LOVE MY DEVIL SIDE

Cast: Sehun, Luhan, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Kyungsoo and other cast

Genre: Boys Love, Mystery, Supranatural, Romance, Hurt-Confort

Rate: T – M

Note: Alur berantakan, typos bertebaran.

Don't Like Don't Read!

Enjoy


-Kau mencintai seseorang yang telah mati. Jika kau ingin bertemu dengan cintamu, maka bergabunglah dengan kami. Karena para yang mati akan kembali hidup bersama kami-

Chapter 4

Take you

Flashback On

"Xio lu, kau baik-baik saja? Kau sangat pucat" Sebuah tangan besar menyentuh dahi Luhan coba mengecek suhu tubuhnya.

"Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatirkan aku" Luhan coba tersenyum padahal ia tau itu palsu.

"Bagaimana bisa baik-baik saja jika kau sepanas ini? Xio lu aku mohon ayo kita kerumah sakit, aku benar-benar mengkhawatirkanmu"

"Aku bilang tidak usah Laogao. Aku tidak ingin pesta pernikahan ini berantakan gara-gara aku. Aku baik-baik saja sungguh"

"Tidak Xio Lu, kau harus kerumah sakit sekarang juga, atau aku terpaksa membatalkan pesta ini" Laogao menarik paksa Luhan.

"Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh berkata seperti itu. Pikirkan dirimu, pikirkan calon istrimu.. kau harus memikirkan mereka.. Berhenti mengkhawatirkan aku.. Aku mohon.."

"Bagaimana mungkin aku berhenti, jika kau selalu membutuhkan aku. Kau selalu bergantung padaku. Kau selalu menarik perhatianku Xio lu.."

"Tidak, aku tidak akan melakukan itu lagi hiks.. Aku bersumpah aku tidak akan membutuhkanmu lagi hiks, aku tidak akan mau bergantung padamu lagi Laogao"

Kali ini Luhan menangis. Ia tau bahwa tangisnya takkan berguna lagi sekarang, sudah terlambat. Luhanlah yang mengizinkan sahabat yang dicintainya berada dalam dekapan oranglain, dicium dan disentuh oleh orang lain. Membiarkan sahabatnya memilih gadis yang dicintainya. Memendam perasaan semu yang takkan mampu untuk ia ungkapkan. Karena sejatinya mereka hanya SAHABAT. Setidaknya topeng itulah yang Luhan pertahankan.

Melihat sahabatnya menangis tentu saja membuat gentar hati Laogao, ia beranjak mendekati Luhan dan mengelus surai lembut namja mungil itu.

"Apa sangat sakit? Hingga kau menangis seperti itu Xio Lu?"

"Tidak, aku tidak menangis"

Laogao mengusap pelan airmata di pipi Luhan.

"Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku Luhan"

Deg

Deg

Deg

"Benarkah?"

"Ya, tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, perasaanmu sekalipun"

Luhan menunduk, ia bimbang namun ia juga merasa bahwa memang inilah saat yang tepat baginya mengakhiri peran persahabatan ini. Luhan yakin inilah yang terbaik baginya. Menyatakan perasaannya pada namja yang akan menikahi gadis lain. Karena Luhan mencintainya.

"A..akuu.."

"Namun kau tau aku menyukai XingLe sejak kecil, aku sangat mencintainya. Dan aku bersyukur kau mengalah untukku padahal ia sangat menyukaimu Luhan. Kau menyerahkan Xingle padaku dan akhirnya kami akan menikah sebentar lagi."

JDARRR!

"Sudah.. Cukup.. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini. Biarkan aku kalau begitu.. Hiks.. Jangan peduli lagi padaku hikss.."

"Xio.."

Luhan berlari sekencang yang ia mampu. Saat ia menoleh ia masih melihat Laogao mengejar di belakang. Namun ia tetap berlari.

TINNNN

Sesaat ia menoleh kembali, disaat yang sama sebuah truk besar bermuatan ribuan ton menghantam tubuh sahabatnya. Memisahkan langsung antara rohani dan jasmani namja yang dicintainya.

BRUG

Luhan ambruk seketika melihat ceceran darah orang yang ia cintai menggenang di hadapannya.

Salahnya. Ini salahnya.

"Aku.. Aku.. Aku membunuhnya hiks"

Huaaaaaaaaaaaa

Flashback Off

.

.

Namja pucat itu hanya duduk diam dihadapan Luhan. Sehun menyunggingkan senyum saat dilihatnya namja dihadapannya ini bergerak gelisah. Luhan jelas ketakutan dalam mimpinya. Dan semakin Luhan tersiksa Sehun semakin menikmatinya. Kejadian yang sudah sangat lama ingin ia kubur kembali terkuak di benaknya.

"Ahh.. Aku.. Aku tidak membunuhnya… sumpah bukan aku yang melakukannya.. Bukan aku yang melakukannya.." Kepala Luhan bergerak kesana kemari.

Sehun kembali memfokuskan pikirannya pada Luhan. Mencoba untuk merasuki pikiran Luhan dan perlahan lahan mendapatkan kontrol tubuh Luhan kembali. Luhan sudah hampir menjerit histeris kala Sehun terus mendongkrak memasuki batinnya. Luhan ingin membuka kedua matanya dan menjerit sekuat tenaga namun Sehun sudah mendapatkan kontrol tubuhnya sehingga tidak seujung jaripun dari tubuh Luhan mampu ia gerakkan.

Perlahan cairan bening mengalir di pelupuk mata si rusa kecil. Luhan menangis, Sehun yang melihatnya merasa sedikit terpengaruh kemudian akhirnya melepaskan kotrol tubuh Luhan. Luhan perlahan menggerakkan jarinya dan saat ia membuka mata, betapa ia dikejutkan dengan kehadiran namja tampan dihadapannya.

"Eohh.. Kau.. Sedang apa kau disini?" Luhan langsung saja panik saat melihat ia merasa berada dikamar orang asing. Seingatnya ia tidur dikamar sebelah Kyungsoo kenapa tiba-tiba ia bisa disini.

Luhan melihat lagi kearah Sehun dengan seksama mencoba mengingat kembali mengapa ia bisa berada ditempat ini. Dengan namja ini lagi.

Apa yang sebenarnya telah dia lakukan kepadaku? Mengapa aku bisa disini? Aku masih mengenakan pakaianku. Tapi aku merasa tidak yakin dengan namja ini. Apa dia jatuh cinta padaku?

"Aku tidak melakukan apapun padamu. Berhenti memikirkan hal menjijikkan seperti itu Luhan"

"Kau.. Bisa membaca pikiranku?"

"Tentu saja, mata bulat kecilmu itu menggambarkan segalanya"

Setengah kesal Sehun beranjak meninggalkan Luhan keluar kamar.

"Yakk kau mau kemana?"

Namun teriakan Luhan tak mampu menghalangi sang pangeran berlalu. Luhan yang merasa diabaikan langsung berlari mengejar Sehun. Ia berusaha mengingat dimana kira-kira bangunan seperti ini letaknya. Apakah di tengah kota? Atau di pegunungan.

Bagaimana caranya namja itu membawa Luhan sampai kesini? Luhan masih memikirkan hal itu. Ia terus berjalan melewati terowongan yang lantainya dilapisi karpet lembut dan dindingnya berhiaskan marmer dengan banyak pahatan khas eropa di permukaannya. Luhan meraba sambil mengagumi fondasi bangunan yang begitu mewah ini.

"Mungkin namja itu adalah miliurder, ia memiliki rumah yang sangat besar dan megah."

Luhan berjalan perlahan menuruni tangga besar yang ia yakini merupakan tangga utama kelantai bawah. Luhan menyipitkan matanya saat ia rasa ada sesosok makhluk dihadapannya. Dengan cahaya yang sangat minim itu Luhan bahkan tidak bisa menebak apa yang sedang ia tatap. Sosok itu memunggunginya sedang kepalanya menengadah keatas melihat sebuah lukisan besar. Lukisan absrak yang tidak terlalu jelas namun Luhan dapat melihat gambar malaikat dan juga iblis di lukisan tersebut.

Sesaat Luhan berusaha melangkah lebih dekat ia melihat sesuatu bergerak hebat dipunggung namja itu. Sesuatu yang sepertinya ganas dan sepertinya ingin melepaskan diri. Sesuatu itu terus bergerak kencang namun anehnya tidak menganggu namja itu sama sekali. Luhan hampir terjatuh kelantai ketika ia melihat dengan jelas sesuatu itu mengoyak tubuh sang namja dihadapannya. Mencakar tubuhnya dari dalam dengan bulu-bulu hitam yang mulai beterbangan.

Luhan sudah akan menjerit namun tiba-tiba suaranya sama sekali tidak mau keluar. Ia merasakan lagi apa yang baru saja ia rasakan beberapa menit yang lalu. Seolah dirinya telah dikontrol oleh orang lain. Tubuhnya sudah tidak menuruti lagi apa yang otaknya perintahkan. Luhan memukul dadanya merasa sangat ketakutan dengan apa yang ia lihat. Kemudian ia berlari sekuat tenaga mencari kamar yang ia tempati tadi sampai ia tidak lagi menghiraukan jalannya tiba-tiba

BUGH

Luhan terjatuh. Dengan gemetaran ia mencoba melihat apa yang ditabraknya, berusa menghilangkan pikiran bahwa makhluk yang dilihatnya barusanlah yang ia tabrak. Namun saat mata Luhan melihat mata namja yang sama saat ia bangun tadi ia langsung berdiri dan refleks melemparkan dirinya kepelukan namja berwajah datar tersebut.

"Hiks.. Aku takut.. Aku melihat sesuatu yang menakutkan di tangga.. Aku ingin pulang.. Hiks.. Jeball"

Sehun menyunggingkan senyumnya saat Luhan begitu ketakutan dipelukannya. Yang ia lakukan hanyalah mengusap lembut surai kecoklatan milik namja yang lebih pendek itu dan menenangkannya.

"Sudahlah, mungkin kau salah lihat Luhan. Tidak ada yang menakutkan dirumah ini"

"Tidak, aku tetap ingin pulang.. Hiks"

"Masuklah kekamarmu, aku akan membawakanmu minuman"

Dengan patuh Luhan langsung menuruti perintah Sehun. Ia berjalan menunduk memasuki kamar yang lebih didominasi dengan warna merah dan emas itu. Luhan duduk di sofa kecil didepan ranjang king size sambil memikirkan apakah ini sebuah mimpi atau memang kenyataan.

"Kenapa kau duduk disitu? Naiklah keranjang"

Suara Sehun sontak mengagetkan Luhan. Sehun membawakan susu coklat kesukaannya dan Luhan langsung meminumnya.

"Ahh itu, tidak sopan duduk di ranjang orang lain"

"Orang lain? Itu akan menjadi ranjangmu Luhan"

"Ap.. Apaaa? Kau gila? Bagaimana bisa itu menjadi ranjangku?"

"Karena kau akan tinggal disini. Maka inilah kamarmu. Kau suka?"

"Berhenti mempermainkan aku. Aku ingin pulang. Aku mohon aku ingin bertemu dengan adikku."

Hal itu tentu membuat Sehun kesal pada Luhan.

"Baik, aku akan membawamu pulang. Hanya dengan satu syarat"

"Apa itu?"

"Kau hanya perlu menyebutkan namaku"

"Nama?"

"Ya, Siapa namaku?"

Bingoo

Itulah yang Luhan tidak ketahui. Ia sudah dua kali bertemu dengan namja ini tapi tetap tidak dapat mengingat namanya. Seharusnya syarat ini sangat mudah namun entah mengapa terasa sangat sulit sekarang.

"Kau tidak ingat?"

Luhan hanya menggelengkan lemah kepalanya.

"Kalau begitu kau tidak bisa pulang. Tinggallah disini Luhan, aku janji akan memberikanmu segalanya."

"Apa maksudmu segalanya?"

"Ya segalanya. Apapun yang kau inginkan akan kau dapatkan. Termasuk yang sudah tiada sekalipun."

Laogao

"Ya dia. Kau mencintainya kan?"

"Laogao? Kau bisa membaca pikiranku?"

"Sudah aku katakan matamu yang menggambarkan segalanya"

"Kau berbohong"

"Terserah apa katamu. Aku hanya berkata yang sebenarnya. Kau memang mencintainya kan?"

"Memang apa urusannya denganmu?"

"Aku ingin membantumu Luhan, dia bahkan sudah tidak ada di dunia ini. Tidakkah kau ingin bertemu dengannya? Menyatakan perasaan cintamu padanya?"

"Tidak.. Dia sudah tidak ada.. Aku tidak mungkin menyatakan cinta padanya."

Sehun berjalan perlahan mendekati Luhan yang menunduk. Sehun membelai lembut pipi Luhan yang membuat Luhan kaget karenanya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Luhan, kau tau? Kau hanya perlu menuruti keinginanku, maka aku akan mengabulkan semua permintaanmu"

"Aku.."

"Kau mencintai seseorang yang telah mati. Jika kau ingin bertemu dengan cintamu, maka bergabunglah dengan kami. Karena para yang mati akan kembali hidup bersama kami."

"Tapi aku masih punya seorang adik yang harus aku jaga"

"Kalau begitu tentukan pilihanmu Luhan. Karena aku tidak akan menunggu."

Luhan bimbang. Laogao adalah namja yang sangat ia cintai sejak kecil. Luhan sangat depresi saat kedua orang tuanya dan Laogaolah yang membantu Luhan menghasilkan uang untuk kehidupan mereka. Namun Baekhyun juga adik yang sangat ia cintai. Hanya Baekhyunlah satu-satunya yang ia miliki saat ini. Jika ia bertemu dan tinggal dengan Laogao apa yang akan terjadi pada adik kecilnya itu. Akan kah Baekhyun baik-baik saja tanpa dirinya?

.

.

Baekhyun yang masih terlelap dalam tidurnya tiba-tiba merasa terusik dengan kosongnya ranjang di sebelahnya. Ia meraba mencari hyungnya namun nihil. Hyungnya tidak berada disampingnya.

"Hyung.."

Baekhyun ingin sekali turun dan mencari hyungnya jika saja kelopak matanya yang kecil menjadi memberat dan ia pun tidak kuasa menahan kantuknya lalu kembali tertidur dengan lelap.

.

.

"Aku tetap ingin pulang"

Luhan sudah membulatkan tekadnya. Baekhyun adalah yang terpenting baginya saat ini.

"Begitukah? Baiklah seperti syarat awal. Kau hanya perlu menyebutkan namaku sebagai tiket untuk pulang"

"Mmm.. Kenapa harus namamu? Maksudku apa kau tidak bisa mengganti persyaratannya saja. Dengan nama kedua orang tuaku mungkin atau nama nenekku karena aku... "

Luhan menatap Sehun yang memandanginya dengan wajah dingin super datar tanpa ekspresi apapun untuk lelucon kecilnya. Membuat Luhan sedikit menegang memandang wajah serius yang mengintimidasi milik Sehun.

"Fyuuuhhh.. Aku tidak ingat namamu" Kata Luhan lemah.

Namun jelas hal itu yang akan dimanfaatkan oleh sang pangeran iblis tersebut. Ia takkan menyinyiakan kesempatan emas ini.

Sehun langsung melesat mendekati Luhan dan manarik daguya.

"Aku akan membantumu. Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?"

"Y.. Yaa" Jawab Luhan gugup. Bagaimana tidak jika jarakmu hanya beberapa senti dengan namja setampan Sehun.

"Apa yang terjadi saat itu hmm?" Sehun memainkan sedikit poni Luhan.

Luhan memejamkan mata mengingat awal mereka bertemu.

"Saat itu kau berteriak pada adikku hanya karena masalah yang sepele dan aku sangat kesal padamu"

"Ya kau membentakku. Dan aku juga kesal padamu saat itu. Lalu apa yang terjadi setelahnya Luhan?" Sehun meneliti wajah bulat Luhan dan membelai lembut pipi tembemnya.

"Mmm.. Kedua kali aku bertemu denganmu. Kau menyelamatkanku dari club malam. Dan kau tiba-tiba mencium bibirku seenaknya."

Luhan langsung mengerucutkan bibirnya cemberut mengingat Sehun yang merebut ciuman pertamanya saat itu.

"Mmm itu karena kau tidak pandai berterimakasih pada orang lain. Apa kau tidak ingat kalau aku menyebutkan namaku saat itu?"

Sehun menekan bibir cemberut Luhan dan mengusapnya pelan. Membuat jantung Luhan ingin melonjak keluar dari rusuknya.

"I.. Itu kau menyebutkannya.. Tapi sepertinya aku lupa."

"Kau tau tiketmu pulang hanya namaku. Kau mau aku membantumu mengingat namaku? Kau takkan pernah melupakannya setelah itu."

"Bagaimana caranya? Apa kau membawaku kembali memutari waktu dimana kau menyebutkan namamu saat…"

"Diam"

Sehun langsung menarik dagu Luhan dan mendaratkan ciumannya pada bibir kissable milik Luhan. Luhan yang kaget tidak bereaksi apapun sama saat Sehun menciumnya pertama kali. Ia hanya mematung sampai Sehun melepaskan bibirnya dari Luhan.

"Kau.."

"Kau masih tidak ingat?"

Luhan menggeleng lemah. Ia terkejut dengan apa yang Sehun lakukan. Namun tidak bisa ia pungkiri ciuman itu membawanya kembali kesaat mereka bertemu, tapi itu masih belum cukup. Ia tetap tidak dapat mengingat namanya.

Sehun menarik tengkuk Luhan, kali ini lebih pelan dari sebelumnya. Sehun mendekatkan bibirnya dengan sangat pelan. Manik matanya dapat melihat Luhan menutup matanya perlahan saat ia mencium bibir ranum itu sekali lagi.

Sehun mulai melumat bibir Luhan dan Luhan nampaknya mulai mengikuti pergerakan Sehun. Lumatan demi lumatanpun tak dapat ia hindari lagi kala ciuman Sehun mampu memabukkan dan membuatnya merasa ketagihan.

Sehun semakin menekan tengkuk Luhan dan mulai mengabsen seluruh isi mulutnya tidak lupa Sehun mengajak benda kenyal itu untuk beradu didalam sana sehingga menyebabkan saliva keduanya mengalir keluar. Luhan yang sudah terhanyut dalam ciuman itu secara otomatis mengalungkan lengannya pada leher namja yang lebih tinggi dan mendongakkan kepala memberi akses bagi Sehun untuk menelusurinya lebih leluasa.

Luhan merasa nafasnya sesak dan mulai memukul dada Sehun memberi isyarat padanya untuk berhenti. Sehun dengan tidak rela melepaskan ciumannya pada bibir Luhan yang sudah terlihat membengkak dan beralih pada leher putih namja itu.

"Mmmhh"

Luhan tidak sengaja mengeluarkan desahannya saat Sehun menelusuri leher indahnya. Dilehernya ia merasa geli sekaligus nikmat diperlakukan oleh Sehun. Ia hampir terjatuh menahan nikmat karena kakinya melemas.

Sehun justru semakin bersemangat saat mendengar desahan Luhan. Ia langsung mengangkat Luhan dan membaringkannya di ranjang yang nantinya akan menjadi milik Luhan.

Sehun menduduki perut Luhan dan memandangi namja mungil bawahnya ini. Bibir merah itu telah membengkak dan mata Luhan terlihat sayu menambah gairah dalam dirinya. Luhan yang merasa diperhatikan menjadi sangat malu.

"Apa yang kau lihat?" Luhan menutupi wajahnya yang memerah.

"Aku melihatmu, aku ingin melihatmu Luhan" Sehun mengatakannya tepat ditelinga Luhan membuat Luhan merasa geli dan bergairah sekaligus.

"Aku akan membuatmu menyebut namaku Luhan"

Sehun kemudian dengan ganas menciumi Luhan. Melumat bibir kecil itu tanpa ampun dan mengigitnya sesekali membuat Luhan merasa nikmat juga sakit disaat yang bersamaan.

"Mmmhh"

"Nghh"

"Ahhhh"

Desahan demi desahan tidak mampu ditahan oleh keduanya saat mereka meleburkan gairah mereka dalam ciuman.

Puas dengan bibirnya , Sehun beralih merajai leher Luhan. Mengecapi setiap inci leher putih itu. Dan meninggalkan beberapa bercak keunguan sebagai tanda darinya.

"Akhh"

Luhan hanya mampu merintih menahan sakit namun ia tidak ingin namja pucat ini menghentikan aktivitasnya.

Tangan Sehun tidak serta merta tinggal diam. Ia mulai menelusuri perut rata Luhan dan meraba raba permukaan kulit Luhan yang membuat Luhan merasa geli dan menggelinjang karenanya. Sehun terus merambat naik hingga dengan tidak sabaran ia merobek paksa kaos yang Luhan kenakan.

Sehun membuangnya kesembarang arah kemudian memperhatikan tonjolan kecil berwarna merah muda dihadapannya. Luhan tau Sehun sedang menatapnya dengan lapar membuatnya memerah.

"Aaaahhh"

Luhan mendesah kuat saat Sehun dengan tidak sabaran menghisap habis nipplenya. Antara nikmat dan sakit lagi lagi harus ia rasakan. Saat kenikmatan menjalari tubuhnya karena Sehun mengemut nipplenya dan memilin pelan nipple yang satunya.

Sehun ikut mendesah saat Luhan mengelus rambutnya. Ia begitu menikmati kegiatannya mengemut nipple Luhan hingga berulang ulang. Sehun meninggalkan banyak tanda pada dada Luhan dan lebih banyak lagi pada perut ratanya.

Sehun merasa tidak bisa lagi menahan hasratnya. Tubuh Luhan sangat menggairahkan baginya. Belum lagi saat ia menatap Luhan, mata sayu namja itu seolah-olah menyetujui setiap tindakan yang ia ingin lakukan. Luhan hanya nampak pasrah namun terlihat menggairahkan dan membekar libidonya.

"Baiklah, aku tidak akan main-main lagi Luhan. Apa kau tidak mengingat namaku?"

Luhan yang berada di bawahnya hanya memberinya tatapan sayu sambil mengatur deru nafasnya.

"Aku tidak ingat siapa namamu, sungguh."

"Kalau begitu aku akan menyelesaikan ini dan akan memberitahukanmu di akhir"

Sehun berkata dengan senyuman licik menghiasi wajahnya. Ia engelus pelan penis Luhan yang membesar. Dan membuat Luhan memejamkan matanya tanda ia menikmati sentuhan itu.

"Aku akan melakukannya dengan cepat"

Seru Sehun kemudian ia melepaskan celana Luhan dengan kasar. Sekarang Luhan berbaring dibawahnya tanpa sehelaipun menutupi tubuh mungilnya.

"Kau indah sekali Luhan"

Sehun menundukkan wajahnya tepat di depan penis mungil Luhan dan meniupnya sebentar.

"Ja.. Jangan lakukan ituhhh"

Sehun berhenti meniup dan langsung melahap penis yang ukurannya jauh lebih kecil darinya itu. Ia mulai menjilati kemudian mengulum penis Luhan.

Luhan merasa perutnya seperti dikocok. Ia baru pertama kali merasakan sensasi nikmat seperti ini. Seperti ada ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.

"Ngghh… Ohh.. "

Sehun terus mengulum penis Luhan serta memainkan twinsball milik namja itu membuat Luhan tidak kuasa menahan nikmat. Luhan meremas sprei merah alasnya bercinta.

"Aahhh… Ahhh.. Oohhh.. Nik..mathh sekalihh"

Luhan makin merasa sesak, ada yang ingin ia keluarkan.

"Akhh akuhh.. Ingin pipisss ahhh"

"Keluarkan saja sayang"

"Ahhhhhh…."

Crot

Crot

Luhan mencapai klimaks tersenyum, merasa sedikit bangga pekerjaannya membuat Luhan merasa nikmat. Lantas ia menjilati jari telunjuknya dan mulai menekan lubang Luhan.

Luhan kaget saat sesuatu menyentuh lubangnya, namun ia seolah tidak bisa menahannya lagi. Ia hanya pasrah dengan apa yang Sehun lakukan dibawah sana.

Sehun memasukkan jarinya kedalam Luhan dan membuat namja mungil itu menyerengit kesakitan.

"Aaahhh Sakith sekalihh"

"Sabarlah, aku akan lebih pelan"

Sehun mengeluarkan jarinya dan memasukkannya lagi berulang ulang membuat Luhan mendesah hebat. Kemudian Sehun memasukkan dua jari lain kedalam lubang Luhan. Tentu saja Luhan merasa lubangnya seperti dikoyak oleh benda tajam.

"Ughh sakith.."

"Kau harus terbiasa dengan ini, karena punyaku ukurannya jauh lebih besar dari ini" Sehun terus mengin dan outkan ketiga jarinya membuat Luhan kesakitan sekaligus mendapat kenikmatan.

"Kalauhh begituh.. Masukkann.. Sajah punyamuuh.. Akkhh"

"Itu yang aku tunggu sayang"

Tanpa babibu Sehun langsung menarik paksa jarinya dari lubang Luhan dan dengan segera mungkin melepaskan celananya. Luhan membelalakkan matanya saat dilihatnya penis Sehun yang ukurannya sangat besar, mungkin tiga kali lebih besar dari punyanya.

Sehun mulai menciumi Luhan kembali dengan ganas dan kali ini diterima dengan baik oleh Luhan. Ia memilin nipple Luhan agar Lihan tidak terlalu merasa sakit. Luhan mengalungkan lengannya pada leher Sehun dan mulai mendominasi ciuman mereka.

Sehun sudah membuka lebar paha Luhan lalu memposisikan penisnya ke lubang Luhan dan dengan sekali hentakan langsung menerobos dinding pertahanan lubang Luhan.

"Akhhhhhhh"

Hal itu jelas membuat Luhan menghentikan ciumannya dan menangis.

" Ini tidak akan lama"

Kemudian Sehun mulai menggenjot Luhan yang berada dibawahnya. Diawali dengan tempo lambat berubah menjadi brutal dan tak terkendali. Sehun seolah sudah melupakan seseorang yang berada dibawahnya. Ia merasa sangat bergairah dan menggenjot Luhan dengan tempo sangat cepat membuat Luhan harus ikut bergerak hebat dibawah.

"Ahh.. Nghhhh.. Aahhh.. Ouhhh…"

"Mmhh.. Ahh.. Ohhh.."

Berbagai desahan keluar dari mulut keduanya. Sehun menjilati nipple Luhan yang membuat si empunya makin menggila.

"Aahhh.. Aahhh..nikmathh"

"Sshhh.. Kau aahh sangath sempithh ahh.."

Sehun terus menggenjot lubang Luhan hingga keujungnya ia merasa telah mengenai titik Spot Luhan.

"Ahh yaa disanahh.. Eunghh.."

Luhan yang nampak nya akan menjemput klimaks keduanya mulai menggoyangkan pinggulnya seiring permainan Sehun. Sehun tak tinggal diam langsung mengocok penis Luhan dengan tempo yang tak kalah cepat dengan genjotannya. Hingga Luhan mencapai orgasmenya disusul oleh Sehun setelahnya.

"Ahh.. Aku Inginn keluarhhh~"

"Jangan ketatkan lubangmu.. Ahh~"

"Aahhhh…~~"

Keduanya menjerit mendapatkan klimaksnya. Sehun segera mencabut penisnya dan berbaring di sebelah Luhan. Sehun mengecup bibir Luhan kemudian pipinya.

"Bagaimana hmm? Kau masih belum mengingatnya?"

"Aku sama sekali tidak ingat, aku sangat lelah" Luhan benar-benar kelelahan ia bahkan tidak sanggup untuk membuka matanya lagi.

Sang pangeran nampaknya tidak merasa lelah sama sekali. Ia terus menggoda Luhan dengan menciumi leher Luhan lagi. Dan mengecap beberapa tanda disana.

"Unghhh.. Ahh…"

Meski lelah nampaknya Luhan masih bisa mendesah. Sehun mendekatinya dan membisikkan sesuatu di telinga Luhan.

"Sebut namaku. Namaku Sehun. Pastikan kau mengingatnya jika kau ingin mendesah karenaku lagi"

Kemudian Sehun mengulum pelan telinga Luhan menciumi dan menjilati daun telinga Luhan.

"Ngghh.. Ouhh.. Sehunn.. Sehunnhh.. Mmmhh… "

Lalu luhan terlelap dalam tidurnya. Diiringi untaian nama Sehun yang masih bisa dia desahkan. Sampai ia benar benar melayang ke dunia mimpinya yang baru.

.

.

Baekhyun bangun lebih awal kali ini. Ia sudah rapi dengan seragam sekolahnya dan siap untuk berangkat saat dilihatnya sang kakak masih bergelung dalam selimut tebalnya. Kaki kecilnya melangkah mendekati Luhan dan menggoyangkan tubuh sang kakak.

"Hyungg.. Hyung.. Ileonaa.."

Luhan masih terus saja tertidur hingga membuat Baekhyun geram. Berbagai cara sudah Baekhyun lakukan untuk membangunkan sang kakak. Hingga cara terakhir yang paling ampuh adalah dengan menggigit hidung sang kakak.

"Akkhh.. Appoo.. "

"Apa yang kau lakukan Baekhyunii?"

"Baekhyunii mau membangunkan hyung. Baekhyunii cudah mau belangkat ke cekolah hyung."

"Ya yaa baiklah hyung akan mengantarmu ne. Tunggu sebentar"

"Jangan tellalu lama hyung, nanti Baekhyunii telat ishhh" Baekhyun hanya bisa cemberut melihat hyungnya. Tidak biasanya Luhan hyung telat bangun.

Luhan berjalan perlahan menuju kamar mandi. Entah apa yang terjadi namun ia merasakan ngilu pada bagian belakangnya. Ia juga merasa sangat lelah ketika bangun.

Aishh kenapa ini sakit sekali?

Luhan yang masih setengah mengantuk tetap melakukan ritual mandinya. Ia mulai menggosok gigi dan menanggalkan pakaiannya. Betapa terkejutnya ia saat melihat bagian leher, dada dan perutnya dipenuhi bercak keunguan.

Astaga! Apa yang terjadi denganku?

Luhan coba menekan bercak di dadanya dan ingatannya langsung mengarah pada mimpinya tadi malam. Di mimpinya ia bertemu dengan seorang namja yang sangat tapan dan bercinta dengan orang itu.

"Sehun?" Luhan menggumamkan namanya.

Luhan memejamkan matanya mengingat saat Sehun mencium pipinya ketika ia tertidur.

"Tidak mungkin, itu hanya mimpi bukan? Mengapa bercak ini sangat nyata? Mengapa aku merasa lelah? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Lalu siapa Sehun sebenarnya?"

.

.

.

TBC


Chapter 4 selesai #dengdongdeng

Pengennya sih bed scene dibuat lebih liar.. Dimana Luhanlah yang mengusai Sehun xiixixxi

Tapi nanti sajahh, kita nikmati gaya bercinta mereka perlahan-lahan Xp

Sorry for late update, soalnya lagi banyak kerjaan sama tugas kampus T.T Tapi aku tetep usahaian buat fast update kog hhihihii

So. Jangan lupa tinggalin jejak kaki readern #bow

See you next chapter

Salam rusa ^^

Thanks for review :

Arifahohse,BigSehun'sjunior, .taoris,BijinYJS,ElisYeHet,Xandeer,NoonaLu,Seravin509-,parkNada, Xiuxiumin,