.

.

.

.

Rasa dingin menyentuh permukaan bibir Yoongi.

"Ayolah Hyung, jangan marah terus," Jungkook menggoyang pelan sendoknya, "Aku jadi merasa bersalah." Dia kembali menyuap dirinya sendiri kala Yoongi tak kunjung membuka mulut.

"Dear," Jimin mengusap alis Yoongi yang bertaut. Memijat pelan, mengikuti garis alis Yoongi. Dia melakukannya berulang kali, ingin membuat kepala Yoongi kembali dingin dan bersedia berbicara dengan Jungkook.

Yoongi menjilat pelan cream yang menempel pada bibirnya. Sedikit terkejut karena rasa manis yang menyengat menyentuh lidahnya. Membentuk garis senyuman samar, dilakukannya tanpa sadar.

Dia ingin sekali menjambak rambut Jungkook hingga botak—kebetulan anak itu agak susah diseret ke salon. Ingin memaki Jungkook, seperti yang dia lakukan saat bocah itu tertawa karena wajahya yang memerah—gombalan tak bermutu Jimin memang menyebalkan. Bahkan kakinya pun sudah bersiap untuk menendang bokong Jungkook tadi, kalau bukan Jimin yang menghalanginya.

"Lima? Tujuh? Atau, sepuluh?" Jungkook menaik-turunkan alisnya. "Aku bisa belikan semuanya, asalkan kau bicara satu kata padaku, Hyung."

Tangan Jimin refleks menoyor kepala Jungkook. "Terlalu muda lima tahun mengatakannya, Kook. Kau lupa, nama siapa yang tercantum mengirim uang ke rekeningmu sebulan sekali?"

Jungkook terkekeh. Kembali mempertemukan lidahnya dengan ice cream yang mulai meleleh, "Yang pasti bukan kau, Hyung."

"Berani bertaruh? Kita ke Bank sekarang juga."

"Bukan begitu," Jungkook tergelak. Dia mengibaskan tangannya pelan, "nama Hyung, kan, Park Mochi. Iya kan, Yoongi Hyung?"

Yoongi hanya diam, seraya menyeruput teh. Telinganya merespon, mulai berubah warna menjadi merah.

Terkutuklah Jungkook dan kegiatan mengupingnya.

"Telingamu memerah karena marah, atau malu, Hyung?" Jungkook berbicara dengan nada jenaka. Membuat Jimin ikut terkekeh, kala warna merah itu menjalar ke pipi Yoongi. Seakan pipi itu meminta digigit olehnya.

Lengan kanan Jimin melingkari pundak Yoongi. Jimin tersenyum, membalas pandangan bertanya Yoongi. "Bocah itu, kalau tidak kau maafkan, malah makin menjadi. Dia berisik, Hyung. Maafkan saja." Jemarinya mengelus pelan pipi Yoongi, menarik atensinya.

Jungkook mendecih dalam hati. Drama picisan dimulai lagi.

"Iya. Aku berisik. Aku akan menginap di kamar Hyung malam ini, kalau Hyung masih belum memaafkanku."

Dengusan terdengar dari Jimin. Jungkook itu, mau minta dimaafkan atau meneror?

"Bocah."

Jungkook mendongak. Matanya berkilat, berbinar memandang Yoongi yang tampak acuh. "Iya, aku tau aku bocah. Maafkan aku, Hyung."

"Bocah. Kau bodoh. Kau anak paling bodoh yang pernah kukenal, sialan. Bedebah kecil yang berpikir bisa melakukan segalanya tanpa bantuan siapapun." Yoongi dan kalimat sarkatisnya. Dan kali ini, Jungkook senang mendengar bagaimana Yoongi memarahi dirinya. Membuktikan bahwa pemuda pucat itu masih menyayangi Jungkook.

"Sayangnya, bocah ini masih membutuhkanmu, Hyung. Setidaknya empat atau lima tahun lagi," Jungkook kembali menyodorkan sendoknya ke mulut Yoongi. "sekarang, baikan?"

"Kurang ajar." Dan rasa manis kembali menyapa lidah Yoongi, mengundang bunyi decapan dari bibirnya. "Pesankan yang tidak terlalu manis. Ini bisa membuatku obesitas,"

"Kau berlebihan, Hyung," Jungkook cemberut protes. "sekali-sekali pesta es krim takkan membuatmu obesitas, kecuali kau hanya makan es krim seumur hidupmu." Tangannya terangkat, memanggil pelayan dan menyebutkan beberapa nama es krim yang tak diketahui Yoongi.

Jimin mengusak surainya ke belakang seraya merogoh saku celana. Getaran ponselnya menggelitik paha. Begitu melihat nama si pengirim pesan, dia menyikut Yoongi pelan dan mendekatkan bibir ke telinganya. "Ketemu. Hyung mau lihat?"

Yoongi, yang tadinya ingin menginjak kaki Jimin karena seenaknya menyikut perut, menggeleng pelan. "Nanti, di apartemen." Netranya tak lepas dari Jungkook yang masih sibuk memilah pesanan.

"Datanya di kantor," jemarinya mengetikkan balasan pesan. "aku ke sana sekarang."

Yoongi mendecak. Berucap dengan nada malas, "Kirim lewat e-mail?" membuat Jimin terkekeh, mengetahui kekasih pucatnya ini sedang dalam mode manja. Tak bisa menahan diri untuk tidak menjawil pipi berisi Yoongi.

"Dia mengirim datanya ke laptop ku yang ada di kantor." Jimin berdiri. Mengundang pandangan bertanya dari si pemuda kelinci. "Kook, aku ada kerjaan. Jangan pesan banyak-banyak, Sugar ku sudah terlalu manis, aku takut gula darahku naik. Kalian baik-baik disini. Hyung, ini ponselku, kalau kau mau pesan taxi. Aku tau kalian tak membawa ponsel." Dia menarik tenguk Yoongi pelan untuk mengecup pelipisnya, dan berlalu setelah mengusak surai kelam Jungkook.

"Harusnya kau melibatkan aku dalam dramamu. Aku benar-benar panik setengah mati, bocah." Mata Yoongi memicing. "Kau persis seperti orang sekarat."

Jungkook tertawa renyah. "Maaf, Hyung. Aku tidak selemah itu. Taehyung itu mesum kuadrat, aku tidak mau menyerahkan tubuhku cuma-cuma padanya. Tidak ada hubungan spesial antara kami, aku bersumpah. Apa aktingku cukup bagus untuk mendapatkan piagam?"

"Bukan piagam. Piala emas." Seorang pelayan datang dengan berbagai es krim di nampan. Dia meletakkannya satu per satu dihadapan Yoongi, membuat pemuda pucat itu menarik napas jengah. Demi Tuhan, dia bisa obesitas.

"Aku bersyukur Jimin Hyung mendengar bisikanku. Kalau tidak, mungkin aku benar-benar dibawa ke Rumah Sakit olehmu, Hyung." tangan Jungkook terulur untuk mengambil salah satu es krim.

Yoongi hanya bergumam malas. Dia bangkit, merenggangkan tubuhnya. "Aku butuh persiapan sebelum menghabiskan semua ini. Jaga ponsel Jimin, Kookie."

Setelah buang air kecil, Yoongi berkaca sebentar. Mengusap poninya ke kanan, lalu mengerucutkan bibirnya. Kadang, Yoongi heran, kenapa dia memiliki lengkungan mata yang kecil juga bibir tipis. Jangan lupakan kulit pucatnya, yang membuat dirinya tampak seperti wanita sungguhan. Yah, walaupun dalam hal posisi Yoongi adalah submissive, tetap saja dia laki-laki.

Dia ingin terlihat tampan. Seperti Jimin.

Yoongi menggeleng pelan. Tidak. Jimin juga imut, seperti dia. Apalagi kalau bocah itu tersenyum. Matanya berubah menjadi dua buah garis lurus, sedangkan pipinya tampak membulat. Jimin itu imut.

But sexy as fuck, di atas ranjang.

Bibir Yoongi tersenyum samar. Apa-apaan ini. Kenapa dia jadi membayangkan perut kotak-kotak Jimin yang basah karena terbalur keringat—tolong hentikan imajinasi Yoongi sekarang juga.

Dia berjalan keluar, namun tubuh kecilnya terhuyung kala punggung seseorang menabraknya. Dia berdecak malas, dan mengernyit kala mendengar teriakan histeris menggema. Yoongi mendorong pelan setiap tubuh di depannya, mendapat beberapa cacian dan tak dipedulikannya. Dia segera berlari, menghampiri Jungkook yang memegang pecahan gelas terbalur darah.

.

.

.

.

"Min Yoongi? Kau makin cantik saja."

Yoongi menyentak kasar tubuh Jungkook agar terduduk di kursi. Dia merebut pecahan gelas tadi, membuangnya asal lalu menangkup wajah Jungkook. Berusaha merebut perhatian anak itu yang tengah kacau. Netranya bergerak ke sana kemari, membuat Yoongi meringis pelan.

"Setidaknya balas sapaanku, Yoongi. Seperti Jungkook. Iya kan, Kookie?"

Tangan Yoongi dengan sigap menahan pundak Jungkook agar tetap duduk. Dia kembali meringis pelan, Jungkook balas mencengkram pundaknya seperti sedang menyalurkan kemarahannya.

"Usir dia," Jungkook berkata dengan lirih. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar hebat, dan Yoongi yakin kali ini Jungkook tidak berakting. "usir bajingan itu,"

Ada bunyi ketukan saat sepatunya menyentuh lantai café yang terbuat dari kayu. "Aku tidak pernah mengajarimu mengumpat, sayang. Dan lagi, bajingan? Kemana panggilanmu padaku dulu, cute bunny?"

"Pergilah, Tuan Im." Desis Yoongi. Tangannya gatal ingin menghajar bajingan itu, namun ada Jungkook yang harus diperhatikannya saat ini.

"Kau cemburu, Yoon? Oh babe, kita—"

"Mana kainnya? Cepat!"

Yoongi menggebrak meja. Marah, karena pengunjung lain hanya menonton tanpa ada niatan membantunya. Seseorang maju, memberikan sehelai sapu tangan. Yoongi segera mengambilnya, mengikatnya pada lengan kiri Jungkook yang masih mengeluarkan darah.

"Yoon—"

"PERGI!"

Pria itu menarik senyum tipis. "Ya, mungkin lain kali." Gumamnya seraya berlalu.

Yoongi menyandarkan kepala Jungkook pada dadanya. Tangannya mengusap pelan pelipis Jungkook. Tubuhnya masih bergetar, membuat Yoongi makin panik. Dia terus berbisik, merapal kata-kata penenang pada Jungkook.

"Usir orang gila itu Hyung," suara Jungkook ikut bergetar. Dia terisak, tanpa air mata. Tangannya meremat kemeja yang dikenakan Yoongi dengan erat, seakan takut ditinggalkan.

"Dia sudah pergi," Yoongi mengangguk kecil pada pelayan yang datang membawa sekantong es batu. Dengan telaten, dia mengusap kepala Jungkook kala pemuda itu menjerit histeris karena lukanya yang disentuh dengan es. Jeritan kesakitan. Jeritan pilu. Tanpa sadar, air mata Yoongi telah memupuk.

Seorang pria berbibir tebal maju,

"Oh astaga Jungkook! Kau kenapa?"

Suara Seokjin berputar dalam kepala Jungkook.

.

.

.

.

Decakan Namjoon terdengar hingga sudut ruangan. Dia menatap jengkel Taehyung, yang masih berjalan gelisah kesana kemari sambil menggigiti kuku. Oh ayolah, dia sudah melakukannya sejak satu jam yang lalu, dan ada berkas penting yang harus dikerjakan oleh Namjoon.

"Lepas sepatumu. Itu mengganggu."

Taehyung berhenti. Menatap Namjoon dengan masih menggigit kuku. Dia mengernyit. "Hah?"

Namjoon menghela napas jengah. "Suaranya berisik. Aku harus fokus sekarang. Carilah Seokjin, atau V untuk mendengar curhatanmu."

"Ah ya, mana bocah itu?" akhirnya Taehyung berhenti menggigit kuku. Dia memutuskan untuk duduk di sofa. "Tiba-tiba aku merindukannya."

"Bocah itu anakmu, bung. Dia tidur di ruangan Seokjin. Pergi sana, jangan ganggu aku keparat."

Taehyung mengangkat bahu. Dia beranjak keluar dari ruangan Namjoon seraya memasukkan kedua tangan dalam saku. Ruangan Seokjin berjarak sepuluh meter dari ruangan Namjoon, dan Taehyung menendang pintu kala tiba di depan ruangan itu.

V terlihat mengucek matanya pelan. Dia sudah terduduk, mungkin baru bangun.

"Bocaaaaaaaah!"

Siapa bocah sebenarnya disini?

"Pa berisik! Aku masih mengantuk," rengekan manja terdengar dari bibir mungilnya. Taehyung yang gemas, menarik kedua pipi bulat itu.

"Bibirmu seperti bebek," Taehyung terbahak. Dan bukannya mengaduh, V mengambil ponsel Taehyung dari sakunya, lalu menatap pantulan dirinya pada layar ponsel. Dia ikut terkikik.

"Bebek!"

Pipi Taehyung juga ditarik olehnya. Dengan terkekeh, Taehyung menguselkan kepalanya pada sang anak.

V memainkan ponsel Taehyung. "Tadi siang Pa kemana?"

"Jalan-jalan dong," Taehyung terdiam sebentar. Pikirannya kembali melayang pada Jungkook yang terlihat sesak napas. Saat Taehyung akan memasuki mobil tadi, Jimin langsung menarik tubuhnya menjauh, lalu beringsut masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu berjalan, meninggalkan Taehyung yang hanya bisa termangu.

"Mau ikut!"

"Kan jalan-jalannya sudah selesai,"

"Pokoknya mau ikut!"

"Tapi kan—"

"Mau jalan-jalan juga!"

"Sama Seokjin Hyung sana!"

"Maunya sama Papa!"

"Aku capek!"

"Aku mau main!"

"Aku tidak mau!"

"Papaaaaaa!"

"Apaaaaaaa?"

"Ayo main!"

"Tidak mau!"

Dua-duanya bocah.

.

.

.

.

Jimin menahan napas. Matanya mengerjap, seraya menatap laptop dengan pandangan terkejutnya. Dia memijat pelipisnya sendiri.

"Dia adiknya Kim Namjoon? Serius?" dia bergumam pelan. Mengetukkan kepalanya pada meja, "Ada berapa Kim Namjoon disini? Kemungkinan dia bukan Kim Namjoon yang itu berapa persen?"

Kedua tangan Jimin mengepal sempurna. Takut, itulah yang dirasakannya. Membayangkan bagaimana rekasi Yoongi jika mengetahui hal ini.

Telepon kantornya berbunyi nyaring.

"Park."

"Tuan Park, toko bunga milik anda terbakar! Saya sedang berusaha menelepon pemadam, apinya cepat menyebar karena—"

Apa lagi ini.

.

.

.

.

"Terima kasih, Seokjin-ssi." Yoongi menerima uluran gelas berisi cokelat hangat itu. Dia meminumnya pelan, sambil memejamkan mata. Kepalanya yang terasa pusing disentuh oleh Seokjin.

"Tenang lah, Yoongi-ssi. Jangan memaksakan dirimu. Kau bisa beristirahat di kamarku." Seokjin memijat pelan kepala Yoongi. Membuat gerakan memutar yang tak dimengerti Yoongi. Masa bodoh, yang penting rasa peningnya berkurang.

"Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin membuat Jungkook bingung saat dia bangun nanti."

Seokjin mengangguk. Dia duduk di hadapan Yoongi, ikut menyesap cokelat panas miliknya. Lidahnya gatal ingin bertanya perihal Jungkook. Mengapa anak itu histeris? Ada luka apa di tangannya? Apa yang terjadi?

"Dari mana kau mengenal Jungkook, Seokjin-ssi?"

"Yah, aku pernah membeli bunga untuk suamiku dari tokonya."

Yoongi mengangguk. Dia kembali menyesap cokelatnya. Dan Seokjin mengangkat sebelah alisnya.

"Kau tidak merasa aneh? Aku gay."

"Aku juga."

Seokjin mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu terkekeh. "Aku dapat teman baru lagi." Tawanya ringan. "Jungkook, apa dia baik-baik saja?"

"Dia baik," Yoongi menyela dengan cepat. "kau tak perlu mengkhawatirkannya. Dia akan kembali seperti biasa saat bangun nanti. Tapi Seokjin-ssi, kumohon, jangan membicarakan hal ini dengannya nanti. Jangan pernah. Kapanpun."

Surai kepirangan Seokjin bergoyang kala dirinya mengangguk. Dirinya hanyalah sebatas pembeli bunga, dia tak memiliki hak untuk mengetahui kehidupan Jungkook. Yah, kalau saja Taehyung benar-benar berpacaran dengan Jungkook, barulah dia memiliki hak itu.

"Ah, Yoongi-ssi, ini milikmu?" Seokjin menyodorkan ponsel hitam milik Jimin. Yoongi mengambilnya dengan terburu, lalu meminta izin pergi ke balkon untuk menelepon. Mencari kontak telepon kantor Jimin dengan tergesa.

"Park Enterprise. Ada yang bisa kami dibantu?"

"Jimin, mana Jimin?"

"Tuan Min? Tuan Park baru saja keluar dari gedung. Beliau tidak memberi tahu ingin kemana, Tuan Park berjalan dengan tergesa."

Alis Yoongi berkerut. Kemana dia? "Benarkah? Seorang pun tidak ada yang tau? Dia tidak ada jadwal?"

"Tidak, Tuan. Tuan ingin menitipkan pe—"

"Telepon pemadam kebakaran!"

"Ada apa?"

"Kebakaran dimana?"

"Di toko Tua—"

Sambungan terputus. Dan Yoongi semakin heran. Kebakaran? Di toko tua? Seingatnya, Jimin tak pernah menaruh saham di toko manapun. Atau, Jimin baru saja bekerja sama dengan toko itu? Tidak, tidak, dia selalu meminta izin Yoongi untuk bekerja sama dengan perusahaan lain.

Lalu, toko siapa yang terbakar?

.

.

.

.

Toko elu Yoon /tampol/

Maaf alurnya kecepetan dan kependekan, trus mungkin ada beberapa kalimat yang susah dipahami karena aku sendiri ga ngerti /halah/

Tinggal Jeon Jungkook ama Ficlet Biology hmz. Itu cerita berdua isinya naena doang hmz.

Hope you enjoy this story! Cya!

Kiika246.