We're Going to be Daddies?!

( Kami Akan Menjadi Ayah?! )

Author : yururin

Genre(s) : drama, romance, mpreg

Characters : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, EXO (K & M), Others

Pairing(s) : chanbaek, hunhan, taoris, kaisoo

Warning : YAOI, BxB, MPREG

Original link : www asianfanfics com/story/view/508102/we-re-going-to-be-daddies-romance-mpreg-hunhan-taoris-baekyeol-kaisoo

.

.

.

.

Chapter 3: Rumah

Kim Jongin merasa seakan terjatuh dari atas tebing. Ia tak percaya tengah berada di dalam lift yang sama dengan Do Kyungsoo, lelaki yang sudah ia sukai sejak lama. Perasaannya sudah lama menjadi perasaan sepihak hingga teman-temannya bahkan telah bosan mengejeknya. Ia mengeratkan dan mengendurkan genggaman tangannya sementara lift bergerak begitu lambat dan memakan waktu begitu lama untuk tiba di lantai paling atas. Kyungsoo, sepertinya, juga memiliki beberapa urusan yang harus dilakukan di Penthouse, kompleks apartemen dimana Chanyeol tinggal.

"Uh, apa ada sesuatu di wajahku, Jongin-ssi?" Kyungsoo seketika bertanya, jemari imutnya menyentuh wajah bermaksud memastikan sambil mengintip ke arah Jongin.

"Ap-uh-uhm-t-tidak! Ya Tuhan, tidak. Aku hanya-uh...yeah." Jongin merasa menjadi orang paling idiot di dunia namun juga merasa ingin berteriak sekencang-kencangnya karena Ya Tuhan Kyungsoo mengetahui namanya.

"Oh, oke. Aku hanya berpikir begitu karena kau sudah memandangi wajahku sejak kita masuk dan-

"Tidak, ya Tuhan, tak apa, maksudku, kau baik-baik saja, tidak tunggu, dan maksudku, aku hanya akan...diam." Jongin sedikit menoleh untuk menyembunyikan wajahnya, melewatkan senyuman samar yang muncul di bibir Kyungsoo.

"Oke, lakukanlah."

Lift pada akhirnya berhenti, dan pintu terbuka pelan. Kyungsoo adalah yang pertama keluar, nampak sudah terbiasa mengunjungi tempat Chanyeol. Jongin sedang berencana menghabisi pria yang lebih tinggi itu jika ternyata selama ini ia sering bertemu dengan Kyungsoo ketika-

"Apa Park Chanyeol sudah mengatakan sesuatu padamu?" Mata lebar nan imut Kyungsoo berkedip padanya, dan mulut Jongin seketika terasa kering.

"M-mengatakan apa?"

"Oh. Sepertinya ia belum memberitahumu. Well, kau akan tahu nanti." Kyungsoo berbalik ke arah pintu, sebuah senyuman seketika merekah di wajahnya seraya pintu tersebut terbuka.

"Kyunggie~! Kau sudah datang!" Baekhyun muncul dengan penuh semangat, mengabaikan kehadiran Jongin seraya melompat ke pelukan lelaki yang lebih pendek.

"Hai, Baek! Jadi ini yang kau maksudkan kemarin mengenai pertanggungjawaban Chanyeol." Kyungsoo tertawa, dan Jongin hanya memandang keduanya, kaget setengah mati melihat Byun Baekhyun dengan ceria melompat keluar dari tempat tinggal temannya.

"Mh-hmm! Masuklah! Chanyeol sedang mandi. Aku tidak yakin ia akan senang melihatku mengundangmu kemari, tapi aku tidak peduli." Baekhyun menarik Kyungsoo masuk, dan Jongin, tak punya pilihan lain, pada akhirnya hanya mengikuti.

Terakhir kalinya ia ke tempat itu adalah sebulan yang lalu, ketika mereka mengadakan acara menginap yang berakhir menjadi sesi obrolan dari-hati-ke-hati antara ia, Chanyeol dan Kris. Dalam kurun waktu sebulan itu, tempat tersebut masih tetap sama untuk beberapa hal. Contohnya, tempat tersebut nampak lebih rapi dari sebelumnya. Sofa kini dihiasi sebuah batal empuk berwarna kuning dan selembar selimut yang terlipat. Ada pula dua buah tas ransel di sudut ruangan, dengan beberapa pakaian mencuat ke luar, dan ada pula Byun Baekhyun. Sungguh perubahan kecil.

Jongin duduk dengan canggung di lantai, hingga Kyungsoo akhirnya menoleh ke arahnya, dengan diikuti tatapan Baekhyun. Jongin melambaikan tangan pada mereka, dan syukurlah, keduanya balas tersenyum, membuat kecanggungannya paling tidak sedikit berkurang.

"Hai, Jongin. Apa kau masih bersikeras memanggilku Eyeliner Bitch?" Baekhyun bertanya, memiringkan kepalanya ke samping dengan seringai puas di wajahnya.

"Tentu saja, Eyeliner Bitch." Jongin menyeringai balik, dan senyuman Kyungsoo melebar.

"Kalian kenal satu sama lain?" Tanya Kyungsoo, yang duduk di sebelah Jongin (dan tanpa sadar telah membuat lelaki yang lain mengalami serentetan serangan jantung).

"Yup. Kami sekelas selama dua semester, dan kami cukup dekat satu sama lain karena ia menganggap kebiasaanku memakai eyeliner begitu aneh." Baekhyun terduduk di sofa, menyilangkan kakinya.

"Apa maksudmu dengan cukup dekat? Apa kau menyukaiku?" Tanya Jongin, berpura-pura kaget.

"Yeah, well, fuck you, too, Jongin." Balas Baekhyun, mengacungkan jari tengahnya dan membuat yang lain tertawa.

Jongin pada akhirnya menyadari Chanyeol yang berdiri di depan pintu, ekspresi kaget dan bingung terpampang di wajahnya seraya pandangannya terarah pada tiga orang yang menempati ruang tamunya. Rambutnya masih separuh basah, kaos menempel pada kulit dengan sweatpants menggantung longgar di pinggangnya. Jongin melambaikan tangan ke arahnya, dan Kyungsoo menganggukkan kepalanya sekilas. Baekhyun memutar kepalanya, dan melayangkan senyuman lebar.

"Ku harap kau tidak keberatan aku mengundang Kyungsoo kemari." Ujarnya senang, dan Chanyeol mengerang.

"Sebenarnya, aku keberatan." Chanyeol membalas cepat, yang hanya dibalas dengan juluran lidah oleh Baekhyun.

"Well, aku tidak peduli." Gurau lelaki yang lebih pendek, dan Jongin tertawa, memukul-mukul kakinya sendiri seraya Chanyeol melempar tatapan kesal ke arahnya.

"Wow, sang Park Chanyeol dikendalikan bagai seekor anak anjing. Apa yang sudah kau lakukan, Baekhyun?" Tanya Jongin, sepenuhnya terkejut karena setahunya Chanyeol berada di deretan orang terakhir yang bisa disuruh-suruh seperti pelayan.

"Lebih tepatnya, siapa yang sudah berhubungan seks dengannya." Sela Kyungsoo, dan Jongin tertawa sebelum akhirnya berhenti, mata melebar saat menangkap kata-kata Kyungsoo.

"Tunggu."

"Jongin, sebaiknya kau diam." Ujar Chanyeol kesal, meraih sebotol air mineral dari dalam kulkas.

"Tunggu dulu! Sialan. Apa kau-dan Baekhyun?!" Lelaki berkulit gelap itu ternganga, kekagetan tergambar jelas di wajahnya sambil ia memandang bolak-balik antara Chanyeol dan Baekhyun.

Baekhyun memutar bola matanya, berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Chanyeol. Ia mengambil botol minuman dari tangannya, sukses membuat lelaki satunya merengut kesal, dan kemudian meminumnya. Kyungsoo dan Jongin menonton mereka dengan mata melebar karena semengagetkan apapun kabar itu, mereka tak bisa mengelak bahwa keduanya sungguh memiliki chemistry antara satu sama lain. Baekhyun benar-benar bisa mengendalikan Park Chanyeol. Lelaki yang lebih pendek itu nampaknya memiliki keahlian khusus untuk memancing keluar sosok Chanyeol yang sebenarnya, dan hal-hal semacam itu. Kyungsoo memperhatikannya, merasa puas, sementara Baekhyun menjulurkan lidahnya ketika Chanyeol menggeram, dan mengulurkan tangan mengasak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Kalian berdua terlihat seperti pasangan suami istri." Celetuk Jongin, masih merasa kaget namun juga terhibur.

"Maksudmu?" Chanyeol nyaris tersedak, dan Baekhyun memukul bagian belakang kepalanya.

"Tapi...baiklah, aku tahu kalian memberi satu sama lain pengalaman seks yang menakjubkan tapi-

"Jaga bahasamu, Jongin." Kyungsoo mengingatkan.

"-tapi mengapa Baekhyun di sini? Kau tidak pernah bertahan selama ini dengan one-night stands mu, Yeol." Ujar Jongin santai sambil menyunggingkan seringai di bibir penuhnya, dan Baekhyun mengangkat bahu padanya.

"Aku istimewa bagi Chanyeol." Baekhyun tersenyum menggoda ke arah Chanyeol, yang pipinya seketika memerah dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"T-tidak! Bukan itu alasannya!"

"Oh? Jadi ada alasan lain, namun aku tetap istimewa bagimu bukan?" Baekhyun kembali menyudutkannya, bergerak bahaya mendekati wilayah Chanyeol.

Chanyeol menggeram untuk yang kesekian kalinya, dan ia dengan pelan mendorong Baekhyun ke belakang dengan memegang pinggangnya. Ia mengarahkan tubuh mereka ke arah yang lain, membalikkan tubuh Baekhyun sehingga menghadap pada Kyungsoo dan Jongin. Ia memeluk tubuh yang lebih mungil dari belakang, meletakkan tangannya di perut Baekhyun dan membuat lelaki itu tersentak kaget. Keduanya bisa memainkan permainan ini, dan Chanyeol tahu bagaimana caranya. Ia meletakkan dagunya di puncak kepala Baekhyun, tangannya membuat gerakan mengusap pada perut Baekhyun, memastikan untuk menarik tubuh lelaki itu lebih dekat sehingga punggungnya bersandar padanya. Kyungsoo dan Jongin memandang dengan perasaan jijik dan tak nyaman.

"Tentu saja kau istimewa. Lagipula kau adalah ibu dari anakku." Ujar Chanyeol santai, dan Jongin tersedak oleh air liurnya sendiri, Kyungsoo dengan reflek mendekat dan mengusap punggungnya bermaksud menenangkan.

"Kau menghamilinya?! Seberapa bodohnya kau?!" Jongin menganga, mata melebar hingga mungkin melebihi mata Kyungsoo.

"Ugh, aku tidak punya waktu untuk ini. Aku ingin tidur, ini hari Minggu, demi Tuhan. Kalian, pergilah." Ujar Chanyeol, melepaskan tubuh Baekhyun lalu kemudian merebahkan tubuhnya di sofa, pandangan tertuju ke arah Baekhyun yang pipinya nampak lebih merah dari biasanya.

"Baiklah, tapi bagaimana bisa Eyeliner Bitch ada di sini?" Tanya Jongin, bangkit berdiri dengan Kyungsoo.

"Well, ia memutuskan untuk pindah dan tinggal di sini karena aku harus bertanggung jawab atau semacamnya."

"Kau bahkan tak punya pekerjaan." Jongin mengingatkan, dan Chanyeol membalas dengan mengacungkan jari tengah padanya.

"Aku tidak butuh pekerjaan, aku punya perusahaan sukses, dan orangtuaku bisa membayar segalanya. Sekarang keluarlah, aku mau tidur."

"Di sofa?" Jongin bertanya tidak percaya, dengan tangan sudah meraih gagang pintu.

"Apa masalahmu brengsek?! Tidak bisakah kalian pergi?!" Chanyeol menggeram seraya menjatuhkan punggungnya pada sofa.

"Baekhyun, apa kau tidur di ranjang?" Jongin bertanya penasaran, dan Baekhyun mengangguk.

"Ia bilang padaku untuk memakai ranjangnya." Suara Baekhyun terdengar malu-malu, dan Chanyeol mengerutkan dahi. Seberapa bipolarnya kah Baekhyun sebenarnya?

Chanyeol mendengar kekehan Jongin sebelum mendengar suara pintu terbuka, lalu pada akhirnya tertutup kembali. Akhirnya semuanya kembali sepi, dan ia membenarkan posisinya dengan meletakkan lengannya di belakang kepala, kaki menyilang dan terlentang pada lengan sofa. Ia memejamkan mata, nyaris tertidur hingga ia mendengar senandung samar itu lagi. Matanya perlahan membuka dan ia bangkit terduduk, memandang Baekhyun yang menyibukkan diri di area dapur, kembali memasak. Chanyeol menghela nafas. Karena ia harus tinggal dengan Baekhyun selama kurun waktu yang hanya Tuhan yang tahu, ia nampaknya perlu mengenal lelaki itu-lagi pula ia tidak terlalu suka jika harus tinggal dengan orang asing.

Ia memaksa dirinya turun dari sofa dan duduk di bangku yang terdapat di sisi dapur, meletakkan dagunya pada telapak tangan sambil menonton Baekhyun dengan tatapan penasaran. Jika ia mengabaikan sikapnya yang bitchy dan begitu bipolar, Baekhyun sebenarnya nampak sama sekali tak berbahaya. Ia memiliki pribadi yang lembut dan feminin, rambut magenta yang begitu sempurna, kulit halus seputih susu, jari-jari lentik yang manis, dan jika Chanyeol boleh mengatakannya, sebenarnya ia berpikir bahwa Baekhyun begitu cantik.

Baekhyun menoleh, ketika merasakan seseorang memandangi punggungnya. Ia berhenti di tengah-tengah aktivitasnya menyiapkan kimchi, dan meluangkan waktu sesaat untuk memberi Chanyeol senyuman manis, membuat lelaki yang lebih tinggi itu salah tingkah. Ia memalingkan wajah setelahnya, melewatkan rona merah yang menyebar di pipi Chanyeol.

"A-apa yang sedang kau lakukan?" Chanyeol bertanya, dalam hati menampar dirinya sendiri karena membiarkan suaranya pecah.

"Memasak, idiot." Lelaki yang lebih pendek terkikik, dan Chanyeol mulai merasa canggung. Mungkin ia tidak seharusnya menghabiskan begitu banyak waktu memandang dan memperhatikan Baekhyun karena ia kini mulai merasa aneh.

"Aku tahu, oke? Jenius. Maksudku-

"Aku membuat makan siang. Ku harap kau suka sup kimci dan bulgogi?" Baekhyun membalas tatapannya, sifatnya yang bitchy dan selalu PMS seketika hilang berganti dengan seorang Baekhyun yang nampak ceria dan begitu polos.

"Y-yeah, aku menyukainya..." Chanyeol tak lagi mempercayai dirinya sendiri, jadi ia memutuskan untuk memandang ke arah lantai dibanding memandang ke arah Baekhyun.

"Baguslah! Kuharap hasilnya akan bagus. Aku juga sudah begitu lapar."

Apa yang tidak diketahui Baekhyun saat itu adalah bagaimana perasaan Park Chanyeol bergejolak karena sebuah eye smile cantik, tawa manis, pipi merona dan jemari lentiknya. Namun yang lebih tinggi tak akan mengakuinya, jadi lebih baik, ia memilih menyalahkan bahwa ini semua karena bacon dan telur yang ia makan tadi pagi. Ini tidak masuk akal baginya, tapi ia sudah tak peduli.

~ xoxo ~

"Lu-gege~! Apa kau mau membeli bubble te-

"Tidak."

Tao mengerjapkan mata saat Luhan nyaris mematahkan pena di tangannya, wajahnya semakin gelap seiring waktu berjalan. Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya, merasakan kegelisahan dalam diri temannya, dan ia dengan cepat meletakkan tangan di bahu pemuda itu bermaksud menenangkan. Lu Han menoleh padanya, dan sesaat, Kyungsoo bersumpah melihat Lu Han hampir menangis.

"Ada masalah apa?" Kyungsoo mengusap bahunya.

"Ia benar-benar brengsek."

"Siapa?"

"Bukan hal yang penting, Kyunggie. Lupakan saja."

Kyungsoo mengangkat bahu, menghela nafas dan sepenuhnya tahu bahwa Lu Han akan berbicara mengenai ini semua ketika ia sudah merasa lebih baik. Ia menggelengkan kepalanya pada Tao, dan lelaki itu mengangguk paham, duduk dan memutuskan untuk diam sambil menunggu Baekhyun datang. Kelas akan dimulai sepuluh menit lagi, dan diva yang satu itu masih belum juga muncul.

Tao seketika nampak lega ketika melihat Baekhyun muncul dari arah persimpangan jalan dan memasuki gerbang dengan Chanyeol berjalan di sisinya...tangan bergandengan satu sama lain dengan begitu romantis. Kyungsoo hampir menjatuhkan kopi paginya, dan Lu Han, yang masih nampak kesal oleh alasan yang hanya diketahui Tuhan, juga memandang dengan mata melebar pada temannya itu. Mereka memandang bagaimana Baekhyun dan Chanyeol berpisah satu sama lain, lelaki yang lebih pendek mengulurkan tangan untuk memperbaiki rambut yang lebih tinggi. Chanyeol adalah yang pertama pergi, meninggalkan Baekhyun berdiri di sana sendirian. Ia berbalik arah, setengah berlari ke arah teman-temannya dan melambaikan tangan seakan tak terjadi apapun.

"Hai, se-

"Apa-apaan itu semua hah?" Ketiganya bertanya dengan kompak dan bersamaan, Baekhyun hanya mengerjap bingung ke arah mereka.

"Apanya yang apa?"

"Itu!"

"Itu apa? Teman-teman, tidak bisakah kalian lebih spesifik?"

"Kau bertingkah begitu romantis satu sama lain dengan Park Chanyeol! Sejak kapan kalian resmi berpacaran?" Kyungsoo bertanya, begitu penasaran.

"Huh? Oh. Itu hanya sebuah tantangan. Chanyeol kalah melawan Jongin dalam sebuah taruhan pertandingan game, dan Jongin menyuruhnya untuk memperlakukan aku seperti kekasihnya hingga hari ini berakhir." Ujar Baekhyun, menyisipkan ibu jarinya di antara tali ranselnya.

"Ugh, lagi-lagi taruhan. Aku duluan, semua. Aku benar-benar merasa tidak enak badan." Lu Han bergumam, meraih barang-barangnya seraya mengehentakkan kaki masuk ke gedung kampus.

"Apa yang salah dengannya?" Baekhyun bertanya-tanya sambil menunggu Tao dan Kyungsoo berdiri.

"Ia tidak mau memberi tahu, tapi ia begitu sensitif ketika kata bubble tea dan taruhan disebut-sebut." Ujar Tao, mengangkat bahunya.

~ xoxo ~

"Jadiiii. Bagaimana rasanya? Berangkat ke kampus dengan tangan Baek digenggamanmu, daddy?"

Jongin tertawa sambil berusaha menghindari pukulan Chanyeol, yang pipinya nampak memerah oleh ingatan itu. Ia tidak akan mengakui itu semua, tidak pada siapapun, tapi tangan Baekhyun entah mengapa terasa begitu lembut dan hangat dan ya Tuhan aku sudah gila. Chanyeol menenggelamkan wajahnya di balik lengan, mengabaikan senggolan di rusuknya yang tanpa henti dilakukan Jongin dan membiarkan pikiran-pikiran anehnya untuk pergi dan menghilang. Ini sudah dua hari sejak lelaki itu tinggal dengannya, dan ia sudah selelah ini.

Lagipula, bagaimana ia bisa menyalahkannya? Melihat Baekhyun tertidur dengan nyaman dan nyenyak di ranjangnya tanpa peduli pada sekelilingnya benar-benar pemandangan yang manis. Bibirnya setengah terbuka, nafas pelan dengan sesekali suara mirip seperti dengkingan seekor anak anjing yang menemani kesunyian malam terngiang dipikiran Chanyeol. Ditambah lagi, ia sedang mengandung anak Chanyeol, jadi ia tidak punya pilihan lain kecuali memperhatikan lelaki itu. Belum lagi, Baekhyun adalah seorang koki yang handal, membuat kimchi sup luar biasa nikmat yang menjadi menu favorit baru Chanyeol. Jongin tidak melewatkan tatapan memuja yang sekilas terlintas di wajah Chanyeol, dan ia dengan cepat menemukan kesempatan baru untuk menggoda temannya itu.

"Kau menyukainya, ya kan?"

"Siapa?" Lelaki yang lebih tinggi berpura-pura tak tahu siapa yang sedang Jongin bicarakan, memandang ke arah manapun kecuali Jongin.

"Byun Baekhyunnie~." Jongin menyeringai ketika Chanyeol mengernyit sesaat pada nama panggilan itu.

"A-aku tidak menyukainya. Ini hanya baru beberapa hari, kemana saja kau selama ini?" Chanyeol mengernyitkan dahi padanya.

"Memang kenapa? Di dunia ini ada sesuatu yang disebut dengan cinta pada pandangan pertama, atau dalam kasusmu, mungkin itu disebut dengan cinta pada seks pertama. Entahlah." Chanyeol memukul sisi kepalanya, tapi seringai di wajah Jongin tak juga memudar. Kris hanya tertawa di sebelah mereka.

"Diamlah. Aku tidak menyukainya. Ia sama sekali tidak penting bagiku." Ujar Chanyeol, mencoba terdengar serius dan meyakinkan namun seketika seringai Jongin memudar dan mata Kris melebar, tatapan tertuju pada seseorang di sebelah lelaki yang lebih tinggi.

Chanyeol berbalik, dan ia menyumpahi hidupnya yang seketika terasa begitu dramatis ini. Tentu saja Baekhyun harus ada di sana. Tentu saja ia harus berdiri di sana dengan tatapan seekor anak anjing terusir di wajahnya. Tentu saja ia harus di sana dan nampak begitu terluka. Tentu saja ia harus di sana dengan canggung menggenggam ujung kaosnya seraya tersenyum pada Chanyeol, berusaha nampak baik-baik saja. Tentu saja Baekhyun harus di sana dan mendengar semuanya. Dan tentu saja, Chanyeol harus merasa seperti makhluk terburuk dan terendah di Bumi dan Exoplanet.

"Hey, Chanyeol? Aku hanya, uhm, mampir sebentar untuk bertanya apa yang kau inginkan untuk makan malam karena aku akan pulang ke rumah lebih awal dan...uhm, kau tahu apa? Hanya, uh, kau bisa membeli makanan di luar. Aku tidak akan pulang ke rumah malam ini."

Rumah. Satu kata tersebut meretakkan sesuatu dalam diri Chanyeol, dan ia seketika merasa begitu ingin menenangkan Baekhyun.

"Tunggu, Bae-

"Sampai jumpa lagi!" Dan dengan itu, Baekhyun berlari menjauh, dan Chanyeol bersumpah melihat ia menangis.

"Wow, kau sungguh brengsek." Jongin bergumam, dan Chanyeol memukul sikunya.

Mengapa ia merasa bersalah? Apa yang ia katakan memang benar, dan Baekhyun tidak seharusnya terlalu peduli hingga terluka oleh kata-kata itu. Chanyeol menggelengkan kepala, menarik bibirnya menjadi garis tipis. Apa-apaan yang sudah terjadi dengan Park Chanyeol, seorang playboy di XOXO University? Ia mungkin hanya butuh sesuatu untuk mengalihkan pikirannya. Yeah, tentu saja. Mengabaikan bayangan sebuah senyuman dengan mata cantik dan tawa manis di pikirannya, ia bangkit berdiri, memutuskan untuk membolos kelas dan menghabiskan hari ini di sebuah bar terkenal yang tak begitu jauh dari tempat itu.

~ xoxo ~

.

.

.

.

(T/N:)

Hai all~

As always, thank you so much untuk yang sudah read, fav, foll dan review. All our love for u guys! ❤

Dan mohon maaf atas update yang molor sehari. College happends to be so hectic lately T.T

Fyi (khususnya buat dear reviewers yang sudah bertanya dan penasaran), ff ini sudah cukup terkenal di aff dan yup, versi Englishnya sudah end dengan total sekitar 50 chapters :)

Pair utama di ff ini adalah Chanbaek, tapi dalam ceritanya bakal disisipkan konflik pair yang lain yaitu Kaisoo, Hunhan, Taoris. Tapi sebagian besar, isinya bakal Chanbaek :)

Salam cinta dari yururin authornim buat Chanbaek shipper yang baca translated ff ini. Semoga kalian menikmati membaca ff ini sebagaimana sang author menikmati ketika menulisnya^^

Please tinggalkan review kalian, karena hanya itu satu-satunya bahan bakar kami untuk semangat lanjut trans ff ini~^^

Love,

baekagain & mashedpootato