"Kami pulang," ucap Karamatsu dan Todomatsu bersamaan. Todomatsu berkata pada kakaknya bahwa ia ingin ke dapur dahulu untuk mencari makanan yang bisa ia jadikan ganjalan sementara sebelum makan malam. Karamatsu naik ke kamar, melihat saudara-saudaranya masih berada di ruang yang sama. Ia berjalan masuk seperti biasa, membuka lemari dan menyimpan jas miliknya dan Todomatsu di tempat masing-masing. Tak ada yang menghiraukan—Todomatsu tahu jikalau dia yang membawa barang belanjaan mereka pasti kakak-kakaknya akan langsung kepo menanyakan barang apa yang sudah mereka beli, lalu … terjadilah keisengan antarsaudara (menodai pakaian bagus miliknya misal, walau seingat Todomatsu itu belum pernah terjadi, sih. Habisnya, baju mereka memang biasa semua).
Karamatsu berjalan keluar dengan membawa tas belanjaannya yang sudah kosong. Ia berniat menaruhnya di gudang karena model tas itu sendiri lumayan bagus. Bisa, lah, digunakan oleh ibunya.
"Apa yang kau beli, Karamatsu?" tanya Osomatsu yang entah sejak kapan sudah berdiri hendak melewatinya, mengintip isi tas itu.
"Baju," jawab Karamatsu biasa. Ia keluar meninggalkan sang kakak, yang kemudian berkedip.
"Matamu tidak perih?" tanya Choromatsu pada kakak sulungnya itu.
"Eh? Bukan. Bajunya sudah ia simpan di lemari, sepertinya." Kemudian, sedetik berikutnya ia menggeser pintu lemari untuk melihat belanjaan Karamatsu.
"Eh?" Osomatsu terheran.
"Kenapa?" Choromatsu kini menaikkan wajahnya dari buku yang ia baca.
"Bajunya …," katanya tak menyangka, "normal."
"Bagus, dong?" ujar si hijau itu, dan ia dapat mendengar Ichimatsu yang bergumam, 'Eh?' di pojokan. Jyushimatsu yang bertelungkup di sofa tak mengerti, penasaran melihat raut wajah si kakak ungu berubah. Si rambut kucel itu berdiri dan mengintip di samping Osomatsu.
"Uwah!" komentar Ichimatsu senada takjub. "Itu jas?"
"Gila, nih. Saudara sendiri menang pachinko, kok, nggak ada koneksi, sih?"—yang maksudnya, 'kok, tidak ketahuan dengan mereka berlima'. Akan tetapi, setelah melihat jas merah muda yang agak jauh dari jas biru itu, Osomatsu langsung menceletuk, "Oh, ada yang sekongkol rupanya. Tidak heran, adik bungsu."
"Enaknya diapakan, Kak?" tanya Choromatsu berlagak patuh menjadi bawahan.
"Lihat saja makan malam nanti." Osomatsu menyeringai licik.
Kebetulan, saat kumpul makan malam keluarga, Karamatsu adalah orang yang terakhir datang ke meja makan mereka berenam. Osomatsu bergeser untuk memberi ruang duduk pada adiknya itu.
"Oi, Karamatsu," panggil kakaknya saat Karamatsu sudah mulai makan.
"Hm?" Suaranya tak seberat biasanya.
"Punya rezeki itu dibagi-bagi, jangan dihabiskan sendiri," ucap kakaknya mencoba menyudutkan Karamatsu. Biasa, ketika mereka berdua bermain pachinko dan Karamatsu memperoleh uang yang banyak, mereka sering berakhir dengan Karamatsu yang antara marah dan miris karena Osomatsu tidak pernah bisa menjaga kemenangannya meskipun sudah beribu kali diminta untuk tutup mulut. Reaksi Karamatsu yang sekarang tenang-tenang saja membuat kakak merahnya itu kebingungan.
"Kau minta aku traktir yakiniku lagi?" tanyanya dengan tekukan alis. "Kalau begitu minggu depan."
"Heeeeh?!" Osomatsu hampir berdiri kalau tidak mengingat nasi di mangkuknya belum habis. Alis Karamatsu semakin menekuk melihat tingkah kakaknya.
"Karamatsu-niisan , kau baru saja menang pachinko, 'kan?" tanya Choromatsu ke inti.
Karamatsu menjawab, "Tidak, tuh."
"Bohong!" pekik Osomatsu tepat di wajahnya.
"Kalian sendiri tahu aku belakangan jarang keluar! Ke atap saja aku malas!" bela Karamatsu dengan suara meninggi.
"Heeeh …." Osomatsu menghela napas lemah. "Kau itu kenapa, sih?" Ia memasukkan suapan terakhirnya, lalu meneguk minuman. "Terus yang di lemari itu uang dari mana?
"Tabunganku," ucap Karamatsu jelas. Osomatsu masih menyipitkan matanya seraya memandang curiga. Ia semakin bingung karena Karamatsu bukan tipikal 'mencuri uang saudara untuk bersenang-senang' seperti dirinya.
"Kau kerja?" tanya Choromatsu habis akal.
"Tidak. Itu tabungan yang memang sudah kukumpulkan sejak lama."
"Dasar. Kemarin kau bilang kau tidak punya uang." Osomatsu mendengus. "Kupikir kau akan beli baju bling-bling, Karamatsu."
"Tadinya, tapi harganya terlampau tinggi." Jawaban Karamatsu akhirnya dapat membuat mereka yakin kalau uang yang Karamatsu tabung tidak sebanding dengan kemenangannya di pachinko. Yah, tiap minggu paling dikasih uang berapa dari ibu. Adik bungsu yang makan dalam diam hanya memasang wajah polos.
"Kau yang pilihkan modelnya, ya, Todomatsu?" Osomatsu tertawa kecil. "Aku tak begitu mengerti fashion, tapi bajunya menurutku lumayan."
"Ah, tidak, kok. Karamatsu-niisan menunjuk dan kebetulan aku juga suka. Memang bagus, kok. Makanya, kami beli," jelas Todomatsu, yang tak berapa lama tersadar akan subjek terakhir yang ia ucap. Bagaimanapun dia, rasanya tidak enak mengaku-aku seperti itu. Ia melirik kakak birunya dan sang kakak hanya tersenyum lembut.
Eh? Todomatsu belum pernah melihat senyuman itu.
"Hoh." Osomatsu tertawa lebih keras. "Aneh, ya. Selera kalian bisa sama juga."
"Namanya juga saudara." Karamatsu anehnya melirik sinis.
"Saudara?" Si merah seolah mencebik. "Kita memang kembar enam, tapi kita ini benar-benar berbeda satu sama lain, loh. Bukankah sudah terlihat jelas?"
Osomatsu mungkin tak ada maksud lain mengatakan itu, namun dada Karamatsu seperti ditusuk jarum. Kita berbeda. Ia menangkap lain, dan itu mengiang di telinganya.
"Kalau sudah selesai segera bereskan. Jangan mengobrol." Suara sang ibu menyadarkannya kembali ke dunia nyata. Mereka bangkit dan bergegas kembali ke kamar, kecuali Choromatsu yang membantu ibunya membereskan meja makan dan mencuci piring di dapur.
Futon digelar, lampu dimatikan. Karamatsu masih memandang langit-langit kamar. Gundah rasanya. Choromatsu yang baru masuk dan hendak berganti piyama dapat melihat kakak keduanya itu.
"Kak, belum tidur?" tanya Choromatsu sambil memasang wajah 'tumben'.
"Belum." Karamatsu menjawab seadanya. Choromatsu pun berbaring di posisinya dan mengucap, "Selamat malam."
"Hm." Cuma itu jawaban kakaknya. Choromatsu tak mau mengusik pikiran kakaknya itu, jadi ia membiarkannya saja.
Malam ini, Karamatsu dihantui pikiran-pikiran buruknya yang acak.
Karamatsu terbangun dalam keadaan kamar kosong melompong. Sinar matahari dari jendela menyilaukan matanya. Badannya berkeringat, ia merasa gerah.
"Kau sudah bangun, Kusomatsu." Siapa lagi kalau bukan Ichimatsu. "Cepat bangun. Aku mau lipat futon-nya."
Karamatsu mendudukkan diri dan mengucek-ucek mata. Ichimatsu kesal karena kemudian Karamatsu justru melamun.
"Oi." Ia memberatkan suaranya.
"Oh, maaf." Karamatsu berdiri tidak tegak, lalu melihat adiknya. "Mau kubantu?" tawarnya secara baik ala Karamatsu.
"Tak usah!" Ichimatsu hampir membentak. Ia bersikeras melipat futon itu seorang diri dengan kesusahan. Karamatsu sendiri merasa tak enak dalam hati, lalu memutuskan untuk ke kamar mandi.
Matanya melebar ketika ia lihat tak ada makanan sama sekali di meja makan. Ia melihat jam. Pukul dua siang. Semalam dia melamun bergadang sampai jam berapa?
"Ichimatsu, yang lain ke mana?" tanya sang kakak ketika melihat Ichimatsu hendak ke beranda.
"Pergi. Biasa, lah," jawab adiknya itu. "Kau tidak keluar, 'kan? Jaga rumah sebentar. Aku mau beli makanan kucing."
"Oke," jawab Karamatsu singkat. Ichimatsu malas ambil pusing tingkah kakaknya yang menurutnya lagi normal itu. Ia segera mengambil sandal, mengenakannya, dan keluar dari rumah.
Tak berapa lama setelah Ichimatsu pergi, pintu rumah bergeser. Karamatsu melihat ibunya berjalan melewati dapur.
"Selamat datang, Bu."
"Oh, Karamatsu. Baru bangun?" Sang ibu berhenti dan menoleh.
"Iya."
Ibunya mendengus. "Kamu itu, ya. Sudah tahu pengangguran, tapi jangan keterlaluan, dong," ucap ibunya prihatin.
Bilang begitu pada yang lain juga, dong! Karamatsu ingin berkata seperti itu, tapi ia tak mampu. Ia tak sejujur Osomatsu yang bisa mengeluarkan segala keluhannya selama sehari, lalu menganggapnya angin lalu. Jadi, ia hanya diam, seolah menyesal dan mengiyakan perkataan ibunya.
"Aku pulang!" ucap Osomatsu sambil menggeser pintu, lalu melepas sepatu dan menuju ruang tengah. "Oi, Karamatsu. Baru bangun?"
Orang yang dipanggil cuma diam menunduk, membuat sang kakak heran. Kalau terlalu sibuk becermin, sih, yang ada Osomatsu paling membatin, oh. Ya, udah.
"Kar, pinjam uang," celetuk Osomatsu. Karena merasa didekati, Karamatsu refleks menaikkan wajah.
"Hah?"
Harus Osomatsu akui, wajah Karamatsu terlewat seram kali ini.
"Pinjam uang," ulang kakaknya mencoba cuek.
"Habis," jawab Karamatsu jutek.
"Ya, iya, lah, habis. Orang kau pakai buat belanja baju mahal." Ucapan Osomatsu terdengar ibunya yang sedang berurusan dengan dapur.
"Karamatsu, kalau dikasih uang itu jangan dihambur-hamburkan. Kita ini bukannya keluarga kaya, Nak," nasihat ibunya dari dapur, bergema.
Karamatsu menukikkan kedua alis. "Seharusnya yang kau bilang begitu anak tukang judimu ini, Bu!" Karamatsu bangkit dari duduknya, kemudian pergi membanting pintu. Osomatsu dan sang ibu yang mampir ke ruang tengah termangu.
"Bu, cermin Karamatsu Ibu buang?" tanya Osomatsu tanpa melihat ibunya.
"Lihat saja tidak," balas ibunya, masih bingung.
"Bu," panggil Osomatsu lagi.
"Ya?"
"Nggak ada rencana mau periksakan Karamatsu?"
Karamatsu meraih jaket kulitnya sebelum keluar dari rumah. Kini, ia berdiri di samping jembatan favoritnya, memandang air yang jernih di hari yang tak terlalu terik. Karamatsu merenungkan dirinya. Tadi dia kenapa? Ia tahu sekali-sekali ia masih bisa marah, tetapi sepertinya ia tadi sangat emosi. Ia yang tanpa sadar memutuskan untuk berubah, namun ia sendiri tidak merasa nyaman dengan keadaan ini.
Karamatsu mendongak, menghela napas. Ia memandangi sekitar, mencoba mencari gadis Karamatsu sebagai incaran di sekitar. Ada tiga gadis cantik nan imut sedang bercengkerama di seberang. Karamatsu—
Aduh, mood Karamatsu hilang entah ke mana, atau memang sudah hilang sedari dulu?
"Karamatsu-niisan?"
Pemuda berjaket kulit itu menoleh, melihat Todomatsu dengan hoodie merah muda biasanya.
"Oh, hello, Todomatsu." Karamatsu mencoba sok keren senada berat khasnya.
"Kak," panggil Todomatsu serius.
"Ya?" Suara Karamatsu menjadi ringan.
"Kau lupa memakai kacamata hitammu."
Karamatsu terpaku. Todomatsu mendatanginya dan duduk di sebelah pemuda biru itu. Karamatsu memandang adiknya, penasaran apa yang ingin—apa niat yang sedang dikumpulkan adiknya itu di sini.
"Karamatsu-niisan." Todomatsu tak bosan memanggil kakaknya itu. Kali ini, ia melirik ke arahnya.
"Iya, Todomatsu sayang?" Walau sudah berkata begitu, Karamatsu tak bisa menyembunyikan ada keringat dingin yang mengalir dari dahinya. Todomatsu memandang risih, namun sesudahnya menghela napas.
"Kak, kau itu sebenarnya begini memang dari dirimu sendiri atau bagaimana, sih?" tanya Todomatsu, menatap sang anak kedua. Mata Karamatsu bertemu dengannya, dengan wajah yang polos tapi alis tebal yang kebiasaan menukik itu seolah menampakkan keheranan.
"Begini?" Karamatsu berlagak tak paham.
"Perilaku norak dan menyakitkanmu, barang-barangmu, semuanya." Pemuda pink itu blak-blakan mengatakannya. Karamatsu memandang air sungai sejenak.
"Iya, itu memang diriku," katanya mengiyakan.
"Lalu, kenapa sekarang kau tampak seperti ragu-ragu?"
Karamatsu menatap sang adik lagi. "Bukan ragu-ragu." Ia bisa menjawab. "Kakakmu ini hanya kehilangan mood-nya."
"Karena?"
Karena tak ada yang memedulikanku—
Karamatsu kembali menunduk. "Kakak tidak tahu." Namun, ia seperti disadarkan sesuatu. "Dik, kakakmu ini, kan, juga manusia. Apa salahnya berperilaku seperti manusia pada umumnya?"
Todomatsu belum melepaskan pandangannya, bahkan sorot matanya sekarang menampakkan ia tak yakin.
"Ada batas antara itu, Kak."
"Eh?"
Tangan Todomatsu yang sebelumnya melipat di atas pinggiran jembatan, kini bersiap di samping badan. Ia menghadap kakaknya. "Kak, kau itu orangnya tidak pernah marah."
"Pernah, kok?" Pria yang ditanya malah ragu. "Kakak marah kalau Osomatsu ambil uang Kakak nggak bilang-bilang."
Todomatsu hampir mengembus napas lega. "Ya, tapi di mataku kau tidak pernah marah." Ia memberi jeda. "Kuberi tahu saja, ya, Kak. Orang yang tidak pernah marah itu sekali marah katanya mengerikan."
Karamatsu tidak bisa menahan untuk tidak memasang senyum. "Tapi, kan, kakakmu ini pernah marah."
"Ya, aku cuma bilang saja." Todomatsu berbalik. "Aku mau pulang. Kakak masih mau di sini? Belum dapat, 'kan?"
Karamatsu melirik area tiga gadis yang sudah berisikan udara kosong di seberang.
"Kakak juga mau pulang. Bareng saja."
"Oh, ya, sudah."
Kali ini, Karamatsu tidak memungkiri bahwa hatinya seperti mencair pelan-pelan, merasa senang bahwa setidaknya masih ada yang peduli dengan dirinya. Mungkin karena Todomatsu juga tidak komplain kakaknya hari ini memakai jaket kulit kesayangannya, atau karena memang hari ini cuacanya terlalu berawan?
Saya kembaliiiiiii! Makasih buat kalian yang udah follow cerita ini TAT Kalau ada kekurangan bilang aja, ya. Saya cuma mau kasih tahu, karena cerita ini diikutkan di event maso sebulan, jadi saya bakalan (berusaha) sering update :") Jadi maaf kalau ceritanya makin ngawur karena saya sendiri bingung ini mau dibawa ke mana /cry/
Sekali lagi, arigachuuuuuu xxxxx
NEXT ▶▶
