"P-Perkenalkan, namaku Hyuuga Hinata." kata Hinata ketika ia kini berada di ruangan kelas yang penuh dengan siswa. Dan beberapa detik setelah itu, kelaspun ramai.
"Wah imutnya."
"Cantik."
"Manis, hei Hyuuga! Apa kau sudah punya kekasih? Pacaran yuk!" teriak salah satu siswa yang membuat Hinata bingung. Hinata masih tidak mengerti dengan yang namanya bahasa manusia. Sasuke langsung berdiri dengan menggebrak mejanya. Matanya masih tertutup rapat.
"Jangan main-main! Dia itu adalah pengantinku! Jika kalian macam-macam maka aku tak akan menjamin kelangsungan hidup kalian." ancam Sasuke dengan membuka matanya yang kini telah berubah warna menjadi merah.
Glek
Mendadak kelaspun langsung hening terkecuali Naruto yang masih tertawa dengan lebarnya. Sedangkan para gadis yang ada di kelas itu langsung menjerit histeris dan lagi di sudut ruangan terdapat seorang wanita berambut merah dengan kacamata yang terlihat meremas sesuatu seperti menahan amarah yang memuncak. Dia melampiaskan amarahnya.
"Baiklah Hyuuga-san, sepertinya kau bisa duduk d-dengan Uchiha-san." tutur Iruka yang saat itu mendapatkan jam pelajaran dikelas.
"Baik." Hinata mulai berjalan ke arah bangku di dekat Sasuke yang bersebelahan dengan jendela. Saat akan duduk ke kursi, tiba-tiba saja kursi Hinata mundur dengan sendiri hingga menyebabkan Hinata yang akan duduk akan terjatuh. Sasuke yang mempunyai refleks bagus langsung menolong Hinata sebelum Hinata jatuh tersungkur di lantai.
'Sihir.'
Ya. Ada yang menggunakan sihir di kelas. Tapi siapa, disini yang hanya bisa bermain sihir hanya Sasuke, Hinata. Sementara yang ia kenal hanya Ino, Sai dan juga Kakashi sedangkan yang lainnya hanyalah siswa biasa. Terkecuali ada beberapa penyihir yang tak mereka tahu menjadi siswa. Di pojok ruangan itu, gadis berambut merah itu membenahi letak kacamatanya dengan sedikit tersenyum simpul.
.
.
.
MY LOVELY WITCH
MY LOVELY WITCH©HACHI BREEZE©2013
ORIGINAL CHARACTER©NARUTO©MASASHI KISHIMOTO
The first MY LOVELY WITCH was©2011
Fic lama yang terbengkalai kini dilanjutkan dengan akun yang baru. Repost dengan perubahan dan inovasi baru.
Latest by : ©Hachibi Yui
Chapter: Gakuen & Rivals
.
.
.
Istirahat telah datang dan membiarkan semua siswa berhamburan menuju ke kantin untuk makan. Naruto dan Sakura telah berjalan menuju ke kantin. Tapi tidak dengan Sasuke dan Hinata. Saat ini Sasuke memenuhi panggilan kepala sekolah Tsunade jadi kini tinggallah sendiri Hinata di dalam kelas tanpa ada Sasuke, Kakashi-sensei, Naruto maupun Sakura. Hinata hanya bisa membaca buku menunggu Sasuke kembali, tapi gadis berambut merah dengan kacamata yang bertengger di wajahnya menghampiri Hinata dan duduk dengan membaca buku.
"Hai, namamu Hinata kan? Perkenalkan namaku Karin." ujar wanita berambut merah itu memperkenalkan dirinya sebagai Karin. Hinata hanya tersenyum lembut menanggapinya.
"S-Salam kenal Karin-san, " Hinata menutup bukunya dan menjabat tangan Karin lembut.
"Kau mau ikut dengan ku jalan-jalan tidak?" tawar Karin dengan memandang Hinata yang sedikit bimbang. Hinata memang ragu dengan tawaran Karin karena kini Sasuke tak ada di sisinya Hinata. Hinata sedikit bingung di antara pilihan ya atau tidak untuk saat ini.
"Kenapa? tidak bisa ya?"
"B-Bisa!" jawab Hinata dengan terburu-buru mengangkat wajahnya agar ia tak mengecewakan Karin, teman barunya. Hinata harus bisa menghadapi sesuatu tanpa Sasuke, ia tak ingin membebani Sasuke.
"Bagus," jawab Karin dengan menyeringai puas.
Sekarang Hinata dan Karin berjalan perlahan mengelilingi sekolah. Karin dengan sabar menunjukkan satu persatu tempat di Konoha High School. Hinata hanya mengangguk mengerti ketika Karin bertanya kepadanya. Saat berada di antara gudang dan tangga, Karin mengeluarkan sesuatu dari sakunya hingga membuat Hinata terkejut melihatnya. I-Itu, tongkat sihir lipat. Ternyata Karin juga seorang penyihir. Hinata dengan sigap membuat pertahanan dari Karin yang mungkin saja bisa membahayakan dirinya nanti.
"Kau kenapa Hinata-chan? Ayo kesini, kita bermain-main sebentar," kata Karin dengan mendekat ke arah Hinata, sedangkan Hinata mundur bersamaan dengan langkah majunya Karin.
"Ternyata kau penakut ya Hinata-chan? Ayo kesini, ini hanya kayu yang usang kok tidak usah ragu ayo sini."
"Ti-Tidak! A-Aku tahu apa yang kau pegang itu Karin-san." jawab Hinata dengan mengeluarkan tongkat sihir lipat juga dari lengannya. Hinata mulai membuat pertahan sihir dengan mantra apapun yang bisa ia ingat.
"Oh, ternyata kau juga penyihir rupanya? Ah, Hyuuga, ya? Aku lupa klan terhebat itu. Baiklah, karena kau setingkat denganku, mari kita buktikan siapa yang sangat pantas untuk mendapatkan Sasuke-kun!" kata Karin dengan menyiapkan tongkat sihirnya.
"K-Kau, juga penyihir K-Karin-san?" tanya Hinata di saat seperti ini. Tentu saja Karin adalah penyihir karena sekarang Karin sedang berusaha untuk menyerang Hinata.
Karin hanya menyeringai sesaat, "Memang, dan aku lebih dari apa yang kau bayangkan."
"Hyaat!" tanpa ragu menyerang Hinata, Karin langsung membacakan mantra yang membuat cahaya di sekelilingnya menghilang dan hasilnya sekarang adalah langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi sangat mendung. Gelap malah.
Hinata menangkis serangan yang dapat ia lihat dengan mata Hyuuga nya, sungguh sangat membantu mata ini. Hinata membalikkan keadaan, dengan cepat ia menyerang Karin dan membuat gadis berambut merah itu terlempar kebelakang. Hinata membaca mantra untuk mengubah awan yang tadinya gelap kini kembali cerah seperti biasanya.
"Keh, kau itu pintar juga ya Hinata. Sekarang kita lihat seberapa mahirnya kau dalam sihir," ancam Karin dengan membuat ujung tongkatnya sedikit bercahaya. Siaga dua untuk Hinata.
.
.
.
Perubahan awan yang terus-terusan terjadi membuat semua orang yang merasakannya menjadi aneh. Sasuke yang ada di ruangan Tsunade merasakan firasat buruk ketika melihat perubahan awan itu dari balik jendela Tsunade. Begitupun Kakashi, pria yang sedang membaca buku di ruangannya itu bisa merasakan adanya gelombang sihir di dekatnya. Kakashi langsung berdiri dari posisinya dan keluar untuk memastikan sesuatu. Naruto dan Sakura yang ada di kantin juga merinding ketika melihat awan begitu cepat berubah suasana, apa Kami-sama marah dengan tindakan NaruSaku yang mojok di kantin ini. Mereka berdua saling menatap dengan pandangan serius, dan setelah itu mereka pergi dari sana. Sai dan Ino yang juga merasakan ada pertarungan sihir langsung mencari dimana pergerakan sihir itu ada.
"Kau merasakannya Ino?" tanya Sai pada Ino, kini keduanya telah berlari mencari pergerakan itu, khawatir pada sahabatnya. Sasuke atau Hinata.
"Ya, aku merasakannya." jawab Ino dengan siaga mengambil tongkat sihir lipatnya begitu juga dengan Sai.
Ino dan Sai masih mencari karena pergerakan sihir ini masih begitu samar hanya saja ini terasa. Sementara Sasuke tak memperdulikan ceramah Tsunade dan meminta ijin untuk keluar mencari Hinata. Sasuke berlari menuju ke kelasnya untuk memastikan bahwa Hinata baik-baik saja. Nihil, kelas itu sepi, tak ada siapapun. Sasuke terus berlari sampai di persimpangan ia menabrak Kakashi yang sama terburu-buru seperti dirinya hingga mereka berdua sama-sama terjatuh.
"Sensei?"
"Sasuke? Kau disini? Lalu, jika kau disini lalu ulah siapa ini? Aku bisa merasakannya, kupikir ini gelombangmu." tanya Kakashi dengan menunjuk perubahan awan yang masih tak normal.
"Hinata tak ada di kelas, dan aku juga belum bertemu dengan Sai ataupun Ino." jelas Sasuke dengan mengatur deru nafasnya yang terasa sangat berat setelah berlari dari pojok gedung A hingga lantai tiga gedung D.
"Kalau begitu kita cari bersama dari sini," kata Kakashi dengan di ikuti Sasuke dari belakang.
.
.
.
Kakashi dan Sasuke berlari menyusuri lorong mencari keberadaan Hinata. Mereka berdua berharap perubahan sihir ini bukan karena Hinata. Saat ini Hinata hampir kehabisan tenaga untuk melanjutkan pertempuran yang dimulai oleh Karin. Sama halnya dengan Hinata, Karin mengusap darahnya yang tak berhenti keluar dari mulutnya. Peluh dan hawa panas menguar dari tubuh mereka berdua yang masih bertahan di posisi menyerang mereka.
"Menyerah, Hyuuga?" Karin mengusap darah terakhir yang menetes.
"T-Tidak, a-aku takkan mengecewakan k-kali ini,"
Lagi. Mereka berdua bertanding lagi. Tak memperdulikan Ino dan Sai yang baru saja datang dengan bantuan elektronik sihir pelacak mereka. Niatnya, Ino ingin membantu Hinata tapi Hinata mencegah Ino untuk melakukannya. Ini pertarungannya. Pertarungan antara gadis. Sai menatap benda yang ada di tangannya, ia melihat gelombang Sasuke dan Kakashi semakin menjauh dari tempat ini. Sai berbisik ke Ino sebentar sebelum berlari memanggil kedua orang yang salah arah ini. Ino hanya melirik sebentar bayangan Sai yang menghilang dibalik tangga. Ino memberi mantra pelindung di hadapannya agar ia tak menjadi salah sasaran sihir. Dari balik perlindungan itu, Ino memberikan sedikit sihir pemulus untuk Karin dan Hinata agar tidak terlalu luka berat dari pertarungan ini.
"J-Jangan berbuat macam-macam Ino!" pekik Karin yang masih mengatur nafasnya.
"Hei, aku hanya membantu!"
.
.
.
"Ikut aku!" Sasuke dan Kakashi berhenti ketika akan menuruni satu lantai lagi sebelum suara Sai menghentikan.
Sasuke dengan cepat mengangguk dan berlari ke arah Sasuke. Kakashi yang hendak mengikuti kedua bocah bermata hitam seketika berhenti kala ia melihat dua orang yang sangat ia kenal dan ia bantu beberapa puluh tahun yang lalu berdiri dibawah bayangan.
"Kakashi, apa ini? Aura Hyuuga, huh?"
"Hah~" Kakashi masih mengela nafas dan membenarkan masker yang di pakainya.
"Tenang saja, Hyuuga kali ini bukan mereka. Kau sadar kan ini sudah tahun berapa? Mungkin mereka sudah tiada," sang gadis yang berada disamping pemuda itu hanya menatap nanar.
"Kalian pasti tahu Hyuuga Hinata, ini gelombang darinya. Kalian tak usah khawatir. Dan Uchiha, mereka sudah saling mengikat janji suci dengan tradisi masing-ma-"
"Kami sudah tahu saat pergi mengunjungi mereka." Suara berat itu membuat Kakashi mengangguk.
"Benar,"
"Kau kan teman kami sejak kecil. Tolong jaga rahasia ini. Jangan sampai terbongkar." Tambah pemuda itu.
"Shi-kun, kami percaya padamu." Akhir sang gadis itu sebelum keduanya menghilang.
Kakashi masih terdiam. Memandangi pojok lorong yang baru saja dua sosok bayangan menghilang. Kakashi mengacak-acak rambut peraknya berantakan. "Bukankah sudah sering kubilang tidak boleh menggunakan sihir di dunia manusia? Kenapa semua orang selalu melanggarnya sih?"
Dengan terpaksa Kakashi mengikuti jejak, menggunakan sihir untuk lebih cepat sampai ditujuan.
.
.
.
Hinata dan Karin masih pada pertahanan terakhir mereka ketika Sasuke dan Sai baru saja sampai di pojok gudang di sebelah tangga yang sepi. Sasuke menggedor dinding pelindung yang telah dibuat Ino. Kedua gadis yang masih bertarung di dalamnya tahu akan kehadiran Sasuke tapi mereka masih tidak bergeming dari posisi mereka. Karin dan Hinata melontarkan sihir mereka dengan kuat. Sai mencoba mengontrol agar pertandingan ini selesai dengan alat yang sedari tadi di bawanya. Tekanan sihir yang ada di antara Karin dan Hinata semakin meningkat, di titik terakhir mereka menghabiskan tenaga.
"Uso," Sai menjatuhkan alat semacam PC tablet dari tangannya ketika benda itu meledak.
Bersamaan dengan PC Sai yang meledak, sihir di antara Karin dan Hinata juga ikut meledak. Keduanya terpental kebelakang. Ino yang hanya memejamkan mata langsung di dekap oleh Sai agar tidak terkena ledakan ketika Sasuke memecahkan dinding pelindung dengan sihirnya. Sasuke dengan cepat menangkap Hinata yang tidak sadarkan diri karena kelelahan dan terpental dari ledakan. Setelah asap sedikit menghilang, mereka juga melihat Karin tidak sadarkan diri disana.
"Wah, rupanya Hinata semangat ya hari ini." Kakashi berdiri di dekat Karin. Ia mengangkat tubuh itu dari lantai.
"Sensei," Sasuke mendesis ketika melihat teman sekelasnya ini dalam posisi sama seperti Hinata.
"Jangan khawatir, Karin juga penyihir. Dia bukan musuh. Aku datang bersamanya ke dunia manusia ini." Jelas Kakashi dengan wajah tersenyum.
"V-Vampire H-Hunter?!"
.
.
.
Hinata dan Karin terbaring di atas ranjang yang berbeda di ruangan yang sama. Mereka berdua sama-sama berbalut perban di kedua lengan mereka. Terima kasih sihir penyembuh Kakashi sehingga mereka berdua dapat masuk ke UKS tanpa pertanyaan macam-macam. Hinata mulai mengerjapkan mata ketika ia menangkap cahaya lampu yang masuk ke retinanya. Ia mendudukkan diri di kepala kasur, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Ketika ia mengedarkan pandangan, ia terkejut melihat Karin yang lebih dulu bersandar di bantalan kepala kasur.
"Kau hebat juga ya Hyuuga,"
"K-Karin-san." Hinata masih memasang posisi siaga.
"Tenang, aku tidak akan menyerang lagi." Karin sedikit tersenyum tanpa alasan yang jelas membuat Hinata menurunkan kedua tangannya dan menatap bingung.
"K-Kalau begitu k-kita berteman saja Karin-"
"Aku menganggapnya rival, Hyuuga."
"Kau Hyuuga kedua yang aku temui, dan aku akui kalian hebat." Gumam Karin lirih. Hinata tidak dapat mendengar jelas bisikan Karin, tapi ia yakin ia dengar.
"T-Tidak apa-apa," Hinata hanya tersenyum "Aku s-senang dengan Karin-chan. K-Kita teman ya?"
.
.
.
Di kediaman Hyuuga, rombongan keluarga dari Akasuna datang lagi. Dan hal ini tentu saja alarm bahaya untuk Hanabi yang siap membuatnya jingkrak-jingkrak. Hiashi datang menyambut tamu spesial yang nantinya akan menjadi calon besannya. Pemuda berambut merah juga keluar dari rombongan menyusul kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah keluarga Hyuuga. Kesan pertama pemuda itu tentang rumah Hyuuga sejak beberapa hari yang lalu masih sama yaitu kuno. Dan pemuda itu juga berfikir jika gadis yang akan di tunangkan dengannya pasti juga gadis yang kuno. Dengan malas pemuda itu masuk dan duduk di sebelah orang tuanya. Kini wajah tampannya sudah tak tertutupi lagi oleh topeng dan baju Thunder Knight lagi.
"Jadi, inikah Akasuna Sasori?"
" Benar paman.. " jawab Sasori membuat Hiasahi tersenyum bangga.
"Sayang sekali kau tak bisa melihat Hinata putriku, padahal kau begitu rupawan tapi Hinata sedang keluar dari rumah akhir-akhir ini." kata Hiashi mencoba untuk berbasa –basi.
"Tidak apa-apa, Hiashi-jiisan."
"Tapi kau bisa melihat foto Hinata, Sasori. Ngomong kita belum mempersiapkan untuk selanjutnya Akasuna-san." Hiashi kini asyik bercengkrama dengan pria yang sudah seusia sama seperti dirinya. Mereka tertawa keras-keras. Sesekali ibu Sasori memukul pelan lengan suaminya untuk mengecilkan volume tertawanya. Sedangkan Hanabi yang ada di samping kirinya hanya diam dan berwajah kusut tanda tak suka.
'Paling juga cewek kuno yang berdandan kuno juga.' batin Sasori ketika Hiashi memberikan album foto tentang Hinata.
Perlahan Sasori membuka album foto sedang yang ada di tangannya. Matanya tak bisa berkedip ketika memandang gambar yang ada di kertas abadi itu. gadis imut yang berpakaian dari tradisional hingga sihir modern nampak begitu imut, manis dan cantik. Kharisma anggun menguar dari wajahnya ketika warna blush alami dari putih pipinya menghias wajahnya. Sasori menarik semua kata-katanya barusan, ternyata calon istrinya nampak begitu indah. Bukan, tapi cantik. Dia membolak-balikkan lembar album agar ia percaya dengan pandangannya akan dewi cantik ini. Sasori tak akan melepaskan gadis ini. Ibu Sasori yang ada di sampingnya tertarik untuk melihat Hinata juga, perlahan semua merah juga menghiasi wajah ibu Sasori ketika memandang foto Hinata.
"Terpesona ya?" tanya Hiashi kepada Sasori yang juga bersemu merah.
"Tak kusangka jika putrimu akan tumbuh begitu cantik Hiashi," puji ibu Sasori dengan mantap.
"Kapan aku bisa bertemu dengannya, paman?" tanya Sasori dengan memandang Hiashi. Hiashi tertawa dan Sasori menyeringai puas. Ya. Sangat puas.
.
.
.
Hinata berjalan beriringan bersama Sasuke disampingnya. Beberapa saat yang lalu, mereka baru saja berpisah dengan Naruto dan juga Sakura. Sasuke masih menggenggam erat jemari Hinata. Hinata sekarang tahu, dan ia mulai belajar sedikit demi sedikit tentang Sasuke. Hinata hanya tersenyum lembut dan membalas dengan belaian lembut di jemari Sasuke.
"Apakah sakit?"
Hinata hanya memiringkan kepalanya menatap wajah Sasuke dari samping.
"Apakah rasanya masih sakit? Tanganmu, tubuhmu, atau kau merasakan sakit?"
Hinata hanya tersenyum lembut, "A-Aku b-baik-baik saja S-Sasuke-kun."
"Jangan ulangi lagi," Sasuke menarik tangan Hinata jatuh kedalam pelukannya.
"Aku takut kehilanganmu." Semu merah di wajah Hinata kembali hadir.
Sasuke menghentikan langkahnya dan di ikuti Hinata yang berhenti. Hinata mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke, ia menatap dua bayangan hitam sedang berdiri di depan rumah Kakashi. Dengan cepat Sasuke mengalihkan Hinata ke belakang tubuhnya agar Hinata tidak bahaya. Hinata dengan takut-takut mengintip dari balik bahu Sasuke.
"Siapa?" Sasuke masih memandang pergerakan tangan mereka yang menatap dirinya dan juga Hinata. Sasuke mencoba mengingat figure yang ada di depannya kini.
Dua orang dewasa, wanita dan pria. Si wanita berambut biru pendek dengan pita apik di kepalanya, Sasuke tidak mengenalnya. Sasuke berjalan mendekat lagi ketika bayangan semakin samar. Hinata sedikit menarik Sasuke ketika pemuda itu melangkah, walaupun pada akhirnya ia mengikuti pemuda ini mendekat. Sasuke mengingat lagi, ia rasanya mengingat siluet wajah itu. Ya. Sasuke mengingat pria ini. Wajah yang sama dengannya, mata dan aromanya pun juga sama. Pria dengan rambut panjang ini sangat ia kenal.
"Oh, Sasuke! Lama tak bertemu."
"I-Itachi-nii?" tanya Sasuke.
"Yo! Apa kabar? Aku sangat merindukanmu." Itachi dengan erat memeluk Sasuke dan tak memperdulikan Hinata yang mundur beberapa langkah memberi ruang untuk kedua saudara ini. Memberi ruang untuk mereka melepas kerinduan setelah sekian lama berpisah.
"Itachi?" Kakashi membuka pintu ketika mendengar suara Itachi yang terdengar menangis.
"Kalian kenapa bisa begini? Cepat masuk." Perintah Kakashi yang hanya di jawab anggukan Itachi.
.
.
.
Itachi dan Konan duduk bersebrangan dengan Sasuke dan Hinata. Kakashi duduk di samping Sasuke dan Itachi. Mereka menyeduh teh hangat yang disajikan Kakashi.
"Jadi kemana saja kau selama ini?" Kakashi memulai pembicaraan dengan Itachi yang masih menyeduh tehnya.
"Aku melakukan perjalanan panjang,"
"Selama lima belas tahun?" sindir Sasuke membuat Itachi sedikit kesusahan menelan tehnya.
"Sasuke, jangan samakan ini dengan pikiranmu. Aku melakukan perjalanan ke dunia portal. Banyak dunia yang aku kunjungi tapi satu yang belum pernah aku kunjungi, kau tahulah." Itachi tersenyum miring memandang wajah Sasuke yang mendecih kesal.
"Ngomong-ngomong, ini Konan, penyihir yang tak sengaja aku temui di dunia monster. Dia pengantinku."
"Yoroshiku." Konan sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat ke arah Sasuke dan Hinata. Hinata membalas hormat Konan sementara Sasuke masih tak bergeming.
"Dia juga pengantinku. Hinata Hy-"
"Hyuuga?" potong Konan yang sukses membuat Itachi membulatkan matanya mendengar nama itu.
"APA?!" pekik Itachi membuat Hinata mendongakkan kepalanya menatap kakak Sasuke.
"K-Kau serius Sasuke?" tanya Itachi kali ini memastikan kepada Sasuke.
"Tentu saja." jawab Sasuke dengan santai.
"Kau pasti gila Sasuke, walaupun denngan begini kau memang sudah sempurna sebagai vampire...tapi, kau tahu bukan jika di antara leluhur kita, Uchiha dan Hyuuga mempunyai kutukan jika melangsungkan pernikahan? Oh ayolah, saat itu kau masih sangat kecil Sasuke." keluh Itachi.
Keduanya sama-sama tercekat. Terlebih lagi Hinata.
"A-Ano, s-sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Hinata menengahi.
"Begini Hinata-chan, tentunya kau masih ingat dengan legenda Uchiha dan Hyuuga yang berhubungan dengan Danau Kematian di dunia sihir, bukan? Itu sudah dulu sekali. Dulu leluhur vampire memang bersahabat dengan leluhur penyihir. Tapi suatu ketika terjadi sebuah kecelakaan yang menyebabkan kami salah paham. Saat itu, seorang vampire Uchiha murni yang tengah jatuh cinta pada seorang penyihir murni paling tinggi saat itu, Hyuuga, tak memperdulikan aturan yang sudah di tetapkan. Keluarga Hyuuga tak terima sehingga membuat si Hyuuga muda mati bunuh diri bersama dengan si Uchiha muda. Sejak saat itu, perang berlangsung lama antara penyihir dan vampire. Pada akhirnya, leluhur Hyuuga mengutuk leluhur Uchiha, 'ji-"
"'Jika suatu saat anak cucu kita menjalin kasih, ku kutuk dengan kegelapan yang ada dihatiku agar mereka menemui ajal yang sama. Siap atau tidak, jiwa mereka akan terkurung di danau kematian yang gelap.'. Aku masih mengingat, itu kutukan ketika aku masih kecil." Potong Kakashi yang seketika membuat semua orang memandangnya.
"Berapa umurmu Kakashi-jiisan?" Itachi memberanikan diri bertanya kepada Kakashi dengan santai.
"Hampir empat abad,"
"NANI?!" semua orang yang ada disana hanya bisa berteriak.
"Apa? Aku dan Karin, penyihir yang kalian temui hari ini, kami melakukan Regeneration Hibernate. Sihir yang membuat kami awet muda dan memperbarui jiwa kami setiap kami tidur. Wajar jika kami menggunakan sihir ini mengingat kami ini Vampire Hunters. Dan tentang kutukan itu, aku pernah menyaksikan sendiri." Jelas Kakashi masih membuat ke empat orang di rumahnya ini tercengang.
Hinata masih terdiam menggigit jarinya mengetahui yang sebenarnya. Ia tak pernah tahu akan legenda Uchiha dan Hyuuga di masa lampau. Mungkin jika begini, menerima tawaran Akasuna akan lebih baik daripada ini, tapi Hinata merasa hatinya sudah mantap. Mantap untuk berada di sisi Sasuke. Sasuke menggenggam erat jemari Hinata ketika pemuda itu memandang raut cemas dan gelisah di wajah gadisnya. Mendadak perasaan hangat di hati Hinata dapat ia rasakan. Perasaan itu membuat jantungnya berdebar cepat. Membuat wajahnya memanas. Membuat kepalanya pusing dan serasa berkunang-kunang tiap kali Sasuke ada di pikirannya ataupun selalu menggenggam jemarinya memberi kehangatan. Tidak. Hinata tidak pernah takut mati. Tapi dia..
"..kut.."
"Hah?" tanya Sasuke menajamkan pendengarannya.
"A-Aku t-takut kehilangan S-Sasuke-kun," Bisik Hinata membuat Sasuke merona dan Kakashi yang diam-diam mendengarkan hanya tersenyum kecil.
"K-Katakan j-jika l-legenda itu bohong." tambah Hinata yang kini telah menangis.
"Sayangnya yang kudengar itu benar." sela Itachi yang dapat membaca wajah gelisah adiknya. Senyuman di wajah Kakashi mendadak pudar.
"Aku telah jatuh cinta padamu sejak kau pertama kali melindungiku, H-Hinata. Setiap harinya, perasaan hangat ini semakin bertambah. Aku juga takut kehilangan dirimu."
"Kau terlalu posesif Sasuke." Sela Itachi, membuat Kakashi meletakkan telunjuknya di depan mulut Itachi mengisyaratkan untuk diam.
"Tidak. Tapi, mungkin aku memang terlihat posesif. Aku hanya ingin melindungi Hinata dengan kedua tangan kotorku. Aku, sangat mencintainya." Air mata menetes dari ekor mata Hinata ketika menatap wajah Sasuke yang sedikit sendu.
"A-Aku tak tahu, t-tapi d-dalam hatiku, baik s-sehat maupun s-sakit..a-aku ingin selalu ada d-di sampingmu. A-Aku mencintaimu S-Sasuke-kun,"
"K-Kau sudah berjanji untuk t-tidak menyerah atas diriku, berjanji j-jangan t-tinggalkan aku."
"Aku janji." jawab Sasuke dengan tersenyum simpul ketika menghapus air mata di wajah Hinata.
Konan menitikkan air matanya melihat pemandangan di depannya. Kakashi sedikit tersenyum melihat kedua muda-mudi di hadapannya, "Setidaknya masa kalian lebih baik daripada masaku." Bisik Kakashi pelan.
.
.
.
"Kau mau pergi kemana, Sasori?" seorang Thunder Knight yang lain menghentikan langkah Sasori ketika hendak keluar pos.
"Keluar. Mau pulang untuk mengerjakan tugas." Jawabnya singkat dengan mengibaskan postcard di tangannya.
"Eh?"
"Aku harus mengemasi barang-barangku, aku akan menginap ke tempat The Lord. Ada tugas disana." Jawab Sasori dengan tersenyum melambaikan postcardnya yang bertuliskan "Ijin Latihan Keamanan. Privacy Agent by Akasuna."
"Aku harus turun ke dunia manusia. Dan hidup bersama The Lord." Tambahnya lagi dengan tersenyum.
.
.
.
T.B.C
Pojok Author:
Makasih banget buat reader yang sudah mau mampir.
buat reviewer yang non-login, ini balasannya..
Me: Makasih atas pujiannya, maaf baru bisa ngebales begini.
Loop: Aku usahakan ^^
Lavenderaven: Ya, akan saya lanjutkan.
buat yang login, sudah saya balas private message kok :)
