"Ahh pamannhh"
Gerakan Felix semakin cepat menghujam vagina Bee. Erangan dan jeritan kenikmatan bercampur dengan gerakan dari dua insan berbeda jenis kelamin yang tengah dilanda klimaks.
"Pamannn... aku mau pipishhh!!!" Teriak Bee membuat Felix semakin mempercepat gerakan pinggul dan tangannya yang mengusap klitoris Bee. Di gesekkannya keras menambah kenikmatan yang melanda Bee.
"Uuugghhh... akuuu... keluarrr...!!!" Didorongnya dengan keras penisnya ke dalam vagina Bee. Hujaman terkahir yang dalam disertai dengan menyemburnya cairan hangat ke dalam vagina Bee.
Tubuh Bee menegang saat kenikmatan menghampiri dan perlahan melemas berganti menjadi tersengal-sengal mengumpulkan udara. Rakus bernafas sehingga menyebabkan dadanya bergerak naik turun.
Tangan Felix perlahan bergerak membelai rambut Bee pelan. Mengusapnya.
"Kau sangat mempesona saat mencapai klimaksmu sayang" ujar Felix sambil mencium bibir Bee yang membengkak akibat terus-menerus dilumat.
"Penis paman selalu bisa membuatku senang dan enak, seperti Mommy dan teman-teman prianya" dimainkannya puting Felix, memilin dan sesekali menariknya gemas, tidak sadar tingkahnya telah membangkitkan kembali gairah Felix untuk menghujam lubang sempitnya.
Felix yang gairahnya digoda tentu saja tidak menolak dan dengan segera mengangkat badan Bee membuatnya berada di atas sang lelaki. Tidak peduli berapa kali pun ia tidak akan pernah bisa merasakan tubuh indah ini.
"Auu paman!"
Bee berteriak kaget saat penis Felix masuk dalam sekali hentak ke dalam vaginanya.
"Pasukan paman dengan permainanmu sayang" bisik Felix pada telinga Bee diikuti dengan hisapan penuh nafsu.
Perlahan-lahan bergerak menaik turunkan tubuhnya membuat penis Felix keluar masuk vaginanya, semakin lama semakin cepat mencari kenikmatannya sendiri.
Tangan dan mulut Felix sama sekali tidak berhenti melecehkan seluruh tubuh Bee. Terutama bagian dada dan bokong, tidak melewatkan kesempatan memasukkan satu jarinya ke lubang anal Bee.
"Ahh pamannhh... nikmatthhh..."
Bibir Felix beralih melumat bibir bengkak Bee, meredam semua desahan dan mengeksplor seluruh bagian bibir mungil itu.
Memindahkan kedua tangannya ke pinggul Bee membantu sang gadis cilik menggerakkan tubuhnya sampai akhirnya lagi dan lagi spermanya tertampung di dalam vagina Bee.
Rasa lelah dan puas menghampiri keduanya, saling melumat lembut sebelum memejamkan mata mencoba untuk tidur, beristirahat memulihkan tenaga agar bisa kembali melakukan seks panas saat bangun nanti. Dan tentu saja dengan penis yang masih tertanam di rumahnya.
"Wah wah, lihat apa yang terjadi disini?"
Pintu kamar yang sebelumnya tertutup, sekarang terbuka menampakkan seorang pria yang sedikit lebih tua dari Felix, berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
Bee tau siapa pria itu, pria yang setiap kali bertemu dengannya pasti selalu dalam keadaan telanjang dan tengah melecehkan seluruh tubuh Mommy-nya.
Pria itu perlahan melangkah masuk menghampiri kedua manusia berbeda jenis kelamin yang masih terdiam. Bee bergerak mencoba mengeluarkan penis Felix dari vaginanya, diikuti Felix yang segera bangkit dan mulai mengenakan pakaiannya.
"Silahkan kau bersenang-senang dengannya Bram, aku akan keluar sebentar mencari minuman"
Sekarang apa? Felix dengan mudahnya meninggalkan dirinya berdua dengan seorang pria yang baru ia ketahui bernama Bram. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Pria itu mendekat dan mengarahkan jemarinya menyentuh tubuh Bee, bergerak perlahan menuju paha dalam sebelum akhirnya menyeringai mengetahui betapa basahnya Bee. Dan jangan lupa sisa sperma Felix yang masih mengalir keluar dari vaginanya.
"Memang benar pepatah 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya', lihatlah betapa indahnya vaginamu yang bahkan telah menampung sperma di usia yang masih sangat belia ini."
Bee sama sekali tidak menolak, ia membiarkan saja Bram menyentuh tiap inci tubuhnya. Untuk apa menolak? Ia hanya mengikuti apa yang selalu Mommy-nya lakukan, dan juga ia suka diperlakukan seperti ini.
"Emmmm paman"
"Aku menyayangkan karena bukan penisku yang mengoyak vaginamu pertama kali... Tapi tak masalah, tidak penting penis siapa yang pertama kali masuk, yang penting adalah penisku bisa bermain di dalam sini kapanpun aku ingin"
"Akkkkhhhhh... masukkkkhhh..."
Bram menyelipkan jarinya masuk dan digesekkannya sepanjang vagina Bee. Bee mengangkat pinggulnya menginginkan lebih, melupakan rasa lelah yang sebelumnya menerpa, semua hilang dan terganti dengan nafsu yang kembali bangkit menuntut untuk dipuaskan.
Merasa tidak tahan dengan respon yang diberikan Bee, Bram segera membuka dan melorotkan celananya sendiri. Memegang penis setengah tegangnya yang membuat Bee melotot.
Besar dan panjang dengan otot di sepanjang penisnya, lebih besar dari milik Felix. Bee secara tidak sadar menggeram seperti seorang jalang yang tidak sabar ingin segera dimasuki.
"Mari cicipi bagaimana rasa vagina hasil dari percampuran lebih dari 100 sperma pria ini"
Bram segera memposisikan penisnya di depan vagina Bee. Ditusukkan jemarinya ke dalam vagina Bee. Satu jari. Dua jari. Tiga jari! Menggerakkan jari-jarinya berusaha mengeluarkan sisa-sisa sperma Felix, ia tidak ingin bersetubuh dengan vagina yang dipenuhi cairan sperma pria lain, tidak disaat pertama kali ia mencoba vagina tersebut.
"Emmmhhh"
"Bahkan desahanmu sudah terdengar sangat menggairahkan, melebihi para jalang yang selalu aku pakai"
Bee memegang lengan Bram, menggenggamnya namun tidak menghalangi gerakan tangan sang lelaki yang masih mengeksplor vaginanya. Ia tidak tahan, ia ingin segera dimasuki penis besar itu, tapi bibirnya tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, hanya desahan nikmat yang terus ia senandung kan.
Bram menarik keluar jarinya diikuti desahan penuh kekecewaan Bee, kakinya membuka lebih lebar mengharap sang pria kembali memberinya kenikmatan.
Bram menjilati jarinya yang penuh dengan cairan Bee. Manis. Apa karena dia masih anak-anak? Tapi siapa yang peduli?
"Ayo masuk ke rumah barumu penis kebangganku..." Penis Bram masuk sepenuhnya, tenggelam dalam vagina mungil yang masih sangat sangat sempurna itu.
"Ahhhhhhhh..."
"Ngggghhhh"
Desahan mereka saling bersahutan saat Bram mulai memaju mundurkan pinggulnya, dengan kecepatan yang semakin lama semakin naik, berusaha mengoyak vagina Bee.
Bibir Bram bermain-main dengan puting Bee, menghisapnya kuat. Walau payudara itu sama sekali belum tumbuh, tapi entah kenapa bisa menarik perhatian para pria dewasa, Felix dan Bram contohnya, mereka tidak akan pernah bosan memainkan puting Bee.
Kedua tangan Bram yang awalnya hanya bergerak meremas bokong Bee, sekarang mulai berpindah memainkan lubang anus yang sampai sekarang masih perawan tersebut. Perlahan memasukkan jarinya membuat badan Bee terlonjak-lonjak karena terkejut, hanya sebentar sebelum ia kembali menikmati semua perlakuan Bram pada tubuhnya.
"Paman paman pamanhhhhh" melihat Bee yang akan mencapai puncaknya membuat Bram semakin brutal menggerakkan pinggulnya, jepitan vagina yang semakin mengencang, desahan yang semakin menggairahkan, serta gerakan penis yang brutal membawa keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.
"Hey, sepertinya anusmu masih perawan... Bolehkah aku memerawaninya?" Bisikan lembut ditelinga kanan Bee membuatnya menggeliat, tubuhnya masih ingin dipuaskan, membuatnya begitu sensitif bahkan hanya karena sebuah bisikan lembut.
Dengan perlahan tapi pasti, Bram mengeluarkan penisnya dari vagina Bee dan langsung mengarahkannya menjebol anus Bee yang masih sangat ketat. Tentu saja ketat, karena ini adalah pertama kalinya Bee melakukan anal sex.
"Sakiitt! Paman sakittt! Tidak mau!"
Bee berteriak saat Bram memaksa penisnya untuk masuk. Penis itu sangat besar, dan Bram hanya memberi pemanasan singkat sebelum memasuki anus Bee, tentu saja Bee merasa kesakitan.
Tapi Bram sama sekali tidak peduli, yang ia tahu hanya penisnya merasa nikmat. Lagipula kalaupun ia tidak memerawani anus Bee sekarang, cepat atau lambat pria lain pasti akan memerawaninya.
"Aaaaakkkkhhhhhh!"
Teriakan itu terdengar nyaring saat Bram menghentak kuat penisnya hingga masuk seluruhnya ke dalam anus Bee. Tangan kanan Bram aktif menggoda klitoris Bee sedang tangan kirinya berada di puting Bee, berusaha mengalihkan rasa sakit yang melanda agar ia bisa segera menggerakkan penisnya guna mencari kenikmatan.
"Sshhh, ini akan sangat nikmat, percaya padaku" bisikan serta jilatan yang ia terima membuatnya tanpa sadar merilekskan badannya, mencoba menikmati seperti apa yang dikatakan oleh Bram.
"Good girl!" Perlahan menggerakkan pinggulnya dengan kedua tangan yang masih bergerak aktif.
"Bee?"
Suara lembut wanita terdengar ditengah-tengah pergumulan panas mereka.
"Mommyhhhh shhh"
Ya, itu sang Mommy yang datang bersama Felix. Felix sengaja membawa wanita itu agar berekspresi bisa bermain bersama, kapan lagi bisa menikmati ibu dan anak disaat bersamaan seperti ini?
"Lihatnya! Anakmu telah menjadi seperti dirimu! Seorang jalang yang nikmat!"
Bram tidak menghentikan gerakan pinggulnya saat ia berbicara pada Mommy Bee, malah semakin menambah brutal ia menyodok vagina itu.
"Hahaha bagus sekali sayang, kau memang harus menjadi seperti Mommy! Setelah ini Mommy akan mengajarimu banyak hal tentang memuaskan penis! Tapi sebelum itu, mati kita berpesta!!"
Orang tua bejat yang menjerumuskan anaknya kedalam lubang maksiat!
