Fic ini saya persembahkan untuk seseorang yang membuat saya jadi memiliki ide ini.
Oh ya, fic ini juga diambil dari komik karya Nanajima Kana - Lost First Love.
.
.
~40 Hari Bersamamu~
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : Airashii-chan desu
Warning : OCC, Typo's masih selalu bertebaran,EYD sangat berantakan, Ide pasaran (sangat), dll
Pair : NaruHina
Slight :NaruSaku, NaruShion
Jika ada kesamaan ide cerita dengan yang lain harap dimaklumi tapi, 100% ide cerita ini asli dari apa yang ada di pikiranku. XD
~HAPPY READING~
.
.
Panas teriknya sinar matahari yang sekarang tepat di atas kepala tidak meruntuhkan semangat ketiga anggota OSIS yang saat ini membantu Naruto dan Hinata untuk membeli beberapa bahan-bahan yang diperlukan untuk perayaan nanti.
Hinata dapat menghela nafas lega karena bahan-bahan yang dia perlukan sudah ia dapatkan. Karena itu, sekarang Hinata mencari tempat duduk di sebuah taman untuk beristirahat sejenak bersama dengan ketiga anggota OSIS kecuali Naruto yang saat ini masih sibuk mencari bahan-bahan yang ia dapatkan.
"Nee, Hyuuga-san. Kami kembali ke sekolah dulu ya? Lagipula kami sudah mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan," kata salah satu mewakili kedua anggota OSIS lainnya yang juga ingin berpamitan dengan Hinata.
"Oh, begitu ya? Eum...terima kasih atas bantuannya dan maaf jika harus merepotkan kalian." Hinata mengatakannya dengan tulus seraya setengah membungkuk pelan. Kesopanannya itu seakan-akan terlihat dia keturunan dari bangsawan saja hingga membuat anggota OSIS itu merasa canggung.
"Eng...me-memang sudah sewajarnya kami membantu, dan juga kami tidak direpotkan kok, Hyuuga-san. Kalau begitu tolong sampaikan pada Naruto ya, kalau kami kembali duluan."
Setelah Hinata menegakkan kembali tubuhnya, ia tersenyum lembut. Tanpa sadar senyumannya membuat anggota OSIS itu terpesona karena Hinata jarang memperlihatkan senyumannya yang manis kepada orang lain. "Tentu! Akan ku sampaikan nanti," jawabnya tegas yang menandakan bahwa ia mampu melakukannya.
"Baiklah. Kami pergi dulu Hyuuga-san."
Tanpa menunggu jawaban Hinata mereka sudah terlanjur pergi meninggalkan Hinata di bangku taman kota itu.
Hinata sebenarnya juga ingin segera kembali ke Sekolah tapi, ia tak bisa kembali karena masih menunggu Naruto. Bisa-bisa Naruto kebingungan jika Hinata kembali duluan, karena mereka sudah sepakat jika salah satu dari mereka sudah dapat bahan yang diperlukan maka harus menunggu yang lain di taman kota itu.
Karena itu Hinata mau tak mau harus bersabar menunggu Naruto. Tapi, ketika ia menyadari bahwa yang ditunggunya sekarang hanyalah Naruto seorang, perasaan yang tadinya ingin cepat kembali ke Sekolah berubah menjadi tidak ingin kembali dahulu jika tidak bersama dengan Naruto.
Hinata merasa tidak peduli bahwa ia sudah diingatkan oleh Shion beberapa hari yang lalu bahwa ia tidak boleh menyukai Naruto, karena ia yakin bahwa ia tidak mnyukai Naruto walaupun kadang ada perasaan aneh yang selalu dirasakannya dengan Naruto, dia...masih belum menyadari perasaan apa itu.
Yang Hinata inginkan hanyalah berteman dan bersama dengan Naruto, karena ia merasa nyaman dan tenang jika berada di dekatnya. Ia bahkan lupa dengan kata-katanya waktu itu bahwa ia tak mungkin berteman dengan dengan Naruto saat ia menolak pernyataan cinta Naruto dulu. Tanpa ia sadari ia telah termakan kata-katanya sendiri.
"Maaf, boleh kami duduk disini?" tanya seseorang yang tiba-tiba menyambung. Hinata yang merasa bahwa seseorang mengajaknya bicara, ia langsung menoleh ke arah datangnya suara itu. Dia melihat dua gadis yang mungkin seumuran dengannya sedang berdiri di sampingnya.
Hinata yang langsung tanggap atas permintaan kedua gadis itu ia kemudian menggeser tubuhnya ke samping kiri untuk membagi bangku panjang itu agar bisa diduduki oleh kedua gadis itu.
"Tentu, silahkan duduk," ujar Hinata seraya tersenyum ramah pada kedua gadis itu. Kedua gadis itu tampak senang atas keramahan Hinata yang ditujukan pada mereka. "Terima kasih." Setelah mengatakan itu mereka pun langsung duduk di bangku yang sudah disediakan Hinata.
Karena jarak duduk Hinata begitu dekat dengan kedua gadis itu otomatis dia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan-pembicaraan yang dibicarakan oleh mereka. Misalnya, membicarakan tentang tugas di Sekolah mereka, makanan yang ingin mereka makan, dorama yang ingin mereka tonton, artis yang mereka idolakan, dan masih banyak lagi.
Hinata tidak merasa risih atas kehebohan kedua gadis itu, karena menurutnya pembicaraan mereka begitu menarik untuk didengarkan walaupun ia tak ikut meresponnya, karena Hinata tidak mengenal mereka, sampai ia mendengarkan suatu perbincangan yang lebih menarik dari mereka.
"Matsuri, bagaimana kau tahu kalau kau suka pada Gaara-kun? Kau masih menyukainya, kan?" tanya salah satu gadis itu pada gadis yang Hinata baru ketahui bernama Matsuri.
Dengan diam Hinata mempertajam pendengarannya karena siapa tahu suatu saat nanti dia jadi tahu perasaan cinta itu seperti apa, dan dia jadi bisa menganalisis kepada siapa perasaan itu nanti ditujukan.
Sebelum mendengar jawaban dari gadis yang bernama Matsuri itu, Hinata sempat melihat wajah Matsuri merah merona serta menunduk malu. Hinata jadi berimajinasi dan membayangkan jika suatu saat dia ditanya seperti itu pasti dia akan berperilaku persis sama seperti Matsuri saat ini. Membayangkan saja sudah membuatnya senang, apalagi merasakan perasaan cinta yang sesungguhnya?
"Te-tentu saja! Jangankan berbicara dengannya, berhadapan langsung dengannya saja sudah membuat jantungku berdebar-debar. Begitu pula ketika melihatnya tersenyum, kau tahu? Rasanya wajahku terasa memanas dan perutku bergejolak aneh. Lalu...rasanya juga menyesakkan di hati ketika melihatnya bersama dengan gadis lain."
Matsuri menjelaskan semua perasaan yang dirasakannya pada orang yang disukainya dan tanpa dia ketahui dia telah menyadarkan Hinata pada suatu hal. Hingga membuat Hinata langsung diam terpaku.
Jantung berdebar? Wajah terasa panas? Perut terasa bergejolak? Dan...hati terasa sesak?
Hinata tak yakin dengan apa didengarnya barusan. Perasaan-perasaan itu sama persis dirasakan Hinata ketika berurusan dengan pemuda yang dikenalnya.
Hinata mencoba mencerna kalimat-kalimat yang dikatakan Matsuri ke dalam otaknya untuk memastikan sesuatu. Sejenak ia menutup kedua mata Lavender-nya tapi, ternyata kenyataan yang dilihatnya sekarang ini melalui mata batinnya membuatnya mengerti bahwa...dalam keadaan mata tertutup pun ia masih dapat melihat wajah Naruto dengan jelas.
Saat ia mulai membuka matanya, ia serasa dihempaskan ke dalam konflik yang begitu rumit. Dia sama sekali tak menduga akan terjadi hal yang tidak ia inginkan. Hanya perlu beberapa menit ia jadi tahu apa keluhan-keluhan yang selama ini dia rasakan jika berada di dekat pemuda berambut kuning itu.
Ternyata...selama ini perasaan cinta menyelimuti hatinya tanpa ia sadari. Dalam sekejap ia merasa bahagia, karena akhirnya ia bisa mempunyai perasaan bahagia itu tapi, tiba-tiba kebahagiaan itu meluntur seketika saat mengetahui bahwa ia...mencintai orang yang salah.
Dia kembali dihempaskan ke dalam kenyataan yang membuat impiannya yang selama ini dia impikan bahwa jika dia mencintai seseorang pasti akan membuatnya bahagia itu telah musnah, karena orang yang dicintainya sudah menjadi milik orang lain, bukan bahagia lagi yang ia rasakan tapi, kesedihan serta kesakitan yang dapat dia rasakan secara bersamaan.
Hinata masih diam seribu bahasa, ia tak lagi mendengar perbincangan kedua gadis yang duduk di sampingnya. Dia bingung tak tahu harus menanggapi semua ini. Dia jadi berpikiran bahwa takdir ternyata bisa sekejam itu, membuat hal yang tak mungkin menjadi mungkin sekalipun menjadi kenyataan yang tak ia inginkan.
"Hinata?"
Deg! Suara itu!
Hinata menghela nafas berat ketika seseorang memanggil namanya. Melalui namanya saja dia sudah dapat mengenali siapa orang itu. Hanya mendengar suara Naruto yang memanggil namanya pun jantungnya langsung berdebar kencang.
Dengan berat hati ia menoleh ke arah Naruto seraya memamerkan senyuman manisnya yang seakan-akan mendapatkan barang yang ia inginkan saja. Tapi, atmosfer diantara mereka jadi menegang ketika mereka bertatapan satu sama lain namun, itu tak berlangsung lama, karena dengan sepihak Hinata mengalihkan tatapannya ke samping, lebih tepatnya menghindari tatapan mata Blue Ocean-nya Naruto yang mampu menembus relung hatinya.
Naruto jadi merasa ada yang aneh dengan Hinata, karena Hinata tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya. Ia jadi merasa canggung hingga mengusap pelan belakang kepalanya.
"Eum...dimana yang lainnya? Kok kamu sendirian?" tanya Naruto berbasa-basi yang sebenarnya hanya pertanyaan itulah yang terlintas di pikirannya ketika melihat Hinata tidak bersama dengan ketiga anggota OSIS yang tadi bersama mereka.
Hinata agak tersentak mendengar pertanyaan Naruto yang ditujukan padanya. Dia meremas ujung rok seragamnya untuk melampiaskan kegugupannya, dia masih belum siap berbicara dengan Naruto setelah tahu apa yang terjadi.
Setelah beberapa detik tak ada tanggapan dari Hinata itu membuat Naruto jadi bingung, karena Hinata mengabaikannya, rasanya membuat jadi tak nyaman. Dia jadi berpikiran, 'apakah dia sudah membuat kesalahan pada Hinata?'
Hinata tahu bahwa Naruto masih menunggunya untuk bicara. Walaupun ia tak siap ia harus siap, karena di dunia ini penuh kejutan yang terkadang tak seperti yang ia harapkan seperti sekarang, karena itu ia harus berusaha menerima takdir yang telah digariskan Tuhan untuknya.
"Go-gomen, Na-Naruto. Yang lainnya sudah kembali ke Sekolah. Ta-tadi mereka sudah berpamitan denganku." Akhirnya Hinata mengeluarkan suaranya juga namun, dia masih tak berani menatap kedua mata Blue Ocean-nya Naruto yang sedari tadi menatapnya. Dia sadar akan hal itu, karena itu akan membuat perasaannya akan tambah kacau jika tatapan mereka bertemu.
Setidaknya Naruto dapat bernafas lega, karena Hinata ternyata tidak mengabaikannya yang seperti ia takutkan. Senyuman yang menawan pun mengembang di bibir tipisnya ketika ia sadar bahwa Hinata ternyata menunggunya.
Hinata yang sempat melihat Naruto tersenyum padanya tak dapat dipungkiri wajahnya sekarang memanas, jika saja diperhatikan secara dekat maka akan terlihat wajah Hinata yang memerah. Suhu tubuhnya juga meningkat bahkan ia tidak tahu harus melakukan apa. Terkadang perasaan itu membuatnya tak nyaman.
"Eh?"
Spontan saja Hinata langsung menatap ke arah Naruto ketika tas plastik berisi barang-barang yang ada di sampingnya diambil oleh Naruto tanpa mengatakan apa-apa. Hinata masih menatap Naruto dengan tatapan bingung sebelum Naruto menjelaskan apa yang ia lakukan saat ini.
"Ini kubawa saja kamu pasti keberatan jika membawa banyak. Lebih baik kita kembali ke Sekolah tidak enak pasti yang lain sudah menunggu kita."
Belum sempat Hinata memprotes tindakan Naruto yang sepihak itu, Naruto sudah melangkahkan kakinya menjauh dari Hinata tanpa berkata apa-apa. Pada akhirnya Hinata pun bangkit dari tempat duduknya dan juga mulai melangkahkan kakinya mengikuti Naruto dari belakang.
Naruto tidak tahu, Hinata terus saja menatap punggungnya di sepanjang perjalanan mereka dengan tatapan matanya yang sayu.
'Yaaah...gadis yang sudah menolaknya kini telah jatuh cinta padamu. Aku...terlalu bodoh bisa-bisanya menyia-nyiakanmu benar kan, Naruto?' tanyanya dalam hati yang sebenarnya ia tujukan pada dirinya sendiri. Dan...untuk kesekian kalinya Hinata kembali meneteskan air matanya yang jatuh dengan sendirinya ketika menyadari bahwa ia...telah jatuh cinta pada Naruto. Pemuda...yang seharusnya tak boleh ia cintai. Kisah cintanya begitu miris.
.
.
~40 HARI BERSAMAMU~
.
.
Dengan pasrah Hinata menjatuhkan kepalanya di atas meja yang ada di perpustakaan. Tampang wajahnya terlihat suram, tak ada keceriaan yang selalu menghiasi wajahnya, yang ada hanya keterpurukannya saja.
Ia benar-benar stres, karena ujian matematikanya mendapatkan nilai 35, sangat parah hingga ia terpaksa mengikuti ujian perbaikan namun, jika di ujian perbaikan tidak bisa mendapatkan nilai minimal 70 maka konsekuensinya di liburan musim panas nanti akan mendapatkan pelajaran tambahan selama satu minggu penuh. Poor, Hinata!
Dia tak habis pikir, walaupun ia lemah terhadap pelajaran matematika tapi, ia tak mengira akan mendapatkan nilai separah itu. Apakah ini karena dampak perasaannya yang biasa para remaja katakan dengan sebutan 'Galau'? Entahlah Hinata tak ingin memikirkannya yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar dia bisa mengerjakan soal-soal ujian perbaikan nanti padahal ia belum begitu paham dengan rumus yang tercantum di buku paket matematikanya.
Hinata sebenarnya ingin meminta bantuan Sakura ataupun Ino tetapi, mereka berdua juga terlihat sibuk mengurusi ujian mata pelajaran yang lainnya. Karena itulah ia berharap meminjam buku dari perpustakaan akan membantu menyelesaikan masalahnya tapi malah sebaliknya, ia bahkan tidak mengerti sama sekali. Sepertinya dia memang akan ikut pelajaran tambahan di liburan musim panas nanti.
Hinata benar-benar telah frustasi, dia berharap akan ada keajaiban yang datang untuk mendatangkan seseorang agar bisa mengajari materi-materi apa saja yang akan diujikan dan juga rumus-rumus yang begitu memusingkan kepalanya.
"Fungsi buku itu sekarang menjadi bantal ya?" tanya seseorang tiba-tiba.
"Eh?"
Tentu saja langsung mengagetkan Hinata hingga ia menegakkan kepalanya dan mendapati seseorang yang ia kenal duduk di bangku yang ada di depannya.
"Na-Naruto?!" Sontak Hinata menyerukan nama orang itu dengan tampang tidak percaya, sedangkan orang yang bersangkutan pun hanya tertawa kecil melihat reaksi Hinata yang menurutnya lucu.
Hinata sama sekali tak menyangka, Naruto yang sudah membuat perasaannya selama beberapa hari ini kacau, sekarang dengan tampang tak berdosanya dan dengan mudahnya pula muncul di depannya. Rasanya memang mustahil jika tidak bertemu dengan Naruto, entah kenapa akhir-akhir ini Naruto pasti ada di sekelilingnya.
Hinata hanya menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang saat ini terlihat kacau ditambah lagi rasa gugup yang menyerangnya. Rasanya sekarang ia begitu sulit berkomunikasi dengan Naruto. Apa ketika Naruto menyukainya dulu, dia juga merasakan hal itu seperti dirinya sekarang?
Selagi Hinata menata dirinya, Naruto melihat-lihat buku yang terbuka di hadapan Hinata tapi, tanpa sengaja ia menemukan kertas ujian Hinata dan melihatnya seraya melirik Hinata melalui ekor matanya yang saat ini masih menunduk.
Naruto tertawa kecil ketika melihat kertas ujian itu, ternyata itu yang membuat mood Hinata jadi buruk.
"Nilai ujian matematikamu buruk sekali sih, Hinata?" komentar Naruto tiba-tiba. "Eh?!" Hinata tersentak dan langsung menatap Naruto hingga ia sadar ternyata kertas ujiannya sekarang berada di tangan Naruto.
"Kembalikan!" Dengan cepat Hinata langsung merebut kertas ujian matematikanya dari tangan Naruto, dan sekarang kertas ujiannya sudah ia pegang. Ya Tuhan...dia malu sekali hingga wajahnya memerah bak kepiting rebus. Kekesalan Hinata semakin bertambah, karena Naruto masih saja menertawakannya. Menurut Hinata ternyata Naruto juga bisa menjadi orang yang menyebalkan seperti itu.
Apa Naruto tidak sadar bahwa dialah dalang dari penyebab jatuhnya nilai matematikanya Hinata. Yah...lagipula memangnya Naruto peduli tentang hal itu? Tentu saja Naruto pasti tidak peduli tentang bagaimana perasaan Hinata terhadapnya sekarang ini, karena dia sudah mempunyai kekasih.
Bagi Hinata sekarang Naruto pasti hanya menganggapnya sebagai partner-nya di panitia perlengkapan, tidak lebih! Hinata harus terus mengingat hal itu dan juga harus meyakinkan dirinya untuk tidak mengharapkan lebih, karena hal itu akan menjadi hal yang sia-sia.
"Gomen, Hinata. Aku hanya tidak menyangka kau bisa mendapatkan nilai seburuk itu. Kukira kau itu siswi yang berprestasi." Naruto mencoba untuk menetralisir keadaan, karena ia tahu bahwa Hinata kesal padanya yang sedari tadi ia tertawakan.
Naruto tidak bermaksud mengejek Hinata hanya saja ia tidak menyangka saat mengetahui bahwa Hinata ternyata bisa mendapatkan nilai yang buruk padahal Hinata terlihat seperti siswi yang teladan apalagi Hinata salah satu pengurus perpustakaan Sekolah, pastinya semua orang akan tak percaya jika Hinata mendapatkan nilai jelek, bukan?
Sebenarnya Naruto merasa tak nyaman karena Hinata hanya diam saja dan menunduk, tidak merespon saat ia mengajaknya bicara. Apa Hinata benar-benar marah padanya? Ketika Naruto ingin berbicara lagi, Hinata langsung menyela dahulu.
"Tidak apa-apa kok, Naruto. Aku memang lemah terhadap pelajaran matematika," ujar Hinata seraya menatap Naruto dan tersenyum canggung sebelum ia melanjutkan perkataannya, tentunya sudah diprediksi oleh Naruto sebelumnya. "Oh ya, Naruto. Eum...kau bisa memban..."
"Tidak."
"Eh?"
"Kau pasti ingin bertanya, apa aku bisa membantumu kan, Hinata? Dan jawabanku adalah 'tidak'. Aku datang kemari bukan untuk membantumu tapi aku juga sibuk ingin mengerjakan tugasku. Jadi, maaf saja aku tak bisa membantumu," kata Naruto dengan santainya yang disertai cengiran khasnya namun, itu tidak berlangsung lama, karena Naruto telah memfokuskan pandangannya pada buku yang saat ini di hadapannya.
'A-apa-apaan itu?!' Hinata tercengo melihat penolakan Naruto yang bahkan ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Entah kenapa sikap Naruto jadi menyebalkan, ia sangat kesal pada Naruto hingga tanpa sadar ia mengerucutkan bibirnya dan kembali berkutat kembali pada buku paketnya tanpa peduli lagi dengan Naruto yang sudah membuat mood-nya bertambah buruk.
Tanpa Hinata sadari, sesekali Naruto melirik Hinata yang terlihat despresi ia bahkan mencoba menahan tawanya agar tidak diketahui oleh Hinata ketika melihat ekspresi wajah Hinata yang menurutnya begitu lucu karena ulahnya. Naruto beranggapan bahwa ternyata rasanya begitu menyenangkan bisa mengerjai Hinata seperti itu.
Tiba-tiba saja ada seseorang siswi yang menghampiri Naruto dan Hinata hingga membuat pandangan mereka teralihkan pada sosok siswi itu yang kemungkinan besar akan berurusan dengan salah satu dari mereka.
"Hyuuga-san, apa kau bisa membantuku menata kembali buku-buku yang telah dikembalikan itu di rak asalnya? Karena terlalu banyak buku jadi, aku agak kesulitan," kata siswi itu pada Hinata untuk meminta bantuannya yang ternyata siswi itu adalah salah satu pengurus perpustakaan juga.
Hinata yang tanggap pun segera berdiri dari tempat duduknya, "iya, Senpai." Jawaban singkat dari Hinata membuat siswi itu senang dan setelah itu melangkahkan kakinya untuk mulai melakukan kegiatan itu yang merupakan salah satu tugas pengurus perpustakaan, begitu juga dengan Hinata yang akan melakukan hal yang sama hingga ia meninggalkan Naruto sendirian yang sedang menyelesaikan tugasnya.
Melalui celah-celah dari rak-rak buku Hinata masih sempat mencuri pandang ke arah Naruto yang masih sibuk dengan tugasnya. Sekesal apapun dia pada pemuda berambut kuning itu tapi, tetap saja ia masih peduli bahkan memperhatikan apa yang dilakukannya.
Pandangannya selalu tertuju pada Naruto meskipun sebenarnya masih banyak hal yang yang menarik lebih darinya tapi, bagi Hinata objek yang paling menarik perhatiaannya tetaplah dia seorang, seakan-akan seperti ada magnet yang menarik pandangannya agar tetap terfokuskan pada Naruto. Yah, pesona yang dipancarkan dari diri Naruto memang tak bisa dihindari oleh Hinata, dia sadar akan hal itu.
Namun, ia tidak bisa berlama-lama memandang Naruto, karena masih banyak buku yang harus ia tata dan dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya ke rak-rak buku lainnya hingga ia tak dapat menjangkau Naruto melalui indera penglihatannya. Yah...dia memang harus cepat-cepat menyelesaikan tugasnya agar bisa segera menemui Naruto walaupun tak ada obrolan yang mengisi kebersamaan mereka. Hanya bisa menatap tanpa melakukan apapun itu membuat waktu berjalan begitu lambat dan ia suka itu jika berdua dengan Naruto.
Hinata langsung menyunggingkan bibirnya yang membentuk sebuah senyuman untuk menunjukkan kebahagiaannya ketika ia meletakkan buku terakhir di rak buku. Tugasnya telah selesai dengan begitu ia bisa langsung menemui Naruto dan bisa berdua lagi. Itu harapannya namun, senyuman bahagia itu telah memudar saat mengetahhui bahwa Naruto sudah tidak berada di tempat mereka bersama tadi.
Hinata agak kecewa atas ketiadaannya Naruto di bangku itu, yang ada hanya buku-buku yang berserakan di meja. Dia kira...Naruto akan menunggunya namun, perkiraan itu menjadikan sebuah kenyataan yang membuat hatinya kecewa sekarang.
Hinata tiba-tiba tersenyum miris ketika menyadari sesuatu. Kenapa dia harus kecewa ketika Naruto tidak menunggunya? Dia kan bukan siapa-siapanya Naruto? Dia jadi merasa bodoh bisa berpikiran bahwa Naruto akan memikirkan hal yang sama seperti dirinya yang ingin tetap bersama-sama.
Hinata mencoba untuk mengabaikan rasa sesak dan perih yang mendera dada serta hatinya dengan cara membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya, karena menurutnya lebih baik ia pulang saja apalagi matahari sudah mulai tenggelam ditambah lagi suasana di perpustakaan sudah mulai sepi.
"Eh? Ini kan bukunya Naruto?" kata Hinata yang agak bingung, karena menemukan buku tulis yang bertulisakan 'Uzumaki Naruto' di sampul depan buku itu yang letaknya diantara buku-buku milik Hinata.
"Ceroboh sekali sih," gumamnya pelan seraya tertawa kecil saat mengetahui pasti Naruto akan kebingungan mencari bukunya yang hilang itu. Dia pun mengambil buku tulis itu dan membukanya, ketika melihat lembaran-lembaran kertas di buku itu. Ia jadi tahu ternyata buku itu buku tulis mata pelajaran matematika.
Hinata tak menyangka ternyata Naruto orang yang rajin belajar. Dia bisa beranggapan seperti itu, karena setiap di buku itu ada rumus-rumus pasti dilingkari dan ditambah lagi di samping rumus itu ada tulisan semacam, 'hafalkan ini!' 'rumus ini akan keluar!'
Hinata terkagum-kagum atas cara belajarnya Naruto, dan dia masih saja tetap membalik lembaran-lembaran kertas di buku itu, tentunya masih ada kalimat-kalimat perintah yang tertulis dengan rapi di buku tulis itu.
'Soal ini sepertinya keluar!'
'Bisa jawab kalau hafal rumus ini!'
' Ini penting!'
'hafalkan rumus ini!'
'Ini rumus yang paling mudah dipahami!'
'Dapatkan nilai dari rumus ini!'
Aneh! Hinata merasa kalimat-kalimat itu lebih mirip sebuah pesan, tapi ia tidak tahu untuk siapa. Ketika ia kembali membalik-balikkan ke halaman awal ia jadi tak mengerti tapi, rasanya rumus-rumus itu sama seperti ada di soal ujian matematikanya.
Hinata semakin bingung hingga ada satu pesan yang benar-benar membuatnya terkejut dan dia membacanya. 'Berjuanglah Hinata! Semoga kau lulus!'
Ya Tuhan...Hinata langsung menjatuhkan buku tulis begitu saja dan menutup mulutnya yang terbuka lebar saking terkejutnya. Ingin sekali dia berteriak tapi suaranya tak bisa keluar. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. Tubuhnya langsung lemas seketika hingga ia mendudukkan dirinya di lantai perpustakaan yang dingin tapi, ia tidak memperdulikannya. Hinata...tak menyangka Naruto akan berbuat sejauh ini padahal sebelumnya Naruto menolak permintaannya.
Hinata jadi tahu maksud tugas yang dikerjakan Naruto tadi, ternyata Naruto membuat catatan itu untuknya. Hinata tak tahu harus melakukan apa ketika mengetahui hal ini, dia...sangat bahagia karena Naruto memperdulikannya. Perasaan cintanya senmakin bertambah.
'Tuhan...kenapa akibatnya malah terbalik begini?! Aku...aku...jadi bertambah mencintainya!' teriak Hinata dalam hati seraya meremas kemeja seragamnya tepat di mana jantungnya yang berdetak mengilu itu berada. Ia menangis, entah ia menangis karena bahagia atau kesakitan. Ia tidak peduli lagi, yang terpenting ia sudah mengakui bahwa sekarang ia benar-benar mencintai Naruto.
Naruto begitu kejam terhadap Hinata, tidak sadarkah bahwa perlakuannya kini telah menumbuhkan perasaan cinta Hinata? Perasaan itu sudah tidak bisa dihentikan lagi. Jadi, siapa yang pantas disalahkan atas tumbuhnya cinta itu? Hinata ataukah Naruto? Semakin rumit saja kisah cinta Hinata, andai saja waktu bisa terulang kembali Hinata pasti tak akan menolak Naruto jika jadinya akan seperti ini tapi, itu tidak akan mungkin, bukan?
.
.
~40 HARI BERSAMAMU~
.
.
Dengan wajah yang berseri Hinata menunjukkan sebuah kertas tepat dihadapan Naruto yang sekarang ini mereka berada di ruang OSIS.
"Lihat! Aku lulus!" kata Hinata dengan nada yang bersemangat serta senyuman manisnya itu mengembang si wajah cantiknya. Ternyata yang ditunjukkan Hinata pada Naruto itu kertas ujian matematikanya yang mendapatkan nilai 75.
Naruto pun juga ikut senang melihat keberhasilan Hinata dalam ujian perbaikan matematikanya. Ternyata usahanya membuat catatan rumus untuk Hinata tidak sia-sia. Naruto benar-benar bangga dengan kerja keras Hinata.
"Selamat ya? Kamu memanh hebat," puji Naruto dengan tulus seraya tertawa kecil dan mengusap kepala Hinata dengan pelan hingga rambutnya agak berantakan.
"Baru tahu ya kalau sebenarnya aku itu memang hebat, lho? Hanya saja saat itu aku sedang malas mengerjakan saja," kata Hinata dengan sombongnya seraya tersenyum bangga. Ia sengaja mengatakan hal itu untuk memancing agar Naruto kesal dengan perkataannya.
Seperti dugaan Hinata, ekspresi Naruto tiba-tiba berubah kesal. Padahal ia sudah membantu Hinata, bukannya berterima kasih melainkan menyombongkan dirinya sendiri. Rasanya agak percuma dia membantu Hinata.
"Apa-apaan sih? Itu kan berkat catatan juga kamu bisa lulus!" protes Naruto yang tidak terima dengan tampang yang luar biasa kesalnya. Bukannya menanggapi protesan Naruto tapi, Hinata tetap tertawa. Dia tak menyangka ternyata mengerjai Naruto itu begitu enyenangkan, dia jadi tahu bagaiman rasanya saat mengerjai seseorang sama seperti Naruto yang biasanya mengerjainya. Bisa dikatakan ini bentuk pembalasan dendamnya Hinata.
Hinata sadar kok kalau sebenarnya ia lulus ujian perbaikan matematika karena catatan milik Naruto yang sangat bermanfaat baginya. Karena itu Hinata sudah mempersiapkan hadiah untuk sebagai tanda terima kasihnya. Ketika tatapan mereka bertemu, Naruto langsung memalingkan wajahnya, ternyata ia masih kesal pada Hinata.
Seulas senyum pun menghiasi bibir Hinata. "Gomen, Naruto. Aku hanya bercanda kok. Eum...ini untukmu. Pergilah dengan Shion!" kata Hinata seraya mengulurkan dua lembar kertas pada Naruto. Naruto pun menoleh ke arah Hinata, ia sedikit tak mengerti dengan kertas yang diulurkan Hinata padanya.
Hinata memberi isyarat pada Naruto yang masih agak kebingungan untuk menerima dua lembaran kertas itu, mau tak mau Naruto mengambil kertas itu dari tangan Hinata dan melihatnya. Naruto agak terkejut melihat kertas itu yang ternyata...
"Itu kupon untuk makan Mie Ramen gratis di kedai Ichiraku. Kupon itu untukmu, sebagai tanda terima kasihku karena kau sudah membantuku," kata Hinata dengan tulus. Mungkin hanya itu yang bisa diberikan untuk Naruto karena ia tahu bahwa Naruto sangat menyukai Mie Ramen. Naruto terpaku sesaat, ia sama sekali tak menyangka Hinata akan memberikan hal yang sangat disukainya tapi ada sesuatu hal yang mengganggunya.
"Kau tahu tentang kedai Ichiraku?" tanyanya penasaran hingga menatap Hinata lekat-lekat yang seakan-akan menuntut Hinata agar menjawab pertanyaannya. Padahal, selama ia bersama Hinata dia belum pernah memberitahu tentang makanan Mie Ramen yang paling dia sukai di dunia ini yang ada di kedai Ichiraku yang sudah menjadi tempat langganannya selama ini.
Hinata tersenyum mendengar pertanyaan Naruto, tentu saja ia tahu karena dulu ia pernah diberitahu oleh Sakura tentang Naruto yang sangat menyukai makanan Mie Ramen di Kedai Ichiraku saat Sakura masih menyukai Naruto dulu.
"Tentu saja. Kau sangat menyukai Mie Ramen, kan? Apalagi di kedai Ichiraku yang sudah menjadi tempat langgananmu sejak kau masih SMP. Aku benar, kan?" jawab Hinata seraya meyakinkan Naruto kalau yang dikatakannya itu memang benar. Ah, dia memang harus berterima kasih pada Sakura karena berkat Sakura dia jadi tahu hal yang paling disukai Naruto.
Naruto yang mendengar jawaban Hinata sontak kedua mata Blue Ocean-nya melebar. Tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Kalau boleh jujur, Naruto sangat bahagia karena Hinata tahu apa yang disukainya. Tiba-tiba saja ada sesuatu hal yang terlintas di pikirannya, dia tidak peduli lagi karena ia sudah tidak bisa menahan perasaan bahagianya. Dia harus mengatakan sesuatu pada Hinata, karena mungkin saat ini adalah saat yang tepat.
Naruto tersenyum simpul pada Hinata, sebenarnya ia agak gugup tapi, ia harus mengatakan sekarang karena menurutnya penting dan sudah tak ada waktu lagi. "Ya. Kau benar Hinata," kata Naruto membenarkan pernyataan Hinata dan membuat Hinata tersenyum senang. "Hinata, kau saja ya yang menemaniku makan Mie Ramen-nya? Shion, tidak begitu suka dengan Mie Ramen," tambah Naruto atau lebih tepatnya mengajak Hinata untuk pergi bersama ke kedai Ichiraku.
Hinata yang belum menyadari dengan ajakan Naruto hanya diam saja. Mecoba mencerna perkataan Naruto ke dalam otaknya dan mengingat-ingatnya kembali. "E-eh?!" Hinata terkejut bukan main saat mengetahui maksud Naruto. Tiba-tiba jantungnya lansung brdegup kencang, wajahnya memanas hingga menimbulkan rona merah dikedua pipinya.
'A-apa maksudnya ini?!' Hinata benar-benar tak menyangka bahwa Naruto mengajaknya makan Mie Ramen, bukannya ia tidak suka tapi ini terlalu mendadak hingga ia tidak dapat berpikir jernih lagi. Hinata sangat bingung harus menjawab apa, ini hal yang sangat langka bisa makan bersama dengan Naruto tapi, ia harus sadar bahwa Naruto sudah menjadi milik orang lain dia tidak boleh terlalu dekat dengan Naruto.
Hinata mencoba memberanikan diri menatap wajah Naruto yang terlihat tenang-tenang saja yang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi, saat tatapan mereka bertemu Naruto tersenyum lembut pada Hinata. "Mau ya, Hinata?" Naruto sangat curang hanya dengan bermodal senyuman lembutnya saja sudah dapat mengikat hati Hinata hingga dapat melemahkan sistem indera Hinata sesaat, kalau begini bagaimana Hinata bisa menolak permintaan Naruto yang disertai dengan pesona yang menurut Hinata mampu mengalihkan perhatiannya pada sosok berambut kuning itu?
Hinata hanya mampu mengangguk pelan sebagai isyarat bahwa ia menyetujui ajakan Naruto. Hinata tahu ini salah tapi, ia tak bisa mengabaikan permintaan orang yang dicintainya apalagi ini kesempatannya untuk bisa bersama dengan Naruto lebih lama lagi. Naruto tampak bahagia karena Hinata menyetujui ajakannya. Menurut Hinata, mungkin bagi Naruto ini tidak berarti apa-apa tapi, bagi Hinata hal ini adalah sebuah keajaiban serta anugerah yang dikirimkan oleh Tuhan untuknya.
'Gomen, Shion-san,' kata Hinata dalam hati penuh dengan perasaan bersalah. Dia tahu kalau ia egois, karena hanya mementingkan perasaannya sendiri, tidak memikirkan perasaan Shion yang sekarang berstatus pacaran dengan Naruto. Ketika mencintai seseorang tentunya tanpa sadar akan bersikap egois agar bisa bersama dengan orang yang dicintai, bukan? Begitulah yang dirasakan Hinata saat ini.
.
.
To Be Continue
A/N : Hallo minna-san~ akhirnya chapter 4 selesai juga. Hmm...sepertinya agak panjang ya? XD
Gomen, kalau bisa baru update sekarang. Arigatou, sudah menyempatkan membaca bahkan sampai me-review fanfic ini, saya benar-benar senang bahkan saya tidak bisa mengatakan apa-apa lagi hanya bisa bersyukur atas dukungan2 para readers sekalian. XD
Yosh! Kalau begitu saya akan membalas Review yang khusus tidak login :
Yd : masih belum kok mungkin sekitar t chapter. Arigatou udah RnR. ^^
Fishy ELF : wah~ Arigatou gozaimasu~ udah rela2 baca ngebut. XD. ha'i ini udah update, arigatou udah RnR, ^^
KurosakiCaz : Sankyuu~ ^^
Ha'i akan saya usahakan beda dari cerita2 yang lain. hehehe... ini sudah update kok gomen, kalau lama. Arigatou udah RnR. ^^
benafill : Arigatou gozaimas~~ ini sudah update.
wah~ sankyuu atas kritikannya sangat membantu sekali, akan saya usahakan agar lebih teliti lagi dan akan saya berusaha untuk memperbaiki kesalahan2 yang ada di chapter sebelumnya. n_n
Ha'i arigatou udah RnR. ^^
naruhina lovers : Ha'i ini udah update. arigatou udah RnR. ^^
Yosh! akhirnya selesai juga membalas review para readers sekalian. saya senang sekali fanfic ini diterima dengan baik oleh minna-san.
Saya akan usahakan agar fanfic ini akan cepat selesai jadi, mohon bantuannya ya minna-san untuk tetap me-review fanfic ini karena tanpa review dari kalian fanfic ini tidak berarti apa2. Jadi, berkenankah para readers sekalian berpartisipasi untuk agak fanfic ini tetap berlanjut di kotak review di bawah ini? dan sampai jumpa di chapter selanjutnya! XD
Arigatou gozaimasu~ sudah berkenan RnR fanfic ini, semoga kita selalu berbahagia. ^^
Special Thanks to : MoodMaker, Fanlhewandh Hyuuzumaki, nakato-san, Hanori Wonderful, HandicaPEeS MentaleS, Yd, Fishy ELF, Dani No Baka, KurosakiCaz, benafill, naruhina lovers.
Maaf jika terjadi kesalahan atas penyebutan nama karena saya menggunakan metode 'Copas'. XD
Salam NARUHINA Lovers! XD
