Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

*Not own anything of Naruto.

*This story is originally made by me.

Future Depends On You

Written by Shady (DeShadyLady)

Chapter 4: Friendship (Persahabatan)


POV: Sakura

"Teme, siapa dia?" tanya pasien itu.

"Sakura Haruno, mahasiswi kedokteran yang sedang magang." jawab Sasuke.

"Wah, cantik juga yaaaa"

"Jangan berani kau menyentuhnya atau kau akan berhadapan denganku."

"Heeeeee? Tumben, temeee! Biasanya kau tidak peduli dengan orang lain?"

"Diam kau, baka dobe. Dia tanggung jawabku selama dia magang disini. Dan aku peduli dengan semua pasienku, kecuali kau. Baring sana, mau kuperiksa atau tidak?"

"Haaa, iya iya, aku sudah mencret 3 kali pagi ini, teme." jawab pasien itu sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Pantas bau." balas Sasuke dengan tatapan datar.

"Teganya kau kepada pasien, teme. Apalagi aku sahabatmu."

"Sudah diam, dobe. Kau mau sembuh atau aku perparah sakitmu?"

"Iya, iya, aku diam." balas pasien itu dan kemudian dia berbaring di tempat tidur yang disediakan untuk pasien.

Sasuke memasang stetoskopnya dan berjalan menuju arah Naruto.

Shannaro, Ia terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Rasanya aku mulai menyukai pria ini, terlebih lagi ia sangat baik padaku entah apa alasannya melalukan seluruh kebaikan itu. Aku hanya dapat berharap ia tulus melakukannya. Terkadang aku bermimpi suatu hari ada seorang pria yang akan mencintaiku dengan sepenuh hati dan memintaku untuk menikah dengannya. Ah, jangan terlalu berharap Sakura. Mantan pacarmu yang brengsek saja masih selalu mengganggumu. Dan lagi, pria mana yang akan menyukai gadis penyendiri sepertiku? Pria akan lebih menyukai gadis-gadis periang, seksi, dan pandai menggoda.

Tersadar dari lamunanku, aku tidak dapat menahan tawa kecil melihat kedua pria itu saling beradu mulut. Pasien ini mengatakan bahwa ia adalah sahabat Sasuke. Benarkah? Orang sedingin Sasuke punya sahabat juga ya? Oh ini sangat lucu, sungguh suatu hal diluar dugaan yang pantas ditertawakan.

"Hihihi." suaraku tertawa kecil.

"Teme, pacarmu tertawa tuh, hahaha. Wah, tambah cantik kalau tertawa ya." ucap pasien itu menggoda Sasuke dan sekaligus menggodaku lagi.

"Diam kau, dobe. Atau aku beri kau obat agar kau diare lebih parah dari ini." balas Sasuke sambil menekan perut pasien itu dengan keras.

"Aduh! Sakit, teme! Kau mau membunuhku? Jangan begitu, teme. Hargailah sahabatmu ini. Aku menemuimu karena percaya dengan kemampuanmu sebagai dokter." ucap pasien itu sambil memegang perutnya.

Sasuke tidak menjawabnya, dia sedang serius memeriksa tubuh pasien itu dengan stetoskop yang ia kenakan sekarang.

"Maaf Uzumaki-san, aku bukan pacar dokter Uchiha. Dan ini juga hari pertamaku magang disini." balasku dengan cepat menanggapi situasi.

"Teme, pacarmu menyebut dia bukan pacarmu, bagaimana ini? Hahaha. Apa ada penjelasan untukku?" teriak pasien itu pada Sasuke.

"Oh ya, panggil saja aku Naruto, Sakura." lanjut pasien itu.

Sasuke tidak dapat menyembunyikan muka kesalnya. Muka kesalnya itu bercampur dengan sedikit rona kemerahan pada pipi yang berusaha disembunyikannya.

"Aku tidak pernah menyebutnya pacarku, baka dobe! Jika kau tidak diam juga, aku benar-benar serius dengan ucapanku yang tadi." balas Sasuke sambil sedikit berteriak.

Melihat ekspresi Sasuke, lagi-lagi aku tidak dapat menyembunyikan tawaku.

"Hahaha, hahah, hahaha…" aku tertawa terbahak-bahak.

"Sakura." ucap Sasuke berpaling padaku dan menatapku datar.

"Ah.. ma.. maaf, Sasuke-kun." aku terdiam dan memasang wajah serius.

"Hah? Apa? Sa.. Sasuke-kun? -kun? kun?" tanya pasien itu dengan wajah terkejut.

"Naruto, diam." ucap Sasuke menatap pasien itu dengan wajah datar khasnya. Tapi kali ini dengan ekspresi datar yang sedikit berbeda, aku dapat merasakan aura ingin membunuhnya itu. Seperti saat ia berbicara dengan Karin. Entah mengapa aku dapat dengan mudah mengerti perasaan Sasuke. Jelas ia sedang marah saat ini, hanya saja ia tidak menunjukkannya di wajahnya.

"Ya, ya, baiklah, aku diam. Aku akan bertanya lagi nanti. Aduh, perutku sakit lagi." balas pasien itu sambil menekan perutnya sendiri.

Sasuke selesai memeriksa Naruto, ia berjalan kembali menuju kursinya.

"Sudah selesai, turun dari sana." ucap Sasuke.

"Ya, Pak dokter. Aku sudah sangat menderita, tolong buatkan resep yang ampuh ya." jawab Naruto sambil berjalan ke kursi pasien yang berada tepat di depan meja dokter.

Aku yang duduk tepat di belakang Sasuke dapat melihatnya mengambil kertas dan sedang menulis resep beberapa obat untuk Naruto. Tulisannya masih dapat dibaca, tidak seperti dokter pada umumnya. Bisa dibilang tulisannya cukup bagus untuk seorang dokter.

"Nah, ini resepmu. Ada 3 macam obat, yang satu untuk menghentikan diaremu, makan jika kau sudah mencret lebih dari 3 kali sehari. Berhenti konsumsi jika sudah tidak mencret lagi. Dan satunya lagi, vitamin untuk percernaanmu. Aku juga menambahkan antibiotik untukmu. Cara meminumnya dapat kau tanya saat mengambil obat nanti. Aku lebih berharap kau menjaga apa yang kau makan dan jangan makan 5 mangkuk ramen sekaligus, apalagi ramen pedas. Kau dapat membunuh dirimu sendiri secara perlahan jika terus melakukan itu. Minum air putih yang banyak, tubuhmu akan kekurangan cairan karena mencret, tapi ingat jangan sampai kembung. Hindari makanan keras untuk 2-3 hari ini atau sampai diaremu itu sembuh." ucap Sasuke panjang lebar sambil memberikan selembar kertas ke Naruto.

"Iya, iya. Akan kuingat nasehatmu dokter." ucap Naruto pasrah sambil menerima kertas itu.

"Sakura bukan pacarku. Aku hanya bertanggung jawab atasnya. Dan aku memang peduli padanya, lain kali jangan mengangguku saat aku sedang bekerja."

"Ah akhirnya kau mengaku, teme. Aku ikut senang, hehehe."

"Sudah pulang sana, tidak ada urusan lagi 'kan?"

"Iya dokter tampan, aku pulang ya, teme. Jangan merindukanku ya, telepon saja aku jika kau membutuhkanku. Hahaha."

"Tch, menjijikan. Pulang kau, dobe!" teriak Sasuke.

"Hahaha, daaahhh~!" ucap Naruto sambil berjalan melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan ini.

POV: Sasuke

Naruto pengacau. Kenapa harus dia yang menjadi pasien pertama saat hari pertama Sakura magang disini? Sungguh memalukan. Wajahku bahkan memerah saat Naruto menyebutnya pacarku. Pacar.. apakah.. mungkin? Seketika pikiranku melayang membayangkan masa-masa indah yang dapat kulewati jika Sakura benar-benar pacarku. Namun aku sadar, semua itu tidak mungkin. Yang benar saja, aku seorang dokter yang merangkap sebagai pembunuh bayaran. Aku juga harus mematuhi peraturan di organisasi, tidak boleh menikah. Aku tidak dapat menikahi perempuan mana pun.

"Hah, maaf Sakura. Dia sahabatku dari kecil, orangnya memang menyebalkan seperti itu. Tadi itu jangan dicontoh ya, karena dia sahabatku aku tidak formal dengannya." jelasku kepada Sakura yang duduk di belakangku.

Lagi-lagi aku minta maaf padanya untuk hal sepele. Aku tidak tahu bagaimana kata maaf keluar dari mulutku, yang ku tahu aku salah jika tidak meminta maaf padanya. Padahal aku sangat sulit dan hampir tidak pernah mengucapkan maaf kepada orang lain.

"Iya, Sasuke-kun. Aku mengerti. Tapi sepertinya dia orang baik, hehe. Kalian bahkan sangat akrab ya, hehe." balas Sakura, dia tersenyum.

"Hn, begitulah. Dia terlalu bodoh, dia sering makan ramen kesukaannya bermangkuk-mangkuk tanpa mempedulikan kesehatannya."

"Hahaha, punya sahabat sepertinya lucu juga. Aku bahkan tidak punya sahabat."

"Hn, benarkah?"

"Ya, aku tidak punya sahabat. Semua hanya teman biasa. Yang hanya berbicara jika ada keperluan saja."

"Aku akan menjadi sahabatmu, jika kau mau. Kau dapat bercerita segala hal kepadaku."

"Eh… Eh?"

"Kalau tidak mau, juga tidak apa-apa."

"Ti.. tidak. Aku.. Aku mau. Arigatou, Sasuke-kun." ucap Sakura sambil menundukkan kepalanya. Aku dapat melihat pipinya yang dipenuhi rona kemerahan.

"Tidak perlu terima kasih. Aneh sekali dirimu Sakura, haha." Balasku sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepala.

"Aku.. aneh ya?" ucap Sakura sambil menundukkan kepalanya dan wajahnya terlihat sedih.

"Heh, tidak. Maksudku, buat apa berterima kasih. Aku yang ingin menjadi sahabatmu, bukan kamu yang meminta kan?"

"Ya, tapi aku berterima kasih karena sudah ada yang ingin menjadi sahabatku meski aku tidak meminta."

"Hn, baiklah, sama-sama." jawabku mengalah.

'Tok tok' suara ketukan pintu kembali terdengar.

"Pasien nomor 2, silahkan masuk." ucap Karin.

Aku melanjutkan pratekku. Kali ini, aku membiarkan Sakura membantu. Aku menyuruhnya mengambil beberapa alat selain stetoskop yang aku gunakan saat memeriksa pasien. Ia dengan senang hati menuruti seluruh perintahku, bahkan ia membawakanku minum. Ia juga mengingatkanku untuk duduk sambil memeriksa pasien agar aku tidak kecapaian. Aku sedikit canggung pada awalnya, namun aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Rasanya seperti mempunyai seorang istri yang memperhatikanku. Jangan gila Sasuke, ingat kau seorang pembunuh. Bagaimana mungkin gadis suci sepertinya bersedia bersama seorang pembunuh sepertimu?

Akhirnya, seluruh pasien sudah kuperiksa. Jadwal praktekku hari ini selesai.

"Sakura, kamu ingin makan apa?" tanyaku padanya.

"Apa saja asal bisa dimakan, Sasuke-kun."

"Benarkah? Baiklah kalau begitu."

Aku memutuskan menelepon restoran jepang paling terkenal di Konoha.

"Halo, aku ingin memesan dua set unagi bento, dilengkapi tamago dan tambahkan irisan sebiji tomat pada satunya. Diantar ke Konohagakure General Hospital, atas nama Uchiha Sasuke." ucapku saat menelepon, aku menutup telepon setelah pesananku dikonfirmasi.

"Sa.. Sasuke-kun, kamu serius memesan unagi?" tanya Sakura dengan raut wajah terkejut.

"Hn? Memangnya kenapa? Tadi kamu bilang makan apa saja." aku berbalik bertanya padanya.

"Ta.. tapi itu 'kan tidak murah, Sasuke-kun."

"Ah, soal itu tidak perlu khawatir. Aku hidup sendirian, semua lebih dari cukup."

"Benarkah? Maaf merepotkanmu kalau begitu."

"Tidak. Kamu tidak merepotkan. Jika bisa aku ingin menyuruh pihak rumah sakit menggantikan Karin denganmu. Tapi kamu lebih cocok jadi dokter sungguhan."

"A,, Apa? Menggantikan Karin?"

"Ya. Aku muak melihat sikapnya. Sudah jelas aku tidak suka dengan keberadaaannya, tapi dia selalu memaksa."

"Oh, begitu. Tapi, aku masih mahasiswa. Apakah boleh aku bekerja di rumah sakit sebesar ini?"

"Aku sempat membeli 10% saham dari rumah sakit ini, jadi bisa dikatakan bahwa rumah sakit ini juga milikku. Aku hanya perlu mengajukan dan itu jika kau bersedia, Sakura."

"Baiklah, aku pertimbangkan terlebih dulu ya, Sasuke-kun. Karena setelah magang ini aku masih harus menyelesaikan tugas akhir dari perkuliahan."

"Hn, tidak masalah."

'Tok tok'ada yang mengetuk pintu.

"Dokter Uchiha, saya mengantarkan makanan."

Aku segera berjalan menuju pintu, membayar makanannya dan mengambilnya.

"Makanlah, Sakura." Ucapku sambil memberikan kantung plastik berisi bento yang baru saja kuterima kepada Sakura.

"Ya, kita makan bersama." jawab Sakura sambil tersenyum kemudian menerima bento dariku.

Kami makan dalam diam. Aku sesekali mencuri pandang pada Sakura yang lahap memakan bentonya dan mengunyah perlahan saat ia makan unagi, sepertinya ia jarang makan makanan mahal atau makanan enak seperti ini. Mungkin aku harus lebih sering mentraktirnya, mengingat aku memiliki pekerjaan ganda yang berarti memiliki penghasilan ganda. Aku senang dengan kehadiran Sakura, ia membuatku merasa lebih 'hidup'.

"Sasuke-kun," Sakura memanggilku.

"Hn? Ada apa?" jawabku.

"Kurasa.. Aku mau menjadi sekretarismu."

Aku menghentikan makanku sejenak dan terdiam. Ya ampun, aku senang bukan main. Itu artinya aku akan melihat Sakura setiap hari. Aku amat sangat senang mendengar pernyataan ini. Jangan sampai kesenanganmu membuat ekspresi lucu Sasuke, pasang muka datarmu.

"Hm, baiklah. Aku akan mengaturnya besok."

"Tapi, bagaimana dengan Karin?"

"Dia akan akan menjadi sekretaris dokter yang baru mulai praktek disini. Tenang saja, ia tidak akan kehilangan pekerjaan."

"Baguslah." jawab Sakura.

"Terima kasih, Sasuke. Ini sangat enak dan mengenyangkan." sambung Sakura menutup bentonya sambil tersenyum.

"Hm, sama-sama. Jika kamu suka, aku bisa memesannya setiap hari."

"Tidak, tidak, tidak boleh."

"Kenapa?" tanyaku polos.

"Karena ini makanan mahal, Sasuke. Aku tidak ingin membebanimu. Aku bisa memasak."

"Baiklah, apapun yang kamu masak, bawakan bagianku."

"Baik. Aku senang membalas jasamu mengajariku magang dengan masakanku."

"Terserah mau dianggap apa. Yang jelas bawakan aku makanan, itu saja."

Aku kembali melahap bentoku. Setelah selesai makan, kami membersihkan ruangan bersama-sama. Menyapu dan mengepel. Kemudian mengangkat beberapa kotak kardus yang berisi beberapa peralatan baru untuk ruangan praktekku ini.

"Sakura, biar aku saja." ucapku.

"Tidak, aku akan membantu." balas Sakura.

"Kamu perempuan, Sakura. Tidak perlu mengerjakan pekerjaan laki-laki."

"Sasuke-kun, maaf mengatakan ini. Tapi, kau terlalu sombong untuk laki-laki berlengan satu. Jangan sok kuat, Sasuke-kun."

"Aku tidak begitu, Sakura. Aku memang bisa mengangkat semua ini sendirian."

"Tidak, aku sudah bilang tidak ya tidak. Aku akan membantu. Ayo, angkat ini bersama."

"Haaah, terserah. Dasar keras kepala."

"Dasar sok kuat."

"Lho, aku memang kuat. Semua tubuhku normal, kecuali lenganku hanya satu. Aku berkata sejujurnya."

"Aku tidak percaya, buktikan padaku."

"Jangan menantangku, Sakura. Atau kau akan menyesal."

"Aku tidak akan menyesal, Sasuke-kun."

"Hati-hati dengan perkataanmu, Sakura. Diamlah atau aku buat kau mendesah sepanjang malam." ucapku kesal dan sembarangan. Aku tidak tahu apa yang melintas dipikiranku hingga aku berbicara seperti ini, tapi aku berharap ucapanku bisa mendiamkannya. Enak saja aku dibilang lemah secara tidak langsung. Aku tidak bisa terima pernyataan itu.

"A-apa maksudmu?" tanya Sakura, kini ada rona merah pada wajahnya mungkin ia menyadari apa yang sedang aku pikirkan.

"Sudah, diamlah. Cepatlah kesini, kalau benar-benar mau membantuku mengangkat ini." ucapku mengalah padanya dan membiarkannya membantuku.

Sakura berjalan menuju arahku dengan diam. Setelah perdebatan itu, kami tidak mengatakan satu kata pun. Hari sudah sore. Aku merasa terlepas dari beban, mengingat aku tidak harus pergi ke tempat kerja yang satunya lagi. Aku dapat beristirahat sepenuhnya di tempat tinggalku. Atau bahkan.. mengajak Sakura untuk berkunjung ke tempat tinggalku. Hm, tidak ada salahnya 'kan? Toh, kami sudah lumayan akrab dan aku bahkan menawarkan diriku untuk menjadi sahabatnya. Tentu saja aku tidak bermaksud untuk kurang ajar pada Sakura dengan perkataaan tadi, aku hanya bercanda untuk mendiamkannya. Dan lagi, saat ini aku benar-benar ingin ia berkunjung ke tempat tinggalku. Baiklah, aku akan memberanikan diriku.

"Sakura, apa-ka-mu-da-cara-ma-m-ini?" tanyaku dengan cepat memecah memecah keheningan. Aku berharap Sakura mendengar agar aku tidak harus mengulang. Oh, ini pertama kalinya aku mengajak seseorang untuk berkunjung ke rumahku.

"Hah? Apa yang kamu katakan Sasuke-kun?" Sakura balik bertanya.

Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya, aku diam sejenak.

"Hm, apakah kamu ada acara lain malam ini? Maukah.. maukah berkunjung ke tempat tinggalku?" tanyaku lagi dengan jelas sekarang.

"Ehh? Tempat tinggal? Maksudmu rumah?" mata Sakura membulat mendengar ajakanku.

"Iya. aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Kita bisa mengobrol lebih lama. Dan, aku sekarang sahabatmu 'kan? Aku juga tinggal sendiri, jadi kamu tidak perlu khawatir."

"Ah, hm.. boleh juga. Tapi aku butuh mandi."

"Ya sudah, mandi saja di rumahku. Aku akan mengantarmu ke rumahmu dulu untuk mengambil baju."

"Ta-tapi, apakah boleh?"

"Ternyata kamu bodoh juga ya, Sakura. Aku yang menawarkan, tentu saja boleh."

"Bukan begitu, aku hanya merasa tidak sopan."

"Tidak usah merasa seperti itu, anggap saja rumah sendiri. Aku ini sahabatmu 'kan?" ucapku sambil tersenyum tipis padanya.

"Ah, i-iya." Sakura menjawabku sambil menundukkan kepala. Lagi-lagi pipinya merona.

Mengapa wajahnya selalu memerah seperti itu? Apakah ia begitu pemalu? Jangan lupa diri Sasuke, kau sendiri jauh lebih pemalu dari gadis di depanmu. Untung saja kau masih berani buka mulut untuk mengajaknya berkunjung ke tempat tinggalmu. Aku merasa lega sekaligus senang. Aku berhasil membuat Sakura mengiyakan ajakanku.

"Semua sudah beres." ucap Sakura sambil menepuk pelan kedua tangannya.

"Iya, ayo pulang." ajakku.

"Ha'i, Sasuke-kun." jawab Sakura mengangguk dan tersenyum padaku.

Entah mengapa melihat senyumnya membuatku ingat akan mendiang ibuku. Begitu lembut dan teduh. Ah, aku merindukanmu, ibu. Malaikat yang melahirkanku, yang sejak kecelakaan itu sudah benar-benar menjadi malaikat diatas sana. Lihat anakmu ini, ibu. Anakmu ini benar-benar hilang. Kesepian. Sendirian. Apa mungkin ibu yang mengirim Sakura agar aku tidak kesepian? Kalau itu memang benar, terima kasih. Ah mungkin aku juga harus berterima kasih pada Kami-sama, masih membiarkanku hidup hingga saat ini meski aku banyak membunuh orang tanpa belas kasih.

Kami berjalan keluar dari ruanganku. Aku tidak lupa mengunci pintu. Entah mengapa kami tidak melihat Karin di tempatnya, baguslah. Kami melanjutkan langkah bersama menuju mobilku.

"Sasuke-kun, ke rumahku dulu 'kan?"

"Hn."

Tidak ada pembicaraan apa-apa diantara kami sampai kami tiba di rumah Sakura.

"Mau masuk, Sasuke-kun?" tanya Sakura.

"Boleh." jawabku dengan cepat.

Aku mengikutinya dan berjalan masuk ke dalam rumah minimalis berlantai satu itu. Ruang tamu rumah itu rapi dan bersih, pasti Sakura rajin membersihkan rumah. Aku dapat langsung melihat isi rumah ini, benar-benar minimalis seperti apartemen. Rumah ini hanya ada 2 kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Sakura berjalan masuk ke dalam dan memasuki salah satu kamar. Aku yakin itu kamarnya. Aku mengikutinya dengan perlahan. Aku melihatnya memasukkan baju dan celana, dan sekarang ia sedang memilih pakaian dalam. Aku sedikit malu melihat barang-barang tersebut karena tidak biasa. Aku memberanikan diri untuk berjalan masuk ke dalam kamar Sakura.

"Sakura, apa sudah selesai?" tanyaku.

"Ah, Sasuke-kun! Kamu mengagetkanku!" teriak Sakura.

"Maaf, Sakura. Aku tidak bermaksud." ucapku. Lagi-lagi kata maaf keluar dari mulutku dengan mudah.

"Bagaimana bisa kamu berjalan tanpa suara seperti itu? Lantai kayu dirumahku ini sudah tua, pasti akan mengeluarkan suara jika diinjak."

"Tidak, ada suara tadi. Mungkin kamu tidak mendengarnya." jawabku mengelak. Tidak mungkin aku memberitahu Sakura mengenai keahlianku menyusup ke rumah orang.

Tanpa disadari, Sakura berbicara denganku sambil memegang bra yang akan dibawanya. Mata Sakura masih tertuju pada wajahku dan menatapku heran. Mungkin ia penasaran mengapa tidak mendengar suara lantai kayunya yang ia tanyakan tadi.

"Sakura, simpan barang itu." ucapku sambil memalingkan wajah.

"Eh? Ma-maaf, Sasuke-kun. Aku tidak bermaksud." Sakura menyimpan bra itu kedalam tas secepat mungkin.

"Cepatlah, hari sudah mulai sore."

"Aku akan mengambil sedikit persediaan makanan untuk dimasak. Kamu tidak keberatan aku menggunakan dapurmu 'kan?"

"Ya, silahkan."

"Arigatou, Sasuke-kun."

"Hn."

Aku memutuskan untuk duduk dan menunggunya di ruang tamu. Aku memutar kepalaku. Tidak ada foto sama sekali. Hanya ada sebuah lukisan pemandangan dan vas bunga diatas meja. Televisinya juga kecil. Namun rumah ini benar-benar bersih dan tertata. Aku nyaman berada di tempat sebersih ini. Jauh berbeda dengan tempat tinggalku.

Setelah selesai, Sakura segera menuju ruang tamu dan menemuiku.

"Ayo, Sasuke-kun."ucap Sakura mengajakku.

"Apa yang kamu bawa? Sebanyak itu?" ucapku kaget melihat dua kantung plastik besar yang dibawa Sakura.

"Sudah diam saja, aku ingin membuat sesuatu yang enak malam ini. Dan aku berpikir jika laki-laki sibuk sepertimu pasti tidak pernah ke pasar atau supermarket untuk membeli bahan makanan, makanya aku membawa lebih untuk disimpan di rumahmu."

"Tidak perlu repot begitu, Sakura."

"Tidak, ini tidak merepotkanku, aku malah senang."

"Terserah, lakukan apa saja asal kamu senang."

Sakura terdiam mendengar kalimat terakhir dariku.

"Hm? Kenapa diam? Ayo cepat, hari sudah sore. Apa kau berniat menginap dirumahku?" tanyaku sedikit menggodanya.

"Ah, iya. Jangan mimpi, aku tidak akan menginap di rumahmu. Aku tidak ingin dikatakan sebagai wanita jalang penggoda dokter."

"Hn."

Kami berjalan keluar dari rumah Sakura, ia mengunci pintu dan aku menghidupkan mobilku. Aku membantunya memasukkan seluruh barang-barang. Setelah selesai, aku tancap gas menuju rumahku.

"Sasuke-kun, pelan-pelan. Kemarin kamu caramu mengendarai mobil tidak seperti ini." ucap Sakura sambil memegang pengangan pada pintu mobil. Ia sedikit terkejut dengan caraku mengendarai mobil ini.

"Itu karena jarak rumahmu dan rumah sakit itu dekat, Sakura. Restoran Italia itu juga tidak jauh dari rumah sakit. Kamu pikir untuk apa aku membeli mobil sport, Sakura? Mana mungkin aku pelan dengan mobil seperti ini."

"Kalau begitu, ganti mobilmu! Kau membahayakan nyawamu, bahkan nyawaku sekarang!"teriak Sakura dengan ekspresi khawatir.

Aku terdiam sejenak. Mungkin ada benarnya ucapan Sakura, aku tidak ingin kehilangan orang yang berada di dekatku lagi. Aku sudah muak dengan rasa sakit dan kehilangan itu, sudah cukup. Aku tidak ingin menambahnya dengan kehilangan Sakura. Tidak, tidak, hal itu tidak boleh dan tidak akan terjadi.

"Hm, baiklah." ucapku dengan tegas.

"Apa?"

"Baiklah, aku akan mengganti mobilku. Temani aku ke showroom mobil besok. Aku akan mengambil cuti. Dan jika aku cuti, kamu juga tidak perlu datang ke rumah sakit untuk magang."

"Eh? Tidak perlu secepat itu 'kan? Maaf Sasuke-kun, aku hanya bercanda. Jangan seserius itu menanggapi perkataanku."

"Tenang, aku tidak akan bangkrut hanya karena ganti mobil dalam waktu singkat. Lagipula harga jual mobil ini tinggi."

"Tidak, jangan dijual."

"Ha? Kamu menyuruhku jangan menjualnya? Tapi katamu mobil ini membahayakan nyawamu?"

"Ya, sudah dibeli mahal-mahal, kenapa harus dijual? Aku juga tidak ingin menahan kesukaanmu Sasuke-kun. Tentu saja kamu membeli mobil ini karena suka dengannya, bukan? Hanya saja, jangan menggunakannya sering-sering dengan kecepatan seperti ini. Aku.. aku hanya.. aku hanya khawatir denganmu." ucap Sakura, pipinya memerah lagi. Oh, pemalu sekali perempuan ini.

Namun, mendengar pernyataannya, aku sendiri juga malu. Aku memalingkan wajahku darinya agar ekspresiku tidak terlihat. Ternyata Sakura perhatian denganku. Aku senang ada yang peduli denganku.

"Ya, kamu benar. Ya sudah, pokoknya temani saja aku ke showroom." balasku dengan cepat.

"Tapi.. uang untuk membeli mobil baru itu.. akan lebih baik untuk keperluan lainnya, bukankah begitu?"

"Tenang, Sakura. Aku bahkan bisa membeli mobil untukmu sekaligus jika kamu mau."

"Eh? Tidak, tidak. Beli saja untuk dirimu sendiri."

"Diamlah kalau begitu."

"I-Iya."

Tidak terasa berapa lama aku menyetir, tempat tinggalku sudah di depan mata.

"Sudah sampai."

"Wah, ini.. ini rumahmu Sasuke-kun?" tanya Sakura tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Sebuah rumah besar dengan 3 tingkatan. Dari luar, rumah ini sangat besar dan luas dengan dilindungi dengan pagar yang besar. Namun catnya sudah mulai pudar dan ada beberapa yang terkelupas.

"Ya. Ada masalah?"

"Tidak, tidak. Wah, megah sekali ya, aku belum pernah berkunjung ke rumah semegah ini." ucap Sakura yang daritadi mengagumi rumah Uchiha itu dengan mulut yang menganga.

"Tutup mulutmu, Sakura."

"Hup, eh maaf, hehehe. Aku hanya sangat kagum."

Aku mengambil remot dalam mobilku dan menekannya, pagar rumahku terbuka otomatis. Aku mengendarai mobilku masuk ke dalam perkarangan rumah.

"Wah, pagarnya otomatis yah," Sakura tidak hent-hentinya mengagumi rumahku.

"Ayo masuk." ajakku.

"Baiklah."

Aku mengambil seluruh barang yang dibawa Sakura dengan satu lenganku dari bagasi mobil.

"Aku bantu, Sasuke-kun." ucap Sakura memanjangkan lengannya.

"Sudah kukatakan tadi, Sakura. Aku cukup kuat, ini tidak seberapa, jangan menantangku lagi." balas Sasuke.

"Hah, terserahmu sajalah. Dokter sok kuat." ucap Sakura malas.

Aku tidak membalasnya, aku sedang tidak ingin berdebat dengan gadis keras kepala ini.

POV: Normal

Sasuke meletakkan jarinya pada finger scanner yang terletak pada gagang pintu depan rumahnya. Alat tersebut bersinar hijau terang dan berkedip-kedip. Mata Sakura tidak berkedip menatap alat itu.

Sasuke meletakkan barang-barang bawaannya ke lantai, lalu ia menempatkan ibu jarinya pada alat itu.

'Tit' bunyi alat itu menganalisa sidik jari, warna alat tersebut berubah menjadi kuning. 'Tring' seketika alat itu berubah menjadi berwarna hijau terang. 'Clek' pintu pun terbuka. Sasuke mengangkat jarinya dan mengambil kembali barang bawaan tadi dari lantai.

Melihat seluruh proses tersebut, mulut Sakura kembali terbuka dan kali ini matanya tidak berhenti berkedip.

"Kamu kenapa, Sakura?" tanya Sasuke sambil menyerngitkan dahinya.

"Eh, tidak. Tidak apa-apa. Wah, keren sekali. Canggih sekali rumahmu Sasuke-kun, seperti di film-film saja." balas Sakura.

"Kamu yang ketinggalan zaman, Sakura."

"Tidak, aku tahu ada alat seperti ini. Hanya saja mengikuti zaman itu butuh dana 'kan?"

Sasuke terdiam mendengar ucapan Sakura. Hal itu ada benarnya juga. Bisa dilihat, Sakura bukan orang berada, atau bukan anak dari orang berada seperti dirinya.

Kami berjalan masuk ke dalam tempat tinggalku bersama-sama. Sakura berjalan di depanku.

"Wah, keren sekali rumahmu, Sasuke-kun." ucap Sakura dengan wajah berbinar-binar.

Sasuke hanya diam dan menggelengkan kepalanya.

"Uhuk uhuk. Kenapa banyak sekali debu disini?" ucap Sakura yang batuk karena terhirup debu yang tebal. Seketika Sakura merasa sesak. Sangat banyak debu di rumah ini.

"Maaf, aku tidak ada waktu membersihkan rumah." balas Sasuke sambil meletakkan barang-barang tadi di salah satu tempat yang bersih.

"Heh? Begitukah dokter? Kamu seorang dokter yang sangat tidak memperhatikan kesehatan."

"Aku sibuk, Sakura."

"Kenapa tidak menyewa pembantu?"

"Aku tidak suka orang asing masuk rumahku."

"Baiklah, kalau begitu…"

"Kalau begitu, apa?"

"Aku akan membersihkan rumahmu, itu pekerjaanku sebagai asistenmu juga 'kan? Hehehe."

"Apa? Kamu asisten dokter, Sakura, bukan asisten rumah tangga."

"Aku tidak tahan melihat debu setebal ini yang berterbangan di mana-mana, Sasuke-kun. Aku heran kamu bisa tahan dengan keadaan seperti ini. Lihat foto-foto itu dan beberapa pajangan mahal, debu yang sangat tebal membuat kemewahan mereka sirna, Sasuke-kun. Bahkan sudah tidak tampak jelas lagi siapa yang difoto, aku hanya dapat menerka bahwa itu mungkin foto keluarga." ucap Sakura panjang lebar menjelasankan ketidaksukaannya pada tempat kotor seperti ini.

"Hm, ya sudah, asal kamu senang saja. Terima kasih sudah ada niat membersihkan rumah ini. Aku akan membantumu juga." balas Sasuke mengalah padanya.

"Kamu berkata Naruto bodoh tidak memperhatikan kesehatannya, kurasa kamu lebih bodoh, dokter Uchiha." gumam Sakura berbicara pada diri sendiri.

"Apa? Apa katamu?" sayup-sayup Sasuke mendengar gumaman Sakura, ia tidak terima dikatakan lebih bodoh dari si Naruto.

"Ehehe, tidak ada. Baiklah, kita bersihkan bersama sekarang juga." balas Sakura tidak ingin memperpanjang masalah.

"Apa? Sekarang? Kamu mau membunuhku Sakura? Aku baru saja pulang dari tempat kerja."

"Tak ku sangka, ternyata dokter ini seorang pengeluh juga ya."

"Tidak, enak saja. Ya sudah, kita bersihkan sekarang juga."

"Hahaha, santai Sasuke-kun. Aku hanya akan menyapu dan mengepel."

"Apa? HANYA? Rumah sebesar ini?"

"Baiklah, bagaimana jika aku membersihkan kamarmu dulu? Kemudian baru ruang tamu dan dapur serta kamar mandi. Untuk bagian lainnya, bagaimana jika menyewa pembantu? Aku akan mengawasi mereka. Dan mereka juga tidak akan tinggal disini, mereka pulang setelah pekerjaan mereka selesai."

"Ya ya baiklah. Atur saja. Carikan pembantu seperti itu dan awasi pekerjaan mereka. Jangan lupa bilang padaku berapa biaya sewa pembantu itu."

"Siap, dokter. Ayo kita bersihkan kamarmu dulu."

"Haaah, iya sekretaris pemaksa."

"Demi kesehatanmu, dokter pengeluh. Akan sangat lucu jika seorang dokter sakit karena rumahnya kotor."

"Aku sudah terbiasa. Sekarang kita akan membersihkannya, aku sempat berpikir aku akan sakit jika rumahku terlalu bersih. Jadi, jika aku sakit, maka kamu yang harus merawatku sampai sembuh, Sakura." ucap Sasuke dengan nada kesal.

"Baik, tidak masalah. Aku hanya berharap tidak salah memberimu obat, hahaha." balas Sakura sambil tertawa.

Oh betapa indahnya situasi saat ini, Sasuke merasa mereka seperti sepasang suami istri yang sedang bekerja sama membersihkan rumah mereka. Ia menyembunyikan senyuman bahagia itu dalam hatinya. Sedangkan Sakura, ia senang ada seorang pria yang sangat baik padanya. Dan ia akan melakukan hal yang baik juga padanya, untuk membalas kebaikannya.

Mereka pun bekerjasama mengangkat sapu dan pel lengkap dengan ember berisi air.

"Dimana kamarmu, Sasuke-kun?" tanya Sakura.

"Atas, lantai 3." jawab Sasuke.

"Apa? Kau tinggal sendirian dan tidur di lantai 3?"

"Kenapa? Aku bukan pengecut yang takut terhadap hantu atau pencuri."

"Hanya aneh saja. Kenapa harus jauh-jauh ke lantai 3 hanya untuk tidur?"

"Karena semua kamar berada di lantai 3, bodoh. Sudahlah, ayo cepat ke atas."

Sakura tidak menjawab Sasuke. Namun, ia yang sedang memegang sapu dan pengki berjalan mengikuti Sasuke yang sedang mengangkat pel yang ada dalam ember berisi air dengan satu lengannya. Mereka berjalan sampai menuju ke lantai 3.

"Disini. Ini kamarku." Sasuke membuka pintu kamarnya dan membiarkan Sakura masuk terlebih dulu.

"Ternyata kamu hanya membersihkan kamarmu, dokter. Hanya sedikit debu disini. Hm, kamarmu besar juga." ucap Sakura sambil memutar kepalanya melihat keadaan.

"Aku hanya menyapu sih. Itu juga sebulan sekali." ucap Sasuke dengan jujur sambil menatap Sakura. Ia memang sangat sibuk, Sakura belum tahu bahwa Sasuke biasanya masih punya pekerjaan pada malam hari. Karena diberi libur oleh kaptennya, ia dapat bersama Sakura selama seminggu ke depan.

"Astaga, Sasuke-kun. Kau jorok sekali. Lihat, bingkai foto ini sampai berdebu begini." ucap Sakura.

Sakura mengambil salah satu bingkai foto di meja kerja dalam kamar Sasuke dan meniupnya. Karena debu itu belum menghilang, Sakura menggunakan jarinya untuk menghilangkan debu tersebut.

Dalam foto itu, tampak dua laki-laki. Laki-laki satunya yang tampak seperti seperti remaja, ia sedang menggendong laki-laki yang lebih kecil darinya. Keduanya tersenyum bahagia. Wajah keduanya juga sangat mirip.

"Eh? Orang ini?" tanya Sakura, ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Rasa terkejut bercampur rasa takut, tapi ada juga rasa bahagia di dalam hatinya. Benar-benar perasaan yang campur aduk.

Hatinya terus bertanya-tanya.. Benarkah orang itu? Orang.. yang itu? Orang yang dulu itu?

"Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke sedikit khawatir melihat ekspresi Sakura yang tidak karuan itu.

"Aku.. orang ini.. sangat berarti untukku."


*unagi = belut Jepang, harganya mahal. Di restoran jepang yang ada di Indonesia, seporsi tanpa nasi kira-kira 80.000 hingga 100.000.

*tamago = telur gulung khas Jepang.


Terima kasih untuk semua yang sudah baca dan review, terima kasih juga untuk para silent reader, hehe.

Aku sangat menghargainya.

Konfirmasi untuk lengannya Sasuke, lengannya hanya sebelah saat ini. Kecelakaan itu bukan kecelakaan yang menyebabkan lengannya hilang. Masih ada lagi kecelakaan lain yang ia alami selain kecelakaan itu, makanya saat itu ia bersyukur fisiknya masih lengkap.

Akan ada ceritanya kok tentang lengan Sasuke dan siapa kaptennya itu di chapter selanjut-lanjutnya hehehe.

Stay tuned yaa~

Terima kasih sudah mengikuti fanfic ini yang masih jauh dari sempurna.

Sincerely,

Shady.