History of Battle Legend Wars

Genre:

Adventure, Romance, Hurt/Comfort, Friendship.

Disclaimer: Hiro Masashima

Warning:

Karakter sedikit OOC, Typo, alur kecepetan, and many more.

Hargai kerja keras orang lain.

Don't Like! Don't Read!

-Previous-

"Kau menemuka sesuatu, Karin?"tanya 'Dia pada Karin.

"ya, aku menemukan kunci ini disana"ujar Karin sambil menunjukkan sebuah kunci pada 'Dia'. 'Dia' pun tersenyum sambil memandang kunci itu.

"Kau simpan baik-baik kunci itu, aku akan kesana beberapa hari lagi, jangan kau hilangkan. Dan kalian jangan berani-berani menghilangkan kunci itu jika kalian masih sayang pada nyawa kalian"ujar 'Dia' dengan tersenyum sebelum lacrima vision itu menghilang.

'Dia' pun tersenyum dengan sangat lebar dan segera bergegas untuk pergi ke mansion mereka itu.

"Ini akan menarik…."ujarnya sambil tersenyum senang.

-Story-

Di Guild Hell of Star sudah beberapa hari sejak kejadian penyelamatan Inori, dan sampai sekarang Inori masih belum tersadar. Guild Fairy Tail masih berdiam disana juga, menunggu Zeref dan Mavis memerintahkan sesuatu.

Lucy sedang berada didalam perpustakaan bersama dengan Snow, Star, dan Jack. Jack sedang membaca buku dengan tenangnya, ia sangat serius membaca bukunya hingga tidak menyadari keadaan sekitarnya. Lucy hanya menghela nafas, ia membolak-balikkan bukunya dengan perasaan yang malas.

"Sampai kapan Fairy Tail harus berada disini, sih? Itu membuatku muak!"kesal Lucy dengan pelan, wajahnya terlihat sangat tidak suka mengetahui kehadiran Fairy Tail di guildnya. Tapi apa boleh buat Master Hell of Star yaitu Zeref mengatakan mereka akan berada disini untuk sementara waktu, dan ia tidak bisa membantahnya jika ia tidak mepunyai alasan yang kuat.

Tap Tap Tap

Terdengar suara langkah kaki yang sangat dekat mendekat kearah Lucy. Lucy hanya diam saja tidak menoleh siapa yang ada berada dibelakangnya ini, tapi tanpa ia berbalik pun sebenarnya ia sudah tau siapa dibelakangnya.

"Natsu, apa yang kau inginkan dariku?"tanya Lucy dengan wajah yang sangat malas. Natsu hanya terdiam saja.

"Aku… ingin…. Meminta maaf padamu"ujar Natsu dengan wajah yang bersalah.

"Meminta maaf? Untuk apa?"

"Sudah membuatmu menjadi seperti ini"jawab Natsu.

"Tidak perlu minta maaf, lagi pula aku berterima kasih padamu, karena kau aku bisa bertemu dengan teman-temanku yang sekarang"ujar Lucy dengan wajah dan nada yang dingin.

Natsu kembali terdiam, lalu mencoba mendekat lebih dekat kearah Lucy, tapi entah mengapa ia tidak bisa bergerak, ia tidak bisa mendekati Lucy lebih dari ini lagi. Lucy pun sepertinya merasa terganggu dengan kehadiran Natsu, dan ia beranjak dan meninggalkan Natsu disana.

Snow, Star dan Jack yang melihat suasana itu hanya diam saja memandang kepergian Lucy dan kembali memandang Natsu yang masih terdiam.

"Kau yang bernama…. Natsu?"tanya Snow pada Natsu. Natsu hanya mengangguk pelan saja.

"Jadi kau yang mengeluarkan Lucy dari Guild, ya?"tebak Star dengan tanpa sadar, Natsu yang mendengar itu kembali merasakan sakit didadanya kembali.

"Lucy menceritakannya pada kalian?"guman Natsu pelan.

"Yeah, tidak semua sih"ujar Snow dengan santai.

"Tapi aku heran, kenapa kau bisa berbuat seperti itu? Dari cerita yang diceritakan oleh Lucy, menurutku kau orangnya cukup baik"ujar Snow dengan heran. Natsu hanya menunduk saja sambil menghela nafas lalu duduk disalah satu tempat duduk disana.

"Entahlah, aku juga tidak tau apa yang kulakukan waktu itu, seperti ada yang mengendalikanku"jawab Natsu dengan jujur. Snow hanya heran saja mendengarnya tapi ia berpikir tidak menanyakan apapun lagi.

X-X-X

"Rei! Kau jangan membuat Kuro-ku jadi terluka lagi jika kau masih sayang pada nyawamu!"seru Alice kesal terhadap Rei sambil menggendong boneka kelincinya itu.

"Kau ini! Kau masih marah dengan kejadian itu?! Aku kan sudah bilang itu tidak sengaja!"kesal Rei juga pada Alice.

"Kalian masih mau sampai kapan sih bertengkar terus dalam hal itu? Lagi pula boneka-mu itu sudah bagus diperbaiki, lupakan sajalah"ujar Alex menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Alice dan Rei.

"Lalu kapan 'Dia' akan kemari? Ini sudah sekitar 1 minggu sejak kejadian itu"ujar Haruka dengan heran.

"Mungkin beberapa hari lagi 'Dia' akan datang"ujar Kazuki dengan tenang.

-Unknow P.O.V-

Aku sedang berada dalam perjalan menuju mansion Black Magic, tidak kusangka aku akan mendapatkan kunci itu dengan cepat, selain aku menemukan gadis itu. Lalu aku pun mengepakkan sayapku dengan lebar agar lebih cepat menuju ketujuanku.

Tapi tanpa disadari didepanku sudah terdapat seekor Dragon hitam dengan garis-garis berwarna biru, Dragon yang sangat kukenali.

Acnologia

Dragon yang pernah bergabung denganku untuk menghancurkan manusia, menarik sekali… ada perlu apa dia mendatangiku?

"Lama tidak berjumpa ya, Acnologia"ujarku dengan tersenyum kearahnya. Dia hanya diam saja, wajahnya menunjukkan wajah yang serius.

"Aku tidak menyangka kau masih berniat untuk mengganggu manusia lagi"ujarnya dengan wajahnya yang serius. Aku hanya tertawa saja mendengarnya.

"Hahaha… kau sudah berubah, ya? Bukannya kau pernah bergabung denganku untuk menghancurkan manusia? Apakah kau mau bergabung denganku lagi?"tawarku padanya. Dia hanya terdiam saja, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Aku tidak berniat lagi"

Aku hanya diam saja, wajahnya sangat serius dan aku juga tau kalau dia tidak main-main, tapi entah mengapa menjadi sangat membosankan. Dia menjadi sangat membosankan.

"Padahal kau dijuluki 'King of Dragon' tapi kau membosankan sekali, padahal yang kudengar kau Dragon yang sangat menakutkan"ujarku dengan wajah yang kecewa.

"Aku tidak peduli apa yang ingin kau katakan, tapi aku mengingatkanmu jangan mengganggu manusia lagi"ujar Acnologia.

Aku hanya tersenyum saja, lalu memandangnya dengan wajah yang merendahkan.

"Kalau aku tidak mau? Apa yang akan kau lakukan?"tantangku dengan merendahkan, dia hanya terdiam saja.

"Saat itu aku akan membunuhmu!"serunya dengan keras.

Aku hanya tersenyum saja kearahnya, aku merasa sangat senang sekarang. Dia menantangku? Menari sekali… aku ingin lihat seberapa jauh dia bisa menentangku.

"Hee… aku akan melihat sampai mana kau bisa melawanku, Acnologia"ujarku dengan tersenyum lalu pergi meninggalkannya.

-Black Magic Mansion-

Di mansion masih terdengar suara yang sangat mengganggu bagi member yang lainnya, siapa lagi kalau bukan suara Alice, tapi lawannya bukan Rei kali ini melainkan Karin.

"Kau ini…!"

"Kenapa jadi menyalahkanku?! Kau yang menghilangkannya sendiri!"

Begitulah suara-suara yang terdengar dari keduanya, masalahnya cukup serius karena Karin tanpa sadar melupakan dimana ia menaruh kunci yang disuruh oleh 'Dia' untuk dijaga dengan baik-baik.

"Kalian ini kalau ada waktu untuk bertengkar lebih baik cari kunci itu! Kita tidak punya banyak waktu sebelum 'Dia' datang!"kesal Haruka melihat Alice dan Karin yang masih saja saling menyalahkan.

"Kalau kau tidak mengajakku untuk membersihkan boneka bodohmu itu aku tidak akan menghilangkan kunci itu!"kesal Karin dengan menyindiri Alice.

"Huh?! Kenapa kau menyalahkanku?! Kalau kau tidak mau kenapa kau tidak menolaknya saja?! Aku kan tidak memaksamu!"ucap Alice tidak terima.

BRAK

"Kalian ini kalau masih bertengkar silahkan keluar dan urusi permasalahan kalian diluar! Kami yang akan mencarinya!"ujar Rei dengan kesal.

"BERISIK!"seru keduanya pada Rei. Sedangkan Rei hanya diam sambil menahan amarahnya. Alex dan Kazuki hanya menggelengkan kepala mereka dengan pelan, entah kenapa setiap hari mereka selalu saja bertengkar, seperti tidak ada hari selain bertengkar.

"Kalian ini ingin mencari kunci itu atau tidak sih?"tanya Alex dengan menghela nafas.

"Tentu saja aku ingin mencarinya, lah! Jangan menanyakan hal yang sudah pasti!"kesal Karin pada Alex.

"Kalau begitu bisa kita tidak bertengkar sekarang? Kita tidak bisa mencari kunci itu jika kalian masih bertengkar"ujar Alex pada Karin. Karin pun akhirnya memilih diam dan mulai mencari kunci yang hilang itu.

BRAK

Tiba-tiba terdengar suara pintu depan yang dibuka, dan mereka melihat sesosok seorang pemuda berambut hitam dengan memiliki bola mata berwarna crismond eyes.

"HY! KALIAN!"seru orang itu dengan keras. Dan semua member Hell of Star yang mendengarnya pun langsung menoleh kearah pemuda itu.

"Dia sudah datang!"seru mereka dengan kaget.

Sedangkan 'Dia' hanya melihat mereka dengan heran saja.

"Kenapa kalian?"tanyanya dengan heran.

Mereka hanya diam saja, bingung bagaimana akan menjelaskan kalau kunci yang disuruhnya dijaga baik-baik hilang.

"E-Etooo… maafkan aku!"seru Karin dengan menundukkan kepalanya. Sedangkan 'Dia' hanya heran saja, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Lalu tiba-tiba ia mengerti apa yang sedang terjadi sekarang.

"Jangan katakan kalau kunci yang kusuruh kalian jaga itu…!"

"Maafkan aku!"potong Karin dengan cepat.

'Dia' hanya menghela nafas saja, lalu menggelengkan kepalanya. Tapi ia tidak marah karena apa? Dia bukan orang yang cepat marah, dan ia akan melakukan apa yang disukainya. Termasuk memusnakan manusia juga.

"Hahh… padahal aku sudah datang kesini! Jadi percuma"ujar 'Dia' dengan kecewa. Lalu Haruka pun datang mendekat.

"Sekarang kami pun masih mencarinya. Apa kau bisa menunggu sebentar?"tanya Haruka.

'Dia' hanya menghela nafas saja dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.

"Kalian ini… padahal aku hanya meminta kalian untuk menjaga kunci itu sampai aku datang"ujarnya dengan kecewa.

"Berisik! Sudah datang telat marah-marah lagi!"kesal Alice dengan wajah yang kesal kearah 'Dia', sedangkan 'Dia' hanya menghela nafas lagi.

Mau bagaimana lagi?

Akhirnya 'Dia' pun menunggu disalah satu sofa dan member Black Magic pun mencari kunci itu.

"Dari pada kalian mencarinya seperti itu kenapa kalian tidak memakai Sensor Magic-nya Haruka saja?"ujarnya dengan memandang bosan mereka. Mereka pun langsung tersadar dan memandang Haruka.

"Benar juga!"ujar Haruka yang baru menyadarinya lalu ia mulai menggunakan Sensor Magicnya untuk mencari kunci itu, setelah beberapa saat kemudian akhirnya kunci itu pun ditemukan disalah satu koridor.

"Sudah ketemu!"seru Haruka sambil membawa kunci itu dan menyerahkannya kearah 'Dia'.

"Lalu untuk apa kunci itu?"tanya Alice dengan heran.

"Pertanyaan bagus, Alice. Aku akan memusnakan manusia"ujarnya.

Sedangkan mereka hanya memandang 'Dia' dengan wajah yang heran, masih tidak mengerti arti pembicaraan yang dibicarakan oleh 'Dia'.

"Untuk apa?"tanya Alex heran.

"…."

"Kau tidak ingin memberitaukannya pada kami?"tanya Alex dengan heran.

"Tidak, aku tidak akan memberitaukan kalian. Masih belum"ujarnya lagi.

"Baiklah, jadi kita akan melakukan apa untuk memusnakan manusia?"tanya Alex dengan heran.

Sedangkan wajah 'Dia' tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alex, dia memandang mereka dengan wajah senang.

"Pertama-tama kita harus membangkitkan…."

"E.N.D"

-Natsu P.O.V-

Aku membolak-balikkan tubuhku diatas tempat tidur, tapi aku tidak bisa terlelap walaupun seberapa keras aku mencoba memejamkan mataku. Aku masih merasa sangat bersalah pada Lucy sekarang.

Sebenarnya apa yang sudah kulakukan? Kenapa waktu itu aku…?!

DEG

Tiba-tiba aku merasakan hawa panas yang terasa didalam tubuhku, hawa panas yang sangat panas sampai-sampai aku berkeringat dengan deras. Aku memegang dadaku dengan erat.

Sakit

Itu yang kurasakan sekarang, aku mencoba meredamkan sakit didadaku tapi tetap saja rasa sakit itu tidak menghilang, sakit itu menjalar ke seluruh tubuhku.

'….ngun…'

Aku mendengar suara yang aneh didalam benakku, suara yang sangat kecil sekali.

'…ngun…ba…ngun…'

Suara itu tambah keras dibenakku, yang membuat dadaku semakin sakit.

Siapa? Kau siapa?!

Pergilah dari benakku!

"Natsu, Bangun!"

Aku langsung membuka mataku dengan lebar melihat Happy yang memandangku dengan kesal.

"Mou! Kau ini! Aku sudah memanggilmu dari tadi untuk sarapan!"ujar Happy dengan wajah kesal kearahku. Aku masih terdiam masih mencerna perkataan Happy.

Apa suara yang ada tadi itu suara Happy?

"Natsu, kau mendengarkanku tidak?!"ujar Happy dengan kesal. Aku pun mengangguk dan langsung segera menyantap sarapanku.

Dan aku segera bersiap-siap untuk pergi ke Guild Hell of Star, karena hari ini Zeref akan mengumumkan sesuatu.

Aku berjalan dengan diam, Happy terus mengoceh hal yang tidak jelas dan aku hanya mendengarkannya sepanjang perjalanan. Namun walau begitu aku tidak terlalu memerhatikannya. Aku masih kepikiran dengan suara yang ada dibenakku itu.

Sesampainya disana aku melihat sudah banyak yang mengumpul disana, dan member Guild Hell of Star sedikit berada agak jauh dari kami, tidak bisa kusangkal jika aku melihat wajah Lucy itu membuatku menyadari betapa bencinya Lucy pada kami dan juga… Fairy Tail.

Guild yang sangat dikagumi dan disayangi oleh Lucy dulu, dia bahkan akan mengkorbankan nyawanya untuk teman-temannya, dan itu berubah semua karena… aku.

"…Tsu! Natsu!"

"Eh? Apa?"

"Kau ini! Saat orang lain menjelaskan tolong kau perhatikan!"kesal sang Shoudai sambil berkacak pinggang.

Aku hanya mengangguk meminta maaf dan Shoudai pun kembali menjelaskan pengumuman itu pada kami.

"Jadi, kalian harus mengingatnya! Karena 'Dia' sudah akan segera bergerak"ujar Mavis dengan wajah yang serius.

"Anu, Shoudai. Apa sebaiknya kita tidak meminta bantuan Guild yang lain untuk mengalahkan Black Magic?"usul Erza pada Mavis. Mavis hanya menganggukkan kepalanya saja dengan pelan.

"Ya, untuk berjaga-jaga aku sudah memberitaukan ini pada mereka, dan mereka masih meminta konfrimasi Guild yang lainnya, karena ini mungkin akan menjadi perang yang besar"ujar Mavis.

"Terlebih lagi lawan kita bukanlah manusia, jadi kita benar-benar harus memikirkan rencana sebanyak mungkin agar bisa menang, jika kita kalah… manusia benar-benar akan binasa"ujar Zeref lagi.

Aku hanya terdiam lagi.

Manusia akan binasa, huh…?

Entah kenapa aku tidak perduli lagi dengan itu, yang kuinginkan adalah bisa bersama dengan Lucy seperti dulu, dan menjalankan petualangan yang masih banyak sekali.

Hanya itu saja keinginanku...

'Kau mau aku mengabulkannya?'

Aku langsung kaget saat mendengar suara yang tiba-tiba terdengar olehku, aku langsung menoleh kearah kanan dan kiri mencari sumber suara itu tapi tidak kutemukan sumber suara itu.

'Kalau kau mau, aku bisa membantumu'

Aku langsung tersadar kalau sumber suara itu ada pada diriku sendiri.

Kau siapa?

Kenapa kau ada di dalam tubuhku?!

'Kau tidak menyadariku? Padahal aku menyadarimu'

Aku memintamu untuk menjelaskan siapa dirimu! Kau siapa?! Kenapa kau ada didalamku?!

'Huh… aku tidak menyangka aku akan menjadi orang yang buruk seperti ini'

Menjadi orang yang buruk? Sebenarnya kau ini siapa?!

'Hy, kau mau aku mengabulkan keinginanmu itu?'

Kau…. Bisa melakukannya?

'Tentu saja, aku bisa melakukannya jika kau…'

"Natsu! Natsu!"

Aku langsung terkaget saat mendengar suara yang memanggilku. Ternyata yang memanggilku adalah Erza, aku memandangnya dengan sedikit kaget dan dia juga memandangku dengan wajah yang sedikit heran.

"Kau kenapa? Sejak tadi kau melamun"ujar Erza dengan heran. Aku hanya menggelengkan kepalaku saja. Lalu Gray pun datang menghampiriku.

"Kau kenapa Flame-Brain?"tanya Gray dengan wajah yang heran juga. Aku hanya menggelengkan kepalaku saja pelan. Suara yang tadi kudengar didalam benakku sudah menghilang. Apa suara itu hanya ilusi saja?

"Minggir"

Aku pun menoleh kearah belakang dan melihat Lucy yang memandang kami dengan sorot pandangan mata yang dingin, dibelakangnya juga ada Wendy yang memandang kami dengan wajah yang malas.

"Aku bilang minggir! Aku ingin lewat! Apa kalian tidak mendengarku?!"ujar Lucy dengan wajah yang kesal. Erza dan Gray hanya terdiam sebentar lalu bergeser sedikit, Lucy dan Wendy pun mulai berjalan pergi.

Grep

-Normal P.O.V-

Grep

Saat Lucy dan Wendy berjalan menjauhi mereka, tiba-tiba Natsu menahan tangan Lucy dengan erat. Lucy menoleh kearah Natsu dengan tatapan wajah yang sedikit kaget dan heran, lalu menghempaskan tangan Natsu darinya.

"Maaf, bisa kau tidak seenaknya menyentuhku?"ujar Lucy lagi dengan nada yang dingin.

"Gomen…"guman Natsu yang langsung tersadar, sedangkan Lucy hanya memandang Natsu dengan wajah yang tidak suka lalu berjalan pergi.

"Tunggu, Lucy!"

"Apa lagi?"

Lucy pun berhenti dan memandang Natsu dengan wajah yang bosan dan malas.

"Kalau kau ingin mengatakan sesuatu padaku katakanlah dengan cepat! Aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan kalian"ujar Lucy dengan kesal.

Natsu pun kembali terdiam lalu ia memandang Lucy dan Wendy, dilihatnya wajah Wendy yang kesal sambil menunggu kata-kata dari Natsu.

"Lucy-Nee, sepertinya dia tidak akan mengatakan apa-apa, kita pergi sekarang saja"ujar Wendy sambil menggenggam tangan Lucy untuk menarik Lucy pergi.

"Sepertinya begitu"ujar Lucy lagi lalu meninggalkan dia.

Lucy berjalan menjauhi Natsu dan yang lainnya bersama dengan Wendy. Didalam benak Natsu sedang kosong, ia pun berjalan ke salah satu meja yang paling sudut.

"Dia down lagi"ujar Erza dengan sedih. Gray hanya menghela nafas saja lalu mendekati Natsu.

"Apa?"

"Kau bodoh"

"Hah?! Kenapa kau mengatakanku bodoh, dasar Ice-Princess!"kesal Natsu tidak terima saat Gray menghampirinya dan mengatakan dirinya bodoh.

"Kau tau, Natsu. Bukan hanya kau saja yang merasa bersalah! Aku juga merasa bersalah pada Lucy dan yang lainnya! Apalagi tentang Juvia… Tapi sekarang bukan saatnya memikirkan perasaan bersalah itu! Kau harus melihat kedepan untuk menyelamatkan manusia! Kau tadi dengar kan yang dikatakan Shoudai?! Kalau kita kalah melawan Dragon yang bernama 'Dia', manusia benar-benar akan musnah!"jelas Gray pada Natsu. Wajah Natsu hanya diam saja menunjukkan kalau ia tau tentang itu, tapi entah kenapa ia masih belum bisa melakukan apa yang sama seperti Gray lakukan.

Ia dan Gray berbeda. Tapi walaupun Gray dan dia memiliki perasaan bersalah yang sama karena mengeluarkan Nakamanya yang sangat berharga, ia tidak sekuat Gray. Dia menyadari itu sekarang. Ia menerima kalau ia lebih lemah dari Gray sekarang.

"Natsu, yang dikatakan oleh Gray itu benar. Aku tau kau pasti sangat terpukul dan bersalah melihat kepribadian Lucy yang sangat berubah, dan aku juga merasakan perasaan bersalahmu itu"ujar Erza yang mendekat kearah Natsu. Natsu hanya tersenyum miris saja, ia tidak menyangka kalau ia ternyata selemah ini. Walaupun ia pernah menjadi orang yang memenangkan DGM, tetap saja ia hanya orang yang lemah. Jika ia tidak lemah ia pasti bisa menolong Igneel saat melawan Acnologia saat bertarung dengan Guild Tartaros, dan juga bisa menyelamatkan Lucy.

"Heh… aku tidak menyangka kalau diriku ternyata selemah ini…"guman Natsu dengan tersenyum miris kearah mereka. Lalu ia pun berdiri dan beranjak pergi dari mereka semua.

"Dasar si bodoh itu! Apa dia mengerti apa yang kumaksudkan?!"kesal Gray yang melihat Natsu meninggalkannya disini bersama Erza dan Happy.

"Kita tidak bisa pungkiri Natsu merasa sangat bersalah pada Lucy, melebihi perasaan bersalah kita"ujar Erza dengan pelan. Happy hanya menunduk saja tidak bisa melakukan apa-apa. Dalam hati Happy ia ingin sekali sahabatnya berkumpul kembali seperti dulu dan melanjutkan petualangan yang sangat mendebarkan untuk mereka. Tapi itu sepertinya hanya tinggal kenangan.

-Natsu P.O.V-

Aku berjalan menjauhi mereka. Aku tidak bisa memandang mereka dengan jelas saat ini. Itu kembali menyadarkanku betapa aku menyedihkan sekali.

'hy'

Kau lagi. Apa maumu sekarang? Apa kau tidak lihat aku sekarang tidak ingin berbicara dengan seseorang?

'…kau lemah…'

Diamlah! Bisa tidak kau diam sedikit?! Aku tidak ingin berbicara pada siapapun sekarang! Pergilah dari diriku!

'…kau sangat menyayangi gadis itu, huh…?'

Aku hanya diam saja. Tidak membalas perkataannya.

"Diam"

'Tapi kau lemah, kan? kau tidak bisa melakukan apapun'

"Diam!"

'Kau orang yang menyedihkan. Kau bahkan tidak bisa melindungi orang yang kau sayangi'

"KUBILANG DIAM!"

Orang-orang yang mendengar suaraku yang keras hanya memandangku dengan tatapan heran. Aku langsung tersadar akan tatapan mereka dan berjalan pergi.

'Heh… kau melemparkan amarah pada orang lain…?'

"Bisakah kau diam? Kepala sedang sakit sekarang. Jadi tolong diamlah"ujarku lagi sambil menghela nafas dengan panjang dan duduk disalah satu bangku yang tersedia di taman.

Aku menutup mataku dan membiarkan angina berhembus mengenaiku, sedikit membuat perasaan menjadi tenang.

-Black Magic Site-

"E.N.D?"

"Tapi bukannya E.N.D itu sudah…"

"Mati? Tersegel? Ahahaha… tidak-tidak. Dia memang tersegel tapi kita masih bisa membangkitkannya"ujar 'Dia' dengan tersenyum.

"Tapi kan, Everst. Jika kau membangkitkan E.N.D belum tentu dia akan setuju bergabung dengan kita, kan?"tanya Alex.

'Dia' atau kita sebut saja Everst hanya tersenyum kearah mereka, seperti ia sudah mempunyai rencana yang akan dilakukan.

-Lucy Site-

Lucy sedang duduk dengan wajah termenung di meja perpustakaan. Pandangannya tertuju pada sebuah buku namun pikirannya melayang.

"Lu-Chan"

Lucy langsung tersentak setelah mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, ia menoleh kearah orang yang memanggilnya, seorang gadis berambut biru sedikit bergelembang.

"Levy…Chan…"

Levy hanya tersenyum memandanginya, lalu duduk disebelah Lucy dan melihat buku yang ada dihadapan Lucy.

"Buku itu… kau masih melanjutkan novel yang kau tulis untukku?"tanya Levy pada Lucy. Lucy hanya terdiam saja tidak menjawab. Agak canggung berinteraksi dengan Levy sekarang. Walaupun tidak dapat dipungkiri kalau dia adalah sahabatnya dulu. Namun sejak kejadian yang menimpanya itu membuatnya ia sedikit canggung.

"Nee… kau masih memperbolehkanku memanggilmu Lu-Chan…?"tanya Levy dengan hati-hati. Lucy hanya melirik Levy sedikit dan mengangguk dengan pelan.

Levy yang mengetahui jawaban Lucy pun tersenyum lebar dengan perasaan senang, setidaknya ia bisa menjadi lebih dekat sejak kejadian itu.

Mereka berdua sedikit mengobrol dengan tema novel yang dibuat oleh Lucy, atau sebenarnya Levy yang banyak bicara sedangkan Lucy hanya mengangguk dan sesekali menjawab pertanyaannya. Namun untuk Levy itu sudah lebih dari cukup, ia senang jika ia bisa mengobrol dengan Lucy setelah sekian lama. Namun di hati kecil Levy juga terdapat keraguan, apakah ia masih bisa bersahabat dengan Lucy seperti dulu, tidak sebelum itu apakah ia bisa menjadi teman bagi Lucy lagi? Pikirannya mulai berpikiran buruk namun Levy segera menggelengkan kepalanya untuk menepis semua pikiran buruk di pikirannya.

"Nee, Lu-Chan… apa aku boleh bertanya sesuatu?"tanya Levy dengan hati-hati. Lucy hanya mengangguk saja.

"Ettoo… apa Lu-Chan masih membenci Fairy Tail?"tanya Levy dengan sedikit pelan. Lucy hanya terdiam lagi tidak menjawab. Lucy menjadi bingung sekarang. Apakah ia masih membenci Fairy Tail. Tapi…

"…"

"A-Ah, benar juga ya! Aku nanya apa sih? Maaf ya, Lu-Chan. Kau tidak usah memikirkan pertanyaan bodohku itu. Hehehehe…"tawa Levy yang berusaha mencairkan suasana. Lucy masih terdiam saja sambil melanjutkan penulisan novelnya.

'Membenci Fairy Tail… apa aku masih membencinya…?'pikir Lucy dengan suasana hati yang bimbang.

"N-Nee, Lu-Chan, apa kau mau berjalan ke kota bersamaku?"tanya Levy lagi. Lucy terdiam sebentar lalu berdiri.

"Tentu"ujar Lucy singkat.

Levy yang mendengar itu sangat senang dan mengangguk dengan gembira. Lucy kembali tersenyum tipis tanpa ia sadari. Tapi ia masih bimbang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Levy tadi. Padahal waktu ia ditanya tentang itu ia akan mudah menjawabnya tapi kenapa sekarang ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu lagi?

Wendy melihat Lucy dan Levy yang berjalan bersama dengan Levy kearah luar Guild, perasaan Wendy sedikit sedih saat melihat Lucy pergi dengan Levy, tapi ia juga tidak bisa membatasi Lucy yang pergi dengan sahabatnya.

"….Lucy-Nee"guman Wendy pelan.

-Black magic Site-

"Kita sudah sampai di kota Silver, jadi bagaimana? Mau menghancurkan kota lagi?"tanya Alice pada Everst.

Everst hanya menggeleng saja sambil tersenyum.

"Tidak, tidak perlu. Kau tidak perlu menghancurkan kota ini lagi, aku sendiri yang akan pergi menemui E.N.D, kalian tunggulah disini"ujar Everest.

"Tapi Everest-sama!"

"Tunggu disini"ujar Everest lagi. Mereka pun akhirnya mengangguk saja dan menuruti perintah Everest untuk menunggu disana.

Everest pun langsung berjalan menjauhi mereka dan masuk kedalam kerumunan orang-orang. Walau baru beberapa hari kota ini dihancurkan tapi sepertinya kota ini masih bisa bertahan.

-Everest P.O.V-

Aku sedang berjalan untuk menemui E.N.D, menurutku ia sudah terbangun namun ia masih tersegel dalam tubuhnya itu.

Sedikit menyusahkan tapi untuk mencapai tujuanku aku tidak akan berdiam diri saja.

Brukk

"Maaf"

"Tidak-tidak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menabramu"ujarku lagi dengan tersenyum. Senyuman palsu tentunya, ini akan berguna di berbagai tempat.

"Kau tidak apa-apa, Lu-Chan?"tanya seorang gadis berambut biru pada gadis pirang ini. Gadis pirang yang dipanggil Lu-Chan atau apalah itu hanya mengangguk saja.

Aku hanya tersenyum kearah mereka berdua dan berjalan pergi lagi, namun pandangan gadis pirang itu masih melihatku dengan tajam. Aku berjalan lebih cepat untuk menghindari tatapan tajam gadis pirang itu.

Tak berapa lama aku berjalan, aku melihat seorang pemuda yang sedang terduduk di bangku taman dengan pandangan kosong.

Bingo

Kutemukan dia!

-Natsu P.O.V-

Aku masih terdiam di bangku taman sambil merenung. Sebenarnya apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa menjadi lemah seperti ini! Aku harus bisa mempersiapkan diriku untuk mengalahkan 'Dia'!

'….Kau akan mati'

Apa maksudmu? Jika kau tidak menghibur pergi dariku sekarang.

'…Keras kepala, kuperingatkan kau sebaiknya pergi dari sini'

Diamlah! Sebaiknya kau pergi dariku! Bisakah aku mendapatkan ketenangan?!

'….'

"Hallo"ujar seseorang padaku. Seorang pemuda yang berambut hitam dengan wajah tersenyum kearahku.

"… Apa kau memerlukan sesuatu dariku?"tanyaku padanya. Dia hanya tersenyum saja kearahku.

PYASSTT

Tiba-tiba ia langsung menusukku dengan cepat tepat di arah dadaku.

"UKKH…!"

Aku langsung memegang dadaku dengan rasa sakit yang melanda diriku, siapa orang ini?!

"Kau masih belum mati juga? Memang susah untuk membunuh Dragon Slayer"ujarnya dengan tersenyum –tidak- lebih tepatnya menyeringai.

'Kan sudah kuperingatkan'

Kau…!

'Salah sendiri, kau sudah kuperingatkan untuk pergi dari tempat ini dan kau bersikeras menolak. Kau akan mati disini, Natsu Dragneel'

Apa kau tidak mau menolongku? Bukannya jika aku mati kau juga akan mati, huh?!

'Memang, tapi sayangnya jika kau mati aku bisa kembali dan mengendalikan tubuhku ini dengan bebas dan melakukan apapun, bisa saja aku membunuh semua orang yang kau sayangi itu'

Kau monster!

'Apa kau tidak sadar kalau dirimu juga monster? Aku adalah kau dan kau adalah aku. Awalanya memang kita ini adalah satu'

"Hee… masih belum mati juga, ya? Membangunkan E.N.D ternyata sulit juga"ujar Everst dengan tersenyum kearahku.

Sial! Aku tidak bisa bergerak! Kepalaku mulai pusing dan penglihatanku mulai memudar, cth! Darah dari tubuhku banyak yang keluar! Sial! Sial! Sial! Kenapa aku selemah ini?!

"Hmm… sepertinya ini akan sedikit memakan waktu, apa boleh buat sepertinya aku harus memakai cara yang sedikit keras"ujar Everst dan mengeluarkan sihirnya mengarahku.

"Natsu!"

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Suara yang sangat kukenal, suara ini adalah suara milik…

"Lu…cy…?"gumanku pelan sambil mencoba melihat siapa yang memanggilku. Dan ternyata memang benar. Lucy sedang berlari mendekatiku dan dibelakangnya juga terdapat Levy yang sangat kaget melihat diriku yang sekarat.

"Lu-Chan! Kita harus pergi sekarang! Kita harus mengobati luka Natsu di Guild! Kyaa!"ujar Levy yang terkejut saat Everst menyerang Levy.

"Lu…cy… pergi…dari… sini… kau…tidak akan…bisa… mengalahkannya…"ujarku dengan pelan.

"Apa yang kau katakan?"ujar Lucy dengan panic dan tidak mengerti. Sial kenapa disaat ini?! Kenapa didepan Lucy aku menjadi lemah?! Kalau begini bagaimana bisa menyelamatkannya dari kegelapan huh, Natsu Dragneel?!

"Menyusahkan sekali…"ujar Everst dengan nada membosankan. Lucy pun mengeluarkan Celestia Spiritnya Loke, dan Loke dengan cepat menyelamatkan Levy dari serangan Everst.

"Lucy, apa yang terjadi disini?"tanya Loke dengan heran. Kulihat Lucy hanya menggeleng tidak tau, tapi yang pasti Lucy tau bagaimana keadaanku sekarang.

"Loke, panggil Wendy ke mari! Disaat seperti ini Natsu tidak akan bisa bergerak, jika ia bergerak luka yang diterimanya semakin melebar!"ujar Lucy memerintahkan Loke. Loke pun mengangguk mengerti dan membawa Levy yang pingsan ke Guild.

Lucy pun melihatku dengan wajah yang sulit aku artikan dan dia pun mengeluarkan Healing Magic-nya berusaha untuk menutup luka yang terbuka.

"Lu…cy…"

"Natsu? Kau mengatakan apa?"tanya Lucy padaku. Aku hanya tersenyum tipis saja, setidaknya aku senang dia mau mendengarkanku.

"Maaf…kan… aku…"ujarku dengan pelan. Dia tampak kebingungan dengan apa yang ingin kusampainkan.

"Apa yang kau katakan Natsu? Aku tidak begitu bisa mendengarmu"ujarnya dengan wajah yang sedih. Aku hanya tersenyum tipis saja.

Aku meraih helaian rambut pirangnya dengan pelan, dan dia menunduk sedikit.

"Lucy, aku-"

-Lucy P.O.V-

Mataku langsung membulat lebar saat Natsu mengatakan itu. Tanganku bergetar dan entah mengapa aku merasa ingin menangis dengan keras sekarang.

"Lucy-Nee!"seru seorang gadis dari belakang yang kutau suara itu adalah suara milik Wendy. Wendy tampak terkejut dengan apa yang ada didepannya sekarang.

Natsu yang berlumuran darah.

-Normal P.O.V-

Lucy hanya diam saja saat Wendy langsung mengeluarkan Healing Magic-nya untuk menyelamatkan Natsu. Namun Wendy juga merasa aneh karena sejak tadi ia mengeluarkan Healing Magic, Natsu tidak bergerak sama sekali dan Lucy juga tidak mengatakan apapun.

Seketika pula Wendy menyadari apa yang terjadi sekarang pada Lucy dan Natsu. Dengan tangan gemetaran dan menahan perasaan yang takut, sedih, dan ingin menangis ia memandang Lucy dengan wajah yang memerah.

"Lucy-Nee, jangan-jangan Natsu-san sudah…"

"…."

Melihat tidak ada respon dari Lucy, Wendy langsung membulatkan matanya dan memandang Natsu dengan diam tidak mengatakan apapun. Semuanya sudah terlambat. Lucy maupun Wendy tidak bisa menyelamatkan Natsu Dragneel.

Natsu Dragneel

The Fire Salamder who will protect his friends and family

with all his strength and life sleep deep here

XXX-X794

-To Be Contiune-

Yuki: "Hy, Minna-san! Bertemu dengan Yuki di Chapter 4 yang sudah lama tidak di update ^-^. Yuki minta maaf karena Update Yuki sangat lama bahkan Yuki sempat lupa untuk menge-chek ulang cerita Yuki agar tidak ada kesalahan. Dan terima kasih kepada Reader-san yang sudah Me-Review dan memberi semangat pada Yuki, serta Reader-san yang dengan setia menunggu kelanjutan cerita Yuki ini. Baiklah, semoga Chapter kali ini bisa memuaskan rasa penasaran Reader-san sekalian. Sampai nanti di chapter selanjutnya, Bye-bye ^-^".

Thanks for all reading this Fict, and please give us advice

R

E

V

I

E

W