.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

A/N: Kenapa Ane reupdate ch 4? Karena dari sekian banyak (Makasih) review yang masuk, pada mempertanyaain kenapa sikap Sasuke terlalu cepat berubah. Oke fix, itu salah Ane (lah yang nulis Ane). Ane terkesan terburu – buru masukin scene dimana Sasuke mulai berbubah. Jadinya character development ancur banget. Jadi pas edit typo's, Ane sekaliin ganti sedikit sudut pandangan karakter biar alur character development membaik. Dan masalah typo's, Ane fix minta di betain ama … dan … Makasih banyak udah bersedia bantu Ane dan Ane susahin. Maaf atas ketidak nyamanan ini.


.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Disclaimer
Naruto ©Mashashi Kisimoto

How Man Giving Natural Birth?
©Ane

Summary
Tiada hal yang lebih mulia ketika seseorang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan kehidupan baru di dunia. Tak terkecuali seorang lelaki.

Pairing
SasuNaru. Always! Banzai!

Genre
Hurt/Comfort/Family/Romance

Warning
Falshback 'tanpa' peringatan

Typo's !
Sorry about this problem.
Aku sangat lemah dalam menetralisir typo.
Tapi sudah aku usahakan.

Status
Bagian ketiga.

Please choose 'back' or 'close' if you dislike this fict.
Happy reading for everyone!

Dilarang copy paste, sebagian atau bahkan keseluruhan dari fiksi ini.


.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sepasang sepatu Monk Strap yang di semir hitam amat—mengkilat—hingga dapat memantulkan apa saja yang berada di sekitarnya dalam jarak dekat tersebut terlihat sedang dilangkahkan oleh sepasang kaki yang terkesan terburu – buru. Menaiki anak tangga berjumlah tiga belas undakan yang di gandakan dua kali hingga ia berada di lantai tiga tempat dimana atasannya berada. Orang tersebut membuka pintu sang Taisho (jendral polisi) tanpa ketukan seperti aturan sopan – santun seperti biasa.

"Taisho–sama. Presiden meminta anda menemuinya."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Pemberitaan tentang skandal hubungan sang anak bungsu dari kepala kepolisian nasional dan seorang pemuda berambut pirang yang masih dirahasiakan namanya semakin memanas sejak pernyataan Itachi kapan hari telah menjadi sumber terakurat dari sekian pemberitaan – pemberitaan yang mengangkat kasus ini menjadi topik utama. Tak sekedar media sosial dan acara gossip tak bermutu, bahkan kini hampir di beberapa tempat bahkan rumah – rumah berpenghuni, selama di situ ada seseorang yang mengenal atau sekedar mengetahui siapa "Uchiha Sasuke" yang merupakan anak dari "Taisho Nasional Jepang" pastilah akan membicarakannya. Pro dan kontra menjadi pewarna dalam pembicaraan tersebut.

Disusut sudut – sudut kota muncul dan semakin berkembang kumpulan orang – orang dimana mereka tergolong dalam dua unjuk rasa. Yakni tuntutan atas pelegalan hubungan atau pernikahan sesama jenis di Jepang tanpa adanya pem–bully– an dan sisanya adalah orang – orang yang menolak dengan keras terhadap hal tersebut. Berjalan sekitar empat hari pasca pembirataan tentang Sasuke pertama kali muncul di media masa. Unjuk rasa dan usaha pemberontakan tersebut belumlah mereda. Hal ini menyebabkan beberapa orang menjadi terdesak. Tak terkecuali sang kepala keposilisian nasional yang di wajibkan menindak lanjut kasus tersebut. Permasalahannya ialah, kasus tersebut di mulai oleh putra kandungnya sendiri.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Entah permasalahan apa yang sebenarnya terjadi terhadap anakmu. Tapi hal ini sudah mengambil alih perhatian negara." Lelaki berumur enam puluh tiga tahun yang telah menjabat sebagai yang mulia kaisar Jepang selama dua puluh empat tahun dalam masa Jepang sebagai negara modern tersebut berkata tanpa memandang salah satu bawahannya yang berperan dalam perlindungan negara di bagian polisi. "Homoseksualitas memanglah bukan kasus baru. Tapi gejolaknya tak pernah berhenti diperdebatkan hingga sekarang. Apakah kau bersedia aku sedikit membuka sejarah negara kita?"

Ditanya dengan nada lembut namun bersifat ultimatum tersebut, Fugaku hanya mampu mengangguk dalam diam.

"Jepang memang negara terbuka yang mampu beradaptasi bahkan mengakulturasikan dengan budaya – budaya yang baru. Percayalah, Jepang bahkan dahulu kala memang mengakui adanya "pria cantik" atau "bishounen" yang juga ambil andil dalam dunia hiburan. Bahkan homoseksualitas di Jepang, yang dikenal sebagai "shudo" atau "nanshoku" telah didokumentasikan selama lebih dari seribu tahun dan memiliki beberapa kaitan dengan kehidupan monastik Buddhis dan tradisi samurai. Homoseksual adalah hal yang lumrah di jaman Jepang kuno, begitu juga oleh pemeluk Shinto. Dokumen sejarah yang paling jelas menyangkut hal ini adalah pada era Tokugawa. Di era itu, Dewa – dewa Shinto—Hachiman, Myoshin, Shinmei dan Tenjin—dipercaya melindungi "nanshoku". Jika kau belum tau, "nanshoku" adalah hubungan antara pria dewasa dengan pria yang belum dewasa. "Nanshoku" ini dipraktikkan di lingkungan kuil-kuil di Jepang Kuno, termasuk di kuil Shinto. Hingga budaya cinta sesama jenis ini melahirkan tradisi yang kuat dalam seni lukis dan sastra Jepang yang mendokumentasikannya demi merayakan hubungan tersebut." Memberi jeda untuk menghidupkan kembali kumpulan irisan tembakau yang dibakar dalam sebuah cerutu, Sarutobi melanjutkan perkataannya sesaat setelah asupan nikotin tersebut merasuki tenggorokannya. "Tapi negara kita sudah lama melarang hubungan tersebut. Terlepas dari banyaknya bar – bar gay dan pasangan – pasangan bernasib sial yang memperjuangkan hubungan mereka, Jepang tetap tidak mentolenir hubungan tersebut. Dan aku minta kau selesaikan permasalahan ini. Bagaimanapun caranya."

"Saya akan mulai dengan membatasi ruang lingkup Uchiha Sasuke." Ucap Fugaku dengan tegas.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Lebih baik ayah memikirkan bagaimana meredakan kasus Sasuke. Biarkan aku yang ambil alih penjagaan Sasuke. Lebih cepat masalah ini selesai, akan lebih baik."

"Tidak. Adikmu sudah keterlaluan dalam mencoreng nama keluarga. Aku tak akan membiarkannya lagi bertindak layaknya anak kecil."

"Aku akan membuat image Sasuke membaik dengan sendirinya. Percayalah."

"Kenapa kau begitu peduli dengannya setelah sekian lama kau mulai menjauh darinya?"

"Aku tak mau Sasuke semakin menjadi seorang bajingan," jeda tiga detik, "Sasuke telah memperkosa pemuda tersebut. Dia resmi menjadi seorang gay."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Lepas dari lingkungan apartemen Naruto yang masih tergolong di kawasang Yokohama, Minato, Tokyo. Tepatnya empat puluh tujuh menit terhitung semenjak ia melihat jam dinding di kamar apartemen Naruto saat hendak meninggalkannya, Sasuke terus berjalan dan beberapa menaiki angkutan umum berupa subway train dan bis kota. Melanjutkan aktivitas tanpa tujuannya dengan terus berjalan dan berakhir di sebuah gazebo yang terletak di luar jejeran gedung – gedung tinggi menjulang yang saling berdempetan.

Menempatkan kedua sikunya di masing – masing lututnya, Sasuke menompa kepanya menggunakan kedua tangannya. Entah mengapa ia merasa kacau. Merasa ada yang salah. Namun otak jeniusnya tak dapat menjelaskan keadaan yang sedang ia alami. Ia hanya merasa bingung dengan dirinya, bingung dengan pemikirannya yang entah mengapa terasa seperti mulai berganti pandangan dan pemikiran terhadap seseorang, Naruto.

Ia merasa bahwa kebenciannya mencoreng nama baiknya dengan cara yang amat licik terasa menghilang hanya dengan satu malam? Hey. Ini terdengar lucu. Entah mengapa kenikmatan semalam benar – benar membuatnya melupakan emosi yang tertanam jauh di dasar hatinya. Selayaknya rasa marah yang menghilang pasca terbangun dari tidur. Sasuke juga merasa emosi dan dendamnya menghilang selepas bangun pagi hari ini. Bonus dengan perasaan aneh yang mengganjal hatinya ketika ia terjaga dengan keberadaan sosok Naruto disampingnya.

Ia merasa tertantang. Penasaran. Dan ingin mengulangi tindakannya semalam. Tapi sialnya ia justru berbalik berbuat baik dengan memandikan Naruto dan membuatkannya sarapan padahal bisa saja ia kembali memperkosa pemuda tersebut. Dan hal inilah yang membuat pemikiran Sasuke terasa buntu.

Belum selesai dengan aktivitas berpikirnya yang sedikit menimbulakan rasa pusing di kepalanya, tiba – tiba sebuah mobil jenis sedan keluaran Toyota tipe Camry berwarna selver gelap berhenti tepat di sisi kanan jalan tempat dimana ia berada.

Seorang berpakaian kantor lengkap keluar dari bagian samaping pengemudi. Berjalan sekitar delapan langkah, ia berakhir berdiri di samping Sasuke.

"Sasuke—sama. Itachi—sama menyuruh anda mengikuti saya. Beliau berpesan jika situasi saat ini amat bahaya bagi keselamatan dan kenyamanan Sasuke—sama. Silahkan ikuti saya. Mobil telah menanti anda di sisi jalan."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Selepas kepergian Sasuke beberapa saat yang lalu. Setelah merutuki kebodohannya yang menangis tak berguna—menurut pribadinya—Naruto menatap atap kamar apartemennya. Meringis ketika rasa sakit kembali mendera bagian belakang tubuhnya. Tepatnya di daerah terintim bagian belakang.

Pikiran Naruto bekecambuk. Ia ingin marah, memaki – maki seseorang, atau kalau bisa memukul bahkan membunuh seseorang untuk melampiaskan kekesalannya. Tapi apa daya? Disisilain karena ia sedang dalam keadaan tak memungkinkan, di sisilainnya melakukan hal tersebut pasti membuatnya tak ubahnya menjadi layaknya Sasuke. Maka dengan geraman halus saat menahan amarah, amarah naruto reflek membuat tangan kanan Naruto melayang.

Prang

Naruto menghantamkan kepalan tangan kanannya kearah nakas dimana terdapat figura foto dirinya dan Sakura. Namun kemudian figura tersebut pecah dengan retakan hebat akibat dari hantaman kepalan tangan kanan Naruto. Sementara di posisinya Naruto tak memperdulikan dimana beberapa serpihan kaca membelah jaringan kulitnya dan beberapa bagian kaca masuk dan menyelip di antara daging tangan kanannya. Menyebabkan beberapa garis vertikal beraliran darah menghiasi tangannya.

Tidak sakit. Luka tersebut tidaklah sakit. Begitu juga dengan bawah pinggangnya. Tidaklah sakit. Meskipun meninggalkan luka dalam yang cukup parah. Karena hal yang paling menyakitkan adalah sesuatu yang berkecambuk dalam dadanya yang tak dapat dipastikan dengan apapun. Sakit hati. Terhina karena telah dilecehkan.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

News Channel

"Masyarakat meminta kepolisian maupun pemerintah Jepang menangani skandal dugaan percintaan sesama jenis oleh anak kepala kepolisian Jepang dan seorang pemuda yang masih di samarkan identiasnya, karena skandal tersebut nyatanya membawa respon yang amat sangat mencuri perhatian sebagian besar masyarakat Jepang. Diduga pula bahwasannya jika pemuda berambut pirang tersebut adalah pihak ketiga yang di tuding sebagai penyebab retaknya hubungan Sasuke dan putri dari pengelola panti asuhan Konoha. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah gadis malang tersebut resmi bunuh diri dikarenakan kekecewaan atas keputusan sang putra bungsu Taisho Jepang, yang memilih memutuskan hubungan mereka begitu saja. Ataukah kekecewaan atas oreientasi yang dimiliki oleh Sasuke. Jika kemungkinan terakhir adalah penyebabnya, maka permasalah LGBT bukan lagi permasalahan kecil yang perlu di nomor sekiankan dalam penangannya. Karena pada dasarnya nyawa adalah hal yang patut di pertahankan. Maka inti dari permasalahan ini ialah, hendaklah permasalahan LGBT mulai dipikirkan dan direnungkan dengan baik – baik agar tiada lagi yang menjadi korban dari permasalahan tersebut."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sasuke membanting remot TV digital milik Itachi ke arah lantai dengan dorongan kuat. Menyebabkan salah satu bagian dari benda persegi panjang berwarna hitam tersebut terlepas.

"Bocah itu, ck." tertawa meremehkan, "Tak kusanggka ia bertindak ceroboh hingga berakhir seperti ini."

Sasuke merasa buntu. Tidakan terburu hasil dari emosi pasca menegak alkohol nyatanya memang tak memberi keberungan. Meski ada, hal tersebut hanyalah bersifat sementara.

Jauh dari kata menyesal, Sasuke hanya merasa tidak menyangka bahwa keisengannya terhadap Naruto akan berujung seperti ini. Berkembang sedemikian rupa hingga menyeret banyak pihak, atau ia memang harus mengakui bahwa kini hampir seluruh masyarakat di Jepang mengetahui atau hanya beranggapan bahwa ia memiliki affair terhadap Naruto. Menjadikan sosok berambut pirang tersebut menjadi incaran utama media masa perihal pengumpulan informasi.

Ia yang sadar kini sedang menjadi tahanan rumah oleh kakaknya sendiri entah mengapa membuatnya kesal. Ruang lingkupnya yang dibatasi tak ayal membuatnya tenpramental dan sering uring – uringan. Ia yang memang tak bisa bersikap baik dan sopan bahkan kini menjadi kurang ajar terhadap sang kakak. Alasannya hanya ada satu. Ia hawatir dengan sang pirang. Hawatir dengan keadaan yang ada dan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

"Bagaimana sikapmu nanti saat kita bertemo kembali Dobe?"

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Naruto memandang pantulan wajahnya di cermin yang menempel di daun pintu almari baju miliknya. Memperhatikan bagaimana seraut wajah yang terbentuk disana. Meremas helaian rambutnya saat ia merasa ekspresi wajahnya masihlah terlihat kacau.

Dua minggu. Dua minggu ia tak mengikuti perkuliahan maupun masuk kerja. Dua minggu ia tak keluar rumah dan hanya mengandalkan persediaan bahan makanan yang ada di kultas serta sisa – sisa ramen yang sempat ia beli empat bulan lalu. Beruntung ia masih bisa hidup tanpa harus masuk rumah sakit karena makan yang tidak teratur dan kembali menyantap makanan penuh lilin tersebut. Meski awalnya ia harus merasa sakit perut selama tiga jam setelah memakan ramen instan.

Dua minggu. Dua minggu yang Naruto butuhkan hingga ia berani mengambil keputusan untuk keluar dari apartemennya dan kembali menjalani aktivitasnya. Bagun jam enam pagi. Mandi jam enam lebih sepuluh. Persiapan pergi ke universitas hingga jam setengah tujuh.

Dua minggu. Dua minggu terlewati sejak ia kejadian laknat tersebut. Naruto masih ingat bagaimana ia selama tiga hari harus terpuruk dan tertidur sepanjang waktu akibat kondisi fisiknya yang masih lemah pasca penyiksaan secara seksual tersebut. Naruto masih ingat bagaimana dengan egonya ia membuang ketempat sampah sarapan yang telah Sasuke siapkan. Memilih meminum teh dan roti sobek sebagai pengganjal perut selama ia terkapar hingga ia yakin dapat berjalan normal dan berdiri tegak untuk sekedar memasak masakan sederhana bagi dirinya.

Dan dari semua itu. Sudah cukup ia merasa menjadi pencundang. Terpuruk hanya karena Sasuke! Dan ia tak ingin lebih berlama – lama menyalahkan takdir. Sakit hati, tidak dipercaya, dan hidup sendiri sudah biasa baginya. Bertambah lagi cobaan hidup yang harus ia jalani tak akan menghancurkan pendiriannya. Ia bisa. Ia harus bisa.

Memakai topi Snapback dengan gambar pusaran air di bagian tengah depan hingga menutupi garis matanya, Naruto masih menambahkan penampilannya dengan menggunkan kaca mata untuk menutupi matanya yang kini mulai menghitam. Tanda seseorang yang tengah mengalami stress dan kekurangan tidur.

"Yosh!" Meski nada bicaranya terdengar lemah, Naruto masih menyisakan seulas senyum lima jari khas miliknya.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Naruto amat sadar dan mengetahuinya dengan jelas bahwa ia kini bukanlah ia yang dulu. Semenjak kematian Sakura semua tentangnya telah berubah. Pribadinya telah berganti. Menjadi pendendam dan mencoba melaksanakannya. Terjebak rayuan Uchiha bangsat lainnya—menurutnya—dan terkurung dalam situasi yang membuat dirinya harus merakan pil pahit dilecehkan oleh pria dimana ia sendiri pria. Tersangkut skandal dimana menjadikan dirinya—semenjak keluar apartemen pagi tadi—sebagai objek perhatian.

Naruto tidak buta. Meski tak memiliki televisi ia masihlah dapat mendengar dengan jelas kabar – kabar di luar yang kini semakin sering membicarakaannya. Hal aneh tersebut sudah mulai terasa sejak ia keluar dari kawasan kompleks apartemennya—sebenarnya Naruto sedikit heran, mengapa tidak ada yang memburu dirinya dalam memperoleh informasi padahal penayangan berita tentang dirinya sempat membuming, hanya saja Naruto mengabaikannya. Namun pembulian tersebut masih terasa dan bertambah parah sejak ia mulai memasuki kawasan kampus.

Jika ada seseorang yang mengenalnya, tak tanggung – tanggung mereka akan menanyakan benarkah dirinyalah yang tengah dicium oleh Sasuke dalam foto yang beredar. Atau parahnya, ia telah mendapat beberapa aksi ejekan secara langsung dari orang – orang yang nampaknya membenci jenis kasus yang tengah menderanya. Menjadikannya objek pembullian yang semakin menarik untuk dipermainkan. Terlebih dengan fisiknya yang sangatlah bukan khas keturunan Asia. Dengan nama Jepang tapi tampang sangat Amerika. Terbukti dengan rambut pirangnya dan mata birunya. Belum lagi status sosialnya yang termasuk dalam kalangan menengah ke bawah. Parahnya adalah, mereka semakin gemar mencela Naruto setelah tahu Naruto terlibat skandal dengan Uchiha Sasuke.

"Homo menjijikan. Enyah sajalah."

Menulikan telinganya dari sindiran—ejekan seorang teman sefakultas namun beda progam studi tersebut, Naruto terus melangkah menuju loker miliknya. Menarik knop pintu loker setelah membukanya dengan kunci yang ia bawa, berlembar — lembar kertas dan beberapa foto—dirinya dan Sasuke yang tengah berciuman—berhamburan dan jatuh tepat di sekitar kakinya.

Melihat banyaknya kertas yang ditulis menggunakan tinta merah, biru, atau hitam, Nartuo hanya mampu menghela napas panjang. Tak ia kira bahwa permasalah pribadinya—dendam—akan merembet hingga sejauh ini. Mengambil salah satu foto dimana ia dan Sasuke terpampang dalam lembaran bertinta tersebut, di dapatinya kata 'bitch' dengan panah mengarah ke sisi gambar dirinya di dalam foto. Yakin tidak ada pesan penting—yang ada hanya umpatan, Naruto memilih mengumpulkan apa saja yang ia anggap sampah dan membuangnya sekaligus di tempat sampah kering. Setelahnya, ia kembali meneruskan perjalanan ke dalam kelas dimana ia harus mengikuti mata kuliah 'opportunities and strategies'

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Fugaku semakin gencar dalam bertindak menangani permasalahan perihal kerusuhan yang terjadi di Jepang akibat dari skandal putra bungsunya. Langkah pertama yang ia pilih adalah menyumpal Danzo dan beberapa kru serta semua prang yang ada di dalam bar malam itu. Menyebarkan fakta baru bahwa foto dimana terlihat gamabar keberadaan putranya yang tengah berciuman panas dengan seorang pria adalah brita hoax. Bahkan Fugaku mereka ulang kejadian tersebut sebaik mungkin dengan suasana yang sama, angle yang sama persis, pemeran yang tak berubah terkecuali objek utamanya. Ya. Fugaku memerankan seseorang dengan perpawakan sama dengan putranya. Hanya foto putranya yang ia permainkan. Selebihnya sama. Foto Naruto masih terpampang jelas di foto tersebut.

Fugaku bahkan telah menyebarkan berita secara tersirat yang mengabarkan bahwa foto tersebut adalah gambar hoax yang ingin menjatuhkan imagenya dalam pergantian jabatan dua tahun mendatang.

Dimulai dengan aksi penangkapan seorang tersangka penyebar luas gambar palsu yang direkayasa. Kesaksian rekayasa. Dan foto terbaru dituding adalah gambar asli sementara foto yang telah tersebar luas adalah foto hoax atau buatan. Tak berhenti disitu, ia memutar balikan fakta dan rasa penasaran masyarakat dengan munculnya fakta 'buatan' baru dengan menuding bahwa permasalahan ini dibawa oleh Yamanaka Inoichi seorang polisi dengan jabatan Chusa (colonel), yang sering di tuding – tuding akan menggantikan dirinya. Sedikit memanfaatkan teman lama tak begitu masalah. Toh nanti ia juga pasti akan turun jabatan jika sudah waktunya.

Dan kembali terualang. Ditangan seorang Uchiha Fugaku, permasalahan apa saja yang di tanganinya pasti akan terselesaiakan. Begitu juga dengan menghilangkan sebuah permasalahan dengan memunculkan permasalahan baru. Setidaknya berita tentang 'oknum' yang ingin merusak nama baiknya lebih baik dari pada tersudut kabar memiliki anak seorang gay.

Gay?

Ia sudah paham betul dengan sindikat putra bungsunya tersebut sejak kecil. Meski memiliki kepintaran yang tak bisa di remehkan dalam mendekati kejeniusan putra sulungnya, ia juga menyadari sisi lain dari putra bungsunya tersebut. Maka dari itulah, ia lebih memilih mendidik dengan serius putra sulungnya. Karena ia tahu pasti Sasuke kurang mampu dibebani harapannya atas pengharuman nama marga Uchiha. Membiarkan prilaku liar sang putra bungsu selama masih dapat menjaga nama baik keluarga. Karena ia benar – benar menaruh harapan 'keturunan' hanya dari Itachi seorang. Peduli setan jika Sasuke adalah seorang gay. Tapi dengan catatan, tidak ada orang yang tau ia tak akan mempermasalahkannya. Lain hal jika hubungan LGBT telah dilegalkan di jepang.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sebulan pasca kejadian di apartemen Naruto, Sasuke semakin tak bisa lepas dari pemikiran tentang pemudia—pria—bersurai pirang matahari itu. Entah mengapa ancaman terakhirnya untuk sang pirang amatlah menganggunya. Apakah perilaku terakhirnya sangat leterlaluan? Apakah kini ia benar – benar telah berubah menjadi bajingan? Menjadi pembunuh—correct untuk hal ini. Menjadi pria menjijikan karena berhubungan badan dengan seorang lelaki. Ia menjadi gay kah kini? Meski hanya melakukan sekali dan tak berniat melajutkan periku menyimpangnya.

Dan pemikiran yang awal munculnya tiga hari lalu semakin menggelitik relung paling kecil di hati Sasuke. Ia ingin mengunjungi si pirang. Memastikan keadaannya. Haha. Pasti otaknya menjadi gila saat ini. Menertawakan kebodohannya. Bertahun – tahun menjadi seorang bajingan dan penjahat kelamin wanita, kini ia dibuat bingung dan pusing setelah meniduri seorang pria.

Good Uchiha. Saat ini kau hanya butuh sentakan orang lain agar kau sadar kau memang gay sepenuhnya.

"Sial. Dia benar – benar telah mengubahku dengan telak." Kembali, tersengar suara umpatan dari bibir Sasuke.

"Sikapmu berubah. Kau juga semakin sering mengumpat akhir – akhir ini. Seharusnya kau mulai menguranginya. Dan mulai menjalani hidup baru," meletakkan segelas jus tomat tanpa susu dan gula, Itachi melankutkan perkataannya. "Ini saatnya Sasuke. Bukankah kematian Sakuran dan kasus yang membelilitmu sudah cukup menjadi sentakan jika kau haruslah berhenti bermain – main dengan hidup."

"Ada apa denganmu? Berhentilah mencampuri urusanku seperti yang sudah – sudah."

"Aku minta maaf jika aku belum bisa menjadi kakak yang baik dengan berada terus di sampingmu sebagai figure yang patut dicontoh. Tapi percayalah, aku selalu mengawasimu."

"Dengan mengurungku?"

"Jika aku membiarkan ayah menanganimu. Aku pastikan kau bukan hanya menjadi tahanan rumah, mungkin kau akan diasingkannya selama beberapa tahun. Kau tau jika ayah sangat keras kepala."

"Lalu bagaimana keadaannya?"

"Apa?" Itachi mengalihkan perhatian dengan meneguk dengan perlahan jus miliknya. "Kabar tentang pembirataan terbarumu?" Pembicaraan yang berbelok.

"Naruto. Tentu saja."

"Mengapa kau menanyakannya padaku?"

"Aku tahu betul gelagatmu 'Tachi. Sudah pasti kau mengetahui apa yang aku lakukan padanya."

"Dia seorang pengidap gastritis. Gastritis adalah peradangan pada lapisan lambung. Penyebab gastritis adalah terlalu banyak minum-minuman beralkohol, penggunaan jangka panjang obat aspirin dan ibuprofen, atau terlalu sering memakan makanan instan. Gastritis juga dapat muncul setelah operasi, luka trauma, luka bakar, atau infeksi berat. Penyebab kronisnya adalah infeksi bakteri Heliobacter pylori, refluks empedu, dan stress. Gejala gastritis menimbulkan gangguan pencernaan, perut kembung, mual, dan muntah. Bawahanku berkata, bahwa ia tak keluar selam dua mingggu pasca kau menidurinya. Kemungkinan besar ia memakan makanan instan atau hanya meminum olahan air seadanya. Di tambah dengan stres yang kau ciptakan, aku yakin dia tidak dalam keadaan baik – baik saja." Itachi menjawab pertanyaan Sasuke lancar seolah adalah hal yang dikatakannya sudah diluar kepala. Nampaknya ia memang telah lama menyelidiki si pirang. "Tapi ia sudah mulai kuliah sejak dua minggu yang lalu. Dan kabar baiknya adalah, kau berhasil mengubahnya dari seorang penerima beasiswa yang menjaga prilakunya menjadi seseorang bahan hinaan dan pembullian dan nyaris droup out karena pemberitaan yang membawa nama baik Universitas serta ketidakhadirannya selama dua minggu. Sepertinya acara balas dendammu berhasil. Apa alasanmu melakukannya?"

Medengar perkataan terakhir sang kakak, Sasuke hanya mampu menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Ia adahkan kepalanya menghadap langit – langit apartemen Itachi. "Aku tak bermaksud membalas dendam."

"Lalu apa namanya selain kemarahan hingga memperkosanya dengan brutal? Iseng? Main – main?"

"Entahlah." Jeda beberapa saat. Diposisinya Itachi tak berniat membalas perkataan adiknya, bergemingpun tidak. Ia nampaknya menunggu kelanjutan perkataan sang adik. "Entahlah aku bingung. Mungkin aku merencanakannya—bahkan melakukannya, karena efek alkohol. Bangun pagi waktu itu yang aku pikirkan adalah, beraninya ia membuatku malu di depan umum. Da aku hanya ingin membuatnya malu dengan dirinya sendiri. Tapi nyatanya kala aku telah melampiaskan kemarahanku, aku kehilangan alasan mengapa aku marah dan memilih jalan itu dalam melampiaskannya. Aku tak mengerti. Ini membingungkan."

Itachi bangkit dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah Sasuke. Ia tepuk bahu Sasuke dalam dua kali tepukan, "Kau masih perlu belajar menjadi dewasa Sasuke. Dari sekarang."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sasuke meletakkan kepalanya diranjang kamar tamu apartemen Itachi. Memandang langit – langit kamar dengan pendaran cahaya bulan purnama yang menampilkan di dinding kamar bayang – bayang ranting dan daun pepohonan di depan kawasan apartemen milik Itachi. Tak seperti apartemennya yang berada di kawasan tengah kota dengan pemandangan gedung tinggi dan keramaian tiap harinya. Apartemen Itachi berada pada wilayah Nagoya, Tokyo dimana didaerah tersebut tergolong kawasan elit yang masih menampilkan jalan – jalan dengan halaman luas.

Menutup kelopak matanya dan menyembunyikan onyx miliknya, Sasuke kembali terngiang dengan pembicaraan terakhir dengan kakaknya. Ia, diumur dua puluh empat tahun, masih belum dianggap dewasa oleh sang kakak?

Ingatannya kembali berputar kebelakang seputar kehidupannya dulu yang memanglah tidak ada manfaat – manfaatnya sama sekali. Tapi tak ia pungkiri ia have fun dan enjoy melakukannya. Lalu kenapa dia harus berubah? Karena kakaknya yang menyuruhnya? Apakah ia yang benar – benar ingin berubah? Atau…

Sasuke terduduk dan langsung menyambar ponsel miliknya. Membuka galeri dan memilih salah satu folder. Menampilkan beberapa foto dengan jumlah empat puluh dua slide foto. Foto dirinya dan Sakura.

Sakura.

Berhenti di satu foto dimana menampilkan gambar dirinya dan Sakura saat berada di taman belakang mansion Uchiha kala mereka berkunjung saat ada acara waktu itu. Foto dimana ia merangkul bahu Sakura dengan sandaran kepalanya ke kepala bersurai jamboree tersebut. Foto dimana awal mereka jadian, mungkin sekitar bulan ke tiga atau empat. Sasuke sudah lupa kapan tepatnya foto itu diambil. Dan sampai saat ini Sasuke masih yakin, saat ia menekan tombol ambil pada kameranya hingga menyimpan gambar selfie mereka, ia merasa—bahagia? Entahlah. Yang jelas saat itu ia sedang menjadi dirinya sendiri. Dan ia kini sadar jika ia ingin ke masa saat itu. Dimana semua prilakunya terkontrol. Mungkin ia bisa memulainya dengan berubah. Demi?—entahlah.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Pertemuan SasuNaru

Dengan wajah kusam dan rambut berwantakan, Naruto terlihat sedang kacau. Menatap laptop berukuran emapt belas inch dengan motif pusaran air di bagian depan tengah. Tangannya berada di atas keyboard tanpa sedikitpun menekan salah satu tombol dari sekian bayak tombol yang ada. Ia sedang mengalami writeblock dalam mengerjakan tugas mingguannya.

Di tengah kebingungannya mencari awalan kata yang pas di antara sekian banyak kalimat yang ia miliki dalam menganalisa 'manajemen pembangunan perusahaan' adalah hal yang menyebalkan. Naruto merasa buntu setiap kali akan menulis sesuatu dengan mempertimbangkan kata yang tepat layaknya memilih pasangan hidup.

"Narutooo!" Tepukan kasar mendarat di bahunya bersamaan dengan teriakan seorang gadis.

"Kau mengangguku Sakura." Tak seperti biasanya yang sering menanggap kalemcenderung perhatianketika sahabat jamboreenya tersebut datang, kali ini Naruto memilih bersikap acuh. Menyingkirkan tangan Sakura dari bahunya dengan menghempaskan pergelangannya.

"Kau ini sok sibuk sekali. Apa laptop lebih penting bagimu daripada aku?" Sakura memilih menduduki kursi dihadapan Naruto.

"Kali ini iya." Tetap menatap fokus pada monitor, jari Naruto beradu dengan keyboard tanpa arah yang jelas. Hanya ingin menimbulkan kesan bahwa ia benar – benar sibuk. Nyatanya yang deketik adalah kata – kata yang tak bisa di baca semisal, 'dbjgdhwjbhj', 'djwhdjhwjdhjw' dan 'bdwhdgwbx'.

"Baru semester satu saja sudah sok sibuk. Huu," Sakura mencicit. "Hari ini aku berencana pergi kepantai dengan Sasuke. Tapi ia masih ada kuliah. Ia juga melarangku datang ke gedungnya. Mangkanya aku menemuimu dulu. Hitung – hitung sembari menghabiskan waktu menunggu Sasuke. Sekalian aku ingin memperkenalkannya denganmu." Lanjutnya.

Seketika jari Naruto berhenti dalam mengetik kata – kata asal – asalan. Wajahnya mendadak kaku dengan pergelangan tangan yang mendadak tegang. Sasuke? Naruto membatin. Belum siap melihat secara langsung kekasih pujaan hatinya.

"Naruto? Naru kau baik – baik saja?" Sakura melambaikan jemari tangan kanannya di hadapan Naruto. Berusaha menyadarkan Naruto dari lamunannya setelah sepuluh detik Sakura merasa tidak ada tanggapan dari lawan bicaranya.

"Eh? Ya! Aku baik – baik saja," Naruto mengerjapkan matanya. "Kau bilang apa tadi?"

"Aku ingin memperkenalkanmu dengan Sasuke."

MATI AKU. Dalam hati Naruto mengumpat.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sekitar satu jam kurang sepuluh menit. Sasuke datang dengan mobil sport nya yang di parkir di lahan parkir fakultas ekonomi dan bisnis. Mengenakan kemeja berwarna biru pudar dengan motif kotak – kotak bergaris warna merah tua dan hitam dimana bagian lengnnya di tekuk hingga mendekati siku. Sementara di bagian dadanya dimana kancing teratasnya tidak di pasangkan tersembul kaos hitam yang dipakai Sasuke. Celana jeans standart hitamnya tidak begitu menutupi sepatu sport putih dengan ornament merah yang dikenakannya. Berjalan sembari menggenggam kontak mobil, pandangan Sasuke terarah pada meja di koridor kampus dimana Naruto dan Sakura berada.

"Sasuke-kun!" Kontan Sakura berteriak memanggil sosok tegap yang tengah berjalan dengan tebar 'pesonanya tersebut'. "Kau lama sekali." Sakura bergelanyut manja di lengan sang kekasih sesaat setelah Sasuke sampai di sisi Sakura.

"Hn." Jawab Sasuke seadanya.

"Ah ya. Duduklah. Dan perkenalkan, ini Naruto. Teman dekatku yang sering ku ceritakan." Sakura memperagakan tindakan memperkenalkan dua orang yang pertama kali bertemu.

Ditempatnya, Sasuke terpaku memandang sosok bersurai pirang di hadapannya. Tepat di akhir musim panas, seminggu sebelum memasuki musim gugur. Dimana matahari masih bersinar dengan terangnya, menerpakan angin pembawa hawa panas yang tergolong hangat. Mengibarkan surai pirang yang tengah Sasuke pandangi. Mendadak Sasuke diharuskan mengakui. Bahwa sosok didepannya memanglah unik. Tidak membosan jika terus dipandangi. Dan Sasuke merutuki pemikirannya yang mendiskripkan hal – hal yang menurutnya aneh. Saat itu, Sasuke tidak menganggap pusing hal ini. Hanya sebatas kagum dengan wajah polos pemuda bersurai pirang didepannya yang sedikit terlihat lucu dengan kerutan raut kesal ketika memandang dirinya.

Sementara di posisi Naruto, dalam hati hanya mampu memaki dan dengan berat hati mengakui ketampanan dan kemaskulinan sosok didepannya. Dengan berbekal sedikit informasi dari Sakura, Naruto dapat mengetahui, diusianya yang ke dua puluh empat tahun Sasuke memanglah terlihat karismatik, benar – benar telah sesuai dikatakan dewasa.

"Sasuke. Uchiha Sasuke." Sasuke mengulurkan tangannya menawarkan berjabat tangan. Hal yang tak biasa. Karena Uchiha Sasuke tak pernah berperilaku sedemikian rupa.

"Naruto." Naruto menyebutkan namanya dengan aura tidak bersahabat dan sura sarkatis. "Hanya Naruto."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Itachi meletakan lembaran formulir pengambilan kartu rencana studi Sasuke semester ini. Ia juga membubuhkan lingkaran spidol merah berdiameter 1.3 cm tepat di mata kuliah 'douryoku-shou' yang menandakan degree S2 dimana mata kuliah inilah yang menentukan lulus tidaknya dalam strata dua hingga seorang mahasiswa diakui dan diberi tanda penghargaan atas kerja keras yang dilakukan dalam menerbitkan jurnal ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan dengan pengalaman riset mendalam.

"Selesaikan skripsimu yang telah kau tunda dari semester kemarin. Aku hanya meminta hal itu sebagai anggapan tanda terima kasih atas mulai tenggelamnya kasus yang kau buat," melipat kaki kanan di atas kaki kiri, Itachi melanjutkan perkataannya, "Dan aku tak menerima penundaan."

"Jika begitu, kembalikan aku ke apartemenku. Aku sudah suntuk terus – terusan melihatmu."

"Sudah ku bilang. Hentikan omongan kasarmu itu."

"Hn."

"Ayah sudah mulai berhasil meredakan gossip tentangmu melalui foto buatannya. Bahkan kasus Sakura yang sempat kembali menghangat kini sudah tak begitu terdengar kabarnya. Hanya tinggal bagaimana kau merubah image dan tampil sebagai Sasuke yang baru. Aku fikir dengan mengangkat gelarmu pasti dengan sendirinya riwayat burukmu akan memudar dengan sendirinya." Itachi melangkahkan kakinya mendekati sang adik. Memberikan kartu kunci apartemen Sasuke—yang sempat ditahannya—dan meletakannya di meja depan kaki sang bungsu Uchiha. "Aku bisa pastikan jika tidak akan ada lagi wartawan atau siaapun yang menunggui apartemenmu layaknya penagih hutang yang memburu informasi – informasi terbaru."

"Sangkyu."

Tak ada jawaban. Itachi memilih membaca majalah bisnis dan bursa demi memantau keadaan perusahaannya agar tetap terjaga dan tak ketinggalan perkembangan terbaru seputar dunia bisnis.

"Itachi?"

"Hn?"

"Bagaimana pandanganmu tentang hubungan sesama jenis, gay?" Sasuke memilih menatap langsung onyx sang kakak.

"Perihal apa yang kau maksud?"

"Pendapatmu secara pribadi."

"Pada dasarnya Tuhan memang menciptakan manusia berpasangan, wanita dan pria agar dapat membina keluarga dengan baik dan meneruskan garis keturunan. Tapi Tuhan tidak menciptakan manusia tidak dengan perasaan. Itulah mengapa alasan manusia tidak pernah salah dalam mencinta. Itu jika yang kau tanyakan adalah hubungan gay karena cinta."

"Jika karena dendam. Ketidaksengajaan."

"Kau membahas perihal hubunganmu dengan Naruto?"

"Aku tak ada hubungan apapun dengannya. Dan jawab saja pertanyaanku."

"Sejatinya perasaan cinta adalah hal murni. Jika cinta sejenis dianggap suatu yang negatif dan terkutuk. Sebenarnya mereka yang beranggapan demikian tidaklah mengerti yang sebenarnya. Bukan cinta sesama jenis yang salah. Melainkan perilaku orentasi seksualnya."

"Kau menuduhku menjadi penyebab permasalahan yang ada?"

"Dari awal sampai akhir, dengan sayang aku harus jawab… iya."

"Lalu bagaimana aku bisa menyelesaikannya?"

"Ikuti kata hatimu."

"Terakhir aku melakukannya. Aku berakhir di apartemen 'nya'."

"Kau bahkan hampir tak pernah menggunakan hatimu rupanya?"

"Bukankah lelaki memang lebih sering menggunakan akal. Rasional?"

"Jika memang kau menggunakan akal. Sudah pasti kau tak akan membiarkannya sengsara hanya dengan memperkosanya. Aku yakin kau pasti bertindak lebih."

"Saat itu aku melakukannya karena… mungkin seseuatu yang disebut 'kebaikan terpendam' sedang muncul."

Itachi tertawa mencemooh, "Kau tak pantas melucu."

"Hn."

"Alasanmu, kau belum menjawabnya."

"Anggap saja aku merawatnya setelah 'itu' sebagai tanda terimakasih."

"Kau yakin?"

"Hn."

"Kau masih mempertanyakan apakah kau gay atau bukan?"

"Aku tak mempermasalahkannya."

"Kau yakin?"

Sasuke terdiam.

"Ada seseorang gay yang mau berhubungan dengan siapapun. Tapi ada juga seseorang gay yang hanya mau berhubungan dengan satu pria. Semua kembali padamu. Apakah kau memang gay. Atau hanya mau berhubungan dengan Naruto saja."

"…"

"Berubahlah mulai saat ini. Buktikan padanya jika kaun mampu berubah dan menjadi lebih baik. kau perlu mengambil sikap dan tindakan untuk memperjuangkan kesetaraan dan menjunjung tinggi toleransi. Jangan biarkan rasa takut atau pengganggu menghalangimu dalam meraih kesetaraan—jika yang kau takutkan memanglah pandangan orang lain tentang hubungan sesama jenis. Coming out. Cintailah siapapun yang memang benar – benar kau cintai, tanpa rasa takut. Apapun orientasi seksualmu, aku mohon kepadamu, putuskanlah tindakanmu mulai sekarang. Sehingga kau bisa melindungi dirimu sendiri dan orang kau cintai. Jangan menunggu sampai terlambat. Sekarang adalah waktunya."


.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Be who you are and say what you feel,
because those who mind don't matter,
and those who matter don't mind.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.


Dua bulan. Genap dua bulan Sasuke mengetahui jika Naruto tidaklah mengikuti perkuliahan dan kerja part time setengah sebulan lalu. Dihitung sejak terakhir kali ia melihat Naruto sewaktu meniduri pemuda tersebut di apartmennya sendiri.

Lucu memang. Entah sejak kapan Sasuke mulai menghitung hari dan mengingat tanggal. Bahkan selama berpacaran dengan Sakura pun ia tak seperti ini dalam mengenali tanggal. Semisal tanggal – tanggal perhitungan bulan – bulan hubungan mereka. Tanggal kencan – kencan mereka. Atau parahnya tanggal – tanggal pertama mereka melakukan suatu aktivitas baru yang belum pernah mereka lalui semisal hari pertama mereka pergi keluar kota. Tanggal hari dimana mereka menonton bersama. Dan tanggal hari – hari yang malas Sasuke ingat namun selalu diucapkan Sakura dengan semangat.

Tapi kali ini. Sasuke memiliki hobi baru. Menatap tanggal dan jam di handphone miliknya. Menghitung waktu yang telah terlewati dimana ia hanya bisa diam tanpa berani menemui seseeorang yang selalu membuatnya merasa serba salah. Selalu menutup – nutupi keinginan yang membuatnya tertawa. Tapi ia sudah membuat keputusan, keputusan yang bahkan ia sendiri merasa ragu untuk menjalankannya. Keputusan yang membuat dirinya membuang jauh – jauh ego yang dimilikinya. Keputusan yang dipikirkannya hingga Itachi menertawakannya dengan keras.

Kala itu ia sedang browsing di tengah kegiatannya menyelesaikan bab tiga tugas akhirnya. Ketika sesuatu menggelitik pemikirannya dan mendorong jari – jarinya mengetik di atas tombol keyboard dan merangkai beberapa kata berbunyi "Alasan seseorang pria menjadi gay". Namun belum selesai ia membaca salah satu website, Itachi datang menganggunya.

"Gay bukan penyakit dan bukan gangguan mental. Tidak ada alasan signifikan jika prilaku gay menyangkut seseorang yang kau cintai—mungkin. Terlepas dengan kaum sodomi akibat child abuse dimana mereka melakukannya karena ada tekanan mental akibat traumatik. Untuk kasusmu, lupakan jika kau menidurinya karena emosi sesaat. Coba kau pikirkan apa yang kau alami pasca lepas darinya? Kau sungguh membuatku ingin tertawa Sasuke."

Menutup laman website, Sasuke kembali pada layar pekerjaannya. "Aku tak melarangmu menertawakan aku."

"Hnn. Jika kau ingin jawaban. Hanya pada Narutolah kau bisa mendapatkannya."

"Aku heran padamu. Kau sepertinya paham betul tentang dunia gay. Apakah pasca kematian Shion kau berubah menjadi gay?"

Tak ada jawaban. Itachi hanya mengeluarkan seringai. "Bahkan aku pernah tidur dengan seorang pria."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Hoek. Hoek. Hoeeeek.

Mengesap aliran saliva pasca mengeluarkan isi perutnya, Naruto hanya mampu bersandar lesu di dinding kamar mandinya. Mengerutkan keningnya tanda lelah dan capai menghadapi keadaan tubuhnya yang telah ia rasakan sejak setengah bulan lalu.

Naruto selalu merasa ada yang melilit di perutnya yang menimbulkan gelenyar aneh di bagian ulu hatinya. Perasaan yang menyebabkan Naruto selalu kehilangan nafsu makan dan mual hingga mengeluarkan apa saja yang baru disantapnya.

Pada awalnya, Naruto masihlah berusaha mencoba mengabaikan keadaan tubuhnya dan tetap mengikuti perkuliahan seperti biasa. Namun di hari ketiga sejak ia merasa tubuhnya terasa sakit di setiap persendian disertai migran mendadak dan mual yang secara acak ia alami, ia memilih kembali absen mengikuti perkulian. Selain alasan karena tak ingin pingsan mendadak di kampus, ia kini juga mulai merasa jera dan semakin membuat kepalanya penat tatkala pem—bully—an akan dirinya semakin kerap terjadi. Tak berhenti dengan ejekan dan sindiran, nyatanya terorpun masih kurang dalam men—judge dirinya. Kini bahkan ia telah menerima tindakan tak mengenakan dengan sentuhan fisik. Baik pemukulan di daerah kepala, hingga dihina dengan remasan di pantat dan rabaan punggu dengan gaya menggoda namun bersifat menghina.

Hoooek. Hooek.

Fine. Naruto memilih membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Ia sepertinya benar – benar butuh istirahat total. Berharap meraih keberutungan dengan istirahat tanpa aktifitas selama tiga hari akan memperbaiki kesehatannya. Karena nyatanya ia pernah mendekam di apartemennya selama dua minggu. Melakukannya lagi dengan jangka waktu tiga hari tidak akan membebaninya.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Kau? Tidur dengan seorang pria?"

"Hanya one night stand." Pernyataan Itachi membuat Sasuke terdiam. Nampaknya si bungsu Uchiha mulai tertarik dengan kehadiran sang kakak yang tiba – tiba muncul di apartemennya. "Percayalah. Aku sudah pernah berada di posisimu. Dan aku yakin, jika kedekatannku dengan dia hanyalah masalah kebutuhan."

"Kau berhasil membuatku diam 'Tachi."

"Sudah lupakan. Aku kemari ingin mengetahui bagaimana perkembangan risetmu? Permasalahan apa yang kau ambil, mungkin saja aku memiliki seseorang yang dapat memberimu informasi." Bahkan Sasuke belum terduduk dengan benar di sofa kamar apartemenya ketika Itachi menanyainya dengan datar.

"Dampak panjang pertanian di atas lahan yang terkena radiasi. Aku sedang dalam tahap percobaan atas teknologi baru dalam menangani lahan pertanian di area itu. Dan tidak, terima kasih. Aku sudah rampung dengan semua informasi yang kubutuhkan, tinggal menunggu hasil percobaan dan aku siap untuk persidangan akhir."

"Baguslah."

"Untuk apa kau semakin sering menemuiku?"

"Kau tak ingin mengetahui perkembangan terbaru pemuda pirang itu?"

"Ceritakan."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Naruto sudah memutuskan untuk melepaskan perkuliahannya semester ini. Mengabaikan ancaman terputusnya beasiswa yang ia terima. Hal ini lantaran ia selalu tidak dapat mengikuti perkuliahan akibat fisiknya yang selalu drop menjelang siang hari. Tidak pernah terlihat fit dan kurang maksimal dalam melaksanakan tugas tak ayal membuat beberapa dosen menegurnya. Beberapa siswa lain yang nampaknya masih membencinya perihal permasalahan orientasinya—meski berita tersebut entah mengapa telah menghilang dan berganti dengan berita lain—bahkan kini berganti menjahilinya dengan sebutan pemakai. Dan Naruto tahu betul apa yang disebut pemakai tersebut.

Karena selama tiga bulan terakhir ini. Penampilannya memanglah berubah secara drastis. Ia terlihat kacau kini. Badan mengurus dengan kantung mata yang hampir selalu terlihat di tiap harinya. Mual – mual dengan mata berair. Tidakkah hal tersebut memanglah menjadi tanda dirinya adalah seorang pemakai?

Permasalahannya ialah, ia bukanlah pemakai, pengkonsumsi, atau pengguna apapun itu—yang di larang negara karena dianggap illegal. Tapi ia juga tak bisa menjawab dan membantah semua tuduhan dan tindak pembullian teman – temannya tersebut. Pada akhirnya, dengan berat hati ia memilih mengundurkan diri di semester ini. Terlebih dengan banyaknya absensi di beberapa mata kuliah yang ia yakin tidak dapat ia kejar ketertinggalnnya terlebih dengan kondisi yang menimpa dirinya.

Naruto juga telah memutuskan untuk berhenti bekerja saat ia mendapati tawaran kerja yang bisa ia kerjakan di rumah. Meskipun kurang ahli, Naruto akan mencoba berusaha sebaik mungkin. Karena pekerjaan sebagai reporter online lumayan dapat mengisi kekosongan dompetnya. Pekerjaan yang hanya diminta selalu meng—update—berita – berita terbaru yang ia dapat dari partnernya dan mempublikasikannya di suatu situs resmi berita Jepang.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Tribal Café.

Tempat dimana Sasuke berada kini. Menghadap laptop berwarna putih dengan gambar apel yang telah tergigit di bagian tengah layar belakang laptop miliknya. Jemarinya dengan lihai dan cekatan mengetik berderet kalimat yang telah tertancap apik dalam otak jeniusnya. Merangkainya menjadi sebuah alenia yang saling terkait satu sama lain dalam menjelaskan permasalahan utama penelitiannya.

"Pesan apa tuan?" Tanya salah satu weiters café tersebut.

"Expresso dan roti bakar kering masing – masing satu." Jawab Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya menghadap layar berukuran enam belas inch tersebut.

"Baiklah. Silahkan tunggu sepuluh sampai lima belas menit lagi." Setelahnya, pelayan tersebut meninggalkan meja Sasuke. Namun dilangkah keempat Sasuke kembali memanggil dengan kata 'tunggu'.

"Batalkan pesanan expresso, tukar dengan orange juice. Squash orange."

"Baik tuan."

Bulan ini memasuki bulan ke empat pasca terakhir kali Sasuke bertemu Naruto. Setelah memutuskan untuk lepas dari prahara hatinya yang masih bertabuh tiap kali mendengar perihal si pirang dari sang kakak. Kini entah mengapa perutnya serasa digelitik dengan ribuang kupu – kupu. Maka dari itu ia memilih mengalihkan perhatiannya pada kewajiban akhirnya.

Mencari susunan kata yang tepat guna menyempurnakan alenia yang ia buat, ketika mata onyx miliknya menggerling ke arah sisi jalan café ia berada, tepat di badan jalan sebelah kanan, dari arah selatan ia menangkap satu sosok yang ia yakin ia mengenlinya. Sosok bercelana jins standart dengan menggunakan jaket musim dingin—dimana jepang tidak berada di musim dingin, melainkan musim semi menjelang musim panas—dengan resleting yang di pasang hingga batas atas leher. Yang membuatnya mudah ia kenali ialah helaian rambut berwarna pirang tersebut. Surai pirang yang semakin menyala di terpa sinar matahari.

Deg!

Bahu Sasuke menengang. Otot wajahnya mengeras. Kedua tangannya mengepal. Dan bola matanya tak berhenti mengikuti pergerakan sosok yang menjadi objek utamnya tersebut. Sasuke serasa ingin berlari keluar. Menghampiri sosok Naruto yang sedang berjalan berlawanan arah dengan pandangannya. Jika bisa ia ingin menatap Naruto dengan waktu yang lumayan lama. Ingin memastikan keadaan seesungguuhnya dari orang yang selalui ia ikuti perkembangan kabarnya. Baik dari pantauan bawahan Itachi, maupun pantauannya sendiri di tengah – tengah kesibukan risetnya.

Sekitar beberapa menit, setelah dua puluh atau dua puluh satu langkah Naruto yang terlihat dari kaca jendela tanpa pembatas kayu di café dimana ia berada. Pada akhirnya Sasuke harus merelakan hilangnya Naruto di balik kaca jendela. Ia tidak mengejar. Tidak akan mengejar Naruto dan memintanya berhenti. Tidak akan selama ia belum bisa membuat kemarahan yang pasti masih bercongkol di hati Naruto menghilang. Tidak hari ini. Bukan hari ini. Ia masih harus bersabar. Karena dirinya yang sekarang masih gamang. Gamang akan segala hal.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sebenarnya Naruto telah sampai di apartmennya sejak setengah jam yang lalu. Namun ia tak kunjung masuk. Memilih bersandar pada pembatas teralis besi di depan pintu apartemennya, Naruto sedang melamun kini. Atau lebih tepatnya sedang memikirkan sesuatu. Mengabaikan belanjaannya—berupa beberapa jenis bahan masakan yang beberapa saat lalu dibelinya menggunakan uang hasil bekerja menjadi reporter online—dan diletakkan di dekat kaki. Dan lebih fokus menatap jalanan di depan halaman apartemennya namun dalam pandangan yang tak fokus.

Ia merasakannya lagi. Sesuatu yang aneh di dalam perutnya. Awal ia merasakannya ialah seminggu lalu. Tapi hanya bersifat rasa geli di dalam perut. Dan hal tersebut tak lebih dari lima detik. Namun kali ini berbeda. Sewaktu di jalan tadi ia merasakannya. Sesuatu yang berdetak di dalam perutnya.

Pemikirannya pergi entah kemana kala ia mencari alasan paling masuk akal yang kemungkinan dapat terjadi. Namun belum sempat ia selesai dengan kegiatannya. Ia merasakannya lagi kala ia menaiki tangga apartemennya tadi.

Setelah membuka resleting jaket musim dinginnya, Naruto meraba perutnya di balik kaos berwarna biru yang ia kenakan. Bertambah buncit. Perutnya bertambah buncit. Meski masih dapat dikatakan normal, tapi ia benar – benar merasa jika perutnya kini telah maju beberapa centi. Naruto berpikir, mungkin hal tersebut memanglah dikarenakan penyakit yang diidapnya. Masih teringat jelas berapa cup ramen yang sudah di konsumsinya empat bulan terakhir.

Sebenarnya ia bisa saja menjaga pola makannya dan tidak kembali makan makanan penuh lilin tersebut. Namun waktu itu yang ia miliki dalam peikirannya hanyalah makanan bernama ramen tersebut. Mudah, murah dan bisa tahan lama saat disimpan. Ia tak harus sering – sering keluar rumah.

Deg!

Naruto merasakannya lagi. Pergerakan di dalam perutnya. Dengan cepat ia memasuki kamarnya dan melepas jaket beserta kaosnya. Tubuh ramping nan kurus miliknya langsung terpampang saat ia berdiri di depan cermin. Memerhatikan penampilannya di dalam kaca cermin, ia benar – benar mendapati seorang yang bukan dirinya. Bahkan tulang belikat miliknya kini menonjol tajam, tulang pipinya membuatnya makin tirus. Dari semua cekukan di tubuhnya, mengapa tulang rusuknya tak begitu kentara? Karena perut buncitnnya kah?

Dirabanya perut tersebut dengan perlahan. Bukan 'kah tadi ia merasa suatu pergerakan? Dan Naruto berani bersumpah, ia di buat kelimpungan dan kebingungan ketika ia benar – benar merasakan Sesutu yang bergerak tersebut kala ia menyentuhnya.

Apa ini? Pikir Naruto kacau.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sasuke semakin sibuk di bulan ini. Pasalnya di akhir bulan ia akan menempuh persidangan akhirnya di strata dua. Dan hari itu adalah seminggu dari sekarang. Selain memahami ulang dan sedikit melakukan analisis kemungkinan dimana para dosen akan mengoreksinya, Sasuke juga di tuntut bersikap bukan lagi layaknya mahasiswa tingkat pertama atau S1. Tapi disinilah masalahnya. Ia kehilangan gairahnya dalam memperjuangkan hasil risetnya hampir lima bulan terakhir, itupun belum dihitung dengan penundaan pendalaman risetnya selama satu semester.

Setelah melewati tahun pertama saat Sakura masih hidup dulu, ia telah diarahkan untuk membiasakan membaca paper dan mencari tema. Maka di tahun kedua ini, ia secara penuh berkonsentrasi pada riset.

Syarat mutlak nihonggo—kemampuan bahasa Jepang—bagi S2 adalah tingkatan JLPT level 2 – 3 dengan klasifikasi penguasaan baca tulis minimal 10.000 kanji, yang dinilai dengan penilaian mahasiswa terhadap penganalisaan dalam mengikuti berita di TV dan surat kabar atau membuat laporan dalam bahasa Jepang meski thesis biasanya diperbolehkan ditulis dalam bahasa Inggris. Hal ini karena mahasiswa S2 dianggap lebih "dewasa", dan telah memiliki pengalaman riset, karena itu sistem perkuliahan biasanya dalam bentuk diskusi, rinkoh—baca paper dan presentasi—debat, dan sebagainya.

Titik berat evaluasi seorang mahasiswa S2 adalah risetnya, bukan pada nilai kuliahnya. Karena saat mengikuti program S2, nilai kuliah jauh lebih mudah diperoleh daripada saat masih di S1. Tapi sebagus apapun nilai kuliahnya—walau semua nilai kuliah A sekalipun, tidak akan ada manfaatnya jika riset tidak berhasil dengan baik. Kelulusan ditentukan dari riset yang dilakukan

Saat calon master tahun kedua, ada keharusan untuk mempresentasikan penelitian pada chuukan happyo—dosen pembimbing—sebagaimana saat S1. Sering ada keharusan agar mahasiswa S2 pernah mempresentasikan hasil studinya di kenkyukaidomestic conference.

Sasuke menghela nafas berat saat ia telah selesai menggunakan setelan baju formalnya. Rambut yang dulu panjang sebahu dan sering ia tali seadanya di belakang kini telah ia potong sedikit di bawah telinga. Meski ia tetap mempertahankan rambut sampingnya tetap panjang. Memakai kaca mata berbingkai hitam, Sasuke kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin.

Ia tak mengerti, hanya mengganti penampilan dan berubah menjadi seorang yang nampaknya "orang baik – baik" nyatanya memang dapat merubah image dari seorang Uchiha Sasuke. Tak ia pungkiri jika ia kini benar – benar nampak seperti seorang pria dewasa yang sedang dalam perjalanan akhir meraih kemapanan. Menutupi penuh dengan penampilannya bahwa ia memiliki riwayat seorang bajingan.

Lima belas menit setelah ia bersiap, mobil pribadi kakaknya lengkap dengan sang sopir telah menanti di halaman dan siap berangkat

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sasuke menempuh persentasi dalam dua puluh menit pertama sejak dimualinya persidangan dengan jeda lima menit untuk persiapan. Sepuluh menit berikutnya ia memulai sesi tanya jawab antar dosen penguji dan dosen pembimbing. Disertasi dan publikasi ia sajikan dalam bahasa Inggris, agar dapat dibaca oleh semua orang. Alasannya adalah karena jika ditulis dalam bahasa Jepang, hanya akan dapat dibaca oleh orang Jepang atau mereka yang menguasai bahasa Jepang saja. Namun presentasi tetap Sasuke lakukan dalam bahasa Jepang.

"Selamat. Hasil risetmu sangat memuaskan. Sesuai dengan keharusan. Jika berkesempatan, lanjutkan pendidikanmu. Perbedaan S2 dan S3 hanya pada hasil akhirnya. Dimana S2 ialah menyelesaikan masalah yang tidak dapat dipecahkan, sementara S3 ialah membuat masalah yangg tidak bisa dipecahkan. Tapi dengan kemampuanmu aku yakin kau bisa menghadapinya." Senju Tobirama, dosen penguji Sasuke memberi reaksi terhadap presentasi Sasuke dalam satu kali penjelesan. Hal tersebut telah diimbuhi dengan pujian dan saran.

"Aku sepertinya sudah menemukan masasiswa S2 tahun ini yang akan menjadi terbaik di antara yang terbaik." Karura menambahi perkataan Tobirama.

"Wisuda S2 sama halnya dengan S1, hanya mendengarkan pidato, pembagian hadiah bagi yang berprestasi baik. Ijazah dibagikan di tiap jurusan secara sederhana saja, bukan secara formal. Tapi aku minta padamu, tampilah secara prima." Tobirama menutup pembicaraan di siang hari itu.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Sukses dengan kelulusannya dan mendapati dirinya sebagai pemegang predikat mahasiswa starata dua terbaik dengan Garade Point Average atau Indeks Prestasi komulatif yang cumluade menambah gelar yang diperoleh Sasuke setelah Bachelor of Engineering yakni Master of Engineering Science yang terpampang apik di belakang namanya yakni Uchiha Sasuke B Eng – M Eng Sc.

Kini Sasuke berubah menjadi sosok yang selalu dicari – cari baik dalam hal wawancara perihal perolehannya dalam menempuh pendidikan, pihak – pihak yang sibuk menjadikannya tokoh baik dalam beberapa koran dan majalah, hingga perusahaan – perusahan dan pabrik – pabrik yang membanjiri dirinya dengan tawaran kerja beserta upah yang sangat menggiurkan. Menenggelamkan sisi gelap dari Sasuke yang masih 'dikenal' gay. Menjadikan sosok Sasuke menjelma dari sang tokoh utama pembicaraan miring menjadi sosok yang patut diperhitungkan dan dapat menjadi panutan hidup.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Selamat atas kelulusanmu. Pertahankan kemampuanmu, dan buktikan jika kau adalah anak yang berguna." Fugaku berucap dengan nada datar dan tanpa ekspresi. Meskipun beberapa saat yang lalu namanya disebut sebagai orang tua dai seorang lulusan strata dua terbaik.

"Anata!" Mikoto mengkoreksi tingkah laku suaminya tersebut.

"Cepat masuk mobil 'Miko, aku ada urusan lain." Selepas berkata demikian, Fugaku berjalan mennggalkan kedua anggota keluarganya yang lain—kecuali Itachi karena ia sedang ada urusan kerja.

"Jangan pedulikan ucapan ayahmu," membelai pipi sang putra bungsu, "Ibu bangga dengan hasil akhir yang berikan. Ibu selalu mendukungmu."

"Tenang saja bu, itu bukan masalah bagiku." Sasuke membalas belaian tangan mikoto di wajahnya. "Ibu, bolehkah aku meminta Sesutu?"

"Tentu. Apa sayang?"

"Tawaran dari Tobirama sensei. Tentang tawaran kerja di Jerman, bolehkah aku menundanya?"

"Ada apa?"

"Ada sesuatu yang ingin aku selesaikan sebelum aku meninggalkan Jepang. Aku hanya meminta ibu untu menenangkan ayah. Kasian dia, sudah banyak beban pikiran yang aku buat untuknya. Ini terakhir kali aku menyusahkan kalian. Tapi aku janji, setelahnya aku akan membuat kalian bahagia."

Mikoto memandang dalam mata sang anak. Entah mengapa ia merasa bahagia. Menyaksikan perubahan sang putra. Tak kasat mata memang. Sasuke yang sekarang memanglah Sasuke yang dulu namun kini telah beranjak dewasa dan mutlak telah berpikiran matang. Namun naluri seorang ibu tak dapat diragukan, ia secara pribadi merasakan perubahan positif sang anak, pandangan dan ucapan Sasuke menjadi pembuktinya.

"Apapun itu, ibu akan selalu mendukungmu. Gapailah apapun yang kau anggap berharga. Dan berbahagialah."

"Terima kasih."

"Kemarilah kau, berandal kecil." Ucap Mikoto. Percakapan itu akhirnya diakhiri dengan acara berpelukan antara Mikoto dan Sasuke.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Kau dimana saat ini?" Suara Itachi langsung terdengar sesaat ia telah menempelkan ponselnya ke telinganya.

"Apartemen. Ada beberapa dokumen yang aku harus persiapkan pasca kelulusan."

"Kau sudah siap?"

"Hn?"

Seolah mengerti arti gumanan sang adik—mungkin karena ia sering menggunakan gumanan yang sama—Itachi menjawab keheranan Sasuke. "Bertemu dengan Naruto."

"Entahlah."

"Pastikan dulu alasanmu menunda tawaran kerja itu. Jika benar alasan itu adalah Naruto, maka selesaikan permasalahanmu dengannya. Jika bukan, meminta maaflah dengan baik – baik lalu pergi dengan damai."

"Itachi?"

"Hn?"

Kali ini Sasuke yang mengerti arti gumanan Itachi. "Apakah seorang bajingan seperti aku sangat memalukan jika merasa takut?"

"Tidak."

"Kau mengatakan 'tidak' tapi aku yakin disebrang kau sedang tersenyum merendahkan."

Jackpot.

Itachi terbahak mendengar penuturan sang adik. "Sialan kau." Mendengar umpatan sang kakak, Sasuke hanya tersenyum. "Lalu bagaimana?"

"Apa? Naruto?"

"Siapa yang kita bicarakan sejak tadi?"

"Entahlah. Mungkin aku akan mengintainya seharian ini, sampai aku siap menemuinya nanti."

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Dalam euphoria dari keberhasilan yang mampu ia raih. Ada satu sisi dimana ia merasa kacau. Merasa biasa saja dengan keadaan yang selalu di agung – agungkan orang lain. Terusik dengan sosok seorang pemuda yang telah ia ruba menjadi pria XD. Sosok yang telah lama tak pernah ia lihat. Sosok yang sudah lima bulan meninggalkan bangku kuliah dan pekerjaan part time nya. Sosok yang menjadikan Sasuke seseorang yang mengabaikan segala kesempatan meraih kemapanan dengan menjadi penganguran. Pengangguran yang sedang sibuk mencari tahu keadaan Naruto.

Hari itu Sasuke tak sengaja bertemu Naruto di sebuah supermarket dekat daerah si pirang. Ia yang saat itu hendak membeli krim pencukur jenggot—Sasuke memang membiarkan jambangnya tumbuh demi mematangkan penampilannya agar terlihat dewasa saat persidangan, mendapati Naruto sedang memilah – milah beberapa bumbu masakan instan. Ia yang tak menyangka akan bertemu dengan Naruto saat itu bahkan membuatnya hingga mengabaikan orang lain yang berjalan berlawanan dengannya yang sedang melangkah mendekati Naruto. Abaian yang menyebabkan senggolan bahu dan denting bunyi sesuatu yang terjatuh.

Setelah membantu memunguti beberapa barang yang terjatuh beserta membungkukan punggungnya demi meminta maaf, Sasuke mencoba menoleh kembali posisi dimana Naruto berada. Namun pemuda tersebut telah menghilang.

Sasuke kelimpungan. Mencari sosok Naruto dimana – mana. Pertemuan mendadak ini menguatkan tekatnya. Ia harus meminta meminta maaf. Ia ingin berubah menjadi seseorang yang lebih terarah hidupnya. Ia bosan di hantui terus atas rasa bersalahnya pada sang pirang. Dan ia yakin saat inilah waktunya.

Keluar dari supermarket, mengabaikan niat awalnya untuk membeli krim pencukur jenggot, kini ia lebih memilih mencari sosok keberadaan Naruto. Tindakan tersebut berakhir dengan membawanya membuntuti si pirang hingga apartemen si pirang.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Tak usah mengendap – endap. Prilakumu mudah di tebak," Naruto semakin membuka pintu apartemennya lebar – lebar. "Entah urusan apa lagi yang kau butuhkan dariku. Aku harap cepat kau selesaikan." Selesai berkata, Naruto meninggalkan Sasuke dan berjalan menuju ranjangnya.

Sementara di posisinya Sasuke terdiam tanpa tau harus bertindak apa. Membututi seseorang dan berakhir kepergok nyatanya tak lebih mengejutkan dari pada mendapati Naruto membukakan pintu untuknya hanya dengan menggunakan celana basket hitam dan kaos oblong berwarna oranye pucat. Dan Sasuke berani bersumpah, ia tak tau harus berekspresi seperti apa mendapati tonjolan yang menyembul di bagian perut tubuh pemuda bersurai pirang tersebut. Sasuke yang telah melihat dengan sendirinya betapa kurusnya Naruto kini, pastilah tak mudah bagi Naruto menyembunyikan tonjolan tersebut.

"Shitsurei Shimasu." Sasuke mencoba bersikap sopan. Karena dalam hati Sasuke tau diri siapa dirinya dalam rumah yang ia kunjungi saat ini.

Tak ada jawaban dari si pirang, Sasuke memilih melepas sepatu Desert Boots berwarna coklat kelam dengan aksen warna cream miliknya, Sasuke memasuki apartemen Naruto dengan langkah perlahan. Ia menolehkan kepalanya ke penjuru kamar yang terlihat amat—berantakan. Tumpukan—sekitar lima pcs—bekas cup ramen instan di pojokan kaki meja, bungkus – bungkus makanan seperti roti dan snack. Botol – botol plastik minuman perasa maupun air mineral. Dan banyaknya selembaran brosur makanan antar jemput.

Lepas dari meneliti kamar si pirang, Sasuke memilih berjalan ke arah kulkas. Membuka daun pintu berdasar bahan plastik dan seng tersebut, Sasuke mendapati tumpukan makanan kaleng yang belum dibuka kemasannya.

"Aku masih ingat jika Sakura—Itachi—mengatakan kau punya penyakit lambung. Dan hal itu dikarenakan makanan penuh lilin yang bungkusnya di bawah mejamu," mendekati posisi dimana Naruto berada, Sasuke mulai memunguti sampah – sampah yang berserakan di ruang tengah tersebut. "Kau seharusnya menjaga pola makanmu. Aku yakin penyakitmu telah jatuh dalam tahap penyakit kronis."

"Siapa kau? Calon dokter juga? Dan lagi," menutupi kepalanya dengan salah satu bantal sponsnya. "Segitu mudahnya kau sebut nama Sakura tanpa gelar almarhum. Sudah lupakah kau jika ia telah mati."

"Naruto! Sebenarnya aku kemari ing—

Perkataan Sasuke terpotong dengan pergerakan Naruto yang tiba – tiba turun dari ranjangnya dan berlari menuju arah kamar mandi. Dan setelahnya yang Sasuke dengar adalah suara – suara khas orang muntah.

Mengerti keadaan Naruto yang pasti sedang dalam keadaan lemah—analisis melalui pengamatan rona wajah yang memucat, Sasuke lantas berdiri dan menuju arah toilet. Menjulurkan tangannya dan menekan tengkuk Naruto. Pijatan ketiga di tengkuk sang pirang, Naruto menepis kasar tangan Sasuke.

Selesai dengan acara muntahnya, Naruto kembali menuju ruang tengah. Namun kali ini memilih menyandarkan punggungnya di sofa single miliknya. Ia sedang mencoba merilekskan punggungnya. Seperti yang sudah – sudah hal tersebut selalu berhasil.

"Kau semakin kurus." Sasuke berjongkok di depan Naruto. Kemudian tangannya terulur untuk menyentuh dasi si pirang. Namun hal tersebut langsung ditepis oleh Naruto, dan menggantikannya dengan meletakkan tangan kanannya sendiri untuk menutupi kedua matanya.

Entah karena apa, mungkin karena keberadaan Sasuke disisinya menyebabkan stress yang meningkat. Naruto kembali merasa sesuatu bergejolak di perutnya, menyebabkan rasa tak nyaman di ulu hatinya. Dan pada akhirnya ia kembali mual. Berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi, dan kembali muntah – muntah.

"Apakah gastritismu semakin parah? Itachi bilang pengidap gastritis menimbulkan gangguan pencernaan, perut kembung, mual, dan muntah. Apakah perutmu membuncit karena hal itu?" Disela cercaan pertanyaannya, Sasuke berjalan menuju arah Naruto berada. Sasuke mengulurkan tangannya dan mencoba membantu Naruto dengan mengurut tengkuknya."Naruto. Kita harus memeriksakan keadaanmu. Sekarang!"

Dilarang copy paste, sebagian atau bahkan keseluruhan dari fiksi ini.

"Lepas!" Menghempaskan tangan Sasuke di tengkuknya, Naruto mencoba berdiri tegak. Kemudian ia melangkah keluar dari kamar mandi dan menyambar jaket musim dinginnya yang digantung di dinding dekat nakas sebelah tempat tidur, kemudian berjalan ke arah pintu. Memutar knop pintu, lalu berlalu begitu saja.

Diposisinya Sasuke hanya dibuat kebingungan. Ditinggal begitu saja oleh Naruto. Namun ia dengan cepat menganalisis keadaan. Jika Naruto memang niat meninggalkan dirinya begitu saja, tak mungkin Naruto membiarkan dirinya tetap berada di apartemennya. Bisa saja Naruto berpikir dirinya akan kembali memperkosa si pirang. Namun jika Naruto berniat membuatnya pergi, untuk apa Naruto yang meninggalkan dirinya. Bisa saja 'kan Naruto mengusirnya, perkara nantinya ia mau pergi atau tidak adalah urusan belakang.

Tapi ditengah aktivitasnya memikirkan jawaban terbaik, ia melihat kunci pintu yang masih menepel di daun pintu. Pada akhirnya ia mengesimpulkan sendiri keadaan yang ada. Bergegas keluar setelah sebelumnya menarik kunci, Sasuke segera pergi menyusul Naruto setelah ia mengkunci dan mengantongi kunci apartemen Naruto.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Berjalan dengan jarak sekitar sepuluh – sebelas langkah dari posisi Naruto berada. Sasuke terus mengawasi gerak – geriknya. Masih beruntung dirinya dapat menyusul si pirang sebelum bus lewat dan menampung Naruto sebagai penumpang.

Setelah turun dari bis dengan arah daerah Minato, Naruto turun—disusul dengan turunnya Sasuke beberapa saat kemudian, dan berjalan tanpa arah selama setengah jam. Setelah itu mereka sampai pada salah satu kawasan perumahan, dan Naruto memasuki salah satu kios sembako. Membungkuk hormat pada sang penjaga—yang Sasuke dengan bernama Chiyo, kemudian mulai memilih – milih belanjaan.

Ditempat, Naruto sebenarnya menyadari jika Sasuke sejak tadi mengikutinya, namun ia bersikap mengabaikannya. Malas tarik urat demi mengusir sang raven. Ditengah aktivitasnya memasukan beberapa sarden kaleng dan ramen cup, ia mendapati tangan Sasuke menahan pergelangan tangannya ketika ia akan kembali memasukan ramen cup ke lima.

"Berhentilah memakan makanan instan. Tak baik bagi kesehatan. Ingat penyakitmu."

"Berhentilah bersikap berlebihan. Kembalilah pada sosok dirimu yang dulu." Menepis pelan tangan Sasuke dari atas tangannya, Naruto melangkahkan kakinya menuju rak bumbu.

Kalah dengan keegoisan sang pirang, Sasuke hanya mengikuti langkah Naruto kemanapun si pirang berjalan. Dan nampaknya Naruto merasa kesal dengan prilaku Sasuke, terbukti dengan cara Naruto meletakan apa saja yang ia pilih ke keranjang belanjaan dengan cara kasar.

"Berapa semuanya nenek Chiyo." Tanya Naruto setelah meletakan keranjang belanjaannya. Tepat saat Chiyo hendak menghintung barang apa saja yang Naruto beli, Sasuke menyela dengan menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu yen.

"Aku bayar semua belanjaan ini. Tapi jangan layani dia."

"Apa yang kau lakukan Uchiha? Apa mak—

Sasuke memotong perkataan Naruto dengan menarik pergelangan Naruto, kemudian keluar dari kios tersebut. Mengabaikan teriakan, makian, dan usaha Naruto yang berontak minta di lepaskan.

"SASUKE AKU BILANG BERHENTI."

Peluk.

Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik kemudian memeluk Naruto erat.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Bagaimana hasilnya?" Wajah itu kaku. Tatapan itu datar. Nada bicaranya pelan. Tapi tak bisa menyembunyikan gerakan hawatir di sepasang maik onyx miliknya. Sasuke dilanda kehawatiran, namun gengsi dan kebiasaan miliknya berusaha menutupinya.

"Silahkan ikuti saya. Naruto-san juga sudah ada diruangan yang akan kita tuju, biar dokter saja yang menjelaskan." Suster berseragam putih hijau tersebut berjalan santai tiga langkah di depan Sasuke.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

"Kau bisa melihatnya? Ini bagian bakal kepala. Dan ini punggungnya. Dibagian ini dan ini, adalah bakal tangan dan kaki. Bersyukur dikehamilannya yang memasuki minggu kedua puluh dua, janinnya tumbuh dengan sehat. Meskipun Naruto–kun dalam keadaan yang tidak fit beberapa bulan ini." Jelas Tsunade dengan menyentuh beberapa bagian di monitor sembari menjelaskan hasil pemeriksaan ultrasonography Naruto.

Sementara disamping kanan ranjang pasien, Sasuke hanya memerhatikan dalam diam. Tapi tak dapat dipungkiri jika ekor matanyanya mengikuti penjelasan Tsunade dalam memaparkan perkembangan kandungan Naruto. Ia takjub. Bukan karena perihal 'apa itu kehamilan', melainkan karena kehamilan tersebut Naruto yang mengalaminya. Dunia macam apa yang ia hadapi hingga menghadapi kasus ini. Kehamilan pria? Ini benar – benar diluar akal nalarnya.

Hal ini bertolak belakang dengan Naruto. Di ranjang pasien, Naruto hanya menerawang langit – langit ruang pemeriksaan kandungan tanpa gairah. Ia melewatkan semua penjelasan Tsunade. Mencoba tidak merasakan transduser yang bergerak – gerak di atas permukaan perutnya yang mulai membuncit demi mengetahui "sesuatu" di dalam tubuhnya. Ia masih shock dan belum bisa menerima jika kini ada kehidupan dalam tubuhnya. Belum bisa dan 'tak' akan bisa.

"Kau harus menjaga pola makanmu mulai saat ini Naruto. Demi kebaikan janinmu. Terlebih dengan kehamilanmu yang masuk dalam kategori kasus luar biasa." Membersihkan alat ultrasonography dan permukaan perut Naruto, Tsunade menatap prihatin Naruto yang tidak bergairah mendapati dirinya tengah hamil. Tsunade masih bisa memahami hal ini. Karena memang sudah sewajarnya seorang pria menolak keadaan tubuhnya yang dapat mengandung, disisi lain ia juga seorang yang aktif memproduksi sel sperma—dalam artian dapat menghamili seseorang.

"Kasus luar biasa itu… termasuk dengan penyakit aneh bukan? Tidakkah seharusnya kau menyarankanku untuk mengugurkannya?" Tanpa berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, Naruto menolehkan dengan lemah wajahnya menghadap Tsunade.

"Apa yang kau—

"Lalu siapa lagi laki – laki yang mengalami hal sepertiku? Tidak ada. Tidak akan ada. Karena kandungan ini adalah kutukan. Yang terpaksa harus menimpaku karena seorang Uchiha." Memotong perkataan Tsunade, Naruto menyanggah ucapan Tsunade dengan percakapan sakartis.

"NARUTO!" Bentak Sasuke.

"Apa?! Kau pikir ini anugerah?!" Menghempaskan tangan Sasuke yang berada dipundaknya saat ia mencoba untuk bangkit dan memilih duduk, Naruto lantas menatap mata Sasuke dengan tatapan tajam. "Jika kau jadi aku? Respon apa yang kau berikan mengetahui sesuatu menjijikan tumbuh dalam tubuhmu—

"Setidaknya kau bisa memberinya sedikit kebebasan. Aku rasa dia berhak atas a—

"Lalu bagaimana jika aku menyuruhmu yang sedang hamil keluar dari rumah dan berjalan di tempat umum? Apakah kau akan dengan bangga mengakui jika kau hamil. Berani meyakinkan setiap orang jika kau sedang mengalami mukjizat? Mengatakan pada dunia 'Hoy. Aku pria pertama di dunia yang dapat mengandung. Teori 'male –pregnant' kini telah terbukti.' Aku tanya sekali lagi Uchiha, bisakah kau terima keadaan itu dengan lapang dada?"

Mereka yang beberapa saat lalu saling memotong perkataan satu sama lain kini mulai terdiam. "Aku tak pandai bicara Naruto. Bahkan aku pernah membunuh anakku yang lain bersama Sakura. Dan aku ingin berubah. Kumohon hentikan. Emosi tak baik bagi orang yang tengah mengandung." Sasuke masih berusaha berbicara dengan suara lembut.

"Jawab pertanyaanku~" Suara Naruto mendadak berubah lemah. "Pria normal mana yang bisa menerima keadaan sepertiku terkecuali mereka pasangan homo yang memang menginginkan anak dari hubungan menjijikan?" Menatap sayu wajah Sasuke, "Kumohon. Mengertilah. Aku tak menginginkan anak ini."

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Aku akan menggugurkannya."

"Dan mengubahmu menjadi pembunuh layaknya aku?!"

"Aku tak peduli jika aku dicap sebagai pembunuh. Aku telah rusak sejak kau memaksaku berbuat laknat dengan tidur denganmu. A—

"Naruto." Sela Tsunade di antara pertengkaran dan saling memotong perkataan dua pria yang baru beberapa jam lalu ia ketahui adalah pasangan gay 'secara kebetulan'. Meski tanpa informasi langsung, Tsunade dapat mengetahui jika mereka pernah berhubungan badan dengan pemaksaan secara sepihak. Hubungan yang menyebabkan hadirnya sebuah janin di tubuh pemuda pirang tersebut. "Aborsi adalah tindakan paling kejam didunia. Lagi pula resikonya sangat besar. Terlebih dengan usia kandunganmu. Jika wanita saja resikonya adalah enam puluh persen, hal itu bisa bertambah jika kau yang mengalaminya. Lagi pula aku masih belum meneliti bagaimana anatomi tubuhmu. Tidak mungkin aku mengelarkan janinmu begitu saja melalui anusmu. Serviks yang kau punya pasti berbeda dengan wanita."

"Aku tak peduli. Belah saja perutku seperti wanita – wanita melahirkan caesar itu. Mudah 'kan?"

"Naruto—

"Aku tak peduli! Keluarkan dia!"

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Aksi saling membentak dan saling membantah tersebut di akhiri setelah Tsunade menyuntikan obat penenang dengan kadar kecil—tak baik untuk orang hamil—kelengan Naruto. Setelahnya, saat Naruto telah mulai melembut, Tsunade menyarankan agar Naruto dibawa pulang demi menjaga kehamilannya tetap sehat. Dan Sasuke memilih apartemennya ketimbang milik sang pirang. Dan disanalah mereka.

Setelah menuntun Naruto yang tak bisa berontak selain karena pengaruh obat penenang juga karena tenaganya yang kalah besar dengan Sasuke, akhirnya Naruto mau tak mau mengikuti kemanapun langkah sang Uchiha menuntunnya.

"Duduklah. Istirahat jika kau bisa. Aku akan membuatkan sesuatu untuk bisa kau makan." Mendorong dengan pelan pundak Naruto hingga pemuda tersebut terduduk di sofa, Sasuke menghela nafas saat merasakan atmosfir di ruang tengah apartemennya tersebut.

"Sasuke." Panggil Naruto. Sasuke yang baru berjalan empat langkah menghentikan langkagnya dan menoleh kembali ke arah Naruto. "Kenapa~?" Ucap Naruto tanpa menoleh. "Kenapa kau berubah? Kenapa kau tak membunuhku saja? Bukankah dulu kau seorang bajingan? Membuat seseorang kembali mati sepertinya tak masalah bagimu."

"Hn." Sasuke membiarkan Naruto kembali mengeluarkan unek – unek pikirannya.

"Apa ini masih dalam tahap permainanmu? Jawablah." Naruto menaruh kepalanya dalam pangkuan tangan dimana kedua sikunya bertumpu pada kedua lututnya. "Aku lelah. Lelah dengan hidup yang kujalani. Aku benar – benar lelah. Apakah tiada henti penderitaan bagiku?"

Sasuke sadar. Saat ini Naruto tengah butuh dorongan moril. Butuh petuah – petuah dalam menjalani hidup penuh cobaan. Dan Sasuke bukan tipe orang seperti itu. Meski sadar penuh jika Naruto tengah berada dalam kondisi stress berat, ia tak mampu melakukan apa – apa. Karena ia tahu betul bahwa permasalah yang berputar dalam kehidupan si pirang bersumber dari dirinya. Dan hal tersebut tak lantas menjadikan Sasuke tau diri jika perkataannya tidaklah pantas untuk meringankan beban pikiran Naruto.

Mereka hanyalah dua insan di dunia yang amat besar. Tersesat dalam rangkaian perjalanan hidup yang tak pernah mereka bayangkan. Dua anak manusia yang masih terbilang kecil dari besarnya alam semesta. Dan mereka sadar mereka hanyalah anak – anak sedewasa apapun umur mereka sekarang. Mereka butuh sandaran orang tua.

"Istirahatlah."


.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

There is no end of my sadness?
I'm choking on that's words.
Naruto

I won't give up on you
These scars won't tear us apart
So don't give up on me
It's not too late for us
And I'll save you from yourself.
Sasuke

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.


"Kau sudah siap?" Tanya Sasuke setelah menungu selama setengah jam namun Naruto tak kunjung keluar dari kamar di ruang apartemennya.

Ia memang memilih tidur di sofa ruang tamu dan membiarkan Naruto menggunakan kamarnya. Sudah satu minggu Naruto tinggal di apartemennya. Setiap pagi ia selalu memasak 'kan sesuatu agar sang pirang makan dengan lebih baik demi menjaga kandungannya. Meski tak langsung memakannya, Sasuke cukup merasa puas mendapati piring kosong setiap kali mengambilnya sore hari dan mengantarkannya makanan yang lain. Naruto memang tak pernah keluar kamar, ia selalu mengurung diri dan membuang muka jika bertemu Sasuke. Dan Sasuke membiarkannya, selama Naruto tetap makan dan hidup sehat, ia tak mempermasalahkannya. Sasuke juga telah berpesan untuk menggunakan baju manapun yang si pirang inginkan dari lemari pakaiannya, dan menyarankan meletkan saja baju kotor di keranjang pakaian dekat pintu kamar mandi dalam.

Dan hari ini adalah jadwal mereka kembali bertemu dengan Tsunade. Dokter kandungan berusia lanjut tersebut menyatakan telah mendapat alasan atas kehamilan Naruto. Namun sejak menyampaikan pesannya untuk menemui Tsunade dari sejam yang lalu. Sasuke masih belum mendapati sang pirang keluar kamar.

Setelah mengetuk beberapa kali pintu kamar dimana Naruto berada, Sasuke memberanikan diri membuka knop pintu tersebut.

"Naruto. Kau sudah siap?" Ulang Sasuke saat tak mendapat jawaban Naruto dari pertanyaan sebelumnya.

Disana, ia mendapati Naruto berdiri di depan cermin dengan celana kain hitam panjang dan t–shirt putih. Sasuke dapat menangkat tatapan putus asa Naruto yang tengah memandang pantulan dirinya dicermin yang menempel pada almari baju milknya.

Berinisiatif bertindak lebih dulu, Sasuke memilih memungut sweater panjang yang ia letakan di kasur kala ia menyampaikan pesannya sejam lalu. "Kita sudah terlalu dekat dengan waktu yang Tsunade berikan, aku takut dia punya jadwal lain setelah bertemu kita." Ucap Sasuke sembari membuka helai sweater yang akan Naruto kenakan.

"Aku masih belum siap. Aku masih tak mengerti. Ini amat membingungkan bagiku. Aku coba mengingat pelajaran biologi yang aku terima sewaktu sekolah tingkat pertama. Entah aku yang terlalu bodoh, atau aku melewatkan pelajarnan biologi waktu itu. Tapi aku benar – benar tak ingat penjelasan bahwa pria bisa mengandung." Tak memperdulikan keberadaan Sasuke, Naruto mengeluarkan unek – uneknya. Mengabaikan aksinya yang enggan bertemu dengan Sasuke selama seminggu belakangan. Hal ini mungkin masih dikarenakan shock yang ia alami pasca mengetahui perihal kehamilannya. Ia bahkan melupakan semua emosi dan kemarahan yang ia punya, menjadikan kepribadiannya kembali berubah. Menjadi seorang pendiam.

"Kita akan segera mengetahuinya sebentar lagi. Aku janji akan ada di sampingmu." Setelahnya Sasuke membantu Naruto mengenakan sweater berwarna coklat tersebut.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

A/N: Disinilah fungsinya kenapa Ane kasih link. Biar jelas dan padat (?).

"Naruto memiliki kelainan genetik yang menyebabkan ia memiliki 47 kariotipe. Kariotipe adalah gambar yang "menggambarkan" kromosom suatu organisme yang merujuk lebih umum untuk komplemen kromosom. Pada umumunya manusia memiliki 46 kromosom yang terjalin pada 23 pasang. Hal yang dialami oleh Naruto seperti halnya sindrom Klinefelter yang gejalanya berkembang di genesis embrio. Sindrom Klinefelter adalah kelainan genetik pada laki-laki yang diakibatkan oleh kelebihan kromosom X. Laki-laki normal memiliki kromosom seks berupa XY, dan wanita normal memiliki kromosom seks XX. Namun penderita sindrom klinefelter umumnya memiliki kromosom seks XXY atau bahkan XXXY. Penderita sindrom klinefelter akan mengalami infertilitas, dan gangguan perkembangan ciri-ciri fisik yang diantaranya berupa ginekomastia yakni perbesaran kelenjar susu dan berefek pada perbesaran payudara," Tsunade memperlihatkan gambar perbedaan pengidap tubuh klinefelter dan tidak, "Kelebihan kromosom X pada laki-laki terjadi karena terjadinya nondisjungsi meiosis (meiotic nondisjunction), susunan kromosom seks terjadi selama gametogenesis (pembentukan gamet). Nondisjungsi meiosis adalah kegagalan sepasang kromosom seks untuk memisah (disjungsi) selama proses meiosis terjadi. Penambahan kromosom ekstra tampaknya terjadi secara kebetulan. Sindrom ini tidak diwariskan dari orang tua. Penambahan terjadi pada sperma, telur, atau setelah pembuahan. Yakni, hal tersebut terjadi saat perkembangan awal setelah pembuahan yang terjadi pada zigot."

"Kromosom tambahan, dapat ditemukan di semua sel tubuh, yang terdapati mengandung gen. Gen memberikan petunjuk khusus untuk karakteristik tubuh dan fungsi. Sebagai contoh, beberapa gen menentukan tinggi dan warna rambut. Gen lain mempengaruhi kemampuan bahasa dan fungsi reproduksi. Susunan kromosom Naruto bukanlah XXY melainkan (X)XY. Dari hasil pemeriksaan susunan kromosom dalam DNA Naruto, ia memanglah memiliki tiga kromosom. Saat ini dugaan paling kuat yang aku miliki hanyalah satu. Naruto ditakdirkan tidak lahir seorang diri, ada teman yang senantiasa menemaninya. Ia kembar." Tsunade menjeda penjelasan ketika mendapati seraut wajah Naruto yang membeku dan terlihat kaku.

Dilarang copy paste, sebagian atau bahkan keseluruhan dari fiksi ini.

"Sedikit menjelaskan terntang terjadinya kehamilan kembar, ada beberapa cara dalam penjelasannya. Kembar dizigotik—tidak identik—terjadi karena zigot – zigot yang terbentuk berasal dari sel telur yang berbeda. Terdapat lebih dari satu sel telur yang melekat pada dinding rahim yang terbuahi oleh sel – sel sperma pada saat yang bersamaan. Kembar non identik (fraternal twins), terjadi bila 2 atau 3 ovum diovulasikan sekaligus, misalnya karena kadar FSH dan LH yang tinggi. Masing-masing zigot tersebut akan berkembang menjadi individu yang berbeda. Individu ini memiliki latar belakang genetis yang berbeda karena berasal dari ovum dan sperma yang berlainan. Mereka dapat berjenis kelamin sama atau berbeda. Kembar dizigotik menanamkan diri secara terpisah dan mengembangkan membran yang independen satu sama lain. Kembar masing-masing memiliki plasenta sendiri, chorion sendiri dan rongga ketuban nya sendiri. Sementara kembar identik atau disebut juga kembar monozigotik berasal dari satu sel telur dan satu sel sperma yang mengalami pembuahan dan menjadi satu zigot. Dalam perkembangannya, zigot tersebut membelah menjadi embrio yang berbeda. Kedua embrio berkembang menjadi janin yang berbagi rahim yang sama. Tergantung dari tahapan pemisahan zigot, kembar identik dapat berbagi amnion yang sama (dikenal sebagai monoamniotik) atau berbeda amnion. Lebih jauh lagi, kembar identik bukan monoamniotik dapat berbagi plasenta yang sama (dikenal dengan monokorionik, monochorionic) atau tidak. Semua kembar monoamniotik pasti monokorionik. Berbagi amnion yang sama (atau amnion dan plasenta yang sama) dapat menyebabkan komplikasi dalam kehamilan. Contohnya, tali pusar dari kembar monoamniotik dapat terbelit sehingga mengurangi atau mengganggu penyaluran darah ke janin yang berkembang."

"Hal yang terjadi pada Naruto, asumsi paling kuat saat ini ialah, ia kembar identik yang berasal dari satu sel telur dan satu sel sperma. Namun saat pelepasan seks kromosom permbawaan oleh sperma dan bertemu dengan pelepasan seks kromosom oleh sel telur, pengkoneksian pertama kali antara susunan DNA sang ayah dengan susunan DNA sang ibu, terjadi kesamaan dan menjadi pasangan sex kromosom XXY. Pada tahap ini, seharusnya zigot tersebut seharusnya membelah diri menjadi dua bagian atau dua embrio. Dimana pada kembar identik namun beda kelamin ini—kembar pria dan wanita, kedua embrio tersebut masing – masing memiliki susunan DNA dengan kromosom seks yang sama. Yakni XXY. Namun proses selanjutnya, yang terjadi pada kasus kembar beda kelamin, ialah embrio pertama kehilangan salah satu kromosom X, dan embrio lain kehilangan kromosom Y."

"Perkembangannya pada saat dewasa inilah, pada awal diferensiasi seksual, testosteron memicu mengembangkan organ seksual eksternal laki-laki, yang terdiri dari penis, glans penis, preputium dan skrotum. Sementara itu kromosom ganda XX determinate mengembangkan organ seksual perempuan internal seperti saluran tuba, ovarium dan rahim, terhubung pada saluran kloaka. Naruto kurang memiliki fungus testis yang baik karena terdapati perkembangan ovarium disaat yang sama, tapi ia tetap memiliki vesikula seminalis, saluran ejakulasi dan kelenjar prostat. Gejala tersebut tak diketahui saat Naruto lahir, karena aaat lahir dia tampak layaknya bayi laki – laki pada umumnya. Yakni dengan testis tidak turun, tapi pontology nya (alat penentu jenis kelamin) jelas diidentifikasi melalui pemeriksaan medis."

"Kelainan yang dialami Naruto inilah yang menjadikannya dapat mengandung akibat dari keberadaan sel telur dan rahim pembawaan dari sel wanita pada kromosom X yang berlebih dalam susunan DNA Naruto. Pada kemungkinan tahap ini, ia mungkin mengalami gangguan perkembangan ciri-ciri fisik yang diantaranya berupa ginekomastia yakni perbesaran kelenjar susu dan berefek pada perbesaran payudara. Yang artinya ada kemungkinan Naruto dapat memberikan ASI miliknya kelak pada anak kalian secara langsung." Pada penjelasan ini, Sasuke nampak semakin bersemangat mendengar penjelasan dari Tsunade. Ia merasa memiliki harapan untuk masa depannya—mungkin.

"Kehamilan yang dialami Naruto diakibatkan terminal dari usus besar—yang disebut kloaka, tidak memisahkan kanal dan rektum, tetapi membentuk lubang kloaka, dan kanal kloaka bersatu di rektum, yang setelahnya akan terhubung pada rahim. Maka dapat disimpulkan, saat kalian bercinta, Sasuke mengalami ejakulasi di saluran kloka dan membuahi sel telur yang dimiliki Naruto."

"Bukankah manusia—primata—mengalami menstruasi jika dapat mengandung?" Sela Sasuke dengan sebuah pertanyaan.

"Nice question Uchiha. Pada dasarnya individu yang dapat hamil pastilah memiliki siklus pergantian kematangan sel telur. Jika pada manusia normal—wanita—mengalami siklus menstruasi dalam pergantian kematangan sel telurnya, pada kasus Naruto terjadi siklus esterus. Siklus ini sejatinya sama halnya dengan siklus mamalia—hewan, sementara siklus menstruasi adalah siklus milik primata—manusia, simpanse, monyet. Siklus estrus ditandai dengan adanya estrus—birahi. Pada saat Naruto mengalami birahi yang memuncak, sel wanita pada diri Naruto akan reseftif sebab di dalam ovarium sedang terjadi ovulasi–kematangan sel telur–dan uterusnya berada pamalda fase yang tepat untuk implantasi. Pada "perkawinan" kalian tersebut, sel telur dalam diri Naruto dilepaskan dan bertemu dengan sperma milik Sasuke. Masa kawin ini analog atau sama dengan masa subur pada wanita. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwasaanya Naruto memiliki masa kematangan sel telur dan dapat dibuahi oleh sel sperma saat ia melepaskan sel telurnya dalam masa perkawinan. Hal ini dikarenakan adanya birahi atau nafsu. Jadi dia dapat dibuahi jika Naruto berada pada saat memiliki birahi yang memuncak, karena pada saat itulah sel telurnya dalam keadaan yang baik untuk dibuahi. Hal inilah yang menjelaskan bahwa Naruto tidaklah mengalami siklus menstruasi seperti halnya wanita namun tetaplah dapat dibuahi dan mengalami kehamilan."

"Lalu bagaimana dengan proses persalinannya?"

"Aku masih belum bisa menjawab dengan pasti Uchiha. Karena aku masih belum memiliki anatomi yang sebenarnya dari keadaan Naruto. Kali ini aku benar – benar meminta padamu Naruto. Jaga kandunganmu. Bukan hanya karena janinmu, tapi juga demi dirimu. Belum tentu aku bisa menyelamatkanmu jika kau benar – benar mengalami keguguran. Anggaplah kau jadi penolong seseorang yang akan mengalami keadaan yang sama sepertimu diwaktu mendatang. Mengertilah." Ujar Tsunade dengan menatap pada mata Naruto. Sementara yang di tatap hanya membalas dengan mata menerawang. Diposisinya, Sasuke hanya dapat merangkul Naruto dengan tekanan beran lengan yang ia buat ringan.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Malam itu, ketika Sasuke selesai memarkirkan mobilnya, Sasuke segera menyambar bungkusan kotak berisi takoyaki dan mocha di bungkusan kotak yang lain. Berjalan dengan langkah berat, tipe – tipe seseorang terserang kelelahan. Memasuki pintu lift, Sasuke langsung menyandarkan punggungnya di pintu lift setelah menekan lantai kamarnya pada kotak tombol dimana terpampang merk Fuji Elevator.

Setelah denting khas lift terdengar, Sasuke memilih bergegas menuju kamar apartemennya. Namun sesuatu terasa janggal ketika ia mendapati pintu apartemennya telah terbuka dan tidak didapatinya Naruto di dalam kamar apartemennya.

Déjà vu. Ia merasa pernah berada di posisi dan keadaan yang sama.

Sasuke langsung bergegas keluar dari pintu apartemennya. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika ia terlambat sampai di tempat itu. Memilih tidak menggunakan lift karena masih dalam keadaan tunggu, Sasuke menggunakan tangga darurat dan menaiki dua – tiga anak tangga sekaligus. Tak memperdulikan nafasnya yang terengah, jantung Sasuke serasa terhenti mendapati pintu menuju atap apartemennya terbuka dengan lebar. Tanpa pikir panjang ia segera melesatkan kakinya memasuki—keluar—dari pintu tersebut.

"Naruto!"

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

Kala itu Sasuke sedang mencoba menenangkan diri dan berakhir di sebuah bar gay arahan temannya—Juugo—tak seberapa jauh dari apartemennya. Ia sudah menghabiskan nyaris satu botol wine sendirian semenjak ia sampai di tempat ini. Pasca meletakkan tubuh pingsan Sakura di ranjang apartemennya, ia langsung bergegas meninggalkan gadiswanitajamboree tersebut. Melepaskan emosinya dan melampiaskannya pada minuman keras.

Tepat jam sembilan malambelum begitu malam baginya, ia merasa sesuatu yang aneh. Mengganjal hingga ke hatinya. Menjadi gusar dan selalu merasa salah dengan tindakan apapun yang ia pikirkan. Merasa kesal tidak ada perubahan apapauntetap stress meski telah menegak alkoholakhirnya Sasuke memilih untuk pulang.

Disana. Didepan gedung apartemenya, ia mendapati banyak orang bergerumbul dengan objek yang tak terlihattertutupi oleh tubuh – tubuh yang mengelilingi. Ia yang berjalan sempoyongan dan menggunakan headset memilih mengabaikan gerombolan orang tersebut.

Menaiki lift setelah menekan tombol lantai kamarnya, Sasuke menyandarkan punggungnya di dinding lift. Setelah bunyi denting khas lift terdengar, Sasuke bergegaskeluar dan menuju kamarnya. Namun ia di buat heran ketika mendapati kamar apartemennya terbuka disertai tak mendapati sosok Sakura didalamnya.

Mencoba menganalisi dengan cepat apa yang sebenarnya terjadi. Sasuke langsung terpikir atap gedung apartemnnya, karena ia masih ingat benar bahwasaanya tidak ada yang menggunakan lift selain dirinya, diperkuat dengan tidak adanya lantai yang menunggu. Memilih berlari menggukan tangga darurat demi mencoba mencegah lebih efesien jika ada kemungkinan Sakura masih dalam perjalanan menuju atap.

Nihil.

Ia tak menemukan sosok Sakura di atap. Dan ia langsung mengakhiri dengan satu kesimpulan.

Orang – orang yang bergerumbul tadi… pasti…


.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.

To Be Continued

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.


Hai. Hai. Ane kembali dengan chapter baru. Maaf ya jika lama updatenya, padahal ide cerita udah mateng, tapi entah mengapa chapter ini terasa beraaat banget. Mungkin karena Ane harus menyelesaikan konflik beruntun yang Ane hadirkan di chap sebelumnya. Dan dari semua kekurangan Ane, Ane harap kalian semua terbayarkan dengan chapter yang masih penuh kekurangan ini.

Hasil rangkuman review.

Lemonnya hot (Malu yang di review kok aktifitas ranjangnya) buat lemon SasuNaru lagi: Gak janji, itu juga dibuat karena kebutuhan sesuatu yang Ane sebut celah biar lebih jelas.

Updatenya jangan lama – lama: Udah Ane usahain. Tapi kendala emang gak tau kapan datengnya, kali ini kendalanya karena kacamata Ane ilang #Poor.

Rencana berapa chapter: Mungkin selesai di ch 5 atau 6 atau 7. Tergantung kebutuhan.

Suka dengan karekter Naruto di HMGNB: Terimakasih, Ane emang usahain gak OOC. Tapi berhubung Ane bukan MK, Tetep aja ada kekurangan.

Typo (s) bertebaran: Itu kelemahan Ane. Entah bagaimana cara nguranginnya. Padahal udah diusahain baca ulang. Tapi dimana – mana enakan ngetik ertama ketimbang baca ulang. Suka skip skip.

Gak suka Mpreg: Maaf karena fic Mpreg Ane emang absurd. Tapi Ane gatel pengen nulis Mpreg.

Dan dari semua review. PM. Follow. Favorite. Ane ucapkan Banyuak Makuasih.

Sedikit curhat. Ane sekarang nambah job. Gak cumin Fujoshi tapi juga FagHag. Dan Ane lagi nguber – nguber kemesraan J_Law X Kirio (Sayang udah putus. Kapan – kapan penegn bikin fic mereka #Plak) Daaaaannn BothNewYear alias BNY. Sumpah! Couple yang satu ini exsis abis dan cuakep abis… Huwaaaa, Booooth. Ane iri dan pengen gantiin posisi NewYear #Ditabok NewYear

NB: Sebagai Fujoshi yang ingin mengumbar kemeriahan cinta SemeUke (?) Ane kasih film yang bikin Ane klepek – klepek;

Ini linknya :

(www.) (youtube.) (com/) (watch?v=dPft6MRHAoo)
(www.) (youtube.) (com/) (watch?v=_v85emHztRY)
cuman 300mban.

Ini sub indonya :
(subscene.) (com/) (subtitles/my-bromance-phi-chai/indonesian/953222)
(subscene.) (com/) (subtitles/loves-coming/indonesian/973259)
Kalo subnya kecepeten atur sendiri ya. Ada engsub langsungnya kok

Bonus. Film Yaoi Coming soon di Thailand.
(www.) (youtube.) (com/) (watch?v=L7r5FiY9Xcs)

Terakhir. Cium jauh dari Ane. Cup Cup Muah.

.

P—e—l—a—m—i—a—s—a—n_A—n—e

.