Pijakan telapak kaki berbalutkan sepatu kets hitamnya kini tengah melangkah tertatih. Pasokan oksigen yang masuk terasa berangsur-angsur semakin lemah. Binar pada kedua matanya pun kian meredup. Sedikit lagi. Sedikit lagi sebelah tangannya meraih kenop pintu yang tak jauh lagi jaraknya.
Tetap memaksakan kesadarannya, akhirnya jemari kurus yang terlihat sedikit bergetar itu menggenggam kenop pintu apartemen dengan nomor 117. Kembali mengambil napas panjang seraya mulai memutar kenop tersebut dengan gerakan pelan.
Belum sempat ia menutup pintunya dari dalam, tubuhnya sudah hilang keseimbangan dan berakhir tidak sadarkan diri. Tepat setelah itu, seorang lelaki yang cukup berisi—sebab ia memaksa tidak ingin disebut gendut—berjalan mendekat karena mendengar suara debuman keras yang berhasil membangunkannya dari tidur ayamnya.
Kelopak matanya membulat terkejut sebelum berteriak panik, "Wonwoo hyung!"
Main Character(s) : Kim Mingyu& Jeon Wonwoo
+ Kwon Soonyoung & Lee Jihoon.
Character(s): the rest of Seventeen member.
Genre(s) : Humor(fail), Romance(fail), Drama(maybe).
Disclaimer : Semua cast yang ada disini milik mereka masing-masing. Saya hanya meminjam namanya saja, untuk kelangsungan cerita.
Warning(s) : AU, OOC, Typo(s), Yaoi, non-EYD.
Secercah sinar yang menyilaukan begitu memaksa guna menerobos sepasang kedua kelopak matanya sejak beberapa saat yang lalu. Namun entah mengapa rasanya terlalu berat dan dirinya enggan untuk melihat bagaimana keadaan realita sekarang.
Terbesit dalam hatinya andai saja semua masalah tentang konflik hidupnya ini akan berakhir jika ia membuka kedua matanya. Andai saja ketika retinanya kembali menangkap siluet dan segala bentuk duniatermasuk keadaan apartemennyaia bisa menjalani hari-hari yang tenang.
Sampai datangnya suara gaduh yang sungguh mengganggu, membuatnya mengerang kesal.
"Hyung~ aku tahu kau sudah sadar dari hmm... sekitar dua menit yang lalu. Aku menghitungnya loh,"
Abaikan suara ghaib tersebut. Jangan hiraukan, Wonwoo. Lebih baik kembali tidur dan menyelami mimpi indahmu saat pangeran berkuda putih mengundangmu ke acara konser Tujuh Belas. Dengan tiket VVIP. Plus sebucket coklat lengkap bersama makanan Itali—
"Hyung, kontak dengan ID Joshua-bokobok dari tadi mengirimimu pesan. Aku tidak membacanya kok, hanya melihat intinya; ada orderan gitu isinya."
Tubuh yang tadinya tergolek—sok—lemah dan seolah menggerakkan bahasa tubuh dengan makna; jangan-ganggu-awas-singa-galak pada akhirnya beranjak bangun karena satu hal.
Ada orderan.
"Serius, Boo?"
"Maunya serius apa bercanda, hyung? Aku sih pilih Pentine."
"Bodo amat." Lelah menghadapi ocehan tidak berguna juga menguras waktu tidurnya, Wonwoo berniat untuk kembali berbaring di ranjang empuknya sebelum suara ghaib itu menghantuinya lagi dan lagi.
"Tadi juga aku menerima pesan dari ID baru, tidak tahu siapa jadi aku diamkan saja. Sepertinya sih penagih hutang! Hyung, kau kredit motor baru, ya?"
"Berisik! Pergi sekolah dan jangan ganggu aku." Kalimat terakhir seorang Jeon Wonwoo sebelum benar-benar ingin kembali tidur.
Lawan bicaranya yang tak lain adalah sepupu dan roommate sehidup semati—amit-amit, jangan sampai selama hidupnya Wonwoo habiskan dengan tinggal bersama jenis cabai baru bernama Boo Seungkwan. Bisa mati berdiri nanti. Tidak berfaedah.
"Huh, mentang-mentang lagi demam. Sok akting sekarat gitu tadi malam sampai jatuh pingsan, bener deh hyung, kayaknya ada bakat buat jadi aktor." Ocehan Seungkwan kembali terlontar lalu ia melanjutkan, "Kalau hyung jadi artis, aku siap jadi make-up artist pribadimu!"
"Bodo amat." Ini kedua kalinya Wonwoo mengatakan kalimat seperti itu. Malas membalas obrolan yang tidak penting dan membuatnya semakin sakit kepala jika mendengar suara sepupunya yang cerewet itu.
Tiba-tiba sebuah tekstur asing hinggap di atas dahinya. Wonwoo mengintip melalui celah kelopak mata kanannya dan mendapatkan telapak tangan Seungkwan disana.
"Hm, sudah lebih baik. Setidaknya obat-nya manjur."
Wonwoo mengangkat sebelah alisnya bingung. Ia tidak pernah minum obat, jadi maksud dari obat yang dikatakan sepupunya itu obat seperti apa?
Seungkwan nyengir lalu kembali berkata tanpa beban, "Aku mencium dahimu setiap tiga jam sekali loh! Hitung-hitung sebagai pengganti obat karena pasti hyung tidak mau meminumnya."
Jeon Wonwoo kembali terjun ke dalam jurang yang namanya penyesalan.
Ia menyesal telah membiarkan seonggok cabai tinggal satu apartemen dengannya. Kenapa dulu ia tidak menyarankan untuk hidup terpisah namun tetap dalam ruang lingkup yang sama? Seperti halnya Wonwoo yang bertetangga dengan Jisoo.
Setidaknya itu lebih baik.
Namun kini sudah terlambat. Layaknya negara api yang sudah menyerang tempo dulu ketika Avatar masih botak.
"Tapi yang tadi itu serius hyung, tentang pesan berisi orderan. Sudah ah, aku mau berangkat sekolah. Cepat sembuh dan jangan lupa minum susu-nya ya, hyung!"
"Tumben baru datang,"
"Hyung-ku sedang sakit."
"Kau punya kakak laki-laki?" Menaikkan sebelah alisnya naik, salah satu siwa dengan name tag Lee Chan menatap sunbae-nya bingung.
Seungkwan menyadari kalimatnya yang kurang efektif, lantas menjelaskan kembali, "Maksudku sepupu, dan dia lebih tua, Dino-ah."
"Oh begitu rupanya, hyung." Lee Chan—salah seorang siswa akselerasi hingga kini berada dalam satu kelas yang sama bersama Seungkwan. Kelas XI-A2.
Dino, merupakan panggilan akrabnya—karena ia mengaku bahwa Dinosaurus itu ada yang kecil dan menggemaskan namun pandai, seperti dirinya.
Begitulah jawaban yang akan kalian dengar jika ada yang bertanya kok dipanggilnya Dino kepada Lee Chan.
"Oh iya hyung, baru saja tadi Hansol hyung melewati gerbang—pas di detik ke 8 sesudah bel berbunyi."
Kepala bulat itu menoleh patah-patah. Sudut bibirnya berkedut ingin mengomel—namun tak sampai hati bila objeknya adalah Dino sang Malaikat Gerbang ke Tujuh.
"Si bule jejadian itu, berani sekali dia melewati gerbang kita yang suci!" Tangan kanan mengepal sejalan dengan mulut komat-kamit, bisa dipastikan jika jiwa Pendisiplin yang Maha Agung tengah dilingkupi api merah.
"Lalu kenapa kau membiarkan dia masuk, hah?" Seungkwan butuh kejelasan untuk menindaklanjuti kasus ini.
Sudah lebih dari dua kali bule sok ganteng itu—yang sialnya satu habitat bersamanya dan Dino di kelas XI-A2—melewati gerbang suci sekolah dengan langkah kaki ringan tanpa beban.
Sedangkan bel sekolah sudah berbunyi sebelum si bule itu masuk ke dalam wilayah belajar.
Intinya; TIGA KALI TELAT DAN MENGABAIKAN DETENSI DARI PIHAK PENDISIPLIN SISWA.
"Awas saja kalau aku bertemu dengannya, akan ku gilas wajah bulenya itu dengan kain pel kelas saat piket nanti!"
Dino diam-diam melangkah menjauh melihat temannya sudah mengeluarkan aura pekat nan gelap. Ia juga berdoa semoga Vernon tetap dilindungi oleh dewi fortuna sampai saatnya tiba ajal menjemput—ketika datangnya piket kelas.
"Nah, Wonwoo, ini berkas kerjamu. Perjanjiannya sekitar jam sepuluh. Intinya kau harus tersenyum—senyum ya, bukan menyeringai. Jangan terlalu datar, cobalah untuk bersikap sedikit... ramah? Ah, pokoknya aku titip pesan; jangan sampai klien kita merasa tidak nyaman dan berakhir memutuskan kontrak begitu saja. Oke, itu hanya nasehat singkat dariku. Yang kutahu kau selalu saja memakai wajah emo-mu itu setiap saat. Tapi, sekali saja coba untuk sedikit berekspresi, ya? Ini orderan pertamamu, jangan pernah meninggalkan kesan buruk dengan klien kita. Oh iya, ruangan pertemuannya di lantai dua—dekat dengan koridor sebelah selatan. Kalau tersesat, tanya saja pada pegawai lain yang kebetulan lewat. Pasti mereka akan membantu, sip. Disini orangnya baik-baik, jadi tidak perlu sungkan. Yah, jenisnya sama seperti aku ini. Kau bisa menjadikanku sebagai contoh teladan, Jeon. Sudah ya, aku harus kembali ke posisiku. Semangat di hari pertamamu!"
Jeon Wonwoo cuma bisa facepalm. Nasehat singkat, katanya? Sedangkan kedua telinganya sudah panas sedari tadi. Untung saja yang barusan itu Jisoo, kalau misalnya Seungkwan—rasanya ingin angkat kaki dari sana kemudian bergegas mencari pekerjaan baru.
Bukannya Wonwoo tidak bisa senyum, ia hanya malas. Lagi pula kalau sering tersenyum, pesonanya pasti akan meningkat drastis. Jadi, demi menjaga agar kondisi dan situasi tetap kondusif, Wonwoo hanya memasang wajah emo-nya setiap hari. Bukan menebar senyuman memikat, oke.
Setelah mendengar ocehan Seungkwan tadi pagi; sejujurnya ia tidak mendengarkan, hanya masuk melalui telinga sebelah kanan lalu kembali keluar lewat telinga kiri. Kalimat yang ia tangkap hanya bagian 'Tapi yang tadi itu serius hyung, tentang pesan berisi orderan.' saja.
Maka dari itu, Wonwoo datang ke kantor meski suhu badannya masih terbilang cukup hangat—ia tetap memaksakan dirinya pergi ke sana. Baru saja ia bertemu dengan tetangga apartemennya, Jisoo, yang semena-mena menyerahkan berkas yang sungguh dia tidak tahu apa isinya serta apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Iya, Jisoo itu terlalu singkat, saking singkatnya ia tidak menyangka jikalau tetangganya yang sangat dekat dengannya dapat berbicara sepanjang itu—berikut dengan beberapa kalimat yang bersifat menyombongkan diri sendiri... halah, kok jadi mirip sepupunya yang cabe di luar sana, si Boo Seungkwan.
Mungkin karena terlalu sering berinteraksi dengan sepupunya, Jisoo bisa saja tertular virus tak kasat mata milik Seungkwan? Wonwoo berdoa semoga Jisoo dapat dibebaskan dari virus tersebut agar tidak terus menempel padanya. Amin.
Padahal Jeon Wonwoo merupakan pegawai baru, masih anak bawang istilahnya. Tidak tahu kemana arah tujuan setelah mendapatkan berkas kerja yang isinya berupa data klien juga surat kontrak, sebenarnya.
Pemuda yang tadi malam terserang demam itu akhirnya pergi menuju ruang pertemuan—Jisoo sempat menunjukkan dimana lokasi ruangan tersebut sebelum pria pemilik senyum malaikat itu kembali ke lobby.
Pintu berhasil dibuka, namun sepasang matanya tidak menemukan siapapun di dalamnya. Dia melihat jam dinding, jarum pendek masih bersemayam di angka sembilan. Sedangkan jam pertemuan pukul sepuluh, berarti masih ada waktu baginya untuk lebih mempersiapkan diri. Juga, mempelajari beberapa prosedur yang belum sempat ia jajah sebelum pergi kemari.
Terbesit dalam hatinya, kira-kira boleh tidak ya membuka dokumen yang sedari tadi ia bawa di dalam genggamannya? Namun demi menjaga privasi—juga waspada jika seandainya tindakan tersebut termasuk haram hukumnya, alhasil Wonwoo hanya menyimpan dokumen tersebut di atas meja yang tersedia disana.
Dengan dua bangku yang saling berhadapan di kedua sisinya, pemuda yang katanya penuh karisma itu yakin bahwa tempat ini benar-benar ruang pertemuan. Tujuannya yakni untuk mengajukan negosiasi juga kompensansi jika diperlukan. Serta yang paling utama ialah mencapai kesepakatan dengan terikatnya kontrak sebagai mitra kerja.
Awalnya tidak pernah terlintas jika pekerjaan seperti ini ternyata cukup rumit juga—sampai harus negosiasi dan berhadapan dengan klien secara langsung, sudah seperti rapat kecil saja rasanya.
Helaan napas terdengar sebelum Wonwoo menempati salah satu bangku yang tidak berpenghuni sembari meraih ponselnya. Dalam keheningan ia membaca beberapa prosedur juga menikmati ketenangan di dalam ruangan.
Cklek.
Tanda bahwa pintu dibuka. Wonwoo bergeming, pandangannya sontak beralih ke arah pintu yang sudah terbuka—menampakkan seseorang dengan setelan jas dan postur tinggi yang begitu sepadan dengan penampilannya saat ini. Highclass.
Pun terhadap sang pemuda yang menjadi ekstensi baru, kian mematung tanpa ada niatan untuk masuk lebih dalam ke ruangan yang berhasil ia pijaki ini. Langkahnya terhambat karena sepasang netranya bertubrukan dengan dua manik hitam yang kian menatapnya pula.
Tik. Tok. Tik. Tok.
Beberapa detik telah berlalu—Wonwoo yang menyadari jika suasana saat ini mulai canggung segera bangkit dari kursi duduknya semula.
Membungkuk singkat sebagai salam lalu berujar sopan, "Selamat datang, Kim Mingyu-ssi. Silakan masuk." persis seperti apa yang baru saja ia baca barusan di dalam prosedur pada bagian 'how to talk nicely with client'.
Kim Mingyu, pemuda yang baru saja ikut serta memasuki ruang pertemuan sempat terkesiap. Lantas ia kembali dalam keadaan normal—mengenyahkan tingkah bodohnya sebelum ini.
Siapa yang menyangka, jika pertemuan keduanya telah ditakdirkan untuk kembali beradu pandang―seperti saat ini.
Jikalau memang benang merah sudah terjalin, mengeratkan seratnya pada mereka, dapat dipastikan akan terjadi kejutan lainnya yang menunggu keduanya.
To Be Continued
Hahaha―lo, iya Kay tau ini udah molor berapa abad sih? Ternyata praktek salah satu fakultas Kesehatan yang sedang Kay jalani ini begitu padet, kawan. Jadi yah, hasil kelanjutan chapter ini begitu singkat... karena Kay butuh adaptasi lagi soal tulis menulis sepertinya, huhuhu. Semoga para pembaca bisa paham dan memaklumi ya. (u_u)
Akhir kata, cerita ini masih berlanjut kok, tapi jadwal terbangnya tidak tentu, ya. Terima kasih bagi yang masih menunggu dan meluangkan waktunya untuk read and vomment cerita ini. Kay kasih hearteu buat kalian!
Fyi, mungkin Kay akan lebih aktif di wattpad nih. Chapter ini pun udah duluan dipublish disana, ehehe. Ayo, berkunjung yaaa! Disini nih; JAENTHUSIAST Boleh follow juga, ehehe.
Ppyong!
28/11/2017
―Kay.
