REMAKE NOVEL

CHANBAEK VERSION

STRANGERS

By Barbara Elsborg

BYUNNERATE

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rated: M

Genderswitch! Typos!

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

WARNING:

NC SCENES

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS

SILAHKAN DITUTUP BAGI YANG BERPUASA

DOSA DITANGGUNG YANG BACA MUEHEHE

.

.

Bab 8

.

.

Ketika mereka terjaga keesokan harinya, tak satupun dari keduanya mendapat cukup banyak tidur. Chanyeol pikir itu lebih seperti tergelincir ke dalam periode kelelahan tak sadar. Dia merasa lega menyadari bahwa mereka kembali ke tempat tidur dan tidak di lantai, tapi dia merasa sakit. Lengannya Melilit Baekhyun, kakinya di antara kaki Baekhyun, punggungnya menekan ke dada Chanyeol.

"Oh Tuhan," keluh Chanyeol.

"Apakah kita berdua masih hidup? Kupikir kita akan membunuh satu sama lain."

"Ini satu-satunya cara aku ingin mati. Kau—" Chanyeol berhenti dan kemudian berbisik di telinga Baekhyun,

"Kau tidak berpikir tentang bunuh diri lagi, kan?"

"Kapasitasku-untuk berpikir-telah-kau hancurkan."

"Gadis lucu."

"Aku tidak bisa merasakan kakiku." Baekhyun mengeluarkan erangan panjang.

Jari Chanyeol menelusuri sepanjang bagian atas paha Baekhyun. "Jangan khawatir. Masih utuh dan kakimu sangat indah."

Saat tangannya berkelana lebih rendah, bel pintu berbunyi membuat mereka melompat. Baekhyun memBenturkan kepalanya ke dagu Chanyeol.

"Abaikan saja." Chanyeol mengedipkan air matanya.

Tapi siapa pun yang ada di luar tidak mau menyerah.

"Mungkin Luhan. Aku akan pergi dan membungkamnya."

Baekhyun berguling, mengayunkan kakinya dari tempat tidur dan telanjang tersandung keluar dari ruangan.

Chanyeol memandangi pantat Baekhyun dan mengikutinya.

"Apa?" Bentaknya ke interkom.

"Baekhyun?"

Suara laki-laki. Seluruh tubuhnya menegang dan Chanyeol menduga Dickhead (si tolol) berdiri di lantai bawah.

"Aku ingin bicara denganmu. Bolehkah aku naik?"

Chanyeol mengepalkan tinjunya.

"Tidak," kata Baekhyun.

"Kumohon. Maafkan aku. Aku harus menjelaskan. Aku merasa tidak enak. " Chanyeol menarik Baekhyun ke samping.

"Biarkan dia masuk," katanya. "Bukankah kau ingin mendengar apa yang akan dia katakan?" Baekhyun menatapnya, tapi tidak meraih untuk menghentikan Chanyeol ketika jarinya menyentuh tombol pelepas pintu. Chanyeol berjalan ke kamar mandi dan kemudian memunculkan kepalanya keluar.

"Lebih baik pakai sesuatu. Tapi, jangan terlalu banyak. Beri dia sedikit petunjuk apa yang sudah ia lewatkan." Chanyeol bersandar di wastafel, jantungnya berdetak keras. Bagaimana jika si tolol lebih besar daripada dia? Bagaimana jika Baekhyun ingin dia kembali?

Ketika Baekhyun membuka pintu mengenakan t-shirt panjang, Minho menjulurkan seikat besar bunga setinggi pinggang. Mungkin dia berharap bunga itu akan memberikan sedikit perlindungan.

"Baekhyun, aku minta maaf," kata Minho.

"Baik."

Baekhyun tidak bisa percaya dia berdiri disana berbicara dengan Minho, bukannya berlari ke dapur untuk mengambil pisau, tidak meluncurkan kakinya ke pangkal pahanya. Hmm, dia seharusnya memakai sepatu.

"Bolehkah aku masuk?"

Baekhyun mundur dan Minho masuk, menutup pintu di belakangnya.

"Ini untukmu."

Karena Baekhyun tidak akan menerima bunganya, Minho Meletakkannya di lantai. Baekhyun bersandar di dinding dan menjaga kedua tangannya tetap di belakang punggungnya. Dia tidak ingin Minho memperhatikan dia gemetar.

"Jadi semuanya adalah taruhan." kata Baekhyun.

"Ya," kata Minho. "Aku tidak bisa mengungkapkan padamu betapa aku sangat menyesal. Sejujurnya, aku tak pernah berpikir kau akan menerimanya. Ini bergulir seperti bola salju."

Baekhyun mengertakkan giginya.

"Kau tampak...m-mengerikan," Minho tergagap.

Baekhyun menduga bibirnya Bengkak, wajahnya seperti tergores-jerami dan rambutnya berantakan. Dicintai, Baekhyun berpikir dan tersenyum.

Toilet disiram dan mata Minho pindah ke pintu kamar mandi dan kemudian kembali pada Baekhyun. Saat ia membuka mulutnya untuk bicara, Chanyeol muncul dengan bagian bawah wajahnya tertutup busa cukur, pisau di tangannya, handuk tersandang rendah sekitar pinggulnya. Dia tampak seperti telah berjalan langsung keluar dari sebuah iklan TV. Minho Melongo dan matanya terbuka lebar. Dia tahu Chanyeol telah mengejutkan Minho dengan cara yang tak akan pernah ia kira.

"Chanyeol, ini adalah Minho."

"Oh, ya. Hai, Dick." Chanyeol mempertegas namanya.

Nadi Baekhyun Melonjak.

"Namaku Minho."

"Dick lebih cocok untukmu." kata Chanyeol.

Mata Minho berpindah antara Baekhyun dan Chanyeol.

"Baekhyun sedang sakit," kata Chanyeol. "Dia baru saja pulih dari penyakit Dick-itis yang parah." Butuh beberapa saat agar Minho mengerti. Lalu ia Melotot. Baekhyun mendengarkannya dengan gembira.

"Aku ingin memastikan dia baik-baik saja. Aku bisa Melihat ternyata aku tak perlu repot-repot."

"Ya, kau seharusnya begitu, Dick. Kau memakai trik yang sangat buruk," Bentak Chanyeol.

"Kau tidak butuh waktu lama untuk pulih," kata Minho pada Baekhyun.

"Hei, terima kasih untuk pisau cukur dan gel cukurnya. Kau tidak keberatan aku menggunakannya, kan, Dick? Aku juga makan daging sapi Aztec dan es krim lezat itu. Terima kasih sebesar-besarnya untuk membeli banyak kondom. Menghemat waktu kita untuk berbelanja yang membuang waktu." Wajah Minho berubah menggelegak. Baekhyun tidak berusaha menyembunyikan rasa gelinya.

"Sepertinya itu bukan satu-satunya hal yang kau gunakan." Minho menatap Baekhyun.

Chanyeol meletakkan tangannya di bahunya.

"Kau orang yang menyakitinya. Enyahlah." Suaranya tenang tapi mematikan.

"Dia perempuan gampangan."

Chanyeol begitu cepat, Baekhyun terhuyung saat Chanyeol menjauh darinya. Kedua pria itu berdiri berhadapan wajah dengan wajah, begitu dekat sehingga gumpalan busa cukur berpindah ke hidung Minho.

"Kau tahu, kupikir aku seperti sampah, tapi kau menumpahkan semua kotoranmu pada dirimu sendiri.

Kau meminta Baekhyun untuk menikah denganmu untuk taruhan? Kau sama sekali terlepas dari tangga evolusi. Kenapa kau di sini? Ingin bersetubuh, kan? Jangan repot-repot menjawab karena kita tahu keBenarannya dan jangan pernah menyebut namanya lagi, Dick. Kau bahkan tidak layak untuk menghirup udara yang sama dengan Baekhyunku."

Chanyeol mendorong Minho keluar, mengambil bunga, melemparkannya dan membanting pintu. Mereka mendengar dia menyumpah dan kemudian melangkah turun ke koridor.

Baekhyun-ku? Hati Baekhyun berdengung dengan kegembiraan.

"Kau membuatnya ketakutan," kata Baekhyun dan cemberut. "Aku sangat berharap kami bisa kembali bersama, tapi sekarang kupikir dia tak akan mau Melihatku lagi." Chanyeol tertawa.

"Maka kau harus membiasakannya denganku." Baekhyun tersenyum dan memeluk pinggang Chanyeol. "Terima kasih, Chanyeol." Chanyeol tak tahu betapa berartinya itu bagi Baekhyun, bahwa Chanyeol membela dirinya seperti itu. Baekhyun harus selalu berdiri untuk dirinya sendiri tanpa kakak, keluarga, dan teman.

"Untuk apa?"

"Memainkan peran sebagai pahlawanku."

"Aku tidak main-main." Chanyeol menaruh ekspresi terluka di wajahnya. "Aku pahlawanmu." Chanyeol menarik lepas t-shirt melalui kepala Baekhyun, Melemparkannya ke satu sisi dan membimbingnya menuju kamar mandi. "Kita memiliki jadwal yang padat. Pertama, shower kemudian berendam, lalu shower lagi, lalu tempat tidur. Mungkin jeda untuk makan."

Baekhyun terkekeh.

"Menurutmu dia tidak mengenaliku, kan?"

"Aku meragukannya."

Baekhyun melepas handuk Chanyeol, membiarkannya jatuh ke lantai dan tersenyum saat kejantanannya berkedut dalam antisipasi. Chanyeol memiliki tubuh yang luar biasa, otot dada yang kekar dan otot perut seperti terpahat.

Saat Baekhyun menatapnya, puting berwarna tembaga milik Chanyeol mengeras dan Baekhyun pun tertawa.

"Kau tahu, menatap tubuhku dan tertawa tidaklah berpengaruh baik pada egoku."

"Egomu cukup besar. Bukannya kau punya album yang disebut 'The Ego has Landed'?"

"Tidak, itu punya Minho—" Ia berhenti ketika melihat wajah Baekhyun. "Ha ha. Sangat lucu. Bukan."

Baekhyun mengusap tangannya di dagu Chanyeol dan mengelap busanya, mengolesinya ke bawah dada dan ke batang kejantanannya. Ia langsung keras. Baekhyun menyukai bagaimana tubuh Chanyeol menanggapi sentuhannya. Baekhyun mendorongnya ke kamar mandi dan meraih keran sebelum dia berlutut.

Air mengalir di atas mereka saat Baekhyun mencuci busa dari kejantanannya. Ketika mulutnya menutup di sekelilingnya, Chanyeol bereaksi seperti tersambar petir. Dia membeku dengan punggung menempel di dinding ubin. Baekhyun menjilat setetes basah dari ujungnya dan menggerakkan lidahnya turun di sepanjang kemaluannya. Ketika Baekhyun memasukkan milik Chanyeol secara lambat dan jauh ke dalam mulutnya, napas Chanyeol mendesis di antara bibirnya. Ketika shower menuangkan air di atas kepalanya, Baekhyun menyedot berirama. Jari-jari Chanyeol tenggelam dalam rambut Baekhyun dan dia melepas erangan parau. Ketika Baekhyun mendongak dan melihat Chanyeol menatapnya, wajah Chanyeol berubah.

"Sial, Baekhyun, aku minta maaf. Maafkan aku," Chanyeol megap-megap dan menyembur di dalam mulut Baekhyun.

Saat Chanyeol bersandar ke dinding, ia menarik Baekhyun berdiri, dan menyeka bibirnya dengan jari-jarinya. "Aku seharusnya memperingatkanmu saat aku akan meledak."

"Aku sudah tahu kau berbahaya."

"Aku biasanya memiliki kontrol lebih daripada sekarang. Ini semua salahmu."

"Kau ingin aku menunjukkan trik yang aku tahu?"

Chanyeol menjilat bibir Baekhyun. "Apa aku akan menyukainya?"

"Ya. Percaya padaku?"

Chanyeol mengangguk.

Baekhyun mematikan keran shower dan menarik Chanyeol kembali ke kamar tidur tanpa repot-repot mengeringkan badan dengan handuk. Chanyeol masih hiper dan Baekhyun tak tahu bagaimana menghentikannya. Well, mungkin ini akan berhasil. Baekhyun menumpuk bantal di kepala tempat tidur.

"Buatlah dirimu nyaman. Aku harus mengambil sesuatu."

"Secangkir teh dan roti panggang?" Tanya Chanyeol.

Baekhyun memutar matanya tapi kembali dengan sarapan, ditambah empat potong material panjang dan beberapa benda lainnya. Baekhyun melihat Chanyeol memandangi benda-benda itu, tapi dia tidak mengatakan apapun. Mereka saling menyuapi roti panggang, Chanyeol menggodanya dengan hampir membiarkan Baekhyun menggigit kemudian menariknya menjauh.

"Kau tampaknya suka menyiksaku," kata Baekhyun dengan geraman.

"Ya." Chanyeol mengambil kembali potongan terakhir roti dari bibir Baekhyun dan melemparnya ke dalam mulutnya.

Baekhyun menarik sehelai kain di antara jari-jarinya. Chanyeol berhenti di pertengahan mengunyah, kemudian bergegas untuk mengosongkan mulutnya.

"Tidak." Chanyeol menggeleng.

"Aku berjanji kau akan menikmatinya."

Chanyeol merosot. "Oh Tuhan. Bisakah kita bermain telepon seks saja?"

"Ini lebih baik. Aku berjanji untuk berhenti jika kau memintanya." Chanyeol mendesah dan memegang pergelangan tangannya ke besi kepala tempat tidur. "Tidak ada gambar." Baekhyun tersendat sambil mengikat pergelangan tangan Chanyeol. "Aku tak punya kamera."

"Ponsel?" Tanya Chanyeol.

"Bukan milikku. Itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Chanyeol, jika kau tidak—"

"Maaf, maaf." Dia menarik Baekhyun mendekat dengan tangannya yang bebas dan menyapu bibirnya terhadap bibir Baekhyun.

Chanyeol pernah terluka. Baekhyun melihat itu di wajahnya. Chanyeol tidak cukup bisa melepaskannya.

"Kau bisa percaya padaku, Chanyeol. Aku berjanji. Aku tak akan pernah mengecewakanmu. Tak ada kiss and tell (menceritakan rahasia seseorang). Hanya ciuman dan ciuman."

Chanyeol tersenyum dan Baekhyun mengikat pergelangan tangannya yang lain. Dia menggunakan potongan kain yang lenih panjang untuk mengikat pergelangan kakinya dengan kaki yang terentang lebar.

Chanyeol mengerutkan kening. "Apa kau sudah membaca bukunya Stephen King?"

"Buku yang menceritakan tentang seorang penulis yang diikat oleh penggemarnya? Atau Gerard—Gerald's Game? Kalo itu sebaliknya. Dia yang mengikat si wanita."

"Aku tidak yakin aku mampu melumat jari-jariku untuk melonggarkannya." Baekhyun terkikik. "Si wanita tidak melakukannya. Dia di borgol. Satu sentakan dan kau bisa membebaskan diri."

"Merusak fantasiku, kenapa kau tidak melakukannya?"

Baekhyun menarik tirai di sisi tempat tidur menghadap Jendela. "Untuk berjaga-jaga. Oke?"

"Apa yang akan kau lakukan?" Kata Chanyeol tanpa pikir.

"Menempelkan pin di setiap inci tubuhmu dan berdiri diatas tubuhmu memakai stiletto sampai kau melolong minta ampun."

Chanyeol menelan ludah. "Alternatif lain?"

"Melakukan segala sesuatu yang kubisa untuk membuatmu klimaks tapi tidak membiarkan hal itu terjadi selama satu jam." Erangan gemetar Chanyeol menyalakan api di perut Baekhyun.

"Satu jam?" Baekhyun duduk di antara kakinya dan membuai bolanya, menggunakan jempol di antara bolanya yang lunak dalam belaian lembut. Kemaluannya memBengkak seperti kecambah yang mekar.

"Bagaimana kalau sepuluh menit?" Tanya Chanyeol.

Tangan Baekhyun tetap di sekitar pangkal kemaluannya dan mengencangkan jari-jarinya, mendorong ke bawah pada bolanya pada waktu yang sama. Baekhyun mendengar napas Chanyeol semakin cepat dan Baekhyun menatap wajahnya. Chanyeol menatap langsung ke arahnya. Baekhyun menggunakan tangan yang lain untuk membelai kejantanannya tegang, jari-jari mengikuti ke atas dan ke bawah, mengikuti garis pembuluh darah dibawahnya, menyapu di bawah kepalanya yang bulat dan ke dalam lubang halus di bawahnya.

"Oh Tuhan," gumam Chanyeol dan matanya tertutup.

Matanya terbuka lagi ketika ia merasakan adanya minyak. Baekhyun mengucurkannya di atas bolanya, membiarkannya mengalir di kepala kemaluannya dan menetes ke bawah tangannya yang melilit di pangkal kemaluan dan dari sana lalu ke bolanya. Baekhyun melepasnya dan, dengan menggunakan satu jari, menelusuri jalur berminyak dari puncaknya yang berkilau, turun kebatangnya, melalui garis tengah gelap bolanya dan ke atas daging segitiga luarnya. Ketika Baekhyun mengelusnya di sana Baekhyun mendengar perubahan napas Chanyeol, berubah lebih lambat dan lebih dalam ketika ia berusaha untuk mengendalikan dirinya. Nanti akan lebih menyenangkan lagi.

Tangan Baekhyun kembali ke pangkal kejantanannya sambil mengamati wajah Chanyeol, meremas cukup keras hingga nyaris menyakitkan. Chanyeol sedikit terkejut dan matanya dibuka untuk mengawasi Baekhyun. Baekhyun Meluncurkan pegangannya sedikit lebih tinggi ke batangnya dan meremas lagi, memutarnya pada waktu yang bersamaan.

Dia mengulangi hal yang sama berulang-ulang, bergerak naik perlahan-lahan yang dia bisa sampai mencapai kepala kemaluannya dan setetes cairan mengalir dari celah kepalanya.

"Oh sial," Chanyeol terengah.

"Perhatikan, Chanyeol."

Tetesan pre-cum bertambah sampai terlalu berat untuk tetap di tempat dan kemudian menggantung dari kemaluannya seperti es mencair. Baekhyun menunduk dan menjilatnya sebelum tetesan itu jatuh mengenai perutnya.

"Siaalll."

Tangan Baekhyun kembali ke dasar kemaluan Chanyeol, Baekhyun mulai lagi. memeras, naik, memeras, naik. Setiap gerakan lambat dan diukur, sementara Chanyeol bergetar seperti anjing basah.

"Bagaimana...kalau tidak membiarkanku klimaks...selama enam menit," Chanyeol menelan ludah.

Baekhyun menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk memijat ujung kemaluannya dan kali ini setetes cairan yang ia perah jadi lebih besar lagi. Tangannya berhenti di dasar kemaluannya dan memegang dengan erat saat butiran pre-cum bertambah besar.

"Ya Tuhan." Chanyeol menyentak terhadap ikatan ditangannya.

Baekhyun terus menatapnya sambil menyapukan lidahnya di atas kepala kemaluannya, meraup kenikmatan yang asin-manis sebelum menyeret permukaan lidahnya bolak-balik di atas kepala sensitifnya. Baekhyun tahu dia membuat Chanyeol bergairah, tapi tubuhnya menjepit dan santai saat cairannya sendiri melapisi bibir kewanitaannya.

Baekhyun tidak yakin berapa kali ia memerah pre-cum dari Chanyeol tapi erangan putus asa Chanyeol memperingatkannya untuk menarik diri. Bolanya sudah tertarik ketat dipangkalnya dan kejantanannya tampak seperti marah, puncaknya berwarna gelap-merah penuh dengan darah. Baekhyun tidak menyentuhnya tapi menyelimuti dengan kain dingin di pangkal pahanya. Chanyeol menghela napas panjang.

"Itu tadi setidaknya lima puluh menit. Kan?" Tanya Chanyeol.

"Tiga menit."

"Tidaaaaaak," ratapnya.

Baekhyun tertawa. "Baiklah. Sepuluh menit."

"Kau seperti penyihir."

Baekhyun mengambil kainnya dan Melempar ke sisinya.

"Siap untuk lebih banyak lagi?"

Chanyeol menemukan dirinya mengangguk. Rasa sakit di bolanya adalah intens tapi dia bisa bertahan lebih lama dari sepuluh menit. Bisakah dia? Jari Baekhyun menyentuh lubang anusnya dan Chanyeol tersentak hingga hampir saja tubuhnya jatuh dari tempat tidur.

"Ya Tuhan, Baekhyun. Beri sedikit peringatan?"

"Di mana kesenangannya?"

Tangan Baekhyun mengepal di sekitar pangkal kemaluannya dan Chanyeol tahu penyiksaan itu belum berakhir. Baekhyun menunduk dan mengisap ujung batangnya, menariknya dengan sentakan pendek, berirama yang membuat tekanan darahnya meroket. Pada saat yang sama, Baekhyun mengitari cincin otot anus yang mengerut dengan jarinya berminyak.

OhGodohGodohGodohGod.

Chanyeol tidak yakin apa yang ia inginkan. Well, dia yakin. Dia sudah tidak terlalu ingin berhubungan seks dengan seorang pria lagi, tapi suatu sensasi di anusnya sementara ia bermasturbasi layak diulangi. Hell, dia harus mengulanginya.

Bagaimana bisa Baekhyun melakukan begitu banyak hal dalam waktu yang sama? Sementara ujung jarinya menekan bertubi-tubi terhadap lubang anusnya, jari-jarinya yang lain telah menemukan dan menggosok titik tekanan di tengah antara bola dan anusnya—sesuatu yang membuatnya benar-benar gila. Dan mulutnya masih melakukan menyihir pada kemaluannya. Kejantanan Chanyeol sudah ada di tangan dan mulutnya. Dia bisa membuat Chanyeol klimaks, atau menghentikannya saat akan klimaks. Dia memiliki kekuasaan untuk memberinya orgasme yang membuat kepalanya berputar dan kekuatan untuk menyeretnya menjauh dari genggamannya dan mengubah sifatnya ke sesuatu yang lain sama sekali. Apa Baekhyun tahu?

Jarinya menggoda dan menekan sepanjang tubuh Chanyeol. Tentu saja Baekhyun tahu.

Tangan kecilnya Melawan kebutuhan putus asa tubuh Chanyeol dan dia menang. Chanyeol tertawa tertahan. Sebagai balasannya, Baekhyun mengubah caranya mengisap, memutar mulutnya saat ia turun ke bawah dan menusukkan jarinya ke dalam anus Chanyeol, menjangkau prostatnya. Chanyeol tak berdaya. Chanyeol tidak bisa bicara, hampir tidak bisa berpikir, hanya bisa merasakan.

Baekhyun memijat turun dari ujungnya, dari waktu ke waktu dan setiap kali membuat tubuh Chanyeol tersiksa dengan getaran hampa. Chanyeol memaksa matanya terbuka untuk mengawasinya, elihat konsentrasi intens di wajah Baekhyun, pre-cum berkilau di bibirnya, dan berpikir itu sudah cukup untuk membuat Chanyeol keluar. Sekali lagi, Baekhyun menariknya kembali, menyeretnya dari tepian hanya beberapa saat ketika Chanyeol akan terlempar kedalam kehampaan. Tekanan di bagian kecil otot di belakang bolanya cukup kuat untuk membuat matanya sakit.

Chanyeol bersumpah miliknya sekarang lebih keras daripada yang pernah ia alami, bolanya lebih ketat daripada yang pernah ia alami. Ia belum pernah mengalami berada dalam kondisi sangat dekat dengan klimaks tapi tidak klimaks. Tidak pernah seputus asa ini menginginkan untuk klimaks. Otot-otot pahanya seakan menyala, titik-titik api menyerang tulang belakangnya, ia basah dengan keringat dan ia bisa merasakan spermanya mulai mendidih. Orgasme membayangi, mengintai, mengancam. Baekhyun menekuk jarinya, menemukan prostatnya lagi dan Chanyeol merintih. Dia membuka mulutnya untuk bicara dan tidak ada yang keluar. Baekhyun membelai dirinya dari luar dan dalam, menjentikkan lidahnya dengan kecepatan kilat di atas ujung kejantanannya, Melonggarkan pegangan di pangkalnya dan otak Chanyeol pun meledak.

Saat semburan pertama menyemprot dari bolanya, ia merasa Baekhyun menekan pada titik di belakang bolanya, menghentikan pancaran air mani ditengah jalan. Sialansialansialan. Apa-apaan ini?

Chanyeol berpikir seluruh tubuhnya akan klimaks, tapi hal itu tidak terjadi. Serangan kejang yang panjang, memilukan menguasainya dan Chanyeol berteriak. Tidak ada denyutan dari air mani, tidak ada lelehan dari sperma membanjiri mulut Baekhyun, menenggelamkannya, hanya riak sensasi intens yang mengguncang Chanyeol dari ujung kepala sampai kaki, seolah-olah ia telah ditangkap ke rahang ikan paus pembunuh—dalam cara yang menyenangkan. Dia tidak bisa bicara, tidak bisa bernapas, tidak bisa berhenti melonjakkan pinggulnya dan melemparkan Baekhyun.

Baekhyun mendorong jari-jarinya masuk kembali ke dalam dirinya dan dia keluar lagi.

Chanyeol tidak bisa menahannya, tapi ia tidak bisa mencegahnya berhenti. Punggungnya Melengkung saat kontraksi lain mencengkeram pangkal pahanya. Kemudian kakinya bebas, tangannya juga bebas dan ia berbaring bergetar dalam pelukan Baekhyun.

"PINku adalah 1234. Kode alarm pencuri 4321. Kunci bagasiku 9999. Itu aku yang membakar semua buku pelajaran Jerman, aku yang menaruh pewarna merah di kolam renang." Chanyeol menghela napas.

Baekhyun membelai wajahnya. "Oke?"

"Oke? Ya Tuhan. Itu luar biasa. Aku tidak akan pernah bisa berjalan lagi, tapi itu tidak masalah asalkan kau jadi perawatku. Aku tidak percaya si tolol itu membiarkanmu pergi dari jangkauannya."

"Aku belum pernah melakukan semua itu sekaligus sebelumnya."

Chanyeol berusaha menengokkan kepalanya untuk melihat Baekhyun. Apa Baekhyun berbohong? Itu adalah apa yang wanita katakan padanya sepanjang waktu—mereka tidak pernah orgasme begitu kuat, mereka belum pernah tidur dengan siapa pun yang menyerupai dia, bahwa dia adalah yang terbaik, terbesar, terpanas.

"Ketika aku memulai kerja di telepon seks aku menghabiskan beberapa hari mencari situs yang menarik di Internet dan membuat catatan sehingga aku bisa terdengar asli."

"Apakah ada yang pernah berhasil sampai ke akhir pembicaraan bersamamu tanpa klimaks?" Baekhyun tertawa.

"Tidak. Kecuali mereka berpura-pura."

.

.

.

Bab 9

.

.

.

Kyungsoo menatap Luhan, kemudian Jongin lalu kembali ke meja ruang tamu. Dia sedang menunggu salah satu dari mereka untuk bicara dan melihat bagaimana percakapan ini berlangsung, dia pikir lebih mungkin dia akan mendapat respon dari meja tamu. Catatan bunuh diri Baekhyun terampang di depan mereka.

"Aku berharap aku tidak pernah menemukannya," kata Kyungsoo. "Aku berharap aku tidak pernah mengatakannya pada kalian." Bola kertas itu jatuh keluar dari tempat sampah pagi itu saat Kyungsoo mengangkat tutupnya untuk menjatuhkan sampah ke dalamnya. Dia mengambilnya, dan ketika ia melihat tulisan tangan itu dia terlalu usil untuk tidak membukanya. Ia berharap ia tidak melakukannya. Kyungsoo tahu kalau menceritakannya pada yang lain, dia akan membuat masalahnya lebih buruk. Baekhyun tidak ingin ada yang tahu tentang hal ini dan sekarang mereka semua tahu dan setiap kali mereka memandangnya, mereka akan berpikir tentang apa yang dia rencanakan untuk dilakukan.

"Mungkin itu bukan apa yang kita pikirkan," kata Jongin.

Luhan memutar matanya. Dia mengambil kertas di bagian ujungnya seolah-olah itu adalah sesuatu yang bisa menginfeksi, dan membacanya lagi.

Untuk Luhan, Kyungsoo dan Jongin,

Jika kalian membaca ini, kukira diantara kalian belum melihatku untuk sementara waktu dan berpikir bahwa kalian sebaiknya memeriksaku untuk melihat apakah aku baik-baik saja. Atau kalian sudah tahu bahwa aku tidak baik. Jika itu yang pertama, maka maaf, tapi aku tidak akan kembali. Jika itu yang terakhir, maka kalian tahu aku tidak akan kembali.

Jangan berpikir bahwa kalian telah mengecewakanku dengan cara apapun. Kalian tidak. Bahkan Minho. Ada sesuatu di lemari es untuknya. Pastikan ia mendapatkannya.

Tidak perlu menyalahkan siapa pun. Ini adalah keputusanku.

Aku sudah cukup dengan hidupku.

Terima kasih telah menjadi teman-temanku. Berbahagialah.

Semoga sukses

Baekhyun

PS: pengacaraku adalah Jung Daehyun. Hubungi dia.

"Bagaimana bisa itu bukan catatan bunuh diri, Jongin?" Tanya Luhan.

Dan membuka mulutnya dan kemudian menutupnya lagi.

"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Kyungsoo melirik Luhan, yang mengangkat bahu.

"Apa kita perlu melakukan sesuatu? Kita tahu dia tidak melakukannya." kata Jongin, saat Benturan keras terdengar dari lantai atas. "Maksudku, dia meremas catatannya dan membuangnya. Dia berubah pikiran. Dan dia pasti di apartemennya. Aku tak pernah mendengar dia membuat begitu banyak kebisingan."

"Tapi kedengarannya sangat final," kata Kyungsoo. "Dan itu tidak terdengar seperti karena Minho. Dia bilang dia sudah cukup dengan hidupnya. Itu sangat menyedihkan." Ada lagi bunyi keras dari lantai atas dan gemuruh tawa.

"Kupikir dia baik-baik saja," kata Luhan. "Teman barunya ini tampaknya telah menyemangati dia. Tadi pagi aku melihat Minho keluar dari sini dengan marah, jadi Baekhyun jelas sudah selesai dengannya."

"Itu tampaknya sangat cepat untuk langsung menjalin hubungan baru," kata Kyungsoo. "Kau pikir dia ingin sedikit berkabung lebih dulu."

"Untuk bajingan seperti Minho?" sembur Luhan.

"Haruskah kita melakukan sesuatu?" Tanya Kyungsoo ke Jongin.

"Kupikir kita tidak harus menceritakan padanya kita tahu tentang catatan itu. Jika dia ingin bicara dengan kita, dia akan Melakukannya." kata Jongin.

"Aku akan membuangnya." kata Luhan saat suara seorang pria tertawa bergema melalui langit-langit.

.

.

.

Chanyeol mencabut telepon dan memutuskan belnya.

"Jangan menjawab jika ada yang mengetuk pintu," katanya. "Aku ingin kau hanya untukku sendiri." Dia mengikuti Baekhyun kemana-mana, tidak pernah lebih dari sejangkauan tangan jauhnya dan biasanya, tidak sampai sejauh itu. Dia memegang tangannya atau menekan tubuhnya terhadap tubuh Baekhyun, sangat ingin untuk menyentuh Baekhyun di sampingnya. Dia tidak ingin salah satu dari mereka meninggalkan apartemen, dan begitu stres ketika Baekhyun bersikeras membuang sampah ke tempat sampah di bawah, dia merasa sesak napas saat Baekhyun kembali. Chanyeol tidak bisa berfungsi tanpa Baekhyun. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Dia tidak berpakaian dan membuat Baekhyun tetap telanjang juga. Tapi itu bukan hanya seks. Itu Baekhyun. Tanpa dia di sampingnya, Chanyeol merasa kehilangan.

Kadang-kadang, ia tidak mau makan dan kemudian ia tidak bisa berhenti makan. Mereka makan langsung dari freezer dan lemari, mengkonsumsi brokoli dan kacang panggang, udang dan pizza, kari hijau Thailand dan pasta isi keju.

"Tak lama lagi, aku cuma punya es batu saja," kata Baekhyun.

"Aku selalu bisa memakanmu." Chanyeol menjatuhkan diri ke sofa dan menarik Baekhyun.

"Dan yang mana yang akan kau makan duluan?"

"Jari kaki." Dia mengangkat kaki Baekhyun dan menggigitinya dengan pelan.

Baekhyun menggeliat saat Chanyeol menggelitik dirinya. "Bukan pantatku?"

"Aku akan menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir."

Dia memeluk Baekhyun dan menempelkan wajahnya ke lehernya. Tubuhnya gemetar. "Apa yang terjadi padaku?" Tapi Chanyeol tahu. Dia sedang mengalami sakaw. Detoksifikasi dirinya sendiri.

"Kau telah kembali dari suatu tempat," kata Baekhyun. "Kau seperti tanaman yang belum disiram dan kemudian datang hujan lebat. Kau hidup kembali."

"Itu menyakitkan."

Baekhyun memeluknya erat, menelusuri angka delapan di kulitnya.

Pikiran Chanyeol berdengung seakan sekelompok lebah masuk ke dalam satu telinganya dan meluncur mengitari kepalanya sebelum terbang keluar dari telinga yang lain. Dan kebisingan bertambah keras dan lebih keras sampai dia pikir dia akan gila.

"Pergilah belikan aku beberapa rokok dan bawakan aku sesuatu yang layak untuk diminum," dia megap-megap.

"Kupikir kau tak ingin aku pergi keluar."

"Well, aku ingin sekarang. Aku akan mengembalikan uangmu nanti."

"Aku tidak akan membelikanmu rokok atau minuman keras."

Chanyeol melotot padanya. "Kau perempuan menyebalkan." Tapi dia mencengkeram Baekhyun lebih erat.

"Kau tidak membutuhkan itu," kata Baekhyun.

"Ya, aku butuh," Bentak Chanyeol. "Aku ingin satu atau dua baris kokain juga, untuk menghiburku."

"Kau punya perempuan menyebalkan, apa lagi yang kau butuhkan?" Chanyeol melongo kemudian mulai tertawa dan sekali ia mulai, ia tidak bisa berhenti.

Chanyeol tertawa sampai dia menangis, terisak terengah-engah hebat yang memeras seluruh tubuhnya dan melalui semua itu, Baekhyun tak pernah meninggalkannya. Dia memeluk Chanyeol, membelainya dan menenangkan wajahnya dengan kain flanel dingin. Ketika Chanyeol terlalu lelah untuk bergerak, Baekhyun menelusuri kain di atas tubuhnya, di sepanjang masing-masing jari, di setiap inci kulitnya kecuali satu tempat yang Chanyeol ingin Baekhyun sentuh.

"Please, Baekhyun." pinta Chanyeol, tangannya beringsut ke arah kemaluannya.

Baekhyun mengangkat jari-jarinya menjauh. "Lihat berapa lama kau bisa bertahan." Bahkan menonton Baekhyun menyebabkan ereksinya bangkit seperti ular yang terpesona. Baekhyun melanjutkan belaian menggoda dan ia menemukan dirinya hanya memikirkan Baekhyun dan apa yang Baekhyun lakukan padanya. Pada akhirnya, Chanyeol begitu terangsang, ia klimaks tanpa Baekhyun menyentuhnya dan muncrat di perutnya. Sebuah mimpi basah di siang bolong.

Tapi Chanyeol suka menyentuh Baekhyun. Tidak bisa melepaskan tangannya dari Baekhyun dan Baekhyun tidak pernah menarik diri. Dia tidak bisa tidur, jadi dia terus membuat Baekhyun terjaga. Membangunkan Baekhyun untuk bercinta dengannya.

Dia menyeret Baekhyun menjauh saat sedang menggosok giginya untuk bercinta dengannya. Di tengah-tengah kegiatan memasak, ia menarik Baekhyun dan menidurinya dan Baekhyun tidak pernah berkata tidak ketika kadang-kadang Chanyeol berharap Baekhyun mengatakannya. Chanyeol sadar ia mengganti setiap sifat buruknya dengan adanya Baekhyun.

Mengapa Baekhyun tidak bisa melihat itu?

Chanyeol mudah tersinggung dan pemarah. Kadang-kadang ia marah pada Baekhyun, Benar-Benar bersikap tidak menyenangkan. Tapi Chanyeol selalu meminta maaf, selalu ingin meluruskannya lagi. Ketika dia liar, Baekhyun menenangkan dirinya. Ketika ia menangis, Baekhyun memeluknya. Ketika ia ingin bicara, Baekhyun mendengarkan. Ketika ia ingin diam, Baekhyun tidak berbicara. Dan Chanyeol menyadari bahwa ia tidak ingin rokok atau minuman keras atau kokain lagi. Dia hanya ingin Baekhyun.

Baekhyun berpikir dia tahu apa yang terjadi pada Chanyeol. Sesuatu yang buruk dalam dirinya sedang menjalar keluar. Baekhyun melihat moodnya berubah-ubah dari penuh kasih sayang menjadi gusar, dari sedih menjadi gembira, dan menanganinya dengan cara terbaik yang Baekhyun bisa lakukan. Chanyeol sangat membutuhkan Baekhyun, Baekhyun tidak punya waktu untuk berpikir tentang apa yang telah terjadi pada dirinya sendiri. Minho bukan masalah.

Chanyeol sedang dalam kesulitan. Kebutuhan Chanyeol pada Baekhyun untuk menyelamatkannya. Ketika Chanyeol tidak bisa berhenti gemetar, ia memeluknya. Ketika semua yang ia mampu lakukan hanyalah mondar-mandir di apartemen, menyeret Baekhyun bersamanya, Baekhyun memikirkan cara-cara untuk mengalihkan perhatiannya.

"Silakan duduk di kursi, Sir. Acara ini akan dimulai dalam dua menit." kata Baekhyun. Baekhyun mendudukkannya di sofa, memberinya kertas dan pena. "Beri nilai satu sampai sepuluh," katanya.

Kemudian Baekhyun menjadi model pakaian dalamnya—katun, renda, kulit dan celana boxer Chanyeol—sampai Chanyeol lupa untuk menuliskan apa pun, lupa mengapa Baekhyun memulainya.

Ketika mereka mulai tidur lebih lama, mimpi buruk melanda mereka berdua.

Terkadang Chanyeol terbangun, wajahnya terukir dalam ketakutan, wajah Baekhyun bermandikan keringat. Di lain waktu, Baekhyun menarik Chanyeol menjauh dari apa pun iblis yang telah menangkapnya. Mereka memiliki siksaan masing-masing dan mereka saling berpelukan, beralih ke humor untuk meredakan kecemasan mereka atau seks untuk Melupakannya. Percakapan mereka melantur mencurahkan harapan, impian dan ketakutan.

Tapi bahkan saat Baekhyun terhuyung di ambang pengungkapan yang terlalu banyak, Baekhyun tetap menyimpan rahasia terdalamnya sementara Chanyeol mengungkapkan semuanya. Dan ketika Baekhyun tergoda untuk menceritakan semuanya, Baekhyun menggunakan seks untuk mengalihkan perhatian dirinya sendiri.

Mereka berbaring kelelahan dalam lengan dan kaki bertaut dan Baekhyun tahu ini adalah yang paling dekat yang dia pernah lakukan pada seseorang.

"Aku takut sudah mengganti satu kecanduan ke kecanduan yang lain," gumam Chanyeol, menelusuri tangannya di atas kulit Baekhyun.

Baekhyun tahu, karena dia kecanduan pada Chanyeol, pada pandangan dan suaranya, sentuhan dan aromanya, mata cokelatnya yang lembut yang berubah sesuai suasana hatinya, senyum seksi dan di zona di belakang telinganya yang membuat dia liar ketika Baekhyun menjilatnya.

.

.

.

Saat hari demi hari berlalu, Baekhyun melihat penghilangan secara bertahap dari lingkaran hitam di bawah mata Chanyeol. Nafsu makannya membaik, meskipun ia tampaknya bertahan hidup hampir tidak tidur. Baekhyun merasa sakit karena semua seks itu, tapi itu membuatnya berhenti berpikir. Baekhyun tahu dia juga mengalami detoks sendiri, bukan secara fisik, tapi mental, membersihkan rasa bersalah dan kesedihan dari sistemnya.

Pemikirannya menjadi lebih jelas. Apa yang terjadi dengan Minho itu bukan salahnya. Chanyeol membuatnya percaya pada dirinya sendiri.

Dan sepanjang waktu, saat mereka hidup kembali, hari semakin dekat ketika mereka harus menghadapi dunia luar. Mereka berdua tahu itu tapi dalam semua hal yang mereka bicarakan, tak satu pun dari mereka membicarakan tentang hal itu.

Mereka berbaring telungkup di tempat tidur, menatap satu sama lain.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Chanyeol.

Chanyeol menanyakan itu setidaknya lima kali sehari dan Baekhyun tak pernah memutar matanya. Baekhyun selalu memberinya jawaban.

"Kita kehabisan makanan," katanya.

"Jadi tidak ada pilihan. Aku harus memakanmu. Aku telah memutuskan untuk memulai dari pantatmu, ditumis dalam mentega." Jari-jarinya berputar ke bawah tulang punggung Baekhyun hingga tangannya bertumpu pada pantatnya.

"Kupikir kau akan menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir? Lagi pula, kita sudah kehabisan mentega. Aku harus pergi belanja."

Hati Chanyeol sakit dengan pikiran bahwa ia tidak mungkin bersama Baekhyun selamanya.

Dia menarik Baekhyun ke dalam lengannya dan memeluknya.

"Kau sahabat terbaik yang pernah kumiliki," bisiknya.

Chanyeol menatap langsung pada mata Baekhyun dan menghendakinya untuk memahami betapa pentingnya itu untuk Chanyeol.

"Terima kasih, Chanyeol."

"Apakah aku sahabat baikmu juga?"

"Kau di sana dengan Taehyun."

Chanyeol menegang.

"Siapa sih Taehyun?"

"Menurut psikologku, dia adalah mekanisme mengatasi masalah yang membantuku berurusan dengan ketidakbahagiaan yang mendalam. Meskipun aku pikir dia ingin mentransferku ke psikiater ketika ia menyadari bahwa aku telah memilih Kim Taehyun sebagai teman imajinerku." Chanyeol tertawa dan santai lagi.

"Apakah kau punya teman sejati ketika kau masih kecil?" Chanyeol menyusuri pipinya dengan jari.

"Kadang-kadang kupikir aku punya, tapi jawabannya adalah tidak." Baekhyun menelusuri tangannya ke atas punggung Chanyeol dan ia mengambil napas dalam-dalam. Setiap kali Baekhyun menyentuhnya, rasanya seperti sihir pertama kalinya dan riak kenikmatan mengalir Melalui tubuhnya.

"Tidakkah kau menginginkan sahabat?" Tanya Chanyeol.

"Satu saja sudah cukup. Kupikir memiliki seorang teman akan menjadi jawaban untuk segalanya. Tapi anak-anak yang kukenal selalu mengecewakanku. Mereka berbohong tentangku atau menyebarkan rahasiaku. Mereka tak pernah ada ketika itu penting, sehingga pada akhirnya aku berhenti berpikir teman akan membuat hidupku lebih baik. Jika aku tidak punya, maka mereka tidak bisa menyakitiku. Itu teori. Dalam prakteknya, semua orang berpikir aku adalah seorang cewek sombong dan menemukan cara lain untuk membalasnya padaku."

Chanyeol memeluknya sedikit lebih erat, mencium keningnya. "Aku berharap aku ada di sana."

"Jangan khawatir, Chanyeol. Aku sudah dewasa sekarang. Aku tidak akan bisa berubah jika Kyungsoo mencoret bonekaku atau Luhan membakar bukuku."

"Aku berharap aku akan menjadi saudara yang lebih baik untuk Seokjin. Aku mengabaikannya di sekolah. Kami sekolah seasrama dan aku seharusnya mengawasinya, tapi aku tidak. Terlalu sibuk menjadi Mr. Populer dan tidak khawatir tentang seorang anak kecil yang kesepian. Aku adalah kapten tim bola basket, bermain tenis untuk daerah, bermain anggar untuk negara bahkan berhasil memBentuk tiga gitaris dan seorang drummer biasa menjadi band setengah layak. Aku tidak punya waktu untuk adikku."

"Apa yang terjadi dengan bandmu ketika kau meninggalkan sekolah?"

"Larut seperti salju jatuh di musim semi. Tapi aku membentuk lagi di universitas. Aku menaruh sebuah iklan di papan pengumuman serikat dan membuat audisi. Ya Tuhan, aku sombong." Baekhyun batuk dan Chanyeol tertawa.

"Baiklah, aku masih sombong. Tapi jika mereka jelek, aku akan mengatakan pada mereka begitu. Band baru tidaklah buruk. Aku menulis semua lagu kami dan suatu malam ketika kami tampil, seseorang yang penting dalam dunia musik ada di antara para penonton. Orang tuaku sangat kecewa, semua impian untuk melakukan pekerjaan yang layak terbang langsung melalui Jendela. Seokjin adalah orang yang seharusnya membuat impian mereka jadi kenyataan." Chanyeol mendengar celaan dalam suaranya dan ia tahu Baekhyun juga mendengarnya.

"Siapa yang akan berbelanja?" Tanya Baekhyun.

Bersyukur ia mengganti topik, Chanyeol menyelipkan tangannya di antara kedua kaki Baekhyun.

"Apa kita harus?"

"Tiga biskuit keju yang tersisa dan aku tidak mau berbagi," kata Baekhyun. "Kita berdua bisa pergi. Aku akan memegang tanganmu sehingga kau tidak tersesat."

"Aku tidak ingin pergi keluar, khawatir seseorang akan mengenaliku. Kau saja. Dan bawa beberapa koran."

Ketika Baekhyun kembali, Chanyeol sedang tidur, tergeletak telanjang di lantai di samping puzzle, rambutnya acak-acakan dan tubuh panjangnya yang ramping memBentang di atas bantal seperti kucing besar lamban. Baekhyun merasakan aliran kasih sayang. Jigsaw itu setengah selesai. Di sela-sela bercinta mereka yang penuh semangat, mereka akan mengerjakan itu bersama-sama, memberi hadiah konyol untuk yang pertama kali memposisikan lima kepingan. Sebuah ciuman di pusar. Sepuluh keping, ciuman di tempat yang lebih intim. Chanyeol selalu curang dan Baekhyun kadang-kadang membiarkannya.

Merasa kasihan terhadap satu sama lain telah menghentikan mereka menyesali diri sendiri. Chanyeol membuka hatinya untuk Baekhyun, dan Baekhyun merasa bersalah dia tidak melakukan hal yang sama pada Chanyeol, tidak sepenuhnya. Itu masih tampak tidak nyata. Setiap kali Baekhyun menatapnya, dia tidak bisa benar-benar percaya. Chanyeol adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya, tapi Baekhyun tahu itu tidak akan bertahan. Chanyeol adalah bintang dan Baekhyun adalah puing-puing luar angkasa.

Baekhyun merayap ke sisinya dengan sebotol Stopit, cairan dengan rasa tidak enak untuk mengecak kuku, untuk menghentikan anak-anak menggigiti kukunya dengan cepat. Memegang miniatur sikat nilon di antara ibu jari dan telunjuk, Baekhyun melapisi masing-masing kuku pendek Chanyeol.

Pada saat Baekhyun menyimpan bahan makanan dan selesai memasak makanan normal pertama mereka selama berhari-hari, Chanyeol bangun. Dia juga menggeliat seperti kucing, lengan dan kaki diregangkan, dan kemudian berbalik untuk mencari Baekhyun.

"Suzy baik-baik saja." katanya.

Baekhyun tersenyum.

"Aku melihatnya di internet. Dia siuman dan...terima kasih Tuhan. Apa yg bisa aku cium?" Tanyanya.

"Makanan."

Dia berlari ke sisi Baekhyun, menelusuri jari-jarinya melalui rambut spiky-nya.

"Ini tidak adil," gumamnya.

"Apa?"

"Kau sudah berpakaian dan aku belum."

"Kau tahu di mana pakaianmu." kata Baekhyun.

"Oke, aku akan memakainya dan itu pantas kau dapatkan." Baekhyun tertawa saat ia berlari keluar dari ruangan. Sesaat kemudian, Chanyeol berteriak.

"Baekhyun! Kesini. Sekarang!"

Ketika Baekhyun pergi ke kamar tidur, dia tidak bisa melihat Chanyeol sejenak dan saat Baekhyun menemukannya bersembunyi di balik pintu, Chanyeol Melompat ke depan dan mendorongnya ke tempat tidur, memutarnya, dan menjepitnya di punggungnya. Chanyeol duduk di pahanya dan Baekhyun mengerang.

"Itu menyakitkan." kata Baekhyun.

"Ini juga."

Chanyeol memasukkan jarinya ke dalam mulut Baekhyun dan memasukkan kukunya di atas lidah Baekhyun. Baekhyun tersedak, meraih pergelangan tangan Chanyeol dan menarik tangannya.

"Apa yang telah kau lakukan, dasar kau penyihir?" Desis Chanyeol. "Aku sudah mempersiapkan gigitan yang nyaman karena payudaramu tidak tersedia dan kupikir aku harus mencelupkan jariku ke dalam racun."

"Ini untuk menghentikanmu menggigiti kuku." Baekhyun berjuang untuk melepaskan diri.

Chanyeol mengerutkan kening dan meraih mulut Baekhyun dengan jari-jarinya.

"Jika kau melakukan itu lagi, aku akan mengecat putingku." kata Baekhyun.

Chanyeol menyeringai. "Kau tak akan berani. Kau suka aku menjilatinya." Chanyeol menarik wajah lagi.

"Hapus itu."

"Ini demi kebaikanmu sendiri." kata Baekhyun.

"Tapi mulutku rasanya jadi mengerikan."

"Kalau begitu jangan gigiti kukumu."

"Aku tidak suka padamu lagi."

"Jadi kau tidak ingin apa yang sudah kumasak?"

"Mungkin aku menyukaimu. Apa yang kita punya?"

"Babat dengan bawang."

Chanyeol memegang jari-jarinya di atas bibir Baekhyun.

"Coba lagi."

"Enchiladas."

Chanyeol berguling dari Baekhyun.

"Dan aku membeli sesuatu untuk di minum." kata Baekhyun.

"Kupikir aku tidak diperbolehkan minum alkohol,"

"Itu untukku."

"Kita harus berbagi. Supaya adil."

"Dengan sajak seperti itu tak heran kau menyerah menulis lagu." Baekhyun menghindari tangan yang ingin meraih pantatnya dan kembali ke dapur.

Chanyeol memakai celana tidurnya. Chanyeol pikir dia akan berhenti menulis lagu, tapi ia menulis satu di kepalanya tentang mata Baekhyun. Rasa takut di matanya ketika ia berada di laut, bagaimana mereka menyala ketika Chanyeol menggodanya, laksana mata kucing ketika Baekhyun berbaring di bawahnya, keliarannya ketika Chanyeol membuatnya orgasme.

Setelah mereka makan, Chanyeol membalik-balik surat kabar. Dia tidak Melihat satupun namanya disebut dan pencarian internet yang telah dilakukannya ketika Baekhyun keluar tidak mengeluarkan sesuatu yang signifikan tentang dirinya selama seminggu terakhir. Kecuali Bae Suzy baik-baik saja.

Dua mujizat.

"Aku harus menelepon agenku," kata Chanyeol.

"Kupikir dia sudah membuangmu."

"Dia mungkin tidak bersungguh-sungguh."

"Oke."

"Aku tak ingin meneleponnya, tapi aku harus."

"Maka kau sudah dewasa." Baekhyun menarik kakinya ke sofa. "Melakukan hal-hal yang kau tahu harus kau lakukan, bukan apa yang kau inginkan."

"Bagaimana denganmu? Kapan kau dewasa?" Chanyeol menjatuhkan lengan di bahu Baekhyun.

"Sudah lama, setelah aku menerima kenyatan bahwa tak ada seorang pun di luar sana yang sangat ingin memberi seorang gadis kecil sebuah rumah."

Hati Chanyeol terluka untuknya. "Aku yakin kau benar-benar manis. Sayang sekali bahwa kau telah menjadi dewasa. Ambil album fotomu dan mari kita lihat seperti apa ketika kau masih kecil."

Ada jeda sebelum Baekhyun berbicara. "Aku tidak punya foto." Chanyeol terkejut.

"Apa? Tidak ada? Bahkan foto ibu dan ayahmu?"

"Tidak, aku tidak suka foto." Baekhyun merasa malu dalam beberapa hari terakhir, Chanyeol mungkin tidak membahasnya, tapi sekarang ia ingin tahu segalanya. "Mengapa tidak?"

"Aku hanya tidak suka."

"Katakan padaku mengapa."

Chanyeol nyaris bisa melihat gigi dan roda berputar di kepalanya saat Baekhyun bertanya-tanya apakah sebaiknya dia berbohong.

"Setelah aku lari dari rumah orang tua asuh untuk ketiga kalinya, aku dikirim ke sebuah rumah pusat perawatan di Berkshire—tempat yang besar ini menaungi dua puluh lima anak-anak. Aku diberi ruang besar di loteng dengan kamar mandi sendiri dan itu tidak memperbaiki hubungan dengan orang lain. Kupikir aku sedang dijauhkan dari mereka karena staf telah menganggapku sebagai pengaruh buruk. Mereka melakukannya, tapi bukan itu alasannya."

Chanyeol menarik kaki Baekhyun ke pangkuannya dan memijatnya.

"Aku bermaksud mengubah diri. Aku berencana untuk berusaha keras di sekolah, lulus ujian, mencoba untuk dekat dengan semua orang, tapi..."

Chanyeol merasa Baekhyun berubah pikiran. Dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya.

"Aku bertengkar dengan salah satu gadis. Dia berbohong tentangku di sekolah, jadi aku memotong rambutnya saat ia sedang tidur. Untuk membalas dendam, ia merobek semua foto-fotoku."

"Ingatkan aku untuk tidak membuatmu marah," kata Chanyeol. "Ya Tuhan, dengan cara asuhanmu, aku terkejut kau bukan seorang lesbian misoginis (kebencian terhadap wanita secara berlebihan)."

"Ya, tapi kau sudah mengacaukanku, Chanyeol."

"Ya, kukira aku sudah Melakukannya." Dia tertawa. "Tapi kau tidak bisa mengklaim itu secara sepihak."

"Tidak, kupikir aku ingat sisi atas bawah dan belakang dengan baik."

"Apa kau akan mengenakan pakaian dalam kulitmu dan duduk di pangkuanku sementara aku menelepon Kwangsoo?" Chanyeol bertanya.

"Kenapa?"

"Jadi aku tahu akan mendapatkan hadiah ketika aku sudah bicara dengannya."

"Tidak, aku akan mengalihkan perhatianmu. Lakukan sekarang. Kau harus pasang kabel teleponnya kembali." Chanyeol tidak tahu bagaimana Kwangsoo akan bereaksi. Dia mengatakan mereka selesai, tapi dia satu-satunya pria yang Chanyeol pernah percaya untuk menangani kepentingannya. Kwangsoo telah menjadi agennya, manajer bisnis, asisten pribadi dan wartawan untuk waktu yang lama dan Chanyeol tak ingin memulai lagi dengan orang lain.

"Kwangsoo?" Kata Chanyeol ragu-ragu.

"Kau banci sialan!" teriak Kwangsoo.

Chanyeol meringis dan menjauhkan ponsel dari telinganya.

"Dari mana saja kau? Aku sudah berusaha untuk menghubungimu sepanjang minggu. Mesin penjawabmu sampai mendapat serangan stroke. Itu tidak akan bisa menerima pesan tambahan lagi. Ponselmu sudah mati. Aku sudah ke rumahmu. Tak ada yang melihatmu. Kupikir kau sudah diculik oleh makhluk alien sialan."

"Aku sedang menenangkan isi kepalaku." kata Chanyeol.

"Kau sudah melakukannya di kepalaku," Bentak Kwangsoo.

"Ada apa?"

"Kau tidak layak mendapatkannya, tapi kau punya dua keberuntungan. Malcolm Ward mengatakan jika kau tampil di konser amal pada bulan September, dia akan melupakan tentang pembatalan kontrakmu karena menghancurkan keluarganya. Kupikir dia berencana untuk mengupas bolamu." Chanyeol bergidik.

"Dan untuk beberapa alasan yang tidak masuk akal kau diberi kesempatan lain di The Green. Ya Tuhan, aku hanya bisa menganggap orang lain yang mengikuti audisi telah kentut di wajah sutradara atau muntah di pangkuannya supaya kau kembali, tapi dia tidak. Kesner di Skotlandia dan besok hari terakhir sebelum ia terbang ke Eropa. Aku akan memesankan tiketmu ke Edinburgh. Hal bisa ikut penerbangan pertama. Jangan mengacaukan ini, Chanyeol."

"Jadi, kau masih agenku?"

"Aku akan memberitahumu ketika kau sudah mendapatkan perannya."

"Aku sudah berhenti merokok," sembur Chanyeol dan Melihat senyum di wajah Baekhyun.

"Bagus. Berhenti bersetubuh juga? Sulli meneleponku setiap hari ingin tahu di mana kau berada. Apa kau menidurinya juga?"

"Tidak, aku tidak menidurinya."

"Nah, merokok adalah awalan." kata Kwangsoo.

"Ada sesuatu yang terjadi tentang Bae Suzy?" Chanyeol tidak bisa melihat Baekhyun sekarang.

Suara Kwangsoo berubah. "Polisi sudah mempersiapkan dakwaan untuk Kang Minhyuk. Dia keluar dengan jaminan."

"Mereka tidak mencari orang lain?"

Diam di ujung telepon.

"Apakah ada sesuatu yang tidak kau beritahukan padaku, Chanyeol?" Suara Kwangsoo dingin.

"Tidak."

"Apa kau memberinya kokain?"

"Tidak." Chanyeol tidak bisa menatap Baekhyun.

"Baik, aku akan mengirim seorang sopir untuk menjemputmu besok. Akan menjemputmu pagi-pagi. Aku akan meneleponmu saat sudah tahu jadwal penerbangannya."

"Beri aku kesempatan untuk kembali ke rumah," kata Chanyeol.

"Di mana kau? Jangan katakan kau di luar negeri."

"Greenwich."

"London?"

"Ya."

"Terima kasih Tuhan untuk itu. Pulanglah. Sekarang."

Chanyeol menutup telepon.

"Apa kau tahu dia hanya berumur empat belas?" Tanya Baekhyun.

"Tidak, aku bersumpah aku tidak tahu. Aku menidurinya sekali dan karena dia memintaku, aku menjatuhkan bungkus coke di perutnya sebelum aku berjalan keluar dari kamar tidur. Jika ada yang tahu, aku akan ditangkap dan itu akan menjadi akhir dari segalanya."

Dia dan Baekhyun saling menatap.

"Apa kau pikir aku layak ditangkap?" Chanyeol bertanya. "Jangan menjawab pertanyaan itu. Aku tahu aku pantas."

"Dia meminta coke padamu?"

"Ya, tapi aku tidak harus memberikan itu padanya."

"Kau bukan orang jahat, Chanyeol. Kau tidak sebaik seperti Nelson Mandela dan Gandhi atau bahkan Osmonds, tapi kau tidak begitu jahat." Chanyeol memberinya senyum kecil.

"Kau pikir kau tidak peduli, mengatakan kau tidak peduli, tapi aku tahu kau peduli." kata Baekhyun.

Dia mengulurkan tangan dan menarik Baekhyun ke dalam pelukannya.

"Aku peduli padamu," kata Chanyeol.

"Tapi kau berbohong dan berbohong akan mengirimmu langsung ke sidewinders yang licin, ketika kau sudah menghabiskan minggu ini menaiki tangga berkaki longgar."

"Aku tidak bohong padamu."

"Bagus."

"Aku harus pergi ke Skotlandia untuk audisi lagi."

"Dapat kesempatan lain?" Wajah Baekhyun bersinar. "Itu bagus, Chanyeol."

"Hanya saja aku harus pergi besok."

"Oke."

"Aku tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan. Aku akan meneleponmu, sms, email, mengirimkan sinyal asap." katanya.

"Bagus."

"Kau bisa ikut denganku."

"Kau tidak perlu aku untuk memegang tanganmu. Kau sudah dewasa sekarang. Tapi berhati-hatilah menyeberang jalan. Tengok kanan kiri. Dan pakai celana dalam yang bersih, untuk berjaga-jaga."

"Aku tidak ingin pergi."

"Ya, kau harus. Ini adalah kesempatanmu untuk memperbaiki keadaan. Lihatlah berapa banyak kebaikan yang telah kau lakukan. Menyelamatkanku dari rumput laut yang berbahaya, menyelamatkanku dari cengkeraman keji Dickhead Dastardly, memperkenalkanku pada kenikmatan bercinta terus menerus sepanjang hari dan anggota badan sakit seumur hidup."

"Ikutlah denganku." Please.

"Aku harus pergi bekerja besok. Bulan madu sudah selesai." Suara Baekhyun pecah dan getaran gempa mengguncang hati Chanyeol.

"Aku akan meminjamkan uang untuk biaya taksi," kata Baekhyun.

"Lebih baik kau menelepon tukang kunci dan segera bertemu dengannya, jika tidak kau tidak akan bisa masuk ke tempatmu."

Chanyeol memeluk Baekhyun dengan erat, tulang pinggulnya menekan keras pinggul Baekhyun.

"Baekhyun, jangan bilang siapa-siapa kau bersamaku. Aku mengatakannya bukan karena aku tidak ingin orang tahu, aku hanya tidak ingin pers tahu dan jika ada yang tahu, siapa saja, pers juga akan mengetahuinya. Kau tidak mengerti seperti apa mereka. Aku mengerti. Wartawan tidak menghormati privasimu. Mereka akan menulis kebohongan tentangmu, memutar-balikkan segala sesuatu yang kau katakan dan lakukan. Setiap kata yang kau ucapkan akan dicatat dan digunakan untuk melawanmu dan melawanku. Ini jauh lebih baik jika tidak ada yang tahu tentang kita."

"Oke," katanya.

"Ada sesuatu diantara 'kita', Baekhyun. Aku tidak berjalan keluar dari hidupmu." Chanyeol menekan wajahnya ke rambutnya.

"Kau sudah tidak ingin mati, kan? Aku tidak akan pergi jika kupikir kau akan melakukan sesuatu yang bodoh. Lupakan tentang film. Kau lebih penting."

"Aku berjanji tidak akan berbuat bodoh kecuali kau bersamaku. Sekarang ayo pergi dan pakai pakaian yang pantas sebelum aku mencabulimu lagi." bisik Baekhyun.

Baekhyun memegang tangannya dan menariknya ke kamar tidur, mendorong ke bawah celana tidurnya dan kemudian memakaikan pakaiannya, menarik ke atas celana pendeknya, lalu chinos-nya. Menaikkan risletingnya, membelai ereksinya dan kemudian memasang kancingnya.

Rasanya seperti menjadi seorang anak lagi, Chanyeol pikir, tapi begitu erotis ia tersedak dengan nafsu. Chanyeol memaksa dirinya untuk tidak meraih Baekhyun karena jika dia melakukannya, ia pikir ia tidak akan mampu untuk meninggalkannya.

Jari-jari Baekhyun menyentuh dadanya saat mengancingkan kemejanya.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Chanyeol.

"Apakah aku akan menyentuhmu lagi, merasakanmu lagi."

"Jangan," Chanyeol megap-megap.

Baekhyun mendudukkan Chanyeol di tempat tidur dan menyelipkan kaus kakinya, lalu sepatu botnya, mengikat talinya dan tidak ada yang tersisa untuk dilakukan. Baekhyun duduk di sampingnya di tempat tidur.

"Buka tanganmu." kata Chanyeol.

Dia memberi Baekhyun botol kecil Stopit.

"Taruhlah lebih banyak lagi jadi aku tidak tergoda."

Baekhyun mengecat masing-masing kukunya. Ketika selesai Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan melapisi kukunya juga.

"Hanya supaya kau tidak tergoda."

Mereka berdiri memeluk satu sama lain sampai bel berbunyi. Chanyeol membiarkan Baekhyun pergi.

"Bye, Chanyeol," bisik Baekhyun.

"Jadilah brilian."

"Hei, aku seorang bintang."

Chanyeol berjalan mundur, melihat Baekhyun sampai saat-saat terakhir.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Thanks To:

Daebaktaeluv, Rly. , livbyun, ByunJaehyunee, ChanBMine, byunliv

Sebelumnya memang mantan pacar baekyun si yifan tapi aku ganti jadi Minho. Aku pikir-pikir dia cocok jadi peran yang lain muehehe. Mohon maaf atas ketidaknyamannya^^

So, review?

Byunnerate