Disclamer: Kuroshitsuji belongs to Yana Toboso
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Tema Pilihan: Pedang, Kematian, Cincin, Kiss, Ruang Kelas
Surprise Theme: Hitam dan Perintah
The Lost Memory
"Aku ingin membicarakan hal yang serius denganmu." ujar Sebastian.
Mendengar ucapan Sebastian yang seperti itu mau tidak mau membuat Ciel penasaran juga. Ia langsung keluar dari rumahnya dan mendekati Sebastian. Rasa penasaran memenuhi benak Ciel. Mungkin Sebastian bisa memberinya info.
"Ada apa, Sebastian?" tanya Ciel.
"Kau juga menyadari tentang perubahan yang terjadi, kan?"
Ciel memperhatikan sekelilingnya, dia tahu maksudnya Sebastian. Langit tidaklah bewarna biru cerah, melainkan hitam. Salju yang turun tidaklah putih melainkan merah. Semuanya sangat bertolak belakang dengan keadaan alam.
"Iya..."
"Lalu menurutmu bagaimana?"
"Aku tidak tahu apa-apa. Percuma kau tanya aku juga."
"Apa kau pernah mendapat suatu petunjuk tentang hal ini?"
Ciel terdiam. Petunjuk? Mungkinkah ketika ia pingsan dan ia melihat sosok gadis berambut kelabu yang menangis dengan darah itu adalah petunjuk. Sebastian memperhatikan Ciel yang terlihat murung.
"Kalau kau memiliki petunjuk, tolong beritahu aku." ujar Sebastian.
"Memang apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ciel.
"Bagaimana aku menjelaskannya, ya?"
"Kau terlalu misterius, Sebastian. Kau tidak membiarkan orang lain mengenalmu. Aku sama sekali tidak memiliki petunjuk tentang dirimu."
"Kenapa jadi seperti..."
"Kau juga terlalu muncul tiba-tiba, gadis berambut kelabu itu juga, kejadian ini juga. Kenapa semuanya serba misterius?"
Tampaknya Ciel sama sekali tidak memiliki bayangan apa yang akan terjadi. Dia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Dia langsung saja berlari meninggalkan Sebastian.
'Bertengkar?' tanya Lucifer.
"Huh, itu karena dia tidak mengerti. Aku akan menjelaskan semuanya cepat atau lambat." jawab Sebastian santai.
'Sebaiknya cepat, kau tidak ingin waktu menunggumu sia-sia kan?'
"Iya..."
.
.
.
Sesampainya Ciel di sekolah, suasana terasa sepi. Ia langsung saja menuju kelasnya dan memperhatikan teman-temannya yang hanya terdiam melihat kondisi di luar. Ada juga yang seperti membaca doa-doa.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa salju seperti itu?" tanya beberapa teman sekelas Ciel.
"Salju bewarna merah. Kukira hanya mimpi."
"Mengerikan."
Itulah komentar dari beberapa teman sekelas. Ciel juga tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi. Seperti mimpi saja, ketika salju bewarna merah dan langit bewarna hitam. Tidak ada cahaya sama sekali.
Di dalam situasi seperti ini rasanya tidak ada harapan. Semuanya seperti di dunia sihir saja, ketika hal yang mustahil bisa saja terjadi. Apakah hal-hal seperti itu memang ada? Jika ada, mungkin ini perbuatan seseorang.
'Siapa yang melakukannya? Gadis itu?' batin Ciel.
Tiba-tiba saja jendela kelas Ciel pecah karena ada seseorang yang memecahkannya. Orang itu langsung masuk dengan cara yang tidak biasa. Membuat para murid kelas 2-1 sedikit ketakutan. Karena orang itu membawa death scythe dan penampilannya yang sedikit mencolok itu.
"Hehe... Baiklah, siapa diantara kalian yang bernama Ciel Phantomhive?" tanya pemuda berambut oranye campuran hitam itu.
"Siapa kau?" tanya Ciel langsung. "Aku, Ciel Phantomhive."
Pemuda itu hanya menyeringai, dia mendekati Ciel dan menarik kerah bajunya. Teman-teman yang lain ketakutan melihat pemuda itu. Ciel terkejut atas tindakan pemuda satu ini, siapa dia?
"Baiklah. Kau memiliki urusan denganku." pemuda itu menarik Ciel meninggalkan kelas dan membuat teman-teman lain kebingungan.
"Ciel diculik?" gumam mereka.
"Ciel..." ujar Elizabeth pelan.
Sementara Sebastian yang berusaha memperhatikan salju merah yang turun itu, dia menyentuh salju itu. Tidak ada yang berubah, salju merah itu tetaplah salju biasa. Hanya saja warnanya yang berubah atau mungkin bercampur dengan darah.
'Tidak mungkin jika bercampur dengan darah.' batin Sebastian.
Saat dia sedang memperhatikan salju itu, tiba-tiba saja ada seseorang yang menyerangnya. Mendapat serangan tiba-tiba itu, Sebastian langsung menghindarinya dan melihat siapa yang menyerangnya.
"Ah, kau menghindarinya? Tidak seru." ujar seorang pemuda berambut merah panjang dengan pakaian serba merah.
"Siapa kau? Shinigami?" tanya Sebastian waspada. Sebisa mungkin ia membaca mantra dan mengeluarkan pedang di samping celananya.
"Wah, kau tahu saja? Padahal aku belum memperkenalkan diri," ujar pemuda itu dengan nada centil. "Aku Grell Sutcliff, shinigami yang diperintahkan untuk menghabisimu."
"Menghabisi?"
"Ahaha... Sebastian Michaelis, kau ini pura-pura tidak tahu atau apa? Seperti yang Willi bilang padaku, kau pemuda yang mengikat kontrak dengan iblis. Jadi namamu tidak ada di death book. Dan kau ada hubungannya dengan Red Snow ini. Jadi bersiap-siaplah."
Grell kembali menyerang Sebastian dengan death scythe miliknya, Sebastian berusaha menghindarinya. Sebastian ingin menyerang Grell dengan pedang miliknya. Grell yang mengetahui hal itu malah tersenyum.
"Aih, dilihat dari dekat kau tampan juga ya? Ah~" gumam Grell sambil senyam-senyum.
Sebastian yang tadinya ingin menyerang Grell malah bingung melihat Grell seperti itu. Mungkin ia bisa memanfaatkan kesempatan itu. Dia menyerang Grell dengan mengayunkan pedang ke arah Grell, cukup untuk membuat shinigami itu mengalami goresan.
"Ah, Sebas-chan apa yang kau lakukan? Jahat~" keluh Grell.
Grell mendekati Sebastian untuk kembali menyerangnya, sedangkan Sebastian berusaha mempertahankan diri dengan pedangnya itu. Dia tidak boleh lengah, lawannya adalah shinigami meski berbeda dengan yang kemarin.
"Apakah karena namaku tidak ada di death book, maka kau mengincarku?" tanya Sebastian.
"Hmm... Aku hanya mengikuti perintah." jawab Grell langsung dan kembali menyerang Sebastian.
Sebastian berusaha menghindar. Salju yang turun tetap bewarna merah, begitu juga dengan langit yang hitam. Seolah-olah tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan yang berarti. Tapi, Sebastian memikirkan Ciel. Dia khawatir jika terjadi hal buruk.
Sebastian berusaha menghunuskan pedanya pada Grell, dan cukup membuat Grell terluka. Sebastian buru-buru meninggalkan Grell. Ia memiliki tujuan, melindungi Ciel. Ia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada Ciel.
.
.
.
Sedangkan pemuda berambut oranye dan hitam itu yang tadi menarik Ciel akhirnya menghentikan langkahnya ketika mereka berada di luar kelas. Sekarang mereka berada di taman belakang sekolah.
"Nah, sebaiknya aku menghabisimu secepatnya." ujar pemuda itu.
"Tunggu dulu. Siapa kau?" tanya Ciel.
"Ah iya, aku Ronald Knox seorang shinigami."
"Shinigami?"
"Iya. Dan sesuai perintah yang aku terima, aku harus menghabisimu."
Ronald menyerang Ciel dengan death scythe miliknya, Ciel berusaha menghindarinya. Ciel sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melawan Ronald, jelas dia akan kalah. Dia juga tidak bisa menghubungi Sebastian. Dia tidak memiliki harapan lagi.
'Apa yang harus aku lakukan?' batin Ciel.
"Mungkin kau harus mati di tanganku, Ciel Phantomhive." ujar Ronald.
"Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Kesalahan?" Ronald hanya tertawa pelan. Lalu dia menatap Ciel. "Tentu saja, kau yang membuat kejadian ini, Red Snow. Kaulah penyebabnya."
"Aku?"
"Lebih tepatnya, jiwa yang berada di dalam tubuhmu yaitu Ciella Phantomhive."
Ronald kembali menyerang Ciel, Ciel tidak tahu harus melakukan apa. Dia sama sekali tidak tahu cara bertarung. Dia berharap akan ada seseorang yang bisa menolongnya. Ketika Ronald akan menyerang Ciel, dia memejamkan mata. Mungkin lebih baik jika dia mati, tapi tidak terjadi apa-apa. Ciel membuka kelopak matanya dan terkejut melihat sosok Sebastian.
"Sebastian?" gumam Ciel.
"Tampaknya aku datang tepat waktu." ujar Sebastian.
"Kau telat, bodoh!"
"Maaf."
Ronald memperhatikan Sebastian, ia hanya tersenyum saja. Sesekali ia melirik ke arah mereka berdua dan mempersiapkan death scythe miliknya untuk menyerang mereka berdua. Sebastian berusaha menlindungi Ciel dan mengayunkan pedangnya ke arah Ronald.
"Whoops. Hampir saja." gumam Ronald.
"Bagus juga, kau bisa menghindar." ujar Sebastian.
"Ah, dimana Grell-senpai? Dia lawanmu, kan?"
"Sudah kuatasi."
Ronald sedikit terkejut, dia kembali menyerang Sebastian. Sebastian menyuruh Ciel mundur, Ciel memperhatikan pertarungan mereka berdua. Entah kenapa dia tidak suka melihatnya, ada sesuatu yang tidak ingin dia lihat. Dia tidak ingin melihat Sebastian terluka.
Memang Sebastian tidak terluka, tapi pasti lelah sekali bertarung tanpa istirahat. Ciel menggengam kalungnya dengan erat. Dia tidak tahan lagi melihat Sebastian yang bertarung seperti itu.
Tiba-tiba saja muncul cahaya biru dari kalung Ciel itu. Warna kalung itu menjadi sangat cantik. Sebastian dan Ronald melirik ke arah Ciel, mereka tidak tahu apa yang terjadi. Ciel menatap mereka berdua, dia mengarahkan tangannya ke arah Ronald dan keluar cahaya biru dari tangannya.
"Ah, kau bisa menggunakan sihir." ujar Ronald yang berusaha menghindari serangan Ciel.
"Sejak kapan?" gumam Sebastian.
Tapi Ciel tidak menjawab, ia terus menyerang Ronald. Ciel bertemu pandang dengan Sebastian, wajahnya terlihat sendu. Sebastian tahu ada yang salah dari Ciel, itu bukanlah Ciel melainkan Ciella. Apakah Ciella mengambil alih tubuh Ciel untuk melindungi diri?
"Ciella?" gumam Sebastian lagi.
"Ciella? Ciella Phantomhive?" tanya Ronald. "Akhirnya kau menunjukkan wujudmu."
"Aku tidak ingin mendengarnya."
Ciel kembali menembakkan sinar biru ke arah Ronald, Ronald berusaha menghindarinya. Sebastian menatap Ciel, disana bukanlah Ciel ataupun Ciella yang ia kenal. Ciella tidak mungkin melakukan kekerasan. Ia mendekati Ciel dan memeluknya.
"Hentikan, Ciella." ujar Sebastian.
Ciel terdiam, ia langsung menghentikan serangannya. Cahaya biru dari kalung Ciel juga menghilang dan Ciel langsung saja pingsan. Sebastian menangkap tubuh Ciel itu. Dia menatap tajam ke arah Ronald.
"Akan kubalas perbuatanmu!" seru Sebastian.
"Ah, tampaknya aku harus kabur dulu." Ronald langsung berlari dan dia ingin mencari Grell.
Sebastian memperhatikan Ciel yang tidak sadar. Dia tidak tahu kenapa Ciel bisa menggunakan sihir. Apakah kemampuan Ciella? Sebastian berusaha mengingat kemampuan Ciella.
"Ah, dia memang bisa sihir." gumam Sebastian.
Sebastian menggendong Ciel ala bride dan membawanya pulang ke rumah Ciel. Lebih baik ia beristirahat daripada ke sekolah. Lagipula Sebastian merasa bahwa para shinigami masih akan mengincar mereka.
"Ciella, apakah benar kau penyebab Red Snow ini?" ujar Sebastian pelan.
Ronald berusaha mencari Grell dan ia melihat Grell di dekat taman. Grell sedang duduk manis memperhatikan salju merah ini. Ronald berjalan mendekati Grell dan menayapanya.
"Ah, Grell-senpai, kau ternyata bermalas-malasan." ujar Ronald jujur.
"Enak saja. Aku sudah melawan Sebas-chan, tapi dia lari," ujar Grell. "Lagipula biarkan pertunjukkan berjalan dengan semestinya."
"Apa itu karena kau ceroboh, Grell Sutcliff?" tanya William yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua.
"William?" seru mereka berdua hampir bersamaan.
"Kita diperintahkan untuk mengatasi Red Snow ini, jangan main-main."
"Baik..."
Sebastian segera membawa Ciel pulang ke rumahnya. Untungnya Ciel selalu membawa kunci pribadi dan tidak ada Madam Red. Bagaimana caranya Sebastian menjelaskan ketika Madam melihat Ciel pingsan seperti itu. Sekarang Sebastian berusaha mencari kamar Ciel, dan ia langsung menemukannya.
Sebastian langsung membaringkan Ciel di ranjang dan menatap wajah Ciel yang tertidur itu. Sangat manis. Sebastian mengelus lembut rambut Ciel perlahan. Tentu dia masih ingat kejadian tadi. Dia juga tidak mengerti kenapa Ciel memiliki kemampuan seperti itu.
'Darimana dia memiliki kemampuan seperti tadi?' batin Sebastian.
Sebastian tahu Ciel adalah Ciella juga. Mereka sama. Tapi, dia tidak menyangka Ciel juga memiliki kemampuan seperti Ciella. Apakah hanya kebetulan saja? Atau ada alasan lain? Sebastian memperhatikan kalung Ciel yang masih mengeluarkan cahaya biru.
'Apakah karena kalung ini?' batin Sebastian.
Sebastian berusaha mengingat hal yang sangat penting. Kalau tidak salah Ciella sama sekali tidak bisa menggunakan sihir apapun. Tidak mungkin Ciel langsung bisa menguasai hal seperti itu tanpa belajar.
'Ah, aku ingat.' batin Sebastian lagi.
Flashback On, Sebastian's POV
Aku sedang melangkahkan kakiku menuju taman bunga milik kami, aku dan kekasihku. Disana Ciella pasti sedang menungguku. Aku tersenyum jika melihat wajah cantiknya yang tersenyum ke arahku atau sedang memandang langit yang biru. Ciella memang gadis yang manis.
Tapi, hari ini berbeda. Aku tidak melihatnya sedang duduk santai menikmati pemandangan atau mela,mbaik ke arahku. Dia sedang berlatih, wajahnya terlihat sangat serius. Aku berusaha mendekatinya dan menyapa kekasihku ini.
"Kau sedang apa?" tanyaku.
"Ah, Sebastian," gumam Ciella. "Aku sedang berlatih."
"Untuk apa?" tanyaku.
"Kau kan tahu, aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir," jawab Ciella polos. "Aku ingin belajar menggunakannya. Masa Putri kerajaan Sebia tidak bisa menggunakan sihir?"
"Sihir penyembuh sekalipun?"
"Sama sekali tidak."
Aku tertawa kecil mendengarnya. Aku tidak tahu kalau Ciella sama sekali tidak bisa menggunakan sihir. Karena setahuku, para gadis di tiap kerajaan diajarkan ilmu sihir. Apalagi sihir penyembuh, itu adalah sihir yang paling gampang. Karena itu, aku hanya bisa menggunakan sihir penyembuh. Sisanya kupercayakan kemampuan pedangku. Karena aku prajurit, bisa menggunakan sihir bukanlah hal penting.
"Jangan tertawa!" keluh Ciella sambil cemberut. "Akan aku perlihatkan padamu, bahwa aku bisa menggunakan sihir ini."
"Kau belajar sihir apa?" tanyaku.
"Kata Angel, ahli sihir di kerajaanku. Dia bilang aku bisa menggunakan sihir penggabung."
"Sihir apa itu?"
"Menggabungkan kondisi alam dengan kondisi tubuh. Jadi ketika aku merasa tersakiti atau aku ingin melawan musuh, aku tidak perlu senjata. Cukup melakukan sihir dengan ilmu ini. Nanti kau akan tahu."
Aku hanya memperhatikan Ciella yang serius berlatih. Dia tetap manis. Tapi, menurutku tanpa ilmu sihir sekalipun dia adalah gadis yang sempurbna. Mungkin dia ingin bisa ikut dalam pertarungan.
Setiap hari aku menemaninya berlatih. Entah sudah berapa lama dia berlatih terus. Tapi, aku yakin dia pasti bisa menggunakan sihir penggabungnya itu. Dia gadis yang cepat mempelajari hal baru. Aku terus memperhatikan dirinya yang serius berlatih.
"Aku bisa!" seru Ciella.
"Benarkah?" tanyaku.
"Iya. Kau mau lihat?"
"Tentu."
"Baiklah. Tampar aku yang kencang."
"Eh?"
"Sudah lakukan saja."
Aku tidak mengerti kenapa Ciella memintaku menamparnya. Tentu saja aku tidak tega menampar kekasihku sendiri. Tapi, karena sorot matanya serius aku berusaha menamparnya sekencang mungkin. Wajahnya langsung memerah, dan dia juga memintaku menamparnya untuk kedua kalinya. Aku tidak mengerti.
Tiba-tiba saja kulihat air mata mengalir dari wajah Ciella. Pasti sakit sekali rasanya. Aku menyesal menuruti permintaan anehnya itu. Aku menggengam kedua tangannya dan memeluknya.
"Maaf ya?" ujarku.
Tapi Ciella tidak bicara sepatah kata pun. Dia hanya terdiam saja. Tiba-tiba saja kulihat langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung dan hujan pun turun. Hujan yang turun tidak terlalu deras. Aku melirik ke arah Ciella, air mata yang mengalir dari kelopak matanya juga tidak terlalu banyak.
"Inilah hasilnya, Sebastian." ujarnya.
"Hasil apa?" tanyaku.
"Aku berhasil menggunakan sihir penggabungan itu. Ketika aku menangis, hujan akan turun."
"Eh?"
Aku terkejut mendengarnya, jadi ini maksudnya kenapa Ciella memintaku menampar dirinya. Untuk mencoba kekuatan barunya itu. Jadi ini sihir penggabungan itu, ya? Sihir yang aneh tapi nyata. Sihir yang mampu menyakiti diri sendiri menurutku.
Flashback Off
"Aku ingat sekarang." ujar Sebastian.
Jadi kejadian yang dimaksud itu, Red Snow ini memang ulah Ciella. Mungkin karena sihir penggabungan itu. Tapi, Sebastian tidak mengerti. Seharusnya jika Ciella menangis akan turun hujan. Tapi kenapa yang turun adalah salju bewarna merah. Apakah Ciella benar-benar menangis.
"Karena-mu semuanya seperti ini," gumam Sebastian sambil mengelus rambut Ciel. "Ciella, benarkah ini ulahmu? Ciel juga terkena imbasnya."
Sebastian memperhatikan Ciel yang tak kunjung sadar. Ia mengecup kening Ciel dan berjalan meninggalkannya. Mungkin lebih baik Ciel beristirahat dan dia mencari tahu lagi penyebab Red Snow ini. Tapi dia sudah mengetahui satu kunci, bahwa benar perkataan para shinigami itu. Ciella, kekasihnya adalah penyebab Red Snow ini.
.
.
.
Di cermin kamar Ciel terlihat sosok gadis berambut kelabu panjang. Wajahnya terlihat sangat sedih, air mata kembali mengalir dari wajahnya. Bukan air mata biasa, melainkan darah.
"Sebastian, kau tidak tahu betapa lelahnya aku menunggumu." gumam Ciella dengan tangisannya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Ciel bangun dari tidurnya. Ia melihat sekelilingnya. Seingatnya ia tadi sedang bertarung dengan seseorang dan ia mengeluarkan cahaya biru dari tangannya. Ada Sebasian juga disana, tapi sekarang tidak ada. Hanya ada dirinya sendiri saja di kamarnya itu.
"Apa yang terjadi?" gumam Ciel.
Dia langsung saja bangun dari ranjanganya dan menuju cerminnya. Lagi-lagi sosok Ciella muncul, membuat Ciel sedikitterkejut. Tapi, Ciel berusaha tenang ketika Ciella muncul. Ia tahu bahwa dia dan gadis itu adalah sama. Mereka memiliki satu ikatan, meski Ciel sendiri kurang paham.
'Ciel.' panggil Ciella.
"Ah..." gumam Ciel heran.
'Kau benar-benar keterlaluan!'
"Eh?"
'Karena kau, Sebastian terlalu memperhatikan dirimu!'
"Jangan salahkan aku. Dia-"
Tiba-tiba saja sosok Ciella perlahan keluar dari cermin. Ini terjadi karena tanpa sengaja Ciel menyentuh cermin miliknya. Ciel kaget melihat sosok Ciella yang perlahan keluar dari cermin itu. Dia menatap tajam ke arah Ciel dan hampir saja mencekiknya.
"Mungkin jika Sebastian yang emmerintahkankau untuk pergi. Kau akan pergi!" seru Ciella.
"Tu...Tunggu, kau..." gumam Ciel sesak.
Ciella langsung masuk ke dalam tubuh Ciel, menyebabkan Ciel masuk ke dunia cermin karena mereka saling bertukar. Sekarang Ciella yang berada di dalam tubuh Ciel memandang puas ke arah cermin itu. Ciella kembali menangis dengan darahnya dan kembali menyebabkan Red Snow itu.
Ciel yang masih bisa melihat kamarnya dari balik cermin terkejut. Dia melihat salju menjadi merah dan langit yang hitam. Tubuhnya pun diambil oleh jiwa Ciella. Dia tidak mengerti kenapa hal seperti ini bisa terjadi.
'Keluarkan aku!' seru Ciel.
"Sayangnya tidak bisa," gumam Ciella. "Kau tidak berhak mendekati Sebastian. Hanya aku kekasihnya. Kau tidak boleh mendekatinya!"
Seiring dengan teriakan Ciella itu, kondisi di luar semakin memburuk. Ciel tidak mengerti. Apakah dirinya yang terkurung di dunia cermin ini karena ulah Ciella? Kemanakah sosok Ciella yang dudlu itu? Sudah berubah-kah dia?
"Aku akan memiliki tubuhmu dan aku akan menjadi kekasihnya lagi!" seru Ciella.
'Jangan!'
Ciella tidak peduli. Dia langsung saja meninggalkan Ciel yang sudah terkurung itu. Dia merasa untuk apa memperdulikan orang yang sudah mencuri kekasihnya itu. Penantian panjangnya selama 100 tahun bukanlah waktu yang singkat, waktu yang sangat lama. Ia ingin bisa menyentuh Sebastian langsung.
"Aku akan menemuimu, Sebastian." gumam Ciella.
TBC
A/N: Akhirnya kelar. Ditunggu reviewnya...
