The First Chapter 4
Who is he
Baekhyun X Chanyeol
Chanyeol mendekap erat gundukan tanah yang basah pusara kekasihnya , di temani derasnya hujan seakan mengerti bagaimana tangisan namja tinggi itu tidak berhenti mengalir. Serak suaranya menandakan dia tak mampu lagi berbicara terbaring lemah dengan beribu penyesalan yg semakin menumpuk.
" Baekhyunah. " lirihan itu mengakhiri isakannya entah dia terlalu lelah menangis atau mungkin sudah tidak sadarkan diri lagi .
Author Pov
Sapuan angin begitu dingin menerpa wajah tampan itu tapi terasa menenangkan baginya. Didalam ketidaksadaraannya chanyeol bermimpi bertemu kembali sosok namja mungilnya. Baekhyun Memandang sendu kedalam manik keabuan yang begitu namja mungil itu sukai.
" chanyeolah. " bayangan putih itu membelai lembut pipi nya yang basah oleh air mata.
" baekhyunah ." Namja tinggi itu memegangi tangan halus yang membelai pipinya dan rasanya masih tetap sama saat terakhir kali dia memegangnya.
Baekhyun menghapus air mata yg mulai jatuh lagi tersenyum lembut , memandang penuh cinta .
" Jangan menangis lagi aku sedih jika kau bersedih. " baekhyun menelusuri perlahan bagaimana pahatan wajah itu begitu sempurna di matanya .
" Aku merindukan mu baek. " Chanyeol masih saja terisak ia ingin menggapai tubuh baekhyun untuk ia dekap. Menyampaikan rindu yang menumpuk .
Baekhyun sakit melihat seseorang yang dia cintai begitu terluka karena kepergiaannya.
" Berjanjilah untuk tetap hidup chanyeolah aku selalu bersama mu , walau kau tidak pernah menyadari nya. " Bayangan baekhyun tiba-tiba hilang tersapu oleh angin.
Pagi masih begitu berembun ketika sayup mata bulan sabit itu terbuka. Dia ingin menggerakkan tangan kirinya tapi terhenti saat dia merasa beban berat di dadanya. Baekhyun namja itu menoleh kesamping kirinya seketika tertawa kecil mendapati seseorang terbaring nyaman dipelukannya.
Baekhyun memandangi wajah cantik itu lama . Begitu damai dan tenang , tangan kanannya bergerak ingin menyentuh wajah itu kala jantungnya tiba-tiba memompa dengan cepat.
" akh. " Baekhyun memegangi dadanya yang sakit. mencoba meredam suaranya untuk tidak membuat kekasihnya terbangun. Namja itu perlahan menggeser tubuh sang kekasih dari dadanya dengan pelan tanpa ingin mengusik tidur nyenyaknya.
Baekhyun berjalan tertatih menuju kamar mandi berdiri masih memegangi dadanya , menatap wajahnya sendiri di cermin. dia berusaha mengatur nafasnya yang memburu rasa sesak di jantungnya seperti teremas amat kuat.
Jongin menatap sebal wanita yang kini berada dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan taeyeon bisa dibilang jongin tidak pernah suka dengan wanita itu.
sedangkan yang di tatap bersikap acuh dan tidak mau peduli sama sekali.
Baekhyun hanya bisa menghela nafas melihat perang dingin yang masih terjadi di antara mereka. Bukannya menikmati sarapan pagi dengan tenang , ketiganya masih dalam diam dengan aura dingin menusuk salah satunya.
" berhenti menatap ku seperti itu. " lama-lama yeoja itu jadi kesal melihat adik kekasihnya.
" kehadiran mu tidak di harapkan disini. " jongin berkata sinis pada taeyeon. Sungguh dari sekian banyak wanita kenapa wanita ini yang harus jadi kekasih hyungnya.
Dari pada taeyeon mungkin lebih baik hyungnya berkencan saja dengan si tiang listrik itu. oh ya ampun kenapa harus si park sih yang terlintas di pikirannya. Jongin menggeleng kepala kuat .
Baekhyun hanya menggeleng dengan tingkah laku adiknya. Kejadian itu sudah lama berlalu tapi jongin masih saja menyimpan dendam kepada kekasihnya.
" aku harus berangkat kerja , aku harap kalian tidak membuat kekacauan ." baekhyun berjalan menuju kekasihnya memberi usapan lembut di pucuk kepalanya.
Sesampainya dikantor namja kecil itu menyapa seseorang dengan biasa " selamat pagi luhan. "
Luhan tersenyum manis menyambut sapaan bosnya .
" selamat pagi sajangnim. " ujarnya sambil membungkuk hormat.
Sebelum melangkah lebih jauh baekhyun terfikir untuk menanyakan sesuatu.
" apakah chanyeol sudah datang. " baekhyun bertanya kepada luhan.
luhan mengangguk pelan " ne chanyeol sajangnim sudah datang tapi wajah nya pucat sekali aku khawatir dia sakit. "
Baekhyun melangkahkan kakinya cepat mencapai lantai teratas gedung ini . Entah kenapa saat mendengar chanyeol sakit dia begitu sangat khawatir.
Baekhyun menatap lama pintu ruangan itu sebelum mengetuknya " tok tok tok. "
Baekhyun menanti beberapa saat kemudian pintu itu terbuka dengan sendirinya. Baekhyun melangkah pelan menuju namja tinggi yg kini duduk di kursi kebesarannya dengan tangan yang menumpu pada wajahnya.
" kau sakit chanyeol. " ujarnya sambil memegang tangan besar itu.
seketika namja tinggi itu tersentak akibat sentuhan kulit mereka. Chanyol menurunkan tangan dan membuka matanya pelan. Menatap dengan dingin namja mungil di hadapannya.
" Bukan urusan mu , lebih baik selesaikan tugasmu. "
chanyeol kemudian beralih berpura-pura membaca berkas di mejanya. tapi tidak dipungkiri hatinya menghangat mendapat perhatian itu.
" tapi kau demam chanyeol ." baekhyun masih berkeras hati melihat bagaimana wajah itu sangat pucat.
Namja tinggi itu tiba-tiba menghentak semua kertas yang ada di tangannya. Memandang tajam baekhyun dengan penuh intimidasi.
" apa kau tuli , aku bilang bukan urusan mu. "
Baekhyun tersentak mundur beberapa langkah kebelakang. Tuli kenapa rasanya perkataan itu begitu menyakiti hatinya , namja itu memegangi dadanya yang terasa sakit mendengar perkataan itu. Mata bulan sabitnya berkaca-kaca menatap chanyeol. Dengan pelan dia membalik Tubuh berlari kencang meninggalkan chanyeol dalam keterdiamannya.
" shit. " Chanyeol mengumpat dalam hatinya mengapa dia bisa berkata seperti itu. Dia berdiri mengambil langkah besar mengejar namja mungil itu .
Baekhyun berjalan menuju pembatas ujung atap di gedung pencakar langit . Menatap keatas langit yg biru sangat terang tapi tidak seterang hatinya sekarang.
" hiks hiks kenapa detakan ini tidak mau mereda." namja kecil itu memukuli dadanya. Kenapa rasanya sakit sekali hanya mendengar kata tuli . Tangis nya semakin menjadi ketika kata itu kembali terngiang.
" aku tidak tuli , aku tidak tuli. " baekhyun merapalkan kata-kata itu berulang kali Mengatakannya seperti mantra penenang.
Chanyeol POV
Aku melangkah pelan menuju namja mungil yan kini menangis karena perbuatan ku. Aku menatap lama punggung itu kenapa begitu menyakitkan baginya melihat mata indah itu berkaca-kaca .
" maafkan aku ." chanyeol mendekap erat tubuh itu dari belakang sangat pas dalam pelukannya. Dia bisa merasakan tubuh itu menegang seketika. Tapi tidak ada suara yg dia dengar.
" aku tidak bermaksud mengatakan itu. " namja jangkung itu masih memeluk tubuh baekhyun dengan suhu tubuhnya yang memanas.
Baekhyun merasakan tubuh chanyeol bertambah panas dari yang ia sentuh tadi. Dia membalikkan tubuhnya , menangkup wajah yg pucat itu.
" ayo kerumah sakit , panas mu sangat tinggi. " baekhyun berujar khawatir.
Chanyeol menggelengkan kepalanya menolak permintaan baekhyun " aku benci rumah sakit. "
Entah kenapa semenjak kepergian kekasihnya chanyeol tidak mau lagi menginjakkan kakinya dirumah sakit lagi.
Kyungsoo memasuki ruang rawat itu , tersenyum dengan mata yang samakin bulat. Melihat wanita tersayangnya terbaring menyambutnya dengan uliran tangan.
" eomma. " langkahnya kyungsoo bawa mengenggam tangan itu pelan.
" kyunggie sudah datang. " Byun changmin mencium kening anaknya lembut.
Kyungsoo menggangguk dan mendekap tubuh lemah itu semenjak hyungnya pergi eommanya sering saki-sakitan.
Kyungsoo ingin bertanya sesuatu " eomma bolehkah aku bertanya. "
Changmin menganggukan kepalanya masih menggenggam tangan anaknya.
" apakah aku dan hyung memiliki saudara lain ." kyungsoo menatap ibunya menanti jawaban .
Changmin tersentak mendengar pertanyaan anaknya kenapa tiba-tiba kyungsoo bertanya begitu.
" kenapa kyunggie bertanya begitu. " ujarnya dengan tenang.
" hanya ingin bertanya saja eomma tidak ada maksud apa pun. " kyungsoo tersenyum tidak ingin membuat pikiran ibunya terganggu.
Selepas kepergian kyungsoo dari rumah sakit , Byun changmin menatap sendu luar jendela yang begitu ramai di padati anak-anak yang bermain di taman.
" baekhyunah apakah kau baik-baik saja , apakah kau tumbuh dengan baik di sana. "
Jangan lupa Vote Uri Exo ya.
