan sangat lirih dan menyunggingkan senyum kecil.
Pelayan Shim mengangguk. Saat Sehun sudah masuk, pelayan Shim masih tetap berada di depan kamar Sehun, ia msih tidak tenang karena ia sangat tau kondisi Sehun. Sementara Sehun sendiri, setelah sampai didalam kamarnya tubuhnya merosot dan bersandar pada pintu. Ia mencengkram dadanya yang terasa sakit dan sesak, masih dengan nafas yang tersengal, disela rasa sakitnya ia menangis. Mengingat dirinya yang sangat menjaga nama baik sang ayah namun, sebaliknya sang ayah selalu berpikir ingin menyingkirkan dia dari kehidupannya sang ayah.
.
.
.
.
Kai secara tidak sengaja melintas didepan rumah Tao, ya walau memang sebenarnya agar dia bisa sekalian melihat Luhan dari jendela kamar Luhan yang menghadap ke arah jalan. Saat Kai berdiri didepan rumah Tao tepat di beberapa meter setelah rumah Tao sebuah mobil sport terparkir disana. Kai mencoba melihat lebih detail dan ternyata pemilik mobil itu Sehun.
"Yak, si brengsek itu. Apa yang dia lakukan, sambil menatap jendela Luhan hyung pula." Gerutu Kai.
Ya, setelah insiden tadi dirumahnya, Sehun masuk kedalam kamarnya, sketika ia langsung mengingat obat yang kemarin diberikan Jung uisa kepadanya. Sehun pun langsung mencari obat tersebut dan meminumnya tanpa air putih. Tak lama obat itu bereaksi, sesak di dadanya menghilang, walau rasa sakit itu masih sedikit ia rasakan. Sehun memutuskan untuk mencari udara segar, entah karena apa gerangan mobilnya ia parkiran beberapa meter dari rumah Luhan dan menatap jendela kamar Luhan dengan nanar.
Kai kembali mencoba melihat dengan jelas mobil Sehun. "Eoh? Ada apa dengannya, kenapa wajahnya pucat sekali." Seru Kai.
Setelah sadar Kai langsung menggelengkan kepalanya berulang-ulang. "Aish! Apa yang kau pikirkan, Kim Jongin! Kenapa kau jadi khawatir deng—"
Buk!
Tiba-tiba seseorang menabrak Kai dari belakang. Seorang namja dengan wajah yang polos dan mata yang lebar.
"Jwoseonghamida, Jwoseonghamida." Namja itu berulang kali membungkuk dan meminta maaf.
Kai yang ada didepannya hanya mengedipkan mata berulang kali dan sesekali tertawa.
"Ha..ha..ha, yak, kenapa kau membungkuk berulang kali?" tanya Kai.
Namja tersebut pun akhirnya berhenti dan memandang polos Kai.
"Maaf, karena saya tid—"
"Yak! Jangan berbicara senormal dan sebaku itu. Santai saja. Aku pun tidak terluka karena tertabrak olehmu." Potong Kai lalu menepuk lembut bahu namja itu.
Sedangkan namja itu kembali membuka mata dengan lebar menerima perlakuan Kai namun, tiba-tiba suara Luhan mengagetkan mereka berdua.
"Yak, Kyungsoo-ya!" panggil Luhan dan menghampiri Kyungsoo.
Kedua alis Luhan bertaut,"Omo, Kai. Apa yang kau lakukan disini? Kau kenal dengan Kyungsoo?" tanya Luhan.
Kai menatap Luhan heran, "Ani, dia tadi tidak sengaja menabrak ku. Hyung, mengenalnya?" jawab Kai.
Luhan mengangguk mantap, "Tentu, Kyungsoo memang ingin bertemu denganku." Ujarnya.
Kai mengangguk.
Kyungsoo pun membuka suara, "hm,, mianhae. Kai-ssi, tadi aku terlalu sibuk mencari alamat Luhan hyung sehingga aku tidak memperhatikan jalan." Ucapnya hati-hati.
Luhan tertawa, "Hahaha, Kyungsoo, kenapa kau begitu kaku dengan Kai. Santai saja dengan dia, dia bahkan lebih muda " tukas Luhan.
Luhan pun memperkenalkan Kai kepada Kyungsoo, "Kyungsoo, ini Kim Jongin, ia biasa dipanggil Kai. Seperti Kau memanggilnya tadi."
Kyungsoo membungkuk dan balik memperkenalkan dirinya. "Do Kyungsoo imnida." Ucapnya.
Kai pun membungkuk dan tersenyum.
Luhan menggosok-gosok lengannya karena cuaca mulai terasa dingin, "Ah, dingin sekali disini. Kita masuk saja kedalam, Kai kau boleh ikut masuk juga." Lanjut Luhan.
"Eoh, nde hyung." Jawab Kai.
Mereka pun masuk kedalam rumah Tao. Luhan mempersilahkan Kyungsoo untuk duduk dan sang pemilik rumah pun akhirnya turun.
"Luhan hyung, ini namja yang namanya Kyungsoo itu?" tanya Tao.
Luhan mengangguk.
"Wah, dia tampak manis dengan matanya yang besar itu. Perkenalkan, naneun Huang Zi Tao. Panggil saja aku Tao." Ucap Tao.
Kyungsoo tersenyum, "Nde. Do Kyungsoo imnida." Jawabnya.
"Haha, santai saja. Ayo duduk dulu, Luhan hyung sedang membuat minum dibelakang, gidaryeo ne." ucap Tao lembut.
Kyungsoo mengangguk.
Sementara menunggu Kyungsoo menatap sekeliling ruang tamu itu. Terdapat foto keluarga Tao dan foto Luhan disana selintas Kyungsoo berpikir mereka berdua saudara tapi memngingat marga Luhan dan Tao berbeda sudah dipastikan mereka bukan keluarga. Tiba-tiba sebuah percakapan Tao dan Kai yang berada di pembatasan ruangan tersebut mengalihkan perhatiannya.
"Yak, Kai. Kau tau tidak, Kyungsoo itu suaranya sangat merdu. Itu sebabnya ia bertemu dengan Luhan hyung." Jelas Tao.
Kai semakin bingung, "Lalu apa hubungannya dengan Luhan hyung?"
"Kyungsoo mau bernyanyi di café Baekhyun hyung. Berduet dengan Luhan hyung." Jawab Tao
"Jinjja? Sehebat itukah dia?" tanya Kai.
Selama Kai dan Tao bercakapan, Kyungsoo mengintip dari dinding yang membatasi, Sebuah senyuman terukir diwajah Kyungsoo, matanya entah kenapa selalu ingin menatap Kai.
"Kim Jongin?" lirih Kyungsoo sambil tersenyum.
.
.
.
.
Sehun pov.
Aku terus menatapi jendela kamar itu. Luhan hyung, sedang apa dia sekarang? Ah, ada banyak hal sebenarnya yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau pergi saat aku justru dulu membutuhkan sebuah sandaran? Tiba-tiba kau datang begitu saja dan memberikan senyuman yang memiliki artian 'Aku kembali' tapi entah mengapa aku justru merasa kesal melihatmu memberikan senyuman itu.
Bukan kesal tapi aku cemburu, ya tepat sebelum kau pergi justru Kai lah yang bisa mengantarkanmu pergi dan sekarang juga hanya Kai lah yang bisa menyambutmu. Hyung, mungkin hanya dengan menatap dari jauh seperti ini, aku tidak akan melukaimu walau, pada kenyatannya aku tau kau terlukai dengan sikap tak acuh ku. Mianhae, hyung. Lebih baik seperti ini, biar kita lihat saja, siapa yang yang akan bertahan hingga akhir.
.
.
.
.
Hari mulai berganti, seluruh orang kembali sibuk dengan rutinitas harian mereka, tidak terkecuali Sehun. Saat ini Sehun tengah duduk di meja makan keluarga, hidangan tersedia begitu banyak dan lengkap tapi tidak ada satu pun yang Sehun nikmati. Tangannya hanya memegang sumpit dan memainkan sedikit nasi putihnya.
Sehun terlihat tidak sehat hari ini, wajahnya pucat dan terlihat jelas kantung mata yang menghitam. Pelayan Shim hanya mengamati Sehun dari dapur, merasa benar-benar tidak napsu makan, Sehun akhirnya bangkit dari kursinya dan menyambar tas ranselnya.
Pelayan Shim langsung menghampiri Sehun. "Sehun, apa kau ingin ajusshi antarkan saja? Kau tampak tidak sehat hari ini." Ucapnya.
Sehun tersenyum dan menggeleng, "Shireo, ajusshi. Nan gwaenchana. Aku pergi." Jawab Sehun dan langsung pergi menuju pintu keluar rumahnya.
Pelayan Shim mengikuti Sehun dari belakang, ia menunggu sampai mobil Sehun keluar dari perkarangan rumah. Pelayan Shim menghela napas dan kembali mengerjakan tugasnya.
.
.
.
.
Luhan, Tao dan Kris turun dari mobil sport milik Kris, mereka pun berjalan beriringan menuju pintu masuk sekolah namun, saat mereka sudah ingin masuk, mereka melihat Kyungsoo juga masuk kedalam sekolah dan lagi menggunakan seragam sekolah mereka.
"Luhan hyung, lihat itu, namja yang masuk kedalam sekolah, bukankah itu Kyungsoo?" ujar Tao sambil menunjuk Kyungsoo.
"Ah, benar, Tao. Dia bersekolah disini juga?" tanya Luhan.
"Mungkin hyung, ia murid pindahan kan dan juga dia menggunakan seragam yang sama dengan kita" Jawab Tao.
Sementara Kris bingung dan mulai angkat bicara, "Baby, Kyungsoo itu siapa?" tanyanya.
"Kyungsoo itu namja yang ku ceritakan, ge. Namja yang akan bernyanyi bersama dengan Luhan hyung di café baekhyun hyung." Jawab Tao.
"Oh dia.." jawab Kris.
"Kyungsoo-ya!" teriak Luhan.
"Eoh, Luhan?" heran Kyungsoo.
"Kyungsoo, kau sekolah disini?" tanya Luhan antusias.
Kyungsoo mengangguk, Tao pun mengenalkan Kris pada Tao.
"Ah, Kyungsoo. Kenalkan ini Kris gege." Kata Tao.
Kris pun menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Kyungsoo menyambut jabatan tangan itu sambil berbungkuk.
Tiba-tiba dari kejauhan suara cempreng Baekhyun terdengar.
"KYUNGSOO-YAA!" teriak Baekhyun lalu memeluk Kyungsoo.
"Baekhyun, ini sesak, tolong lepaskan." Kata Kyungsoo.
"Mianhae.." kata Baekhyun lalu memainkan poni Kyungsoo.
Tak lama Chanyeol pun datang. Baekhyun langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
"Wae geurae, bakkie? Kenapa k—"
"Hm, supaya bibir ku tidak dicium olehmu!" tukas Baekhyun.
Chanyeol tersenyum dan membawa Baekhyun kedalam pelukannya serta berbisik, "Aku bisa melakukannya nanti malam."
Kris yang mendengar perkataan Baekhyun langsung angkat bicara, "Yak, Chanyeol! Kalian bahkan menjaga café kalau malam."
Tatapan menantang dari Chanyeol pun bangkit dan makin menatap Baekhyun intim. "Kita bahkan bisa melakukannya di ruang kerja ku kan, Baekkie?" tanya Chanyeol
Dan kembali Baekhyun berteriak, "ANDWEEEEEEEEEEEH!"
.
.
.
.
Hari ini sekolah pulang jauh lebih cepat, saat sekolah pulang lebih cepat Luhan selalu menyempatkan dirinya untuk pulang ke Beijing. Mendatangi makam sang kaka dan sang eomma. Sebenarnya untuk melangkahkan kembali kakinya ke Beijing ada keputusan yang berat, seluruh kenangannya terjalin di kota tersebut. Luhan masuk kedalam sebuah ruangan yang disana terdapat foto kedua keluarganya.
Pertama Luhan mendatangi makam sang eomma, menaruh bunga lily putih di guci kecil yang disana sudah ada sebuah bunga lily putih juga, sepertinya bunga lily itu baru saja diletakan. Perlahan Luhan memejamkan mata dan berdoa, setelah selesai berdoa, Luhan beralih ke makam sang kakak, disana juga sudah ada bunga lily putih, Luhan mengambil bunga tersebut dan ternyata sebuah surat yang dilipat dua tergantung dengan tali putih.
"Gege, kau pasti sudah bahagia kan disana? Bisa melihatnya dari atas sana. Maafkan aku, ge. Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukainya. Aku justru ingin meninggalkannya, ge. Tapi mengingat seseorang yang juga menjadi sahabatku pun menyukainya, aku akan kembali berjuang. Xie xie, Zhoumi Ge. –SN-"
"Siapa pengirimnya? Dia seperti sudah akrab sekali dengan, gege." Kata Luhan lirih.
Luhan kembali meletakan kembali bunga tersebut kedalam guci. Luhan menutup matanya dan mulai berdoa. Kedua mata Luhan kembali terbuka, Luhan tersenyum dan menatap foto sang kakak lalu ia pergi. Luhan keluar dari tempat pemakaman dengan wajah yang berseri, rasa rindu yang ia tahan untuk sang eomma dan kakak akhirnya terbayarkan.
Setelah selesai dari makam Luhan berjalan menuju taman kota Beijing. Taman ini merupakan taman yang dulu Luhan dan Sehun kunjungi berdua sewaktu mereka kecil.
Flashback
Saat itu keluarga Sehun sedang berlibur ke Beijing. Siwon yang saat itu harus mengunjugi clientnya selama satu bulan di Beijing terpaksa harus membawa Kyuhyun sang istri dan Sehun sang anak. Tepat sekali mereka akan pergi ke Beijing, Luhan dan sang eomma pun ingin pergi ke Beijing untuk mengenguk Zhoumi yang emang berkuliah di Beijing.
Satu hari berlalu. Pada saat malam hari, Sehun terserang demam, gejalanya memang sudah terlihat sejak mereka dalam perjalanann menuju Beijing, Sehun hanya diam dan melihat dari dalam pesawat awan-awan yang dihadang oleh pesawat yang ia naiki.
Malamnya Kyuhyun dan Siwon merawat Sehun namun, pada saat pagi hari Sehun akhirnya harus diurus oleh pelayan Shim karena Siwon dan Kyuhyun harus mengurus pekerjaan mereka masing-masing. Karena merasa bosan, Sehun memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan berjalan-jalan-jalan. Tepat saat Sehun ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke taman kota Beijing, ia bertemu dengan Luhan yang juga sedang berada ditaman, kedua mata Luhan terbelalak melihat Sehun.
"Sehun, jangan lari-lari…" ujar Luhan sambil masih terus mengejar Sehun.
"Yak, hyung. Berhenti mengejarku!" teriak Sehun masih terus berlari.
Luhan mempercepat larinya dan akhirnya dia bisa menangkap Sehun namun, saat Luhan sudah menarik baju Sehun, Sehun berusaha menghindar sehingga ia terjatuh.
"Akh!" rintih Sehun.
Luhan pun langsung berlari menghampiri Sehun dan berjongkok melihat kondisi kaki Sehun.
"Ini karenamu hyung! Sudah kubilang tidak usah mengejarku, aku hanya ingin sendiri." Marah Sehun.
Luhan menatap Sehun dengan rasa bersalah. "Sehun, mianhae, hyung hanya tidak ingin kau keluar dulu dari dalam rumah untuk sementara waktu kau kan habis sakit." Kata Luhan lembut.
Sehun melipat kedua tangannya didada dan memalingkan wajahnya dari Luhan. "Bagaimana bisa hyung tau aku habis sakit? Tapi aku sudah baik-baik saja." Kata Sehun.
Luhan tersenyum dan mengusap lembut surai Sehun, "Sehunnie, dengarkan hyung ne. Apapun tentang dirimu, apapun yang sedang terjadi padamu, hyung mengetahuinya." Jawab Luhan.
Sehun kembali menatap Luhan dengan tidak suka. "Aigoo, kau ini sudah kelas tiga sekolah dasar masih saja suka mengambek seperti ini." Ucap Luhan sambil mencubit pipi pucat Sehun.
"Yak, hyung! Appo!" marah Sehun dan memukul tangan Luhan.
Luhan tertawa dan mengusap pipi Sehun yang dicubitnya tadi.
End of Flashback
Luhan duduk di kursi taman. Ia tersenyum melihat anak-anak kecil tengah berlari-lari sambil bermain-bermain. Tiba-tiba seorang namja duduk disampingnya. Luhan langsung melihat namja tersebut, betapa kagetnya dia orang yang ada disampingnya Sehun. Sehun yang dari tadi merasa diperhatikan langsung menatap Luhan dingin.
"Wae?" tanya Sehun singkat.
Luhan tersenyum, "Sedang apa kau di Beijing?" tanyanya.
"Berkunjung." Jawan Sehun kembali singkat.
"Kai, eoddiga?" tanya Sehun.
Luhan menatap Sehun dengan kening yang bertaut, "Kenapa bertanya padaku, mollaseo." Jawabnya.
Sehun tertawa remeh, "Namja itu bhkan selalu mengikutimu kemana pun. Penguntit." Celah Sehun.
Kembali Luhan memberikan tatapan aneh pada Sehun sementara yang ditatap tetap menatap lurus kedepan.
"Cih, memangnya mengapa? Kau cemburu?" tanya Luhan.
Tepat, Luhan menembak langsung ke pointnya, Sehun tetap tenang walau memang apa yang dikatakan Luhan itu ada benarnya.
"Cih, bukan levelku. Lagipula dari dulu aku tidak pernah menyukaimu, bukan begitu?" tanya Sehun.
Luhan tercekat, benar. Sehun tidak pernah memperdulikannya apalgi menyukainya. "Hm, benar." Singkat Luhan.
Sehun bangun dari duduknya, langkahnya yang ingin pergi ia hentikan, karena ada sederet kalimat yang harus ia katakan. "Hyung, kita sudah bukan anak kecil lagi. Berhenti, berhentilah untuk mendekatiku. Biarkan saja semuanya berjalan. Kau tidak perlu bekerja keras untuk apapun." Ujarnya.
Setelah selesai Sehun pun pergi semntara Luhan hanya menatap Sehun yang sudah pergi. Jujur, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Sehun tapi Luhan dapat merasakan kalau kata-kata tadi memiliki arti yang sangat penting. Sehun dalam langkahnya meninggalkan kursi taman ia berlirih dalam hati.
"Tak ada yang bisa mengelak takdir hyung. kalau memangg harus bersama, akan ada kalau memang tidak, biarkan saja semuanya mengalir seperti ini."
.
.
.
.
Esoknya Luhan keluar dari salah satu bilik toilet sekolahnya namun, tiba-tiba di bilik toilet yang paling ujung, Luhan mendengar suara desahan namja dan yeoja. Kedua mata Luhan terbelalak, sebisa mungkin Luhan berjalan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Saat Luhan sudah ingin keluar dari pintu toilet suara sang namja mengagetkannya.
"Dara, terus. Terus lakukan seperti itu." Ucap namja tersebut.
Mendengar nama 'Dara', emosi Luhan memuncak. Dara menjalin hubungan intim dengan cowok lain sedangkan saat ini dia sedang menjalin kasih dengan Sehun. Luhan langsung keluar dari toilet tersebut, ia berlari kecil disepanjang koridor sekolah, saat ini ia perlu ntuk bertemu dengan Sehun. Luhan masuk kedalam kelas Sehun namun, tidak ditemukannnya orang yang sednag ia cari itu. Luhan kembali berlari dan naik kelantai paling atas sekolah. Dan, tepat saat Luhan akan membuka pintu atap sekolah, seseorang juga sedang membukanya dari luar dan orang itu Sehun.
"Sehun!" ucap Luhan.
Sehun memasang wajah dingin dan terus menatap Luhan. Luhan sendiri saat ini mencoba menetralkan nafasnya yang terengah-engah akibat berlari.
"Ada yang ingin kau bicarakan? Jika tid—"
"Sehun, apa kau masih berhubungan dengan Dara? Hah, hah, hah…" tanya Luhan masih sedikit terengah-engah.
"Waeyo? Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Sehun masih dengan ekspresi dingin.
"I—itu tadi aku me—Ah, ani, aku hanya bertanya." Jawab Luhan tegagap.
Sehun masih belum mau menjawabnya.
"Sehun, aku hanya menyarankan kau untuk mengakhirinya saja." Ucap Luhan menatap mata Sehun dalam.
Sehun masih memasang wajah dingin, "Waeyo?" tanyanya.
"Hanya akh—"
"Luhan hyung!" suara Kai yang tiba-tiba mengagetkan Luhan dan membuat Luhan berhenti berbicara.
Kai berdiri di tangga paling bawah menatap Sehun dengan dingin lalu, menatap Luhan.
"Kai?" ucap Luhan.
Kai menghela nafas, "Kau tidak mendengar suara bel?" tanya Kai dengan nada datar.
"Aku, ada ya—"
"Kalau tidak ada yang dibicarajan lagi aku pergi." Potong Sehun lalu Sehun berjalan menuruni tangga.
Tepat saat Sehun berpapasan dengan Kai, senyum remeh terlihat di bibir Sehun.
"Cih! penguntit." Lirih Sehun. Sementara Kai kini tangannya sudah mengepal, seandainya Luhan tidak ada disana, Kai sudah memukul Sehun saat ini.
.
.
.
.
Kyungsoo keluar dari salah satu supermarket yang ada di Korea. Tangannya dipenuhi dengan barang belanjaannya. Kyungsoo sebelumnya berseolah dan tinggal di Jepang karena eommanya harus dipindahkan tugas ke Korea, Kyungsoo pun mau tidak mau harus ikut dan menjadi murid pindahan di Korea. Kyungsoo sudah terbiasa hidup mandiri, karena sang eomma selalu pulang larut malam, eommanya merupakan pekerja yang hebat itu sebabnya Kyungsoo tidak pernah mengeluh dan selalu mendukung sang eomma.
Rumah yang ditempatinnya saat ini cukup besar hal itu membuatnya kewalahan harus mengurus rumah sendiri. Kini Kyungsoo dalam perjalanan menuju rumahnya namun, jalanan yang biasanya ia lewati terlihat gelap, Kyungsoo berjalan mundur dan memilih untuk melewati jalan lain walau sedikit lebih jauh namun, ada yang Kyungso rasa aneh. Seseorang sedang mengikutinya, Kyungsoo mempercepat jalannya, jalanan yang tampak sangat sepi membuat Kyungsoo makin panik, saat Kyungso sudah hendak ingin berlari seseorang mengambil belanjaan dari tangannya. Sentak Kyungsoo langsung melambungkan plastik belanjaan tersebut sehingga seseorang tersebut wajahnya terkena pukulan.
"Akh!" rintih seseorang tersebut.
Setelah belanjaan itu berhenti melambung mata Kyungsoo terbelalak.
"Kai-ssi?" ujar kyungsoo.
Kai mengusap-usap hidungnya yang tampak memerah karena terkena pukulan belanjaan Kyungsoo. Kyungsoo langsung menaruh belanjaannya begitu saja dijalan dan mendekati Kai.
"Ah, mianhae Kai-ssi. Jinjja mianhae…" ucap Kyungsoo.
Kai mengangguk dan berkata, "Hm, gwaenchana. Geundae, apa aku begitu mengagetkanmu?"
Kyungsoo mengangguk.
Kai tertawa kecil lalu mengambil belanjaan Kyungsoo.
"Kajja, kuantarkan kau pulang." Kata Kai.
"Eoh?" heran Kyungsoo.
"Hm, aku tidak mungkin meninggalkamu sendiri dan membawa barang-barang ini sendiri. Badanmu terlalu kecil." Ujar Kai.
Kyungsoo merenggut, "Aish,"
.
.
.
.
Kristao turun dari mobil sport milik Kris. Tao terus menempel dan memeluk lengan Kris, kejadiannya yang dilakukan Seunghyun beberapa hari lalu, masih membuat Tao sedikit gemetar saat melihat keadaan yang dikeliingi banyak namja. Ditempat ini, diarena balap yang menjadi tempat tongkrongan Kris, banyak sekali namja yang bisa dikatakan 'trouble maker' hal it membuat Kris harus lebih melindungi Tao. Kris berjalan menuju markas kelompoknya, disana sudah ada Chanbaek dan Sehun.
"Kalian datang." Sapa Kris.
Chanyeol mengangguk, "hm, kau membawa Tao? Apa tidak apa-apa Tao?" tanya Chanyeol.
Sementara Tao dengan sedikit gemetar dia mengangguk. Kris merasakan kegugupan Tao, membuat Kris langsung memeluk Tao dan menyembukan kepala Tao pada dada bidangnya, Kris pun berbisik, "Gwaenchana, baby. Gege disini." Bisiknya.
Segerombol namja pun tiba-tiba datang menghampiri kelompok Kris didepannya Seunghyun berjalan memimpin. Terdapat smirk di bibir Seunghyun, disamping Seunghyun Dara dengan baju yang seksi merangkul Seunghyun dan memberi tatapan remeh kepada Sehun. Sehun sendiri sama sekali tidak kaget melihat Dara karena dari awal ia memang tidak pernah menyukai Dara, dara hanya yeoja yang dijadikannya untuk membuat Luhan cemburu.
Lain dengan Sehun, Baekhyun justru heran dengan Dara. Tangannya kini sudah terkepal dan ingin maju menghantam yeoja kurang ajar itu namun, Chanyeol merangkul Baekhyun sebagai isyarat untuk tenang.
"Annyeong, Kris. Ah, ada Baby Tao." Ujar Seunghyun.
Seunghyun ingin maju menyentuh Tao, Kris langsung menumpas tangan tersebut.
"Sudah kukatakan jangan menyentuhnya, brengsek." Ujar Kris tenang namun tajam.
Tao mencoba untuk berani, ia menatap Seunghyun dengan tajam.
Seunghyun tertawa melihat tatapan Tao.
"Aku hanya ingin mengajak kalian bertiga untuk bertanding. Kau kris, Chanyeol dan kau Sehun. Malam ini, kita akan lihat siapa yang akan menang."
.
.
.
.
Kelompok Kris dan Seunghyun kini sudah memasuki lintasan. Mereka memansakan mobil mereka sambil menunggu yeoja ditengah-tengah mereka menaikan bendera. Kris dari jendela mobilnya menatap Seunghyun dengan tajam dibelakang Kris, Chanyeol menatap G-dragon dengan tajam pula begitu pula dengan Sehun terhadap Taeyang. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya cewek tersebut mengangkat bendera. Pertandingan dipimpin oleh kelompok Kris namun, jangan harusnya Kris tidak merasa bangga dulu karena sebenarnya ini memang sebuah rencana Seunghyun untuk menjatuhkan kedua teman Kris, Taeyang yang tadinya berada di belakang ersama Sehun kini sudah mulai mengambil alih jalur dan menyerempet mobil Chanyeol, Chanyeol yang tidak terima kembali menyerempet mobil Taeyang karena hal ini, mobil Chanyeol sedikit lecet karenanya.
Di belakang Chanyeol, Sehun yang baru beberapa kali mulai membawa mobil lagi, sedikit panik melihat ulah G-dragon yang secara tiba-tiba menyerempetnya dengan keras membuat mobil Sehun sedikit oleng, hal yang membuat Sehun khawatir bukanlah mobilnya namun, keadaannya sendiri. G-dragon melaju didepan Sehun dan secara tiba-tiba G-dragon mengerem mobilnya membuat Sehun harus membating setir kearah kiri beruntung Sehun langsung mengerem mobilnya namun, hal itu membuat dada Sehun berbenturan dengan stir mobilnya. Dikepala Sehun terdapat sedikit darah yang mengalir, Sehun pun sedikit merintih. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi mobilnya, Sehun memejamkan mata untuk emnetralisir sedikit pusing yang menderanya, lalu setelah Sehun kembali kuat,ia melanjutkan pertandingan.
Hasil pertandingan cukup memuaskan, Kris suda pasti menjadi pemenang malam ini, walau Chanyeol sempat hampir disingkirkan oleh taaeyang saat di arena akhirnya Chanyeol bisa mencapai finish berbeda dengan Kris dan Chanyeol, Sehun sampai paling akhir dan itu sontak membuat baekhyun dan Tao tercengang.
Mereka pun langsung memarkirkan mobil mereka di pinggir arena. Kristao dan Chanbaek menghampiri mobil Sehun yang baru keluar dari mobilnya. Keringat dingin membasahi wajah Sehun terlebih lagi wajahnya juga memucat.
Chanyeo langsung angkat bicara, "Sehun, neo gwaenchana?" tanya Chanyeol.
Sehun menyandarkan tubuhnya yang lemah ke mobilnyadan tersenyum sambil menjawab, "Hm, gawenchana hyung."
"ani, kau tidak baik-baik saja Sehun. Ini darah. Apa yang dilakukan mereka?!" teriak Baekhyun.
Tangan Baekhyun menyentuh sudut kepala Sehun yang terdapat darah. Kris tanpa berpikir panjang langsung membantu Sehun untuk masuk kedalam mobil Sehun dibangku penumpang.
"Kau kuanntar pulang." Ujar Kris.
Tao mengangguk setuju dengan Kris. "Ge, biar mobilmu aku yang bawa." Ujar tao.
Semntara Sehun sendiri sesekali memejamkan matanya menahan sakit. "Hyung, gwaenchana. Aku bisa pulang sendiri." Lirihnya sambil mentap Kris.
Chanyeol mengehela nafas, "Tidak, kau akan diantar. Kris lebih baik kau jalan sekarang, Seunghhyun biar aku yang urus." Ucap Chanyeol
Kris mengangguk.
.
.
.
.
Selama diperjalanan Kris sesekali melirik kearah Sehun, namja itu sungguh mengkhawatirkan bagaimana tidak, wajah itu makin memucat serta deru nafas yang tampak memburu. Merasa diperhatikan Sehun menatap Kris, Kris langsung mengalihkan pandangannya pada jalanan.
"Hyung, lebih baik kau perhatikan jalan. Aku tidak ingin mati hanya karena kau melihat wajahku yang ganteng ini." Ujar Sehun lirih.
"Sudah tidak usah banyak bicara, lebih baik kau tidur saja." Jawab Kris.
Mendengar suara Sehun yang sangat lirih membuat Kris makin tidak tega mendengar Sehun berbicara. Sementara Sehun bukannya mengikuti kata-kata Kris, ia malah menatap Kris.
"Hyung, bisa kau antarkanku kesuatu tempat?" tukas Sehun.
.
.
.
.
Luhan sedikit berlari dari lantai atas, mendengar suara pintu rumah yang diketuk membuat Luhan harus meninggalkan buku yang tengah dibacanya.
"Ne, gidaryeo." Ujar Luhan.
Luhan pun langsung membuka pintu. Didepan pintu Sehun tengah berdiri.
"Sehun?"
Sehun menatap Luhan dalam. Wajah Sehun yang pucat membuat Luhan khawatir.
"Sehun, wae geurae?"
Sehun hanya menggeleng, sebuah senyum lemah terpatri dibibirnya.
"Ani, tidak ada apa-apa."
Luhan melayangkan tangannya menyentuh wajah Sehun, sedikit kaget karena Sehun sama sekai tidak menolak untuk disentuhnya. Tepat saat Luhan sudah menyentuh wajah Sehun, tangannya bersentuhan langsung dengan kulit Sehun yang dingin. Tiba-tiba juga Sehun langsung menarik Luhan untuk masuk dipelukannya. Tubuh Luhan sempat menegang saat tubuhnya tersa begitu dekat dengan Sehun.
"Hyung, bogoshipo." Ujar Sehun.
Luhan masih dengan mata terbelalak mndengar dengan jelas ucapan Sehun.
.
.
.
.
TBC….
HUUUAAAA! Author kembali…. Terima ksih untuk support dan reiew dari para readers. Review kalian membuat readers ingin cepat-cepat mengupdate. Chapter ini makin panjang, author harapkalian tdak bosan untuk membacanya ya…
Review lagi ya… terima kasih untuk yang sudah memfollow dan memfavoritkan… Saranghae… ^^
Reply Review and Big Thanks :
Aiko Michishige: udah lanjut ya, Gomawo ne^^
celindazifan: maslahnya duu sebelumnya Seunghyun sudha pernah melakukan hal yang sama tapi kembali gagal, Seunghyun hanya ingin memusakan dirinya aja sih, bukan untuk memiliki Tao sepenuhnya.. Gomawo ne ^^
Dandeliona96: hihi, udah lanjut ya… Gomawo ne^^
LVenge: baru disentuh aja nih… gomawo ne ^^
Baby Lu: Udah next ya, Goamwo ne^^
WindaHunHanYeol: Sehun hanya gak bisa menghindari rasa cemburunya karena Kai jauh lebih bisa mendampingi Luhan kok… hehhe… Kyungsoo udh muncul yaa, Kris gak ingin Tao ternodai lebih jau sama Seunghyun. Gomawo ne^^
