a/n: Yaa~ sudah lama tidak update ya, gomenne untuk para readers sudah menunggu chapter sekarang m(_ _)m. Kebetulan sekali pada saat mau update, eh koneksi di rumah ga jalan. Sedih banget ya T^T. Jadi semoga memaklumi yaa kalau-kalau agak lama meng-update lagi yaa, gomen gomen m(_ _)m.
Oh iya dan terimaksih bagi yang sudah ripiuw-ripiuw^^, kebanyakan anonymous ya? Tapi tidak apa-apa lah, ripiuw-ripiuw tersebut membuat saya semangat menulis kelanjutannya! Dan juga terimaksih banyak untuk alert-alert yg diberikan pada cerita ini^^~
Balas review^^:
KarinPinkLovely: terimakasih sudah review lagi yaa T^T, saya terharuu ^^. Iya semolga chapter sekarang juga suka ya, terus lanjut reviewnya juga gapapa, malah seneng^^ (*eh). Makasih lagii~^^
KawaiiA: terimakasih sudah revieww^^. Jin? Ada adaaa~ tenang saja yaa, baru di chapter ini muncul nama Jin^^. Semoga menyukai chapter berikut ini yaa~^^
Riza ssi hanazono ningsih clalu: terimakasih sudah review^^. Ini sudah updatee, masih penasarankah? Kalau masih lanjut baca sampai selesai yaa~^^~. Semoga menyukai chpater ini ya^^
Oceana Queen: terimakasih sudah review^^. Ini sudah dilanjutin nihh, benarkah seru? Oh aku terharuu T^T. Semoga suka dengan chapter berikut yaa~^^~
Huruf 'miring', menandakan dalam pikiran, flashback, kata-kata asing, dll.
Huruf 'miring+bold' , menandakan kata-kata yang diberi penekanan, dll.
Selamat membacaa ~^^~
Disclaimer :Kamichama Karin &Kamichama Karin chu© Koge Donbo
Warnings : AU,OC,OOC,miss typo, dll
.
.
.
~*Help me, Prince!*~
(Flashback)
"... Tugas saya disini untuk melindungi kerajaan dan Putri Karin, tapi maafkan saya karena lalai dalam melindungi Putri Karin. Berikanlah kepercayaan anda pada saya, dan saya pasti.. akan membawa Putri Karin kembali..."
.
"Kau satu-satunya harapan kami, Pangeran Kazune."
.
(End of Flashback)
[Karin POV]
"Ugh..."
Dengan perlahan aku membuka mata dengan berat karena cahaya matahari langsung menuju mataku ini. Sesaat pandanganku mulai jelas, aku melihat sekeliling.
"... DIMANA INI?" jeritku dengan sangat-sangat keras sampai bergema di ruangan ini.
Aku baru sadar bahwa pada saatku terbangun, aku sudah berada di bangunan tua yang dikelilingi oleh hutan. Bagaimana aku tidak terkejut, coba? Sudah lagi, tanganku diikat kebelakang dengan tali. Sudah lengkap penederitaanku ini.
Sebelum melakukan sesuatu, aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi pada diriku ini...
'Ah iya, aku dibawa oleh penyusup itu. Setelah pertarungan di kamarku itu aku tidak ingat apa-apa lagi.. sepertinya aku terkecoh oleh tekniknya dan alhasil... aku diculik,'
Tap tap tap tap..
Pada saat itu juga, aku dikejutkan oleh suara langkah kaki seseorang. Suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat pada tempatku ini, seiring langkah kaki berbunyi, jantungku berdetak semakin kencang.
.
"Bisakah kau tidak berisik, hey nona," suara seorang wanita terdengar dari arah langkah kaki itu berasal, aku pun dapat mengetahui bahwa ia adalah orang yang sudah menculikku.
"Siapa kau?" sekali lagi aku berteriak setelah melihat seorang wanita yang sepertinya lebih tua dariku. Sesaat aku memperhatikannya, aku merasa familiar dengan wajahnya itu.
"Kau masih belum sadar juga aku siapa? Ck ck ck," wanita itu mendecak dan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Aku menatapnya dengan kesal dan langsung berdiri berhadapan dengan wanita itu, mensejajarkan tinggiku yang ternyata sama dengannya..
"Berani sekali kau berbicara seperti itu! Memang siapa kau ini? Cepat katakan!" bentakku padanya tepat di muka. Ia tertawa mendengarku dan sepertinya ia sama sekali tidak mempedulikan kata-kataku tadi.
"Hahaha, baiklah kalau kau tidak menyadarinya juga. Aku adalah penyusup yang merusak gaun tersayangmu itu, nona,"senyuman licik terpampang di wajahnya. Tentu saja aku terkejut pada saat mendengar bahwa ia adalah penyusup yang merusak gaunku waktu itu. Tapi kenapa ia bisa menculikku begini? Bukannya ia sudah ditahan?
"Jangan banyak bicara. Kita pergi sekarang, karena pasukan yang mencarimu sudah mulai bergerak," tanpa basa-basi lagi ia mendorongku ke luar bangunan tua itu dengan kasar. Aku berusaha untuk melarikan diri, tetapi tidak bisa karena ia menpererat tali ditanganku itu.
"Jangan berani-berani kau melepaskan tali ini, atau kau tidak mau diikat ditangan?" tanya wanita itu dengan dingin. Pertamanya aku masih bingung apa yang ia maksudkan.
"Maksudmu?" kulirik wanita itu dengan sinis.
"Ya kalau kau tidak mau diikat di tangan... Akan aku ikat di lehermu agar kau tidak banyak biacara lagi,"
Σ( ° o°|||)?
Kata-kata yang cukup panjang, menusuk, dan sangat sangat dalam artinya, membuatku diam tidak bergerak. "D-di tangan saja, m-maaf," dan aku pun hanya bisa tertawa tidak jelas. 'Kejam sekali dia ¬_¬' pikirku sembari mendesah kesal.
Lantas, wanita itu pergi ke samping bangunan ini,
'Huh, Menyebalkan!' pekikku dalam hati.
Tak lama kemudian, wanita itu kembali membawa kuda yang entah dari mana ia dapatkan, sepertinya itu kuda dari kerajaanku, karena tidak mungkin ia mendapatkan kuda secara tiba-tiba. Kemudian ia menaikkanku pada kuda itu, karena tanganku yang diikat jadi aku tidak bisa menaiki kuda itu sendiri. Disusul wanita itu yang menaiki kuda yang sama, namun di belakangku.
"Pegangan yang erat atau kau akan jatuh! Tapi aku tidak akan membiarkanmu jatuh dan melarikan diri," tangan sudah menggenggam tali kuda dengan erat, dengan sekali hentakan langsung memukulkan tali kuda itu agar berlari kencang.
"Whaa!" aku sedikit terkejut pada saat kuda itu berlari, sampai-sampai aku hampir terjatuh. Hampir.
Tak!
Terdengar suara benda yang jatuh, aku melihat ke belakang melihat benda apa yang terjatuh itu. Yang kulihat, benda itu memantulkan cahaya, berwarna emas.. dan itu sepertinya.. Kalungku? Sedangkan kuda yang kunaiki sudah melaju kencang.
Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!
'Waaa! Bagaimana ini? Kalung itu kan pemberian Ratu padaku.. dan kuda ini juga sudah jauh dari bangunan itu...Hahh, tidak apa-apa lah. Kalung itu mungkin bisa menjadi tanda untuk pasukan dari kerajaan yang mencariku.. benar juga. Semoga saja wanita ini tidak tahu..'
Kuda yang membawa kami mulai melaju ke arah selatan dari kerajaanku, sepertinya kami sudah jauh dari kerajaan, karena aku tidak terlalu mengenali hutan ini...
Sejenak aku berpikir, bagaimana keadaanku nanti? Akan dibawa kemana aku ini?
'Apa yang akan terjadi nanti? Adakah yang akan menolongku? Apa aku akan.. mati? Tidakk! Siapapun... Pangeran Kazune... tolong aku...'
.
.
[Kazune POV] (Dilain tempat pada waktu yang sama)
Aku sedang dalam perjalan mengejar penyusup yang menculik Karin itu bersama pasukan kerajaan Western. Disini aku yang memimpin pasukan dan yang menjadi wakil adalah Michi dan Miyon. Namun ini tidak bisa dibilang pasukan, karena aku hanya membawa 2 pengawal, Michi, Miyon dan aku sebagai ketua.
Aku hanya memilih mereka yang sudah berpengalaman lama dalam medan pertarungan, karena yang lain hanya akan merepotkan.
Kami sudah lumayan jauh dari kerajaan, dan akhirnya kami menemukan ciri-ciri adanya orang yang melewati jalan ini, menuju arah selatan dari kerajaan. Kami berhenti pada bangunan tua yang sudah sangat lama tidak terurus nan jauh di dalam hutan.
"Pangeran, sepertinya ada seseorang yang baru saja menempati bangunan ini dan kemungkinan besar adalah Putri Karin. Karena aku menemukan ini," Miyon memberikan kalung emas dengan lambang Kerajaan Western padaku, pada saat menerima kalung itu, tercium aroma parfum, parfum khas Karin.
'Ini parfum Karin, tidak salah lagi, ia pasti berada di tempat ini sebelumnya,'
Aku memperhatikan kalung ini lalu masuk ke dalam bangunan itu untuk mencari informasi lebih detil. Di dalam, terlihat masih ada tumpukan kayu adan bara api yang masih hangat.
'Benar! Mereka pasti belum jauh, api unggun itu masih terasa hangat!'
Aku bergegas kembali ke luar bagunan itu dan menemui Michi dan Miyon. Mereka menatapku dengan khawatir.
"Ah benar! Itu kalung milik Putri Karin!" seru Michi yang baru melihat kalung ini.
"Iya, sepertinya mereka belum jauh. Ayo cepat! Kita harus mengejar penyusup itu sebelum Putri Karin terluka!" perintahku pada pasukan.
Dengan bersemangat, kemudian kami pun langsung menuju ke arah selatan, mengikuti jejak kuda yang masih sedikit terlihat.
.
.
[Karin POV]
Sudah lama kami menunggangi kuda ini, namun masih saja belum sampai di pengujung hutan ini. Aku lelah melihat begitu banyak pohon yang melewati mataku sedari tadi, dan itu membuatku untuk membuka pembicaraan dengan seseorang di belakangku ini.
"Hey, aku belum tahu namamu tadi," ucapku dengan nada kesal. Tampaknya, wanita yang berada di belakanku ini sedikit dikejutkan oleh pertanyaanku.
"Rika, namaku Rika," jawab wanita yang bernama Rika itu. Kupikir ternyata ia mau juga memberitahu namanya. Lantas, aku kembali memikirkan suatu pembicaraan agar tidak terlalu hening. Meskipun aku tahu, aku sedang berada dalam keadaan gawat.
"Hm, Rika. Aku akan dibawa kemana?" tanyaku mengajak berbicara, nada bicaraku maish bisa dibilang biasa, karena bila wanita diajak berbicara lembut, ia pun akan terpengaruh. Mungkin. Sejenak, ide melintas di benakku.
'Saat kita berbincang-bincang, saat itu lah aku mengalihkan perhatiannya. Setelah itu aku mengajaknya beristirahat, dan pasti ia kelelahan dan mengantuk. Pada saat itulah rencana ku kabur! Ehehe, bagus kan rencanaku?^^'
Setelah aku bertanya, Rika tidak menjawabku dengan sangat lama, tetapi akhirnya ia menjawabku.
"Percuma aku memberitahumu, kau tidak akan tahu dimana tempat itu," jawab Rika dengan dingin, aku mendengus kesal karena merasa di remehkan. Namun aku tetap berusaha untuk mengorek semua informasi tentang dirinya.
"Lalu.. Kau itu pasukan Blackguard ya? Aku akan diserahkan pada siapa? Ketua Blackguard? Apa dia kejam? Hanya kau yang ditugaskan untuk menuculikku? Atau ada teman lain yang bersamamu? Siapa nama ketua Blackguard itu?" tanyaku bertubi-tubi, dan sepertinya itu cukup membuat Rika terlihat kesal.
"Agh! Kau terlalu banyak bertanya! Jawabanmu ya, ya, ya, tidak, ada, dan Jin Kuga! Sudah cukup jawabannya? Atau mau tambah lagi?" jawab Rika berturut-turut seperti aku bertanya padanya. Aku hanya tertawa mendengarnya marah seperti itu.
'Oh ternyata Jin Kuga nama ketua Blackguard itu. Tidak aku sangka ia bisa di kelabuhi dengan pertanyaan seperti itu. Aku berhasil menjebaknya dengan menanyakan nama ketua Blackguard! Ahahaha bodoh sekali dia!' pikirku sembari tertawa ringan. Tidak memikirkan nama ketua Blackguard itu..
Aku terus saja mengajaknya berbincang-bincang, atau lebih tepatnya 'bercerita' padanya. Namun lebih bisa dibilang, bahwa aku sedang curhat dengannya. Sampai beberapa saat kemudian.
"Rikaa~, aku lelah. Bisa kita istirahat sebentar? Kuda ini juga sudah terlihat lelah membawa kita berjam-jam, apa kau mau kuda itu jatuh dan tidak bisa membawa kita lagi? Tidak 'kan," ucapku setengah memelas kepada Rika. Ia melirikku jengkel pada saat itu, tetapi akhirnya ia menghela nafas. Ia menyerah dengan tawaran itu.
"Hahh, baiklah. Setelah keluar dari hutan, istirahat sebentar lalu pergi,"
"Yey!" seruku gembira karena akhirnya bisa turun dari kuda ini.
.
.
(Skip Time)
Kami sudah keluar dari hutan dan beristirahat di hamparan rumput hijau pinggir sungai yang membatasi daerah hutan dan daerah pemukiman desa, tetapi masih cukup jauh untuk sampai ke pemukiman itu. Dan saat ini pun adalah saat yang tepat dimana aku akan memulai rencana.
Kebetulan sekali Rika terlihat setengah mengantuk, karena matanya sudah menunjukan kantuk yang sangat berat. Diriku sendiri berada di dekatnya, mulai bergerak ke daerah hutan secara perlahan. Berusaha tidak membangunkan Rika. Aku berencana untuk sembunyi di semak-semak dalam hutan menunggunya sampai tertidur pulas.
Bergeser dan terus bergeser yang kulakukan, sedikit demi sedikit sampai mendekati semak-semak. Perlahan aku pun melirik keadaan Rika, dan untung saja ia tertidur pulas.
.
'Sedikit lagi.. sedikit lagi.. sedikit lagi..'
pikirku pada saat bergeser mendekati hutan
.
Daaan~~
Berhasil!
Aku sudah bersembunyi di semak yang cukup lebat di dalam hutan, kemungkinan besar Rika tidak akan melihatku disemak ini. Sebelum pergi, aku melihat keadaan Rika terlebih dahulu, memastikan Rika masih tertidur, dan aman untuk kabur sekarang.
'Baik! Sekarang waktu yang tepat!' pikirku dan bergegas berlari perlahan menjauhi tempat Rika tertidur.
Aku berlari dan terus berlari menjauhinya, entah kemana arahku pergi, yang lebih utama adalah aku berhasil kabur dahulu.
"Hosh.. Hosh.. Hosh.. Sudah cukup jauh! Aku berhasil!" pekikku senang. Aku terdiam melihat sekeliling, tidak ada siapapun di dekat sini, dan itu membuatku sedikit... takut! Namun itu tidak akan mengurungkan niatku untuk terus berlari. Aku segera berlari kembali, menjauhi tempat Rika tadi. Aku berharap semoga tidak ada yang mendengarku langkah kakiku.
.
Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!
.
Σ( ° o°|||)?
Terdengar suara langkah kaki kuda berlari menuju tempatku berada sekarang, rasa panik mulai kembali dan membuatku bingung untuk bersembunyi dimana. Aku melihat sekitarku dan menemukan pohon tua besar, langsung saja aku bersembunyi dibalik pohon itu. Berusaha menyembunyikan diriku dengan sedikit semak yang mengerumuni pohon itu.
'Itu pasti Rika! Gawat! Aku akan disiksa habis-habisan bila bertemu dengannya lagi!'
.
.
[Normal POV]
Setelah Karin mendengar langkah kaki kuda yang mendekati tempatnya sekarang, ia bergegas bersembunyi dibalik pohon besar yang tua, berharap tidak ada yang menemukannya. Tetapi semua itu sia-sia, karena gaun yang Karin pakai sangatlah mencolok, pasti Rika sudah langsung menuju pohon itu.
Dan itu adalah kenyataannya...
.
"Kau berusaha kabur, Yang Mulia?"
Karin terpaku membeku di balik pohon itu, mendengar suara wanita yang tidak ingin ia dengar sekali lagi, karena suaranya sangat membuatnya takut, apalagi sekarang ia dalam keadaan kabur. Wanita itu tidak akan mengampuni Karin yang sudah kabur dari pandangannya kali ini.
Dengan sekejap Rika sudah berhadapan lagi dengan Karin yang kini semakin panik, Rika mengunci kedua tangannya diantara Karin agar ia tidak kabur lagi.
"Jadi kau ingin aku mengikatmu di leher ya? Baiklah, itu keputusanmu karena telah kabur dariku... Bersiaplah!"
.
.
[Kazune POV]
Kami sudah hampir mendekati ujung hutan yang lebat ini, karena sudah terlihat cahaya matahari yang mencolok di depan mata kami. Kami mempercepat kuda-kuda berlari ke ujung hutan, namun tidak, sampai sesuatu mengusik pikiranku...
KRAK! SRAK!
"Berhenti..." perintahku tiba-tiba dan semuanya mengikutiku berhenti. Mereka bertanya-tanya menagapa aku memerintahkan mereka untuk berhenti.
"Ada apa, Pangeran Kazune?" tanya Michi di sampingku penasaran.
"Shhhs.." mereka hanya terdiam menuruti perintahku, sedangkan aku masih menfokuskan pendengaranku dengan suara tadi. Aku merasa janggal dengan suara itu, sepertinya ada seseorang yang memperhatikan kami, di dekat sini..
Aku melihat ke sekeliling dengan teliti. Setelah melihatku, Michi dan Miyon akhirnya mengerti apa maksudku dan mulai memerhatikan sekeliling kami.
"Pangeran," Miyon memanggilku dan membuatku menoleh ke arahnya. Ia menatapku memberi isyarat dengan menolehkan matanya ke arah kanan, aku mengikuti isyaratnya dan melihat ke kanan.
.
Terlihat pohon tua besar yang berdiri sendiri diantara pohon-pohon lainnya, aku mulai curiga karena terlihat bayangan seseorang yang bergerak-gerak. Aku segera turun dari kuda dan berjalan perlahan diikuti Miyon dan Michi dibelakangku. Sedangkan 2 pengawal yang lain diam ditempat untuk mengawasi bagian belakang kami. Semakin mendekati aku semakin penasaran, karena sudah terlihat jelas bahwa ada seseorang di balik pohon tua itu.
Aku mengisyaratkan sesuatu pada Michi dan Miyon, 'Pada hitungan ketiga, kita pergoki orang itu,'. Mereka mengangguk mengerti dan aku mulai menghitung dengan jari,
Satu... Dua... Ti- ga!
"Menyerahlah!"
.
"MhmmHH! Mhnhmhh!"
Kami terkejut melihat orang itu... karena ia adalah Karin!
Ia terlihat luka-luka, tangannya diikat di belakang, dan mulutnya ditutupi dengan handuk kecil yang terikat kebelakang kepalanya.
"Karin?!" aku sangat terkejut karena akhirnya aku bisa menemukannya dan tanpa penyusup itu di sekitar kami. Dengan segera aku menghampirinya dan mengecek keadaannya yang terluka.
Miyon bergegas membantu Karin melepaskan ikatan-ikatan yang ada ditangannya, tetapi Karin menolaknya dengan berkata sesuatu yang tidak kumengerti karena masih tertutupi oleh handuk kecil itu.
"Hherhii haiii hihiii! Hherhhiii Hahiii Hihiiii!" ucapnya dengan panik dan meronta-ronta untuk melepaskan handuk itu dari mulutnya.
Kami menatap Karin dengan bingung, apa yang ingin ia katakan sebenarnya?
"HERHII HAHIII HIHIII!" ucap Karin sekali lagi dengan lebih keras. Aku berpikir sejenak, sepertinya itu peringatan untuk kami.. tapi apa?
Miyon akhirnya berhasil membuka handuk itu dan lekas membiarkan Karin berbicara sekali lagi.
"Apa yang kau katakan tadi?" tanyaku. Tanpa mendengar pertanyaanku, Karin melihat sekelilingnya dengan panik dan kembali menatap kami.
"Pergi dari sini! Kalian harus pergi dari sini sekarang!" bentaknya membenarkan bahasa aliennya tadi. Tentu saja kami masih bingung dengan yang dikatakannya, meskipun handuk itu sudha di lepas.
"Tapi menga―"
.
.
[Karin POV]
"Pergi dari sini! Kalian harus pergi dari sini sekarang!" bentakku pada mereka.
'Karena ini hanya jebakan Rika, untuk membunuh mereka! Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi! Sekarang Rika pasti sedang memperhatikan kita! Dna setelah itu ia akan membunuh mereka!'
Mereka terlihat bingung dengan yang kukatakan tadi, mereka saling menatap satu sama lain bingung.
"Tapi mengapa?"
.
Swushhh! Seseorang kini tengah berdiri di belakang mereka dengan aura kegelapan yang menyelimuti. Mataku sekejap membulat sama seperti saat aku... ditemui oleh Rika. Mereka juga sama terkejtnya denganku sekarang, apalagi aura kematian itu sangat menyeramkan.
Ia berjalan mendekati kami dan sekarang berada di belakang Kazune , dengan sekejap tangannya kini sudah merangkul Kazune dari belakang dan mengarahkan pisau tajam di lehernya.
"Hm hm hm, rupanya sang pangeran telah tiba ya~. Apa kau ingin tahu jawabanmu tadi, pangeran~?" ucap Rika pada Kazune yang kini terlihat jengkel dengan tingkahnya. Tetapi, tidak lama kemudian aura kegelapan itu semakin kuat dan...
.
"Pfft. HAHAHHA! Jawabanmu adalah karena Tuan Putri tidak ingin kalian MATI~!"
.
.
.
[Normal POV] (dilain tempat, diwaktu yang sama)
Seseorang berjubah hitam dan pakaian serba hitam, tengah duduk manis di ruangan yang begitu luas dan ruangan tersebut dominan dengan bebatuan, lantai dinding serba bebatuan. Lampu kristal tergantung tepat diatasnya. Di dinding tersebut terlihat beberapa koleksi alat-alat perang, seperti pedang, tombak, dan tameng.
"Ketua! Ketua! Maaf menggangu anda, saya membawa pesan baru dari salah satu pasukan!" seorang penjaga berlari dan segera berlutut dihadapan seseorang yang ia panggil dengan Ketua.
Orang yang disebut Ketua itu pun mengisyaratkannya untuk memberikan surat itu padanya. Setelah ia mendapatkan surat itu, ia membacanya.
"Ohh, berita yang menarik. Sepertinya, rencana kali ini berhasil ya~. Hey kau!"
"Iya Ketua?"
.
"Perintahkan pada semuanya untuk menyambut tamu kita yang sebentar lagi akan datang. Atau.. sepertinya lebih cocok diganti dengan... tahanan."
.
.
~To be continue~
~Please Review~
a/n: Selesai chapter berikut, bagaimana? Review? Saran? Selalu diterimaa~
