Deg. Deg. Deg

Sasuke menatapnya?

Sasuke masih terus menatapnya?

Hinata tidak dapat mengalihkan padangannya dari sepasang onix itu.

Apakah Sasuke menyanyikan ini untuk dirinya?

'Kenapa Sasuke harus membuatnya merasa seperti ini? Merasa menjadi sosok yang diinginkannya. Bukankah dulu dia tidak mau melihatnya lagi?'

Hinata menyentuh dadanya dengan erat. Baginya, yang ada di depannya saat ini hanyalah Sasuke. Dia tidak lagi melihat keberadaan teman-temannya yang lain bahkan suara alat musik yang terus dimainkan pun terasa sunyi bagi Hinata. Dalam sekejab semua yang ada di sekitarnya mendadak bergerak melambat kemudian berhenti.

Sasuke terus memaku Hinata seolah tidak mengijinkannya untuk mengalihkan pandangan sedetik pun darinya.

Perasaan bahagia menyeruak di setiap organ dalam tubuh Hinata, dia merasa menjadi sosok yang diinginkan oleh Sasuke. Hati Hinata terasa melambung tinggi, namun detik itu juga ia merasa terjatuh seketika.

Tatapan itu?

Tatapan itulah yang membuatnya jatuh terjerat.

Tatapan itulah yang membuatnya merasa menjadi sosok yang istimewa.

Namun, tatapan itu jugalah yang membuatnya seolah harus menelan pil pahit di saat yang bersamaan.

Kenangan cinta pertama? Benarkah itu cinta pertama? Pantaskah disebut cinta pertama? Bolehkah dia menganggapnya kenangan?

Ya, kenangan itulah yang membuatnya menjadi seperti ini. Menjadi sosok yang berbeda. Benar-benar berbeda menurut pandangan orang lain. Kenangan itu juga yang membuatnya berubah.

Bagi Hinata, cinta pertama untuk dirinya tak seindah cinta pertama seperti apa yang orang-orang katakan.

Tidak seperti cerita Sakura yang menjalin hubungan yang unik dengan Naruto ataupun seperti Ino yang selalu mendapat kata-kata atau perlakuan yang romantis dari Sai.

Bagi Hinata, cinta pertama sama seperti mengocok kartu. Seseorang tidak akan tahu kartu apa yang akan didapatkan. Sama halnya seperti sebuah permainan, cinta pertama yang membahagiakan atau tidak tergantung dari keberuntungan seseorang.

Hati Hinata terasa berdenyut nyeri mengingat kenangan paling buruk yang pernah dialaminya selama 17 tahun ini.

Pikirannya kembali kacau saat tiba-tiba ingatan buruk tiga tahun silam kembali terngiang di kepalanya.

~flashback on~

Hinata dan Sasuke berada di sekolah yang sama saat Junior High bersama Ino, Sakura dan temannya yang lain yang saat ini berada di studio.

Pada masa-masa awal masuk sekolah, Sasuke sudah menjadi perhatian semua orang di manapun dia berada. Siapa sih yang tidak tertarik dengan keturunan bungsu klan Uchiha itu? Dari namanya saja sudah menarik perhatian, Uchiha adalah salah satu keluarga terpandang di Jepang. Mereka merajai bisnis di bidang otomotif dan perhotelan. Apalagi klan Uchiha sejak dulu sudah tersohor karena para keturunannya memiliki paras yang rupawan.

Begitu pula dengan Sasuke, awal kedatangannya di sekolah sudah begitu menggemparkan semua orang. Wajah tampan yang terkesan dingin karena jarang tersenyum, kulit yang putih bersih khas Uchiha, tubuh yang tegap dan tinggi untuk seumuran anak Junior High, rambut raven bergaya emo serta mata onix tajam yang menjadi daya tarik utamanya.

Sasuke adalah pribadi yang dingin dan tertutup. Dia jarang mau berbicara dan menanggapi perkataan orang lain. Tapi justru inilah yang membuatnya digilai oleh para gadis-gadis. Pembawaannya yang tenang dan misterius membuat para gadis yang menjadi fans girl-nya akan berteriak-teriak memanggil namanya ketika dia lewat.

Sasuke yang sejak kecil selalu menjadi sorotan berkat klannya, sudah merasa terbiasa dengan keberadaan dan perhatian dari gadis-gadis berisik yang berada di sekitarnya. Dia hanya merasa bosan, karena menurut otak jeniusnya gadis-gadis itu hanya akan merepotkannya saja.

Sasuke memang berteman sejak kecil dengan Naruto dan Sakura yang selalu kelebihan energi untuk berbicara dan bertingkah, tapi menurutnya mereka tidak semerepotkan para fans girl-nya, entahlah apa alasannya. Mungkin karena Sasuke merasa terbiasa dengan keberadaan kedua sahabatnya itu.

Sasuke dan Hinata berada dalam kelas yang sama. Mereka sama-sama berasal dari klan terhormat. Klan Hyuga adalah salah satu klan tertua di Jepang, mereka memiliki kekayaan serta kesuksesan yang menyamai klan Uchiha dan Uzumaki. Klan Hyuga bergerak di bidang komunikasi dan teknologi, serta industri yang berhubungan dengan kegiatan ekspor-impor.

Namun bagai langit dan bumi, Sasuke dan Hinata adalah sosok yang sangat berbeda.

Meskipun klan Hyuga terkenal dengan paras menawan dan mempesona namun hal itu seolah tidak berlaku bagi Hinata. Dia hanyalah seorang gadis yang tidak tahu bagaimana caranya berpenampilan. Hinata adalah gadis culun yang tidak mempedulikan fashion, mode dan segala hal yang digilai para gadis pada umumya. Dia memiliki tubuh yang berisi cenderung gemuk karena kebiasaannya yang suka mengemil ketika sedang belajar. Dia berwajah bulat dengan pipi cubby dan mata yang bulat juga. Seolah belum cukup, Hinata juga memakai kacamata bulat dengan poni depan dan rambut yang selalu dia kucir ataupun dia kepang dua. Selera berpakaiannya juga selalu kebesaran dan kedodoran.

Hinata adalah tipe gadis yang pendiam dan pemalu. Meskipun terkadang dia juga bisa menjadi sosok yang cerewet ketika berhadapan dengan orang yang sudah dekat dengannya. Hinata bukanlah orang yang pandai bergaul, tapi dia adalah gadis yang menyenangkan ketika diajak berbicara. Dia bersahabat sejak kecil dengan Kiba dan Shino yang saat ini berada di kelas yang berbeda dengannya.

Walaupun Hinata selalu berpenampilan culun, tapi dia memiliki kecerdasan dan kejeniusan yang diwariskan oleh klan Hyuga, sama halnya dengan Hyuga Neji yang saat itu menjabat sebagai ketua OSIS, Hinata juga terkenal dengan kepandaiannya dalam bidang akademik. Oh, jangan lupa dengan suara merdu dan kepiawaiannya dalam menggunakan alat musik gitar serta piano.

Kecerdasan Hinata dan Sasuke telah menjadi rahasia umum bagi orang-orang di sekitarnya. Bahkan mereka sering bersaing untuk mendapat posisi terbaik di sekolah, apalagi mereka berada dalam kelas yang sama. Seolah belum cukup, pihak sekolah pun selalu menyandingkan mereka dalam berbagai hal, mulai dari keikutsertaan berbagai olimpiade dan kontes-kontes musik atau menyanyi.

Karena seringnya disandingkan, mau tidak mau Hinata dan Sasuke menjadi sering menghabiskan waktu bersama. Mulai dari berlatih musik dan menyanyi sampai menjalani tutor untuk persiapan mengikuti olimpiade.

Hal inilah yang sering membuatnya menjadi bahan gunjingan dari orang-orang terutama para fans girl Sasuke. Meskipun Hinata memang pantas disandingkan dengan Sasuke karena kecerdasan yang dimilikinya tetapi bagi mereka Hinata adalah seorang gadis culun yang merusak pemandangan di sekitar pangeran es mereka.

Sering kali Hinata mendapat lirikan sinis ataupun cibiran langsung dari para gadis tersebut. Namun Hinata seolah menganggap mereka angin lalu, karena baginya selama Sasuke tidak pernah merasa terganggu dengan keberadaannya, dia tidak akan mempermasalahkan tanggapan dan pendapat orang lain tentangnya.

Kebersamaan Hinata dan Sasuke tidaklah menjadi alasan untuk membuat hubungan mereka menjadi begitu dekat, Sasuke tetaplah seorang Manusia Es bagi Hinata. Hanya saja sikap Sasuke yang biasanya irit bicara dan selalu dingin terhadap gadis justru berlaku sebaliknya ketika berhadapan dengan Hinata. Sasuke mulai bersikap jahil dan selalu mencari perdebatan dengannya. Belum lagi sifat usil yang selalu dilakukan oleh bungsu Uchiha itu yang selalu berhasil membuat Hinata kesal kepadanya.

Kebersamaan Hinata dan Sasuke memang hanya berupa pertengkaran dan adu mulut saja, tetapi dari sinilah mereka mulai mengetahui kebiasaan dan kesukaan satu sama lain. Mereka saling memahami dengan cara yang berbeda.

Suatu ketika Sasuke dan Hinata ditunjuk sebagai salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti festival tahunan yang selalu diadakan di Konoha. Mereka akan tampil berduet dalam acara tersebut.

Hal ini adalah sesuatu yang membahagiakan sekaligus menyedihkan bagi Hinata kerena bersamaan dengan itu, Hinata juga menerima kabar tentang kepindahannya yang mendadak. Hinata merasa bahwa ini adalah penampilannya yang terakhir bersama dengan Sasuke.

Hinata bertekad bahwa penampilannya kali ini akan menjadi kenangan yang tidak akan pernah terlupakan baginya. Mengingat kebersamaanya selama dua semester ini bersama Sasuke, tentunya hal ini akan menjadi sesuatu yang berat, karena dengan seiring berjalannya waktu Hinata menyadari bahwa pikiran dan seluruh atensinya telah tercuri oleh bungsu Uchiha tersebut.

Hinata tidak tahu kapan mulanya dia selalu memberikan seluruh ruang dalam pikirannya kepada Sasuke. Saat mereka sering bersama? Saat mereka bertengkar? Saat mereka berdebat? Saat mereka bernyanyi bersama? Ataukah saat pertama kali ia bertemu dengan Uchiha itu?

Hinata ingat, ketika pertama kali dia bertatapan dengan onix Sasuke, dia merasa seolah dunia berhenti seketika. Klise memang, tapi itulah kenyataannya. Tatapan Sasuke seolah mengunci Hinata dan membuat kinerja jantungnya meningkat seketika. Belum lagi rona merah yang menjalar di seluruh wajah hingga lehernya. Sensasi menyenangkan yang membuatnya tidak dapat melupakan Sasuke bahkan dengan seiring berjalannya waktu.

Mungkin Hinata adalah gadis bodoh. Gadis yang tidak tahu caranya bertindak.

Dengan debaran jantung dan rona wajah yang menggila setiap dia berada di dekat Sasuke, justru membuatnya seolah bersikap antipati terhadap Uchiha tersebut. Hinata yang biasanya pemalu, justru akan bersikap ketus jika berhadapan dengan Sasuke. Sebenarnya Hinata tidak tahu jenis perasaan apa yang dialaminya pada Sasuke. Maka dari itulah dia selalu bersikap cuek dan seolah tidak peduli padanya.

Saat ini Hinata mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Jam pelajaran baru saja usai, tapi anak-anak masih banyak yang belum berniat untuk pulang ke rumah masing-masing.

Hinata melihat ke arah bangku Sasuke. 'Kemana dia pergi? Dasar Sasuke, selalu saja bersikap seenaknya. Padahal sebelumnya mereka sepakat akan berlatih sebentar sebelum tampil di festival sore ini.' Hinata menggerutu dalam hati.

Hinata berjalan menghampiri kedua sahabatnya, Sakura dan Ino yang terlihat sedang bergosip di kursi mereka. "Apa kalian tahu kemana Sasuke pergi?"

"Hinata? Bukankah kau bilang kalau kalian akan latihan siang ini?"

"Benar Ino, tapi saat ini aku tidak tahu kemana perginya dia."

"Kau sudah membuat kesepakatan dengan dia sebelumnya kan?"

Hinata menganggung menjawab pertanyaan Sakura.

"Mungkin dia menunggumu di ruang musik, Hinata."

"Apa mungkin begitu? Ah, ya sudahlah. Aku akan menyusulnya sekarang saja." Hinata berbalik bersiap melangkah menuju pintu.

"Oh iya, Hinata." Hinata menghentikan langkah lalu menatap kembali kedua sahabatnya. "Jangan lupa nanti setelah kau tampil, kau tidak boleh langsung pulang! Kau harus menikmati festival tahun ini dengan kami!" Ino menatap Hinata berapi-api.

"Benar kata Ino pig. Aku juga akan marah kalau kau sampai tidak menemui kami, Hinata. Sebentar lagi kita akan liburan, jadi akan sulit untuk berkumpul lagi seperti ini."

Hinata tersenyum dan mengangguk mendengar gerutuan kedua sahabatnya ini. Kemudian dia melambai dan kembali berjalan ke arah pintu.

Hinata menghembuskan nafasnya berat. Dia tersenyum sendu.

Dia pasti akan sangat merindukan kecerewetan Ino dan Sakura serta kebersamaanya dengan Kiba dan Shino. Hinata memang belum memberitahu siapa pun tentang kepindahannya, dia tidak siap kalau harus memberikan salam perpisahan. Namun bagaimanapun bagi Hinata, mereka adalah sahabatnya yang berharga jadi dia berniat akan memberitahu mereka tentang hal ini setelah festival selesai nanti.

Lalu bagaimana dengan Sasuke?

Hinata merasa gamang. Perlukah dia memberitahunya juga?

Tapi apa pentingnya Sasuke tahu tentang kepindahannya atau tidak?

Mungkin Hinata berharap, hanya sedikit berharap bahwa Sasuke akan bersedia untuk sedikit memikirkannya, paling tidak sebuah salam terakhir dari Sasuke akan dapat dijadikannya sebagai kenangan yang akan dirindukannya di Konoha.

Ya, akhirnya Hinata memutuskan akan memberitahu Sasuke. Mungkin saat mereka di ruang musik, atau saat festival, atau saat mereka telah selesai bernyanyi, atau entahlah, Hinata tidak ingin merencanakannya.

Hinata berjalan melewati lorong sambil menundukkan kepalanya. Setelah kedekatannya dengan Sasuke, Hinata sering kali mendapat pelototan atau gunjingan dari beberapa fans girl Sasuke. Bahkan Ino dan Sakura sempat meneriaki mereka beberapa kali karena mereka berani mencibir Hinata secara terang-terangan di hadapannya. Tapi Hinata sudah memantapkan hati bila bukan Sasuke sendiri yang memintanya, dia tidak akan pergi selangkah pun.

"Hinata, tunggu!"

Reflek Hinata menghentikan langkahnya dan berbalik.

Hinata mengerutkan keningnya bingung menatap cowok berambut merah berantakan dengan nafas yang tersengal-sengal di hadapannya. "Ada apa Sasori-kun?" Sasori adalah salah satu teman baik Neji sejak kecil. Dia sering berkunjung ke mansion Hyuga sehingga Hinata dan Sasori menjadi cukup dekat.

"Ikut aku!" Sasori menarik tangan Hinata untuk mengikutinya.

"Ada apa Sasori-kun? Kenapa buru-buru sekali?" Mereka berhenti di taman belakang sekolah.

"Mengapa kau tidak bilang kalau akan pindah ke London?" Wajah datar Sasori sudah mampu membuat Hinata mengerti bahwa cowok baby face itu sedang marah padanya.

Hinata menghembuskan nafasnya berat. "Kau sudah tahu?"

"Kau sengaja tidak memberitahuku?" Sasori mulai menaikkan nada bicaranya.

"Aku.. Aku belum siap memberitahumu."

Sasori mendecih. "Mungkin kalau aku tidak sengaja melihat tiket pesawatmu di kamar Neji, sampai saat keberangkatanmu pun kau tidak akan siap memberitahuku." Sasori menatap tajam ke arah Hinata.

"Maafkan aku." Hinata menunduk menyembunyikan wajahnya.

Sasori tahu kalau dia akan kalah saat itu juga ketika melihat wajah sedih Hinata. Dia terlalu menyayangi gadis itu. Sasori memejamkan matanya. Dia berjalan mendekat ke arah Hinata dan memegang kedua telapak tangan gadis itu.

"Aku menyayangimu, kau tahu."

Hinata mendongak menatap Sasori. Dia tersenyum sendu. "Aku tahu, Sasori-kun."

Sasori tersenyum dan menarik Hinata ke dalam pelukannya. Tubuh Hinata kaku seketika. "Sasori-kun." Hinata menaikkan tangannya hendak melerai pelukan Sasori.

"Sebentar saja Hinata."

Hinata menghembuskan nafas perlahan, akhirnya dia membiarkan Sasori memeluknya. Mungkin ini adalah pelukan pertama dan terakhir mereka, karena Hinata sendiri tidak tahu kapan dia akan kembali ke Konoha dan bertemu lagi dengannya.

Setelah cukup lama berada di pelukan Sasori, Hinata pun akhirnya memutuskan untuk kembali mencari Sasuke. Sasori sudah menawarkan diri untuk menemaninya, tapi Hinata merasa bahwa Sasuke tidak pernah suka saat bertemu dengan Sasori. Sasuke akan selalu bersikap kasar dan menjengkelkan ketika ada Sasori di antara mereka.

Hinata berjalan menuju ruang musik tempat dia membuat janji dengan Sasuke. Dia telah terlambat satu jam dari waktu janjian mereka. Hinata membuka pintu di depannya dengan perasaan khawatir, dia berharap semoga Sasuke tidak marah kepadanya.

Sasuke sedang duduk di atas kursi piano di ruang musik sambil memegang ponselnya. Hinata berjalan dengan ragu ke arah Sasuke.

"Kau sudah lama di sini?"

Hinata menatap Sasuke menunggu jawaban darinya, tapi sepertinya Sasuke lebih memilih untuk tetap diam.

Hinata menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tahu kalau saat ini Sasuke sedang marah padanya, terlihat dari rahang cowok itu yang mengeras karena berusaha menahan emosinya. "Maafkan aku Uchiha, tadi aku.." Hinata menelan kembali perkataannya dengan susah payah saat Sasuke mendongak dan menatapnya dengan tajam.

Deg.

Hinata meremas kuat roknya, sebelumnya Sasuke tidak pernah bersikap seperti ini padanya.

Tiba-tiba Sasuke berdiri dari kursinya dan berjalan melewati Hinata begitu saja.

"Mau kemana kau Uchiha?" Hinata berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar.

"Bukan urusanmu, Hyuga."

Deg.

Sasuke mengucapkannya dengan begitu dingin. Hinata meremas roknya lebih kuat.

"Tapi kita akan berlatih."

"Cih, tidakkah kau memiliki jam, Hyuga?"

"Aku tahu, aku.. Aku.."

"Kau tidak menghargai waktuku, Hyuga. Kau pikir aku memiliki banyak waktu untuk sekedar menunggu gadis sepertimu? Kau pikir kau siapa hah?"

"Uchiha, aku.. Aku.."

Sasuke tidak mempedulikan perkataan Hinata, dia melanjutkan langkahnya menuju ke arah pintu.

"Tunggu, Sasuke! Aku belum selesai bicara padamu."

Sasuke berbalik dan menatap Hinata tajam "Aku tidak punya waktu untuk bicara padamu. Jangan menggangguku! Dasar jelek."

Deg.

Sasuke pergi begitu saja meninggalkan Hinata yang terpaku.

Hinata menatap nanar punggung Sasuke yang semakin menjauhinya. Dia merasakan seketika jiwanya seolah direnggut paksa. Hatinya terasa kosong dan pikirannya buntu.

Hinata menatap lantai ruang musik dengan posisi yang sama seperti saat Sasuke meninggalkannya. Dia sendiri tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana.

Hinata pulang ke mansion Hyuga dalam keadaan yang jauh dari kata baik. Dia terus memegang dadanya yang berdenyut nyeri mengingat perkataan tajam Sasuke beberapa saat yang lalu. Dia berusaha menghapus jejak-jejak air mata yang mengalir di pipinya, tapi sepertinya hal itu sia-sia karena secepat itu pula air matanya akan turun kembali.

Sesampainya di kamar, Hinata kembali menangis. Ayah dan kakaknya membiarkan dia menenangkan diri karena mereka berpikir bahwa Hinata merasa sedih harus berpisah dengan teman-temannya.

Hinata terus mengurung dirinya di kamar, dia bahkan melupakan acara festival, janjinya untuk bertemu dengan Sakura dan Ino, serta penampilannya untuk menyanyi bersama Sasuke.

Sasuke?

Uchiha Sasuke?

Hinata kembali meneteskan air matanya ketika mengingat nama itu. Nama seseorang yang telah menorehkan luka melalui perkataan yang dikeluarkannya. Hinata terus menangis sampai akhirnya tertidur karena kelelahan.

Keesokan harinya, Hinata terbangun dalam keadaan yang mengenaskan. Rambut yang biasanya sehalus sutra, kini terlihat kusut. Mata levendernya terlihat semakin bulat karena sembab akibat terlalu banyak menangis.

Hinata memandang dirinya di cermin, seketika air mata telah menggenang di ujung matanya bersiap untuk turun. Dia menghembuskan nafasnya perlahan, bersiap-siap untuk berangkat ke bandara karena Neji sudah memanggilnya berkali-kali.

Tidak butuh lama bagi Hinata untuk bersiap, dia mengambil ponsel yang sejak kemarin sengaja dimatikannya kemudian turun menemui orang-orang yang telah menunggunya.

Hinata dan Hiashi diantarkan oleh Neji dan Sasori menuju bandara. Mereka tahu betul bahwa Hinata tidak akan memberitahu tentang kepergiannya kepada teman-temannya. Hinata memang benci untuk mengucapkan kata-kata perpisahan, karena hal itu akan mengingatkan dia kepada ibunya yang telah meninggal.

"Jangan bersedih, hime!" Neji memeluk erat Hinata sambil mencium puncak kepalanya.

Hinata hanya bisa menangis di pelukan kakaknya. Selama ini mereka tidak pernah tinggal berjauhan. Semenjak kematian ibu mereka, Neji menjadi sosok yang begitu menjaga dan menyayangi Hinata.

Tapi kali ini mereka harus rela untuk berpisah dalam waktu yang lama. Hinata harus pindah ke London karena di sana neneknya sedang sakit keras. Jadi Hiashi memutuskan untuk pindah ke sana agar bisa merawat ibu mertuanya itu.

"Neji-nii harus berjanji untuk mengunjungiku di sana!"

"Pasti, hime. Aku menyayangimu." Neji mencium kening Hinata kemudian melepaskan pelukannya. Neji lalu menghampiri ayahnya dan memberinya pelukan.

"Jaga dirimu, Neji! Setelah keadaan nenekmu membaik, aku akan segera kembali."

"Iya, tou-san."

Sasori menghampiri Hinata kemudian memeluknya sebentar. Dia tidak merasakan kekakuan seperti yang dirasakannya kemarin saat memeluk Hinata di taman belakang sekolah mereka.

Sasori menatap Hinata dalam. Dia meringis dalam hati melihat penampilan Hinata yang sangat berantakan. Dia merasa bahwa telah terjadi sesuatu padanya, tapi dia sendiri tidak yakin itu apa. Jadi dia akan berusaha memastikan. "Kau tidak memberitahu dia?"

Dengan mata sembabnya Hinata mendongakkan kepala menatap Sasori. Terlalu cepat bahkan, sehingga membuat Sasori yakin bahwa dugaannya kali ini benar adanya.

Hinata menatap Sasori lama, dia tahu jelas siapa yang dimaksud 'dia' oleh Sasori. Karena bagi Sasori, Hinata adalah sosok yang terlalu mudah untuk dia baca.

Hinata tersenyum kecut karena lagi-lagi dia mengingat kejadian kemarin. Kembali dia meremas dadanya kuat saat merasakan sakit yang begitu dalam. "Aku bukan siapa-siapanya." Hinata berusaha mengabaikan rasa sakit yang semakin perih ketika mengucapkan kata-kata tersebut. Dia berusaha keras menahan air matanya agar tidak turun.

"Ayo, Hinata!" Hinata mengangguk menatap Hiashi kemudian dia melompat sekali lagi memeluk Neji. Sebelum benar-benar melepaskannya dan berjalan mengikuti ayahnya.

Hinata berbalik sebentar menatap ke belakang, dia menghembuskan nafasnya dengan berat. 'Selamat tinggal Konoha. Selamat tinggal masa lalu. Selamat tinggal, Sasuke.' Ucap Hinata dalam hati sambil kembali berjalan ke depan. Berusaha membendung banjir air mata yang seolah siap jatuh kapan saja saat dia mengedipkan mata.

Perjalanan ke London adalah waktu terlama yang pernah dirasakan Hinata. Bahkan sesampainya di London, perasaannya tidak menjadi baik sedikit pun.

Setiap detik pertemuannya dengan Sasuke ketika di ruang musik seolah bagai kaset video yang terus terputar di dalam pikirannya. Tidak ada sedikit pun waktu yang Hinata miliki untuk tidak mengingatnya.

Kata-kata Sasuke saat itu benar-benar menjadi kenangan yang tak terlupakan untuk Hinata. Sayangnya, kenangan yang diberikan bukanlah kenangan indah seperti yang diharapkannya di awal tapi justru kenangan yang sangat menyakitkan.

Bahkan ketika tertidur karena kelelahan akibat terlalu sering menangispun Hinata masih membawa kenangan buruk itu ke dalam mimpinya. Hingga Hinata selalu terbangun dengan nafas tersengal, keringat bercucuran dan jantung yang berdetak menggila.

Hinata tersenyum miris menertawai kebodohannya. Dulu dia merasakan debaran yang sama oleh orang yang sama. Tapi sekarang berbeda, debaran ini membuat Hinata terasa menjadi semakin kecil. Terasa seperti orang yang tak berguna. Terasa seperti orang bodoh.

'Hey, Hinata!' Hinata berbicara pada dirinya sendiri di pantulan cermin. 'Kau itu bodoh atau apa? Bukankah kau sendiri yang menjulukinya Manusia Es? Lalu apa yang kau harapkan darinya?'

Hinata kembali tersenyum kecut. 'Dia adalah orang yang sempurna dengan segala sikap arogan dan angkuh yang dimilikinya. Lalu kenapa kau masih sakit hati padahal kau melihat semua kenyataan itu di depan matamu? Bukankah sebelumnya kau selalu melihatnya seperti itu pada gadis-gadis lain di sekitarnya? Lalu kenapa kau masih harus terpuruk? Ke mana perginya otak jeniusmu itu, Hyuga?'

Hinata menghembuskan nafasnya kasar, bahkan kata-kata seperti itu tidak sedikitpun mengubah suasana hatinya yang buruk akibat Uchiha Sasuke. Apakah dalam hati dia masih saja berharap bahwa Sasuke tidak berniat seperti itu kepadanya?

'Cih, jangan membuat harapan kosong, Hinata!'

Berbagai pikiran dan monolog kembali memenuhi isi kepalanya. Dan lagi-lagi Hinata merasa sial, bahkan di London pun Sasuke masih terus mengambil seluruh ruang dalam pikirannya.

Dia kembali menatap nanar ke arah cermin di hadapannya. Padandangannya berubah sendu. Dalam hatinya kembali terngiang berbagai pertanyaan.

Apakah benar dia tidak pantas berbicara padanya?

Apakah benar dia tidak tahu diri?

Apakah dia benar-benar jelek?

Kyaaaa..

Akhirnya masa lalu Hinata dan Sasuke terungkap juga.

Sempet deg-degan, takut kalo feelnya kurang kerasa.

Yosh..ini adalah chap terpanjang yang pernah aku buat. Semoga reader suka.