warn: plotrush!

- chapter III -

.

.


Namjoon merasa jiwanya membubung saat Seokjin mengangguk dan mengiyakan perkataannya. Pembicaraan mereka berakhir dengan satu kecupan yang Namjoon lepaskan ke bibir Seokjin, perlahan seperti kupu-kupu.

Sekarang dan sejak tadi, Namjoon bagai melihat ladang bunga matahari; wajah Seokjin terlihat dua tingkat lebih berkilau di bawah tatapannya, meleleh dan memukau di waktu bersamaan. Semburat abu-abu cahaya bulan yang mengintip malu-malu dari kisi-kisi jendela membiaskan paras Seokjin, membuat Namjoon melayang-layang seperti roh yang kehilangan tempat tujuan.

Namjoon mengulurkan tangan dalam kegelapan itu. Jarinya menggenggam jemari Seokjin yang rapuh dan letih. Ia tidak tahu berapa lama mereka berada dalam satu tatapan seperti itu. Bola mata Seokjin bagai aliran mata air yang melewati sela-sela batu, dan Namjoon ingin tenggelam.

"Apa kau akan tertidur setelah ini?" Seokjin bertanya lirih.

Konsentrasi Namjoon terpecah. Ia menggeleng samar. "Mungkin, tetapi aku tidak yakin bisa menahan diriku sendiri tanpa benar-benar membuatmu mengantuk."

"Oh, bagaimana caranya?" Seokjin menjawab tersenyum. Namjoon pikir, senyum Seokjin terlihat seperti pemandangan nun jauh samar-samar namun sejuk dan menenangkan.

Namjoon merendahkan wajah dan bisa ia rasakan napas Seokjin mengombak di bibirnya. Ia mencuri kening pemuda itu, kemudian turun dan mengecup puncak hidungnya. Namjoon berlomba dengan debaran jantungnya sendiri sebelum kemudian bibirnya mencium sepasang kelopak Seokjin, dan benar-benar merasa tidak ingin berhenti.

Dengan keberanian yang ia miliki, Namjoon mengucapkannya, tiga kata itu. "Aku mencintaimu, Seokjin. Dan aku menginginkanmu sepenuhnya, untuk diriku sendiri."

.

.

Seokjin merasa dirinya hancur berkeping-keping ketika Namjoon menyebutkan namanya di sela-sela gerakannya yang teratur. Setiap gelombang luar biasa itu datang, ia merasa melebur menjadi udara dan tidak ada satu pun kekuatan yang bisa membuatnya kembali utuh selain sentuhan Namjoon.

"Tatap aku, Seokjin..."

Namjoon menyebutkan namanya, dengan berat dan dalam. Namanya terdengar jauh lebih benar dari pertama kali saat ia terlahir ke dunia. Ia meletakkan perasaannya ke tempat paling dasar dalam jiwanya untuk Namjoon. Dan kini, ia memberikan seluruh hidupnya untuk Namjoon tanpa ingin memintanya kembali.

"Aku mencintaimu, Seokjin…"

Aku juga, Namjoon. Aku juga.

Rasanya Seokjin telah jatuh untuk selamanya. Tubuhnya tersentak keras dan Namjoon tidak terlihat akan berhenti. Laki-laki itu menahannya dengan kuat. Seokjin berusaha untuk tetap diam dan tidak berani bergerak.

Seokjin melihat mata Namjoon yang memandang dari atasnya, dan sekejap kemudian gelombang dahsyat itu menghajarnya lagi. Ia tidak pernah merasa setinggi ini seumur hidupnya, hingga membutuhkan kedua tangan Namjoon untuk dapat mengurai kembali dirinya menjadi hidup.

Namjoon mengangkat satu lutut Seokjin dan mendorong tubuhnya, kemudian satu lutut lagi. Seokjin dapat merasakan tetesan keringat berkumpul di pelipisnya dan setiap permukaan tubuhnya, di mana ia telah menyimpan seluruh aroma Namjoon. Sesuatu yang pedih menghajarnya, datang bersama gesekan yang kasar dan dalam.

Sedikit demi sedikit, Namjoon mendorong lagi tubuhnya hingga ia membutuhkan laki-laki itu untuk berpegangan. Semakin terbenam Namjoon dalam dirinya, semakin Seokjin merasa melayang dan melihat tubuhnya dari jarak yang sangat jauh. Ia terbanting ke belakang setiap kali Namjoon bergerak, seluruh udara terentak keluar dari paru-parunya. Lalu Seokjin merasakan bebas.

Kemudian keberanian itu muncul di antara gelenyar kehangatan yang berkubang di tubuhnya, Seokjin mengatakannya, dengan jelas dan tepat. "Aku juga mencintaimu, Namjoon…."

Iris jelaga Namjoon menatapnya dengan seluruh kejujuran yang bisa Seokjin temukan. Tatapan Namjoon terasa begitu hangat, seperti bentangan langit malam, luas dan tidak memiliki tepi, kemudian Seokjin ingin menjadi bintang.

Kemudian Namjoon tersenyum kepadanya dengan cara yang tidak pernah bisa Seokjin uraikan.

Sambil berusaha menahan air matanya, Seokjin memeluk Namjoon sementara napasnya menjadi semakin ringan, semakin pelan. Dan akhirnya ia jatuh tertidur.

.

.

Langit-langit ruangan itu rendah dan lantainya dipenuhi ubin berbentuk kotak besar—warnanya seperti permukaan gunung yang bersemu merah, menjaga ruangan tersebut tetap sejuk dari hawa panas di luar. Seokjin membuka jendela utama apartemen mereka dan melangkah ke arah cahaya pagi yang baru menjelang.

"Aku tebak, kau ingin aku membiarkanmu berkeliaran di luar sepagi ini, kan?" Seokjin memegang lengan Namjoon yang tahu-tahu sudah berada di sisinya. "Tapi sungguh, itu tidak akan terjadi, Seokjin."

Seokjin beralih memandang Namjoon dan tersenyum, "Kau harusnya tidak lupa apa yang dokter bilang, Namjoon," tawar Seokjin. "Aku harus sering berjalan-jalan agar semuanya berjalan baik."

Namjoon mengangguk, membuka sedikit pakain Seokjin untuk menunjukkan kebuncitan pada perutnya. Ia merasakan sesuatu bergerak-gerak di bawah telapak tangannya, Namjoon merasakan hatinya membuncah ketika jendela apartemen menampilkan bayangan mereka. Berapa lama ini semua telah mereka lalui bersama? Semuanya terasa berlalu terlampau cepat tanpa benar-benar bisa Namjoon pikirkan. Tetapi ia merasa segalanya telah cukup untuk hidupnya.

"Lihat, dia mengenali ayahnya," Namjoon memekik, kemudian merunduk untuk menempelkan kepalanya pada perut Seokjin. "Tentu aku akan menjagamu, little man. Karena itu segera lah keluar agar kita bisa membuat keributan kecil setiap hari."

"Jangan dengarkan dia, oke?" Seokjin menepis lembut lengan Namjoon untuk kemudian ia dekap ke dada. "Terima kasih," bisik Seokjin tidak percaya. Rasa lega memenuhi dirinya.

Mendengar itu, Namjoon menatap ke dalam iris madu Seokjin. Sebuah senyum muncul di bibirnya, dan juga matanya. Selama beberapa saat, mereka saling memandang, saling membalas tatapan masing-masing.

Tepat di saat Seokjin pikir ia mampu mengabdikan seluruh hidupnya untuk ini, rasa sakit itu menyerang. Kepalanya serasa dihantam batu besar dan butuh beberapa saat sampai Seokjin menyadari ia membutuhkan pegangan. Tiba-tiba saja pemandangan di sekitarnya memudar, Seokjin mengenali suara Namjoon yang penuh kecemasan dan terus bertahan di sampingnya.

Guncangan di dalam kepalanya datang semakin gencar. Seokjin mulai merasa kesakitan dan ingin menjerit. Tetapi kata-katanya seperti berdering dan terbawa oleh angin, bagaikan lonceng-lonceng dalam katedral dalam kepalanya. Lambat laun, bisa Seokjin rasakan hidungnya kembali terluka dari dalam. Kesadarannya perlahan meredup, matanya terasa sangat berat. Kemudian, Seokjin melihat gelap.

.

.

Semuanya seolah terjadi bersamaan sekaligus.

Namjoon dipaksa menunggu selagi tubuh Seokjin menghilang di balik pintu kembar ruang operasi. Kakinya mulai gemetar hingga Namjoon tidak ingat berapa lama ia berdiri menghadap ruang tersebut.

Lampu kecil di atas pintu berkelip-kelip, nyaris mati. Namjoon terkesiap. Ia berdiri gelisah selagi menunggu dokter keluar. Ketika seseorang membuka pintu, Namjoon menghambur seketika. "Bagaimana keadaannya? Semuanya baik-baik saja? Seokjin? Bagaimana keadaan Seokjin?"

Namjoon tidak mendengarkan apa-apa lagi. Kedua kakinya hidup untuk menubruk pintu dan berlari menghampiri Seokjin. Pemuda itu terbaring lemah di sana, dengan sesuatu yang bergerak pelan dalam bedongan kain putih dalam pelukan Seokjin.

"Kau harus melihatnya, Namjoon…. Dia Ji Eun, Kim Ji Eun…."

Parau dalam suara Seokjin menyedot kewarasan Namjoon. Laki-laki itu memeluknya, mengabaikan beberapa perawat yang barangkali berusaha mencegah. Tetapi Namjoon mesti melakukan ini. "Kau benar-benar membuatku ketakutan setengah mati, Seokjin," Namjoon memeluk Seokjin erat-erat seolah hari esok tidak akan pernah datang. Ia merasa takut, sangat takut. Bisa ia rasakan jantung Seokjin berdetak lambat di bawah permukaan kulitnya. Kekhawatiran Namjoon membesar.

"Maafkan aku, Namjoon…. Tapi aku mengantuk sekali, aku ingin tidur… aku benar-benar lelah…," sorot mata Seokjin semakin payah, Namjoon berusaha mengendalikan diri untuk tidak menjerit dan menghantam sesuatu. "tapi sebelum itu, aku ingin kau menjaga gadis ini…, dia akan menggantikan aku menjagamu sampai…., sampai aku terbangun lagi…" Seokjin memaksakan senyum. Ia mengetahui semua ini.

Namjoon menggeleng keras-keras. "Tidak, Seokjin. Kau tidak boleh tidur. Kita harus menjaganya bersama, aku tidak bisa sendirian, tidak, aku mohon." Namjoon meraung.

Seokjin tersenyum lemah di sela-sela usahanya mempertahankan kesadaran. Ia mengangguk dan mencium Namjoon sesaat setelah Namjoon membawa Kim Ji Eun ke dalam pelukannya. Seokjin merasa tidak apa-apa untuk tertidur sekarang. Maka ia menggenggam jemari Namjoon. "Kau harus menjaganya…. Seperti kau menjagaku, Namjoon… terima kasih… Aku mencintai kalian…."

Mesin pendeteksi denyut jantung berbunyi panjang. Namjoon merasakan seseorang baru saja memisahkan jantung dari tubuhnya. Di depannya, Seokjin tertidur pulas—untuk selama-lamanya.

Di detik itu juga, Namjoon merasakan keberaniannya luntur. Rasa takut memenuhi tenggorokannya, membekukan napas dan paru-parunya. Namjoon berdiri dengan susah payah. Ia seharusnya tidak berada di tempat ini. Sekarang, ia benar-benar ingin keluar, pergi jauh dari perasaan sakit dan aroma kematian, kembali ke sinar matahari yang aman dan terang.

Namun terlambat.

"Kim Seokjin menderita penyakit Von Willebrand Disease, penyakit kelainan platelet darah, di mana ketika terjadi luka, maka luka tersebut tidak bisa lekas menutup seperti kebanyakan orang normal. Penyakit ini disebabkan kekurangan faktor Von Willebrand dalam darah, inilah yang membuat darah Seokjin sukar membeku. Penyakit ini sangat beresiko, terlebih untuk seseorang yang akan menjalani proses persalinan.

Anda harus mempersiapkan kemungkinan terburuk atas semua ini, Kim Namjoon-ssi."

Di atas atau di belakangnya, Namjoon tidak tahu pasti di mana, terdengar langkah kaki berderap mendekat. Ia merasakan kegelapan perlahan-lahan menghampiri, dan Namjoon tidak bisa menemukan jalan keluar.

Kakinya terkulai. Namjoon terjatuh. Kim Ji Eun dalam gendongannya memenuhi ruangan dengan tangisan.


(tbc)


Narasi yang diitalic adalah ingatan Namjoon waktu pertama kali Seokjin masuk rumah sakit (bab dua), saat itu dokter bilang bahwa sakitnya nggak parah karena memang kondisinya nggak mengkhawatirkan. Tapi saat ini lain. Seokjin melahirkan Ji Eun, dan itu beresiko tinggi.

Tidak ada scene tersendiri, tetapi semoga tidak membuat bingung readernim :)

Von Willebrand Disease dikenal juga serupa dengan penyakit Hemofilia