Update, 22 November 2016:
Disclaimers, isi dan peringatan sama seperti di chapter 1. 3k+ words, tidak termasuk notes. I don't own the cover image.
Pairing(s): HijiGin (Hijikata Toushirou/Sakata Gintoki), OkiKagu (Okita Sougo/Kagura).
Tambahan peringatan: Light Boys Love; Violences; Plot Twist; Death Chara (hanya untuk OC/figuran), Shimaru POV (untuk paragraf dan dialog yg di-italic), Flashback. Jangan bilang saya tidak memperingatkan kalian. Tidak menerima apresiasi negatif atas semua hal yang sudah saya peringatkan.
Somehow, enjoy! :)
.
#
.
Chapter 4
Di suatu sore, saat melewati jalan pematang bersama kakaknya, Hijikata kecil terus berceloteh di atas pundak Tamegoro. Anak tertua dari keluarga Hijikata itu mendengarkan sambil sesekali tersenyum geli.
Suara berisik bocah sebelas tahun itu mendadak berhenti saat ia melihat sesuatu. Sosok seseorang yang berdiri di tengah-tengah sawah. Karena sosok itu berdiri membelakangi matahari yang sudah hampir tenggelam, Hijikata kecil tak bisa melihat wajahnya. Tapi dari fisiknya, kelihatannya sosok itu seorang pria yang seumuran dengan kakaknya.
"Onii-chan*, apa yang dilakukan orang itu di tengah sawah?" Hijikata kecil akhirnya bertanya pada kakaknya.
Tamegoro menoleh tanpa menghentikan kedua kakinya yang sedang berjalan. "Siapa yang kau maksud, Toushirou?"
"Itu! Itu!" Jari telunjuk bocah bersurai hitam mengarah pada objek yang ia maksud. Namun saat Tamegoro melihat ke arah yang ditunjuk, sosok itu sudah tak ada. "Eh?" Hijikata kecil berkedip dua kali. "Tadi aku melihat ada orang di sana kok!"
Kakaknya mengulum senyum. "Mungkin kau hanya salah melihat, Toushirou."
Alis Hijikata kecil nyaris menyatu. Bingung. Masa sih secepat itu orang yang berdiri di tengah-tengah sawah menghilang? Bocah itu mengedikkan bahu. Mungkin orang itu memang sudah pergi.
Tetapi, keesokan sorenya saat melewati jalan pematang yang sama seperti kemarin, lagi-lagi Hijikata kecil melihat sosok itu. Berdiri di tengah sawah, di tempat yang sama seperti kemarin. Kali ini, ia harus membuat kakaknya melihat sosok itu!
"Onii-chan, lihat! Orang yang kemarin masih ada di sana!" Kedua tangannya langsung memutar kepala kakaknya ke samping kanan.
Tamegoro mengerjap. "Di mana, Toushirou? Tak ada siapa pun di sana." Kedua alisnya mengerut bingung.
Bocah itu terhenyak. Padahal ia hanya menoleh sekilas, tapi dalam sekejap mata sosok itu sudah menghilang! Apa benar sosok itu benar-benar manusia?
Namun, saat kembali menatap ke jalan depan. Hijikata kecil seketika tercekat. Matanya membelalak lebar. Sosok yang tadi dilihatnya sedang berdiri di tengah sawah, entah sejak kapan sudah berdiri di tengah jalan. Jarak antara mereka hanya berkisar lima meter. Wajahnya yang hitam seperti hangus terbakar. Kedua matanya melotot nyaris keluar. Ada luka horisontal yang menganga di bagian lehernya dan sudah kelihatan membusuk. Sosok itu menyeringai lebar. Ekspresinya seolah berkata 'Kau bisa melihatku, bocah?'.
Sekujur tubuh Hijikata kecil mendadak bergetar ketakutan. Kenapa kakaknya tidak bisa melihat sosok menyeramkan itu? Kenapa... hanya ia yang bisa melihat— "A-aaaaaaaaaa...!"
"TOUSHIROU!"
Hijikata kecil tersentak bangun mendengar suara kakaknya. "Onii-chan?" Peluh keringat membanjiri wajahnya. Nafasnya terengah-engah. Bergerak bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk, pandangannya langsung mengedar ke sekeliling kamar, sebelum menghembuskan nafas lega.
"Kau bermimpi buruk, ya?" Telapak tangan Tamegoro mengelus-elus lembut surai hitam bocah di depannya. Melihat anggukan kecil adiknya, Tamegoro tersenyum. "Lupakan saja, itu hanya mimpi."
Tadinya, Hijikata kecil sudah berniat melupakan mimpi buruknya itu. Tetapi, saat matanya tak sengaja menoleh ke luar jendela kamarnya yang terbuka. Entah sejak kapan, sosok menyeramkan itu sudah berdiri di sana dengan ekspresi yang mengatakan 'Aku di sini, bocah'.
Tecekat. Pupil navy sontak membulat horor.
Itu bukan mimpi.
.
. .
Bulan 0 hari X.
Aku mendengar beberapa anggota Shinsengumi yang berjalan di koridor membicarakan tentang lukisan dari pengirim misterius. Lukisan itu berada di ruang tamu, saat aku mampir ke sana untuk melihat. Tetapi karena banyaknya anggota dari setiap divisi yang berkerumun di depan lukisan itu, kuputuskan untuk melihatnya lagi saat mereka semua sudah membubarkan diri-z.
Saat melewati koridor terbuka untuk menuju kamarku, siluet seseorang dibalik pohon membuat langkah kakiku sontak berhenti. Mataku menyipit. Menebak-nebak siapa orang itu? Penyusup? Pencuri? Atau salah satu pemberontak Jouishishi? Namun niatku untuk memeriksa siapa dibalik pohon itu mendadak urung, begitu mendengar suara yang memanggil namaku dari belakang-z.
"Ah, Shimaru nii-san." Okita berjalan mendekatiku dengan satu tangan melambai di udara, "Kebetulan sekali. Apa kau sudah makan malam? Bagaimana kalau kita pergi mencari makan malam di luar?"
Aku mengangguk. Bahkan tanpa mengeluarkan suara, kapten divisi satu yang lebih muda dariku itu sudah bisa tahu jawabanku. Aku senang, karena Okita bisa tahu isi pikiranku tanpa perlu kuberitahu-z.
Kedua mataku kembali melirik pohon, sembari berjalan. Sosok yang kulihat tadi sudah tak ada. Mungkinkah aku hanya salah melihat? Kuputuskan untuk tidak memedulikannya lagi-z.
"Shimaru nii-san, apa kau sudah melihat lukisan di ruang tamu markas kita?" Suara Okita kembali terdengar, saat kami berdua sudah berada di dalam mobil patroli. Aku menoleh dan menggeleng. "Ah, sou ka? Kau harus melihatnya saat kita kembali ke markas nanti."
Mobil patroli yang dikemudikan Okita berhenti di depan sebuah restoran sushi*. Sebelum membuka pintu di samping, dia berkata, "Malam ini, aku sedang ingin makan sushi. Shimaru nii-san juga tak keberatan, kan?"
Aku mengangguk dan mengikutinya keluar. Kebetulan, aku juga sedang ingin makan sushi-z.
Jam sebelas malam lewat sepuluh menit, kami akhirnya kembali ke markas. Aku dan Okita berpisah arah di pertigaan koridor. Teringat sesuatu, langkah kakiku yang akan menuju kamar kembali berputar arah. Ruang tamu Shinsengumi menjadi tujuanku. Sesampainya di sana, aku membuka pintu geser. Sudah tak ada siapa pun yang berkerumun di ruangan itu-z.
Langkahku berhenti di depan lukisan yang dibicarakan seantero markas. Rasa penasaranku akhirnya terjawab. Ternyata hanya lukisan biasa bergambar sebuah pohon besar dengan tajuk berbentuk payung yang didominasi oleh cat berwarna merah dan hitam-z.
Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang mengawasiku. Kepalaku mendadak membesar. Bulu-bulu halus di leherku berdiri. Tubuhku merasa merinding oleh sesuatu. Saat kepalaku berputar dengan gerakan lambat melewati bahu untuk melihat ke belakang—
Setetes keringat dingin meluncur jatuh dari dahiku.
—makhluk berwajah menyeramkan dengan mata merah melotot berdiri persis di belakangku-z.
Okita tak bisa menahan tawanya, setelah membaca Buku Harian Penyelidikan yang ditulis Shimaru. Buku bersampul biru pucat itu baru saja divonis Hijikata untuk segera dibakar; karena sudah membuat wakil komandan Shinsengumi itu takut setelah membaca.
"Aku tak menyangka kalau Shimaru nii-san akan menulis hal seperti ini. Sepertinya dia punya bakat tersembunyi menjadi penulis novel horor."
Yamazaki hanya bisa menggeleng, sebelum tangan kanannya terulur ke arah kapten divisi satu itu. "Jadi, karena Okita taichou sudah membacanya, bisakah buku itu dikembalikan padaku? Aku harus segera membakarnya, seperti yang diperintahkan fukuchou."
Kedua sudut bibir Okita tertarik membentuk seringaian. Wajahnya tiba-tiba berubah sadis. "Yamazaki, untuk apa kau membakar buku ini? Aku bisa memanfaatkan buku ini—" jeda sejenak, "—untuk menakut-nakuti Hijikata lagi."
Si maniak anpan tersentak, "Tapi, Okita taichou—"
"Katakan saja padanya kalau kau sudah membakarnya," potong Okita cepat. Yamazaki tak ada pilihan. Buku itu sudah jatuh di tangan si kapten sadis, ia tak bisa berbuat apa-apa. Kalau nekat merampasnya, pasti sesuatu yang buruk akan menimpanya. "Nah, kau bisa pergi sekarang." Sebelah tangan Okita bergerak mengusir.
Pria yang menjabat sebagai inspektur Shinsengumi itu akhirnya meninggalkan kamar Okita dengan setengah hati. Kedua bahunya turun dengan lemas. Berdoa dalam hati agar Hijikata tidak menyuruhnya seppuku*, jika nanti pria itu tak sengaja melihat buku Shimaru Saito masih ada di tangan Okita.
Setelah pintu geser ditutup dari luar, Okita kembali melanjutkan membaca buku di tangannya. Lembaran berikutnya dibalik.
Bulan 0 hari X.
Keesokan malamnya saat aku sedang berada di ruanganku, salah satu anak buah di bawah divisiku memberi laporan dari luar-z.
"Shimaru taichou! Ada kasus pembunuhan yang tiba-tiba terjadi. Suzuki Daisuke dari divisi kita ditemukan tewas di dekat sumur!"
Tanpa buang waktu, aku langsung menuju Tempat Kejadian Perkara. Semua anggota sudah berkerumun ramai di tempat itu. Aku melihat Hijikata dan Okita sedang membicarakan sesuatu saat kudekati-z.
"Kami belum tahu siapa yang sudah melakukan hal ini." Suara Hijikata terdengar memberi tahu situasi.
Sepasang mataku menatap mayat bawahanku yang tanpa kepala-z.
"Shimaru nii-san, kami belum menemukan kepalanya di mana pun." Seolah bisa membaca pikiranku, Okita berkata, "Tadinya aku mengira kepalanya jatuh ke dalam sumur itu, karena kulihat ada yang mengapung. Tapi setelah diangkat, ternyata benda itu yang ada di dalam sumur." Jari telunjuk Okita menunjuk labu berwajah menyeramkan yang tergeletak di samping sumur, tak jauh dari mayat.
Apakah mungkin ini ulah pemberontak Joushishi? Atau mungkin ada pengkhianat yang berniat menghancurkan Shinsengumi dari dalam? Kulihat mayat bawahanku akhirnya diangkat dengan tandu. Hijikata berlalu pergi, setelah sebelumnya dia mengatakan kalau akan kembali mengerjakan paperwork-nya yang sempat tertunda. Aku juga kembali ke ruanganku dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih menghantui tempurung kepalaku-z.
.
. .
Cahaya dari tiang lampu jalan menyinari sebagian taman yang sudah lenggang. Padahal jam besar di taman itu masih menunjukkan pukul sembilan lewat sepuluh menit. Shinpachi, Kagura, Okita dan Yamazaki berdiri membentuk lingkaran dengan nafas yang masih terengah-engah akibat berlari.
"Aku harap Harada-san yang sudah kerasukan tidak mengejar kita sampai di taman ini!" Yamazaki berkata dengan wajah pucat pasi.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kali ini Shinpachi yang bersuara, wajahnya juga tak kalah pucat dari Yamazaki. "Bagaimana kita melawan hantu atau orang yang sedang kerasukan?!"
"Shinpachi...," suara Kagura terdengar di sela nafasnya yang sudah berhembus teratur, "perasaanku tidak enak. Aku khawatir dengan keadaan Gin-chan, aru."
Shinpachi terdiam. Remaja berkacamata itu tak tahu harus berkata apa.
"Ah, aku baru teringat sesuatu saat berlari tadi..." Ketiga orang di sekitarnya menatap Okita bersamaan. Berharap kapten divisi satu itu punya solusi. "Aku lupa mengambil pakaianku di tempat laundry."
GUBRAK!
Shinpachi dan Yamazaki kompak terjatuh dengan kepala lebih dulu di tanah.
"Apa-apaan itu, Okita-san?!" protes si kacamata.
Si maniak anpan juga ikut protes, "Apa hal itu lebih penting ketimbang situasi buruk kita sekarang, Okita taichou?!"
Berkedip dua kali, Okita memasang wajah tak berdosa. Kagura mendengus kesal.
"Aku akan kembali ke markas Shinsengumi! Gin-chan pasti dalam bahaya-aru!" Dengan gagah berani, gadis bercepol dua itu melangkah pergi, meninggalkan ketiga laki-laki di belakangnya.
"Oi, Kagura-chan!" Shinpachi berteriak panik sambil berlari menyusul. Sebelah lengan gadis itu langsung ditahannya. "Jangan bertindak gegabah! Kita harus memikirkan sesuatu untuk masalah kali ini!"
"Tapi, Shinpachi—"
Sebelum gadis itu sempat menduga, sebelah tangan Okita tiba-tiba memukul tengkuknya. Kesadaran Kagura langsung menguap hilang. Shinpachi tersentak. Refleks, kedua tangannya langsung menahan tubuh gadis itu sebelum jatuh ke tanah.
"Apa yang kau lakukan, Okita-san?!" bentak Shinpachi dengan mata melotot.
"Lebih cepat membuatnya diam dengan cara itu, megane." Sudut bibir Okita terangkat sedikit.
Remaja laki-laki berkacamata itu mengatupkan bibirnya. Memang benar yang dikatakan Okita, daripada Kagura terus memaksa untuk pergi ke markas Shinsengumi yang sekarang ini sudah jadi sarang hantu.
"Ngomong-ngomong, apa kau bisa berlari sambil menggendong gadis Cina itu?"
"Eh?"
"Lihat, kita kedatangan tamu tak diundang."
Kepala Shinpachi berputar ke arah di mana Okita menunjuk dengan dagu. Dari balik pepohonan yang berjejer di pinggir jalan, hampir dua puluhan orang berseragam Shinsengumi dengan kepala Jack O'Lantern berjalan seperti zombie. Darah yang sudah mengering menempel di seragam mereka. Dan bau busuk yang menyengat membuat siapa pun pasti akan muntah.
"Cepat lari, megane." Menarik pedangnya dari sabuk yang terselip di pinggang, Okita langsung menerjang, disusul Yamazaki.
Kedua kaki Shinpachi mendadak berat untuk diajak berlari. Seolah ada paku besar yang menancap di kedua kakinya. Dari posisinya, ia bisa melihat Okita dan Yamazaki terus menyerang dengan tebasan-tebasan pedang mereka, tetapi tak ada satu pun orang-orang berkepala Jack O'Lantern itu yang mati. Jelas saja, karena mereka sudah jadi mayat hidup.
"Shinpachi-kun, cepat lari dari tempat ini!" seruan Yamazaki membuat remaja berkacamata itu nyaris terlonjak.
Shinpachi akhirnya berbalik, setelah sebelumnya ia menggendong Kagura di atas punggungnya. Kemudian setelah menoleh sekilas ke belakang, berdoa dalam hati agar kedua polisi itu baik-baik saja, kedua kakinya berlari secepatnya dari taman itu. Menuju satu tempat tujuan yang baru terlintas di benaknya.
.
. .
Harada Unosuke menatap lukisan-lukisan yang dijual di pinggir jalan dengan penuh minat. Pria tua berpipi tirus yang duduk di tengah lukisan-lukisan itu tak bersuara; tidak seperti pedagang lain yang menawarkan jualannya. Seolah ia hanya patung hidup.
Lukisan-lukisan itu ada berbagai macam dari yang abstrak sampai yang membuat decak kagum. Hingga pandangan Harada jatuh ke arah tirai hitam di dekat tempat duduk pria tua itu. Sepertinya dibalik tirai hitam itu juga lukisan, begitu pikir Harada.
"Oji-san*, bisa aku lihat lukisan dibalik tirai hitam itu?"
Pria tua itu menoleh. Lama ditatapnya pria botak berseragam polisi di depannya. "Lebih baik kau jangan melihatnya," katanya dengan suara datar.
"Nande?" Harada mengerut. Ia semakin penasaran dengan lukisan yang tertutup itu. "Apa lukisannya rusak?"
Tak ada jawaban.
Harada tak mau menyerah begitu saja. "Biarkan aku melihatnya, Oji-san. Sedikit saja! Onegai?"
Hening.
"Apa kau pernah dengar...," pria tua itu akhirnya berkata dengan wajah menunduk, "rasa penasaran bisa membunuhmu." Bibirnya menyeringai tanpa disadari Harada.
"Eh?"
Tirai hitam itu tiba-tiba disingkap. Harada tersentak dengan mata membelalak. Bayangan wajah tertawa menyeramkan di lukisan itu membuat keadaan di sekitarnya membeku. Suara-suara dari kendaraan dan orang-orang yang lewat mendadak senyap. Kedua mata Harada tak bisa menoleh dari lukisan, ia seperti terhipnotis. Pupil pria berkepala botak itu perlahan meredup. Kosong.
"Oji-san... kirimkan lukisan itu ke markas Shinsengumi..."
.
. .
Bulan 0 hari X.
Hanya dalam waktu lima hari, hampir semua bawahan di bawah divisi tiga yang aku pimpin tewas terbunuh. Kepala-kepala mereka tak bisa ditemukan di tempat kejadian. Hanya ada Jack O'Lantern di dekat setiap mayat. Apakah si pembunuh berantai memang sengaja meninggalkan labu itu sebagai pengganti kepala mayat? Aku belum bisa memecahkan kasus ini-z.
Tanpa sadar, aku melangkah ke arah ruang tamu. Pintu geser kubuka dari luar. Tetapi langkahku sontak berhenti di ambang pintu, saat melihat di depan lukisan itu berdiri sosok berjubah hitam dengan kepala Jack O'Lantern. Dia menoleh, labu berwajah menyeramkan itu menyeringai lebar. Apakah dia pelaku pembunuhan berantai di markas kami? Kedua tanganku langsung bersiaga untuk menarik kedua pedang yang berada di belakang pinggangku. Namun pandanganku tiba-tiba gelap-z.
Gelap sekali. Aku tak bisa melihat apa-apa. Sebuah lentera tiba-tiba menyala. Seketika aku membeku, begitu bisa melihat sekeliling. Di tengah ruangan, aku berdiri di antara mayat-mayat yang tanpa kepala. Bau amis tercium. Genangan darah terlihat di sekitarku-z.
Ini pasti tidak mungkin. Aku menggeleng. Bisa kurasakan wajahku memucat. Kedua pedang di tanganku... berlumuran darah. Tidak mungkin. Aku kembali menggeleng. Pasti bukan aku yang melakukannya. Pasti bukan aku pelakunya. Pasti—
Pedang di kedua tanganku terlepas-z.
.
. .
Bagi para tahanan yang sudah pernah merasakan hidup di dalam penjara bawah tanah markas Shinsengumi, pastinya sudah tahu apa yang menunggu mereka. Siksaan tanpa henti dari anggota-anggota Shinsengumi yang berjaga. Kebanyakan polisi itu memang bekas preman di kampung, jadi naluri preman mereka kadang muncul jika sudah berhadapan dengan para tahanan. Apalagi dengan ditambah cahaya matahari yang tak bisa mencapai penjara bawah tanah itu; membuat teriakan-teriakan tak ada gunanya, karena terhalang dinding kokoh yang dibuat dengan peredam suara.
Namun, malam itu berbeda. Suara-suara riuh seperti di tempat perjudian terdengar di dalam penjara bawah tanah itu. Entah siapa yang memulai. Gintoki bersama dua anggota Shinsengumi terlihat asyik bermain kartu Uno* di dalam penjara, dengan hanya disinari cahaya temaram dari lentera kayu.
"Aku punya draw four!" Gintoki membanting kartunya di lantai dengan senyuman lebar setengah mengejek.
"Aku juga punya draw four!" Salah satu anggota Shinsengumi berambut cepak yang duduk di sebelah Gintoki ikut membanting kartunya. Kemudian ia dan Gintoki saling ber-high five.
Sejak kapan mereka akrab?
Sementara pria yang kalah akhirnya mengocok kartu dengan wajah dongkol, ini sudah ketiga kalinya ia kalah dalam permainan. Dewi fortuna sepertinya sedang tidak berpihak padanya.
Kondisi penjara itu juga terlihat jauh dari kata bersih. Kulit-kulit kacang yang berceceran. Kaleng-kaleng bir yang sudah kosong. Dan bungkusan-bungkusan snack.
"Ne, Danna." Pria yang duduk di sebelah Gintoki tiba-tiba berkata, "Jangan bilang pada siapa pun kalau kami bermain uno denganmu di penjara ini, ya? Jika fukuchou tahu kami tidak melakukan tugas untuk berjaga, dia pasti akan menyuruh kami melakukan seppuku."
Gintoki terkekeh geli, "Tenang saja. Mulutku ini akan terkunci rapat-rapat. Jadi, percayalah pada—KU!?" Pupil crimson-nya yang tak sengaja menoleh ke luar penjara sontak membelalak lebar. Entah sejak kapan, Hijikata sudah berdiri di luar sana dengan wajah setengah gelap, rahang mengatup keras dan urat pertigaan di pipinya.
"Oi, kalian berdua..." suara berat itu terdengar berbahaya saat menatap dua bawahannya bergiliran dengan sorot mata menajam, "TEBUS KETIDAKDISIPLINAN KALIAN DENGAN SEPPUKU!"
"UWAAA... FUKUCHOU?!" Kedua pria itu kompak melompat berdiri dengan wajah pucat. Panik. Keduanya langsung berlari ke luar penjara.
Hijikata sengaja membiarkan kedua bawahannya itu kabur. Lagipula, ia sudah hafal wajah keduanya. Setelah menyelesaikan urusan di bawah sini, ia akan langsung mencari kedua orang itu.
"Oi, Teme." Pupil navy Hijikata menatap tajam pria bersurai perak di dalam penjara yang memasang wajah sok polos. "Pasti kau dalangnya, hingga kedua bawahanku tadi mau saja diajak bermain kartu uno di dalam penjara ini, kan?!"
"Aku tidak mengerti maksud dari perkataanmu, Hijikata-kun~" Gintoki mengerjap berkali-kali. Sengaja terus memasang wajah sok polos. Bahkan kedua jari telunjuknya beradu di depan dada.
Wakil komandan Shinsengumi itu mengeram. Dengan emosi yang tergambar jelas di wajahnya, ia melangkah masuk ke dalam penjara Gintoki. Pria bersurai perak itu langsung menyilangkan kedua lengannya di atas kepala, sebisa mungkin melindungi bagian kepalanya, sebab sebelah kaki Hijikata menendang-nendangnya sambil memaki.
"Apa kau masih belum puas juga melakukan domestic violence padaku?"
Hijikata akhirnya berhenti dengan nafas memburu. Bibirnya yang baru saja terbuka untuk membalas kembali mengatup saat mendengar.
"Lebih baik kau pulangkan saja aku ke rumah kedua orangtuaku!" Kedua telapak tangan Gintoki menutup wajahnya, bertingkah seperti istri yang teraniaya dengan pura-pura menangis.
Gigi Hijikata bergemeletuk. Emosinya sudah overload. "Hentikan tangisan lebaymu itu, Teme! Fanfiksi ini bukan drama!"
Gintoki mengintip dari sela jarinya, sebelum berdecak. "Tch, tidak mempan."
Heh! Hijikata melotot.
Setelah berhasil meredam emosinya hingga di titik terendah, wakil komandan Shinsengumi itu menatap borgol berantai panjang dengan bola besi—seukuran bola bowling—yang melingkari pergelangan tangan kanan Gintoki. Setidaknya, bawahannya sudah melakukan tugas untuk memborgol pria perak itu dengan benar. Masalahnya: kenapa si keriting bodoh itu terlihat santai sekali, padahal sudah dikurung dalam penjara. Lihat, bahkan dia sudah mulai mengupil dengan jari kelingkingnya dan mata ikan mati itu balas menatapnya.
Hijikata berbalik. Daripada membuang-buang tenaga jika terlalu lama berhadapan dengan si tukang ngupil itu, lebih baik ia kembali ke kamar untuk beristirahat. Gembok di pintu penjara Gintoki dikunci dari luar. Pria bersurai perak itu tersentak, sebelum buru-buru mendekati jeruji.
"Oi, Hijikata-kun! Kau mau meninggalkan aku seorang diri di sini? Kau tidak mau berjaga untuk mengawasiku?!" teriaknya.
Kedua telinga Hijikata sengaja dibuat tuli. Gintoki belum menyerah, ia masih bisa melihat punggung pria itu.
"Oi, Hijikata-kun! Kau tidak kasihan melihat aku kesepian di sini? Kelinci saja bisa mati karena kesepian, lho!"
Tak ada respon. Hijikata sudah menghilang di belokkan. Gintoki mendengus. Ternyata hanya berakhir sia-sia!
Mungkin lebih baik tidur saja, pikirnya. Kesepuluh jarinya yang tadi mencengkram jeruji sontak mengendur, sebelum lepas saat berbalik menuju alas tidurnya di lantai. Sekilas dipandanginya borgol yang melingkari pergelangan tangan kanannya. Kedua tangan Gintoki terlipat di belakang kepala saat ia berbaring. Baru saja ia akan memejamkan mata, suara langkah kaki berat yang mendekat refleks membuat pupil crimson-nya menoleh.
"Nande?" Meski belum melihat sosok yang mendekati penjaranya, Gintoki melanjutkan dengan suara menyindir, "Apa kau berubah pikiran, Oni no Fuku—" kalimatnya urung tuntas begitu melihat siapa yang berdiri di luar penjaranya.
Sosok yang berdiri itu berjubah serba hitam dengan kepala Jack O'Lantern. Gintoki menarik nafas tercekat. Matanya melihat sesuatu yang ganjil. Sesuatu yang dipegang sosok menyeramkan itu. Kepala Hijikata dengan mata melotot dan darah yang masih menetes-netes di bagian leher yang terputus.
Gintoki menatap nanar. Seseorang, tolong katakan ini hanya mimpi...
.
.
.
Bersambung...
Glosarium (hanya untuk kata-kata Bahasa Jepang di fanfiksi ini):
Onii-chan: Kakak laki-laki
Sushi: Makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau yang sudah dimasak.
Seppuku: Suatu bentuk ritual bunuh diri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut dan mengeluarkan usus untuk memulihkan nama baik setelah kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat.
Oji-san: Paman
Uno: Sebuah permainan kartu yang dimainkan dengan kartu dicetak khusus (lihat Mau Mau untuk permainan yang hampir sama dengan kartu remi biasa).
Jeanne's notes:
Terima kasih bagi kalian yg sudah meninggalkan apresiasi (baik itu review, fave, follow) di chapter 3:
kazeshi rei; Hijikata Rinki; destriyani pangestu; 4869fans-nikazemaru; dona. tan. 144; FujiAoiAomineSuki; yukitsune89; Miss Royal; Do-S 1412; Akasuna Yuri Chan.
Reviewer yg login sudah saya balas via PM. ^^
Untuk yg nggak login saya akan membalasnya di sini:
destriyani pangestu: Gin belum mati kok. Jadi diganti Hijikata aja yg mati, ya? #plak Waduh, fic ini bukan MPreg, jadi nggak mungkin HijiGin punya anak... tapi, nanti saya berencana bikin fic HijiGin yg MPreg jika fic ini sudah completed. ^^
Saya nggak tau harus bereaksi seperti apa pas baca hampir sebagian yg review di chapter 3 lalu. Banyak yg berharap klo Hijikata memberi Gin hukuman di-*sensor*. Maaf klo tidak seperti ekspetasi kalian. Soalnya saya fokus ke jalan ceritanya, ketimbang adegan mesumnya. Lagipula, sudah saya kasih tau di chapter 1 klo M-rated di fic ini khusus GORE, no lemon.
Jadiii... karena kalian nggak rela Gin dibikin mati, maka sebagai gantinya saya buat Hijikata aja yg mati. Kasus ditutup. #heh
Di chapter 4 ini banyak flashback yg saya buat. Semoga kalian yg membaca tidak bingung, ya. :"
Pojok promosi (lagi): Hayo, siapa yg belum bergabung di 'Komunitas HijiGin Indonesia' yg ada di fb? Monggo, gabung klo kalian author/readers khusus HijiGin. Karena kami (para author dan reader khusus HijiGin yg sudah berkumpul di grup itu) berencana akan membuat 'HijiGin day' di tahun depan. Tetapi karena masih banyak author dan reader di fandom Gintama ini yg belum tahu, maka kami mengajak kalian untuk mendiskusikan hal ini. ^^
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter 5~ ;)
