Warning : gaje-lattos! *banget! Apalagi kalo author nya saya XD*, maaf kalo pemilihan kalimatnya masih kurang baik ._.v maap lagi kalo author sarap XP *pembukaannya aja udh gajelas XD*
Disclaimer : Kuroshitsuji akan selamanya milik Yana Toboso-sensei. Tapi fanfict ini akan selamanya jadi milik sayaaa! HAHA *evil laugh* #upss hehee
MY SECRET ADMIRER
Kuroshitsuji © Yana Toboso
Chapter IV : Countdown 30 Days to Art Show
Ciel baru saja duduk di bangkunya pagi itu. Namun serentetan pertanyaan dari teman-teman sekelasnya sudah menyerbu. Hal ini berkaitan tentang pagelaran seni yang di bicarakan Mr. William tempo hari. Ternyata kabar bahwa Ciel dan Alois akan bermain musik bersama mewakili kelas itu sudah tersebar. Dan pagi ini, mereka sekelas serempak menanyakan hal itu kepada mereka berdua –Alois dan Ciel-
" Tuh kan Ciel. Banyak yang ingin mendengar permainan musikmu. Sudah sepantasnya kamu ikut pagelaran itu. " ujar Lizzy ceria.
" iya iya, Lizzy. " jawab Ciel sambil mencubit pipi sahabatnya itu. Lizzy hanya bisa meringis pelan sambil mengusap pelan pipinya yang dicubit Ciel.
Terdengar bangku dibelakang Ciel berderit. Ciel menoleh kebelakang. Alois sudah duduk manis disana.
" Pagi, Ciel. " sapa Alois, hangat.
" Pagi, Alois. " balas Ciel, tersenyum.
Belum sempat mereka berdua berbincang, bel sekolah sudah berbunyi.
" Anu, mengenai pagelaran itu, ada yang ingin ku bicarakan. Pulang sekolah ku tunggu di ruang musik ya. " Ujar Ciel kepada Alois.
Belum sempat Alois menjawab, guru seni lukis mereka sudah masuk ke kelas.
xxXXxx
30 hari menuju pementasan seni.
Alois membuka pintu ruang musik. Ciel sudah ada disana, dipojok ruangan. Ia duduk di lantai. di samping kanannya berserakan kertas-kertas putih yang sudah minta diisi dengan goresan-goresan notasi balok. Sedangkan disamping kiri nya terhampar kertas-kertas yang sudah berisi notasi balok. Ciel mengenakan headphonenya. Ia memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya di tembok ruang musik. Ia nampak menikmati lagu itu.
Tak berapa lama, Ciel membuka mata dan mengambil kertas kosong disamping kanannya, hendak kembali menulis. Ketika ia mau menggoreskan pensilnya untuk menuliskan notasi-notasi nada, Ciel menyadari kalau di dekatnya sudah ada Alois, yang berdiri disana sambil memperhatikan Ciel.
" hey, kau sudah lama berdiri disitu? " Tanya Ciel begitu dilihatnya Alois.
" hemm... mungkin. " jawab Alois sambil berjalan mendekati Ciel.
" Kenapa kau tidak memanggilku? Aduh maaf aku keasyikan mendengarkan musik." Ciel salah tingkah.
" tidak apa-apa. Lagipula aku tidak enak mengganggumu mendengarkan musik. Lagu apa yang kau dengarkan? " Alois duduk di sebelah Ciel.
" Only hope. " jawab Ciel seraya melepaskan headphone nya. Lalu Ciel memasangkan headphone itu di kepala Alois. " dengarkanlah. "
Ciel menekan tombol 'play' di music player-nya. Lalu nada-nada lembut dari lagu Only Hope itu mengalun.
" a walk to remember ya? " tanya Alois.
" yap. " jawab Ciel. " bagaimana kita memakai lagu ini untuk pagelaran seni nanti? Kau keberatankah? "
Tampak Alois terlarut dalam lagu itu. " hmmm... baiklah. " jawabnya seraya melepaskan headphone milik Ciel. " kupikir bagus juga kita memakai lagu ini. " pandangan Alois tersita pada jertas berisi not-not balok hasil pekerjaan Ciel. " ini partiturnya? "
" yaa. Barusan aku mencari notasinya. Namun belum rampung. " jawab Ciel sambil merapikan kertas-kertasnya.
Alois menatap kertas itu sekilas. Mengamati dan mengkoreksinya. Diambinya pensil ditangan Ciel, lalu Alois pun mulai mulai mencoret-coret kertas di dekatnya. Ciel hanya bisa memperhatikannya. Alois memejamkan matanya, lalu mulai menulis ketika ia membuka matanya.
" Ciel, alat musik apa yang biasa kamu mainkan? " tanya Alois tiba-tiba.
" piano. "jawab Ciel.
" Baiklah, aku baru mendapatkan nada untuk piano. Tinggal merampungkan nada untuk biola ku dan melakukan pembagian part. " Alois meletakkan pensil dan kertas itu disampingnya, lalu menyandarkan tubuhnya di tembok, seperti Ciel. Peluh mengalir di wajah Alois. " panas,ya? "
" Bagiku tidak tuh. " jawab Ciel sambil menjulurkan lidah. Setelahnya, mereka berdua duduk dalam diam.
" Ciel, bagaimana kalau kau mencoba memainkan partitur yang sudah ku betulkan ini? " pinta Alois sambil melirik ke arah grand piano di ruang itu. Ciel berjalan kearah piano itu, lalu duduk dan meletakkan partitur itu ditempatnya. Lalu jari-jari manis Ciel mulai menari lincah diatas tuts-tuts hitam-putih grand piano itu.
Alois berdiri disamping kursi Ciel. Ia memperhatikan permainan piano Ciel. Lalu setelah selesai, ia mengambil partitur Ciel dan mencoret-coretnya kembali, membetulkan nada-nada yang kurang enak terdengar, dan memberi variasi pada lagu itu.
" coba mainkan ulang di bagian yang ini. " Alois memberikan arahan. Dan kembali Ciel memainkan bagian seperti yang diarahkan Alois.
Kalau adacelah, Ciel sering memperhatikan Alois, dan apapun yang dilakukan pemuda itu. Wajah seriusnya ketika menatap partitur Ciel, Ketika Alois mencoretkan pensilnya diatas kertas dan membetulkan partiturnya, wajah bingungnya ketika hendak memberi variasi di partiur itu, dan masih banyak lagi. Tanpa Ciel sadar, Ciel ternyata tersenyum sembari memperhatikan Alois.
Tukk...
Ujung pensil yang dipegang Alois mendarat di dahi Ciel.
" kenapa kamu senyum-senyum seperti itu? " tanya Alois, bingung.
" ti...tidak.. tidak ada apa-apa. " jawab Ciel salah tingkah. Seketika dirasakannya wajahnya memanas. Langsung saja Ciel memalingkan wajahnya. Tanpa Ciel sadar, kini Aloislah yang tersenyum memandang Ciel.
Hari sudah sangat sore, dan sekolah hendak ditutup.
" Partiturmu sudah selesai. Bisa kau bawa pulang untuk berlatih dirumah. " ujar Alois sambil menyerahkan partitur itu kepada Ciel.
" bagaimana bagianmu? " tanya Ciel kepada Alois.
" itu akan menjadi tugasku dirumah. Tenang saja. " jawab Alois enteng. Mereka kemudian merapikan barang-barang mereka, dan keluar dari ruangan itu bersama.
xxXXxx
Ciel sampai di rumahnya sudah larut malam. Langkahnya gontai. Ia capek sekali hari ini. Ia segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan sedikit beristirahat. Satu jam kemudian, Ciel keluar dari kamarnya menuju grand piano di tengah rumahnya. Diletakkannya partiturnya di tempatnya, lalu mulai berlatih. Jari-jarinya yang lentik ekmbali melompat-lompat di atas tuts-tuts piano itu.
Ciel telah menyelesaikan nada terakhirnya ketika Sebastian bertepuk tangan di belakang Ciel.
" kakak! Sejak kapan kakak ada disitu? " tanya Ciel, kaget.
" Dari awal kau memainkan pianomu, my lady. " jawab Sebastian sambil tersenyum. " ku dengar kau akan ikut tampil di pagelaran seni nanti ya? "
" iya, berdua dengan teman sekelasku. " jawab Ciel riang.
" Lizzy? " terka Sebastian.
" emm... bukan. Aku akan tampil dengan Alois. Anak baru dikelasku. " jawab Ciel seraya tersenyum.
Perasaan aneh di hati Sebastian muncul lagi ketika tahu Ciel akan bermain musik dengan pemuda lain. Ada rasa 'tak rela' dihatinya.
" oh ya? Aku ingin melihat duet kalian. " Sebastian berbohong. Sesungguhnya, ia ingin menggantikan pemuda itu untuk bermain musik dengan Ciel di atas panggung nanti.
" yaa. Kakak doakan aku ya. " sahut Ciel, sambil merapikan partiturnya. Ciel bangkit dari bangku pianonya. Tanpa sadar, lembar terakhir partiturnya terjatuh ketika Ciel berjalan menuju ke kamarnya.
Sebastian memungut kertas itu. Ia melihat dibelakang kertas tersebut ada sebuah pesan singkat untuk Ciel.
" jangan lupa berlatih dirumah ya. Sincerly : Alois Trancy "
Ada gejolak kecemburuan dihati Sebastian ketika membaca pesan tersebut.
" Ciel.. " panggil Sebastian dari belakangnya.
" ya kakak? " jawab Ciel seraya menoleh ke arah Sebastian.
" lembar partiturmu terjatuh. " Sebastian menyerahkan lembaran itu. Ciel membolak balik lembar itu, dan akhirnya Ciel sadar bahwa ada pesan singkat Alois disana. Ciel tersipu dan tersenyum kecil. Dan, Sebastian melihat perubahan ekspresi Ciel dan akhirnya Sebastian menduga-duga bahwa Ciel menyukai Alois.
Sebastian memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya tanpa mengatakan apa-apa lagi terhadap Ciel. Ia takut tak mampu mengontrol perasaannya pada Ciel, dan takut cemburu lebih dalam kepada adiknya itu. Yang terpenting, ia tak mau mengusik kebahagian adik yang paling ia cintai itu.
xxXXxx
29 hari menuju pementasan seni
Alois membuka pintu ruang musik. Ia terperanjat ketika dilihatnya Ciel sudah memainkan pianonya. Nada-nada indah mengalun lembut. Alois seperti melihat sosok lain dari Ciel ketika ia memainkan pianonya. Dada Alois berdesir hebat, tak kuasa ia menahan senyum.
Alois bertepuk tangan ketika Ciel menyelesaikan lagunya. Ciel menoleh ke arah Alois.
" kau selalu datang tanpa aku tahu yaa. " ujar Ciel sambil merubah posisi duduknya menghadap ke arah Alois.
" Aku tak mau menganggu latihanmu tahu. " Alois menjawab kalem. Lalu ia mengeluarkan biolanya dari kotaknya, beserta dengan partitur biolanya. Partitur itu diserahkannya kepada Ciel. Ciel mengamatinya sebentar.
" dicoba saja. " kata Ciel sambil menyerahkan partitur itu kembali kepada Alois. Alois langsung memainkan lagunya seperti yang tertulis di partitur biolanya.
Lagi-lagi jantung Ciel berdegup lebih cepat dari biasanya. Ditatapnya Alois lekat-lekat. Alois yang sedang memainkan musiknya. Entah kenapa Ciel merasa tertarik sekali.
Alois berhasil menyelesaikan nada terakhir lagunya.
" hemm bagus. Lalu, bagaimana caranya menggabungkan keduanya? " tanya Ciel.
Alois berjalan kesamping Ciel, dan duduk dibangku piano disamping Ciel. Ia mengeluarkan pensil dari sakunya dan mulai mencoret-coret partitur milik mereka.
" aku sudah memikirkannya semalam. Jadi, lagu ini akan ku bagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama kamu masuk di sini, lalu aku masuk ketika di bagian ini, lalu disini aku akan bermain sendiri, lalu disini kita mainkan bersama... " Alois menjelaskan konsepnya pada Ciel.
Pikiran Ciel melayang, karena posisi mereka sangat dekat saat ini. Pikiran Ciel agaknya terganggu.
" Ciel? Halo Ms. Pantomhive? Kau dengar aku tidak? " Alois melambai lambaikan tangannya di depan wajah Ciel.
" ah.. iya.. kau bilang apa tadi? " aduuh Ciel mendadak jadi kikuk begini. Hanya karena ia berdekatan dengan Alois.
" Aduh makanya jangan melamun dong, Ciel. "Alois lantas menjitak ringan kepala Ciel. Ciel hanya mencibir sambil memegangi kepalanya yang dijitak oleh Alois.
Alois lantas menjelaskan ulang konsepnya sampai Ciel mengerti.
" baiklaah. Bagaimana kalau hari ini kita tuntaskan dulu untuk merapikan catatan partitur kita? Kalau begini aku agak susah membacanya. " Usul Alois.
Akhirnya sore itu, mereka berdua memfokuskan diri untuk menulis ulang partitur mereka yang acak-acakan itu agar lebih mudah dibaca dan lebih rapi.
Tak lama mereka berdua sudah menyelesaikan partitur milik mereka berdua. Setelah selesai, mereka berdua segera berbenah dan pulang kerumah masing masing. Mereka berdua berpisah di gerbang sekolah karena arah rumah mereka yang berlawanan. Ciel mengeluarkan partiturnya, berharap menemukan catatan kecil dari Alois lagi seperti kemarin. Benar saja, di salah satu lembar partiturnya, di balik notasi-notasi balok itu bersangkar, ada sepotong pesan singkat yang ditulis Alois :
" Jangan melamun terus. Lebih baik gunakan waktu melamun mu itu untuk berlatih, Ms. Pantomhive :p Sincerly : Alois Trancy"
Ciel tersenyum sambil mendekap partiturnya. Entah kenapa, langkah kakinya meringan.
xxXXxx
20 hari menuju pementasan seni
Alois membuka pintu ruang musik perlahan. Berharap Ciel tidak tahu kedatangannya yang terlambat itu.
" Lagi-lagi terlambat ya, Alois! " Ciel menegur Alois dari dalam ruangan. Alois hanya mampu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" hehe maaf madamoiselle. Tadi ada yang harus aku urus dulu. " Alois tersenyum lebar. Ciel balas tersenyum.
Alois kembali membuka kotak biolanya dan mengeluarkan biola kesayangannya. Keringat mengucur deras di dahinya. Bibirnya pucat, kulitnya pun tampak pucat. Ciel merasa aneh dengan Alois.
" kau sakit, Alois? "tanya Ciel.
" tidak. Aku tidak apa-apa. Ayo kita mulai latihan. " Alois tampak tersenyum, dengan bibirnya yang memucat.
Ciel bangkit dari bangkunya, hendak mencrai sesuatu dari dalam tasnya. " Alois, tangkap. " Ciel melemparkan sebotol susu yang dibawanya dari rumah. Alois menangkap botol itu.
" minumlah. " ujar Ciel.
" tapi... "
" tidak ada tapi. Cepat minum. " perintah Ciel. " kau itu terlalu memaksakan diri. Aku tak mau kau sakit karena memaksakan diri untuk terus berlatih. Lihat dirimu, kau seperti orang sakit. Bibirmu pucat. "
Alois memandang botol susu itu, lalu membuka tutupnya. " Thanks, Madamoiselle. " ujar Alois sebelum ia menenggak susu tersebut sampai habis tak bersisa. " sudah bisakah kita mulai latihan? "
" tentu saja. Ayo. " jawab Ciel riang, disambut senyum Alois.
Mereka berdua mulai berlatih, melancarkan hasil latihan mereka sebelumnya.
xxXXxx
15 hari menuju pementasan seni
Ciel bingung. Hari ini Alois tidak masuk kelas. Kemana perginya partner musiknya itu ya? Dia bahkan sama sekali tidak memberi tahu Ciel kalau hari ini dia tidak datang. Aneh. Lantas, bagaimana mereka berdua harus latihan, sedangkan pagelaran ini makin dekat waktunya. Ciel membutuhkan Alois.
Jam pulang sekolah, saat Ciel dan Alois biasanya latihan. Ciel melangkah menuju ruang musik. Dibukanya pintu ruangan itu. Betapa terkejutnya Ciel begitu ia menemukan Alois disana. Alois yang sedang duduk dan bersandar di tembok ruangan, dan mendengarkan lagu melalu earphone nya. Matanya terpejam, nampaknya ia tertidur. Bibirnya pucat sekali. Ciel menatap wajah pucat Alois. Akhir-akhir ini, Ciel selalu mendapati Alois yang pucat dan terlihat lemas. Jujur, sebenarnya Ciel takut dan khawatir juga atas keadaan Alois akhir akhir ini.
" Lho Ciel? Sudah datang rupanya. " Alois mengusap wajahnya yang masih mengantuk.
" iya. " jawab Ciel seraya tersenyum.
Alois bangun dan mengeluarkan biola dari kotaknya.
" kenapa tadi kau tak masuk ke kelas? " tanya Ciel.
" maaf, tadi ada urusaan yang harus aku selesaikan. Aku juga baru datang kok. "
" kau sakit? " tany Ciel, mengamati perubahan wajah Alois.
" tidak. " jawab Alois pelan. " ayo kita mulai saja latihannya."
Mereka berlatih seperti biasa. Latihan mereka kali ini hanya untuk memperhalus musik mereka dan memberikan 'jiwa ' pada musik mereka. Istilahnya, mereka hanya tinggal melancarkan saja. Jadi tak butuh waktu lama untuk berlatih.
Mereka beristirahat sejenak. Mereka duduk bersebelahan. Alois melirik ke seluruh penjuru ruangan, dan matanya berhenti ketika ia menemukan sebuah gitar tergantung di dinding ruangan itu. Diambilnya dan ia mulai memetik senar gitar itu, perlahan. Lagu " Parisienne Walkways" pun mengalun memenuhi ruangan itu. Ciel bertepuk tangan ketika lagu itu selesai.
" alat musik apa saja yang kau bisa? " tanya Ciel penasaran.
" emmm... hanya beberapa alat musik saja. " jawab Alois ringan. " kau mau mencoba bermain piano bersama ku? "
Ciel bingung harus menjawab apa. " hemm baiklah. "
Mereka berdua duduk di depan piano sekarang. " kau mau main lagu apa sekarang? " tanya Alois.
" bagaimana kalau lagu 'river flows in you' karya yiruma? " usul Ciel yang akhirnya diterima oleh Alois.
Nada pertama dimulai oleh Ciel, yang lalu disambung oleh Alois. Pada akhirnya mereka memainkan lagu itu berdua. Hingga nada terakhir yang hendak dijangkau oleh Ciel, namun sialnya, jari Ciel tak mampu menjangkaunya. Akhirnya, Aloislah yang menjangkau nada tersebut. Ketika sadar, posisi mereka sudah sangat dekat, terlalu dekat malah. Ciel seperti berada di dalam pelukan Alois karena posisi tangan Alois ketika hendak menjangkau tuts terakhir yang ada di dekat Ciel mengharuskannya untuk seperti itu. Mereka seperti membatu di posisi seperti itu. Dalam hati, mereka ingin terus seperti itu. Dan akhirnya, mereka berdua tertawa bersama.
Dari luar, Sebastian memperhatikan mereka berdua dengan tatapan cemburu. Kenapa mereka berdua harus sedekat itu. Kenapa bukan dia yang ada disana, menggantikan pemuda itu. Sebastian memalingkan wajahnya, kemudian berlalu dari ruang musik itu.
xxXXxx
10 hari menuju pementasan seni
Mereka berdua berlatih seperti biasa di ruang musik. Permainan mereka makin bagus. Konsep mereka pun sudah sangat bagus.
" Alois, pementasan tinggal sebentar lagi yaa? " Ciel membuka pertanyaan.
" tidak apa-apa. Kita pasti bisa kok. Percayalah pada musik yang akan kamu mainkan. " jawab Alois sambil tersenyum lemah. " ayo kita mulai latihan lagi. " ajak Alois. Ia berdiri dan menyiapkan biolanya.
Saat itu Ciel sadar, Alois terlihat bertambah kurus belakangan ini.
Ciel takut sekali Alois sakit. Ia khawatir dengan keadaan Alois yang makin lemah, namun berpura-pura kuat dihadapannya.
xxXXxx
1 hari menuju pementasan seni
Hari ini gladi bersih untuk pementasan seni besok.
Ciel sudah berada di aula East Wallington Art School, tampat dilaksanakannya gladibersih dan tempat pementasan seninya. Namun tidak ada Alois disini. Ciel gelisah, ia melirik ke seluruh penjuru aula, namun tak ditemukannya sosok Alois yang ia cari. Ia khawatir sesuatu terjadi pada Alois. Sedangkan besok ia sudah harus tampil. Ia tak mau Alois mendapat sesuatu yang buruk.
" maaf aku terlambat. Bagaimana gladibersihnya? Sudah sejauh apa? " suara yang dikenal Ciel menggumam tepat dibelakangnya. Ciel menoleh cepat. Alois! Ingin sekali rasanya Ciel menjitak temannya itu yang berhasil membuat Ciel khawatir. Namun Ciel mengurungkan niatnya itu. Yang penting kini Alois udah datang, tak ada yang harus dicemaskannya lagi.
Ditatapnya Alois dalam dalam. Keringat tampak deras mengucur di dahi Alois, dimana ruangan Aula ini dipenuhi hawa dingin. Alois nampak memaksakan senyum cerianya dibalik bibir pucatnya.
" hei, kenapa menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku? " tanya Alois sambil mengernyitkan dahinya.
" tidak. " jawab Ciel sambil tersenyum.
Alois menyandarkan kepalaanya disandaran kepala bangku Ciel. " Ciel, lihatlah. Dipanggung megah itu besok kita akan bermusik bersama. " Alois menunjuk panggung aula itu.
" Apa kita bisa? " Ciel ragu.
" pasti bisa. Kita kan berdua. Apa yang harus kita takutkan jika kita bisa bermusik berdua? " tanya Alois sambil tersenyum kepada Ciel. Dalam kata-kata Alois, tersirat sebuah kekuatan untuk Ciel. Sesaat, Ciel dan Alois berpandangan. Dilihatnya tatapan Alois sayu. Keringat masih belum berhenti mengalir dari dahinya.
" Ms. Pantomhive, Mr. Trancy, giliran kalian " Mr. William memanggil Ciel dan Alois untuk tampil di depan. Ciel dan Alois naik ke atas panggung. Mereka bersiap-siap. Ciel memulai lagu itu pertama, lalu dibagian kedua Alois masuk dengan permainan biolanya.
Permainan musik mereka berakhir dengan tepuk tangan dari Mr. William. " well done, Ms. Pantomhive and Mr. Trancy. Persiapkan diri kalian untuk besok ya. " sanjung Mr. William sambil menjabat tangan Ciel dan Alois.
Gladibersih berjalan dengan lancar. Kini saat bagi Ciel dan Alois untuk pulang kerumah masing-masing, karena mereka harus beristirahat untuk pementasan besok.
" baiklah, aku pulang dulu ya. Hati hati dijalan, madamoiselle. " ujar Alois pada Ciel.
" yaa. You too. "jawab Ciel sambil tersenyum, kemudian berjalan pulang.
Ketika mereka berpisah, Alois menyandarkan diri di sebuah pohon di daerah sekolah. Sebenarnya ia sudah tidak kuat menahan sakitnya sejak di dalam aula tadi. Oleh karena itulah ia mengeluarkan banyak keringat, karea menahan sakit yang luar biasa hebat. Napas nya tersengal. Ia kesulitan bernapas karena nyeri yang ia rasakan di dadanya. Namun, Alois menahannya karena ia tak mau Ciel khawatir. Ia tak mau kalau Ciel tahu bahwa kondisinya amat buruk sekarang ini. Ketika Ciel pergi, barulah ia berani mengeluarkan rasa sakitnya. Ia manyandarkan diri pada pohon tersebut, sedikit merintih kesakitan, kemudian tumbang.
xxXXxx
To Be Continued
xxXXxx
Author's Comment :
Hellawww minna-san. Kembali lagi bersama author. Gimana gimana ceritanyaa? Ada yang menarik? Atau tambah gaje? Review kalian selalu author tunggu lhooooo~
Oh iya, buat yg suka baca fanfic kuroshitsuji, please RnR juga fanfic author yang satunya lagi yaaa. Judulnya " A confession letter to Ciel " please RnR yah minna *promote dikit ;p*
Hehehe author lagi nggak kepingin banyak comment deh yah. Pokoknya, author selalu menantikan review kalian yaaaa. Sangkyuu minna-san ^^ tetep setia nunggu update-annya yah minna
xxXXxx
" Tidak ada hal yang paling ingin kulakukan di dunia ini kecuali bermusik bersamamu.."
(Alois Trancy)
