Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Tak pernah sekali pun dalam hidupnya ia menjalani hidup seperti ini, menghabiskan sepanjang usiannya bersama sosok perempuan yang tak pernah ia sukai, tak pernah ia cintai. Benarkah?
Namun, apakah ada sebuah keterpaksaan yang berakhir dengan kehadiran seorang anak yang menjadi hasil dari cinta mereka?
Apakah ia akan terus memungkiri perasaannya? Apakah ia akan terus lari dari semua kenyataan yang ia jalani selama ini? Sementara keberadaan sosok wanita dan bocah kecil itu selalu menghiasi hari-harinya setiap hari.
.
.
For You
.
.
Seingatku dia mempunyai paras yang tidak jauh berbeda dariku, surai rambutku, warna mataku dan warna kulit yang kumiliki semua persis seperti miliknya. Ia tak pernah sedikitpun menyayangiku, hanya sekedar mengajakku bermain atau membelai rambutkupun ia tak pernah melakukannya, aku hanya memiliki mamaku dan sosok yang sekarang menjadi papaku, Paman Naruto. Ia yang memberiku kasih sayang, menggantikan sosok ayah biologis yang tak pernah sedikitpun menginginkan kehadiranku, bahkan sejak saat itu, ia tak pernah menampakkan batang hidungnya di depanku maupun mama. Ingatanku bahkan samar terhadapnya. Bagiku papa sudah mati.
"Inojin!" teriak seorang bocah berusia 10 tahunan mencari keberadaan seseorang bernama Inojin, langkahnya cepat, dengan mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia harus segera menemukan bocah nakal itu sebelum ibunya datang. Hari ini benar-benar melelahkan baginya, setumpuk pekerjaan rumah dari Mr. Richard dan sekarang ia harus mengurus 'makhluk' pirang bernama Inojin, adiknya. Ia menghela napas panjang dan menyunggingkan senyumnya ketika mendapati sosok pirang itu tengah tertidur di bangku taman tak jauh dari kompleks perumahan mereka, perlahan ia mendekati adiknya yang berusia 7 tahunan itu, ia mengguncang tubuh mungil itu pelan, "Bangun!" perintahnya.
Bocah itu menggerakkan tubuhnya sembari mengucek matanya, "Nii-chan…hoaaaahm!" ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang berwarna biru kehijauaan, "Bagaimana kau bisa menemukanku?" ia mengerucutkan bibirnya.
"Katakan padaku! Bagaimana kau bisa sampai di sini sendirian?!" Kou melipat kedua tangannya dengan sedikit berakting marah pada bocah itu. Pada kenyataannya, Kou tak pernah bisa sedikitpun marah pada bocah itu, ia benar-benar menyayangi adiknya itu, "Jawab pertanyaanku, Inojin!"
"Aku ke sini bersama Papa!"
"Kau berbohong!" potong Kou, "Papa tidak akan pulang cepat! Dan Mrs. Sarah kebingungan mencarimu kemana-mana!"
"Tapi aku tidak berbohong!" jawab bocah itu polos.
"Akan ku laporkan pada mama apa yang kau perbuat hari ini!"
Inojin kecil menggembungkan pipinya dan tersenyum ceria ketika mendapati sosok pirang lainnya yang menyunggingkan cengiran lebar dari belakang Onii-chan kesayangannya, "Lihat! Aku tidak berbohong!"
"Inojin datang bersamaku, Kou!" suara pria itu membuat Kou otomatis membalikkan tubuhnya, "Papa! Bukankah seharusnya kau kembali minggu depan?" ungkap Kou tak percaya.
Pria pirang itu hanya terkekeh dan mengacak surai rambut hitam pekat milik Kou, "Merindukanku, Kou? Kejutaaaaaaan!" Naruto memeluk putra kesayangannya yang sudah beranjak dewasa itu, rasanya baru kemarin ia menggendong bocah itu kemana-mana, membacakannya buku cerita setiap malam dan lihatlah ia sekarang, tingginya sudah hampir sebahunya dan wajahnya terlihat lebih dewasa.
Inojin menjulurkan lidah, mengejek sang kakak yang kini tengah terlihat merona, malu, "Aku kira anak ini berulah lagi!"
"Mrs. Sarah sudah bekerja sama dengan kami!" celetuk Inojin yang kemudian mendapat acakan rambut gemas dari sang papa, surai pirangnya yang diumbar panjang sebahu itu terlihat berantakan, "Papa!" protes bocah yang duduk di sekolah dasar itu.
"Sebaiknya kita cepat pulang sebelum mama kalian pulang!"
Kedua bocah itu mengangguk dan berjalan beriringan untuk pulang. Bagi Kou, inilah kebahagiannya, hanya ada Naruto, Ino, dirinya dan Inojin.
.
.
.
.
.
Hampir 8 tahun telah berlalu setelah peristiwa yang menguras perasaan, air mata, waktu dan tenaganya dan kini hidupnya jauh lebih tenang, lebih bahagia dengan Naruto, Kou dan Inojin, rasanya ia sudah membuang-buang waktunya untuk bersama Sasuke, Ahhh! Bukan maksud dia untuk menyesali keberadaan Kou, andai saja ia dapat memiliki Kou tanpa ada keterlibatan Sasuke.
Wanita itu menghela napasnya panjang, membasuh mukanya kembali dengan air dan memandang cermin lekat-lekat.
Bagaimana kabar, Ayah Fugaku, Ibu Mikoto dan Itachi-nii juga Mei Onee-san? Keempat orang itu pasti tersiksa karena tidak dapat bertemu dengan Kou, cucu dan keponakan pertama mereka, bagaimanapun juga mereka sangat mencintai Kou, ada bagian dari dirinya yang merasa bersalah karena memisahkan hubungan antara kakek, nenek, paman dan bibi dengan Kou.
"Apa yang kau pikirkan, Ino-chan?" Naruto terlihat memasuki kamar mandi, memandang wajah cantik wanitanya, ia berjalan mendekat lalu memijit pelan pundak wanita yang ia cintai, "Aku sudah selesai membantu Kou dengan pekerjaan rumahnya dan sekarang Kou dan Inojin sudah tidur."
Ino membalik tubuhnya dan mencium singkat bibir Naruto, "Terimakasih, Naruto-kun!"
Naruto mengusap pelan pucuk kepala Ino, "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Ino menggelengkan kepalanya, "Aku hanya memikirkan bagaimana beruntungnya aku memilikimu dan anak-anak, Naruto-kun!" jemari lentik milik wanita Yamanaka itu membelai lembut pipi sang pria Uzumaki, keduanya saling menatap dalam diam, pandangan dalam penuh dengan cinta, "Terimakasih banyak telah hadir dalam hidupku!"
"Ino-chan…"
Naruto mempersempit jarak diantara keduanya sebelum akhirnya mencium lembut bibir plum milik Ino, wanita cantik yang telah berhasil merebut hatinya, membuatnya mampu melakukan apapun agar wanita itu bahagia, "Bisakah kau berhenti untuk mengucapkan terimakasih, Ino-chan?" tanyanya di sela kegiatanya.
"Mmhh…tap..i"
Ino tak mampu berkata-kata lagi ketika pria pirang itu mengunci bibirnya dan tanpa ia sadari tangan milik pria itu sudah menelusup masuk ke dalam kaos yang ia kenakan, "Tidak… di sini, Narutooo.."
=FY=
"Papa."
Panggil bocah perempuan berusia 7 tahun itu pada sosok tampan dengan garis wajah tegas dan manik mata berwarna senada dengan warna rambutnya yang hitam, "Ada apa?" jawabnya angkuh, membuat gadis kecil itu urung untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia pikirkan, ia menggelengkan kepalanya.
"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, maka aku akan pergi, Juugo!" panggilnya pada pengawalnya, pria bertubuh tinggi yang dimaksud itupun menganggukkan kepalanya, "Aku akan melakukan perjalanan bisnis selama 1 minggu, pastikan semua keadaan di sini terkendali! Dan kau, Sarada!"
Bocah perempuan itu menegang ketika namanya dipanggil, "Yya…Papa!"
"Jangan membuat masalah ketika aku tak di sini!"
Anak perempuan bernama Sarada itu mengangguk, memandang punggung pria itu yang mulai menjauh dari pandangannya, Juugo, nampak prihatin dengan keadaan nona mudanya, "Apa anda memerlukan bantuan, Nona Sarada?"
"Juugo-san, apakah orang itu benar-benar papa kandungku?"
.
.
.
.
7 tahun berlalu dan masih segar dalam ingatannya bagaimana wajah bocah itu menatapnya, tatapan terakhir kali yang ia lihat dari sosok putranya, Kou. Mata hitam milik putra kandungnya itu seakan ingin ia dekap, bagaimana keadaan bocah itu sekarang? Ada dimana ia dan apakah ia baik-baik saja?
Uchiha Sasuke telah berhasil menjadi CEO dan sukses memimpin perusahaan keluarganya dan Itachi kheh, pria keriput itu pasti bangga dengan apa yang telah ia capai saat ini, bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Agar ia menggantikan posisinya dan membawa posisi perusahaan-perusahaan dibawah nama keluarga Uchiha maju?
Ia mempercepat laju kendaraannya di tengah pikirannya yang semrawut, pikirannya yang tiba-tiba memikirkan tentang putra kandungnya yang sekarang entah berada dimana, terakhir ia melihat bocah itu ketika sidang putusan terakhir perceraiannya dengan Ino, setelah itu ia tidak pernah lagi mengetahui kabar bocah itu serta ibunya, bahkan Deidara, Inoichi dan Shion menyembunyikan keberadaan mereka sekalipun Fugaku dan Mikoto memohon untuk bertemu cucunya sendiri.
Keluarga Yamanaka benar-benar sakit hati dengan perilakunya, tentu saja! mengingat bahwa mantan istrinya adalah putri satu-satunya keluarga Yamanaka dan layaknya Itachi, Deidara juga menyerahkan semua kekayaan keluarga Yamanaka untuk adik perempuannya itu, namun setelah peristiwa itu terjadi ia tak mengetahui sama sekali apa yang terjadi dengan keluarga Yamanaka kecuali bahwa bisnis mereka menjadi saingan kuat bisnis milik keluarga Uchiha.
Ponsel Sasuke bergetar. Ia melirik ponsel yang tergeletak pada dashboard kendaraannya, 'Ibiki', ia bergegas untuk mengangkat telepon itu, "Aku mengerti!" jawabnya, setelahnya ia menambah laju kecepatan mobilnya menuju tempat pertemuannya dengan pria yang baru saja meneleponnya itu.
.
.
To Be Continued…
.
.
Apakah yang akan terjadi di chapter selanjutnya? Bagaimana kehidupan Ino dan Kou setelah perceraiannya dengan Sasuke hingga hubungan percintaan yang bersemi dengan Naruto?
:'D
Mohon maaf untuk update yang terlalu pendek, mohon maaf jika ada typo dan kekurangan lainnya, juga TERIMAKASIH BANYAK bagi kalian yang Fav and Follow baik Fiksi ini dan Follow akun diriku, juga komentar yang belum bisa aku balas satu persatu, pokoknya terimakasih banyak atas komentar maupun flame yang mampir hihihi.
ENJOY ^^
Vale.
