Moon Lovers: Scarlet Heart
Chapter 4
Genre : Drama, Romance, Fantasy, Historical (?)
Disclaimer : Cerita ini milik penulis, sutradara, serta produser drama korea "Moon Lovers Scarlet Heart: Ryeo" dan SBS. Semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.
Warn! Typo(s)‖ OOC ‖ AU ‖ diksi tidak tepat ‖ dll.
Remake! Emma Griselda ‖ Beta Reader: Sky Yuu ‖ Rating : M
The love between me and him was so strong and sorrow
And it was dangerous
That was like cactus that hurts each other
As we get close to each other
Now I know, too deep love could bring a sad ending on the contrary
"Kau melihatnya atau tidak!" teriak Pangeran Sesshōmaru sambil mencekik leher Kimiko, refleks, Kimiko sedikit memekik saat pangeran keempat itu mencekik lehernya dan tubuhnya melangkah mundur.
"T-t-tolong biarkan aku hidup," kata Kimiko memohon dengan menutup matanya ketakutan.
Kimiko perlahan membuka matanya dan memberanikan diri untuk beradu tatap dengan sang anjing serigala. Tatapan sosok yang ada di hadapannya tak berubah, tatapannya tajam.
"Lupakan ... aku. Hapus semuanya. Jika tidak, wajahmu juga akan menjadi seperti ini," ucap Pangeran Sesshōmaru mengancam, ia masih mencekik leher Kimiko.
Kimiko yang ketakutan hanya bisa menganggukkan kepalanya, tak berani menatap Pangeran Sesshōmaru, ia mengalihkan pandangannya ke samping. Setelah anggukan kepala yang dilakukan oleh Kimiko, tangan kekar Pangeran Sesshōmaru yang mencekiknya akhirnya terlepas. Pangeran Sesshōmaru berjalan keluar dari kolam air panas, memungut topeng yang ia letakkan di pinggir kolam dan menarik baju yang sudah disiapkan oleh pelayan dengan kasar. Tusuk surai yang disiapkan Pangeran Sesshōmaru terjatuh tanpa ia sadari ketika ia menarik bajunya dengan asal. Kimiko terduduk lemas setelah kepergian Pangeran Sesshōmaru, merasakan jantungnya berdebar sangat cepat.
"Oh, jantungku berdebar," keluh Kimiko dengan memegang dadanya yang terasa seperti akan meledak sambil menutup kedua matanya.
Kimiko mengalihkan pandangannya pada tusuk surai yang berada di pinggir kolam, tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Kimiko mengerjapkan mata berulang kali dan apa yang diihatnya memang benar bahwa itu tusuk surai yang indah. Ia bangkit, berjalan menuju ke pinggir kolam dan mengambil tusuk surai yang tertinggal, ia berencana akan mengembalikan pada sang pemilik tusuk surai tersebut.
"Apakah pangeran keempat sudah pergi?" batinnya menerawang jauh ke arah pintu besar.
"Mari kita bersihkan!" ucap seorang pelayan kepada pelayan yang lain. Mendengar itu, Kimiko bergegas pergi sebelum ketahuan oleh para pelayan yang hendak membersihkan area pemandian.
Kimiko pulang dengan tubuh yang basah kuyup dengan memegang lampu lampion sebagai penerangan. Ia gemetar dan berjalan dengan gontai.
Di depan kediaman Pangeran Kedelapan, Pangeran Hōjō, Ayumi-sama, Kikyō, dan para pelayan terlihat panik dan cemas dengan kepergian Kimiko yang tak terduga. Sesekali Kikyō dan juga pelayan yang lainnya mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, berharap menemui sosok yang mereka cari. Sesampainya di depan kediaman Pangeran Hōjō, Kimiko kebingungan melihat semua orang yang menunggunya dengan gelisah.
"Kimiko-sama!" teriak Kikyō, bergegas lari menghampiri. Pangeran Hōjō beserta istrinya pun ikut turun menghampiri Kimiko yang terlihat basah kuyup dan menggigil kedinginan karenanya.
"Kau ke mana saja?" tanya Kikyō khawatir.
"Kalian semua menungguku?" tanya Kimiko tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kau ke mana saja?" tanya Ayumi-sama gelisah.
Kimiko menggelenngkan kepala, "Badanku tadi kotor semua, jadi aku memutuskan untuk pergi mandi di pemandian," jawab Kimiko menjelaskan.
"Kau harus beritahu orang-orang kemana pun kau pergi. Seluruh keluarga mengkhawatirkanmu," ucap Ayumi-sama, Kimiko kaget mendengar kata 'keluarga'. Ia seperti tidak terbiasa dengan kata 'keluarga'.
"Keluarga?" ulang Kimiko, berkata dengan hati-hati takut apa yang dia dengar maupun diucapkannya salah.
Ayumi-sama menghela napas. Pangeran Hōjō menundukkan kepala setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh Kimiko, memikirkan kata-kata yang cocok untuk dilontarkan pada Kimiko.
"Bawa dia ke dalam, dan hangatkan tubuhnya!" perintah Pangeran Hōjō.
"Ya," jawab Kikyō mengangguk mengerti, "Ayo pergi!" ajak Kikyō pada Kimiko dengan salah satu pelayan yang berada di samping Kimiko. Dengan memegang lengannya, mereka menuntun Kimiko yang sudah basah kuyup dan gemetar untuk masuk ke dalam.
"Ya," jawab Kimiko masih kebingungan. Ia terdiam saat menaiki perlahan anak tangga yang ada, menghentikan langkah kakinya setelah menaiki beberapa anak tangga, pandangannya nanar saat ia melihat pintu masuk ke kediaman Pangeran Hōjō.
Pangeran Hōjō dan Ayumi-sama ikut menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan memperhatikan Kimiko yang terdiam sepulang dari pemandian.
Dengan mata yang berkaca-kaca karena dianggap keluarga, Kimiko berkata dengan pelan, "Aku ... aku merasa seperti berada di rumahku sendiri."
Pangeran Hōjō dan Ayumi-sama hanya diam kebingungan. Berhadapan satu sama lain untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Kimiko yang baru berakhir beberapa detik yang lalu.
"Ayo," ajak Kikyō dengan menggandeng lengan Kimiko.
"Baiklah," jawab Kimiko.
"Anda ini pembuat masalah!" kata Kikyō sambil mengeringkan rambut Kimiko yang berada di depannya, "sebelumnya, aku sudah bilang untuk tidak pergi ke sana," lanjutnya untuk kembali mengomel pada Kimiko yang hanya terdiam dari tadi, tak bergerak sedikit pun di atas ranjang yang mereka duduki dengan nyaman.
"Kikyō, apa kau mengenal Pangeran Keempat? Orang seperti apa dia itu?" tanya Kimiko berhati-hati pada Kikyō.
"Apa kau bertemu dengannya di pemandian?" tanya Kikyō penasaran.
"Apa yang kau bicarakan?" sangkal Kimiko dengan cepat menanggapi apa yang dikatakan oleh Kikyō dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu bahwa kemungkinannya besar bagi pria dan wanita ... bertemu saat mandi di Heian. Akan tetapi, kau harus menghindari Pangeran Keempat setelah kau melihatnya," Jelas Kikyō, Kimiko bingung kenapa harus menghindarinya.
"M-menghindari dia? K-kenapa?" tanya Kimiko kebingungan dan gugup.
"Ibu kandungnya adalah Ratu Inu Kimi. Dia diadopsi oleh Selir Kekaisaran dari klan Minamoto di Asuka. Dia adalah pria yang kuat dengan dua keluarga. Dia terkenal sangat menakutkan dan kejam," cerita Kikyō panjang lebar.
Seolah dari cerita yang disampaikan menyeret keduanya ke masa lalu sang pangeran, yang membuatnya mendapat julukan "anjing-serigala". Di sebuah bukit yang tinggi di Asuka, beberapa orang memanggil "Pangeran" dengan membawa obor. Beberapa sudut tempat terlihat sudah terbakar, tiba-tiba dari atas turunlah Pangeran Sesshōmaru dengan membawa obor berjalan terhuyung-huyung karena kelelahan. Pakaian yang dikenakannya bersimbah darah bahkan wajah tampannya pun tak luput dari cipratan darah.
"Pangeran ... Pangeran ..." teriak beberapa pengawal.
Beberapa orang di bawah kaget melihat Pangeran Sesshōmaru bisa turun, bahkan salah seorang tak percaya melihat Pangeran Sesshōmaru masih hidup dan tidak mati.
"Dia tidak meninggal? Dia masih hidup?" kata salah seorang pengawal geram melihat pangeran keempat masih hidup.
Wajah pangeran keempat pun basah oleh peluh dan juga darah. Ia memilih berdiri sejenak di tebing yang tidak begitu tinggi. Pangeran Sesshōmaru melawan semua serigala dengan kobaran api lalu berteriak seperti seekor serigala yang sedang marah dan kemudian melempar sebuah obor yang tadinya ia gunakan sebagai penerang.
"Mereka mengatakan bahwa hobinya berburu binatang sejak ia masih muda. Ada juga desas-desus bahwa ia telah membantai semua serigala di seluruh penjuru Asuka," cerita Kikyō panjang lebar, "mereka juga mengatakan bahwa, ia juga membunuh orang dengan begitu mudah." Lanjut Kikyō, Kimiko yang mendengarnya pun langsung tersentak kaget.
"Terutama mereka yang telah melihat bekas luka di wajahnya," bisik Kikyō.
"Orang yang telah melihat bekas wajahnya?" sahut Kimiko kaget mengetahui tadi ia sempat melihat bekas luka di wajah Pangeran Sesshōmaru.
"Itu artinya, aku tadi sungguh hampir meninggal. Aku melihat wajahnya tanpa topeng," batin Kimiko panik.
Kikyō membantunya untuk mengeringkan rambut Kimiko yang basah, yang kini perlahan mulai kering.
"Dia tidak diizinkan untuk menginjakkan kakinya di Heian, jika dia bukan seorang pangeran." Kikyō mengalihkan pandangannya pada Kimiko yang terdiam, "lega rasanya," lanjut Kikyō.
Kimiko menoleh pada Kikyō yang duduk di sampingnya, "Kenapa?" tanyanya penasaran, "kau bahkan tidak boleh pergi kemana-mana jika ada bekas luka di wajahmu?" tanya Kimiko yang masih keheranan.
"Kau pikir bisa? Orang hanya menyukai wajah yang menarik," jawab Kikyō.
Kimiko berdecak tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Kikyō, "kau harus berpenampilan menarik jika ingin diperlakukan dengan baik meskipun di zaman Heian, ini masih sama saja dengan zaman sekarang. Dunia ini sungguh mengerikan," batin Kimiko keheranan karena tak ada perbedaan dengan penilaian di zaman modern tentang penampilan.
Kimiko hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mendesah bahwa kenyataan yang ada di zaman Heian masih terjadi di zaman modern seperti saat ini.
Kala tengah malam, Ratu Inu Kimi tengah berendam seorang diri di kolam yang penuh dengan kelopak bunga mawar merah. Jubah kebesarannya tergantung di sisi belakang, serta area pemandian yang digunakannya diterangi dengan cahaya lilin yang apinya ikut bergoyang kala angin mulai mendesah. Ia menenggak sake dari cawan yang ada di tangannya, pikirannya masih jauh menerawang.
Pangeran Naraku datang dengan mengenakan topeng untuk acara ritual, mengelilingi tempat duduk yang digunakan oleh Ratu Inu Kimi.
"Jika penurunan tahta tidak dilaksanakan, maka kita tidak harus buru-buru seperti sekarang ini," kata Pangeran Naraku dengan tersenyum simpul, "Dia selalu bersikap sok kuat dan apa yang akan terjadi jika dia meninggal?" lanjut Pangeran Naraku dengan membahas tentang putra mahkota seraya memainkan topengnya.
"Peluang seperti ini jarang terjadi. Kau harus menghabisinya selama ritual," ucap Ratu Inu Kimi duduk di bangku kebesarannya.
"Sudah kubilang, Ibu tidak perlu khawatir," ucap Pangeran Naraku menenangkan ibunya sambil mengenakan topengnya kembali, Ratu Inu Kimi menoleh padanya.
Melihat wajah anaknya yang tidak memakai topeng kembali, bayangan Ratu Inu Kimi tentang apa yang dibicarakannya dengan Pangeran Naraku beberapa hari yang lalu, seolah terbuyarkan melalui tatapan tajam anaknya sambil mengumbar senyum.
Tatapan mata Ratu Inu Kimi mencoba untuk menerawang kedepan, "Apakah putra mahkota yang akan menjadi satu-satunya yang mengusir roh-roh jahat?" batin Ratu Inu Kimi, kembali menenggak sake dari cawan untuk kedua kalinya.
Keesokan paginya, di istana mulai sibuk menyiapkan ritual kekaisaran. Para pengawal membawa patung naga besar dan juga singa ke dalam istana untuk ritual pengusiran setan yang bertujuan untuk menangkal roh jahat pada bulan purnama kedua belas tahun baru lunar. Lampion, bendera kebesaran, dan spanduk besar juga di pasang di istana keksairan dengan rapi.
Sementara itu, di kediaman Pangeran Hōjō, Kimiko tengah berdiri dengan menampilkan wajah yang bosan, para pelayan membantunya untuk memasangkan kimono berlapis. Ia menghela napas panjang.
"Apakah sudah selesai?" tanya Kimiko pada Kikyō.
"Belum," jawab Kikyō dengan menggelengkan kepalanya.
Tak berselang lama, Kimiko kembali bertanya pada para pelayan yang membantunya untuk berias, "Sudah?" tanyanya kembali.
Para pelayan hanya meresponnya dengan sebuah bungkukan badan dan mengumbar senyum. Seorang pelayan datang dengan membawa nampan yang berisi dengan hiasan surai. Ekspresi Kimiko berubah dan ia mengaduh kesakitan kala tusuk surai disematkan pada surainya yang telah ditata oleh para pelayan.
Banyak orang berlalu lalang di pasar tradisional dengan memakai topeng, seperti topeng yang akan digunakan dalam ritual keagamaan. Kimiko sempat tersandung kimono yang tengah digunakannya, dengan malas ia membersihkan kimononya yang kotor karena terinjak olehnya. Ia mengalihkan pandangannya pada seorang pedagang yang mengucapkan "selamat datang" pada segerombol wanita, dan tak berselang lama segerombolan pria terlihat menggunakan anting datang dan berbincang-bincang dengan para wanita tadi.
Ratu Inu Kimi dibantu para pelayan untuk mengenakan juni hitoe paling megah. Rambutnya pun ditata dengan rapi dan hati-hati yang kini terlihat kokoh nan menjulang tinggi. Anting, kalung, serta tusuk surai pun semuanya berbalut dengan emas murni. Para pelayan pun membantunya untuk mengenakan jubah kebesarannya sebagai ratu.
"Aku tidak ingin ada wanita lain yang bersinar lebih gemerlap dariku. Jika nanti ada ..." ucap Ratu Inu Kimi melihat penampilannya yang elegan di depan cermin, ia mengalihkan pandangannya pada para pelayan yang berjejer rapi di belakangnya yang berjarak beberapa langkah darinya, "aku rasa itu tidak akan ada," kata Ratu Inu Kimi tersenyum percaya diri.
Selir Agung Izayoi, bersama Sara naishinnō, dan Ayumi-sama memasuki area istana kekaisaran. Mereka bertemu dengan Ratu Inu Kimi yang baru saja keluar dari balainya diikuti para pelayan di belakang. Mereka menghaturkan hormat pada Ratu Inu Kimi dengan membungkukkan badan mereka.
"Tiga bunga telah mekar di istana," ucap Ratu Inu Kimi dengan senyumannya, perumpamaan yang terlontar dari bibirnya hanyalah sebuah sambutan yang tak jauh berbeda dari basa-basi, "Selir Agung Izayoi, kau hari ini lebih elegan," lanjut Ratu Inu Kimi dengan melihat penampilan Selir Agung Izayoi.
"Ratu Inu Kimi, Anda terlihat sangat cantik hari ini," puji Selir Agung Izayoi dengan memberikan senyuman lebar.
Ratu Inu Kimi tersenyum mendengar sanjungan yang ditujujkan kepadanya, "Sara naishinnō, jangan hanya mengunjungi ibumu, tapi kunjungi aku juga. ceritakan padaku kisah menyenangkan tentang dunia. Para pangeran tidak tahu apa-apa soal itu," kata Ratu Inu Kimi ramah.
"Aku khawatir keterampilan berbicaraku tidak cukup baik untuk menghiburmu. Tapi, aku akan segera mengunjungimu dan menyiapkan beberapa cerita menarik," jawab Sara naishinnō.
"Aku akan menunggu," jawab Ratu Inu Kimi, "haruskah kita masuk ke dalam?" lanjutnya dengan mengajak Selir Agung Izayoi, Sara naishinnō, dan juga Ayumi-sama.
"Ayo kita temui kaisar," ucap sang ratu pada para pelayan yang berjajar dengan rapi di belakangnya.
Senyum indah Sara naishinnō seketika sirna kala Ratu Inu Kimi pergi dari hadapannya diikuti dengan para pelayan setianya. Setelah melihat ekspresi yang tertampil pada wajah adik iparnya, Ayumi-sama langsung menggeggam tangannya untuk meredam kemarahannya. Selir Agung Izayoi pun mengalihkan pandangannya pada anak putrinya sejenak, kembali menatap kepergian sang ratu.
"Hanya berpapasan dengannya saja sudah membuat suasana hati berbeda," kata Selir Agung Izayoi.
Sara naishinnō melepaskan genggaman tangan kakak iparnya, "Aku khawatir, memikirkan ibu harus mengatasi itu semua sendirian di istana. Kakak harus berdiri di sisimu secepat mungkin," ujarnya kesal.
Mendengar itu, Ayumi-sama menghela napas, "Ini istana. Kau harus berhati-hati dengan perkataanmu," kata Ayumi-sama mengingatkan.
"Saudara iparmu benar. Kau masih mempunyai kekurangan. Alangkah lebih baik, jika kau lupa segalanya," kata Selir Agung Izayoi.
Sara naishinnō berdecak tak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh ibunya, "Hmmph, bagaimana mungkin aku bisa melupakan dendam seperti itu?"
Ayumi-sama hanya menatap dalam diam pada Sara naishinnō.
"Kenapa kau tak mengajak Kimiko?" tanya Selir Agung Izayoi sedikit menoleh pada Ayumi-sama, "Seluruh istana sudah tahu kekacauan apa yang telah diperbuatnya," lanjutnya dengan raut wajah yang datar.
"Dia telah banyak melakukan kesalahan semenjak terluka, jadi aku membiarkan dia untuk bersenang-senang sendiri," jawab Ayumi-sama.
Selir Agung Izayoi tersenyum dengan sedikit ia paksakan, lalu menghembuskan napas. "Aku mengerti. Ayo kita harus segera pergi, kaisar sudah menunggu," ajaknya agar mereka segera beranjak.
Layaknya seorang pimpinan yang memimpin pasukannya, Selir Agung Izayoi berada di depan diikuti oleh Sara naishinnō dan juga Ayumi-sama dan beberapa pelayan menuju balai kaisar.
Para pangeran telah selesai berlatih pedang. Putra mahkota sebagai pemimpin, ia berdiri di paling depan dan juga Pangeran Naraku menggunakan topeng yang berbeda, sementara yang lainnya menggunakan pakaian merah dengan topeng yang menutupi wajahnya berwarna merah pada sisi kanan dan putih pada sisi kiri.
Putra Mahkota membuka topengnya, "Kaisar akan bangga melihat kalian semua di sini. Setelah upacara ritual ini selesai, kita akan mengadakan pesta besar," ucapnya berapi-api.
Para pangeran pun juga melepaskan topengnya dan menampilkan wajah tampan mereka yang dipenuhi dengan keringat. "Ya, Putra Mahkota," jawab para pangeran secara serempak.
Pangeran Kōga segera menghampiri Pangeran Hōjō yang sedang mengusap keringat dari dahinya, menoleh pada Pangeran Kesepuluh, "Aniki, akankah istrimu dan Kimiko ikut menghadiri upacara itu juga?" tanya Pangeran Kōga penasaran.
"Aku rasa begitu," jawab Pangeran Hōjō.
"Bgeitukah?" kata Pangeran Kōga terlihat senang mendengarnya.
"Kenapa? Apa kau mau dipukuli lagi karena menjadi penampil terburuk kali ini?" ejek Pangeran Bankotsu.
"Tidak. kali ini aku ingin menceramahinya," kata Pangeran Kōga kesal, namun sedikit salah tingkah.
"Apa kau mau mendapatkan mata lebam lagi?" ejek Pangeran Naraku.
Pangeran Sesshōmaru yang mendengarnya pun menoleh. Setelah mendengar ejekan dari Pangeran Naraku, Pangeran Kōga hanya mampu tertunduk yang menimbulkan gelak tawa semua pangeran. Pangeran Inuyasha sengaha mengejek dengan tertawa tepat di samping telinga Pangeran Kōga. Di sisi lain, Pangeran Sesshōmaru mengerucutkan bibirnya tertunduk, sambil mengayunkan pedang kayu yang dipakainya untuk latihan ke kiri dan ke kanan.
"Jangan tertawa!" kata Pangeran Kōga marah, memperingatkan Pangeran Inuyasha untuk tidak menertawakannya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pangeran Inuyasha malah tertawa semakin menjadi tepat di depan Pangeran Kōga.
"Aku bilang jangan tertawa!" teriak Pangeran Kōga pada Pangeran Inuyasha, kemudian mengejarnya seperti anak kecil yang berebut mainan dengan mengelilingi Pangeran Miroku.
"Kemari kau!" teriak Pangeran Kōga.
Keduanya kembali adu dada dan Pangeran Kōga berpura-pura terjatuh kesakitan.
"Ouch! Ouch!" erang Pangeran Kōga berulang kali dengan suara yang dibuatnya lebih dramatis.
"Aniki! Aniki! Kau tidak apa-apa?" tanya Pangeran Inuyasha panik melihat sang kakak kesakitan sambil menghampiri Pangeran Kōga yang tergeletak di lantai tempat mereka berlatih pedang.
"Aku sudah menangkapmu sekarang," kata Pangeran Kōga langsung menjepit tubuh adiknya dengan kakinya, karena Pangeran Inuyasha telah terperangkap jebakan —benar-benar seperti anak kecil— yang dibuatnya, "Kau masih bukan tandinganku," lanjutnya dengan menarik suikan yang dikenakan oleh Pangeran Inuyasha, sedangkan yang tubuhnya dijepit malah mengaduh kesakitan dan tak berselang lama ia berhasil meloloskan diri dari cengkeraman kuat sang kakak. Semuanya hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua pangeran yang masih berperilaku layaknya anak kecil.
"Berani sekali kau bersikap seperti itu terhadap kakakmu?" kata Pangeran Kōga saat Pangeran Inuyasha telah lepas, mereka kembali beradu dada dan saling mengejar layaknya seekor kucing dan tikus.
Pangeran Sesshōmaru yang biasanya terlihat dingin pun ikut tersenyum, dan momen langka itu disaksikan oleh adiknya, Pangeran Hōjō.
"Hentikan kalian berdua!" kata Putra Mahkota Nakashimaru.
Ketika ia menyadari sang adik menatapnya saat ia tersenyum, Pangeran Sesshōmaru pun kembali memasang wajah dinginnya. Pangeran Hōjō terus menatap kakaknya dengan mengumbar senyumnya.
"Ouch! Hei!" teriak Pangeran Kōga yang masih kejar-kejaran bersama Pangeran Inuyasha.
Beberapa orang datang, menuruni tangga dengan mengenakan topeng yang menutupi wajah mereka beserta pakaian hitam. Pangeran Naraku melirik kedatangan mereka hingga semua rombongan orang bertopeng itu pergi dan setelah itu ia kembali fokus pada para pangeran.
Di sebuah tempat tersembunyi di salah satu sudut istana kekaisaran, terlihat Putra Mahkota Nakashimaru menukar topeng miliknya dengan milik Pangeran Sesshōmaru. Pangeran Sesshōmaru menerima topeng yang diberikan oleh kakaknya itu dan segera mengenakan topeng yang berbentuk Bangshangshi —karakter monster pemburu dalam ritual pengusiran roh jahat, yang seharusnya dikenakan oleh putra mahkota. Pangeran Sesshōmaru juga mengenakan kostum yang seharusnya dikenakan oleh Putra Mahkota, pertukaran tersebut pun disaksikan oleh Sang Ahli Perbintangan Totosai yang bertugas menjadi saksi peristiwa bertukarnya posisi tersebut.
Langkah demi langkah telah dipijak Pangeran Sesshōmaru menuju tempat dilaksanakannya ritual keagamaan ini. Tepat saat itulah acara dimulai dengan ditandai Pangeran Sesshōmaru dengan membawa tombak besar beserta tameng. Topeng yang berukuran besar dengan menampilkan karakter pemburu raksasa yang bertindak sebagai perwakilan upacara, topeng serta kostum yang seharusnya dikenakan oleh Putra Mahkota.
Kaisar duduk di singgasana paling tinggi ditemani oleh ratu dan juga selir agung. Sara naishinnō dan Ayumi-sama berdiri di samping selir agung. Pangeran Sesshōmaru melakukan gerakan memutar tubuhnya tiga kali dan tombak besar yang dibawanya ia arahkan pada kelir. Cahaya menyoroti kelir, menampilkan siluet tiga orang yang berdiri di baliknya melakukan tarian yang telah mereka latih beberapa waktu. Dalam hitungan detik, cahaya kembali padam, kelir terbuka dan menampilkan sosok jinja —para pangeran yang merayakan ritual—. Datanglah Changsoo —sekumpulan manusia yang membacakan mantra untuk menangkis roh jahat— yang diperankan oleh Pangeran Naraku dengan topeng yang berbeda dari yang dikenakan oleh para pangeran lainnya.
Ratu Inu Kimi terlihat tegang, sedangkan kaisar terlihat tersenyum melihat penampilan para pangerannya. Para pangeran telah selesai menampilkan gerakan pembukaan untuk ritual pengusiran roh jahat. Totosai menghaturkan hormat dan membungkukkan badan.
"Para jinja sudah berkumpul. Mereka sekarang akan mengusir roh jahat," teriak Totosai memberikan laporannya pada kaisar.
Kaisar mengangkat tangan kanannya dan terdengarlah tabuhan taiko berukuran besar sebanyak tiga kali, seolah mendapatkan persetujuan dari sang kaisar, para pangeran pun memperlihatkan gerakan yang telah mereka pelajari saat berlatih pedang untuk acara ritual yang diiringi dengan tabuhan taiko. Sara naishinnō dan Ayumi-sama pun ikut senang melihat ritual yang dilakukan para pangeran.
Datanglah beberapa orang dari atap istana, seperti digambarkan roh jahat. Mereka menyerang Pangeran Sesshōmaru, namun dengan mudah Pangeran Sesshōmaru bisa melawannya dengan melakukan gerakan bela diri.
Melihat kemampuan Pangeran Sesshōmaru yang menggunakan kostum Putra Mahkota tanpa orang lain sadari kecuali Putra Mahkota Nakashimaru dan juga Totosai, Selir Agung Izayoi memberikan pujian padanya, "Putra Mahkota sangat baik dalam perannya," puji Selir Agung Izayoi melihat kepiawaian Pangeran Sesshōmaru.
"Dia sudah terbiasa tinggal di medan perang," jawab Kaisar Inu no Taishō bangga.
Gerombolan orang mengenakan topeng yang memerankan roh jahat pun terus berusaha menyerang Pangeran Sesshōmaru, namun sekali lagi dengan mudahnya Pangeran Keempat yang dijuluki dengan sebutan 'anjing-serigala' itu menumpas semuanya, Ratu Inu Kimi terlihat tegang dan khawatir menyaksikan acara ritual keagamaan pengusiran roh jahat itu, sesekali ia mengalihkan pandangannya ke samping agar orang lain tidak mengetahui bahwa dirinya tengah gugup. Ia tak ingin kegugupannya diketahui oleh orang lain, ia tak mengizinkannya.
Sementara Kimiko dan Kikyō jalan-jalan di pasar dengan kemeriahan atraksi yang dibuat oleh rakyat biasa, Kimiko takjub melihat atraksi-atraksi yag ia saksikan bersama Kikyō, kata "luar biasa" terlontar dari bibirnya berulang kali saat melihat atraksi penyemburan api dari mulut seorang pria. Semua terlihat membuat perayaan sendiri untuk mengusir roh jahat dengan membuat pesta. Kimiko dan Kikyō menari-nari mengikuti irama taiko yang dimainkan dengan berkeliling, Kimiko terlihat menari mengikuti sebuah gerakan topi yang di atasnya terdapat seperti antena bunga, bunga tersebut nampak bergoyang-goyang akibat gerakan yang dilakukan oleh pemakainya.
Di istana, ritual keagamaan masih berlangsung. Putra mahkota digambarkan seperti bisa mengalahkan roh jahat yang diwakili oleh orang yang mengenakan pakaian serba hitam berjumlah enam orang dengan tombaknya seorang diri. Saat itu, datang Pangeran Naraku dengan pedang tajamnya yang diarahkannya pada salah seorang yang digamabrkan sebagai roh jahat itu sambil berseru dengan lantang, "Monster saleh mengalami bekas luka. Lambung menerima obat. Minyak beruang pemakan roh. Cahaya menelan Budha. Kami akan memanggil dua belas dewa dan membersihkan roh-roh jahat dan penyakit. Aku akan memotong tubuhmu." Pangeran Naraku berpaling, ia berjalan berhadapan dengan Putra Mahkota, "aku akan menembus hatimu dan mengiris dagingmu. Aku akan mengeluarkan perut dan ususmu." Lanjutnya.
Ratu Inu Kimi kagum dengan peran yang dimainkan oleh Pangeran Naraku, sudut bibirnya sebelah kanan sedikit terangkat untuk beberapa saat, tak lama kemudian pandangannya teralihkan ke arah sisi kanan. Baik putra mahkota—Sesshōmaru dan Pangeran Naraku, menengadahkan kepalanya ke atas, sekelompok orang datang dari atas dan berusaha menyerangnya. Mengetahui hal tersebut, Selir Agung Izayoi maupun Totosai membelalakkan matanya, Totosai mengarahkan pandangannya pada kaisar. Kaisar Inu no Taishō yang nampak kaget, tak jauh berbeda dengan Totosai, ia menyaksikan secara langsung sekelompok orang berpakaian hitam dengan mengenakan topeng itu menyerang anaknya menggunakan pedang tepat di depan matanya. Pangeran Sesshōmaru mencoba untuk menghalaunya dengan mengarahkan tamengnya di depan, tameng itu mampu menahan serangan lawan untuk sementara waktu sebelum pedang tajam itu menembus dadanya.
Ketika sekelompok orang tak dikenal itu secara bersamaan mengeluarkan pedang untuk kembali menyerang Pangeran Sesshōmaru yang sedang mengenakan kostum milik putra mahkota, Totosai berteriak dengan suara lantang kepada pengawal istana, "Lindungi kaisar!"
Dengan sigap, Totosai berlari menuju kaisar melewati beberapa anak tangga, diikuti dengan para pengawal istana yang langsung bergerak untuk melindungi sang pemimpin negeri itu. Di bawah, Pangeran Keempat dengan lihai ia menarik pedang yang menancap di tamengnya, dengan gerakan cepat yang tak dapat diprediksi oleh lawan, pedang tersebut sudah menggores leher lawan dengan luka yang cukup dalam. Para pengawal istana langsung berdiri tepat di depan kaisar dan keluarga kekaisaran lainnya yang berada di singgasana atas untuk melindunginya. Pangeran Hōjō dan Inuyasha melepaskan topengnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di bawah sana. Pangeran Sesshōmaru terus menyerang lawan, lawan tak gentar sedikit pun, ia tak segan-segan menghunuskan pedangnya pada Sesshōmaru.
Pangeran Kōga dan Bankotsu akhirnya ikut melepaskan topeng mereka saat melihat orang yang menyerang putra mahkota, Selir Agung Izayoi, Ayumi-sama, dan Sara naishinnō langsung berdiri, wajahnya tegang melihat apa yang terjadi di bawah, saat orang tak dikenal mencoba untuk menyingkirkan putra mahkota. Pangeran Kōga memilih untuk bersembunyi di balik badan Pangeran Inuyasha, tapi Pangeran Inuyasha langsung melepaskan tangan Pangeran Kōga dan ia turun ke medan perkelahian, membantu sang kakak. Adegan perjkelahian yang tadinya hanyalah sebuah atraksi dalam ritual keagamaan, kini berubah menjadi kenyataan. Para pangeran langsung membentuk sebuah lingkaran bersama putra mahkota. Keadaan menjadi lebih tegang dan mencekam, kala seorang mencoba menyerang para pangeran, Pangeran Hōjō langsung mengayunkan pedangnya untuk menyerang, semua pangeran akhirnya benar-benar terlibat dalam perkelahian dengan sekelompok orang tak dikenal yang mengenakan pakaian serba hitam dan juga topeng.
Sekelompok orang itu juga tak segan-segan mengayunkan pedang mereka pada para pangeran yang ikut menyerangi mereka, pada awalnya mereka seolah memimpin perkelahian itu. Namun, para pangeran berhasil mengalahkan para lawan untuk beberapa menit awal. Salah seorang mencoba untuk menyerang putra mahkota, namun dengan mudah pedang itu kembali ditangkisanya, kini ada orang yang mencoba untuk menyerang Pangeran Naraku, namun, ia berhasil membuat lawan untuk mundur dengan mengarahkan pedangnya di leher lawan. Pangeran Naraku dengan topengnya, ia bersekongol dengan orang yang berpura-pura menyerangnya barusan. Ratu Inu Kimi terlihat tegang, kala salah seorang yang menyerang Pangeran Naraku itu beralih menyerang putra mahkota.
Ketika Pangeran Sesshōmaru berusaha untuk melawan, tiba-tiba datanglah Pangeran Naraku di hadapannya, berpura-pura untuk menghalang lawan agar tidak menyerangnya, namun di sisi lain ia terus mendorong Pangeran Keempat ke belakang. Tiba-tiba, dari arah belakang, dua orang mencoba untuk kembali melukainya, dengan gerakan yang tangkas, ia berhasil menghindar. Di belakangnya, Pangeran Naraku memberikan anggukan ke salah satu orang tak dikenal itu, membelokkan pedang yang ada ditangan mereka untuk diarahkan pada putra mahkota—Sesshōmaru seolah itu adalah sebuah kecelakaan yang tidak bisa ia hindari karena ia tidak bisa mengendalikan pedangnya dengan baik. Lengan Pangeran Sesshōmaru terluka dan darah bercucuran dari sana.
"Nakashimaru!" teriak kaisar dengan panik melihat putra mahkota yang terluka.
Selir Agung Izayoi dan yang lainnya kaget melihatnya, sementara Pangeran Sesshōmaru memegangi lengannya karena rasa sakit, Ratu Inu Kimi hanya diam, namun wajahnya nampak begitu tegang melihatnya. Salah seorang ingin langsung membunuh putra mahkota dengan melompat ke arahnya, Pangeran Sesshōmaru yang terduduk kesakitan hanya mampu mengalihkan pandangannya akan kedatangan lawan yang ingin menghunuskan pedang ke arahnya. Akan tetapi, salah seorang pangeran yang masih mengenakan topengnya mencoba untuk menghalaunya agar tidak melukai Sesshōmaru. Sebuah gerakan cepat dan mantap dari pedang yang ada di genggaman pangeran itu akhirnya patah saat ia memukulkannya ke leher lawan. Kaisar akhirnya memutuskan untuk turun, ingin melihat keadaan sang putra mahkota, napas para pangeran tak beraturan, dan sekelompok orang yang tak dikenal langsung kabur melalui atap istana begitu kaisar turun.
Semua pangeran langsung menengadahkan kepalanya, melihat ke arah sekelompok orang itu kabur, Pangeran Naraku langsung membuka topengnya seolah memeprlihatkan betapa kecewanya dia karena tak bisa mengalahkan sekawanan orang berpakaian hitam yang mencoba menyerang para pangeran selama ritual keagamaan. Pangeran Sesshōmaru masih dalam posisi terduduk, memegangi lengannya yang sakit, Pangeran Naraku yang melihatnya langsung nampak gelisah karena rencananya untuk membunuhnya gagal.
Para pengawal istana datang terlambat dengan membawa tombak yang ujungnya runcing, mencoba menggerakkan tombaknya seolah di depan mereka masih ada musuh, namun gerakan mereka terlihat ragu dan ketakutan.
"Tangkap mereka! " perintah Pangeran Naraku dengan berteriak.
Pangeran Naraku langsung berlari memimpin para pengawal istana untuk mencari sekelompok orang itu. Pangeran Hōjō berlari ke depan, tapi ia sudah ketinggalan kakaknya yang sudah terlebih dahulu berlari bersama beberapa pengawal istana. Ia mengedarkan pandangannya segala arah, dan pandangannya terhenti untuk waktu yang cukup lama pada putra mahkota yang masih memegangi lengannya kesakitan.
"Pengawal istana, ikuti aku!" teriaknya memberi perintah. Ia memimpin sebuah pencarian ke luar istana.
"Putra mahkota!" teriak Kaisar Inu no Taishō dengan panik. Ia turun bersama Totosai dan diikuti beberapa pengawal istana untuk melihat keadaan putra mahkota setelah kejadian yang melukai lengannya.
"Nakashimaru!" panggil kaisar dengan panik, ia memegangi kedua lengan putra mahkota dan berjongkok di hadapanya untuk memastikan putra mahkota baik-baik saja.
Pangeran yang ada di hadapannya tidak memberikan respon apapun, ia langsung membuka topeng yang dari tadi menutupinya. Alangkah kagetnya sang kaisar saat melihat wajah Pangeran Sesshōmaru, bukan Putra Mahkota Nakashimaru yang mengenakan topeng tersebut dan diserang oleh orang tak dikenal, Pangeran Sesshōmaru mengalihkan pandangannya pada sang putra langit.
"Kau ... kau Pangeran Keempat," ujar kaisar dengan gugup.
Ratu Inu Kimi kaget melihat bahwa yang terluka bukanlah putra mahkota, melainkan Pangeran Sesshōmaru.
Semua orang terbelalak mengetahui hal tersebut. Kaisar Inu no Taishō langsung bangkit, "Dimana putra mahkota?" tanyanya dengan berteriak panik ke seluruh arah. Melihat apa yang ada di hadapannya, Pangeran Sesshōmaru tak habis pikir dengan ayahnya, bukan dirinyalah yang dikhawatirkan jika terluka, melainkan putra mahkota.
"Dia dimana?" teriaknya masih mencari putra mahkota kebingungan.
Pangeran Sesshōmaru menghembuskan napas berat, seseorang datang dengan kostum merah dan putihnya, memilih berdiri di belakang Sesshōmaru yang masih terduduk ternganga.
Orang yang berdiri di belakang Pangeran Sesshōmaru akhirnya melepaskan topengnya, ia menghadap ke arah kaisar dan berseru, "Aku di sini, Yang Mulia."
Kaisar tak bisa berkata-kata lagi melihat anaknya yang dicarinya itu selamat, tak terluka sedikit pun, justru mengenakan kostum serta topeng yang telah ditukar dengan Pangeran Keempat. Pangeran Sesshōmaru menundukkan kepala kecewa. Di singgasana, Ratu Inu Kimi terduduk lemas karena rencananya gagal untuk membunuh putra mahkota, bahkan kostum yang harusnya dikenakan oleh putra mahkota telah digantikan oleh Pangeran Keempat.
"Kau baik-baik saja, Pangeran Keempat?" tanya Totosai perhatian karena lengannya terluka akibat tergores pedang lawan.
Kaisar menundukkan kepala, melihat Pangeran Keempat yang hanya menundukkan kepala dan terdiam untuk beberapa waktu lamanya. Pangeran Sesshōmaru bangkit, berdiri menghadap kaisar dengan mata yang berkaca-kaca.
Menyadari apa yang dilakukannya beberapa saat yang lalu, kaisar menghembuskan napasnya berat, seolah ia baru saja berlari mengelilingi istana kekaisaran, ia mencoba untuk mengatur pernapasannya, "Sesshōmaru ..." panggilnya lemah saat ia menatap mata anaknya yang berkaca-kaca.
Pangeran Sesshōmaru yang mengamati ayahnya dengan mata berkaca-kaca, ia menelan ludahnya dan menundukkan kepalanya, "Aku akan menangkap mereka," ujarnya dengan nada yang lemah. Seolah itu sebuah kata pamitan yang ia lontarkan kepada kaisar, ia langsung berlari ke luar istana.
Kaisar masih berdiri mematung di tempat yang sama, saat Sesshōmaru berlari keluar, Pangeran Inuyasha hanya memandang punggung kakaknya yang perlahan tenggelam dalam kegelapan. Kaisar masih berkutat pada pikiraannya, ia masih terguncang karena ada orang yang ingin melukai putra mahkota, tapi Pangeran Keempat mau bertukar tempat untuk menggantikan sang kakak. Putra Mahkota Nakashimaru ingin ikut mengejar, ketika ia menggenggam pedang di tangannya dan bersiap untuk berlari menyusul sang adik yang sudah pergi untuk mengejar lawan, kaisar mencoba untuk menahannya agar tak ikut.
"Putra mahkota ..." panggil kaisar, nadanya penuh dengan penekanan dan larangan agar sang calon penerus tahta untuk tidak ikut ke luar istana. Kaisar menggenggam erat tangan putra mahkota, dan menatapnya.
Di luar istana kekaisaran
Lampion-lampion yang dibuat dengan bentuk unik, terlihat cantik menghiasi sungai malam itu dengan bulan sabit yang menggantung di langit. Kimiko dan Kikyō berlari menuju pinggir sungai, lebih tepatnya mendatangi sebuah lampion berbentuk ikan. Di sisi lain, ada lampion yang sengaja dibuat menyerupai bentuk bunga, naga, bangau, dan istana. Kikyō juga tak kalah senang melihat kemeriahan di malam hari dengan lampion-lampion yang berjejer dengan rapi.
"Lihat sebelah sana!" seru Kagome menunjuk dengan jari telunjuk kananya setelah melihat sebuah lampion yang sengaja dibentuk menyerupai naga, "di sana juga!" lanjutnya saat ia melihat beberapa lampion berbentuk bunga teratai yang mengapung di air.
"Juga sebelah sana," timpal Kikyō dengan menunjuk sebuah lampion yang menyerupai miniatur istana.
Pangeran Sesshōmaru berlari melalui pasar untuk mengejar ketertinggalannya, untuk menangkap segerombol orang yang hampir melukai putra mahkota. Langkahnya terhenti kala ia melihat banyak orang yang mengenakan topeng, sehingga ia tidak bisa mengenali mana orang yang mengenakan topeng dan sengaja menyerang putra mahkota. Ia mengalihkan pandangannya ke atap, dan beberapa detik kemudian ia memilih untuk naik ke atap, ia melihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam dan topengnya berlari di atap layaknya ninja. Lima orang turun dari atap, dan Pangeran Sesshōmaru kembali berlari untuk mengejarnya, semua orang yang melihat kejadian itu hanya diam dan mengawasinya, setelah itu berbisik-bisik, saling bertanya satu sama lain 'apa yang sebenarnya terjadi?'
Kimiko sangat bersemangat berlari ke sana kemari melihat semua barang yang dijajakan oleh penjual, ketika ia melihat payung yang terbuat dari kertas berwarna merah, ia mencoba untuk membukanya dan kata "Wow ..." keluar dari bibirnya karena ia lagi-lagi dibuat takjub. Ia berlari lagi ke pedagang yang lain dengan menyeret tangan Kikyō menuju seorang penjual makanan, ia kembali takjub, dan penjual itu menyodorkan dua makanan yang disajikan dengan ditusuk kepada Kimiko dan juga Kikyō.
"Madu atau gula?" tanya Kimiko pada Kikyō antusias.
"Satu ... dua ... tiga ..." Kimiko dan Kikyō menghitung bersama, "madu!" seru mereka bersamaan.
"Tentu saja!" Kimiko dan Kikyō melakukan tos dengan riang gembira.
Mereka berdua kembali bersenang-senang dengan membeli makanan di salah satu pedagang yang menjual beberapa makanan ringan.
"Berapa ini?" tanya Kikyō pada penjual mengenai harga yang dipatoknya, Kimiko yang sudah tidak sabar pun akhirnya memakan makanan itu, ketika ia merasakan makanan itu enak, ia terus mengambil makanan yang berbeda bentuk dan rasa ke mulutnya. Setelah selesai menyantap kudapan itu, Kimiko kembali berlari, Kikyō hanya bisa berlari di belakang Kimiko, Kimiko takjub akan sesuatu yang belum pernah dilihatnya, dan menarik lengan Kikyō untuk berlari lagi menuju suatu tempat yang tidak diketahui oleh Kikyō ke mana tuannya akan mengajaknya pergi.
"Mari kita istirahat sejenak," rengek Kikyō mencoba menghentikan Kimiko di depan sebuah lampion yang menyerupai istana. Kikyō memilih duduk dengan meluruskan kakinya, "pada tingkat ini, aku tidak akan bisa menikah. Tubuhku mengerut," rengek Kikyō lagi seolah ia meminta sebuah mainan pada Kimiko, namun Kimiko tak membelikan mainan yang diinginkan oleh Kikyō.
"Kau jauh lebih muda dariku. Kenapa kulitmu mengerut?" jawab Kimiko, senyuman lebar menghiasi wajah cantiknya, ia membalikkan badan, mengamati lampion yang berbentuk istana.
"Kita hanya beda satu tahun," ujar Kikyō kesal.
Terkejut mendengar apa yang baru saja terlontar, ekspresi Kimiko dalam waktu singkat juga ikut berubah, "Oh, benarkah?" Ia tak pernah menyangka bahwa umur mereka hanya terpaut satu tahun saja.
Kikyō tak menjawab, kala Kimiko mengalihkan pandangannya sekilas, ia memberikan sebuah respon kesal dengan mulutnya itu. Kimiko kembali mengamati lampion tersebut, pandangannya teralihkan kala ia melihat Pangeran Sesshōmaru berlari di antara pepohonan yang ada di seberang. Pangeran Sesshōmaru menghentikan langkahnya, napasnya terengah-engah, dari kejauhan, Kimiko terus mengamatinya, menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh!"
Pangeran Sesshōmaru kembali berlari untuk mengejar sekelompok orang yang menyerang putra mahkota. Melihat itu, Kimiko kebingungan sendiri dan menatap Kikyō yang masih kelelahan.
"Kikyō, tunggu di sini!" ujarnya, Kimiko langsung berlari.
Kikyō langsung bangkit ketika Kimiko mulai berlari entah ke mana, "Hime-sama! Kimiko-sama!" panggilnya, namun percuma saja, karena ia sudah kehilangan jejak Kimiko dalam hitungan detik.
Beberapa orang berpakaian hitam yang dikejar oleh Pangeran Sesshōmaru terus berlari mencoba menghindari kejaran pangeran yang mendapat julukan 'anjing-serigala' itu. setelah menghentikan langkahnya untuk sesaat, Sesshōmaru kembali berlari mengikuti kelompok tersebut. Kimiko langsung berlari ke arah yang sama dengan yang diambil oleh Pangeran Keempat, ia mencoba mengikuti Pangeran Keempat memasuki hutan.
Pangeran Sesshōmaru terus berlari mengejarnya. Kimiko terlihat kehilangan arah, ia mengedarkan pandangannya, mencoba ke arah mana Pangeran Keempat berlari, gesekan-gesekan antara alas kaki sekelompok orang terdengar dari beberapa arah.
Seorang berpakaian hitam dengan topengnya tiba-tiba saja datang di hadapan Pangeran Sesshōmaru kala ia mencoba untuk mengejar segerombol orang dengan pakaian yang sama, orang tersebut langsung mengayunkan pedang ke arah pangeran Sesshōmaru seolah meghalau agar Pangeran Sesshōmaru tidak dapat menggapai beberapa orang yang berlari itu—sebuah pengalihan. Kimiko terus berjalan menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Pangeran Sesshōmaru. Orang yang mencoba untuk menghentikan Pangeran Keempat dari pengejaran itu mencoba mengayunkan pedangnya ke wajah Pangeran Sesshōmaru, namun dengan mudah dihindari oleh sang pangeran. Ayunan demi ayunan pedang terdengar nyaring di hutan yang luas itu, hingga kahirnya pedang keduanya saling berbenturan.
Kimiko nampak kebingungan di tengah hutan. Pangeran Sesshōmaru mencoba mengayunkan pedangnya pada lawan, namun pedangnya ditangkis menggunakan pedang yang diletakkan di depan tubuh lawan. Pangeran Sesshōmaru menendang dada lawan, sehingga mampu memukul mundur lawan untuk sesaat, gerakan berikutnya pun berujung pada tendangan lagi pada sang lawan, hingga akhirnya ia menodong lawan dengan pedang miliknya.
Setelah ia kehilangan arah, Kimiko memutuskan untuk terus berjalan, hingga akhirnya ia melihat sekelompok orang mengenakan pakaian serba hitam dan topeng berbaris dengan rapi di hadapan seseorang pria yang berjalan mondar-mandir. Kimiko terus mengamatinya di balik bambu, beberapa orang yang berbaris rapi itu langsung berjongkok, memberikan hormat pada sang pimpinan, di belakang mereka terlihat tiga orang berdiri. Kimiko mengamati orang tersebut satu per satu, semua orang mengenakan topeng, ekcuali sang pimpinan yang hanya kelihatan punggungnya, dan tiga orang pengawal yang beridir tegap di belakang.
Para pengawal yang berdiri itu langsung menebas pedang pada sekelompok orang itu dari arah belakang. kimiko benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya, sebuah pembunuhan yang ia saksikan secara langsung terjadi dengan sangat cepat, ia membekap mulutnya agar pekikan suaranya tidak bisa lolos dengan mudahnya. Dua orang pengawal yang tadinya berdiri tegap di belakang dan sudah melakukan pembunuhan, mereka maju, kembali menghunuskan pedangnya dari belakang, tinggalah seorang yang masih belum terbunuh. Orang itu terlihat kebingungan kala rekan-rekannya yang patuh terhadap perintah meninggal di hadapannya, tak berapa lama seorang pengawal berdiri di belakangnya dan sebuah pedang yang menebas ke tubuhnya dengan cepat.
Darah segar muncrat ke sebagian wajah Pangeran Naraku—selaku pimpinan dari kelompok yang menyerang putra mahkota—dan dalam sekejap orang itu langsung limbung di hadapan Pangeran Naraku. Kimiko yang terkejut akan pembunuhan yang berlangsung tak kurang dari sepuluh menit itu mengambil langkah mundur perlahan, Pangeran Naraku yang akan menghapus bekas noda darah itu mengehntikan aktivitasnya, saat gesekan antara alas kaki dan dedaunan itu terdengar jelas di telinganya. Ia merasa ada yang mengamatinya, menengok ke belakang untuk mengecek apakah benar ada orang yang mengamatinya sejak tadi, namun tak ada seorang pun di belakangnya. Seorang pengawal yang dari tadi berdiri dan tidak ikut serta dalam menghabisi orang berpakaian serba hitam dan bertopeng itu pun berjalan merangkak ke arah Pangeran Naraku.
Pangeran Naraku mengamati pergerakan pengawal itu hingga sampai di depan kakinya dan bersujud, meminta ampunan darinya. Dengan kakinya ia langsung menendang orang itu, orang tersebut langsung jatuh tergeletak di atas tumpukan mayat. Melalui tatapan matanya, Pangeran Naraku memberikan perintah kepada dua pengawal yang sudah menghabisi sekelompok orang dalam waktu singkat itu untuk kembali menghunuskan pedangnya pada orang yang baru saja ia tendang dari hadapannya. Kedua pengawal itu langsung paham dengan maksud Pangeran Naraku, walaupun tidak ada titah yang keluar dari bibirnya. Mereka langsung menghunuskan pedang itu pada orang yang tergeletak di atas tumpukan mayat, memastikan gerakan mereka itu akan menimbulkan luka yang dalam dan membuat orang tersebut langsung meninggal dalam hitungan detik.
Pangeran Sesshōmaru menodong orang yang ingin menyerangnya itu dengan pedangnya. Tatapannya yang tajam tak terbuyarkan oleh apapun, hasratnya untuk menghabisi orang tersebut tergambar dengan amat jelas di iris matanya.
"Kau pikir kau akan keluar hidup-hidup dari dalam hutan?" tanya Pangeran Sesshōmaru mengancam, lawan yang mendengar itu mencoba mengulur waktu dengan bergerak ke arah samping, "beritahu aku, siapa dalang dibalik semua ini? Jika kau melakukannya, aku akan berbicara dengan kaisar tentang pengampunan untukmu," lanjutnya dengan melakukan negosiasi.
Pangeran Sesshōmaru menurunkan pedangnya. Orang tersebut tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, tetap saja menaikkan pedangnya yang diarahkan ke pangeran dengan waspada.
Tanpa rasa takut sedikit pun yang tergambar di wajah Pangeran Sesshōmaru, tatapn tajamnya itu tak berkedip sama sekali, "Aku Pangeran Keempat, Sesshōmaru." Pangeran Sesshōmaru terus berjalan menuju pria bertopeng itu, "Percaya atas janji yang dibuat oleh pangeran," lanjut Pangeran Sesshōmaru terus berjalan mendekat.
Pria bertopeng itu nampak goyah, ia menundukkan kepalanya, mulai menimbang-nimbang tentang penawaran yang diajukan oleh Pangeran Sesshōmaru. Pangeran Sesshōmaru tersenyum puas kala melihat pria yang berada di hadapannya gemetar ketakutan, ia percaya bahwa pria itu akan setuju dengan apa yang dilakukannya. Pria itu memberikan isyarat untuk berhenti dan memberikannya waktu untuk berpikir pada sang pangeran, namun tiba-tiba Kimiko datang dengan gugup.
"Ah ..." hanya itu yang keluar dari bibir Kimiko kala Pangeran Sesshōmaru kaget dengan kehadiran Kimiko, padahal pria bertopeng yang ada di hadapannya nyaris setuju melakukan apa yang dikatakannya.
"Sebelah sana ... ada orang ..." ujar Kimiko mencoba memberitahu Pangeran Sesshōmaru.
Pria yang ada di hadapan Pangeran Sesshōmaru mengalihkan pandangannya pada Kimiko, beralih ke Pangeran Sesshōmaru, dan ia beralih memandang Kimiko kembali. Menyadari apa yang akan terjadi, Pangeran Sesshōmaru mencoba untuk berlari ke arah Kimiko. Namun, terlambat. Dengan gerakan yang tangkas, pria itu langsung menyandera Kimiko menggunakan pedangnya yang ia letakkan di leher Kimiko.
"Ah! Ah! " teriak Kimiko melihat pedang yang dipegang oleh pria itu diletakkan di lehernya, tubuh Kimiko terhuyung ke belakang layaknya bersandar pada tubuh pria yang menyanderanya.
Berjarak beberapa langkah dari Kimiko, Pangeran Sesshōmaru terus mengamatinya.
"Bunuh dia!" perintah Pangeran Sesshōmaru pada pria yang menyandera Kimiko, Kimiko tekejut mendengar apa yang terlontar dari bibir Pangeran Keempat tersebut, matanya terbelalak.
"Aku bilang bunuh dia!" Mata Kimiko masih terbelalak, namun ia terus memperhatikan Pangeran Sesshōmaru yang acuh, bukannya segera menolongnya, "jika kau tak mau, haruskah aku?" lanjutnya dengan tersenyum dan matanya berseringai.
Dengan tatapan tajam dan serius, Pangeran Sesshōmaru langsung mengangkat pedangnya kembali, mengarahkan pedangnya pada Kimiko yang masih diam tak berkutik di bawah pria bertopeng itu. Untuk sesaat, Kimiko berpikir kehidupannya akan segera berakhir, bagaiamana tidak? Ia ditodong dengan pedang oleh salah satu pangeran, padahal dirinya saja disanderan oleh orang tak ia kenal, dan lagi-lagi sebuah pedang berada tepat di lehernya. Pangeran Sesshōmaru terus berjalan mendekat dengan pedang yang diarahkan pada Kimiko, pria yang menyandera Kimiko memilih mengambil langkah mundur perlahan, dan ia mengeratkan cengkeramannya pada leher Kimiko.
Kimiko merasa tercekik. Sebuah geraan yang ia hasilkan karena gerakan yang dilakukan oleh pria itu membuat pedang yang berada di lehernya benar-benar melukainya, darah mulai merembes keluar. Melihat itu, Pangeran Sesshōmaru terlihat tegang untuk sesaat, namun ia bisa mengontrol ekspresi wajahnya sebelum lawan mengetahuinya.
"T-t-tolong selamatkan aku," ucap Kimiko memohon ketakutan pada Pangeran Sesshōmaru, "aku akan benar-benar meninggal, jika kau melakukan ini."
Pangeran Sesshōmaru tersenyum, "Aku tidak peduli apa yang kau lakukan dengan gadis itu. berhenti mengulur-ngulur waktu dan katakan siapa dalang di balik semua ini." Wajah Pangeran Sesshōmaru terlihat lebih serius, "Cepat katakan sekarang!" perintah Pangeran Sesshōmaru dengan berteriak.
Tatapan tajam Pangeran Sesshōmaru terus mengawasi apa yang akan dilakukan oleh pria itu. Perlahan-lahan, Kimiko bisa merasakan tangan pria itu sedikit melonggar, Pangeran Sesshōmaru tersenyum melihat apa yang terjadi, tapi ia mengontrol ekspresi wajahnya agar lawan tak mengetahui bahwa ia tersenyum agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Mengetahui bahwa ada kesempatan untuk dirinya lari dari genggaman pria itu, Kimiko langsung mengginggit tangan kanan pria yang menggenggam pedang itu, refleks atas apa yang dilakukan oleh Kimiko, pria itu melangkah mundur dan menghempaskan tubuh Kimiko itu asal, dan tubuh Kimiko terduduk tepat di depan Pangeran Sesshōmaru.
Kesal dengan tindakan tanpa pikir panjang yang dilakukan oleh Kimiko, pria itu berniat untuk membunuh Kagome, begitu pula Pangeran Sesshōmaru bersiap melayangkan pedangnya untuk mencegah hal buruk terjadi. Namun, sebuah pisau belati melayang lengsung mengenai dahi pria itu, tepat di tengah hingga topeng yang dikenakannya terlepas, menampilkan wajah pria itu yang sesungguhnya. Pria itu limbung tepat di samping Kimiko, Pangeran Sesshōmaru bangkit tak percaya dengan apa yang terjadi di hadapannya, padahal sedikit lagi ia akan mengetahui siapa dalang dibalik semua ini.
Pangeran Sesshōmaru menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang melakukan hal itu, dengan napas terengah-engah terlihat Pangeran Hōjō berada di depan para pengawal kekaisaran. Kimiko bernapas lega, saat melihat Pangeran Hōjō datang menyelamatkannya. Pangeran Sesshōmaru berjalan mendekat ke arah pria yang sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.
"Kenapa?!" teriak Pangeran Sesshōmaru marah.
Pangeran Sesshōmaru langsung mengalihkan pandangannya pada Kimiko, menarik Kimiko hingga membuat wajah mereka hanya bertaut beberapa senti meter saja, Kimiko mengalihkan pandangannya—menghindari tatapn marah sang pangeran.
"Aku hampir menangkpanya. Semua karena seorang gadis sepertimu!" ujar Pangeran Sesshōmaru marah pada Kimiko, ia kembali menaikkan pedangnya, Kimiko hanya bisa pasrah melihat sebilah pedang kembali ada di samping lehernya. Pangeran Sesshōmaru menatap Kimiko dengan tatapan bengisnya.
Sebuah pedang terarah pada leher Pangeran Sesshōmaru dari arah belakang, sebilah pedang milik Pangeran Hōjō. Pangeran Sesshōmaru perlahan membalikkan badannya dengan pedang milik Hōjō yang terus berada di dekat lehernya, mereka berdua beradu tatapan dingin untuk sesaat.
"Cukup. Hentikan." Pangeran Hōjō memandang kakaknya dengan tatapan dingin, "dia gadis yang tak bersalah. Biarkan dia pergi."
Pangeran Sesshōmaru berdecih, dengan tatapan marah ia menatap Kimiko sekilas, dengan gerakan yang tangkas ia beradu pedang dengan adiknya, dan menyandera Kimiko. Kimiko mulai menitikkan air mata di pelukan Pangeran Sesshōmaru, tatapan kejam Pangeran Sesshōmaru tak main-main ia berikan pada adiknya, Kimiko dapat mengamatinya dengan jelas karena jarak yang mereka punya. Dalam hitungan detik, Pangeran Sesshōmaru mengeratkan pelukan tangan kirinya pada leher Kimiko, membuat Kimiko kembali tercekik. Suara isakan dan ketakutan Kimiko dapat Pangeran Sesshōmaru dengar dengan jelas, ia tersenyum licik penuh kemenangan.
"Aku tidak mau." Senyum licik itu dalam sekejap lenyap, dan nampak sebuah tatapan marah, kesal, serta posesif akan kepemilikan. Pangeran Hōjō terdiam mematung di hadapan sang kakak yang menyandera Kimiko dengan terus memandang dingin.
—TO BE CONTINUED—
Reviewers' Corner : ini adalah tempat atau sebut saja rubrik untuk berdiskusi dengan para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk memberikan jejak di kolom review tulisan ini di chapter sebelumnya, baik yang log-in maupun tidak. Baik, kini saatnya membalas review sambil berdiskusi (?)
Lailalailazahra: hahaha iya dong siapa dulu, Kagome gitu lho :p
INOcent Cassiopeia: iya, Inu Kimi tega banget sama Sesshōmaru, tapi dibalik sifatnya yang seperti itu pasti ada alasannya ;)
KanonAiko: nah silakan cari tahu jawabannya di sini ya ;)
Vryheid: iya bener banget, baik drama maupun OST-nya memang bikin gagal move on *korban gamon xD
Taisho No Miko: gimana kak? Apakah alasannya sudah kau temukan di sini? Apakah rasa penasaranmu juga sudah terjawab? Mungkin nanti, bakalan mulai terbiasa dengan Kimiko ;) hahaha ini bakalan menjadi slow update banget kak, mungkin jika aku berbaik hati, bakalan aku double update berkali-kali hihihi xD
Yosh-Akimoto: ini sudah diteruskan kok, walaupun akan memakan waktu yang lama untuk menyelesaikan ini hingga tamat, aku bakalan tetep lanjut meskipun ngaret banget waktunya, nunggu senggang. Mohon bersabar ya ;)
BlueDandelion977: kenapa enggak bisa berkata-kata lagi? duh ... jangan terlalu memuji, ini hanya remake yang aku ceritakan ulang dengan bahasa sendiri dan mengganti nama tokoh, visual di drama dan novelnya lebih bagus~ ini sudah dilanjut, selamat membaca ^^
Daftar musik yang diputar kala menulis dan penyuntingan:
내 마음 들리나요 (Can You Hear My Heart?) – Epik High (Feat. 이하이—Lee Hi)
Be With You – Akdong Musician (AKMU)
허수아비 (Scarecrow) – Lee Hi
MISSING U – Lee Hi
BLACK [feat. SKY FERREIRA] – G-DRAGON
Black (feat. Jennie Kim of YG New Artist) – G-DRAGON
개소리 (BULLSHIT) – G-DRAGON
Think About You (Prod. by Lee Chanhyuk of Akdong Musician) – Younha
허세 (Hashtag) (Prod. by 타블로—Tablo) – Younha
Every Heart – BoA
비가와 (Rain) – SOYOU & BAEKHYUN
아니라고 (I MISS YOU BAD) – iKON
마지막처럼 (As If It's Your Last) – BLACKPINK
뻔한 이별 (I Still) – Soyou feat. Sung Si Kyung (editing)
Author's Note! Seperti yang selalu saya tulis di chapter-chapter sebelumnya, bahwa tulisan ini hanyalah remake bukan 'tulisan yang terinspirasi dari ...'. Seperti yang kalian ketahui, tulisan ini akan menjadi slow update dan akan saya publikasikan ketika saya mempunyai waktu yang senggang. Sebagai tambahan informasi, mulai chapter berikutnya, tulisan ini akan bertambah panjang ... sekitar dua kali lipat dari ini untuk setiap chapternya. Kenapa hal itu saya lakukan? Alasannya adalah, supaya tulisan ini segera selesai dan saya bisa fokus pada proyek tulisan yang lainnya, karena tulisan untuk Sesshōmaru-Kagome masih banyak termasuk sekuel (?) tulisan ini, belum lagi proyek saya untuk tulisan lainnya yang saya publikasikan di Wattpad.
Jika ada yang ingin ditanyakan atau berkomentar soal cerita ini, katakan saja lewat kolom review, nanti akan saya balas di Reviewers' Corner di chapter selanjutnya. Sampai jumpa ^3^
Salam hangat,
Emma Griselda
Surakarta, 3 Maret 2018
