Tubuhnya lemas bagaikan jelly ketika melihat keadaan di dalam ruangan itu berantakan seperti kapal pecah. Sinar kegembiraan wanita itu benar-benar hilang begitu mengingat keadaan seorang anak kecil di dalam sana. Uchiha Deidara, ibu dari Uchiha Naruto itu mempercepat langkahnya menuju kamar sang buah hati yang terletak di lantai 2.
Sebuah pintu dengan hiasan pernak-pernik khas anak-anak pun mulai terlihat ketika kedua kakinya mencapai anak tangga terakhir. Dengan nafas terengah-engah Deidara melangkahkan kakinya dan memutar kenop pintu tersebut.
Suara tepukan tangan seseorang mengisi ruangan tersebut ketika pintu terbuka. Deidara membulatkan matanya, apa yang terjadi. Dimana putranya?
"selamat datang, Nyonya Uchiha"sapaan dingin nan menusuk terdengar dari mulut pria itu. "dimana putra ku?"tanya Deidara. Menma berjalan mendekati Deidara. Wanita itu berjalan mundur demi menghindari pria bermarga Uzumaki itu.
Malang nasibnya, Deidara harus terhimpit diantara tubuh Menma dan pintu kamar putranya sendiri. Merutuki kebodohannya sendiri. "ku tanya pada mu, dimana putra ku?"dengan sedikit membentak Deidara bertanya. Menma memegang dagu Deidara, meminta wanita itu untuk menatap matanya.
"dimana ya"Menma bertanya dengan nada yang dibuat main-main. "Aku tidak main-main, dimana Naruto?"
Plakk..
Menma menampar wajah Deidara. Setitik darah mengalir di sudut bibir Deidara. "bertanya pada ku, dimana putra mu? Khee, hahahahahah"Menma tertawa seolah seorang pelawak berdiri tepat dihadapannya. "jika aku tahu, aku pun sudah memperkosa dirinya"
Wajah Deidara memucat. Apa maksud perkataan Menma? Mungkinkah orientasi pemuda ini sedikit menyimpang? Tidak sedikit, keseluruhannya Menma memang benar-benar sudah menyimpang.
"kau"
"tidak dapat ibunya, putra nya pun jadi.. Tapi, tidak kah itu menyenangkan kalau mendapatkan keduanya?"tanya Menma.
Wajah Deidara memucat. Ia ingat betul sikap Menma itu. Bermula saat istri dari Uchiha Itachi itu berjalan menuju flat kakak sepupunya untuk mengantar makanan. kejadian 10 tahun yang lalu, dimana Deidara mendapati Menma sedang menindih seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun. Bocah itu mendesah kesakitan ketika jari-jari Menma bermain di lubang kecil bocah tersebut.
Melihat Menma yang lengah, Deidara pun menyempatkan diri untuk menendang selangkangan Menma. Menma melepaskan kurungannya pada tubuh Deidara. Melihat kesempatan kabur, wanita itu langsung berlari ke arah jendela dan melompat dari jendela tersebut.
"sial"umpat Menma.
.
.
.
* Kantor Hokage *
Cklekk..
Suasana di ruang kerja Hokage wanita itu pun hening, ketika melihat wanita cantik yang langsung terjatuh di depan pintu. "Dei-chan"Tsunade segera mendekati tubuh cucu sulungnya itu dan meminta para asistennya untuk membawa tubuh Deidara ke ruang kesehatan.
Deidara jatuh tak sadarkan diri, ketika tiba di ruang kerja neneknya. Ia kelihatan lelah sekali, Tsunade bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan wanita yang telah mengganti marganya sebagai Uchiha itu?
.
.
Rumah Keluarga Shimura
Ino terus memperhatikan bocah berwajah manis yang masih tertidur pulas di ranjang ukuran sedang. Wajah polosnya begitu damai, ketika bocah itu sedang tertidur. Tak sabar rasanya menunggu Naruto bangun, dan melihat sikap Hyperaktif keponakannya itu.
"Apa kau sudah memberitahukan berita ini pada, Baa-san?"tanya Ino, menyadari suaminya yang ia nikahi tanpa ada pesta meriah mengingat posisi bangsawan yang melekat erat pada diri sang suami. "aku sudah mengirimkan utusan ku untuk memberikan surat itu untuk Tsunade-sama"
Ino menghela nafas lega. Akhirnya, tinggal menunggu saja apa balasan dari neneknya, setelah mengetahui dirinya menikah tanpa sepengetahuan keluarganya. "dia mirip sekali dengan Tousan"Gumam Ino, menyadari kemiripan keponakannya dengan sang ayah.
"Unggg"
Naruto mencoba membuka kelopak matanya yang terasa masih enggan untuk terbuka. Begitu kelopak matanya terbuka sedikit, Naruto mengerjapkan kedua kelopak matanya. Masih belum sadar, dimana keberadaannya saat ini. "Sudah bangun ya?"
Naruto lantas menoleh dan mendapati seorang wanita yang memiliki perawakan mirip dengan sang ibu. Jangan kira Naruto tidak bisa membedakan, tentu saja bocah 6 tahun itu dapat membedakan ibunya dan orang lain yang memiliki replika sangat mirip dengan bundanya.
"bibi siapa?"Tanya Naruto, polos. "Aku Ino, adik bungsu ibu mu"jawab Ino. Naruto diam, berpikir sejenak. Apa benar yang dikatakan wanita di hadapannya itu?
"ibu mu namanya Deidara kan? Uchiha Deidara, benarkan?"
"Bagaimana bibi bisa tahu?"Naruto balik bertanya. Ino tersenyum simpul dan mengusap pelan surai blonde Naruto. "karena aku adalah adik ibu mu, nama mu Naruto kan"Ino mendudukan dirinya di samping ranjang. "Nalu mau beltemu mama"lirih Naruto. Ino melirik Sai, Sai pun mengangguk pelan. Kini, ia menyerahkan semuanya pada sang istri.
"Di luar sana berbahaya, mama mu pasti akan menjemput mu setelah berhasil mengalahkan paman Menma"ujar Ino, berusaha meyakinkan Naruto.
.
.
.
FLASHBACK ON
"Kau yakin lewat sini aman?"Tanya seorang pemuda bertubuh jangkung kepada temannya. Si jangkung berlari melompati dahan-dahan menyeimbangkan gerakannya dengan pemuda yang sedikit lebih pendek darinya. "tentu saja, lagi pula Sai-sama tidak melarang kita lewat jalur ini kan?"Sahut pemuda yang lebih pendek.
"To...Tolonnngggg..."
Kedua pemuda itu menghentikan gerakannya sejenak. Mereka saling berpandangan. "Apa kau dengar, Shiro?"Tanya si jangkung. Pemuda bernama Shiro itu mengangguk, "aku dengar, sepertinya ada seorang wanita yang tersesat, Kuro"sahut Shiro.
"mana mungkin ada wanita di hutan terlarang ini"kata Kuro. "memangnya kenapa?"Tanya Shiro. "Untuk apa dia ke sini? Orang idiot macam apa yang mau lewat hutan ini"Sahut Kuro. Shiro menggeleng pelan, lupakah mereka jika faktanya mereka melewati hutan itu? Siapa yang idiot?
"Lebih baik kita ke sana!"usul Shiro..
.
.
Seorang wanita bersurai raven merintih kesakitan dengan sulur-sulur pohon melilit pergelangan kakinya. Shiro dan Kuro pun langsung berlari berebut untuk menolong wanita itu. "Nona, apa anda baik-baik saja?"Tanya Shiro. Kuro mendorong kasar tubuh Shiro. "minggir! Biar aku saja yang-"
"sa..sakit"rintih wanita itu. Shiro dan Kuro menghentikan perkelahian mereka dan mendekati wanita. Baru saja melangkah, kedua pemuda itu pun dikejutkan dengan banyaknya ular yang berjatuhan menyerang mereka.
Wanita itu tertawa penuh kemenangan ketika melihat dua pesuruh keluarga Shimura tewas dibelit ular-ular besar itu. "hahahah, bodoh"ucapnya-mengambil gulungan kertas di balik baju Shiro.
"Orochimaru-sama, bocah tengik itu datang menghancurkan markas"seorang pria berkacamata datang dan melaporkan apa yang terjadi di markas mereka.
"sial!"
Flashback OFF..
.
.
.
.
* Itachi's Flat *
Sudah 6 jam lebih Deidara tak sadarkan diri. Begitu terbangun, ia langsung histeris memanggil putra semata wayangnya. Untunglah suaminya berada di dekatnya, dengan keberadaan suaminya, tentu saja akan membantu dirinya untuk meredakan histeris yang timbul ketika tak melihat putra pertamanya di di hadapannya.
"Hiks"
Deidara menangis di dada sang suami. Pikirannya kalut, tak tahu harus berbuat apa. Ia merasa menjadi ibu yang gagal karena tak bisa menjaga anaknya. Dengan lembut Itachi mengusap pelan pundak Deidara. Ia pun juga sebenarnya sama kalutnya dengan istrinya, hanya saja ia bisa sedikit lebih tenang dibandingkan Deidara.
"Kita harus mencarinya, hiks.. Kita harus, sebelum Menma mendapatkannya"isak Deidara.
"Apa maksud mu?"Itachi memberikan jarak diantara dirinya dan tubuh Deidara. "Menma menginginkan Naru-chan u..untuk melampiaskan nafsunya, hiks"Deidara kembari menenggelamkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
Itachi mengecup pucuk surai blonde Deidara. Inikah alasan para Uzumaki menjauhkan Deidara dari Menma? Menma yang notabene adalah seorang Pedofil, pencemar nama baik clan Uzumaki. Tapi, kenapa Menma bisa mencintai Deidara? Untuk hal itu, Itachi maupun Deidara masih belum menemukan alasannya.
"semua keluarga ku tahu kalau Menma itu memiliki orientasi yang menyimpang"Deidara mulai membuka suara. Ditatapnya wajah tampan suaminya yang begitu serius mendengarkan. "awalnya, kami menerima keputusan Menma yang menyukai sesama jenis.. namun begitu putus dengan kekasihnya, Menma menyatakan cintanya pada ku.. Aku menolaknya, karena kaasan melarang ku.. Setelah itu aku pun mengetahui bahwa Menma lebih memilih melampiaskan nafsunya pada anak-anak kecil sebaya Naruto.. Hal itulah yang membuat tetua clan mengusirnya dari distrik Uzumaki."Lanjutnya.
"maaf telah membawa mu ke situasi seperti ini, Itachi-kun"lirih Deidara. Itachi menggeleng pelan, dieratkannya pelukannya itu pada Deidara. "Kau tidak bersalah"sahut Itachi. Deidara mendongak dan menatap suaminya. Itachi mengecup singkat kening Deidara. Rasa cinta yang begitu besar darinya adalah milik Deidara dan putra mereka. "kita pasti akan menemukan Naru-chan"hibur Itachi.
.
.
.
.
* Desa Oto *
Seorang pemuda tampan terlihat tengah duduk di atas batu besar sambil memandang bulan purnama yang bersinar terang malam ini. Iris onyx sekelam malam itu seakan tak ada henti-hentinya memandang langit malam, seakan mengingatkan sebuah cerita yang tidak sama sekali ia ketahui.
"tunjukan wajah mu!"seru pemuda yang baru menginjak usia 17 tahun itu.
"wah, ternyata kau memang hebat ya"
Pemuda itu menyipitkan matanya melihat seorang pria berusia sekitar 28 tahun bertepuk tangan dan memuji dirinya. "mau apa kau?"tanya nya. Pria itu tersenyum, dan berjalan mendekati pemuda yang lebih tinggi darinya itu. "Sasuke, kan?"si pria itu balik bertanya.
"Aku Menma, Uzumaki Menma"Menma mengulurkan tangannya ke arah Sasuke. Sasuke hanya menatap tangan Menma datar. Seakan, tak berminat untuk berjabat tangan dengannya.
' cih, sombong sekali! Sabar, Menma! Sabar!' batin Menma mulai tak suka dengan sikap Sasuke. "aku punya missi untuk mu"kata Menma. "apa yang kau bisa berikan untuk ku?"tanya Sasuke. "apapun yang kau minta"jawab Menma.
"begitukah?"Sasuke menatap Menma tak percaya. "tentu saja"timpal Menma, tidak suka dengan tatapan mengintimidasi Sasuke yang mengingatkan ia dengan musuh terbesarnya.
"ku rasa missi dari mu itu menyulitkan"tebak Sasuke.
Right!
Tepat sekali..
"tidak untuk seorang pemuda yang baru saja membunuh Orochimaru 12 jam yang lalu"sahut Menma.
Sasuke tetap mempertahankan wajah datar tanpa ekpresi miliknya. Pemuda miskin ekpresi dan kata-kata itu sepertinya memang tidak begitu tertarik dengan perbincangannya dengan pria itu. "apa missi yang harus ku jalankan?"
"tangkap bocah ini hidup-hidup!"Menma menyerahkan sebuah foto dimana seorang bocah berwajah manis nan polos tersenyum di depan kamera dengan memeluk boneka beruang yang lebih besar dari tubuhnya.
Sasuke sedikit terkejut melihat wajah yang begitu mirip dengan seseorang yang begitu ia rindukan. Keterkejutannya pun cepat-cepat ia sembunyikan, agar Menma tidak mengetahui jika ia sedang terkejut. "mirip 'dia', kan?"tanya Menma.
Sasuke masih diam, dan tidak berkomentar. "kau juga pernah bertemu dengan bocah manis itu"Kata Menma-Menjilat kunai di tangannya dengan begitu bernafsu. "kemarin malam kau menyelinap ke kamar anak itu dan menculiknya, kan?"lanjut Menma.
"aku hanya bersikap profesional.."Sahut Sasuke, datar. Menma terkekeh pelan, "bagus! Kau memang anak hebat!"Puji Menma
.
.
.
Naru's Room ( 25 Desember 2xxx)
Matanya tertutup rapat, dan mengatupkan kedua tangan mungilnya. Ia begitu fokus berdoa di depan sebuah lilin yang menyala, di kala lampu kamarnya redup. Naruto kecil belum juga tertidur. Ia masih ingin menunggu malam natal tiba dan berdoa untuk kedua orang tuanya. Sepertinya, Natal tahun ini, tidak akan ada hadiah untuk dirinya.
Teringat ketika ia masih tinggal di Uzu, ketika malam natal Paman Kakashi dan kedua paman lainnya pasti akan menyamar menjadi santa dan memberikan hadiah natal untuk dirinya. Sebelum malam natal tiba, atau tepatnya tanggal 24 Desember, Naruto dan keluarganya pasti akan menyempatkan diri berkunjung ke gereja terdekat dan berdoa di sana.
Tapi sepertinya malam natal tahun ini benar-benar berbeda. Apakah di tengah perang besar seperti ini, masih ada yang mengingat natal? Bahkan, bibi Ino dan paman Sai juga terlihat biasa-biasa saja. Ketika di tanya, bibi Ino akan mengatakan jika malam natal itu tidak akan dirayakan untuk shinobi seperti mereka.
"Tuhan, Nalu mau beltemu mama dan papa..."Doa si kecil Naru. Sepertinya bocah itu masih enggan membuka matanya dan segera pergi tidur. Fokus, hanya itu yang ia lakukan. Selalu terngiang di telinga, ketika ibunya berkata kepada dirinya untuk selalu fokus ketika beribadat. Apalagi ketika melihat mamanya yang terlihat fokus dan konsentrasi ketika berdoa.
Greekkkk...
Bocah itu langsung meniup lilin yang menyala dan masuk ke dalam selimut ketika mendengar seseorang yang menyelinap masuk ke dalam rumah keluarga Shimura melalui jendela yang ada di sebelah kamar Naruto. "Tuhan, selamatkan Nalu"doa nya.
Jantungnya berdegup kencang ketika mendengar langkah kaki seseorang berjalan mendekat menuju pintu kamarnya. Sebagai, putra dari dua orang shinobi hebat, Naruto secara alami memiliki insting yang tajam dan lebih peka dari anak-anak seusianya.
Cklek..
Terdengar pintu kamarnya terbuka. Tubuhnya gemetar hebat ketika orang itu berhasil membuka selimut yang menutupi tubuhnya. "eh, Nii-san yang waktu itu kan"Wajah imutnya terlihat lega ketika mengetahui siapa dalang yang membuat dirinya terkejut seperti itu.
"mau ikut?"tanya pemuda itu, sambil mengulurkan tangannya di depan wajah Naruto. "kemana?"Naruto beranjak dari kasur. "aku tidak tahu ada perayaan apa, tapi di luar sana terlihat ramai dengan hiasan-hiasan menyala yang mereka hias di sebuah pohon cemara"Kata pemuda itu, panjang lebar.
"kan sekalang Natal, Onii-san"sahut Naruto. "natal?"Beo pemuda bersurai raven itu. Naruto mengangguk pelan. "Nii-san tidak tahu natal?"Tanya Naruto, berhati-hati-takut kalau pemuda di hadapannya itu tersinggung dengan kata-katanya.
Sasuke menggelengkan kepalanya pelan. Dengan polosnya Naruto mengecup kening pemuda itu. Sasuke terkejut, apa maksud bocah ini mengecup keningnya? Masih dengan rasa keterkejutannya, Sasuke hanya memandang aneh bocah dihadapannya.
"Waktu Nalu tanya Natal pada mama, mama cium kening Nalu lalu menjawab peltanyaan Nalu"kata anak itu.
Ohh..
Jadi, bocah polos itu hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh mama nya. Tapi, melihat wajah syok Sasuke, sepertinya Sasuke salah mengartikan maksud dari ciuman Naruto.
"Kalau mama selalu mengajak Nalu untuk berdoa di geleja, telus paman Kakashi atau paman Sasoli pasti akan menyamal jadi santa dan membelikan Nalu hadiah"jawab Naruto, asal-asalan, tanpa tahu apa maksud dan makna Natal itu sendiri.
"Baka dobe"
"Dobe altinya apa?"tanya Naruto.
"hn"Sahut Sasuke.
Naruto memiringkan kepalanya, bertanya-tanya apa maksud 'hn' Sasuke itu. "memangnya tidak apa-apa?"tanya Naruto. Sasuke mengangguk pelan, dan berjongkok agar Naruto naik ke punggungnya.
"ayo naik!"Titah Sasuke.
.
.
.
.
* Siang hari * ( Itachi's Flat)
Itachi mengerjapkan matanya berkali-kali saat sinar hangat mentari menerpa wajahnya. Ia menoleh ke arah jendela dimana istrinya sedang berdiri memandang keluar jendela. Tanpa mengetahui jika Itachi terbangun, istrinya itu terus memandangi pemandangan di hadapannya itu.
Grebb..
Pria bermarga Uchiha itu melesakan kepalanya pada ceruk leher istrinya, mencium aroma citrus yang begitu memabukan bagi siapa pun yang berada dekat dengannya. "pagi"sapa Deidara. "hn, pagi"
"mau sarapan dulu atau mau mandi lebih dulu?"tanya Deidara.
"mandi"jawab Itachi, singkat. Tanpa berpaling dari ceruk leher Deidara. "ano, bagaimana informasi tentang Naru-chan?"tanya nya lagi. "sejauh ini belum ada kabar... Tapi, aku akan berusaha lagi"jawab Itachi. Senyum di wajah Deidara memudar, tanpa mempedulikan Itachi, Deidara pergi meninggalkan Itachi yang menatap tak rela kepergiannya.
"aku akan mencarinya sendiri"ujar Deidara. Itachi tentu saja terkejut dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Dengan gerakan cepat ia sudah berada di depan pintu kamar, dan menghalangi Deidara. "tidak akan ku biarkan!"
"kau tidak bisa! Jadi, biarkan aku mencarinya"Deidara berusaha lepas dari Itachi.
Grebb..
Brukkk..
"Ahhhhh!"Deidara meringis kesakitan ketika Itachi membanting kasar dirinya ke ranjang. Dengan chakra miliknya, Itachi membuat sebuah rantai yang melingkar erat pada pergelangan tangan sang istri. Deidara menelan ludah ketika melihat kilatan tajam di mata Itachi.
"kau beranggapan jika aku bukan seorang ayah yang baik?"Suara datar nan menusuk milik Itachi membuat Deidara ketakutan.
"benar begitu, Hime-sama?"
Deidara menggelengkan kepalanya. Itachi masih menatap tajam kepadanya. "kenapa kau tidak percaya pada ku, hah? Kau mau mendatangi Menma lagi, dan mengizinkan dia menyentuh diri mu? Begitu?"
Wanita itu terus menggelengkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Yang ia lihat kini, hanya rasa takut kehilangan dan ke-posesifan yang ada pada diri Itachi.
Perlahan-lahan sinar biru yang melingkar di pergelangan tangan Deidara menghilang. Itachi langsung ambruk menimpa tubuhnya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, sungguh, Deidara tidak bermaksud untuk membuat Itachi semarah ini padanya.
"g..gomen"Baru kali ini Itachi terbata-bata mengucapkan maaf padanya. Deidara tentu saja tercengang. Dibiarkannya sang suami yang menimpa tubuhnya.
.
.
.
.
* Sasunaru's side *
"Onii-san tidak lelah telus menggendong Nalu sampai siang sepelti ini?"Naruto terus bertanya pada Sasuke, yang sepertinya tidak merasa kelelahan meskipun terus melompat dari satu dahan ke dahan lain sambil menggendong Naruto.
"Kalau sudah besal nanti, Nalu mau kuat sepelti Onii-san"oceh Naruto.
Sasuke tetap diam dan tidak mempedulikan bocah kecil yang sedari tadi mengoceh itu. Naruto menghela nafas bosan. Kenapa onii-san berambut raven itu terus saja diam dan tidak berbicara.
"Onii-san benci Nalu, ya?"tanya Naruto.
"tidak"jawab Sasuke.
"tapi kok Nalu dicuekin"
Sasuke merasakan tubuh Naruto bergetar di gendongannya. "Hiks" akhirnya Naruto terisak, karena Sasuke terus mencampakan dirinya. Dia tidak suka dicampakan seperti ini.
Pemuda raven itu pun berhenti tepat di bawah pohon. Dia menurunkan Naruto dari gendongannya. Wajah imut Naruto terlihat merah dengan mata yang berkaca-kaca. Sasuke menahan nafasnya, ia tidak mau munafik, ia mengakui bahwa saat ini Naruto terlihat sangat manis dan membuat siapa saja kagum melihat sosok malaikat kecil itu.
Siapa yang harus ia kutuk?
' terkutuklah orang yang telah menurunkan wajah manis itu' rutuknya dalam hati.
Direngkuhnya tubuh Naruto. Bocah polos itu akhirnya menangis dipelukan Sasuke. Sasuke tanpa sadar pun membalas pelukan Naruto. Seakan ia tersihir akan pesona si kecil Naru. Susah payah Sasuke menyangkal, tidak! Dia tidak mau masuk terlalu dalam akan pesona bocah itu. Dia masih normal, dan dia bukan pedofil.
.
.
1 jam kemudian..
Sampailah mereka di sebuah tempat tersembunyi. Sasuke mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Mendengar dua orang yang sedang berbincang-bincang mendekat ke arah mereka, Sasuke yang masih menggendong Naruto segera bersembunyi dan menyembunyikan chakranya.
"Aku penasaran bocah kecil yang dimaksud tuan Menma"ujar seorang pria yang sangat Sasuke kenal, dua pria kembar itu berjalan beriringan, entah hendak menuju kemana.
"kau benar Ukon, aku sangat penasaran kenapa Tuan Menma ingin menjadikannya miliknya.. ku rasa orientasi seksual tuan Menma sudah melenceng jauh"
Degg..
Jantung Sasuke berdegup kencang. Diliriknya wajah Naruto yang menatap polos ke arahnya. Sasuke memang tidak menyalahkan Menma atas orientasi seksualnya itu. Wajah Naruto yang manis dan sinar kepolosan di iris biru sapphire nya itu lah yang membuat siapapun terpesona akan bocah blonde itu.
"Onii-san, kenapa meleka menyembut nama paman Menma?"Naruto sedikit berbisik pada Sasuke.
Pemuda itu menggeleng pelan, dan berbalik arah meninggalkan tempat itu. Naruto memandang heran ke arah Sasuke. Kenapa dengan Onii-san barunya itu?
"Onii-san, kita mau kemana?"tanya Naruto lagi.
.
.
.
* Ruangan Hokage *
"Baa-san tidak setuju, Dei!"Suara amarah seorang wanita menggema memenuhi ruangan yang hanya ada 3 orang wanita dan 4 orang laki-laki dewasa. Hokage ke-5 menatap tajam ke arah cucu pertamanya itu. "Chakra mu itu tidak sekuat dulu!"lanjut wanita itu.
Deidara menggeleng pelan, "Ini soal putra ku, darah daging ku.. Baa-san tidak bisa melarang ku!"kata Deidara. Tampaknya, kedua wanita keras kepala itu tidak akan ada yang mau mengalah untuk mengakhiri perdebatan mereka.
"cukup sudah baa-san melarang ku untuk menemui Ino-chan, cukup sudah Baa-san melarang ku menolong Naruko-chan, cukup sudah.. Cukup! Aku sudah dewasa, aku tahu mana yang baik untuk ku"lanjut Deidara.
Tak ada yang berbicara. Kilatan amarah tampak jelas pada iris azure wanita cantik itu. Sang Hokage tertunduk lesu mendengar keputusan cucu pertamanya. Kenapa ia tidak bisa menghentikan keputusan ke-3 cucu perempuannya itu?
Merasa tak ada yang harus dibicarakan lagi, Deidara melenggang pergi meninggalkan beberapa pasang mata yang menatap kepergian wanita yang selalu menggunakan yukata itu. Bahkan, ia juga tak mempedulikan suaminya yang juga berada di ruangan tersebut.
"aku ingin kau menjaganya, Itachi!"Ujar Hokage wanita itu.
"tanpa kau pinta, Hokage-sama"Itachi membungkuk hormat, dan menyusul kepergian istri tercintanya.
.
.
.
* Rumah Keluarga Shimura*
Sai lagi-lagi harus menghibur istrinya yang terlihat murung. Pasalnya, ketika Ino hendak membawakan sarapan untuk Naruto. Ino tidak melihat keberadaan Naruto di kamarnya. Jendela kamar Naruto yang terbuka, menandakan bahwa ada seseorang yang menculik keponakannya.
Syok, wanita itu hanya diam di kamar dan tidak berminat untuk memakan makanan yang dibawakan suaminya. Sai menghela nafas, sebegitu sayangnya kah Ino pada kedua kakaknya?
Tokk..tokk..tokk
"Masuk"seru pria itu.
"lapor, tuan! Shiro dan Kuro terbunuh saat menjalankan missi mengantarkan surat penting untuk Hokage"
Pasangan suami istri itu sontak saja terkejut. Ino segera beringsut dari tempat tidur. Tahu apa yang akan dilakukan Ino. Sai pun segera meminta anak buahnya untuk segera meninggalkan kamarnya.
"kau hendak kemana?"tanya Sai.
Ino tidak menjawab, dia terlihat sedang mencari-cari baju yang sering ia pakai ketika mendapatkan missi. "aku akan ikut"lanjut pria itu. Ino menghentikan kegiatannya. Wanita itu pun melempatkan pandangannya ke arah sang suami.
Grebbb..
Sai terkejut ketika dengan tiba-tiba Ino memeluk tubuhnya. Hatinya terasa senang ketika Ino mulai bersikap normal seperti seorang istri kepada suaminya. Sai membalas pelukan Ino. "terimakasih telah mencintai ku"ucap Ino.
.
.
.
* Desa Oto *
Menma tersenyum ketika melihat laporan-laporan di tangannya. Step-step yang ia lakukan nyaris sempurna. Dibelakangnya tampak beberapa tabung, dimana berisi tubuh-tubuh manusia tanpa busana. Ia bangga akan ciptaannya itu. Menghidupkan orang-orang hebat yang telah meninggal, akan membuat dirinya mudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Rasa obsesinya terlalu tinggi akan memiliki semua keturunan Namikaze, namun itu dulu. Dulu sebelum ia melihat bocah kecil berwajah malaikat, yang membuat dirinya jatuh hati dan berniat memiliki bocah itu. Perubahan rencana, ia merubah semua rencana yang pernah ia buat.
Sebuah foto keluarga, dimana seorang istri bersurai blonde dan suaminya yang memiliki surai raven tengah tersenyum sambil memeluk tubuh kecil bayi berusia 6 bulan. Disobeknya sisi dimana sang ibu yang berada di sisi kanan dan sang ayah yang berada di sisi kiri. Hanya tersisa bayi mungil dengan tawa yang begitu manis dan mampu membuat hasrat Menma menggebu-gebu untuk memiliki bayi yang kini sudah menjadi seorang bocah kecil.
Menma menjilat gambar tersebut, seperti anak kecil yang sedang menjilat lollipop.
"akan ku dapatkan kau, Naru-chan"
.
.
.
* Markas Hebi * ( 3 hari kemudian)
"Astaga, Sasuke kau ini kemana saja?-YA AMPUN, SIAPA ANAK INI? "
Sasuke hanya diam, meskipun suara wanita berkacamata bersurai merah bertanya dengan suara kencang. "LUCU SEKALI"Wanita bernama Karin itu hendak memeluk Naruto. Akan tetapi dengan cepat Naruto bersembunyi di balik tubuh jangkung Sasuke.
"dia takut, bodoh!"Seru seorang laki-laki bersurai putih kebiruan kepada wanita itu. Tubuh Naruto tampak ketakutan, melihat pria itu. Giginya yang runcing membuat bocah itu semakin tak berani keluar dari tempat bersembunyi nya.
"Hey, kamu tak perlu takut"
Naruto menoleh dan mendapati pria bertubuh tinggi besar menatap ramah dirinya. Laki-laki itu menyodorkan sebuah lollipop berbentuk hiasan natal untuk Naruto. "kau tahu? 3 hari yang lalu aku pergi ke gereja untuk kebaktian, aku membeli beberapa manisan ini.. Tapi karena teman-teman tidak suka, ku rasa kau suka, untuk mu saja"
Karin dan Suigetsu tertegun dengan sikap Juugo. Mudah sekali, Juugo menarik perhatin bocah itu. begitulah pikir mereka.
Naruto tersenyum dan menerima lollipop tersebut. Tak lupa memberikan kecupan di kening Juugo. Juugo hampir saja kehabisan nafas ketika bocah semanis Naruto mengecup keningnya. "Telimakasih, Ji-san"ucap Naruto.
.
.
.
4 Bulan Kemudian..
Kelopak-kelopak bunga sakura berjatuhan, mengingat jika musim salju sudah memasuki musim semi. Angin sore yang begitu sejuk, membelai wajah cantik dua orang wanita yang terlihat tengah melompati satu dahan ke dahan lainnya dengan tergesa-gesa.
Dua wanita pirang itu menghentikan gerakannya sejenak. Wanita yang lebih muda terbatuk dan memuntahkan darah. Melihat kondisi sang adik yang tidak meyakinkan, akhirnya wanita yang lebih dewasa itu membantu sang adik turun dari pohon setinggi lebih dari 4 meter itu.
"Kau terluka Ino-chan"Kata sang kakak, buru-buru mengambil sebotol cairan di kantung rompi jounin nya. "sial, untungnya racun ini tidak berbahaya"timpal Ino. Deidara menggelengkan kepalanya, apa-apaan perkataan adiknya itu? Meskipun begitu, tetap saja adiknya terluka.
"tetap saja kau terluka"sahut Deidara, memberikan botol kecil itu pada sang adik. "ughh, pahit"keluh Ino. Sang kakak tertawa pelan, melihat sikap childish sang adik. "padahal kau sudah menikah, tapi tetap saja kekanakan"Deidara menutup kembali botol berisi cairan ungu tersebut.
"lain kali katakan pada Sasori-nii untuk membuat obat yang tidak pahit"ujar Ino.
"mana ada obat manis, Ino.. Kau kan bukan anak-anak lagi"sahut Deidara, tak habis pikir dengan sikap kekanakan adik bungsunya itu.
' mama, Nalu tidak mau minum obat! Pahit' suara cempreng khas anak-anak kembali terngiang di kepala wanita yang sebentar lagi akan merayakan ultahnya yang ke 27 tahun. Jantungnya berdegup kencang saat suara putra semata wayangnya itu menggema di pikirannya.
"Apa kalian baik-baik saja?"
Dua orang pria yang tak lain dan tak bukan adalah suami mereka pun tiba di tempat yang sama. Kedua pria itu segera turun dari dahan pohon, menyusul istri mereka yang lebih dulu berada di bawah.
"Aku terkena racun, tapi tak apa.. Hanya saja aku tak bisa menggerakan kaki ku"kata Ino, memberitahukan keadaannya pada sang suami.
"Kau tak apa?"Itachi menyamakan posisinya dengan Deidara. Ia terlihat khawatir menyaksikan sang istri yang tertunduk lemas tak jauh dari sang adik. Disentuhnya surai keemasan milik Deidara. "Kau tak apa?"Itachi mengulang pertanyaannya lagi.
"Naru-chan "Lirih Deidara.
"Bersabarlah, sebentar lagi"Itachi mengecup kening Deidara.
.
.
.
* Markas Hebi * (Malam Hari)
Srett...srettt..srett..
Sasuke sontak saja membuka matanya ketika mendengar suara seseorang yang tengah menyeret sesuatu. Malam ini memang terasa lebih sunyi dan senyap dari biasanya. Langkah kaki terdengar mendekati kamarnya. Tentu saja ia peka dengan suara-suara. seorang terlatih seperti dirinya akan sangat sensitif jika mendengar suara-suara misterius seperti itu.
Ia segera mengambil sebuah katana yang ia letakan di atas tempat tidurnya. Wajah tampannya terlihat waspada. Kenop pintu terputar, Sasuke sudah siap dengan katana miliknya. Putar...Putar..Putar.. Dan..
Kedua matanya nyaris terbuka lebar ketika melihat sosok di hadapannya kini. Sosok mungil berbalut piyama terusan dengan boneka teddy bear yang terseret hingga ke lantai. Iris sapphire bulat bagaikan lollipop menatap polos dirinya.
"Nii-san, Nalu tidak bisa bobo"
Sasuke memasukan kembali katana miliknya ke dalam sarung. Iris kelamnya meneliti bocah tersebut. Ah, bahkan ia hampir lupa jika Naruto sangat takut dengan suasana sunyi senyap seperti ini. "kemarilah"seru Sasuke. Si kecil Naru berjalan gontai menuju tempat tidur ukuran queen size milik Sasuke.
Naruto merebahkan dirinya di samping Sasuke yang memunggungi nya. Tetap saja ia tak bisa memejamkan matanya. Sepertinya ia terlalu takut untuk sekedar memejamkan matanya. "Nii-san, Nalu takut"kata Naruto. Sasuke yang belum tertidur, membuka kembali kelopak matanya tanpa menoleh. So, apa yang harus dilakukan olehnya, kalau Naruto ketakutan?
"Biasanya kalau Nalu takut, mama akan peluk Nalu"kata Naruto.
Sasuke kini mengerti apa yang harus ia lakukan. Dia pun membalik tubuhnya dan memeluk erat tubuh Naruto. "tidurlah"titah Sasuke. Naruto mengangguk pelan, dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Sasuke.
"Nii-san"
"hn?"
"Kalau sudah besal, Nalu mau jadi istli Nii-san"
Sasuke tersedak, bagaimana bisa Naruto berkata seperti itu? Siapa yang mengajari bocah polosnya itu?
"siapa yang mengajari mu bicara seperti itu?"tanya Sasuke.
Naruto mendongakan kepalanya, dan menatap wajah Sasuke yang merona merah. Karena masih kecil, ia tidak tahu kenapa wajah Nii-san nya itu memerah seperti tomat.
"Waktu Nalu mau cali Nii-san, Nalu tidak sengaja beltemu Kalin Nee-san dan Sui-nii-san.. Nah, saat itu Nalu dengal kalau Kalin Nee-san akan jadi istli Sui-nii kalau kericuhan antal shinobi belakhil"jawab Naruto, cadel.
Sasuke merutuki dua orang pemain drama ulung itu. Siapa lagi kalau bukan Karin dan Suigetsu? Dua insan yang kadang terlihat selalu bertengkar itu, terkadang akan kelihatan mesra. Tapi kemesraannya itu lah yang membuat Sasuke kesal. Why? Karena mereka tidak kenal waktu dan tempat yang tepat untuk memadu kasih.
"Nalu tidak bisa bobo juga kalena Nalu mendengal suala aneh dali kamar Sui-nii"
Oh..
Sasuke pusing sekarang. Keputusannya memberikan kamar untuk Naruto yang berada tepat di sebelah kamar Suigetsu memang keputusan yang salah. Bagaimana bisa Suigetsu dan Karin melakukan aksi ' di serang' dan ' menyerang' tanpa mengingat si polos Naruto?
"Naru"
"Ya, Nii-san?"
"Mulai sekarang kau tidur di sini"seru Sasuke. Tidak tega, jika harus melihat kepolosan Naruto hilang hanya gara-gara suara 'you know what i mean?' di kamar sebelah.
"ha'i.."sahut Naruto, menenggelamkan kembali kepalanya pada dada bidang Sasuke.
.
.
.
TBC
.
.
.
Omake..
"Anak itu menghianati perjanjian!"Ujar seorang pria berkacamata. Pria yang satunya lagi hanya diam dan tampak berpikir. "Apa yang akan anda lakukan, tuan?"tanya pria itu.
Pria bersurai raven Menma menghentikan acara berpikirnya dan melempar pandangannya ke arah Kabuto, mantan asisten dari manusia ular (Orochimaru) yang mati terbunuh oleh Sasuke.
"Bagaimana, tuan?"Kabuto mengulangi pertanyaannya lagi.
Menma pun menoleh ke arah sebuah tabung kaca berukuran besar dengan tubuh seorang gadis terapung di dalamnya. Gadis bersurai blonde tanpa sehelai pakaian itu menutup matanya dengan selang-selang kecil terpasang di tubuhnya. Kabuto ikut menoleh ke arah tabung tersebut.
"Aku tahu apa yang harus ku lakukan"
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N
Wiihhh.. Misa gak nyangka kalo FF abal nan gaje buatan dan hasil pemikiran Misa langsung di respect para readers.. Hehehehe... Oh, ya terimakasih atas reviews yang kalian kasih buat Misa. Pokoknya Misa seneng banget waktu FF ini Lumayan banyak yang baca. Ya, meskipun ada yang cuma baca dan tidak berkenan untuk reviews. Tapi Misa berterimakasih banyak sama kalian..
Jaa... See you next Chapter..
.
.
.
Mind To Review?
