-= Missing =-

.

.

.

~ A story by shimizudani ~

.

.

.

Lee Kyuhyun.

Nama itu bukanlah nama orang yang Kibum cari. Kyuhyun yang dicarinya tidak memiliki kata 'Lee' dalam namanya. Jika itu 'Cho', maka kemungkinan itu masih ada. Kyuhyun yang ia temui mungkin memang orang yang selama ini ia cari. Nyatanya, tidak ada kata 'Cho' dalam namanya. Secara otomatis, kemungkinan itu pun hilang. Begitu pun dengan harapannya.

Hal lain yang membuat Kibum harus benar-benar memupus harapannya adalah fakta Kyuhyun yang tinggal di panti asuhan. Kyuhyun dalam ingatannya bukanlah Kyuhyun yang hidup tanpa keluarga. Masih ada 'mereka' yang merawat Kyuhyun. Tidak mungkin 'mereka' tega menelantarkannya. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk merawat anak-anaknya. Dan kewajiban itu pula lah yang dimiliki 'orang itu' karena Kyuhyun adalah darah dagingnya. Ya, seberapa pun ia membenci 'orang itu', ia harus percaya bahwa 'orang itu' akan merawat dan membesarkan Kyuhyun dengan baik.

"Hyung, sedang melamun apa?"

Suara ringan milik sang adik membuyarkan lamunan Kibum serta mengembalikan fokus pandangannya pada apa yang ada di hadapannya. Wajah Henry dan ibunya. Oh, ia nyaris lupa. Ia tengah duduk di meja makan dengan ayah, ibu, dan Henry berada di sekitarnya. Tentu saja karena saat ini adalah waktu makan malam dan keluarganya pantang melewatkannya. Seluruh keluarga harus duduk bersama di meja makan. Tidak boleh tidak, kecuali memang ada hal mendesak yang terjadi. Makan malam bersama. Ini merupakan aturan tak resmi dalam keluarganya.

Melamun, apa yang dilamunkan, dan kenapa harus dilamunkan, seharusnya tak boleh ada yang tahu. Itu menurut Kibum. Kegiatan tersebut tidak semestinya ia tunjukkan di hadapan orang lain. Harusnya begitu. Tapi, entah mengapa ia bisa melanggar prinsipnya sendiri. Ia bahkan tak tahu kapan lamunan itu datang dan mengambil pusat pikirannya. Betapa bodoh dirinya hingga tak menyadarinya.

"Apa yang mengganggu pikiranmu?" Kali ini ibunya yang bertanya dengan sedikit raut khawatir di wajahnya.

Kibum segera memutar otaknya untuk mencari alasan tepat dan masuk akal yang bisa ia berikan. Beruntunglah Kibum mempunyai otak jenius yang bisa ia andalkan kapan pun. Tak butuh lama baginya untuk berpikir karena jawaban itu sudah muncul di benaknya. "Oh, itu... Aku sedang memikirkan tugas sekolah. Aku belum punya ide akan melakukan apa," bohongnya tanpa ada nada gugup terselip dalam suaranya.

"Memangnya tugas apa, Hyung?" Henry kembali bertanya.

"Seni," jawab Kibum dengan ketenangan seperti biasa ia tunjukkan. Ia sudah menduga akan ada yang menanyakan hal itu. Karena itulah ia telah memikirkannya. Ketika ia menemukan sebuah alasan, ia memikirkannya sedetail mungkin dengan berbagai pertanyaan lanjutan yang mungkin ditanyakan. Dan sejujurnya, ia tidak benar-benar berbohong. Tugas seni memang ada. Tapi, ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya pada tugas tersebut.

"Kau bisa memikirkannya nanti. Habiskan dulu makan malammu." Suara berat sang ayah ikut bergabung.

"Ayah benar, Hyung. Lihat, aku sudah menghabiskan setengah makananku."

Kibum melirik piring Henry agar tahu maksud perkataan adiknya tentang 'menghabiskan setengah makanan'-nya. Makanan di piring Henry memang tinggal sedikit. Tidak sebanyak makanan di piringnya. Mungkin baru beberapa sendok yang ia makan. Dan, ia hanya bisa menunjukkan senyum bersalahnya kepada keluarganya lalu mulai menyendokkan makanan ke mulutnya. Kyuhyun atau siapa pun itu akan ia pikirkan lagi nanti. Saat ia sendiri dan tak ada yang bisa mengganggunya.

"Tadi kenapa tidak ikut main, Hyung?"

Kibum menghentikan sejenak kegiatan makannya. Ia menatap Henry dengan kerutan di dahinya. Main? Main apa? Ia baru akan bertanya ketika tiba-tiba sebuah kesadaran menghampirinya. Kerutan di dahinya pun perlahan lenyap. "Aku sedang malas bermain. Lagipula, guru juga membebaskan untuk melakukan apa saja," jawabnya yang yakin betul dengan tebakannya tentang 'main' yang dimaksud adiknya. "Permainanmu tadi bagus," tambahnya.

"Bisa jelaskan permainan apa yang kalian bicarakan?" tanya sang Ibu—menginterupsi obrolan keduanya.

"Sepak bola. Jam olahragaku dan hyung ternyata sama. Tapi, hyung sama sekali tidak melakukan apa-apa tadi."

"Aku duduk di pinggir lapangan. Mengobrol dengan teman-temanmu," sanggah Kibum cepat.

"Iya, aku melihatnya. Hyung cuma duduk, bukannya berolahraga," balas Henry tak kalah cepat.

"Sudah kubilang, aku sedang malas. Lebih asyik melihatmu bermain."

"Tapi, kan, Hyung, olahraga itu menyehatkan."

"Memang siapa yang bilang tidak?"

Oh, siapa yang tak emosi mendengar pertanyaan Kibum barusan. Pertanyaan tersebut seolah menjadi puncak perdebatan panjang antara dua kakak-beradik itu. Bagaimana tidak? Pertanyaan sederhana itu—yang diucapkan Kibum nyaris tanpa nada—sudah memancing emosi lawan bicaranya hingga Henry frustasi sendiri dibuatnya. "Hyung menyebalkan," gerutu Henry sembari mengerucutkan bibirnya, sebal.

Kibum tak mempedulikan reaksi adiknya itu. Siapa suruh berdebat dengannya? Ia memang tidak suka banyak bicara. Tapi, bukan berarti ia tidak pandai berdebat. Contohnya tadi. Ia bisa saja mengalah. Namun, alih-alih melakukannya, ia malah meladeni Henry yang jelas tak mau kalah itu. Yah... Sesekali melakukannya tak apa, kan?

Satu hal yang dipelajari Henry tentang sifat pendiam kakaknya. Jika Kibum sudah memperlihatkan sikap tak acuhnya, itu tandanya waktu bercanda usai. Kakaknya akan kembali ke mode cueknya. Seberapa pun Henry mencoba membuatnya tertawa, Kibum paling-paling hanya menanggapinya dengan senyuman dan komentar singkat. Tak ada perdebatan seperti yang dilakukan mereka tadi. Kakaknya hanya mau mendengarkan, tidak mendebatkan. Begitulah sifatnya. Aneh, memang.

.

.

"Boleh aku tahu nama lengkapmu?"

Pertanyaan yang dilontarkan Kibum di sekolah, tak hentinya berputar di otak Kyuhyun. Ini bukan kali pertama seseorang menanyakan hal tersebut padanya. Biasanya, ia tak ambil pusing. Jawab saja seadanya. Namun, berbeda dengan pagi tadi. Ada keraguan kala ia menjawabnya. Entahlah. Tiba-tiba saja ia merasa namanya bukanlah miliknya. Membingungkan, bukan?

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada PSP miliknya yang teronggok manis di dekatnya. PSP pemberian dua hyung tersayangnya, Jungsoo dan Heechul. Teringat olehnya kebersamaan mereka di masa lalu—saat keduanya menemaninya bermain. Senyumnya terkembang tatkala diingatnya kekhawatiran di wajah Jungsoo dan Heechul begitu tahu dirinya sakit. Ia berani bertaruh. Kakaknya akan bereaksi sama bila ia kembali sakit. Ngomong-ngomong soal sakit, sedari tadi badannya terasa tak enak. Entah karena suhu udara rendah atau apa... Yang jelas, rasa dingin menderanya ketika ia melepaskan jaket yang dikenakannya sehingga sampai sekarang ia masih memakai jaket kesayangannya itu.

Perlahan, pintu kamar Kyuhyun terbuka. Sesosok lelaki muda berdiri di terlihat lelah akibat aktivitas yang dilakukannya seharian ini. "Belum tidur, Kyu?" tanyanya, mendapati adiknya masih terjaga di malam yang mulai larut ini. Ia menutup pintu kamar, berjalan menuju satu-satunya meja di ruangan itu, meletakkan tas ranselnya, lalu mendudukkan dirinya pada kursi di sana.

"Ini baru mau tidur, Hyung," jawab Kyuhyun. Ia beranjak dari tempatnya duduk yang sebenarnya adalah kasur milik kakaknya. Tempat tidur di kamarnya bertingkat dengan Jungsoo tidur di bawah dan bagian atas ditiduri oleh Kyuhyun. Hampir semua tempat tidur di Rumah Harapan memiliki bentuk serupa. Lebih hemat tempat mengingat luas kamar yang tak terlalu besar.

Kyuhyun menaiki tangga kecil yang menjadi sarana menuju kasurnya. Ia langsung merebahkan diri begitu sampai di atas. Tak lupa ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut cukup tebal yang biasa ia gunakan. Ia menyelimutkannya hingga sebatas leher. Mungkin yang melihatnya akan heran karena Kyuhyun tak melepas jaketnya dan malah menambah ketebalannya menggunakan selimut. Jungsoo yang sejak tadi memperhatikan Kyuhyun, merasakan keheranan itu.

Dahi Jungsoo berkerut—menyadari keganjilan pada diri Kyuhyun. "Kau kenapa, Kyu?" tanya Jungsoo yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dipaksakannya tubuh lelahnya untuk berjalan menghampiri sang adik. "Kau sakit?" Ia bertanya lagi.

Kyuhyun menggelengkan kepala kemudian berkata, "Tidak, Hyung. Aku cuma merasa dingin."

Sebenarnya, tidak aneh bila Kyuhyun merasa dingin. Udara di awal bulan maret, meski sudah memasuki musim semi, tetaplah terasa dingin. Apalagi di malam hari yang tak tersentuh oleh kehangatan mentari. Dinginnya sangat menusuk hingga memakai selimut tebal merupakan pilihan terbaik, terutama bagi tubuh Kyuhyun yang tak tahan akan cuaca dingin. Masih mending jika ia hanya merasa kedinginan. Lebih parah bila dingin itu membuatnya sakit. Ia akan sangat menderita karena tidak hanya sehari ia terbaring sakit. Oh, begitu banyak pantangan bagi Kyuhyun. Tidak boleh kelelahan, tidak boleh kedinginan, dan juga menjauhi salju.

Mendengar kata 'dingin' seolah membunyikan alarm di otak Jungsoo. Bergegas, tangannya menyentuh dahi Kyuhyun. Dirasakannya permukaan kulit Kyuhyun yang jelas terasa hangat. Tetapi kemudian, helaan nafas terdengar keluar dari bibir Jungsoo saat menyadari suhu tubuh adiknya masih dalam kategori normal.

"Sudah kubilang, aku tidak sakit, Hyung," protes Kyuhyun karena ucapannya tak dianggap oleh Jungsoo. Ia memang merasa tak enak badan. Namun, ia masih merasa baik-baik saja. Setidaknya, ia belum merasakan sakit. Semoga saja tidak.

"Aku tahu." Jungsoo menimpali protes Kyuhyun dengan tenang. "Akan kuambilkan selimut lagi untukmu," ucapnya mulai melangkahkan kaki menuju satu-satunya lemari pakaian di sana. Ia mengambil sebuah selimut berwarna biru lalu membawanya kembali pada Kyuhyun.

"Harusnya kau nyalakan pemanasnya." Jungsoo berujar kala mata tajamnya mendapati pemanas ruangan di kamar itu dalam kondisi mati. Maka, ia pun membelokkan langkahnya, mengambil remote yang ada di atas meja, dan menyalakan pemanas yang pasti berguna di cuaca yang dingin ini. Dan kalau boleh jujur, tidak hanya Kyuhyun yang membutuhkannya. Tubuhnya juga memerlukannya karena rasa dingin itu sudah menderanya sejak dalam perjalanan pulang. Hanya saja kulitnya tidak sesensitif milik Kyuhyun sehingga level dingin yang mereka rasakan pun berbeda.

Kyuhyun mengamati gerak-gerak Jungsoo. Ia sedikit merasa bersalah karena dalam kondisi lelah pun ia selalu saja merepotkan kakaknya. Dan hebatnya Jungsoo, ia tidak pernah mengeluhkan sikap Kyuhyun yang terkadang manja berlebih. Bahkan saat eomma—pengurus Rumah Harapan yang menggantikan sosok ibu bagi mereka—menyuruhnya berbagi kamar dengan Jungsoo yang otomatis memaksa keluar Heechul dari kamarnya—Jungsoo dan Heechul dulu sekamar—kakaknya itu tidak pernah protes. Heechul juga. Mereka terlalu baik untuk membiarkannya menginvasi ruang pribadi keduanya.

Mata Kyuhyun tak lepas dari Jungsoo. Kini, pemuda yang terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya itu sudah berdiri di dekatnya. Tidak sulit menggapai ranjangnya yang ada di tingkat atas. Tempat tidurnya tidak setinggi itu hingga tanpa berjinjit pun mata mereka sudah dapat bertemu pandang. Dan melihat manik mata itu, mengingatkan Kyuhyun akan sesuatu.

"Hyung..." panggil Kyuhyun ragu.

Jungsoo tengah menyelimutkan selimut di tangannya ke tubuh Kyuhyun. Saat mendengar panggilan yang dilontarkan adiknya, ia hanya membalasnya dengan gumaman pelan.

Kyuhyun mendengarnya, tentu saja. Dan hal itu justru membuat nyalinya menciut. Entahlah. Keraguan itu semakin jelas dirasakannya.

"Ada apa, Kyu?" tanya Jungsoo yang sadar akan kediaman Kyuhyun. Dilihatnya juga kebimbangan yang tersirat dari gerakan mata kecokelatan itu. Biasanya, perilaku Kyuhyun seperti ini menunjukkan bahwa ada hal yang ingin diketahui Kyuhyun tapi takut menanyakannya. Ia sudah hafal salah satu kebiasaan adiknya itu. "Tanyakan saja," pintanya.

Kyuhyun kembali berpikir—masih menimbang pilihannya untuk bertanya. Namun kemudian, keraguan itu ia enyahkan. Ia sudah sering mengabaikan rasa penasarannya. Alhasil, ia harus terjaga hampir semalaman karena keinginan itu tak mau diajaknya berkompromi. Ia butuh tidur untuk melupakannya. Dan tidur bukan perkara mudah untuk dilakukannya saat rasa penasaran menguasainya. Menyebalkan.

"Namaku ..." Kyuhyun mengambil jeda dalam kalimatnya. "Apa benar namaku Lee Kyuhyun?" lanjutnya nyaris tanpa suara.

Jungsoo tersentak. Pertanyaan itu, meski sudah diantisipasi Jungsoo, tetap saja memberikan efek kejut tersendiri baginya. Ia sudah sering mendapat pertanyaan itu dari anak-anak penghuni Rumah Harapan. Tapi, Kyuhyun... Ia tidak ingat pernah menjawab pertanyaan serupa untuknya.

"Kenapa menanyakan itu, hmm?"

"Aku cuma penasaran. Apa namaku adalah pemberian orangtuaku ataukah... ?" tanyanya, sengaja menggantung kalimatnya.

Jungsoo terdiam. Ditatapnya wajah sang adik. Raut penuh harap itu ada di sana. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan Kyuhyun mengajukan pertanyaan tersebut. Namun, ia dapat memakluminya. Fakta bahwa Kyuhyun belum pernah menanyakannya sampai saat ini saja sudah membuatnya heran.

Sekelebat ingatan melintas dalam benak Jungsoo. Ia memejamkan mata. Kilasan itu makin nyata di pikirannya. Tentang Kyuhyun dan Rumah Harapan. Hari di mana pemuda enam belas tahun itu pertama kali datang ke sini. Dan barang yang dibawanya... Ia tahu nama Kyuhyun dari sana.

Jungsoo kembali membuka matanya. "Mungkin saja. Aku melihat nama 'Kyuhyun' di barang yang ada bersamamu dulu," jawabnya jujur.

"Barang? Barang apa? Boleh aku melihatnya?"

"Eomma yang menyimpannya. Akan aku tanyakan nanti."

Kyuhyun mengangguk puas mendengar jawaban Jungsoo. Penjelasan singkat kakaknya sudah cukup untuk menghapus rasa penasarannya tadi, walaupun keingintahuan lain muncul setelahnya. Sungguh, ia penasaran dengan 'barang' yang dimaksud Jungsoo. Mungkinkah itu surat yang ditinggalkan orangtua kandungnya? Ataukah hadiah yang dipersiapkan mereka untuknya? Tapi kemudian, ia tersadar. Jika mereka peduli padanya, lantas mengapa mereka meninggalkannya di sini?

"Pasti ada alasannya, Kyu." Seolah tahu pertanyaan yang menggelayut di benak Kyuhyun, Jungsoo pun menenangkannya melalui kalimat barusan. "Sekarang tidurlah. Sudah malam. Kau harus sekolah besok."

Kyuhyun mengangguk lagi. Kali ini dengan perasaan yang... entahlah. Ia sendiri bingung mendeskripsikannya. Hatinya di sisi lain, ia juga ingin tahu. Rasa takut itu juga ada. Mungkinkah orangtuanya benar-benar membuangnya?

Jungsoo merapikan selimut Kyuhyun. Tak lupa, ia mengelus surai panjang adiknya—berusaha memberikan ketenangan melalui sentuhannya. "Jangan dipikirkan lagi. Tidurlah." Ia tersenyum. Dan sepertinya, senyumnya mampu meneduhkan kegelisahan di hati Kyuhyun hingga dua kelopak mata Kyuhyun tertutup dan membawanya terlelap ke alam mimpi.

.

.

.

Pagi yang dingin di akhir bulan Maret.

Kyuhyun mengambil sebuah kotak bekal warna putih dari atas meja. Ia memperhatikan sejenak note kecil yang tertempel di atasnya. Kyuhyun. Itu adalah namanya. Tanpa berpikir dua kali pun, ia langsung tahu bila bekal itu memang disiapkan untuknya. Note itulah bukti nyatanya. Pandangannya kembali beralih ke meja yang ternyata tak hanya dihuni oleh kotak bekal miliknya. Ada puluhan kotak bekal beraneka bentuk dan warna yang berjejer rapi di sana lengkap dengan note kecil di masing-masing tutupnya.

Senandung kecil terdengar dari arah dapur. Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas. Kemudian, orang itu muncul. Dengan masih mengenakan celemek putih serta dua tangan yang membawa kotak bekal lain, ia tersenyum lebar kala didapatinya Kyuhyun memegang kotak bekal buatannya.

"Selamat pagi, Kyu," sapanya masih dengan senyum itu. "Sudah mau berangkat?"

Kyuhyun mengerjap, takjub akan keberadaan orang itu, terlebih mendengar suaranya. "Hyung tidak ke rumah sakit?" Ia balik bertanya.

Ya, orang itu adalah Jungsoo. Biasanya di jam segini, keberadaan Jungsoo sudah tak bisa terdeteksi di Rumah Harapan. Pekerjaannya sebagai dokter memang menuntutnya memiliki jam kerja lebih dibanding pekerjaan lain. Ini menyangkut nyawa seseorang. Jadi, ia harus siap kapan saja bila diperlukan. Sialnya, 'kapan saja' itu tak bisa diduga. Tidak hanya sekali ia menginap di rumah sakit. Banyaknya pasien yang datang juga pernah membuatnya terjaga semalaman. Ia tahu betul resiko pekerjaannya. Tapi, tak ada pilihan selain melakukan apa yang sudah menjadi pilihannya.

"Aku menggantikan teman berjaga besok. Jadi, hari ini aku libur."

Kyuhyun mengangguk paham. Setahunya, Jungsoo hanya mendapat satu hari libur dan itu di hari Minggu. Sementara hari ini adalah hari Sabtu. Karenanya, ia merasa aneh melihat Jungsoo ada di rumah di hari yang bukan merupakan hari liburnya. Apalagi, Jungsoo juga menyiapkan perbekalan mereka. Rasanya sudah lama sekali tidak melihat kakaknya melakukan hal tersebut.

"Kalau begitu, aku berangkat dulu, ya, Hyung," pamit Kyuhyun. Ia sudah bersiap melangkahkan kaki ketika tiba-tiba sebuah tangan mencekalnya.

"Tunggu, Kyu! Sebentar lagi Heechul turun."

Spontan, Kyuhyun mengerutkan keningnya. Heechul hyung? Apa hubungannya ia yang akan berangkat sekolah dengan hyung-nya itu?

"Heechul bilang mau mengantarkanmu ke sekolah," jelas Jungsoo yang mengerti akan makna kerutan di kening Kyuhyun.

"Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri."

Lagi-lagi tangan Jungsoo mencekalnya. "Jangan begitu! Heechul benar-benar ingin mengantarmu hari ini."

Kerutan di dahi Kyuhyun semakin bertambah. Ada apa ini? Kenapa ia tak boleh menolak tawaran Heechul?

"Kenapa?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Kyuhyun.

"Aku ingin melihat sekolahmu."

Sebuah suara lain ikut bergabung dalam obrolan mereka—Jungsoo dan Kyuhyun. Jungsoo menoleh. Begitu pun dengan Kyuhyun. Dan ya, Heechul di sana. Berjarak tak lebih dari tiga meter dari tempat mereka berdiri. Perlahan, Heechul mengayunkan kakinya mendekat ke arah mereka berdua.

"Buat apa?"

"Ingin saja. Aku sudah pernah mengunjungi sekolah anak-anak lain," ujar Heechul mengacu pada anak-anak penghuni Rumah Harapan. "Tapi, sekolahmu belum."

Kyuhyun ingin protes. Namun kemudian, helaan nafaslah yang keluar dari bibirnya. Agaknya, ia malas mendebatkan masalah ini. Yang ada, Heechul justru semakin ngotot dengan keinginannya itu. Maka, ia memilih diam. Apapun keinginan Heechul, ia tak mau ambil pusing. Intinya, ia harus pergi ke sekolah hari ini. Ada tugas yang harus dikumpulkan.

Ia akan berbalik saat sudut matanya menangkap pergerakan Heechul. Pemuda itu melemparkan benda di tangannya ke arah Kyuhyun. Untung, reaksi tubuh Kyuhyun cepat sehingga ia dapat menangkap benda tersebut yang ternyata sebuah jaket tebal.

"Pakai itu."

Tentu, Kyuhyun bingung menerimanya. Ia melihat ke arah tubuhnya sendiri. Sepasang seragam sekolah, sepatu, dan ransel telah melekat di tubuhnya. Sebagai tambahan, ia juga mengenakan jaket mengingat dinginnya udara di pagi ini. Lalu, kenapa Heechul menyuruhnya memakai jaket lagi? Jaket yang ia kenakan, meskipun tak setebal jaket yang dilemparkan Heechul padanya tadi, sudah cukup melindunginya dari terpaan hawa dingin.

"Kau tidak mau kedinginan, kan, saat naik motor bersamaku nanti?"

Ah, Kyuhyun mengerti sekarang. Bila pergi bersama Heechul artinya ia akan menumpang sepeda motornya. Hal itu juga berarti hembusan angin semakin kencang ia rasakan tatkala mengarungi jalanan menggunakan kendaraan tersebut. Tubuhnya tidak akan kuat menahannya, terutama di cuaca seperti ini.

Tanpa diminta lagi, Kyuhyun memakai jaket itu—melapisi jaket yang dikenakannya dengan jaket lain yang lebih tebal. Melihat penampilannya sekarang, mengingatkannya akan sesuatu. Setiap musim dingin ia juga melakukan hal yang sama—memakai jaket berlapis-lapis. Jika sekarang ia hanya mengenakan dua lapis saja, saat musim dingin hampir dapat dipastikan ia akan memakai lebih dari tiga lapis. Lengkap dengan sarung tangan, syal, masker, dan topi. Benar-benar penampilan yang akan membuatnya hangat meski temperatur udara di sekitarnya berada di bawah nol derajat. Tapi, musim dingin sudah lewat. Ia tidak akan mengenakan penampilan yang sama seperti saat musim dingin mendera. Tidak ada salju—sesuatu yang paling dibenci tubuhnya. Tetap hangat di cuaca dingin... Itu sudah lebih dari cukup.

"Ayo," ajak Heechul. Ia mulai berjalan melewati Jungsoo dan Kyuhyun.

"Kami berangkat, Hyung," pamitn Kyuhyun pada Jungsoo. Ia kemudian berbalik mengejar Heechul yang sudah berjalan mendahuluinya.

"Hati-hati," pesan Jungsoo setengah berteriak agar suaranya dapat didengar oleh mereka.

.

- Chapter 3 End -

.

Special Thanks To:

mifta cinya | juhyunelf | gnagyu | kyuhae | Awaelfkyu13 kyuli 99 | angel sparkyu | Apriliaa765 | adlia | sofyanayunita1 | Puput | maya kyu | Choding | Dwikurnia | Emon204 | hyunchiki | Shin Ririn1013 | oranganeh97 | kyuhae | dewiangel | Retnoelf | yolyol | GaemGyu92 | phn19 | namielf | Sparkyubum | tary sa | kyunoi | Guest yang tidak menyebutkan nama

(Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama)

Holahoo... Selamat pagi para pembaca Missing ~

Sudah lama ya sejak terakhir kali update? Dua bulan? Atau tiga bulan? Hehe... Maaf ya. Lagi hobi nonton film yang efeknya jadi suka berkhayal. Masalahnya, imajinasiku ini gak ada hubungannya sama sekali dengan cerita yang aku tulis. Niatnya sih pengen memanjakan diri sebentar. Tapi kok keterusan. Hehe...

Aku belum sepenuhnya mengedit chapter ini. Jadi, maaf jika banyak typo berkeliaran di mana-mana.

Oke, selamat menikmati ceritanya dan selalu aku tunggu review-nya.