"A Romantic Story About Baekhyun"

Remake Story by Santhy Agatha

A Romantic Story About Serena

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

[Chanbaek]

.

.

.

.

.

.

"Kau benar-benar serius tentang ini Chanyeol?", Sehun bertanya saat Chanyeol mempelajari salinan kontrak itu,

Chanyeol mengangkat matanya dan menatap Sehun, lalu menunjukkan kontrak itu,

"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga ratus juta man!"

"Aku tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang wanita? Wanita yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi uang? Apa yang ada dipikiranmu Bos?"

Kening Chanyeol berkerut tidak suka mendengar kata-kata Sehun, meskipun dia tahu itu semua benar.

"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang perempuan, dan tiba-tiba seluruh tubuhmu menginginkannya?", Chanyeol tersenyum melihat ekspresi skeptis Sehun, tentu saja Sehun tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya, "Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan, tiga ratus juta tak ada artinya buatku"

"Tapi kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya, dan menyesali kontrak ini"

"Dan aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi", jawab Chanyeol yakin.

Sehun mengangkat bahu,

"Aku tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada wanita itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli padaku",

Sehun menyandarkan tubuhnya dikursi, "Miss. Byun ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?"

Chanyeol menggeleng,

"Dia hanya pegawai biasa, seorang supervisor lapangan, kau tidak mungkin pernah melihatnya", jawabnya tegas.

"Apakah dia gadis mungil dengan rambut sebahu dan wajah polos dan tatapan seperti anak kecil yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"

Chanyeol langsung bersiaga, Kenapa Sehun ingat pada Baekhyun? Apakah Sehun juga memperhatikan Baekhyun? Apakah dia juga tertarik padanya? Insting posesifnya langsung menyeruak keluar,

Sehun tertawa melihat tatapan tajam Chanyeol,

"Hey hey jangan menatapku seperti itu, aku memperhatikannya karena waktu itu kau memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya",

Sehun mengangkat bahu,

"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, malam itu kau kehilangan konsentrasimu, gadis itu menarik seluruh perhatianmu, kau sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu",

Sehun menarik napas panjang, "Well jika dengan gadis yang sama ini kau terlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."

.

.

.

.

.

Semua terjadi begitu cepat, Chanyeol langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin, Baekhyun tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Chanyeol bersikap sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.

Dengan sangat efisien Chanyeol membantu Baekhyun membereskan barang-barangnya yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke aprtement, lalu menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.

Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Chanyeol tersenyum pada Baekhyun yang berdiri kaku di tengah ruangan,

"Well anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu, jika ada yang kurang ata kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"

Baekhyun memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?

"Sementara kau pergi , bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kaujanjikan?"

Chanyeol mengangkat bahu,

"Silahkan", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?",

"Tidak...!", Baekhyun menjawab tegas, uang Tiga ratus juta yang ditransfer Chanyeol tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki itu,

Chanyeol sepertinya bisa membaca pikiran Baekhyun,

"Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?",

Chanyeol mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya,

"Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Baekhyun mengingatnya baik-baik. Baekhyun sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Chanyeol disini, lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Chanyeol tidak akan tahu.

Chanyeol memakai jasnya , puas karena Baekhyun menerima kartu debitnya, "Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan kesini", Tatapan Chanyeol ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu intens, membuat pipi Baekhyun memerah.

Sepeninggal Chanyeol, Baekhyun segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi, lobyy apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar,

"Anda ingin dipanggilkan taxi, miss?", sapanya dengan sopan.

Baekhyun cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?

"Tidak", jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat, lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Baekhyun segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.

Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet,

Baekhyun berpapasan dengan suster Zhang ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Jongin,

"Kau tidak apa-apa Baekhyun?", kau kelihatan pucat,

Baekhyun meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang? Setelah dia menyerahkan...

"Aku,,, aku mencari uang untuk biaya operasi Jongin", gumamnya gugup,

Suster Zhang menatap Baekhyun sedih,

"Baekhyun uang tiga ratus juta itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat puluh juta, begini nak, aku punya simpanan sekitar lima puluh juta, mungkin itu bisa membantu, dan kalau aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat beberapa tambahan..."

"Suster, saya sudah mendapatkan uangnya", Baekhyun bergumam lemah,

Kata-kata suster Zhang langsung terhenti seketika,

"Apa?...Sudah mendapatkan uangnya? Apa maksudmu nak? Darimana...?", kata-katanya langsung terhenti melihat Baekhyun mulai menangis,

"Ada apa nak? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa membuatmu lega",

"Mungkin setelah ini suster akan jijik pada saya", Baekhyun terisak pelan.

Suster Zhang mengelus rambut Baekhyun dengan lembut,

"Tidak akan anakku, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu pasti akan menerima anaknya apa adanya"

Baekhyun menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, dan amat sangat bersyukur ada Suster Zhang yang mau mendengarkannya, lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya,

"Aku tidak menyalahkanmu Baekhyun, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Suster Zhang.

Baekhyun buru-buru mencegah kemarahan suster Zhang,

"Bukan suster, sampai sekarang Mr. Park tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk biaya perawatan Jongin, dia mengira aku perempuan muda dengan gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"

Suster Zhang mengerutkan keningnya,

"Kenapa kau tidak mengatakannya Baekhyun? setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya",

Baekhyun menggelengkan kepalanya,

"Tidak suster, aku tidak mau Mr. Park mengetahui tentang Jongin, lelaki itu tidak mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Jongin nanti",

Suster Zhang menarik napas,

"Setidaknya dia tidak brengsek seperti lelaki hidung belang yang mungkin nantinya akan menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan suster Zhang berubah intens dan hati-hati,

"Apakah dia berbuat kasar atau tidak Baekhyun?"

Baekhyun saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata Suster Zhang,

"Eh? Apa Suster?"

Suster Zhang tampak salah tingkah,

"Apakah dia bertindak kasar semalam Baekhyun?, maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan wanita akan merasa tidak nyaman, apalagi jika pasangannya bertindak kasar",

Wajah Baekhyun langsung merah padam,

"Tidak, Mr. Park tidak kasar...Oh Tuhan!", Baekhyun menutup mukanya dengan kedua tangannya, "Aku malu sekali suster, tiap kali aku memandang diriku di cermin aku merasa seperti perempuan yang sangat tidak berharga."

Suster Zhang menepuk pundak Baekhyun lembut, menenangkannya,

"Baekhyun, kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti dan menerimanya, pengorbananmu demi Jongin sudah luar biasa besarnya, aku yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah profesional, "Baekhyun aku yakin, Chanyeol ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan? Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya,apakah kemarin dia menggunakan pengaman?",

Baekhyun memandang Suster Zhang dengan bodoh,

"Pengaman?"

Barulah ketika Suster Zhang menatapnya dengan intens dan penuh arti, Baekhyun menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi,

"Oh, itu...", suara Baekhyun hilang, "kemarin dia memakainya"

Suster Zhang berdehem,

"Baik, kalau begitu dia lelaki yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi tubuhmu sayang?",

"Eh, aku baik-baik saja Suster"

"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi, kau juga perlu membicarakan ini dengan Chanyeol "

.

.

.

.

.

Baekhyun meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan.

Kondisi Jongin baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup tenang, Operasi sudah dijadwalkan 1 minggu lagi, Sekarang Baekhyun hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan,

Dengan ragu, Baekhyun memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas panjang, semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya yang sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar, setelah itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa, apalagi ditempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Baekhyun menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.

Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong,

Baekhyun mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya dengan pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan mungil yang sudah diberi mentega.

Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur,

"Baunya enak sekali"

Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan sehingga Baekhyun hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya,

Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Chanyeol bersandar di sana, mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi,

"I,,,iya, aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya lagi ke telurnya.

Chanyeol melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan kegugupan Baekhyun, dia berdiri dekat di belakang Baekhyun, lalu menengok penggorengan,

"Apa itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Baekhyun.

"Eh, ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Baekhyun berusaha bertingkah wajar,

"Seperti omelet?", kali ini Chanyeol tampak benar-benar tertarik,

"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana. Baekhyun menjawab sambil melirik ke ekspresi Chanyeol, baru sekarang Baekhyun sadar, ternyata lelaki ini tertarik pada hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.

"Buatkan aku satu ya"

Baekhyun menoleh mendengar permintaan Chanyeol,

"Memangnya kau mau?", tanyanya ragu.

Lelaki itu mengangkat bahunya,

"Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat kondisimu."

Dasar perayu ulung, Baekhyun memaki dalam hati, orang seperti Chanyeol tidak segan-segan memanipulasi pikiran perempuan agar mau melakukan apapun yang dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!

Chanyeol masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena Chanyeol memang jauh lebih tinggi dibanding Baekhyun, tiba-tiba saja, tangan lelaki itu ,mencengkeram pundak Baekhyun mendekatkannya ke belakang, kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Baekhyun dari samping dengan kecupan selembut bulu dan panas, sehingga tubuh Baekhyun bagaikan disetrum dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Aku menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Chanyeol pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan Baekhyun di dapur, yang mencoba menetralkan nafasnya.

.

.

.

.

.

Lelaki itu makan seperti biasa, dengan elegan. Sedangkan Baekhyun tidak bisa berkonsentrasi pada makanannya, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Chanyeol.

Ternyata Chanyeol suka masakan biasa, dari penampilan dan gayanya, kelihatannya lelaki itu hanya mau makan makanan tertentu dan yang pasti kelas atas, tak disangka dia bisa duduk santai di sofa menikmati sepiring omelet sederhana.

"Kenapa?", Chanyeol tiba-tiba menatap tajam setelah suapan terahkirnya, dia merasakan tatapan Baekhyun selama dia makan,

Baekhyun langsung menundukkan kepalanya gugup,

"Eh...tidak, tidak apa-apa."

Chanyeol tersenyum,

"Pasti kau heran kenapa aku mau makanan rumahan kan?",

Dia lalu meletakkan piringnya, "Aku juga manusia Baekhyun, kita tidak ada bedanya, kadangkala penampilan seseorang membuat kita berpikir bahwa manusia yang satu berbeda dengan yang lain",

Chanyeol mengangkat bahunya, "kuakui memang aku menyukai makanan berkualitas dan bercitarasa tinggi, tapi kadangkala, aku bosan, masakan sederhana buatan sendiri terasa lebih nikmat",

Dengan santai lelaki itu berdiri lalu menuang kopi dari poci di atas meja minuman, dan menyesapnya ringan.

"Dan suka minum kopi",

Tanpa sadar Baekhyun mengomentari kebiasaan Chanyeol, sejak kemarin, diamatinya Chanyeol selalu meminum kopi setiap ada kesempatan.

Lelaki itu tertawa mendengar komentar Baekhyun,

"Ya, kopi berkualiatas juga", gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Baekhyun menunduk, entah kenapa Chanyeol yang santai dan ramah ini lebih membuatnya merasa nyaman, dibandingkan Chanyeol yang kaku dan dingin di kantor,

"Habiskan makananmu, setelah itu kita pindah ke ruang baca, kau bisa membaca atau melihat televisi, ada beberapa pekerjaan lagi yang musti kubereskan."

Baekhyun segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Chanyeol membuat secangkir kopi lagi, sekaligus secangkir teh untuk Baekhyun,dan membawanya ke ruang baca,

Dengan enggan Baekhyun menyusul ke ruang baca, Chanyeol sedang duduk di sofa, menghadap notebooknya dan tampak Serius, dia hanya melihat sekilas pada Baekhyun,

"Duduklah, minum tehmu", gumamnya, lalu kembali serius lagi menghadap notebooknya.

Baekhyun sebenarnya mengantuk, tapi dia tidak enak kalau harus masuk kamar duluan, apalagi apartemen ini hanya mempunyai satu kamar yang luas, kamar lain hanya kecil dan diperuntukkan sebagai kamar pembantu, Baekhyun tidak tahu, apakah Chanyeol akan menginap ataupun pulang, dia sama sekali tidak mengatakan rencananya.

Baekhyun menghirup tehnya, lalu duduk di sofa di seberang Chanyeol, dia mengambil sebuah majalah dan membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya di sofa.

Bacaan itu menarik, dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman, hingga lama-lama dia tak bisa menahan kantuknya.

.

.

.

.

.

Baekhyun merasa ada yang mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat dan terasa dipeluk hangat, dia merasakan tubuhnya terayun-ayun. Ketika dia membuka matanya yang berat, dia menyadari Chanyeol sedang menggendongnya ke kamar, lelaki itu tak menyadari Baekhyun membuka matanya, dengan langkah pelan dan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar,

Baekhyun langsung pura-pura memejamkan matanya lagi begitu Chanyeol dengan lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya.

Setelah itu tak ada gerakan, tetapi Baekhyun masih belum berani membuka matanya, Apakah Chanyeol memutuskan pulang atau tinggal?

Lalu ada gerakan di ranjang di belakangnya, ternyata lelaki itu menginap disini, Baekhyun menyadari dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu menyelinap di balik selimut,

Kemudian, tubuh hangat Chanyeol mendekat dan merengkuh Baekhyun dari belakang, Pertama kali Baekhyun merasa tidak nyaman, tapi kemudian rasanya hangat ditengah kamar yang dingin itu, dan dia terlelap.

.

.

.

.

.

Baekhyun terbangun dengan rasa haus yang amat sangat, biasanya sebelum tidur dia meminum air putih, tapi tadi malam dia tidak melakukannya.

Dengan tak nyaman dia bergerak gerak gelisah,

"Ada apa Baekhyun?", sosok yang memeluknya dari belakang bertanya, suaranya sangat segar,

Tidakkah dia tidur? Gumam Baekhyun dalam hati,

"Haus", ahkirnya Baekhyun bisa bersuara meskipun parau.

Chanyeol langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja minum, lalu mengitari ranjang berdiri di samping sisi Baekhyun terbaring, lelaki itu tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana piyama sutra hitam dan telanjang dada,

"Duduk, minum."

Dengan pelan Baekhyun duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu, masih setengah minuman tersisa, Chanyeol mengambil gelas itu,

"Apakah kau sudah bangun?", Baekhyun mengernyit karena suara Chanyeol sekarang menjadi parau.

Dengan masih bingung dia menganggukkan kepalanya,

"Bagus", Chanyeol menenggak sisa air putih di gelas Baekhyun sampai tandas lalu setengah membantingnya di meja samping ranjang.

Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Baekhyun hingga terbaring di ranjang dan menindihnya, napasnya terasa hangat di atas tubuh Baekhyun, dan mata birunya tampak berkabut dengan pupil yang mengecil sehingga tampak hitam, di tengah-tengah mata birunya.

Baekhyun agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Chanyeol yang sangat dekat di atasnya, napasnya terangah-engah penuh antisipasi, ketika kemudian Chanyeol mengecup bibirnya dengan sangat intim, semula hanya ciuman biasa, bibir dengan bibir, itupun sudah membuat Baekhyun panas dingin karena begitu ahlinya Chanyeol.

Menggerakkan bibirnya, Setelah sebuah ciuman yang lama dan panas Chanyeol mengangkat wajahnya dan tersenyum,Baekhyun bisa merasakannya karena bibir Chanyeol hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya,

"Kau tidak biasa berciuman ya?"

Baekhyun memalingkan mukanya dengan pipi memerah mendengar pertanyaan blak-blakan itu, tapi Chanyeol meraih dagunya dan menempelkan bibir mereka lagi,

"Tirulah apa yang kulakukan padamu", bibir Chanyeol bergerak di bibir Baekhyun, dan ketika Baekhyun mengikutinya, Chanyeol mengerang senang, "ya...ya bagus, begitu...tidak,,,jangan gigit...bagus...bagus...buka mulutmu...ah sayang...",

Chanyeol terus memberikan instruksi di sela sela ciumannya yang makin panas dan bergairah, dan Baekhyun menurutinya, lebih dikarenakan ingin tahu, ketika Chanyeol membuka mulutnya Baekhyun mengikutinya,ketika lumatan Chanyeol makin dalam dan belaian lidahnya membelai Baekhyun dengan ahli, Baekhyun mengikutinya dengan tersendat-sendat, meskipun sepertinya itu cukup memuaskan bagi Chanyeol karena lelaki itu mengerang lagi dan memperdalam ciumannya, ciuman dengan bibir terbuka dan permainan lidah yang begitu panas dan seolah tidak akan berahkir, Baekhyun bahkan tidak pernah menyadari bahwa sebuah ciuman bisa dilakukan dengan sedalam dan seintim itu!

Lama kemudian Chanyeol mengangkat kepalanya, hanya sedikit seolah olah ingin tetap berdekatan dengan Baekhyun, matanya tampak berkabut dan napasnya terasa bergemuruh di dadanya,

"Itu tadi yang namanya french kiss...",gumamnya lembut, lalu tangannya mulai bergerak dengan ahli membuat Baekhyun melengkungkan punggungnya merasakan sengatan kenikmatan yang tidak diantisipasinya,

Tubuh telanjang mereka berdua bergesekan. Dengan lembut Chanyeol mengajari Baekhyun bagaimana cara menyentuhnya, bagaimana cara memuaskannya. Lelaki itu suka disentuh dimana-mana, dia akan mengeluarkan erangan pendek tertahan ketika Baekhyun menyentuhnya.

Dan itu mempesona Baekhyun, seorang lelaki yang begitu dominan dan jantan seperti Chanyeol, mengerang nikmat di bawah sentuhannya. Dengan takut-takut Baekhyun menyusuri bagian dalam lengan Chanyeol yang kekar, membuat napas Chanyeol terengah,

"Kau akan membunuhku dalam kenikmatan", bisik Chanyeol Serak, lalu melumat bibir Baekhyun penuh gairah, "Dan aku akan mati bahagia", desahnya.

Chanyeol menyatukan dirinya dengan lembut, melihat reaksi Baekhyun, dan ketika dia yakin tidak ada kesakitan lagi, dia mendesak perlahan, menembus kehangatan yang langsung membungkusnya rapat, membuatnya tergila-gila.

"Bagus sayang, jangan ditahan, aku akan mengajarimu...ah...kau begitu hangat dan siap untukku..."

Suara Chanyeol tenggelam di sela sela cumbuannya yang sangat ahli, menghanyutkan Baekhyun kedalam pusaran gairah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Dan ketika Chanyeol membuat Baekhyun mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Lelaki itupun menyerah dalam beberapa hujaman tajam, mengejar kenikmatannya sendiri.

.

.

.

.

.

Baekhyun terbangun merasakan sinar matahari menerpanya, dia mengernyitkan alisnya dan membuka matanya pelan-pelan, Sinar matahari memang sudah mengintip malu malu dari balik gorden jendela balkon kamar apartemen itu, Baekhyun menyadari ada tangan kekar yang memeluk perutnya dengan posesif, Chanyeol masih tidur, napasnya terasa naik turun dengan teratur di punggung Baekhyun. Mereka berbaring miring seperti sendok dan garpu, dengan Baekhyun membelakangi Chanyeol berbantalkan salah satu lengan Chanyeol, sementara lengannya yang lain memeluk Baekhyun erat, menempelkan punggung Baekhyun sedekat mungkin dengan dadanya.

Mereka telanjang, dan selimut tebal yang seharusnya menyelimuti mereka sudah tertendang oleh Chanyeol entah kemana, Seharusnya Baekhyun kedinginan, tapi tidak, karena Chanyeol memeluknya dengan begitu eratnya,

Tiba-tiba sengatan rasa bersalah seperti memukulnya, disinilah dia berbaring nyaman dalam pelukan laki-laki yang membelinya sementara Jongin...

Helaan napas Baekhyun pasti membangunkan Chanyeol karena lelaki itu terasa mulai bergerak, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Baekhyun,

"Selamat pagi", suara lelaki itu terdengar serak tapi sarat dengan kepuasan sensual yang dalam. Tentu saja lelaki itu puas, dia hampir tidak membiarkan Baekhyun tidur semalaman.

Baekhyun tidak menjawab, tetapi berusaha menarik selimut yang terlempar jauh di kakinya untuk menutupi ketelanjangannya.

Usahanya gagal karena Chanyeol mempererat pelukannya di pinggangnya sehingga Baekhyun tidak bisa bergerak,

"Tidak perlu selimut sayang, aku sudah mengenal setiap jengkal tubuhmu secara intim, tak ada yang terlewatkan...begitu juga sebaliknya hmmm?"

Wajah Baekhyun memerah sampai semerah-merahnya, bahkan telinganyapun memerah dan Chanyeol terkekeh melihatnya,

Lalu tiba tiba tawa itu hilang dan Baekhyun merasakan gairah Chanyeol bangkit lagi,

Dengan bingung dia menolehkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata biru Chanyeol yang menyala penuh gairah,

"Lagi?", Baekhyun tanpa sadar mengucapkan ketakjubannya, sebegitu cepat Chanyeol menginginkannya lagi setelah semalam?, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu bagaimana bergairahnya Chanyeol semalam, Baekhyun pikir Chanyeol sudah terpuaskan, tetapi sepertinya dia salah.

"Aku juga tidak menyangka", gumam Chanyeol parau, "Sepertinya kau akan menjadi penyebab kematianku"

kemudian Chanyeol meraih Baekhyun lagi ke dalam pelukan penuh gairahnya.

.

.

.

.

.

.

TBC

READ, REVIEW AND FAV PLEASE?

Thankyou For :

, Chan Banana , exindira , septhaca , Ryu Hyun Rin , nicejinri , chanlove , khamyauchiha23 , vitCB9 , LDK , hunnie , ParkByun , devrina , dv , yoyoyo man , Tania3424