-CHAPTER 3-

"Halo, Hinata. Kau dimana sekarang?" tanya seorang gadis tinggi semampai kepada lawan bicaranya. Gadis itu sedang berjalan santai di trotoar sambil menelepon seseorang. Dengan mengenakan coat bermotif army serta boots coklat setinggi lutut, gadis itu berhasil tampil trendy namun tidak mencolok. Rambut pinknya sedikit terlihat dibalik tudung pada coat yang dikenakannya. Tak ketinggalan kacamata hitam keluaran Gucci terbaru bertengger manis di pangkal hidungnya.

"Halo, Sakura. Aku di studio sekarang. Kau sudah sampai di New York?" jawab lawan bicaranya di telepon.

"Iya, aku sampai tadi pagi. Boleh aku mampir, Hinata?"

"Tentu saja boleh. Aku tunggu, ya."

"Oke, see you!" sahut gadis itu riang. Ia kemudian mengakhiri sambungan teleponnya dan memasukkan ponsel pintar tersebut ke dalam sakunya.

Setelah sekian lama berjalan di tengah pusat kota New York, Sakura bersyukur orang-orang disekitarnya tak menyadari kehadirannya. Identitasnya sebagai seorang superstar membuatnya harus pandai menyamar disaat-saat tertentu, seperti saat ini. Ia sedikit mempercepat langkahnya saat beberapa orang mulai memandang curiga kepadanya. Bukan Sakura sombong atau tidak mau melayani ajakan foto dan berinteraksi dengan para penggemarnya. Namun saat ini ia ingin cepat-cepat menuju ke tempat Hinata sahabatnya berada. Ia sudah tidak sabar ingin menemui sahabatnya yang selama enam bulan terakhir ini tidak bisa ia temui karena harus menjalani tour dunianya yang padat.

Hembusan angin musim dingin yang menusuk tulang membuat Sakura semakin mempercepat langkah kakinya. Dengan terburu-buru ia segera memasuki gedung studio musik milik sahabatnya tersebut.

"Uh, aku benci musim dingin." Sakura menggigil kedinginan. Setelah menyapa resepsionis studio musik tersebut, Sakura segera menuju ke ruangan tempat Hinata berada.

"Aku tahu kau pasti disini, Hinata." sapa Sakura saat memasuki salah satu ruangan yang berada di lantai dua gedung itu. Di dalam ruangan tersebut sudah ada Hinata dan Kelly yang sedang duduk berbincang di sebuah sofa.

"Ah, Sakura. Akhirnya kau kembali." Hinata beranjak dari sofa dan segera memeluk Sakura erat. "Aku kesepian, tahu!" lanjut Hinata setelah mengakhiri pelukannya dengan Sakura.

"Aku rindu sekali padamu, Hinata." kata Sakura sambil memeluk Hinata sekali lagi. "Hai, Kelly. Kau tampak sehat dan awet muda." lanjutnya yang kini berganti memeluk Kelly.

"Aku memang masih muda, Sakura. Bagaimana tour-mu?" sahut Kelly sembari membalas pelukan dari Sakura.

"Sangat menyenangkan! Apalagi saat di Asia, makanannya enak-enak. Oh ya, saat aku di Jepang yang menjadi opening untuk konserku itu grup idol adikmu loh, Hinata." Sakura menceritakan perjalanannya dengan semangat.

"Oh iya, Hanabi cerita padaku saat ditelepon. Dia sangat senang bisa menjadi guest star di konsermu."

"Dia gadis yang manis. Oh ya, saat malam tahun baru nanti apa kalian ada kegiatan? tanya Sakura.

"Malam tahun baru? Hm, sepertinya aku ada jadwal talkshow dan pemotretan kan, Kelly?" tanya Hinata kepada sang manajer.

"Iya, Hinata ada beberapa pekerjaan tapi hanya sampai sore. Ada apa, Sakura?" tanya Kelly.

"Baguslah! Aku ingin membuat perayaan tahun baru sederhana di rumahku. Dan kalian wajib datang, ya!" jawab Sakura semangat.

"Ah sayang sekali Sakura, sepertinya aku tidak bisa datang. Aku ada kencan dengan seseorang saat malam tahun baru nanti, hehe." ucap Kelly malu-malu.

"Uh, aku iri padamu Kelly. Kalau kau bisa datang kan, Hinata? Ayolah temani aku, kau tega membiarkan sahabatmu ini merayakan tahun baru sendirian?" rayu Sakura dengan nada memelas.

"Iya Sakura, aku akan datang. Lagipula aku juga tidak ada kegiatan saat malam tahun baru." jawab Hinata.

"Asyik! Kau memang sahabatku yang paling pengertian, Hinata. Aku juga sudah mengajak Pamela, dia akan datang bersama kekasih barunya."sahut Sakura antusias.

"Aku juga boleh mengajak seseorang?"

"Tentu saja boleh. Kau mau mengajak siapa, Hinata?"

"Um, temanku. Iya, aku akan menajak temanku." jawab Hinata.

"Teman atau kekasih baru, hm?" goda Sakura.

"Aku tidak mungkin selingkuh, Sakura sayang."

"Haha, maaf aku bercanda. Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan Naruto? Masih sering bertemu, kan?" tanya Sakura.

Hinata tidak menjawab, ia hanya tersenyum miris. Ia tidak tahu harus bicara apa. Jika Hinata bilang kepada Sakura bahwa hubungannya dengan Naruto baik baik saja, pasti sahabatnya itu langsung tahu jika ia sedang berbohong.

"Ada apa, Hinata?" tanya Sakura khawatir saat menyadari perubahan wajah Hinata yang menjadi sendu. Namun Hinata tetap diam, mata cerahnya kini mulai berkaca-kaca.

"Ah, kurasa aku harus pergi masih ada pekerjaan. Sakura, tolong kau temani Hinata, ya." pamit Kelly. Kelly sebenarnya sudah lama menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan hubungan Hinata dan kekasihnya. Biasanya Hinata selalu terbuka dengannya mengenai apapun, termasuk tentang hubungannya dengan Naruto. Namun entah kenapa kali ini Hinata memilih bungkam dan seolah-olah semuanya baik-baik saja. Kelly berpikir mungkin Hinata akan lebih terbuka dengan Sakura. Maka dari itu, ia meninggalkan mereka berdua dan berharap Hinata bisa meluapkan semua masalahnya dengan Sakura.

"Bagaimana kalau kita pesan kopi? Kau mau frappuccino? Sebentar ya aku-" baru saja Sakura ingin memesankan kopi namun tangan Hinata menahannya. Tiba-tiba Hinata memeluk Sakura dan kemudian mulai terisak.

~~o~~

Malam hari di tanggal 31 Desember merupakan malam yang istimewa bagi semua orang di seluruh dunia. Malam yang begitu istimewa karena malam tersebut merupakan detik-detik terakhir untuk menikmati tahun yang akan segera berganti menjadi tahun yang baru. Berpesta kembang api merupakan agenda wajib yang selalu ada pada malam pergantian tahun itu. Perayaan yang telah ada sejak abad ke 15 ini selalu rutin dilakukan di seluruh belahan dunia, termasuk di kota New York. Di malam pergantian tahun ini orang-orang di New York berkumpul di Times Square untuk merayakan detik-detik pergantian tahun yang ditandai dengan penurunan bola raksasa dari atas gedung One Times Square.

Perayaan pergantian tahun baru di kediaman Sakura tak kalah meriah. Sakura menghias rumahnya dengan dekorasi khas tahun baru di berbagai sudut rumahnya. Halaman belakang rumahnya yang luas pun tak luput dari hiasan-hiasan cantik, karena rencananya disinilah Sakura dan teman-temannya akan merayakan tahun baru bersama. Berbagai makanan seperti kue-kue, camilan, dan daging untuk pesta barbeque pun telah siap.

Waktu menunjukkan pukul 21.35, tetapi Hinata belum juga sampai di rumah Sakura. Hanya sahabat Sakura yang bernama Pamela dan kekasihnya yang baru datang.

"Hinata lama sekali. Aku telepon tidak diangkat, apa dia tidak jadi datang ya, Pam?" tanya Sakura kepada sahabatnya, Pamela.

"Mungkin dia terjebak macet. Malam tahun baru seperti ini banyak jalan yang ditutup, kan? jawab Pamela.

"Benar juga, harusnya tadi sore aku jemput dia."

'ting tong!'

"Ah, sepertinya itu Hinata. Sebentar aku akan membukakan pintu." ucap Sakura semangat.

~o~

"Hinata apa kau yakin?" tanya seorang lelaki yang datang bersama Hinata dengan ragu. "Kalau dia mengusirku bagaimana?"

"Tenang saja, Sasuke. Kalau dia mengusirmu aku akan pulang bersamamu." jawab Hinata mantap.

Saat ini Hinata sedang berada di depan rumah Sakura. Seperti rencananya, ia akan datang dengan seseorang. Tidak hanya seorang sebenarnya, tapi beberapa orang. Hinata memutuskan untuk mengajak Sasuke, Itachi, dan Gaara untuk merayakan tahun baru bersama di rumah Sakura, dan kebetulan mereka memang tidak ada acara di malam itu. Hinata susah payah meyakinkan Sasuke untuk mau datang ke rumah Sakura. Beberapa kali Sasuke menolak untuk datang karena alasan gengsi. Namun dengan segala bujuk rayu dan bantuan dari Itachi dan Gaara, akhirnya Sasuke mau datang ke rumah Sakura. Hinata sudah berjanji kan akan meruntuhkan tembok gengsi antara Sasuke dan Sakura?

'ting tong!'

Hinata kemudian segera memencet bel rumah Sakura. "Jangan coba kabur, Sasuke." ancam Hinata sambil terus mengawasi Sasuke yang ada di belakangnya.

"Tenang saja Hinata, Sasuke terus kupegangi kok." sahut Itachi.

"Lepaskan tanganmu, sialan! Aku tidak akan kabur." omel Sasuke pada Itachi.

"Ck, jangan bersik!" protes Gaara yang melirik tajam kearah Sasuke dan Itachi.

Tak berapa lama kemudian terdengar suara kunci terbuka. Sasuke menahan napasnya. Entah kenapa ia begitu gugup sampai sulit bernapas.

'cklek!' pintu rumah itu terbuka, menampilkan Sakura yang tengah tersenyum lebar menyambut kedatangan Hinata.

"Hinata kau lama seka...li." senyum Sakura perlahan surut melihat Hinata yang tidak datang sendiri. Sakura memang sudah tahu jika Hinata akan datang bersama seseorang ke rumahnya, tetapi ia tidak pernah membayangkan bahwa yang datang adalah Sasuke, mantan kekasihnya.

"Halo, Sakura. Maaf aku sedikit terlambat." sapa Hinata kemudian. Sakura tak menyahut. Ia masih blank melihat orang-orang di depannya.

"Ehem, begini Sakura. Para lelaki ini tidak punya tujuan yang jelas di malam tahun baru yang indah ini. Kasihan sekali, bukan? Jadi aku mengajak mereka ke rumahmu. Boleh, kan?" Hinata mencoba menjelaskan dengan hati-hati.

"Ah, iya boleh. Silahkan masuk." sedetik kemudian Sakura tersadar dari kebingungannya. Ia kemudian mempersilahkan para tamunya untuk masuk.

"Hai apa kabar, Sakura? Sudah lama ya kita tidak bertemu. Iya kan, Sasuke?" ucap Itachi sambil menyenggol Sasuke dengan sikutnya.

"I-iya sudah lama. Apa kabar, Sakura?" sapa Sasuke dengan sedikit tergagap. 'Sialan kenapa aku gagap sih, awas kau Itachi!' gerutunya dalam hati.

"Ah, aku baik. Kau, Sasuke?" Sakura bertanya balik.

"Ah, iya aku juga baik." jawab Sasuke yang terlihat malu-malu.

Itachi, Gaara, dan Hinata sebenarnya mati-matian menahan untuk tidak tertawa melihat kecanggungan diantara Sasuke dan Sakura. Tapi untungnya mereka dapat menahannya walaupun Itachi hampir saja kelepasan kalau saja Gaara tidak menginjak kakinya.

"Sebaiknya kita langsung ke halaman belakang. Kita mau pesta barbeque kan, Sakura?" kata Hinata memecah kecanggungan.

"Ah, kau benar. Ayo, disana sudah ada Pamela dan kekasihnya." sahut Sakura.

Baru saja mereka ingin melangkah mengikuti Sakura namun mereka terhenti karena ucapan Sakura barusan. Semua mata kini melirik kearah Gaara, kecuali Sakura yang sudah berjalan lebih dulu.

'Ah, aku lupa memberitahu Gaara kalau Pamela juga datang.' kata Hinata dalam hati sambil melirik kearah Gaara. Dia mengacungkankan kedua jarinya membentuk peace kepada Gaara sambil tersenyum manis.

"Hm, Pamela datang bersama kekasih barunya, ya?" bisik Itachi di telinga Gaara yang dibalas dengan tatapan malas dari mata hijau milik Gaara.

"Hah, malam ini sangatlah indah. Ayo Hinata, kita bergabung bersama Sakura, Pamela dan kekasih barunya itu." goda Itachi riang sambil menggandeng Hinata menuju ke halaman belakang rumah Sakura. Ia begitu puas melihat kedua sahabatnya itu terlihat mati gaya malam ini.

'Sialan, kau Itachi!' gerutu Sasuke dan Gaara dalam hati.

~~o~~

Malam semakin larut, namun suasana pesta tahun baru di kediaman Sakura semakin meriah. Suasana canggung antara Sasuke dan Sakura pun sudah tak ada lagi diantara mereka berdua. Begitu juga dengan yang lain, mereka semua larut dalam keakraban dan kegembiraan. Sebenarnya orang-orang yang tengah berpesta di rumah Sakura ini sudah saling mengenal. Bukan karena mereka semua adalah seorang public figure, tetapi karena mereka sebenarnya sudah mengenal sejak lama. Kejadian di masa lalu diantara merekalah yang membuat hubungan mereka menjadi jauh. Namun kini mereka kembali akrab berkat pesta kecil itu dan seolah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

Tinggal beberapa menit lagi pergantian tahun yang baru akan tiba. Sakura dan yang lainnya kini sedang memanggang daging. Gaara memilih duduk di pinggir taman sambil memperhatikan teman-temannya.

'Dimana dia?' batinnya saat menyadari ada seseorang yang hilang.

"Sakura, boleh aku minta kopi?" tanya Gaara.

"Tentu. Kopinya ada di dapur. Kau masih ingat dapurnya, kan?" jawab Sakura.

Gaara hanya mengangguk, kemudian ia segera menuju dapur. Sebenarnya Gaara tidak benar-benar ingin membuat kopi, ia ingin mencari seseorang. Ia lalu berkeliling rumah Sakura untuk mencari orang yang dimaksud. Gaara menyusuri ruang tengah yang terhubung langsung dengan dapur. Ia tersenyum tipis saat menemukan orang yang dicarinya sedang tertidur pulas di sofa ruang tengah tersebut.

"Disini kau rupanya, Hinata." gumamnya pelan agar tidak membangunkan orang tersebut. Ya, sedari tadi Gaara sedang mencari Hinata yang menghilang diantara teman-temannya yang lain. Ternyata Hinata sedang tertidur pulas disini.

Gaara duduk di salah satu sofa di dekat Hinata. Dipandanginya wajah cantik Hinata yang sedang tertidur itu. Raut-raut kelelahan sedikit terlihat di wajah ayu tersebut. Gaara paham betapa padatnya aktivitas Hinata akhir-akhir ini. Setelah puas memandangi Hinata yang sedang tidur, Gaara kemudian melepas jaket kulitnya dan menyelimuti tubuh Hinata dengan jaket tersebut. Diusapnya pelan pucuk kepala Hinata sebelum kemudian ia pergi ke dapur.

Setelah menyeduh kopi, Gaara kembali ke halaman belakang. Ia membiarkan Hinata tidur dan tidak ingin mengganggunya. Diseruputnya kopi hitam buatannya sambil duduk di salah satu bangku di halaman tersebut. Ia kemudian meletakkan kopinya diatas meja saat melihat seseorang berjalan menghampirinya.

"Hai, Gaara. Kau tampak bahagia malam ini." sapa Pamela lembut.

"Hm? Tidak juga." sahut Gaara.

"Jangan bohong. Perubahan ekspresi sedikit apapun akan terlihat jelas di wajah datarmu itu, Gaara. Kau sedang jatuh cinta, ya?" tanya gadis cantik berambut blonde itu. Pamela kemudian duduk di bangku yang ada disamping Gaara.

"Jangan terlalu dekat, aku tidak mau punya urusan dengan kekasihmu." ucap Gaara sambil meminum kopinya lagi.

"Kau tidak berubah ya, masih saja sinis." sahut Pamela dengan terseyum. "Tapi, sinis-sinis begitu ternyata Gaara punya sisi imut juga ya." lanjutnya.

"Maksudmu?" tanya Gaara heran.

"Yah, aku baru tahu ternyata Gaara yang dingin diam-diam suka memperhatikan gadis yang sedang tidur. Apalagi memandanginya sampai tersenyum-senyum. Dulu saja kau jarang sekali tersenyum padaku." goda Pamela yang ternyata melihat Gaara sedang memandangi Hinata yang sedang tidur.

"Kau melihatnya?" tanya Gaara yang sedikit kaget.

"Kau menyukainya?" Pamela balik bertanya.

Gaara tidak menjawab. Ia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis yang pernah menjadi kekasihnya itu.

"Astaga, kau benar-benar menyukainya?" tanya Pamela memastikan.

"Begitulah." jawab Gaara malu-malu.

"Dia sudah punya pacar loh, Gaara. Hihi, sayang sekali." goda Pamela.

"Ck, aku tahu."

Pamela tertawa pelan melihat Gaara yang terlihat pasrah, kemudian ia menghentikan tawanya dan memasang wajah serius kearah Gaara.

"Dengar, Gaara. Jika kau tidak berniat serius dengan Hinata, kusarankan kau untuk mundur. Aku tidak ingin Hinata dipermainkan oleh laki-laki brengsek lagi." ucap Pamela serius.

"Maksudmu, Pam?" tanya Gaara bingung.

"Sebenarnya hubungan Hinata dengan kekasihnya saat ini sedang tidak baik. Hinata sampai menangis saat menceritakan kondisi hubungannya dengan kekasihnya itu kepadaku dan Sakura."

"Ada apa? Bukankan kekasih Hinata itu orang yang baik?" tanya Gaara penasaran.

"Dia mencampakkan dan menghindari Hinata selama setengah tahun lebih. Apa masih pantas disebut orang baik?" sahut Pamela.

"Entah apa yang membuat Hinata begitu mencintainya dan bertahan hingga saat ini. Aku dan Sakura sangat sedih melihat Hinata akhir-akhir ini. Ia jadi sering melamun." lanjutnya dengan wajah sendu.

Gaara hanya diam menyimak perkataan dari Pamela. Ia tak tahu harus bicara apa. Sejujurnya ia sangat sedih dan marah mendengar wanita yang dicintainya telah disia-siakan. Tapi, apa yang harus ia perbuat?

"Gaara, aku tanya sekali lagi padamu. Apa kau benar-benar menyukai Hinata? Dan ingin serius dengannya?" tanya Pamela.

"Aku, sebenarnya aku mencintainya, Pam. Bahkan sudah sejak dulu sebelum aku mengenalmu. Dan perasaan itu semakin kuat saat kami kembali dipertemukan untuk kerjasama album 3D." aku Gaara.

Pamela tersenyum lega mendengar pernyataan Gaara barusan. Ia tidak pernah melihat Gaara setulus ini dalam berbicara.

"Kalau begitu, rebut Hinata dari kekasihnya." ucap Pamela yang berhasil membuat Gaara membelalakkan matanya.

"Apa? Kau gila, Pam?" tanya Gaara tak percaya.

"Iya aku gila, tapi aku serius. Tolong lepaskan Hinata dari lelaki itu. Bahagiakan dia, Gaara. Kumohon!" pinta Pamela.

Gaara berpikir sejenak. Ia memang sangat ingin bersama Hinata, tapi apakah ia sampai harus merebut Hinata? "Akan kupikiran lagi, tapi aku janji akan membahagiakan Hinata." sahut Gaara.

"Syukurlah, aku lega mendengarnya." ucap Pamela lega.

"Pam, Gaara! Ayo kita nyalakan kembang api!" seru Sakura kepada Pamela dan Gaara.

"Sebaiknya segera kita kesana. Oh ya Gaara, aku lupa mengingatkan sesuatu."

"Apa?"

"Tolong kejadian saat kita masih bersama dulu jangan pernah sampai terulang padamu dan Hinata nanti. Jujur aku masih sangat marah padamu, apalagi dengan dia. Kuharap dia sudah pergi jauh dari hidupmu." ucap Pamela sebelum beranjak dari bangkunya. Ia kemudian meninggalkan Gaara dan menghampiri Sakura yang sedang bersiap untuk menyalakan kembang api.

Bunyi letupan kembang api menggema menghiasi langit kota New York. Langit yang hitam pekat kini bersinar terang oleh warna-warni cahaya kembang api yang terus terlontar ke angkasa. Teriakan 'Happy New Year!' saling bersahutan mengiringi tahun yang kini telah berganti menjadi tahun yang baru. Gaara memandangi ke arah langit sambil memejamkan matanya. Dalam hati ia berdoa supaya di tahun yang baru ini, segala kekosongan dalam hidupnya dapat terisi. Dan senantiasa dipenuhi oleh orang-orang yang ia cintai.

~~o~~

"KENAPA SEMALAM TIDAK ADA YANG MEMBANGUNKANKU?" teriakan Hinata pagi itu berhasil membangunkan semua makhluk yang sedang terkapar di ruang tengah itu.

"Berisik Hinata, aku masih ngantuk. Hoam." omel Sakura yang mulai tertidur lagi.

"Aaah, aku kan ingin lihat kembang api. Kalian jahat sekali tidak membangunkanku!" protes Hinata sambil menggoyang-goyangkan badan Sakura."Jangan tidur lagi, bangun!"

"Kami tidak tega membangunkanmu, Hinata." sahut Itachi yang setengah tertidur.

"Justru kalian tega jika tidak membangunkanku!" oceh Hinata.

'Buuukk!' Pamela melempar sebuah bantal yang berhasil mendarat manis di kepala Hinata.

"Berisik!" omel Pamela dengan nada galak. Yang dilempari bantal hanya memandang sebal kearah Pamela. Ia tidak percaya teman-temannya tidak ada satu pun yang membangunkannya untuk merayakan tahun baru. Padahal kan ia ingin lihat pesta kembang api. Dengan sebal Hinata melempari teman-temannya dengan bantal berharap mereka segera terbangun. Namun percuma, mereka baru mulai tidur saat menjelang subuh tadi. Jadi, Hinata harus rela memulai hari pertamanya di tahun yang baru ini dengan memandangi teman-temannya yang sedang tidur.

~~o~~

Malam itu Sasuke CS latihan untuk persiapan album mereka yang akan segera dirilis beberapa bulan lagi. Saat malam semakin larut, mereka memutuskan untuk menyudahi sesi latihan mereka yang dirasa cukup hari itu. Gaara membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang ke apartemennya, sedangkan Itachi dan Sasuke sudah berada di mobil menunggu Gaara. Gaara keluar dari ruang latihan musik sambil menggendong tas berisi gitar kesayangannya. Saat sedang berjalan menuju tangga, langkahnya terhenti saat melewati sebuah ruangan yang masih menyala lampunya. Ruangan itu adalah ruangan Hinata. Gaara membuka sedikit pintu ruangan tersebut dan mengintip ke dalamnya. Entah sejak kapan terbesit dalam pikiran Gaara untuk melakukan kegiatan mengintip ataupun ingin tahu urusan orang lain. Namun kali ini ia sedikit penasaran mengapa ruangan tersebut masih terang, padahal ini sudah tengah malam. Apa Hinata ada di dalam?

Saat Gaara melihat kedalam, terlihat Hinata sedang duduk melamun sambil menatap ke luar jendela. Pandangan Hinata terlihat kosong bahkan tidak ada pergerakan sedikit pun darinya, membuat Hinata terlihat seperti boneka manekin yang kaku. Gaara mengernyit melihat keadaan Hinata. Baru kali ini ia melihat Hinata seperti itu. Biasanya saat Hinata sedang bersama teman-temannya ia selalu terlihat ceria dan enerjik. Namun Hinata yang Gaara lihat saat ini terlihat begitu kosong dan suram, seperti bukan dirinya. Gaara kemudian menutup pintu ruangan tersebut dengan perlahan dan segera turun menyusul teman-temannya ke mobil.

"Ck, lama!" protes Sasuke saat Gaara tiba.

Gaara tidak menanggapi. Ia kemudian membuka pintu mobil dan meletakkan gitarnya di samping Itachi yang sudah tertidur di kursi belakang.

"Tolong ambilkan bungkusan itu, Sasuke!" titah Gaara sambil menunjuk ke arah paper bag kecil yang tergeletak di atas dashboard mobil itu. Tanpa banyak bertanya Sasuke segera menyerahkan paper bag itu ke Gaara.

"Terima kasih. Kau bawa saja mobilku. Aku masih ada urusan." ucap Gaara setelah menerima paper bag tersebut.

Baru saja Sasuke ingin bertanya kemana Gaara akan pergi tetapi lelaki berambut merah itu sudah lebih dahulu pergi meninggalkannya. Ia mengernyit heran saat melihat Gaara kembali masuk ke dalam studio musik tempat mereka latihan barusan. Tak mau ambil pusing, Sasuke segera bergeser ke kursi kemudi dan memacu mobil milik Gaara meninggalkan studio musik tersebut.

Gaara sedikit berlari saat kembali masuk ke dalam studio. Studio musik yang buka selama 24 jam itu masih terlihat cukup ramai. Beberapa orang masih hilir mudik dengan kepentingannya masing-masing. Gaara lalu naik ke lantai dua. Kondisi di lantai dua cukup sepi dan tidak seramai seperti di lantai satu. Hanya ada dua atau tiga orang yang berkeliaran di lantai tersebut. Gaara segera menuju ke ruangan yang tadi sempat ia intip. Diintipnya kembali ruangan tersebut, terlihat Hinata masih melamun dengan posisi yang sama seperti saat terakhir Gaara melihatnya.

'tok tok!'

Gaara mengetuk pelan pintu kayu tersebut sebelum kemudian ia masuk ke dalam ruangan itu. Hinata tak bergeming, ia bahkan tidak menyadari kehadiran Gaara yang kini sudah berada tepat di sampingnya.

"Hinata?" Hinata tersentak kaget saat Gaara menepuk pelan pundaknya.

"E-eh, Gaara? Ah maaf, aku lupa kalian hari ini ada latihan, ya? Kalian latihan di ruangan biasa, kan? Ah, ayo kita mulai saja latihannya." Hinata terlihat kebingungan sesaat setelah tersadar dari lamunannya. Hinata lalu menggandeng tangan Gaara dan menariknya ke arah pintu. Belum sampai di depan pintu, Gaara dengan cepat menahan tangan Hinata yang sedang menggandengnya.

"Hinata? Latihannya sudah selesai. Ini sudah jam 1 pagi." ucapan Gaara tersebut berhasil membuat Hinata terdiam sesaat. Ia kemudian menoleh ke arah Gaara dengan wajah kaget.

"Apa?! Jam 1 pagi?!" seru Hinata kaget. Ia memegangi keningnya heran.

"Kau baik-baik saja, Hinata?" tanya Gaara khawatir. Jelas saja Gaara khawatir melihat sikap Hinata yang seperti orang kebingungan itu. Apalagi Hinata baru teringat soal sesi latihan grupnya yang sudah selesai beberapa jam yang lalu. Sebenarnya sudah berapa lama Hinata melamun sampai tidak sadar waktu seperti ini?

"Ah, a-aku baik-baik saja. Mungkin aku... aku argh-!" Hinata tiba-tiba jatuh terduduk sambil mengacak-ngacak rambutnya frustrasi.

"Hinata?" Gaara kaget melihat Hinata yang terlihat begitu kacau.

"Hinata?" panggil Gaara sekali lagi. Hinata hanya terdiam dan menunduk. Wajah mungilnya tertutup oleh helaian rambut panjangnya.

"Hinata, mau main kembang api?"

~~o~~

Cut! Cut!

Yak kita simpan kelanjutannya buat chapter depan. Biar readers penasaran. *ditoyor*

Hai ._.

Maaf Hana baru bisa apdet Frappuccino ;( semoga para readers nggak bete ya nungguin kelanjutan cerita ini, hehe.

Sebenernya chapter 3 ini udah lama ngendep di laptop. Tapi karna Hana gak sempet-sempet buat ngedit jadi nggak di publish-publis deh, hehehe. *alesan!*

Oiya Hana juga mau minta maaf kalo ada typo(s) dan beberapa kalimat yang kurang atau kelebihan kata di chapter-chapter sebelumnya yang bikin nggak nyaman pas baca. Hana usahain supaya nggak sliwer lagi kedepannya ._.v

Semoga readers suka ya dengan chapter ini. Sampai ketemu di chapter selanjutnya~

Tachibana Hana,

gadis antah-barantah.