"Loving someone is not easy, forgetting someone is very easy to do, if the shadow will disappear in a moment." – Jec Ocha

Original by Jec Ocha

.

"Lalu, kenapa dia tak menjemputmu? Atau sekedar mengkhawatirkanmu yang pulang terlalu malam? Apa dia tidak mencarimu? Kalian satu apartemen kan?"

Seringaian itu sangat terlihat jelas di wajah wanita itu.

SCHATTEN

"Apa maksudmu, Miss?" Sungmin memandang wanita itu dengan tajam. Walaupun kesadarannya hampir hilang, dia masih bisa menanggapi ucapan wanita itu.

"Ahh, bukan begitu maksudku. Aku hanya bertanya. Hm, tidak usah kau pikirkan. Dan, ya! Sepertinya kau sudah cukup minum, ayo pulang." Ahra kemudian bangkit berdiri dan membantu Sungmin untuk bangkit.

Dengan susah payah Ahra membantu Sungmin berjalan ke mobilnya. Ketika mereka sudah didalam mobil, Ahra langsung mengemudikan mobilnya.

Di tengah perjalanan Ahra dikagetkan dengan suara tangisan dan suara itu berasal dari kursi disebelahnya, ketika tahu Sungmin yang menangis Ahra kemudian menepikan mobilnya.

Cukup lama Ahra diam dan menunggu Sungmin berhenti menangis. Sampai akhirnya,

"Kenapa, Miss?" Sungmin menatap ke arah Ahra, sementara Ahra hanya menatap lurus ke depan.

"Kau menangis. Seharusnya aku yang tanya kenapa?" kata Ahra ― tatapannya masih lurus ke depan.

"Aku haha. Entah rasanya hatiku sakit sekali, aku sedang mengingat sesuatu." Sungmin mengahapus air matanya dengan kasar lalu menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan ― Ahra hanya diam.

"Mengalami semua yang aku inginkan dan tidak inginkan, menahan segala sesuatunya. Aku seperti terjebak dalam suatu hal tapi….grrr" Sungmin menggeram sambil menjambak rambutnya. Bulir-bulir air matanya pun terus turun seperti tak bisa dihentikan.

Cukup lama Sungmin terus seperti itu sampai Ahra menarik tangan Sungmin untuk melepas jambakannya tapi Sungmin terlalu kuat menjambak rambutnya. Karena kesal Ahra menampar Sungmin dengan kasar.

"Bisakah lebih tenang menghadapi segala sesuatu?" Ahra berteriak dan itu membuat Sungmin yang dibawah pengaruh alkohol menjadi tidak dapat terkendali.

"MANA MUNGKIN!" Sungmin membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Ahra yang melihat hal itu sontak melakukan hal yang sama.

Dengan gontai Sungmin berjalan di jalanan yang sepi itu, Ahra berusaha mengejarnya.

"SUNGMIN! DENGARKAN AKU! SUNGMIN!" kemudian Ahra berlari dan memeluk Sungmin dari belakang.

Sungmin yang kaget dengan ulah Ahra dia hanya diam,

"Kau kenapa seperti ini? Kau aneh sekali."

Sungmin membalikkan tubuhnya dengan tatapan sayu, percampuran antara emosi, sedih, tertekan juga kadar alkohol yang menyiksa, dia hanya merespon, "Antarkan aku pulang ke apartemen ku." Lalu dia berjalan ke mobil Ahra dan masuk kedalamnya.

Sementara itu Ahra tersenyum, "Yasudahlah." Gadis itu berjalan ke mobilnya dan masuk. Setelah itu, Ahra mengemudikan mobilnya.

.

"Ming. Kau tahu minuman seperti ini dari siapa?!" Tanya Kyuhyun lalu dia menampar Sungmin sampai pria itu jatuh terjerembab ke lantai.

"Aku tidak tahu, Kyu. Minuman itu ada disitu, dan aku sama sekali tidak menyentuhnya apalagi meminumnya." Jawab Sungmin, tubuhnya bergetar karena ketakutan.

Kyuhyun yang melihat hal itu menjadi merasa iba, dia mensejajarkan tubuhnya dengan Sungmin dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan Kyuhyun terus menatap Sungmin. Karena takut dikira membantah Sungmin membalas tatapan Kyuhyun dengan sedikit ragu.

"Aku mencintaimu, Ming. Ada banyak hal yang tak boleh kau lakukan, aku hanya ingin kau mendengarkanku." Cup..

Kyuhyun mengecup sekilas bibir Sungmin, lalu mengecup dahi Sungmin.

"Kau mengerti kan?" tanya Kyuhyun sambil menatap Sungmin dengan sedikit memaksa…

"A-aku mengerti, Kyu."

.

.

Plop.

Mata Sungmin terbuka, tiba-tiba dia merasa mual. Dengan langkah terburu-buru Sungmin berjalan ke toilet.

"Hoek..hoekk" dia memuntahkan banyak cairan dari mulutnya di wastafel.

" . hoeek." Sungmin mencuci mulutnya, lalu menatap ke arah cermin tepat diatas wastafel. Dengan teliti dia mengamati wajahnya, lingkaran hitam di bawah matanya. Bibir pucat, dan wajah nya terlihat lelah.

"Ming.."

Deg.

Sungmin menahan nafasnya, dia merasakan sesuatu dibelakang lehernya. Pandangan matanya ke arah wastafel.

"Sungmin."

Dia dengar, tapi dia cukup takut dan ragu untuk sekedar melirik apalagi menengok. Tapi, dia tidak mampu membantah. Benar, Sungmin tak bisa membantah. Jadi walaupun dia takut, tetapi dengan perlahan dia mengangkat wajahnya dan saat melihat ke cermin.

Kyuhyun…di rantai?

"K-kyu?!" pekik Sungmin, tapi saat dia membalikkan tubuhnya tidak ada siapapun disana.

"Apa itu? Kenapa Kyuhyun seperti itu? Apa? Kenapa? Ya Tuhan, rasanya kepalaku mau pecah."Batin Sungmin terus mendesak bertanya-tanya.

Pria itu menarik nafas dalam-dalam lalu setelah mulai agak rileks dia berjalan ke dapur dan membuat segelas teh hangat untuk menghangatkan perutnya. Seusai membuat teh, Sungmin duduk di sofa yang ada di ruang tamu.

Cukup lama dia dalam posisi duduk sambil menyesap teh hangatnya, dan ketika dia tersadar bahwa ini sudah jam berapa.

"Ah! Seharusnya aku segera mandi dan sekolah." Ujar Sungmin dan dia hendak ke kamar mandi tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu. Bukan ketukan, itu seperti gedoran. Dengan cepat Sungmin berjalan ke arah pintu.

Dan ketika pintu terbuka,

"Kau!"

Sungmin melotot terkejut bahkan jika dilebih-lebihkan, rasanya mata pria ini hampir keluar.

"Kenapa kau itu keras kepala sekali? Pulanglah!" seru seorang gadis imut sambil menunjuk tepat di depan wajah Sungmin.

"SunKyu! Kau…kau sakit jiwa! Kenapa kesini?" Sungmin menepis tangan adik perempuannya itu.

"Kau yang gila, kenapa malah mengejek aku? Aku lelah, oppa. Lebih baik kau pulang sekarang, terserah jika kau ingin balik lagi ke tempat sesat ini. Yang terpenting kau pulang, dan aku tenang. Aku lelah mendengar celotehan eomma dan appa!" Seru gadis ini sementara Sungmin hanya memandang bosan lalu menutup pintu dan masuk ke dalam meninggalkan gadis itu di depan apartemennya.

Dor..dorr..dorr

"OPPA! Kalau kau tidak mau keluar dan membuka pintu ini, akan aku suruh eomma dan appa kesini. Biar kau merasakan lagi penjara masa lalu mu itu. Cepat buka! OPPA!" teriakan gadis itu membuat Sungmin risih dan akhirnya bangkit berdiri lalu membuka pintu untuk adiknya.

Dengan perasaan kesal Sungmin memperbolehkan adiknya masuk ke dalam apartemennya, dan dengan seenaknya sang adik duduk di sofanya lalu meminum dari cangkir Sungmin tadi,

"Loh? Kok sudah habis? Aku ingin minum. Berikan aku minum, cepat ya oppaku yang tampan." SunKyu mengedipkan sebelah matanya sementara Sungmin hanya diam dan membuatkan teh di dapurnya yang hanya bersebrangan dengan ruang tamu.

Sungmin mengambil cangkir baru lalu menaruh gula dan teh sambil menunggu lampu penanda air sudah panas di dispenser berwarna merah.

Biar saja air panas semua ku taruh di cangkirnya, hahaha. Batin Sungmin.

"Oppa!" panggil SunKyu, rupanya gadis itu sudah ada di kursi bar yang ada di dapur Sungmin.

"Ada apa nona bawel?" balas Sungmin sambil mengambil cangkir dan mulai mengisi air panas.

Tiba-tiba muncul pertanyaan iseng dari SunKyu,

"Dimana si Kyuhyun?"

Prang..

.

.

"Oppa? Kau tidak apa-apa?" SunKyu bangkit dari duduknya dan mulai mengarah ke Sungmin yang kini wajahnya disembunyikan ke arah lain dan diam. Juga cangkir yang terjatuh dari tangannya, itu membuat SunKyu kaget.

"Oppa?"

"…"

"Oppa?"

Grep..

Kini, Sungmin dengan mata mendelik tajam dan bibir yang bergetar menatap ke arah SunKyu. Pria itu mencekik leher SunKyu.

"K-kau! Kau! Be-berani beraninya kau menyebut namanya tanpa sebutan oppa!" Sungmin terus mencekik leher adiknya,

"O-opp o-opp-aa..l-le-pas-aah!" SunKyu mencoba melepas cekikan Sungmin di lehernya tapi tenaga Sungmin begitu kuat.

"Dasar adik tidak tahu diri, aku sudah bersabar dan sekarang kau membuatku sangat marah!" Sungmin mengencangkan cekikan dileher SunKyu dan hampir saja SunKyu kehilangan kesadaran…

BRAK..

"SUNGMIN!" pria itu mencoba melepaskan cekikan Sungmin pada adiknya sendiri, dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya pria itu terpaksa harus melayangkan tinjunya ke Sungmin.

"Hahh.. !" SunKyu menjauh dari situ dia berlari keluar, di depan apartemen dia menangis sambil terus mencoba bernafas dengan teratur. Dia begitu shock, sangat shock.

Sementara itu didalam, Sungmin jatuh tersungkur.

"Kau tidak apa-apa kan, Min? Maafkan aku, tidak seharusnya aku meninjumu seperti itu." Donghae, tetangga Sungmin. Dia mencoba membantu Sungmin berdiri tapi langsung ditepis kasar oleh Sungmin.

"Pergilah. Aku ingin sendiri." Ucap Sungmin, dia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sejumlah uang.

"Tolong suruh adikku untuk pulang, dan berikan uang ini untuknya pulang. Dan bilang, aku minta maaf." Sungmin berjalan ke arah kamarnya lalu mengunci diri disitu. Donghae yang sudah mengerti langsung pergi keluar. Dan diluar, SunKyu masih terduduk dilantai koridor apartemen sambil menangis.

Donghae duduk disebelahnya lalu memperhatikan gadis itu yang terus menangis. Agak lama, sampai akhirnya SunKyu yang tahu diperhatikan sejak tadi. Gadis itu mulai menatap Donghae.

"Kau mau ke apartemenku dan bercerita tentang apa yang terjadi?" tawar Donghae ― gadis itu mengangguk. Lalu, mereka bangkit berdiri dan berjalan ke apartemen Donghae.

.

.

Sementara itu, di kamar Sungmin.

"Kenapa, Kyu?" Sungmin menatap sendu ke arah kekasihnya itu.

"Aku tahu kau tahu" Kyuhyun tersenyum.

"Aku hanya ingin kau, aku ingin aku dan kau bersama. Seperti…" Sungmin menarik nafasnya ― sesak.

"Kenapa kau tidak melanjutkannya? Siapakah aku Lee Sungmin?" tanya Kyuhyun.

"Aku mencintaimu, Kyu. Kau…kau segalanya. Kau tahu itukan, Kyu? Aku hanya ingin denganmu. Mereka, mereka semua tidak akan pernah mengerti!" Sungmin menggeram kesal. Dia benci kenapa dia merasa bahwa ini semua rumit.

"Lalu kenapa kau menghindari semua ini?" tanya Kyuhyun ― tangannya merangkum wajah Sungmin dan memandang Sungmin tepat di kedua manik matanya.

"Kau yang pergi bukan aku yang menghindari." Jawab Sungmin. Sesungguhnya dia cukup takut menatap mata Kyuhyun, tapi kalau tidak ia lakukan bisa-bisa pria itu akan marah padanya.

"Kapan kita bisa bertunangan?" tanya Kyuhyun lagi.

"A-apa yang kau maksud? Kita kan sudah…"

"Belum. Kau adalah segalanya untukku, Ming. Kau adalah cintaku, keinginanku, obsesiku. Kau tahu itukan?" Kyuhyun menyeringai ke arah Sungmin yang hanya terdiam.

Sungmin diam saja setelah itu, dia menunduk dan mulai menangis. Sementara Kyuhyun.

"Kau tidak merindukan suara pianoku?" lagi, Kyuhyun bertanya lagi. Dan Sungmin hanya diam,

"Kau ingin aku menemanimu melukis?" Sungmin masih diam,

"Jangan menangis, dan pulanglah. Aku mencintaimu."

Sungmin menghentikan tangisannya dan mengangkat wajahnya tepat dimana Kyuhyun sudah menghilang.

.

.

Apartemen Donghae

Terlihat Donghae dan SunKyu terlibat obrolan yang cukup serius,

"Sudah kuduga, Sungmin bukan seorang yang punya indera ke-enam. Tapi, kenapa bisa dia selalu datang pada Sungmin?" tanya Donghae

"Aku juga bingung. Yang ku tahu kakak ku yang bodoh itu mengidap traumatic dengan kecelakaan. Ku rasa dia sudah gila." Jawab SunKyu dan ditanggapi pelototan oleh Donghae,

"Apa? Kenapa? Memang dia sudah gila! Yang benar saja, dia mencekikku. Kalau saja kau tidak datang mungkin aku sudah mati." SunKyu menggerutu kesal,

"Aku yakin dia hanya trauma. Tapi, tidak hanya pada kecelakaan kurasa. Dan aneh sekali, dia bisa berbicara dengan Kyuhyun seakan-akan itu nyata." Ujar Donghae, wajahnya terlihat begitu penasaran.

"Hm, kau benar sih. Kekasihnya itu juga suka keterlaluan padanya, yang melarang dia melakukan ini lah itu lah. Aku tahu, sebenarnya kakak ku tertekan tapi cintanya terlalu buta, tuli, gagu. Entah apalah itu. Dia begitu mencintai Kyuhyun." SunKyu mendengus kesal,

"Kurasa Kyuhyun juga mencintainya, hanya saja caranya salah. Entah kenapa instingku berkata begitu." Balas Donghae.

Sementara Sun Kyu dan Donghae mulai larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba handphone SunKyu berbunyi.

Setelah melihat nama yang tertera dia mengangkat telepon itu,

"Hm? Aku sudah mengunjunginya, dia mencekikku. Dia benar-benar luar biasa tak terduga. Ku kira dia sudah mulai bisa mengontrol diri." Kata SunKyu pada orang yang meneleponnya,

"Kau pasti melakukan hal bodoh makanya dia bisa berlaku kasar."

"Terserah saja. Aku sangat merindukan kakakku yang dulu. Bagaimana bisa seorang Lee Sungmin yang pandai melukis itu menjadi kasar? Dia memang agak jutek tapi tidak pernah sampai berbuat seperti tadi padaku." Ucap SunKyu ― sangat kesal.

"Aku juga sedang berusaha. Kalau kau ingin menyerah, aku akan melakukan hal nekat." Klik..

SunKyu menatap layar ponselnya sambil mengumpat. Lalu, dia menyadari bahwa sudah seharusnya dia pulang.

"Aku harus pulang. Kau bisa antarkan aku sampai tempat perhentian bis?" tanya SunKyu

"Baiklah."

.

.

Plop

Sungmin tersadar, dia membuka matanya dan bangun berjalan ke arah kamar mandi. Dia mencuci wajahnya di wastafel

"Jadi aku bermimpi?" tanya Sungmin lebih kepada dirinya sendiri.

Sejak kapan aku tahu mimpi? Lagi-lagi Sungmin bertanya kepada dirinya.

Dengan malas dia mulai membuka seluruh pakaiannya dan mandi.

.

.

Sungmin's POV/At School

Sebenarnya aku malas sekali untuk sekolah hari ini, kalau saja bukan karena kemarin aku membolos sudah pasti hari ini aku akan tidur sepanjang hari. Semua ini karena adikku yang bodoh, dia membuat moodku menjadi tidak bagus.

Alhasil, setiap orang yang menyapaku di koridor hanya kubalas dengan senyum yang agak dipaksakan. Dengan langkah perlahan aku memasuki kelasku dan duduk di kursi yang paling pojok dekat jendela untuk mendapatkan ketenangan.

"Selamat pagi, Min!" sapa seseorang dan saat aku menoleh ke sampingku seorang pria dengan senyuman lebarnya membuat mataku nyeri. Oh mungkin agak berlebihan.

"Hm, pagi." Balasku sambil mengeluarkan beberapa buku dari tas ku.

"HEY SUNGMIN!" teriak seseorang dari depan kelas. Tanpa menoleh pun aku tahu siapa dia,

Rasanya pagi ini ketenangan yang aku inginkan tidak dapat ku raih.

"Kris bisa kah kau mengecilkan volume suara mu? Telinga ku sakit!" oceh Chanyeol. Ya pria dengan senyuman lebar yang membuat mataku nyeri adalah Chanyeol. Sementara pria berisik dan gila yang meneriaki ku dia, Kris. Kedua pria jangkung yang membuat ku ilfeel ketika berdiri disamping mereka.

"Maaf kan aku, Yeol. Aku hanya terlalu excited dengan pagi yang indah ini. Kau tahukan pelajaran pertamanya apa?" Kris mengedipkan sebelah matanya.

Oh tidak aku malas bahas ini.

"Aku tidak tahu." Chanyeol menunjukkan wajah polosnya, sementara aku hanya diam. Terlalu malas untuk menanggapi.

"Kau ini bodoh atau apa? Pelajaran hari ini dimulai oleh pelajaran dari Miss Ahhhhh. Shhh." Kris mengigit bibirnya sambil memberikan wajah menggoda.

"Dan aku ingin muntah melihatmu." Aku menatapnya sambil membuat 'akting ingin muntah'

"Kau mengerti kan, Yeol? Kenapa kau malah bengong? Hey!"

"Kris! Bisakah tolong duduk di kursi mu?" aku mengarahkan pandanganku kedepan kelas dan sudah berdiri seorang gadis yang sedang menatap horror ke arah kami.

Dan Kris hanya mengangguk sambil berjalan ke tempat duduknya.

"Oke. Kelas sudah bisa kita mulai. Selamat pagi semuanya!" sapa Miss Ahra.

"Selamat pagi, Miss!" balas semua murid-murid.

"Sebenarnya aku sedang malas mengajar, jadi hari ini kita mengobrol saja oke?" Miss Ahra mengedipkan sebelah matanya, dan tentu saja semua murid berseru ria.

Dasar guru aneh. Makan gaji buta tuh! Kataku dalam hati.

"Ada yang suka bermain alat musik disini?" tanya Miss Ahra

"Aku miss!" ya, tanpa menoleh aku sudah tahu siapa dia.

"Chanyeol kau bisa bermain alat musik apa?"

"Aku bisa bermain gitar, drum, tapi ada satu hal yang tidak pernah aku bisa." Sepertinya aku tahu dia akan bilang apa.

"Apa, Chanyeol?"

"Bermain main dengan perasaan wanita, Miss." Dan langsung saja semua orang yang berada di kelas kecuali aku dan Miss Ahra, semuanya menyoraki Chanyeol sementara orang gila itu hanya nyengir menunjukkan deretan giginya.

"Kalau piano?"

Deg…

Aku benci itu, satu kata itu disebutkan tanpa ada jeda untuk memberi peluang untukku bernafas.

"Ada yang bisa bermain piano?" tanya Miss Ahra ― lagi.

Tapi, sepertinya tidak ada yang mengangkat tangan. Dan entah setan dari mana aku baru sadar kalau saat ini ada satu orang yang mengangkat tangan.

"Kau bisa bermain alat musik?" tanya Miss Ahra dan pandangan matanya tepat ke arahku.

"Hm, a-aku bisa. Hanya beberapa lagu yang pernah diajarkan oleh seseorang." Aku tersenyum canggung. Sejujurnya aku tidak menyadari kalau aku mengangkat tanganku.

"Oh baiklah. Kalau musik tradisional ada yang bisa?"

OoOoOoO

Bel sepulang sekolah sudah berbunyi sejak 1 jam lalu, sekarang aku sedang berada di ruang seni. Karna aku sedang dalam mood yang tidak baik alhasil aku hanya duduk di kursi sambil memandang ke luar jendela, aku menyenderkan kepalaku di jendela dan sayup-sayup aku mulai merasa santai.

"Sungmin, kau tahu rasanya tidak ada kau disamping seperti ketika pisau ini menggores kulitku." Kyuhyun saat ini sedang memegang sebuah pisau lipat, yang sekarang dia arahkan kearah lehernya dan mulai memberikan tanda disana.

"Kyu! Kau gila!" Sungmin mencoba menarik pisau lipat yang sudah melukai leher kekasihnya itu dan berhasil. Langsung saja Sungmin melempar pisau itu.

"Makanya, Ming jangan pernah meninggalkan aku." Kyuhyun menatap Sungmin dengan pandangan yang terlihat menyakitkan.

"Perbuatanmu yang membuatku ingin pergi, Kyu." Sungmin menoleh ke arah lain.

"Kalau begitu coba saja. Kau tahu kan aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan?" Sungmin langsung menatap tajam ke arah Kyuhyun.

"Aku sungguh mencintaimu, Kyu. Tapi, aku mohon jangan lagi." Sungmin memeluk Kyuhyun sementara pria itu hanya diam sambil tersenyum.

"Baiklah kalau kau yang minta. Kalau begitu hari ini aku akan menuruti semua permintaanmu."

Sungmin melepas pelukannya lalu menatap Kyuhyun dengan mata berbinar.

"Benarkah?"

"Katakan lagi tentang perasaanmu baru kita melakukan semua yang kau mau." Pinta Kyuhyun

"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Kyuhyun!"

"Hey Sungmin!"

"Lee Sungmin!"

Bugh..

Brak..

"Ssh, pantatku sakit sekali!" aku mencoba memfokuskan pandanganku dan mendapatkan wajah seorang gadis yang sedang melambaikan tangannya didepan wajahku.

Lalu gadis itu mencoba membantuku berdiri, dan ternyata dia.

"Miss?"

"Ya? Kenapa?"

"Kenapa kau suka sekali….err menggangguku?" aku mendudukkan diriku lagi dikursi sementara guru yang menyebalkan itu berdiri dihadapanku.

"Aku hanya bingung kenapa kau suka sekali ketempat ini? Padahal disini jarang ada orang. Kau tidak takut kalau-kalau ada hantu yang menakutimu? Hiyy."

"Ku kira kau ingin mentraktirku lagi."

"Boleh saja. Bagaimana kalau kita ke kedai mie atau ke restoran fast food?" tanya Miss Ahra.

"Aku suka hamburger, Miss. Tapi, kurasa aku merindukan chajangmyeon." Aku tersenyum mengingat makanan kesukaan kekasihku.

"Baiklah kalau begitu. Let's go!"

OoOoOoO

"Yesterday's the past, tomorrow's the future, but today is a gift. That's why it's called the present." - Bil Keane

Author POV/At Kedai Mie

Terlihat Sungmin dan Ahra yang sedang menunggu pesanan mereka sambil mengobrol.

"Jadi, kekasihmu yang mengajarimu piano?" tanya Ahra dan dijawab anggukan oleh Sungmin.

"Kau pernah bermain lagu apa, Min?" tanya Ahra

"Aku pernah bermain lagu Yesterday yang arahan musiknya Paul Mc Cartney versi piano."

"Oh aku tahunya versi gitar. Mungkin akan indah kalau dimainkan dengan piano juga. Lalu, apa kekasihmu itu seorang guru les atau apa?" tanya Ahra lagi.

"Dia memang suka bermain piano. Kenapa kau suka sekali membahas tentang kekasihku, Miss?" Sungmin memberikan tatapan meneliti ke arah Ahra sementara yang ditatap hanya tersenyum.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ahra.

"Kurasa tidak." Sungmin mengendikkan bahunya.

"Ck mungkin saja."

Kemudian, Ahra mengeluarkan ponselnya.

"Min, pernahkah kau melihat ini?" tanya Ahra sambil memperlihatkan isi ponselnya ke Sungmin.

"I-itu kan. Aku pernah lihat, tapi dimana ya. Aku lupa, hmm." Sungmin mencoba mengingat isi ponsel yang ditunjukkan Ahra.

Agak lama, Ahra menunggu sampai Sungmin menjawabnya. Dia ingin tahu jawabannya.

Mengunggu, Sungmin masih berusaha mengingat-ingat.

Sampai,

"Ah aku ingat! Miss, kau dapat darimana foto itu?" tanya Sungmin dan dia terlihat memicingkan matanya ke Ahra.

"Kau tidak tahu maksud jawabanmu sendiri, Ming…?"

"Miss..kau?!"


To Be Continued●


Hello, readers!

Aku minta maaf sekali atas ketelatannya untuk meng-update fanfic ini. Maaf kalau ada yang kurang sreg di hati kalian dan kepanjangan hehe. Tapi, aku sudah berubah menjadi malaikat sekarang #PLAK. Aku udah jawab pertanyaan2 kalian seputar apakah kekasih Sungmin-imut adalah hantu/apa/apa/apa. Hehehe, untuk yang sudah bersabar dan menerima FF abal ini aku sungguh berterima kasih. Chap depan aku usahakan untuk memasukkan request kalian. *emang request apaan?*-_-. Baiklah, daripada semakin gak jelas, akan lebih indah jadinya kalau kalian me-REVIEW fanfic ini. Sekian dan terima kasih, LOVE YOU~

- Jec Ocha -