YOUNG FICTION AVENGERS

EPISODE 4: "Something Important to Know"

Pagi itu, di perkemahan dekat Hutan Narrowstone, Percy terbangun. Matahari yang hangat menerobos pintu tenda. Dia menguap sambil melemaskan tubuh, lalu berjalan keluar dengan bersemangat. Katniss, Harry, dan Jared sudah berada di luar. Aroma daging bakar tercium dari tungku. Percy sudah lama tidak melihat daging yang dibakar langsung di atas bara api, yang menyala biru, setelah dia meninggalkan Camp Half-Blood.

"Pagi," sapa Harry. Begitu melihat Percy, dia langsung memasukkan tongkat sihirnya ke dalam jaket. Percy tahu dia pasti menyihir apinya. Daging itu bukan daging burung atau kalkun, melainkan daging kancil.

"Sebaiknya kau sarapan, sebelum kita memulai penjelajahan," kata Eragon sambil membetulkan tali sepatu botnya.

"Penjelajahan? Ke mana?" tanya Percy antusias.

"Oh, ke semua tempat," ujar Jared yang sibuk merapikan tambang. "Aku dengar dari Mr Frodo bahwa sepupunya, Merry, membuat catatan mengenai pohon-pohon yang bisa berbicara. Aku penasaran, apakah para imp yang melakukannya?"

"Kau selalu saja percaya pada hal-hal seperti itu," cibir Katniss.

"Hei, mereka benar-benar ada, dan kau tahu itu saat menginjakkan kaki pertama kali di halaman Asrama," balas Jared.

"Ha, dasar buku berjalan," goda Katniss sambil nyengir. Percy membantu Harry mengangkat hidangan mereka. Kata Harry, kancil panggang itu untuk Saphira. Sedang anak-anak muda itu makan terwelu yang sudah ditangkap Katniss sebelumnya. Sarapan pagi itu cukup lezat, tapi mereka kebanyakan diam daripada mengobrol. Bahkan Eragon yang biasanya ceria dan berisik pun hanya merespon obrolan dengan tawa kecil. Percy punya firasat bahwa mereka akan menghadapi bahaya besar dalam perjalanan ini, tapi dia tidak mengatakannya keras-keras. Luke Skywalker pernah bilang padanya, bahaya di dunia ini lebih beragam daripada 'dunia' Percy, tapi Percy tidak mau percaya. Dia sudah pernah melawan Kronos, menyaksikan pertempuran di istana Poseidon, dan menghadapi minotaur yang ganas seumur hidupnya—atau lebih tepatnya—sepanjang kisah dalam bukunya.

Seusai sarapan, mereka membereskan ransel masing-masing dan mengisinya dengan barang-barang yang cocok dibawa saat bepergian, termasuk kompas, botol air minum, teropong, kotak peralatan survival, dan PPPK lengkap. Jared terlihat memasukkan sebuah botol kaca kecil bening ke dalam kantong depan ranselnya.

"Ini botol berisi air peri," jelasnya saat Percy bertanya. "Untuk jaga-jaga saja." Percy tidak bertanya lebih jauh. Dia tahu betul apa gunanya air peri karena dia juga pernah mendengarnya, dalam mitologi yang lain.

Sementara yang lain sibuk memagari tenda dengan batu, Eragon memasangkan pelana tambahan ke punggung Saphira. Naga betina itu menggeliat sedikit ketika tali kekang dan pelana membuat punggungnya gatal. Saphira sebetulnya tidak suka pelana, karena pelana membuatnya kurang bebas bermanuver. Tapi Eragon adalah penunggang naga, dan Saphira tak mau Eragon kehilangan nyawa hanya gara-gara manuver mendadak. Katniss mewadahi anak panahnya di dalam tabung yang ia sampirkan ke pundak, berikut busurnya. Percy hanya perlu mengantongi Riptide dan memastikan ranselnya tidak terlalu berat. Setelah semua beres, Harry mengacungkan tongkatnya ke arah pagar kayu yang mengitari tenda, lalu berkata pelan, "Protego totalum! Fianto duri! Salvio hexia!" Lidah-lidah api bermunculan dari tongkatnya saat ia mengucapkan mantra demi mantra. Bersamaan dengan itu, mereka sudah tidak dapat melihat tenda itu lagi, berikut tungku api mereka.

"Whoa, ke mana semua barang kita?" tanya Percy.

"Itu tadi tiga jenis mantra pelindung," jawab Harry. "Takkan ada orang atau perampok yang dapat mencapai tenda selama mantra itu tetap ada. Begitu mereka berusaha mendobrak masuk, sihir akan membuat mereka terpental jauh."

Percy bersiul. Sementara itu, Katniss sudah naik ke punggung Saphira lebih dahulu.

"Ayo, Teman-teman," katanya, "kita berangkat sekarang!"

Meskipun Percy sudah berikrar bahwa ia tidak akan pernah mau naik naga terbang lagi, ia tak punya pilihan lain. Takut dikira cengeng, ia kembali menahan mabuk udaranya sementara Saphira membawa mereka membumbung di langit. Percy jadi rindu pada kuda sembraninya, Blackjack. Sayang sekali, Blackjack sedang nyeri otot dan harus dirawat di Olympus untuk memulihkan tenaganya. Pemberhentian pertama rombongan itu adalah sebuah lembah yang terletak di tengah-tengah pegunungan. Lembah itu penuh burung-burung mirip bangau yang langsung beterbangan begitu Saphira mendarat.

"Persis seperti yang tergambar di peta," komentar Katniss. "Keluarkan dari ranselku, Jared. Tolong."

Ia pun menggelar peta itu di rumput. Peta itu terbuat dari perkamen yang tampaknya sudah hampir memfosil. Mereka duduk mengitarinya. Percy berlutut di samping Katniss dengan kagum. Peta itu menunjukkan area tempat mereka berdiri, yang disebut Lembah Bangau atau Crane Valley. Daerah-daerah tertentu diwarnai biru, sementara yang lain hijau lumut. Semua sungai, danau, dan laut diberi warna biru keabu-abuan, dan semakin gelap apabila semakin dalam. Di barat Crane Valley, tergambar area perkemahan mereka, Hutan Narrowstone, dengan pensil arang hitam. Percy juga melihat daerah Asrama, di timur laut Narrowstone. Daerah Asrama dan sekitarnya dikelilingi oleh lingkaran merah.

"Aku tidak mengerti, kenapa daerah ini diberi warna merah?" Percy mengutarakan pikirannya.

"Kami juga tidak tahu," sahut Eragon. "Dari ilmu peta yang pernah kudalami, negeri-negeri yang berwarna biru ini adalah daerah kekuasaan Raja Lancelot. Yang hijau menggambarkan daerah peralihan—artinya daerah-daerah yang belum jelas akan masuk kekuasaan Raja atau tidak. Sedangkan yang tidak diwarnai adalah Outsiders, atau daerah di luar kekuasaan. Saphira bilang, daerah-daerah itu biasanya berbahaya." Ia menoleh pada naganya yang menggeram mengiyakan.

"Ada kemungkinan, warna merah ini dimaksudkan supaya kita tidak lupa di mana letak Asrama," kata Katniss. "Sejak kuambil dari perpus, keadaannya sudah seperti ini."

"Kita beruntung berada di daerah biru," kata Harry. "Oiya, kalian masih ingat kasus penyerangan gargoyle itu? Menurut peta, daerah Peru juga diberi warna biru. Itu berarti balatentara Raja Lancelot sudah menduduki Peru sejak lama. Dan selama itu, mereka takkan membiarkan makhuk-makhluk jahat menembus benteng pertahanan mereka. Yang aneh adalah, bagaimana rombongan gargoyle itu bisa masuk? Pasti ada orang yang telah membuka portal dan membiarkan mereka masuk ke area Peru."

Percy manggut-manggut. "Aku paham. Tapi, aku masih belum mengerti satu hal. Tujuan kita kemari sebetulnya ngapain, sih?"

"Oh, iya! Kita harusnya berpencar, Kawan-kawan!" seru Katniss, seolah baru teringat sesuatu yang penting. "Begini, kita bagi jadi tiga tim. Eragon dan Saphira ke timur, sementara Harry dan aku ke barat. Jared dan Percy, kalian ke utara. Pastikan kalian sudah membawa senjata dan perlengkapan masing-masing, oke?"

"Kalau salah satu dari kelompok tersesat, bagaimana?" tanya Jared.

"Hm, bagaimana kalau kita sepakati saja kodenya?" usul Harry.

"Oke, kodenya adalah ini," Katniss mengeluarkan sebuah petasan merah dari dalam ranselnya, lalu membagikannya kepada yang lain. Masing-masing kelompok memperoleh satu batang. "Nyalakan saat kalian dalam bahaya. Ingat, jangan sampai terpisah dengan anggota kelompok kalian."

"Eh, tunggu! Tunggu sebentar!" sela Percy. "Sebetulnya kita mau ngapain, sih?"

Kawan-kawannya memandang dengan tatapan kaget sekaligus bingung. Percy malah semakin heran dengan tingkah laku mereka. Jared menggigit-gigit bibirnya dengan gelisah. Harry menggaruk-garuk kepala. Katniss menghela napas panjang, tampak sangat bersalah.

"Ayolah," kata Percy. "Bagaimana aku bisa melakukan tugasku kalau aku saja tidak tahu apa yang akan kita lakukan?"

"Percy, sini!" Harry maju untuk menggamit tangan Percy. Dibawanya Percy agak jauh dari yang lain, lalu setelah dirasa aman, ia menarik napas panjang-panjang sebelum bicara.

"Oke, Percy, kurasa ini waktu yang tepat."

"Waktu yang tepat untuk apa?"

"Kami terpaksa, Percy. Kami terpaksa sekali."

"Terpaksa untuk apa?"

Harry terlihat seolah-olah ingin memuntahkan bola bulu besar dari tenggorokannya. Percy merasa tidak sabar. Harry sadar dia tak boleh merahasiakannya lagi.

"Ugh, oke… aku akan bilang… tapi sebelumnya, bersumpahlah bahwa kau tidak akan menampakkan kegelisahanmu di depan yang lain."

"Aku bersumpah. Suwer!"

"Percy," kata Harry sepelan mungkin, "dia mencarimu, Perce. Dia ingin kau kembali padanya."

"Dia siapa?" Percy memekik kaget. "Kembali padanya? Apa maksudmu?"

"Sang Kontraktor," kata Katniss, yang tahu-tahu sudah ada di samping Percy. Matanya terlihat sembab. Tampaknya dia baru saja menangis dengan penuh penyesalan.

"Kami mendengar suaranya malam itu, Percy," sambung Jared. "Kau mungkin mengira kami sudah tidur, jadi kami tidak mendengar apa-apa. Tapi itulah kenyataannya, Sobat."

"Maksud kalian suara mendesis di luar tenda?" tanya Percy, matanya melebar.

"Ssshhh, jangan keras-keras!" bisik Harry. Percy langsung memelankan suaranya.

"Jadi, apakah suara itu yang mendesis di luar tenda?"

"Ya," kata Eragon, berjalan mendekat sementara Saphira memalingkan wajah di belakangnya. "Malam itu aku bohong padamu kalau tidak mendengarnya. Dia sengaja ingin menarikmu masuk hutan. Aku harus mencegahmu sebelum dia berhasil."

"Itulah kenapa kami membawamu ke sini, Percy," kata Harry. "Untuk menyelamatkanmu. Untuk menjauhkanmu dari jangkauannya."

Percy terdiam. Ditatapnya wajah teman-temannya yang cemas secara bergantian. Ia menghela napas panjang. "Jadi, acara jalan-jalan kita hanya sebuah alasan supaya aku aman, begitu?"

Katniss mengangguk. "Tadi pagi, sebelum kau bangun, kami sudah merencanakannya. Kami tahu si Kontraktor takkan berhenti sebelum mendapatkanmu."

Percy baru saja ingin bertanya lagi ketika mendengar suara kepak sayap yang datang dari langit. Burung-burung bangau yang semula pergi kini mulai kembali ke lembah satu per satu.

"Oh, mereka sudah balik, Kawan-kawan!" kata Eragon. "Sebaiknya kita mulai berpencar sebelum mereka sadar bahwa kita mengincar telur-telur mereka!"

"Oke, semuanya, cukup penjelasannya!" kata Katniss sembari menghapus air matanya. "Masih ingat kelompok masing-masing, kan? Ayo, kita berpencar!"

Jared dan Percy berlari masuk hutan utara, seperti instruksi sebelumnya. Percy mengeluh dalam hati. Dia yakin bangau-bangau itu cerdas. Mereka pasti menyimpan telurnya di tempat tersembunyi, seperti batang kayu, lubang kelinci, atau semak-semak. Hutan itu sendiri dipenuhi berbagai jenis tumbuhan rambat yang tidak dikenal Percy. Sebagian mirip jelatang, sebagian lagi daunnya mirip rosemary tapi menggerumbul seperti mistletoe. Percy dan Jared harus berhati-hati agar tidak terjerat. Duri-duri mereka tidak tajam, tapi bisa menyangkut di celana. Percy kembali mengeluh. Itu berarti, kalau perlu, mereka harus membabat habis hutan. Tapi mendengar ide tersebut, Jared malah bertambah excited.

"Yeah! Hidup petualangan!" serunya. "Kau senang, kan, Percy? Sudah berapa lama kau tidak mengalaminya?"

"Oh, aku sudah pernah disuruh mencari easter egg dan permainan itu sama sekali nggak asyik," ujar Percy. "Memangnya apa tujuan kita mencari telur bangau?"

"Kau belum pernah dengar, ya?" kata Jared. "Telur bangau gunung membawa keberuntungan bagi mereka yang memakannya. Apalagi kalau ketemu telur perak yang langka! Telur perak hanya bisa didapat apabila bangau gunung makan tumbuhan air khusus bernama silver cattail. Telur yang langka itu sudah bertahun-tahun diburu para kolektor, tapi belum ada yang pernah menemukannya! Percaya atau tidak, sebelum kau datang, aku dan Mr Bilbo tua—bersama Mr Frodo juga—pernah mencoba mencarinya. Hasilnya nihil. Boro-boro dapat telur, kami malah dihujani bom kotoran."

"Bom kotoran?" ulang Percy, agak geli.

"Yah, nggak usah dijelaskan pun kau tahu apa maksudku," kata Jared sambil menyeringai pahit. Dia mengeluarkan swiss army knife-nya, lalu mulai memotong sulur tumbuhan rambat yang menghalangi jalan mereka.

"Kau lambat sekali! Serahkan padaku!" kata Percy. Cukup sekali atau dua kali tebasan Riptide, dia sudah menghasilkan gundukan tumbuhan rambat yang berserakan di mana-mana. Jared berdecak kagum.

"Wow, lain kali ajari aku menggunakan pedangmu, Master Jackson."

"Oh, nggak bisa," kata Percy. "Riptide hanya mau menurut padaku. Yah, sebetulnya pedang ini memang diciptakan sebagai pedangku. Kau tak bisa semudah itu menggunakannya."

"Kakakku, Mallory, pasti akan menyukainya," kata Jared. "Dia ahli main pedang, maksudku anggar."

"Yuk, cabut!" kata Percy. Kedua anak muda itu melanjutkan perjalanan. Namun sejeli apapun mereka mencari, tetap saja telur bangau itu tidak ditemukan. Mereka sudah membabat semak-semak, menggali tanah berlumut, dan mencari di balik batu. Tapi tetap saja, telur bangau tak juga ditemukan. Kerumunan lebah hutan yang bandel juga mengganggu mereka saat mencari. Jared dan Percy sudah hampir putus asa.

"Tak ada gunanya," engah Percy. "Telur bangau itu takkan ditemukan di daerah sini. Dan aku merasa berdosa kepada pada dryad yang mendiami hutan ini."

"Tuan Yang-datang-dari-mitologi, di sini nggak ada dryad, apalagi sprite," sahut Jared, menepis keringat dari dahinya. "Kau tidak bisa berbohong karena aku sudah tahu mana pohon yang hidup dan mana yang tidak. Hutan ini kosong dan kakiku rasanya mau copot." Matahari semakin naik dan mereka jatuh terduduk di akar pohon terdekat karena kepanasan. Percy membuka botol airnya dan minum secukupnya. Dia membagi airnya dengan Jared sementara membersihkan ujung Riptide yang kotor kena getah tanaman.

"Menurutmu bagaimana kalau kita kembali ke lembah?" usul Percy.

"Jangan!" sergah Jared tiba-tiba, sehingga Percy tersentak kaget. "Yah, sebaiknya jangan dulu," Jared menambahkan, dengan suara lebih pelan. "Aku nggak mau menjamin bangau-bangau itu tidak menyerangmu saat kita kembali. Mereka ganas, tahu!"

"Terus, apa yang bisa kita lakukan di sini?" kata Percy. Udara panas dan kelelahan membuatnya naik darah. "Ayolah, kalaupun harus berhadapan dengan Kontraktor yang kalian bicarakan, aku berani saja, kok! Memangnya dia pikir dia itu siapa?"

"Percy, ssshhh…" Jared meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri. "Jangan keras-keras…"

"Ha! Kenapa tidak boleh keras-keras?" kata Percy, kemarahannya sudah mencapai puncak. "Tadinya aku masih bisa menahan kesabaranku, tapi kurasa ide mencari telur bangau bukanlah cara meloloskan diri dari bahaya. Dan kita tidak mendapat apa-apa selama dua jam! Bisa jadi Katniss sengaja melakukan ini, bukan?"

"Ya, memang dia sengaja—tapi kau tidak bisa menyalahkannya, Perce," kata Jared, bersusah payah agar nada suaranya tetap normal, sementara muka Percy merah padam saking murkanya. "Jangan ngamuk sekarang, oke? Aku nggak mau kau menggunakan kekuatan dewamu dan menghancurkan tempat ini. Dan… turunkan pedangmu… kalau kau nggak keberatan."

Percy menggigit-gigit bibir selagi mengatur napas. Dia baru sadar ujung Riptide-nya tinggal beberapa senti dari hidung Jared, sementara anak laki-laki itu pucat pasi, seolah baru saja berhadapan dengan seorang Candyman.

"Sori," kata Percy pelan. "Aku hanya emosi tadi. Sudah terlalu banyak rahasia yang kalian simpan dariku. Ini bukan masalah kecil lagi, Jared. Kau mengerti, bukan? Aku—aku tidak tahu apa yang diinginkan Kontraktor ini dari kita. Kalau dia memang ingin aku kembali padanya—yah, kalau aku tidak salah dengar—kenapa kalian berusaha mencegahku, seolah dia akan melakukan sesuatu yang buruk kepadaku?"

Jared diam sejenak. Tampaknya dia merasa ingin muntah, karena sepertinya, persoalan tentang Kontraktor benar-benar memuakkan.

"Oke," kata Jared sambil menghela napas. "Kali ini aku setuju dengan usulmu yang tadi. Sebaiknya kita membicarakannya sambil berjalan kembali ke lapangan. Hutan ini memang sepi, tapi bukan berarti kita tidak diawasi, bukan?"

Dan selama mereka berjalan, Jared memulai penjelasannya.

"Si Kontraktor itu," katanya, "kalau kau memang belum tahu, dan kalau kau memang ingin tahu, adalah mimpi buruk dari seluruh Pahlawan Fiksi. Dia bukan seorang Penjahat, bukan. Seorang Penjahat akan lebih takut pada Kontraktor daripada kejahatannya sendiri. Kontraktor akan memaksa semua penulis memberikan bukunya, lalu mengumpulkannya di suatu tempat sehingga orang-orang yang ingin mengadaptasi kisah dari buku bisa mengambil darinya. Tapi dia memaksa mereka menyerahkan uang untuk kepentingannya sendiri, dan menghalangi para penulis mendapat bagian royalti. Itu bukan hanya mempermalukan nama penulis, tapi juga nama kita—tokoh-tokoh fiksi."

"Jadi, maksudmu dia bisa jadi seorang produser?" tanya Percy.

"Ya, semacam itu," kata Jared. "Tapi dia lebih cocok disebut Pembunuh Karakter, Perusak, dan Pengkhianat. Aku bukannya meragukan mereka atau semacamnya, tapi…"

"Tunggu!" sela Percy. "Kau bilang mereka?"

"Kontraktor bukan hanya satu orang," kata Jared, menghindari jeratan daun berbentuk paku di lantai hutan. "Mereka adalah kelompok—sebuah organisasi yang diciptakan untuk satu tujuan tertentu. Tapi yang perlu kau khawatirkan, Kontraktor ini bekerjasama dengan para Penjahat. Dan dia punya tujuan yang jelas—menggulingkan Raja Lancelot."

"Kelihatannya wajar," kata Percy selagi menebas sulur yang menggantung di atas kepalanya dengan Riptide. "Para Penjahat, kan, memang begitu tabiatnya."

"Kau tidak mengerti, Perce. Dia bukan hanya bersekongkol dengan Penjahat, tapi juga mencuci otak mereka!"

"Apa maksudmu?"

"Dia ingin merubah dunia kita, Perce," Jared menatap Percy dengan sungguh-sungguh. "Penjahat tidak selamanya jahat dari awal. Mereka kebanyakan pasti punya masa lalu yang kelam atau menyedihkan, sehingga mereka menjadi jahat. Voldemort, misalnya, adalah bocah terlantar dan yatim piatu yang mencoba membuktikan bahwa dia bisa melampaui orang-orang di sekelilingnya. Darth Vader, si penguasa kejam, sesungguhnya ayah dari Luke Skywalker, betul, kan? Jangan sampai aku menyebutkan Penjahat-penjahat komik Amerika seperti Magneto, Loki, atau Winter Soldier."

"Luke Castellan juga punya masa lalu yang tidak menyenangkan dengan ayahnya, Hermes," gumam Percy. "Itu artinya, Kontraktor merubah cara berpikir mereka sehingga mereka menjadi tiran sejak awal diciptakan. Mereka jadi tak punya hati. Dari tiran menjadi tiran. Itukah yang dia inginkan?"

"Tepat sekali," kata Jared, dan begitu mendongak, mereka sudah sampai di tepi hutan. "Selain mengerahkan kekuatan Penjahat, Kontraktor juga mengincar para Pahlawan. Bukan hanya menaklukkan, tapi juga menjatuhkan. Kau paham artinya menjatuhkan, bukan? Mengutuk, memperdaya, menyiksa, membunuh, dan menganiaya sampai kau tak tahu siapa sebenarnya dirimu."

"Sungguh mengerikan," kata Percy. "Dan kali ini, dia mengincarku?"

"Kau sedang naik daun, itulah sebabnya dia ingin 'merusak'-mu," kata Jared. "Aku sudah pernah mengalami kekecewaan karena hasil adaptasi film dari novelku. Eragon juga. Katniss dan Harry boleh berbangga diri karena film-film mereka banyak penggemarnya, tapi mereka tetap dalam bahaya karena jumah fans mereka yang awalnya banyak akan menjadi surut seiring waktu, dan tak ada yang bisa melindungi karya sastra dari mana mereka berasal kecuali fans sejati. Tapi memang itulah tujuan Kontraktor, membuat fans sejati meninggalkan kami. Dengan begitu, para penulis akan kecewa dan akhirnya tidak mau berkarya lagi alias buntu. Lalu dunia akan dipenuhi buku-buku tak bermutu dari penulis-penulis keparat yang tergabung dalam Kontraktor, merusak generasi muda dengan karya-karya mereka. Dan akhirnya, tak ada lagi embel-embel fiksi. Tak ada lagi Pahlawan. Tak ada lagi Asrama. Dunia kita akan berakhir."

Percy dan Jared sudah mencapai lapangan sekarang. Eragon dan Saphira sudah kembali juga. Sang naga biru membawa sebuah kantong di mulutnya. Percy menduga dengan kecut bahwa kantong itu pasti berisi telur-telur bangau.

"Kami hanya menemukan tiga," keluh Eragon.

"Mending, kami malah tak menemukan apa-apa," kata Jared, tapi dia tertawa.

"Ya, meskipun kami sebetulnya menemukan titik terang dari masalah kita," ujar Percy, sementara Eragon menatapnya dengan heran. "Aku sudah tahu tentang Kontraktor itu."

"Memang seharusnya kau tahu," kata Eragon sambil memutar bola matanya. "Hei, apa kalian tidak mau mencari Katniss dan Harry? Mereka mestinya sudah kembali."

"Mungkin mereka tersesat," kata Jared.

"Bagaimana kalau kita susul mereka?" kata Percy. "Aku mencium keanehan pada tempat ini. Jangan-jangan ada sesuatu yang buruk terjadi pada mereka."

"Aku setuju," kata Eragon. Saphira menggeram rendah. Mata kuningnya menyala-nyala. "Bahkan Saphira pun juga membaui sesuatu yang tidak beres. Kita harus menyelidikinya!"

TO BE CONTINUED