Love In Jeju

© Dyah Cho

Park Jimin x Min Yoongi

And other cast

Warning : Boys Love, OOC, NC

Rate M

Story is My Mine~ So if you don't like, Please don't read~

Sorry for Typo, etc

Hope you like it^^

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4

Sehari setelah Jimin mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan di sekitar pulau ini, hubungan diantara mereka kini terbilang cukup dekat. Yoongi yang biasanya menjaga jarak dari Jimin, kini mulai terbuka dengannya. Tidak dapat dipungkiri Jimin senang sekali, karna Yoongi tidak memikirkan lagi perbedaan status mereka.

Pagi ini usai menyelesaikan kegiatan mandinya, Jimin keluar dari kamarnya. Harum masakan menerpa indra penciumnya dan berakhir dengan suara nyaring terdengar dari perutnya.

Jimin mengikuti sumber harum yang berhasil mengocok perutnya ini, dan terlihatlah Yoongi yang sedang asik berkutat didapur. Jimin tidak bisa menghilangkan senyum diwajahnya, hatinya berdesir hangat melihat Yoongi menggunakan apron berwarna biru muda lengkap dengan motif kotak-kotak yang sangat manis dilihatnya. Jimin merasa seperti... sedang melihat istrinya memasakkan sarapan pagi untuknya.

Oh yaampun Jimin jadi senang membayangkannya.

"Jimin?"

Suara merdu Yoongi memecahkan lamunan Jimin, seperti orang bodoh Jimin tersenyum malu melihat Yoongi yang mengerutkan keningnya heran dengan tingkahnya yang senyum-senyum sendirian.

"Oh, Hai selamat pagi Yoongi."

"Selamat pagi juga Jimin." Mereka berdua saling melemparkan senyuman hangatnya pagi ini. Yoongi terlihat sedang menata makanan yang baru saja matang keatas meja makan. Jimin berjalan mendekat menuju meja dan menarik salah satu kursi untuk ditempatinya.

"Wow, aku tidak tau ternyata kau bisa memasak." Mata Jimin berbinar melihat berbagai jenis makanan yang disajikan oleh Yoongi. Yoongi hanya tersenyum menanggapi ucapan Jimin.

Jimin dan Yoongi pun mengawali pagi mereka dengan sarapan bersama. Jimin benar-benar merasa seperti pasangan suami istri yang baru saja menikah.

.

.

.

.

.

"Yoongi, aku akan kembali ke hotel untuk membawa seluruh barangku yang tertinggal disana. Apa kau ingin aku membawakan seluruh bajumu dari rumahmu?"

Yoongi menghentikan aktifitasnya yang sedang menyirami bunga-bunga dihalaman rumah milik keluarga Jimin, kemudian menoleh kepada Jimin yang kini sudah berada dibelakangnya.

"Um.. itu, apakah aku boleh ikut denganmu?" Jimin membulatkan matanya kaget mendengar ucapan Yoongi.

"Tidak Yoongi! Aku tidak mau membuatmu pingsan lagi karna berada diatas air. Cukup berikan saja alamat rumahmu dan aku akan mengambilkan baju-bajumu." Yoongi menghela nafasnya.

"Hmm baiklah, aku akan tetap disini." Jimin tersenyum lega saat Yoongi memutuskan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Lagipula Jimin tidak akan tega melihat Yoongi yang kembali pingsan jika dirinya membawa Yoongi kembali ke hotel, Meskipun jarak menuju hotel tidak terlalu jauh ditempuh.

"Aku tidak akan lama, kau bisa berjalan-jalan disekitar sini jika kau bosan didalam rumah. Ini, peganglah ponselku. Aku akan menelpon setelah sampai dirumahmu, agar aku tau apa saja yang kau perlukan disini." Jimin memberikan ponselnya kepada Yoongi.

"Kau tau aku tidak punya ponsel?" Yoongi menerima ponsel milik Jimin. Jimin terkekeh mendengar pertanyaan Yoongi.

Tentu saja Jimin tau, saat pertama kali Jimin meminta Yoongi sebagai pengurus kamarnya kepada manajer hotel, Jimin menanyakan nomer ponselnya. Tapi jawaban menajer hotel membuat Jimin mengerutkan keningnya, Yoongi tidak memiliki ponsel. Bagaimana bisa dijaman secanggih ini seseorang tidak memiliki sebuah ponsel?

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya." Yoongi menggeser tubuhnya sedikit kesamping untuk Jimin lewat, Tepat disampingnya Jimin berhenti. Jarak diantara keduanya hanya beberapa centi dan itu sukses membuat Yoongi gugup karna Jimin menatapnya intens.

"A- ada apa?" Tanya Yoongi. Jimin terkekeh dalam hati melihat nada gugup dari Yoongi. Jimin mengangkat tangannya lalu mengusap lembut rambut Yoongi.

"Jaga diri baik-baik hm.." Setelah berucap seperti itu, Jimin pun berlalu dari hadapan Yoongi.

Tanpa Jimin sadari, Yoongi menangkup kedua pipinya yang memanas. Oh sungguh! Jimin seringkali membuat dirinya merona dengan perlakuan manisnya.

Ah yaampun, tapi tidak dapat dipungkiri kalau Yoongi pun merasa senang.

.

.

.

.

.

"Selamat siang tuan Park, saya sudah menemukan informasi tentang bayi laki-laki yang hilang dari kecelakaan kapal puluhan tahun yang lalu di Jeju."

Yunho yang sedang berbicara dengan lawan bicaranya dari sebrang tiba-tiba saja bangkit berdiri dari tempat duduknya. Matanya membulat sempurna antara kaget sekaligus senang atas berita yang disampaikan seseorang tersebut.

"Benarkah? apa kau sudah mengkonfirmasi namanya?" Tanya Yunho.

"Saya belum memastikan namanya tuan, tetapi dari ciri-ciri yang tuan berikan sangat mirip dengan bayi yang ditemukan." lanjut orang tersebut yang diyakini sebagai anak buah dari Yunho.

"Baiklah, segera kabari kembali aku jika kau sudah mendapatkan identitas bayi itu. Terima kasih Moonbin- ssi."

Setelah sambungan terputus Yunho mengucap syukur kepada Tuhan, meskipun belum ada informasi jelas tentang identitas bayi itu, Yunho berharap jika bayi itu benar-benar Suga. Ya, Suga anak laki-laki satu-satunya dari kedua sahabatnya yang meninggal dalam kecelakaan kapal yang tenggelam puluhan tahun silam.

.

.

.

.

.

Jimin selesai mengemasi semua barang-barangnya dari dalam hotel, setelah berpamitan kepada manajer hotel Jimin pun diantarkan oleh supir hotel menuju rumah Yoongi yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari hotel.

Setelah sampai didepan rumah Yoongi, Jimin segera membuka kunci rumahnya dengan kunci yang didapatkannya dari dalam loker Yoongi dihotel. Jimin meringis saat memasuki rumah mungil Yoongi, rumah mungil dengan satu kamar dan hanya ada satu jendela. Tidak ada kulkas untuk menyimpan bahan-bahan makanan, jadi selama ini Yoongi makan apa? Jimin dapat melihat cup-cup ramen yang sangat banyak menghiasi meja makan Yoongi. Jimin menggeleng mendapati kebiasaan Yoongi yang mencintai makanan instan seperti itu.

"Astaga, gaya hidupnya sungguh sangat buruk."

Jimin segera berjalan menuju kamar satu-satunya, tidak ada jendela terdapat dikamarnya, udara dikamar Yoongi lembab dan gelap karna tidak ada sinar matahari yang masuk.

"Apa dia vampir? sehingga matahari tidak dapat masuk kedalam kamarnya?" Jimin tertawa geli membayangkan Yoongi adalah vampir. Kalaupun Yoongi vampir Jimin akan rela digigit olehnya.

"Bodoh kau Park Jimin, khayalanmu terlalu tidak masuk akal." Jimin menggelengkan kepalanya cepat, lalu segera beralih membuka lemari Yoongi, memasukkan semua pakaian Yoongi kedalam ransel miliknya. Saat Jimin menyentuh pakaian dalam Yoongi, tiba-tiba saja tubuhnya menegang.

"Oh Shit! Ini hanya dalaman saja Jimin." Jimin menggeram saat merasakan miliknya mengeras. Segera Jimin memasukkan semua dalaman Yoongi yang tersisa dilemarinya.

"Oh tidak, lagi-lagi aku harus segera menuntaskan ini."

.

.

.

.

.

Yoongi tidak tau apa yang akan dilakukannya dirumah sebesar ini sendirian. Dari mulai membersihkan rumah dan sebagainya sudah Yoongi kerjakan tapi Yoongi merasa kosong disini. Apa karna tidak ada Jimin? Oh! ayolah Yoongi, Jimin hanya pergi sebentar.

Bosan berdiam diri, akhirnya Yoongi memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar rumah. Tepat dihalaman belakang, Yoongi menemukan sebuah pintu bercat hijau yang tertutup rapat. Rasa penasaran membuat Yoongi melangkah mendekat menuju pintu tersebut.

Setelah berdiri dihadapan pintu itu, Yoongi mencoba menekan kenop pintunya kebawah, dan-

CKLEK

Pintu pun terbuka.

Yoongi mencari-cari saklar lampu agar ruangan tersebut terang. Dan tidak butuh waktu lama, lampu pun menyala.

Yoongi mengitari pandangannya keseluruh isi ruangan. Ruangan tersebut tidak besar ataupun kecil, didalamnya banyak terdapat berbagai macam mainan anak-anak. Khususnya anak laki-laki.

Mata Yoongi berbinar senang saat menemukan sesuatu yang membuatnya segera menghampiri objek yang dilihatnya.

Sebuah boneka beruang besar berwarna putih yang masih dibungkus oleh plastik putih agar terhindar dari debu disekitarnya. Entah kenapa Yoongi merasa ingin memeluk boneka itu, dan Yoongi merasakan perasaan aneh menjalar dihatinya saat memeluk boneka itu. Yoongi hanya merasa familiar dengan boneka tersebut.

Kenapa?

Yoongi hanya mengerutkan keningnya bingung, tanpa ada jawaban pasti atas kebingungannya itu.

"Yoongi? Kau dimana?"

Yoongi menoleh ketika mendengar suara Jimin diluar.

"Jimin sudah kembali? cepat sekali.." Yoongi pun akhirnya memutuskan keluar dari dalam ruangan itu dan menghampiri Jimin, Tanpa sadar boneka yang sedari tadi dipegangnya ikut terbawa pula olehnya.

Jimin tersenyum saat mendapati Yoongi keluar dari halaman belakang, namun matanya menyipiy saat melihat sebuah boneka beruang putih besar ditangan Yoongi.

"Kau dapat itu dari mana?" Jimin menunjuk boneka putih yang ada ditangan Yoongi. Yoongi yang masih tidak menyadarinya pun kini mengikuti arah tunjuk Jimin.

"Astaga! aku lupa menyimpannya kembali." Yoongi pun berbalik hendak menyimpan kembali boneka putih itu ke ruangan tadi. "Tunggu Yoongi!" Panggilan Jimin membuat Yoongi mau tidak mau harus mengurungkan niatnya.

"Memangnya kau dapat itu dari mana?" Jimin mendekati Yoongi lalu mengambil boneka itu dari tangan Yoongi. Jimin memperhatikan kondisi boneka yang masih terbungkus plastik dan cukup bersih.

"Aku menemukannya di gudang belakang itu, karna lucu aku memegangnya terus, sampai ketika kau datang, aku tidak sadar jika aku membawanya keluar." Yoongi tersenyum canggung. Membuat Jimin tentu saja semakin gemas.

"Sudah, simpan saja dikamarmu Yoongi." Jimin kembali memberikan boneka itu kepada Yoongi.

"Benarkah? Aku boleh menyimpannya?"

"Tentu saja manis~ ah ya, dan ini baju-baju mu Yoongi." Jimin menyerahkan satu tas besar kepada Yoongi.

"Terima kasih Jimin"

"Sama-sama manis~"

BLUSH

Lagi-lagi Jimin membuat Yoongi merona.

.

.

.

.

.

Malam harinya Yoongi memutuskan untuk bersantai dibalkon lantai dua rumah itu. Ditemani oleh segelas teh hijau hangat dengan sepiring crackers manis menyempurnakan malam bersantai Yoongi. Tadinya Yoongi berharap bahwa Jimin juga akan ikut bergabung bersamanya, tapi karna Jimin harus menemui orang-orang pekerja yang akan memulai merenovasi villa milik keluarganya itu besok, sehingga Jimin harus pergi agar besok para pekerjanya bisa langsung memulai pekerjaannya.

Malam ini langit begitu cerah, bintang-bintang kecil menghiasi indahnya langit malam ini. Yoongi terpesona dengan keindahannya. Sulit sekali meluangkan waktu seperti ini hanya demi menatapi langit-langit malam, mengingat selama ini Yoongi hanya pulang dan pergi bekerja tanpa sempat bersantai.

Yoongi menyesap teh nya, lalu mengambil salah satu crackers dari piring. Rasa manis dari crackers ditambah dengan teh hijau hangat membuat tenggorokan Yoongi meminta lebih untuk diisi.

Teh dicangkir Yoongi kini telah lenyap berpindah kedalam tubuhnya, Yoongi beranjak dari tempat duduknya kemudian berdiri dibalik pagar besi dibalkon. Yoongi menutup kedua matanya, merasakan hembusan angin malam menampar wajahnya. Disebrang sana tidak jauh dari rumah Jimin, terhampar luas lautan yang berkilauan bak berlian. Damai, Yoongi merasakan hatinya damai semenjak Jimin membawanya kesini. Meskipun perjalanan kesini terbilang cukup memalukan dengan insiden 'pingsannya' tapi tidak menutup kemungkinan Yoongi menyukai tempat ini, sangat!

GREP

"Eh?"

Seketika tubuh Yoongi membeku merasakan sebuah lengan membungkus pinggangnya. Tubuh keras seseorang menghimpitnya dari belakang. Yoongi bukan tidak tau siapa pemilik tubuh ini, bukan. Tapi karna Yoongi tau, dirinya seakan tidak bisa bernafas dengan normal. Aroma tubuh ini, aroma yang sangat Yoongi kenal. Jimin, Ya pemilik tubuh yang sekarang ini asik memeluknya dari belakang. Tanpa peringatan dan tiba-tiba saja memeluknya.

Kesadaran Yoongi kini telah kembali, Yoongi sedikit menggeliat tidak nyaman, bermaksud agar Jimin sedikit melonggarkan pelukannya. Namun yang ada, bukannya Jimin melonggarkannya, dirinya semakin erat memeluk Yoongi.

"Sebentar saja Yoongi... Aku hanya ingin memelukmu." Ucap Jimin dibahu Yoongi. Yoongi pun berhenti menggeliat dan mencoba menyamankan tubuhnya didalam balutan tangan Jimin.

"J- Jimin.. kau baik-baik saja?" Jimin tidak menjawab, hanya anggukan yang Yoongi terima.

Lama mereka berpelukan, tanpa satu ucap katapun terucap dari mulut mereka. Jimin yang terlalu nyaman memeluk Yoongi pun enggan berbicara, rasanya jika dia bicara akan melunturkan kenyamanan yang sudah dibuatnya. Dan Yoongi sendiri pun enggan pula membuka mulutnya, Yoongi pikir, mungkin Jimin terlalu lelah mengurusi semuanya sendiri, sehingga Yoongi membiarkan Jimin merengkuhnya untuk membuatnya nyaman.

Salah satu godaan terbesar seorang Park Jimin sekarang ini adalah Min Yoongi. Berada jauh dari Yoongi saja Jimin bisa merasakan getaran gairah yang terpendam lama didirinya, apalagi sekarang, dengan menempelnya tubuh mereka, kejantanan Jimin yang berada tidak jauh dari bokong Yoongi, membuat Jimin lagi-lagi meringis menahan ngilu. Jimin merutuki kebodohannya karna terlalu lama menempeli tubuhnya pada Yoongi. Tapi Jimin tidak mau melepaskannya, bahkan jika perlu Jimin ingin merengkuh Yoongi terus.

.

.

Bohong jika Yoongi tidak merasakan kerasnya kejantanan Jimin dibelakang tubuhnya. Yoongi tau, jika Jimin ereksi. Tapi Yoongi bisa apa? Jimin masih tetap pada posisinya, dan Yoongi tidak bisa begitu saja melepaskan pelukannya, disamping itu Yoongi juga menyukainya, menyukai pelukan Jimin seperti ini.

Yoongi menutup kedua matanya, dan tubuhnya bergetar saat merasakan benda kenyal nan basah milik Jimin menyusuri perpotongan lehernya. Yoongi segera saja menutupi mulutnya dengan telapak tangannya ketika suara aneh mulai terdengar keluat dari mulut manisnya.

Jimin menyeringai.

Jimin melanjutkan aksinya, tangannya kini bergerilya masuk kedalam piyama tidur Yoongi. Yoongi refleks menghentikan tangan Jimin yang semakin merambat naik. Jimin berhenti, lalu mengeluarkan tangannya dari balik piyama Yoongi dan menolehkan wajah manis Yoongi agar menatapnya.

Jimin tersenyum, lalu tanpa persetujuan dari Yoongi, Jimin segera mempertemukan kedua bibir mereka. Yoongi kaget, dengan ciuman tiba-tiba dari Jimin. Dan lagi ini kali pertamanya Yoongi merasakan penyatuan antar bibirnya dengan milik orang lain. Jimin semakin melesakkan lidahnya kedalam mulut Yoongi, mengeksplornya sekaligus berkenalan dengan penghuni goa hangat itu.

Tanpa sadar kini Yoongi berbalik menghadap Jimin dan mengalungkan kedua lengannya pada leher Jimin. Yoongi dengan cepat mengikuti ritme pertautan lidah mereka, basah dan hangat, itulah yang kini mereka rasakan. Ciuman lembut diawal kini berganti dengan ciuman penuh nafsu. Jari-jari tangan Jimin mengukir gambar acak pada punggung Yoongi, membuat Yoongi harus menggelinjang menahan geli karnanya.

Jimin menghentikan ciumannya ketika Yoongi memukul pelan bahunya. Yoongi butuh bernafas. Wajahnya memerah saat mengakhiri ciuman basah mereka. Jimin tersenyum lalu menangkup kedua pipi Yoongi, menatapnya lembut dan dalam.

"Kau cantik Min Yoongi.. Bolehkah aku memilikimu malam ini dan seterusnya?"

Yoongi terpana dengan ucapan Jimin. Apa maksud Jimin secara tidak langsung menginginkan dirinya? Yoongi Terharu serta bingung, haruskah Yoongi menjawabnya? Bukankah ini terlalu cepat? Tapi Yoongi pun merasakan hal yang sama dengan yang Jimin rasakan, Yoongi pun ingin memiliki Jimin untuknya. Tapi benarkah ini?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END *ehh /Ditendang Readers/ xD

TBC deng~ tenang aja, gak akan semudah itu END nya wahahaha

Fiuhhh akhirnya~ Adakah yang senang aku akhirnya update LIJ? mihihiw

Seneng bin terharu banget banyak yang neror nanyain kelanjutan ff ini, ternyata laku juga cerita abal gue xD

Maaf yang sebesar besarnya ini ff ngaret banget yaa~ maklumlah yah otaknya paspasan buat mikir xD Tadinya mau minggu2 kemaren aku selesein, tapi berhubung seminggu kemaren kondisi fisik aku yang down jadi aku baru bisa nyelesein sekarang huhu

Aneh bin gaje kan pasti yak? kecepetan gak sih kalo aku enak-enak in Jimin Yungi? Haha

Chap depan aku mau bikin NC nya nih, kasian aja ama Jimin gitu mupeng muluk wkwk

Udah deh segitu aja basa basi nya~ tapi semoga cerita ini ga basi yaa, aku usahain ga terlalu ngaret update nya hihi

Review lagi dong yah~ hehe

Paipai~

Dyah Cho