L

Disclaimer : Aoyama Gosho


L for Lonely

Part 2

Shiho bangun ketika matahari hampir menyinari ranjang tempat dia tidur. Dia cepat bangkit berdiri dan menatap jam dinding. Pukul 9 pagi. Wah, pasti Profesor Agasa sudah bangun duluan. Gara-gara imsonia yang menyerang, dia baru bisa tidur jam 5 pagi. Dulu sewaktu dia masih menjadi Ai Haibara, dia yang selalu menyiapkan sarapan untuk mereka. Gadis itu kemudian buru-buru mandi dan menghambur ke ruang makan. Disana ada Profesor Agasa dan… Shinichi Kudo.

"Tuan putri sudah bangun rupanya" sahut Shinichi sambil tersenyum lebar. Mulutnya sibuk mengunyah roti panggang. Sedangkan Hakase tampak senang dan menggeser kursi untuk menyilahkan Shiho duduk.

"Ngapain kau kesini, Kudo?" tanya Shiho sambil duduk.

"Ha-Ha, kata-kata pertama darimu sangat menyakitkan. Duduk dulu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" Shinichi nyengir.

Shiho menyipitkan matanya,"Kemana?"

"Ah, ada kasus yang harus kuselesaikan. Di teluk Tokyo"

"Lalu? Apa hubungannya denganku?" tanya Shiho heran.

Shinichi cuma nyengir dan menaruh roti panggang dan selai di piring gadis itu.

"Makanlah dulu"

Gadis itu mendengus pelan dan mulai makan. Detektif itu hanya menatapnya tanpa berbicara.

Setelah selesai makan, Shinichi menyeretnya ke mobil setelah berpamitan dengan Hakase dan mereka duduk dalam diam selama perjalanan.

"Kenapa kau mengajakku, Kudo? Dimana Mouri-san?" tanya Shiho memecah kebisuan.

"Dia sedang ada pertandingan karate hari ini."

"Jadi aku hanya pengganti dia, Kudo?"

"Tidak. Aku memang ingin mengajakmu. Kenapa? Kau tak suka?" tanya Shinichi tanpa mengalihkan pandangannya ke depan. Shiho hanya mendesah tapi dia tak berkata apa-apa lagi setelah itu.

Sesampai di teluk Tokyo, pemandangan sangat bagus. Langit biru menghampar dan angin laut menderu-deru. Sulit untuk tidak tersenyum melihat camar berterbangan sana sini dan bahkan ada sisa-sisa jejak pelangi di ujung cakrawala.

Shinichi bersama Shiho berdiri di ujung dermaga menatap pemandangan dalam diam.

Hingga Shiho bergumam," Ada kasus apa yang hendak kau pecahkan disini, Kudo?"

Shinichi tersenyum malu. "Tidak. Jika kukatakan ingin membawamu kemari tanpa alasan pasti kau tak mau"

Shiho memalingkan wajahnya menatap Shinichi. "Ada apa dengan kau, Kudo? Ceritakan padaku"

Pria itu menoleh, tatapan mereka bertemu. "Aku dan Ran kemarin bertengkar."

Shiho mengangkat alisnya. Dia menunggu lanjutan kata-kata Shinichi.

"Dia… menanyakan banyak hal. Tentang kau…dan Ai Haibara. "

"Jadi aku penyebab kalian bertengkar?"

"Bukan itu saja sebenarnya, tapi… Miyano, aku sudah memberitahunya kalau itu bukan urusannya, tapi dia bersikeras ingin menanyakan padamu. Tentu saja aku melarangnya. Dia marah dan meninggalkan aku begitu saja. Kami selalu bertengkar karena hal-hal sepele. Kenapa semua wanita begitu keras kepala?" ujar Shinichi frustasi.

"Biarkan saja, Kudo. Kupikir dia cemburu. Tenang saja, aku akan menjelaskan semuanya padanya." Shiho mencoba tersenyum menenangkan pria yang sedang kalut ini.

"Tidak. Dia tidak berhak ikut campur urusanmu. " ujar Shinichi sambil mengerutkan alisnya.

"Kudo. Dia tidak akan berhenti sebelum tau persoalan sesungguhnya. "

"Miyano… kadang-kadang aku berpikir, jauh lebih menyenangkan saat menjadi Conan dimana aku sangat berharap ingin bersamanya daripada sekarang. Aku tetap tak bisa memahaminya, hubungan kami tidak ada kemajuan sama sekali… Ti—Tidak ada orang yang bisa memahamiku selain dirimu" ujarnya sambil tersenyum kecil.

Shiho ikut tersenyum,"Mungkin karena kau terlalu lama menghabiskan waktu bersamaku. Kudo, wanita memang kadang susah dimengerti, tapi berusahalah" Dia menepuk bahu Shinichi dan kemudian mengambil posisi duduk di lantai dermaga. Kakinya berayun-ayun.

Angin berhembus mempermainkan rambutnya. Shinichi mengambil tempat duduk di samping gadis itu.

"Kau akan tetap tinggal disini untuk seterusnya?" tanya Shinichi.

"Hm…lihat saja nanti"

"Kau ingin pergi kemana lagi?" tanya Shinichi sambil mengerutkan alisnya lagi.

"Bukan urusanmu, Kudo"

"Miyano! Sebenarnya penyebab kami bertengkar bukan itu saja, tapi…" seru Shinichi tapi perkataannya terhenti ketika handphonenya berbunyi. Dia menyambarnya dengan cepat kemudian menjawabnya.

Wajah Shinichi pucat pasi dan handphonenya terlepas jatuh ke lantai dermaga.

"Ada apa , Kudo?" tanya Shiho mendadak cemas.

"Ran… dia… kecelakaan" ujar Shinichi terbata-bata.

Mata Shiho membesar. Dia meraih handphone yang jatuh lalu menggenggam tangan pria itu," Di mana kecelakaannya? Mouri-san sedang berada dimana sekarang? "

"Di..rumah sakit Beika..kondisinya kritis…" ujar Shinichi parau. Shiho hanya mengangguk dan menyeret pria itu segera ke mobil. Dia mengambil alih kemudi dan menyetir dengan kecepatan tinggi kembali ke kota Tokyo.

Sepanjang perjalanan, Shinichi tak mampu berkata apa-apa. Badannya gemetaran. Shiho sampai harus berulang kali mengecek dia untuk memastikan dia baik-baik saja.

"Mouri-san pasti baik-baik saja, Kudo" ujar Shiho mencoba menenangkan.

Shinichi tak menjawab. Dia sekarang menutup matanya dengan raut muka kesakitan.

Shiho menghela nafas dan menginjak gas dalam-dalam.

Sesampai ke RS Beika, Shiho sampai harus menyeret Shinichi turun dari mobil karena dia kelihatan tak mampu berjalan normal lagi.

Langkah-langkah mereka berdua terdengar nyaring memantul di lorong rumah sakit. Di depan ruang ICU sudah berkumpul orang tua Ran, Sonoko dan professor Agasa. Mereka menatap Shinichi dengan cemas.

"Kudo! Ran..Ran.." ujar Sonoko sambil gemetar, air matanya mulai turun. Dia tak mampu berkata-kata.

"Ada apa dengan Mouri-san, Hakase?" tanya Shiho cemas sambil mengalihkan pandangannya ke arah professor.

"Dia tertabrak truk sewaktu menyeberang pulang" kata Profesor Agasa. Matanya mulai berkaca-kaca. "Ran-kun kehilangan begitu banyak darah. Kata dokter harus dioperasi dan harapan hidupnya cuma tinggal sedikit"

Shinichi membelakkan matanya dalam horror. Dia berdiri dengan limbung sehingga Shiho harus memapahnya duduk disalah satu kursi. Eri dan Kogoro Mouri duduk saling menggengam tangan satu sama lainnya. Mereka hanya melihat Shiho sekilas sebelum menarik Shinichi untuk duduk disampingnya.

Shiho berdiri mematung. Dia merasa kalau dia tidak boleh berdiri disana. Suasana sangat pekat akan kematian, bau obat menyebar di segala panca indranya, dan jantungnya berdebar sangat keras.

'Apapun yang terjadi, Mouri-san harus selamat' batinnya. Dia mengepalkan tangannya begitu keras hingga kuku runcingnya menusuk daging dan telapak tangannya mulai berdarah.

"Aku tidak mau ada yang mati lagi setelah Akemi-neechan.." gumamnya tak bersuara.

Professor Agasa menatapnya dengan cemas. Dia kemudian duduk di sampingnya tak berkata apa-apa.

Jam demi jam berlalu dengan lambat. Samar-samar terdengar suara isakan tangis Sonoko dan dengusan lirih dari Eri Mouri. Shiho mengerling ke arah Shinichi. Pria itu bersandar pada dinding sambil memejamkan mata. Raut wajahnya masih sangat pucat dan butir-butir keringat bermunculan di dahinya. Ada aura kesakitan dan frustasi yang tergambar jelas di setiap gerakannya.

Kemudian pintu ruangan ICU terbuka, rombongan dokter dan suster keluar. Mereka semua bangkit berdiri dan otomatis mengelilingi bertanya dengan suara parau dan gugup.

"Bagaimana, Dokter?" tanya Sonoko dengan lemah karena orangtua Ran tak mampu berkata-kata ketika melihat raut muka si dokter yang tampak muram.

"Sayang sekali… kami sudah berusaha semampu mungkin. Saudari Ran Mouri telah meninggal dunia setengah jam lalu. Dia mengalami trauma hebat atas benturan kepala dan kehilangan begitu banyak darah. Kami telah melakukan segala hal yang bisa dilakukan tapi Tuhan berkehendak lain. Maafkan kami" ujarnya.

Eri pingsan begitu mendengar kabar itu, untung saja Kogoro segera memapahnya. Sonoko menangis dengan keras. Sedangkan Shinichi… dia hanya mematung seakan tak percaya.

Shiho ingin menghiburnya, menenangkan hatinya tapi dia juga tak mampu bergerak. Kepergian Ran yang mendadak ini membuatnya tergoncang jauh lebih yang dia kira. Apalagi Shinichi. Dia tampak seperti mayat tanpa gairah hidup, badannya limbung dan dia duduk terhenyak dengan mata merah.

Shiho tak sanggup melihat betapa kesedihan melanda pria itu, dia kemudian duduk disampingnya dan menggenggam tangannya. Dingin.

"Kudo.." bisiknya. Tapi tampaknya pria itu tak mendengarnya. Bibir Shinichi hanya bergerak-gerak pelan menyuarakan sesuatu yang hampir tak terdengar oleh Shiho. Dia mendekatkan telinganya dan hatinya hancur begitu mendengar kata demi kata yang keluar.

"Aku..bahkan…belum sempat berbaikan dengan Ran.. dan dia pergi begitu saja…"

"Kudo.."

"INI SEMUA GARA-GARA KAU, MIYANO!" semburnya tiba-tiba. Shiho kaget dan melepaskan pegangan tangannya.

"GARA-GARA KAU…" raung Shinichi, air matanya mulai turun deras tak terkendali. Dia mendorong Shiho dari sisinya. Dia tampak ingin memuntahkan segala perasaan bersalahnya dan memilih untuk melemparkannya pada gadis itu.

Shiho terhenyak dan berdiri dengan lambat. Sonoko, Kogoro yang sedang memapah Eri dan Hakase melihat mereka bertanya-tanya.

Shiho tak tahan lagi, dia kemudian berlari, lari meninggalkan mereka semua. Matanya terasa panas dan kepalanya pusing. Langkahnya tersaruk-saruk dan hampir tersandung. Tapi dia tak peduli. Dia hanya ingin keluar dari rumah sakit itu.

Tenggorokkannya terasa sakit, dia ingin berteriak tapi tak sanggup. Dia bahkan tak tau bagaimana dia bisa pulang ke apartemennya dalam keadaan selamat. Ingatannya kabur, dia hanya teringat dorongan Shinichi pada tubuhnya, teriakannya yang parau, tatapan mata Sonoko, Eri dan Kogoro.. pandangan mata Hakase yang cemas…

Dia menemukan dirinya kembali saat terbaring di ranjang mungilnya. Mencoba untuk tidur melupakan segalanya. Dia bahkan butuh obat tidur dengan dosis 2x lipat. Kesakitan yang tertera di bola mata Shinichi masih terbayang-bayang dengan begitu jelas sebelum kegelapan menelannya.

"GARA-GARA KAU…"

Gelap.


Penguburan Ran Mouri dihadiri begitu banyak orang. Kepribadiannya yang hangat membuat banyak yang kehilangan. Shiho tak mampu menghadiri pemakaman itu, dia hanya menyendiri di apartemen berhari-hari, mencoba membunuh waktu dengan mencoba berbagai penelitian di lab kecilnya. Ketika percobaan yang kelima belas gagal, gadis itu tak tahan lagi. Dia membanting peralatannya dan duduk dengan padangan mata kosong. Dia bahkan tak tau berapa jam yang dihabiskan dengan hanya duduk bengong meliat kurva dan grafik pada jurnalnya tanpa mampu mecerna satu kalimat pun.

Bel berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Gadis itu tetap tak bergeming.

Berbunyi lagi. Tapi ditambah dengan gedoran pintu yang keras. Shiho tersentak dan bangkit tersaruk-saruk membuka pintu dengan lambat.

Shinichi Kudo berdiri di depan pintu dengan mata merah dan wajah pucat. Rambut hitamnya berantakan, dagunya tampak sudah tak berhari-hari tak dicukur, bajunya tampak kumal dan dia tampak kurus.

"Kudo…?" desis Shiho pelan. Pria itu tak menjawab, hanya menghambur masuk tanpa permisi.

Shiho mendesah dan menutup pintu. Ketika dia berbalik dia menemukan Shinichi berdiri begitu dekat di depannya. Dia seketika mundur tapi pria itu malah merangsek maju. Nafasnya yang berbau alcohol tercium begitu nyata.

"Kau mabuk lagi, Kudo" ujar Shiho tenang walau hatinya mulai berdetak kencang. Ada perasaan tak nyaman ketika menyadari wajah Shinichi begitu dekat hingga kedua hidung mereka mulai bersentuhan.

"Haibara…" bisik Shinichi lirih. Dia menggesekkan hidungnya pada pipi Shiho. Gadis itu mulai gemetar, dia segera mendorong dada pria itu tapi tangannya langsung dicengkeram dengan erat hingga meninggalkan bekas merah.

"Kudo! Lepaskan aku" teriak Shiho gugup. Dia meronta tapi pria itu malah menariknya dengan kuat ke sofa. Gadis itu jatuh terbanting dan Shinichi segera memerangkapnya dengan kedua tangannya. Badannya terasa berat menindihnya.

"Ku—Kudo.." Pria itu menciumnya dengan tiba-tiba, rasa alcohol yang pahit tercampur antara ciuman mereka. Shiho mendorongnya lagi tapi pria itu malah memiting tangannya di atas kepalanya. Ciumannya mulai terasa panas, Shinichi menciumnya dengan begitu bernafsu, penuh dengan rasa frustasi yang meledak membutakan nalar dan akal sehat.

"JANGAN, KUDO…"jerit Shiho ketika ciuman Shinichi berpindah ke lehernya. Bibirnya terasa hangat dan gadis itu gemetar.

Shinichi berhenti dan menyeringai,"Kau membiarkan pria brengsek itu menciummu, tetapi kau tidak ingin berciuman denganku. Padahal aku tau kau mencintaiku, HAH ? MIYANO..?"

Jadi dia melihatku saat bersama Shintaro...

Air mata Shiho mulai turun menggenangi pipinya," KUDO, Kau sudah gila. Lepaskan aku atau aku panggil polisi"serunya dengan suara parau.

"Miyano…" Shinichi bagai tersengat listrik ketika melihat air mata gadis itu. Dia mematung dan kemudian bangkit berdiri. Seakan kesadarannya kembali dengan tiba-tiba.

"Maafkan aku, Miyano…" ujarnya dengan serak. Pundaknya gemetar. Dia menutup matanya dengan kedua tangannya.

Shiho bangkit dari posisinya dan duduk menatap Shinichi. Dia tak pernah melihat pria itu begitu larut dalam keputusasaan dan kesedihan. Hatinya terasa sakit teriris. Airmatanya turun tak berhenti. Dia kemudian berdiri dan menggandeng pria itu duduk disampingnya. Tangannya memeluk Shinichi dan pria itu menangis tanpa suara di pundaknya.

Shiho ikut terisak sambil membelai punggung pria itu.

"Miyano…kau tau apa yang membuatku merasa bersalah?" desisnya hampir tak bersuara.

"Ya…?"

"Aku mengatakan pada Ran bahwa aku sadar kalau aku mencintaimu… dan kami bertengkar kemarin karena ini…"

Shiho mematung.

to be continued...

.

.

.


A/N : hmm.. progress cerita diluar dugaan haha.

thanks for reading and reviewing :)