Naruto © Masashi Kishimoto

Mr. Shikamaru, Vampyre © Hello Kitty Cute

Summary : Tak akan ada yang menduga kalau pemuda pemalas tak layak hidup itu merupakan seorang pangeran vampire yang memiliki kekuatan dahsyat.

Warning : DLDR, Typo's, OOC, AU, dan lainnya.


.

.

Mr. Shikamaru, Vampyre

.

.


Penjara bawah tanah itu masih sama dengan yang dulu. Gelap dan menyeramkan. Bau darah yang mengering dan kulit manusia tercium santer di balik jeruji-jeruji besi. Beberapa tahanan tampak menggedor-gedor pintu besi sembari berteriak-teriak dan memaki-maki. Sungguh menyedihkan mendengar pekikan dan tangisan pilu mereka. Suara yang didominasi oleh para perempuan muda.

Yoshino terpekur di tempatnya. Selama ia hidup, ia tak pernah memikirkan akan tinggal di tempat yang dulu dijadikan sang suami untuk mengurung gadis-gadis muda sebagai bahan makanannya. Menjadi seorang Slave, membuatnya haus akan darah.

Miris memang. Tapi itulah kenyataan yang harus dijalaninya. Demi cintanya pada seorang pangeran vampire, ia rela meninggalkan dunianya. Rela menderita ketika tubuhnya berteriak kesakitan karena membutuhkan darah sampai bertahun-tahun lamanya. Tapi semua derita dan kesakitan itu sirna ketika Shikamaru lahir. Putra pertamanya setelah seratus tahun ia menikah dengan Shikaku. Perlahan-lahan naluri Slave-nya menghilang, menjadikannya sosok ibu yang penyayang.

"Shikamaru..., semoga kau baik-baik saja," lirihnya.

Seseorang menepuk pundaknya pelan. Yoshino menoleh dan menatap iris coklat sang ibu dengan iris-nya yang berlinangan air mata. Wanita itu menatap sang menantu dengan sendu, sebelum akhirnya menarik tubuh rapuh itu ke pelukannya.

"Tenang saja. Shikamaru pasti baik-baik saja," ujarnya sendu.

Sebuah lengkingan panjang dan makian dari penjara bagian timur memecah suasana haru diantara keduanya. Disusul dengan tangisan memilukan yang terdengar bersahut-sahutan. Teriakan dan tangisan itu terdengar semakin jelas, dan terlihatlah dua orang vampire penjaga berwajah beringas sedang menyeret seorang gadis muda yang menangis meraung-raung.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU! AKU MOHON! LEPASKAN AKU! AKU BELUM MAU MATI! AKU MOHON LEPASKAN AKU!" teriaknya disela-sela tangisannya yang tak kalah kencang. Iris hitam nya menatap Yoshino nanar, seakan-akan meminta tolong. Yoshino hanya mampu menunduk, ia tak bisa apa-apa. Ia sekarang hanyalah seorang Alter, tak mungkin dia melawan dua vampire penjaga yang berdarah Origin itu.

Iris coklatnya kembali berkilat bening, memperhatikan tubuh tak berdaya gadis itu diseret menaiki tangga-tangga yang berliku—menuju kastil. Teriakannya terus bergema, membuat hati yang mendengarnya merinding. Sayup-sayup teriakan sang gadis menghilang, yang ada hanyalah suara tangis dan jeritan para penghuni penjara. Mereka menangisi atas nasib sang gadis dan juga menangisi nasib mereka juga.

.-.-.-.-.

Langkah Shikamaru tertahan ketika ia sadar akan sesuatu. Diturunkannya sosok Temari di tanah dengan perlahan. Ia membuka jaket hijaunya, lalu diselimutkannya pada tubuh Temari. Di lambaikannya tangan kanannya, seekor kelelawar mendekat dan bertengger di puncak kepala Temari. Mata merah sang kelelawar terpejam, setelah beberapa detik, kelelawar itu terbang ke pundak Shikamaru. Untuk beberapa saat, Shikamaru terdiam memandangi Temari.

"Kau akan baik-baik saja. Semua yang kau alami bersamaku dan keluargaku akan hilang. Selamat tinggal."

Shikamaru berdiri, ia melepaskan sepasang anting emasnya lalu memasangkannya di kedua telinga Temari yang kosong.

"Dengan bauku di kedua anting ini, kau akan aman dari vampire manapun."

Entah dorongan darimana, dengan pelan Shikamaru mendekatkan wajahnya ke wajah Temari.

.

.

.

Bak-buk-bak-buk...

"Beraninya kau bocah! Kau pikir kau siapa?" teriak Temari geram sambil melayangkan pukulan bertubi-tubi ke lengan Shikamaru.

Buk...

"Auw, hentikan wanita tua!"

"Kau benar-benar kurang ajar!"

"Kubilang hentikan!" Shikamaru membentak lalu menangkap kedua pergelangan tangan Temari.

"Lepaskan! Lepaskan aku bocah kurang ajar!" teriak Temari sambil meronta-ronta.

"Dengarkan aku wanita merepotkan, aku tidak melakukan apa-apa denganmu, aku hanya berusaha membangunkanmu dari pingsanmu," ujar Shikamaru kesal, lalu melepaskan tangan Temari.

"Kau bohong!" tegas Temari sambil berkacak pinggang.

Shikamaru menghela nafas. Dia diam sambil menatap malas Temari yang kini menatapnya dengan kesal. "Kau masih bisa mengingatku?" tanyanya akhirnya sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Apa maksudmu bocah? Jelas saja aku mengingatmu. Semu—"

Perkataannya harus terhenti ketika ingatannya mulai memutar jelas penyebab dirinya pingsan. Serasa ada kibasan angin dari belahan kutub utara, Temari menegang seketika.

Shikamaru kembali menghela nafas. "Aku tidak akan menyakitimu. Pergilah, anggap ini semua tak pernah terjadi," ujarnya sambil berbalik lalu melangkah pergi, meninggalkan Temari yang terdiam—tercekat ketika sekumpulan kelelawar terbang mengikuti Shikamaru.

"Kau benaran... vampire," desis Temari. Selama ini ia hanya menganggap kisah vampire hanyalah dongeng belaka. Makhluk fiksi yang terkenal karena diangkat ke layar kaca dan layar lebar. Semua kisah seram dan sejarah vampire hanyalah bualan manusia yang tak waras. Tapi—

Spekulasi itu pun harus terpotong ketika ia menyadari sesuatu. "Tunggu!" teriaknya sambil berlari mengejar Shikamaru—tak mengindahkan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya.

Shikamaru terpaksa menghentikan langkahnya ketika sosok Temari kini telah berdiri menghadang jalannya.

"Minggirlah, jangan mengganggu hidupku lagi wanita merepotkan. Jalani hidupmu dengan tenang, anggap saja yang kau alami ini adalah ilusi semata," ujar Shikamaru bosan.

Tak diduga dan tak dinyana, Temari berjinjit dan memukul kepala Shikamaru.

"Auw!" rintih Temari sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang keram. Dia yang memukul, tapi dia yang kesakitan.

"Apa yang kau lakukan?" ujar Shikamaru kesal.

"Enak saja kau mau main pergi begitu saja, bocah. Kau harus ikut denganku, bersama-sama kita menghasilkan uang. Kita mengadakan pertunjukkan. Bagaimana? Ideku cemerlang bukan?"

Entah Shikamaru harus memasang ekspresi seperti apa sekarang ini. Marahkah? Kesalkah? Atau justru malah terkejut. Terkejut ketika mendapati kalau Temari sama sekali tak takut padanya. Hei, meski dia memasang tampang mengantuk begini, ia tetaplah seorang pangeran vampire. Yang setiap saat, bahkan detik ini juga bisa berubah menjadi iblis haus darah. Tak sadarkah Temari, atau kewarasannya memang sudah lama hilang.

Shikamaru menghela nafas. Ia menggeser pelan bahu Temari—agar menyingkir—dan kembali berjalan lurus.

"Hei, bocah! Kau akan kaya—dan pasti aku juga. Percayalah, kau akan memiliki popularitas yang lebih tinggi daripada para aktor yang memerankan sosok vampire—karena kau adalah nyata," Temari masih berusaha membujuk Shikamaru. Tapi hasilnya, Shikamaru tetap berjalan lurus ke depan, sama sekali tak terlihat tertarik dengan tawaran konyol Temari.

"Oh, ayolah. Ini tawaran yang sangat menguntungkan. Kau akan bahagia di keabadianmu. Hei, bocah!"

Shikamaru terus berjalan. Beberapa kali decihannya keluar. Ia ingin sekali mematahkan leher Temari detik ini juga, agar kocehannya yang tak bermutu itu berhenti lalu-lalang di telinganya. Tapi niat itu ditahannya, bagaimanapun juga, ia sudah menganggap sosok Temari seperti kakak. Errr... karena Temari telah menganggapnya adik, jadi tak ada salahnya.

"Hei, bisa berhenti dulu tidak! Kau benar-benar tak sopan. Kalau orang yang lebih tua sedang ber—" Temari meneguk ludahnya yang terasa pahit, ketika dengan secepat kilat Shikamaru menangkap kedua lengannya lalu meremasnya. Temari meringis.

"Hei, bocah. Jangan serius begini. Aku tadi kan hanya bercanda," ujar Temari sambil tertawa dipaksakan. Seram juga melihat kedua mata Shikamaru yang kelam.

Temari semakin meringis ketika Shikamaru membuka mulutnya, menampakkan taringnya yang tajam.

"Tu-tu-tu-tunggu bocah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," ujar Temari panik. "Yang tadi hanya bercanda, aku hanya bercanda, darahku pahit."

Shikamaru tetap mendekatkan taringnya ke leher Temari. "Setelah menghisap darahmu, aku akan menghancurkan jantungmu—agar kau tidak menjadi Slave."

Kejam! Temari kesal mendengar perkataan Shikamaru. Meski dia manusia biasa, tapi keahlian bela diri Anggar-nya tak bisa diremehkan. Ia adalah ratu di bidang olahraga ini. Ketika lehernya hampir terjamah oleh taring panjang Shikamaru, Temari langsung menghantamkan kepalanya ke kepala Shikamaru.

"Aduh," keluh Shikamaru sambil mundur ke belakang. Ia kembali ke sosok manusianya, lalu terduduk sambil memegangi dahinya yang terasa ngilu, tak sakit memang, tapi cukup membuat kepalanya pusing.

Sementara Temari, wanita malang itu harus terkapar di tanah dengan dahi yang berdarah—pingsan. Shikamaru berdecak kesal, salah sendiri kenapa malah membenturkan kepalanya ke kepala seorang vampire. Batok kepalanya itu sekeras batu.

Shikamaru berdiri, ia terdiam ketika melihat seseorang berjubah merah marun di hadapannya. Pria itu mengenakan tudung, membuat Shikamaru tak bisa melihat wajahnya. Insting vampire Shikamaru mengatakan kalau orang berjubah itu bukanlah kaumnya, tapi juga bukan manusia.

Pangeran Alps itu memasang tampang waspada, ia tak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Shikamaru sedikit terhenyak ketika menyadari keadaan si pria asing berjubah merah marun itu. Ia melayang di udara, dengan tubuh yang tampak transparan.

"Siapa kau?" tanya Shikamaru datar.

"Hanya seorang Likan yang menginginkan kau meninggalkan wanita itu," suara pria itu tampak jauh, seolah-olah dikirimkan oleh sebuah kekuatan ghaib.

Taring Shikamaru keluar, matanya berubah kelam. "Apa maksudmu? Tak ada yang boleh mengganggunya," ujar Shikamaru dengan menggeram.

"Jangan terburu-buru dulu. Aku datang secara baik-baik, sama sekali tidak berniat menantangmu. Lagipula, kau tak bisa melukai ataupun membunuhku. Semua yang kau lakukan akan percuma saja," Likan itu berkata dengan nada datar.

"Kau—"

"Tak kusangka, hari ini pun akhirnya datang juga. Kau mendapatkan kembali semuanya, meski sebenarnya tak semuanya kembali padamu. Tapi cepat atau lambat, kau pasti akan mendapatkannya. Jadi sebelum itu terjadi, aku akan mencegahnya," pria itu berkata sambil melayang memutari Shikamaru.

"Apa maksudmu?"

"Turuti saja keinginanku. Percayalah, aku tidak akan menyakiti wanita ini ketika kau pergi. Perlu kau tahu, aku hanyalah bayangan, tak ada yang bisa kulakukan selain berbicara."

"Aku memang akan berniat meninggalkan Temari."

"Dan aku hanya mengingatkan padamu, ketika ingatan akan sesuatu yang hilang itu kembali padamu, jangan pernah kau berniat untuk mengambil sesuatu yang hilang itu, karena sesuatu yang hilang itu akan menderita bila bersamamu," tegas pria itu. Belum sempat Shikamaru memberikan pertanyaan, sosok pria berjubah itu memudar dan hilang dari pandangannya.

Shikamaru terdiam. Ia menatap Temari dengan kedua bola mata kelamnya. Memang ada sesuatu yang aneh dengan Temari. Entah kenapa ia merasa pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Dan, apa pula hubungan Likan tadi dengan Temari? Temari hanyalah manusia biasa, ia tak mungkin bisa berhubungan dengan makhluk dunia Alps. Apalagi dengan seorang Likan. Ini aneh, benar-benar aneh.

.-.-.-.-.

Temari menanggalkan pakaiannya dengan perlahan karena sudah sangat lelah, dan saat mengenakan gaun tidurnya, ia menguap, lalu segera merangkak naik ke tempat tidur. Ia mematikan lilin dan berbaring selama beberapa saat dalam keadaan antara sadar dan tidur, sampai suara air yang membentuk bebatuan di bawah jendelanya mengantarnya tidur.

Ia beranjak dari dunia sadar ke dunia mimpi, tanpa adanya batasan di antara keduanya. Gaun yang indah, topeng yang aneh, jalanan yang sempit, kanal yang gelap, istana yang berkilauan, dan gondola yang romantis, semua berbaur dalam mimpinya. Ia bermimpi sedang bersama Shikamaru, berdansa bersama pemuda itu di pesta dansa. Kemudian, latar berubah, ia tertawa dan mengobrol bersama Shikamaru di pinggir kolam air mancur. Ada banyak sekali orang disekitar mereka, tertawa lepas dan menggerakkan tangan sambil berbicara, sehingga suara mereka bercampur menjadi dengungan. Sekelompok burung beterbangan ke langit saat ia dan Shikamaru lewat, dan kemudian turun kembali setelah ia dan Shikamaru berlalu. Matahari bersinar terang di atas mereka, dan di kejauhan terdengar suara nyanyian pengemudi gondola.

Ia dan Shikamaru menyusuri jalan dan berbelok di jalanan yang sempit, masuk ke jalan yang lebih kecil, dan mereka masuk lagi ke jalanan sempit lain, yang masih terdengar ramai dan riuh. Tapi, begitu mereka melangkah semakin dalam, sesuatu berubah. Suara-suara itu berhenti, seolah telah dipotong oleh pisau dan cahaya meredup hanya dalam sekejap mata, dari sinar matahari yang berwarna keemasan, menjadi sinar rembulan yang redup dan dingin. Temari mulai merasa panik dan harus menahan dorongan untuk berlari. Dunia tidak lagi menjadi tempat yang aman, tidak menyenangkan. Bangunan menjulang di atasnya layaknya tebing, dan jalanan yang sempit membuatnya terkurung dan terperangkap. Kanal yang mengalir di samping jalanan tidak lagi berkesan romantis, tempat itu terlihat gelap dan berbahaya, airnya yang dalam menyembunyikan rahasia yang gelap dan mematikan.

Temari mengulurkan tangan untuk meraih lengan Shikamaru, tapi ternyata tidak ada. Ia berbalik menghadap ke Shikamaru dan menjadi ketakutan saat mengetahui bahwa Shikamaru sudah menghilang. Temari berlari di sepanjang jalan untuk mencari Shikamaru sambil memanggil nama pemuda itu, tapi tidak ada jawaban. Jalanan tempatnya berlari seolah menyerupai labirin yang tak berujung, akhirnya ia sadar bahwa ia harus kembali jika tidak ingin tersesat. Ia mulai berbalik, hanya untuk mendapati bahwa jalanan sudah berubah, dan ia pun turut berubah. Ia tak lagi mengenakan gaun tidur biru pucatnya, tapi berganti dengan gaun rok lebar berbahan sutera berwarna merah tua.

"Shikamaru?" panggilnya ketakutan, tapi suaranya seolah membentur tembok batu karena tidak ada jawaban. "Shikamaru!" teriaknya.

Tapi, masih tidak ada jawaban.

Kemudian, ketika ia sangat butuh mendengar suara manusia lain, ia mendengar sesuatu. Tapi suara itu terdengar jauh sekali, pada awalnya ia bahkan tidak tahu suara apa itu, tapi kemudian ia mengenalinya sebagai suara musik. Alunan dari suatu tempat di depannya. Gesekan biola yang dimainkan dengan riang.

Rasanya aneh sekali mendengar suara musik di tempat yang gelap dan suram, tapi Temari mulai berlari kearah sana. Saat semakin dekat, ia bisa mendengar suara lain, samar-samar tapi ia bisa mendengarnya, dan ia mengikutinya, berlari menyeberangi jembatan dan menyusuri gang yang sempit.

Ia melihat cahaya di depan, sinar terang benderang yang berasal dari banyak obor. Ia bisa melihat orang-orang berkumpul di lapangan, mengenakan kostum berwarna cerah dan topeng. Ia merasa sangat lega dan mulai berlari lebih cepat, melihat mereka berbalik kearahnya dengan ekspresi terkejut, saat ia berlari mendekat—dan kemudian mereka menghilang, cahaya meredup, dan suara tiba-tiba lenyap. Temari merasa ketakutan karena mendapati dirinya berada di lapangan yang gelap dan kosong. Ia sendirian.

Ia mempercepat larinya menyeberangi lapangan, mencari orang yang berkerumun, tapi mereka sudah pergi. Ia mencari di setiap jalanan sempit, berharap bisa melihat tanda-tanda keberadaan mereka, tapi tidak ada apa-apa—kecuali, di ujung jalan yang terakhir, ada seorang pria yang membelakanginya. Mengenakan pakaian yang sewarna dengannya. Pria itu berbalik untuk menghadap ke arahnya, menampilkan wajahnya yang tertutup topeng yang menggambarkan senyuman mencurigakan. Temari merasa kekuatan dirinya mencair keluar, seolah ada lubang di dalam dirinya lalu kekuatannya berpindah ke pria itu.

Pria itu memanggil dan ia bergerak maju, seperti boneka yang bisa dikendalikan. Ia merasa masih memiliki sisa kekuatan yang berhasil dipertahankannya, dan untuk sesaat, ia diam tidak bergerak, melawan tarikan pria itu. Tapi kemudian pria itu memanggil lagi dan kakinya mulai bergerak maju di luar kehendaknya.

"Tidak," ujar Temari, dan kemudian, dengan lebih lantang. "Tidak!"

Tiba-tiba, jalanan dipenuhi orang lagi, berlari melewatinya dengan liar sambil berteriak. "Ayo cepat panah!"

Keriuhan mulai terjadi dan tampak kilau kemerahan di cakrawala, semakin lama semakin besar, dan saat menengadahkan wajah ke depannya, Temari melihat sebuah kastil dihujani oleh ribuan anak panah berapi. Lidah api yang semakin besar menjilat-jilat hingga ke langit, kemudian meledak disana dan membakar kegelapan yang mengerikan. Ia berlari mendekat untuk bertanya apa yang sedang terjadi, tapi sebelum ia bisa mendekati salah satu dari orang-orang itu, segalanya berubah lagi dan ia berdiri diam terpaku, merasa bingung dan gelisah, tidak tahu harus pergi kemana. Tanpa adanya api, ia tak bisa melihat apa-apa di balik gelap gedung-gedung tinggi.

Kemudian, bulu kuduknya berdiri. Ia merasakan kengerian besar, saat ia tahu dengan seluruh inderanya bahwa ada seseorang dibelakangnya. Seseorang itu menunggu dalam kegelapan, memanfaatkan waktu, mengejeknya, bermain dengannya layaknya tikus dan kucing. Seseorang itu sangat menakutkan, sangat besar, sangat mengerikan, dan kuat. Ia tersedot oleh seseorang itu, tapi ia tidak boleh pergi kesana, tidak boleh, tidak boleh.

Temari menahan tarikan itu dan mencoba maju sambil menangis. "Tidak!"

Ia merasa seseorang itu tertawa, dan menjadi semakin kuat, menambahkan tekanan dan merampas kekuatannya.

"Tidak!" teriak Temari lagi.

Ia mengangkat roknya, berbalik ke kanan dan lari, menyusuri jalanan, melintasi kanal, tapi terus di kejar oleh kekuatan yang gelap dan tidak mengenal belas kasihan.

Saat berlari, ia melewati sebuah istana besar yang suram, dan seseorang yang mengejarnya itu hampir berhasil menangkapnya. Ia meletakkan kedua tangan di telinganya, sebagai usaha untuk meredam suara helaan nafas seseorang itu, karena suara itu sangat mengerikan.

"Tidak! Tidak! Tidak!" teriak Temari keras.

"Iya," terdengar suara bisikan yang tertiup angin. "Kau adalah milikku."

Temari kembali berlari, menerobos keluar dari kanal, kembali melewati kastil yang tadi terbakar. Tiba-tiba, ribuan anak panah berapi mulai mengikutinya, mengejarnya.

"Tidak! Apa salahku?" teriaknya ketakutan.

Ribuan anak panah berapi berhenti, kemudian hilang. Dan, Shikamaru ada di sampingnya, menunduk di atasnya dan mengguncangkan tubuhnya dengan lembut. Rambut Shikamaru terurai hingga ke mata dan ke kemeja tidurnya yang berwarna putih.

Temari terbangun dengan tersentak. Pemandangan pertama yang ditangkap oleh irisnya adalah wajah Shikamaru yang terlihat panik. Langsung saja ia menghambur memeluk Shikamaru sambil terisak, dan pemuda itu hanya terdiam—terkejut dengan yang dilakukan oleh Temari.

"Oh, ini kau, ini sungguh kau!" isak Temari, merasa sangat lega. "Aku sangat takut! Jalanan gelap, orang-orang menghilang, ribuan panah mengejarku, dan aku kehilanganmu, aku kehilanganmu! Aku mencarimu dan terus mencari, tapi aku tidak bisa menemukanmu dimana-mana!" ceracau Temari disela isakannya, Shikamaru semakin terdiam, ada rasa hangat yang menjalarinya ketika mendengar beberapa kalimat terakhir Temari.

"Itu hanya mimpi, bukan apa-apa. Hanya sekedar mimpi," ujar Shikamaru lembut. Perlahan ia mengangkat kedua tangannya, balas memeluk Temari sembari membelai puncak kepalanya. Pemuda itu sedikit bergetar dengan yang dilakukannya, ini aneh.

Temari masih terisak, ia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Shikamaru. "Ssshhh," gumam Shikamaru untuk menenangkannya. Detak jantung Temari mulai berangsur normal. Ia menggesekkan pipinya ke kaos Shikamaru dan menghela nafas, saat mimpi buruk itu perlahan menghilang dari pikirannya, kemudian ia mendongak ke arah Shikamaru. Ia terkejut melihat wajah Shikamaru berada dekat dengannya.

Dengan keras wanita itu mendorong tubuh Shikamaru. Ia menghapus air matanya dengan cepat. Ia merasa bodoh karena sudah merasa begitu ketakutan oleh mimpi konyol itu, membuatnya tak sadar dengan yang dilakukannya.

Shikamaru berdecak kesal. Temari benar-benar sangat menyebalkan. Dia wanita yang paling menyebalkan dan merepotkan yang pernah ditemuinya. Ia berdiri sambil menepuk-nepuk celananya.

"Maumu itu apa sih? Seenaknya mendorong orang—padahal kau duluan yang memelukku," sungut Shikamaru kesal.

"Maaf, tadi aku tidak sengaja. Aku hanya terlalu terbawa suasana saja," kilah Temari sambil berdiri dan tersenyum kaku.

Shikamaru mendengus. "Karena lukamu sudah sembuh, sebaiknya kita berpisah sekarang juga," ujarnya datar.

Temari memperhatikan sekujur tubuhnya, lukanya sudah mengering dan sudah tak terasa sakit lagi. "Terima kasih karena kau sudah mau merawatku," ujarnya lirih. "Tapi bolehkah aku tetap ikut denganmu? Aku merasa—"

"Aku muak. Jangan menggangguku lagi. Cukup sudah kau menahanku selama seminggu disini karena merawatmu—yang pingsan dan tak bangun-bangun. Lalu tiba-tiba berteriak-teriak tak jelas. Cukup, manusia. Aku sudah terlalu muak denganmu. Ibu dan nenekku membutuhkanku, tapi kau malah mengacaukan semuanya!" geram Shikamaru. Ia meninju dinding kamar kayunya sampai berlubang.

"Aku benar-benar minta maaf padamu. Tapi biarkan aku ikut denganmu. Aku juga ingin menolong ibu dan nenekmu, sebagai rasa terima kasihku kare—"

"Apa kau pikir aku akan pergi bermain? Kau hanya akan menjadi beban saja. Tak ada yang bisa kau lakukan, kau hanya manusia dan sama sekali tak memiliki kemampuan apapun," sindir Shikamaru datar.

"Aku ahli dalam anggar," ujar Temari tegas.

"Merepotkan," komentar Shikamaru malas.

Temari bangkit dari tidurnya. Ia menatap sepasang iris malas Shikamaru dengan tatapan yang tak bisa Shikamaru artikan, membuat pemuda itu jengah.

"Kau tahu, aku merasa ada sesuatu diantara kita. Tapi aku tidak tahu itu apa. Aku hanya merasa, ada sesuatu yang bakal terungkap bila aku ikut bersamamu—itu yang terlintas di pikiranku. Selama ini aku merasakan hampa, ada banyak begitu misteri dalam hidupku, sampai aku pun merasa kehilangan diriku, aku merasa asing berada di kehidupanku dulu—sampai akhirnya aku bertemu kau."

Shikamaru terdiam, ia sibuk mencerna kata per kata dari bibir Temari. Ia juga tak memungkiri kalau ia juga merasakan sesuatu dengan wanita itu, seolah adanya ikatan kuat yang membelenggunya, agar ia tetap di samping wanita itu.

"Atau jangan-jangan, kita adalah kakak-adik?" cetus Temari asal. Shikamaru hanya memutar bola matanya bosan.

"Tak sudi," gumam pemuda itu.

"Apa kau bilang? Kau ini memang benar-benar bocah yang tak tahu sopan santun sama sekali. Seharusnya kau beruntung karena memiliki seorang kakak sepertiku ini," tegas Temari dengan urat-urat kekesalan yang tercetak di wajahnya yang putih.

Shikamaru hanya kembali memutar bola matanya bosan, makin lama wanita itu semakin setres saja. Setres, setres, setres. Merepotkan! Ia menaikkan kedua alisnya, bingung dengan tingkah Temari. Wanita itu meraba-raba giginya. Halah, benar-benar sudah hilang kewarasannya.

"Kau tarik saja dengan tang, pasti taringmu bakalan keluar," ujar Shikamaru sarkastik. Temari mendecih pelan.

Keadaan hening. "Kenapa kau tidak takut denganku?" tanya pemuda itu akhirnya.

Temari menutup mulutnya, menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak. "Hei bocah, dengan tampang mau mati seperti itu, aku jamin anak kecil saja pun tidak takut denganmu. Tampangmu itu sangat tak menjanjikan. Sama sekali tidak ada kesan vampire yang menyeramkan, yang ada kau itu malah terlihat seperti badut," rasanya sangat terhina. Sangat-sangat-sangat terhina.

"Baiklah, kau boleh ikut denganku—akan kutunjukkan padamu bagaimana sosok iblisku yang sebenarnya," ujar Shikamaru datar. Entah kenapa Temari mulai merasa ngeri dengan Shikamaru—meski pemuda itu masih tetap memasang wajah malasnya, tapi ada sebuah kengerian disana, dengan pemuda itu.

Terlintas di otaknya untuk membatalkan keinginannya ikut dengan Shikamaru, tapi seakan tahu isi pikirannya, pemuda itu sudah terlebih dulu membuka mulutnya. "Tak ada lagi kata mundur, ku jamin pertunjukkan yang nanti bakal kau lihat pasti akan menyenangkan—berdarah-darah. Ayo."

Temari merinding, Shikamaru berdiri membelakanginya lalu berjalan keluar. Dengan takut-takut wanita itu mengikutinya, sosok Shikamaru terlihat bersinar tertempa sinar bulan, terlihat mengerikan, apalagi ditambah dengan latar beberapa kelelawar bermata merah darah yang mengikutinya dari belakang. Wanita itu sadar, ia sepenuhnya sadar, sangat sadar, pemuda yang berjalan di hadapannya, yang berjalan santai menerobos gelapnya pepohonan pinus itu bukanlah sosok Shikamaru yang di kenalnya—bocah pemalas yang tak layak hidup—melainkan seorang vampire. Ya, seorang vampire sungguhan, seorang makhluk penghisap darah yang abadi.

Haruskah ia lari? Tidak! Sama sekali tidak. Rasa penasarannya jauh lebih besar dari rasa takutnya. Dengan sedikit berlari, ia berusaha mengimbangi langkah cepat Shikamaru. Pemuda itu menatap lurus ke depan, tak mengindahkan dirinya yang sudah was-was.

..TBC..


Note:
1. Slave
2. Alter
3. Origin
4. Anggar - bela diri dalam menggunakan pedang. di Inggris dan perancis sangat terkenal, Indonesia pun juga ada.
5. Likan
Di chap ini belum akan dijelaskan arti semua yang diatas, nanti bakal dijabarkan semuanya di chap depan.
Supaya terlihat misterius. #plak
Dan, di chap depan juga bakal muncul makhluk2 baru...

_Covernya dari deviantart atas nama Suxius._

hmmm, apa ceritanya semakin kelam? atau terlalu banyak misteri? atau semakin membosankan dan tidak nyambung? atau juga gajenya semakin menjadi-jadi?
#readers: semuanya bener. *nangis jejeritan.
hiks-hiks-hiks, Kitty emang enggak bakat nulis ya.
Gomen bila readers yang nunggu malah sakit mata baca chap 4 yang semakin setres ini. Gomen.
Kitty hanya berusaha mengembangkan imaginasi Kitty dan mempersembahkan fic ini untuk kalian semua, jadi gomen bila semakin tak memuaskan.

.

Dan makasih sekali lagi atas RnR kalian semua,,,
Maaf bila Kitty sudah mengecewakan kalian ya.
Bagi yang login, balasan sudah Kitty kirim lewat PM.

Kithara - Ok, makasih sekali lagi ya Kithara-chan atas RnR-nya. hehehe, kalau gitu Kithara aja yang jadi produsernya, mau? hehehe. #bisa2 sepi penonton kalau cerita Kitty dijadiin film. hehehe.
Sebenarnya vampire itu jika mereka lapar, bisa memakan makanan manusia, mereka akan kenyang. Tapi mereka tidak akan kuat atau mendapat nutrisi seperti halnya meminum darah. Itu yang Kitty tahu setelah searching sana-sini. Nanti di chap depan bakalan di jabarkan semuanya. Oh iya, di chap 3 juga kan udah Kitty kasih tahu kalau mereka (Shikamaru, ibu dan neneknya) hanya makan sedikit masakan Temari, itu karena mereka juga tak terlalu berminat dengan makanan manusia, tapi dipaksakan karena tidak mau Temari curiga.
Chap depan bakalan ada banyak adegan aksi, karena musuh Shikamaru akan bermunculan.
Kalau gitu, ini chap 4nya. RnR lagi ya?

Nara Sanchez - Enggak papa kok. Ah Nara-san jangan panggil Kitty dengan embel-embel san, cukup Kitty atau kalau mau ditambahin chan juga enggak papa. hehehe. Makasih pujiannya atas imaginasi Kitty yang gaje. Ehm, maybe yes maybe no. #digampar, dicincang.
hehehe, diikutin aja dulu ya. ntar lama-lama kebongkar juga siapa Kitty (?) sebenarnya. #enggak nyambung woyyy!
Chap 4 udah ada, makasih atas RnR-nya. RnR lagi ya?

Silahkan tinggalkan review.
Saran, kritik dan lainnya kuterima dengan tangan terbuka...

Keep or Delete?