Disclaimer : JKR's then yadda-yadda-yadda
(Chapter 4)
''Wajar saja, itu kan pekerjaan jurnalis, Harry.''
''Tapi Parkinsonlah jurnalisnya. Tidakkah ini kebetulan?," tukas Harry. Aku takkan pernah percaya dengan berita yang diulasnya."
"Harry," menghela napas kesal, ''memang apa bedanya dengan jurnalis yang haus berita lain? Kau tak bisa menuduhnya seperti itu. Masa itu sudah lewat.''
''Benar, seperti kau yang bilang. Tapi tidak lagi sekarang. Jika rumor itu sampai menyebar ke publik..,'' membiarkan ucapan menggantung di tengah. Mata memancarkan kekuatiran.
Hermione hanya bisa menggidikkan bahu, ''Ada kalanya Harry, setinggi apapun tupai melompat pasti akan jatuh juga. Masalahmu takkan mungkin bisa tertutup rapat selamanya. Well, aku menyarankan untukmu bersiap.''
Harry mengernyitkan dahinya, ada kesan tidak setuju yang akan diteriakkannya pada Hermione. Tapi sepertinya semua yang akan dikeluarkan dari bibirnya tersekat di tengah. Hermione hanya menatapnya kasihan dari sofa empuk di kantor Harry, menunggu sampai sahabatnya itu menyerah. Benar, Harry menyerah, bahunya melemas dan tangannya bergerak mengusap muka lalu menyisir rambutnya. Menghirup banyak udara dan melepaskannya pelan.
''Aku hanya ingin mempertahankan nama baik Weasley,'' ujarnya lemah.
Hermione tersenyum lirih, ''Aku yakin Molly dan Arthur pun tidak keberatan. Anak perempuannya sudah terlalu melenceng jauh dari seperti yang mereka biasa kenal. Aku pun sekarang tak bisa mengenalnya lagi.''
''Karena itu semua kesalahanku, Mione. Aku mengecewakannya terlalu dalam.''
''Tapi tak adil jika dia mengkhianati cinta yang kau berikan, dan menghukummu secara sepihak. Terkadang ada yang harus berjalan secara tak terkendali,'' brunette itu berujar. Bangkit dan berjalan menuju ke tempat sahabatnya berdiri. Memegang bahu Harry dan menggosoknya pelan. Ia memang butuh semangat.
''Menurutmu sendiri bagaimana, Mione?'' tanya Harry pelan, kepalanya menunduk lalu menatap manik cokelat perempuan itu. Wajahnya sedih.
''Kalau aku,'' berhenti sejenak, membalas tatapan sedih Harry dengan tatapan bingung. Dirinya memang masih tak yakin apakah pantas memaafkan Ginny Weasley.
Dua setengah tahun yang lalu masalah ini terjadi. Semua masih berlangsung normal saat itu, seperti biasa Ginny Weasley masih mencintai Harry Potter dan begitu juga sebaliknya. Sementara itu, Hermione baru saja putus baik-baik dengan Ron dan Weasley itu memutuskan untuk berangkat ke Rumania membantu kakaknya, Charlie, mengurus naga-naga. Setelah itulah Hermione mulai bekerja untuk perusahaan Malfoy, sementara Harry masih bertahan di divisi Auror dan Ginny masih di dunia Quidditch.
Masalah bermula ketika Ginny merengek kepada Harry untuk segera meresmikan pertunangannya ke hadapan publik. Harry yang tengah sibuk saat itu—dan yeah, karena dia seorang Harry Potter—dengan setengah hati menyetujui saran Ginny. Setelah perdebatan kecil antara Harry dan Ginny, mereka akhirnya mengumumkan pertunangan. Beberapa bulan kemudian dia makin menjadi, sifatnya agak berbeda dari biasanya. Hermione terkadang harus dua kali mencerna apa yang terjadi pada Ginny dan apa yang terucap dari bibir si pemilik rambut merah itu. Dia hanya menjawab bahwa inilah dirinya saat inilah yang benar, hidupnya sempurna. Hermione merasa, Ginny menjadi kekanak-kanakan.
Pernah suatu hari Hermione mengingatkan padanya tentang masa sekolah dulu, saat Ginny merupakan anak perempuan yang tangguh, pengertian dan cukup sabar menghadapi Harry, namun Ginny langsung tersulut dan mencibir apa yang dikatakan Hermione. Bilangnya mereka sudah dewasa dan apapun bisa berubah secara mendadak; bilangnya Harry begitu sibuk dengan pekerjaan Aurornya, tidak peka dengan perasaan seorang perempuan yang ingin menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius. Hermione awalnya hanya diam, mencari alasan bahwa Ginny memang pantas berubah menjadi seperti itu, teman-temannya sudah banyak yang menikah. Dan normal jika dia menginginkannya dan dengan emosi tinggi memaksa Harry untuk bersegera menikahinya.
Mungkin juga salah Harry, tapi tak seutuhnya juga memang. Walaupun pihak yang putih menang pada saat perang Hogwarts beberapa tahun lalu, bukan berarti otomatis para auror duduk manis tanpa tugas yang berarti, kegelapan tetap harus diwaspadai. Dan Harry cukup disibukkan dengan pekerjaannya, menjadi lekas emosi dan secara tak sadar meneriaki Ginny. Dan meletuslah pertengkaran. Rencana pernikahan mendadak batal dan Ginny kabur dari rumahnya. Menganggap semua orang tidak berpihak kepadanya, bahkan orangtuanya.
Suatu hari setelah beberapa minggu mereka putus, Hermione menjumpai Ginny di sebuah tempat secara kebetulan. Mereka mengobrol. Hermione mengangkat topik yang seharusnya tak diangkat, mempertanyakan apakah Ginny mau meredakan amarahnya dan kembali pada Harry. Tak disangkanya bahwa Ginny akan tersinggung. Mengumpat, mencerca Hermione dan secara tak langsung mengatainya dengan perkataan buruk yang bersangkutan dengan nama Malfoy. Dan cerita itu menggantung sampai disini. Hermione cukup sakit hati sekaligus tidak pernah mengenal Ginny yang sekarang. Liar, tak terarah dan labil.
Matanya kembali pada manik hijau Harry, ''Mungkin akan memaafkannya. Karena dia begitu labil, Harry. Setelah aku pikir. mungkin aku bisa berbaikan dengannya. Begitu pula dirimu. Tapi aku bisa salah, karena aku tak pernah menjumpainya lagi semenjak hari itu,'' jawabnya. Tersenyum lemah kepada Harry.
''Sekarang kau fokus saja ke duniamu yang baru Harry. Kalau bisa kusarankan, lupakan dulu hal ini. Kita butuh pendinginan, mungkin, sampai Ginny bisa ditemui dan kita bisa membicarakan ini baik-baik,'' ujar Hermione. Menepuk pipi Harry lembut. ''Get a life, dear.''
Harry hanya bisa menyeringai lemah.
***
Sungguh memang ketidak-beruntungan bisa terjadi hanya karena satu faktor asing yang merayap ke dalam kehidupan seseorang. Contohnya: Pansy Parkinson yang masih berkutat dan setengah panik mencari dokumennya, merapal accio berkali-kali di seluruh penjuru ruangannya. Apalagi kalau bukan dokumen wawancara-nya dengan Potter beberapa saat yang lalu, yang hari ini juga harus diserahkan kepada direkturnya itu. Gundik Merlin, mengapa harus selalu Harry Potter bercodet itu lagi masalahnya. Sebutlah penyihir lain, tak pernah ada kejadian dokumen hilang kecuali yang satu ini. Dan alasan apalagi yang bisa dikatakan Pansy kepada Mrs. Smith itu? Dokumennya terbang dengan sapu terbang menuju Mr. Potter-nya yang terkasih?
Tsk. Pansy menghempaskan tubuhnya. Dia tak boleh dipecat. Memijit-mijit pelipisnya, dia tidak pusing, pening, atau apapun nama penyakit kepala itu. Dia hanya sedang mempertanyakan keadaannya saat ini. Berpuluh-puluh jurnalis yang bekerja di Witch Weekly, tapi kenapa harus Pansy yang kedapatan mengatur segala berita tentang Harry Potter---dan bahkan dia yang mencari beritanya. Terkutuk Laura Maggot yang tampaknya lari dari tanggung jawab.
Pansy mendesah keras; kesal dengan segala kejadian yang membuatnya bingung apakah harus berhenti dari perusahaan ini atau tidak. Tawaran Nott tampak sangat menggoda, namun dia sendiri tidak begitu yakin dengan apa yang ditawarkan Nott, mengingat dia sendiri tidak seberapa dekat dengannya.
Mata Pansy menerawang. Tsk, persetan dengan artikel. Dia beranjak dari duduknya, meraih tas-nya dan pergi menuju cafe terjauh.
***
''Cappuccino satu,''
''Vanilla Latte satu,''
Pansy menoleh ke seberang meja layan yang tempatnya berada tepat ditengah ruangan, berbentuk bundar. Dilihatnya wanita sebaya dengan dirinya, dengan rambut bergelombang. Hermione berdiri tepat di sisi lain di meja layan. Mata mereka beradu, namun Pansy yang pertama kali mengalihkan pandangan, tak acuh. Tak ada keperluan untuk menyapa, dan memang untuk apa.
Gelas kertas berisi cappuccino milik Pansy disodorkan sebelum milik Hermione. Cepat-cepat diraihnya dan pergi keluar dari café tersebut. Sebenarnya tak ada hal yang harus dihindari dari pertemuan ini. Tujuh tahun Pansy selalu bertatap muka dengannya, tapi hari ini perasaan Pansy mengatakan lebih baik menghindar.
Tapi Hermione menyapa saat Pansy melewatinya. "Halo, Pansy."
Pansy berhenti sesaat, "Kupikir itu langkah yang bagus untuk memulai pertemanan denganku, Granger." Lalu dia melangkah pergi keluar. Hermione mengikutinya dari belakang.
"Tidak ada salahnya. Kau teman Draco, berarti juga temanku," ujar Hermione memancing. Pansy menghentikan langkahnya. Tersenyum dingin.
"Kau tak akan mungkin jadi temanku, Granger," ujar Pansy setelah membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Hermione dingin. "Dan, memanggil namamu dengan benar saja sudah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Jadi, lebih baik jangan ikuti aku lagi."
Tapi Pansy menyadari Hermione masih mengikuti langkahnya. Mencoba untuk berbicara dengannya. Gadis Gryffindor itu memang banyak omong, tidak bisakah dia diam dan menghentikan teori-teorinya tentang pertemanan? Pansy menghela napas panjang, "Granger aku minta kau tut—"
"PANSY!" seseorang di belakang Pansy berteriak, dan tanpa dua kali berpikir dia tahu suara itu berasal dari mulut Theodore Nott. Sudah beberapa hari ini dia selalu diikuti oleh Nott. Tidak jauh berbeda dengan Hermione, Theodore selalu berceloteh riang tentang Rusia, pekerjaannya disana dan Pemilik perusahaan dimana tempat dia bekerja dengan senang hati menawarinya posisi Direktur. Dan tentu saja menyinggung bagaimana Pansy lebih baik bekerja di tempat dia bekerja.
"Oh, halo Nott," Pansy dengan malas menyapa kembali Theodore. Tapi Theodore masih berdiri disitu, tidak melanjutkan sesuatu yang—mungkin—akan dikatakannya pada Pansy. Dia menatap Hermione takjub, yang kemudian dibalas anggukan oleh pemilik rambut semak-semak itu.
"Halo," ujar Hermione canggung. Seumur hidupnya bersekolah di Hogwarts dia tak pernah bersinggungan dengan Theodore Nott. Entah untuk bekerja kelompok dalam kelas atau apa.
"Ah, halo… Granger. Senang berjumpa denganmu disini," balas Nott.
Pansy memutar bola mata. Adegan ini sungguh terlalu membosankan, jika ini sebuah adegan di novel, Pansy akan dengan sigap akan menutupnya dan membuang buku itu jauh-jauh. Dan dia akan melakukannya—pergi dari tempat pertemuan-tak-penting itu, tapi Theodore mencegahnya.
"Mau kemana?"
"Kembali ke kantor, Nott."
"Ah, maaf. Tapi aku memanggilmu tadi untuk memberitahu sesuatu,"
"Jika kau tak langsung memberitahunya, Nott, kau sedang membuang waktuku." Dan bukannya Pansy sangat menghargai waktu, beritahu kau tentang itu. Tapi ini semata karena dia terlalu kesal karena harinya sudah begitu sangat tak masuk akal sedari pagi tadi.
Hermione hanya menaikkan alis, mengerti mengapa Pansy marah—walau pada kenyataannya bukan seperti yang dipikirkannya—kepada Theodore. "Kalau begitu aku pergi dulu. Maaf telah mengganggu pagimu."
"Tunggu dulu, Granger. Lebih baik kau mendengar apa yang aku katakan ini. Kalian kuundang untuk merayakan pesta ulangtahunku, malam ini. Di Laburnum Gardens 53; jam 8 malam. Bagaimana?"
"Kau mengundangku?" tanya Hermione heran.
"Kau bisa mengajak Malfoy, kudengar kalian berdua berpacaran."
"Ya, benar. Dan terimakasih atas pemberitahuannya, btw. Sampai jumpa." Pansy menyela niat Hermione yang akan menjawab sesuatu atas omongan Theodore. Dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi ternyata mereka juga bubar bersamaan.
***
"Parkinson, aku harap kau bisa mewawancarai Harry Potter lagi, aku dengar dia akan datang ke pesta kawan lama kalian, bukan begitu?" Mrs. Smith mendadak muncul dari balik tembok ruangan Pansy—dimana Pansy masih berkutat dengan pencariannya (dan berniat untuk menulis ulang).
"Datang?" tanya Pansy heran.
"Ya. Seseorang memberitahuku bahwa kawan lama kalian akan mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang Harry Potter. Dan dia bilang kau juga akan datang. Jadi kuharap kau bisa mewawancarainya lagi."
Pansy masih kebingungan dengan apa yang dikatakan perempuan tua berkacamata tanduk itu. Bukan karena perkataannya tapi sesuatu dibaliknya. Sejak kapan dia menyetujui akan datang ke pesta Nott? Dan mengapa Harry Potter diundang juga? Siapa yang memberi informasi pada direkturnya ini? Kenapa pula dia lagi yang harus mewawancarainya.
"Aku tidak berniat datang. Aku ingin—"
"Apapun yang ingin kau lakukan Parkinson, aku harap kau datang."
"Tapi, aku bahkan belum memberikan hasil wawancaraku kepadamu!"
"Kau sudah kok. Bukannya tadi pagi kau memberikannya di mejaku? Gareth memberitahuku."
"Apa?"
Ada yang salah disini, sesuatu yang teramat salah. Sejak kapan dia meletakkan hasil wawancaranya di meja Smith, sementara dia tadi pagi kebingungan mencari—dan lagipula dia sedang berada di café? Semua ini diluar daya pikirnya, dan sekarang dia benar-benar menginginkan semuanya berhenti. Terlalu aneh dan sangat tercium jejak konspirasi diantara semua kejadian ini.
"Mrs. Smith, aku rasa aku harus berhenti dari kegiatan mewawancarai Potter ini, kau tahu aku editor dan Louisa yang har—"
"Aku menginginkan kau. Karena kau yang menangani artikel tentangnya dari awal. Dan Louisa sudah aku tugaskan untuk mengurus artikel yang lain."
"—us mengerjakannya. TAPI AKU EDITOR DAN AKU ATASAN LOUISA!" Pansy berseru setelah Mrs. Smith menyela dan dengan sepihak memutuskan semuanya.
"Aku atasanmu, Parkinson. Aku bisa memutuskan semuanya, walau—maafkan aku—kau tak setuju. Tapi berita Harry Potter benar-benar menaikkan pendapatan Witch Weekly. Itu berarti artikelmu disukai semua orang, Parkinson."
Pansy memutar kepalanya, mulutnya terbuka, berkacak pinggang, dan mendengus keras. "Aku bahkan tidak meletakkan hasil wawancara itu Mrs. Smith! Aku kehilangan dokumennya!"
"Aku tak mengerti maksudmu. Baiklah, aku tak ada waktu. Dan kuharap besok aku mendapat artikel wawancaramu malam ini dengannya." Dan Mrs. Smith beranjak meninggalkan ruangan Pansy.
Dan Pansy memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya detik itu juga. Persetan dengan semua tugas yang ada.
***
Pansy tidak pergi malam itu. Dia menenggelamkan diri di dalam kamarnya. Membaca novel. Benar, membaca novel muggle. Dirinya mungkin secara tidak langsung sudah membuka hati terhadap benda-benda muggle—semata karena dia dipaksa oleh Draco. Buku yang dibacanya saja hasil pemberian dari Draco.
Pride and Prejudice.
Novel percintaan. Bah.
Dia tidak butuh pengajaran akan dunia percintaan dari tulisan seorang muggle. Tapi Draco sangat memaksanya untuk membaca novel itu, bahkan memintanya untuk menceritakan isi dari novel kepadanya saat Pansy sudah selesai membacanya. Dipastikan Draco sudah tercuci otaknya dengan buku-buku muggle. Apakah tidak ada novel percintaan dari penulis penyihir? Dengan sebegitu banyaknya buku di perpustakaan Hogwarts dan ditempat lain—di Kementrian misalnya.
Yang ada mungkin berjudul 'Cintaku Seperti Perjuangan Melawan Naga' atau 'Ramuan Cinta' oleh Gilderoy Lockhart. Mungkin lebih baik ketimbang membaca cerita cinta haru biru Eliza Bennet dan Tuan Darcy-nya.
Pansy menutup novelnya, meletakkannya di tepian meja lampu tidurnya. Sebenarnya keputusan untuk meninggalkan pekerjaannya merupakan keputusan bodoh. Tapi tak mungkin terus-terusan dia dipaksa membuat artikel dan mengeditnya sendiri sementara tim yang seharusnya dia tangani tidak membantunya sama sekali. Dan bahkan Smith tua yang brengsek itu memutuskan secara sepihak tanpa Pansy tahu. Dan persetan pula dengan pria bercodet, yang mungkin saat ini sedang bersenang-senang di pesta.
Lebih baik dia tidur saja hari ini, berniat tidak masuk kerja besok sebagai sinyal bahwa dia tidak akan pernah bekerja lagi disana. Dan mungkin dia akan nekat mendaftar untuk bekerja di Kementrian, atau paling parah… menerima tawaran Nott.
Ah, ralat. Bekerja di Kementrian mungkin lebih parah ketimbang bekerja pada Nott. Mungkin sebaiknya dia harus berbicara dengan Nott nanti.
***
Witch Weekly, minggu ketiga bulan Oktober.
Harry Potter Kembali Beraksi
Oleh : Pansy Parkinson
Memang tidak ada habisnya untuk mengupas kehidupan seorang Harry Potter, Lelaki Yang Bertahan Hidup. Tak ada yang lebih menyenangkan selain mendengar kembali kisah kehidupannya yang selalu menarik untuk dikupas. Kini pun Harry muncul kembali dengan membawa kabar baru untuk diberitahukan kepada masyarakat penyihir Inggris.
Setelah kontribusinya terhadap perdamaian dan ketenangan dunia sihir Inggris, tidakkah dari kita semua membayangkan bahwa lelaki itu akan menggeluti dunia politik? Mungkin sekali lagi dia dapat menyelamatkan pemerintahan, yang dipenuhi aksi saling menipu, saling menjilat, dan menikam dari belakang dengan diam-diam maupun secara terang-terangan. Bahkan kita lebih membayangkan bahwa dia akan menjadi Kepala Auror—dimana jabatan ini sangat bermartabat di mata masyarakat. Atau bahkan mungkin kita telah membayangkan sosoknya dalam balutan seragam tim nasional Quidditch seperti mantan pacarnya, Ginevra Weasley? Bagaimana pula kisah percintaannya sekarang?
Witch Weekly secara eksklusif berhasil mewawancarai pembisnis sapu terbang ulung ini, kemarin malam pada sebuah acara privat seorang temannya semasa bersekolah di Hogwarts. Untuk edisi berikutnya kami akan mengupas tuntas dunia sedang digelutinya. Dan tentu saja tentang kisah cintanya yang selama ini kita nanti-nanti.
Selamat berakhir minggu!
Pansy terdiam ketika mendapat dan membaca edisi terbaru Witch Weekly minggu ini dengan namanya yang tertera di awal artikel. Terkejut, bingung dan marah. Dia tidak pernah membuat tulisan seperti ini. Jelas ini adalah tulisan orang lain yang mengaku sebagai dirinya. Ada seseorang di luar sana atau orang dalam yang ingin Pansy terjebak dalam permainannya. Entah untuk apa dan oleh siapa. Dia menggigit bibir, sedikit kuatir. Benaknya dipenuhi berbagai spekulasi. Artikel ini pasti akan menimbulkan reaksi yang mungkin seperti dugaannya.
Yang terburuk. Mungkin.
An : ternyata saya masih kurang gape menulis. Terimakasih buat betareader saya. Tampaknya saya harus banyak belajar dari anda. Sekian. Silahkan laknat, sumpahin, puja, hibur saya di pencetan bawah itu. Terimakasih. (_ _)
