Sekolah telah berakhir belasan menit yang lalu. Alice kini berada di salah satu dari sekian lorong Hogwarts yang sepi. Remus yang menariknya ke sini setelah bertemu di Viaduct courtyard, dan pemuda itu sekarang terlihat ragu-ragu saat akan memulai sesi wawancaranya.
Sepertinya dia bingung harus memulai dari mana.
Gadis itu mendesah pelan dan menempelkan punggungnya ke dinding, "Baiklah, aku akan bertanya duluan." dia menatap kelereng hijau yang berdiri tidak jauh di depannya, "Kau sudah berbaikan dengan Black?"
Remus memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, "Ya, sedikit." jawabnya pelan, "Dia sangat tersinggung dengan kalimatku tadi siang. Kurasa dia akan mendiamkan aku untuk beberapa waktu." lanjutnya menghela nafas.
Alice tersenyum mendengarnya, "Baguslah." senyumnya makin lebar, "Apa yang ingin kau bicarakan?" sekarang dia bertanya langsung ke permasalahan. Yah, walaupun dia bisa menduga apa yang akan ditanyakan oleh surai madu itu, sih.
Remus mengusap dagunya, menoleh ke sekeliling memastikan tidak ada seorang pun selain mereka berdua, dia menarik nafas sebelum memulai kalimatnya, "Kau—darimana kau tahu tentang kami?" mata hijaunya menatap lurus dengan manik merah di sebrangnya, "Sejauh apa yang kau tahu? Apa yang kau rencanakan dan apa tujuanmu? Apakah kau terjatuh pada saat malam itu merupakan bagian dari rencanamu?" rentetan pertanyaan meluncur keluar dari mulutnya.
"Wow—santai saja. Pelan-pelan. Aku tidak bisa menjawab semuanya secara bersamaan." gadis itu terkekeh pelan, lalu menarik nafas panjang, "Baiklah, Remus. Mengenai darimana aku tahu, kalian tidak perlu tahu." sekarang dia tersenyum kekanakan, "Sejauh apa yang kutahu? Aku tidak bisa menyebutkan secara detil, tapi jelas aku tahu tentang sosok lain dari kalian." dia mengedikkan bahu, "Intinya, aku tidak mau menjawab kedua pertanyaan itu."
Remus mendesah frustasi, dia sudah tahu akan sia-sia menanyakan pertanyaan seperti itu. "Kau belum menjawab dua pertanyaan terakhirku."
"Ah, rencana dan tujuanku?" jeda sebentar, "Aku tidak pernah berencana untuk berada di sini, tapi karena tuntutan keadaan, aku harus tinggal." dia tersenyum tipis, "Lalu tentang tujuanku, aku juga tidak bisa mengatakannya." senyum lebarnya kembali lagi, lalu hilang saat memulai kalimat baru, "Malam itu—sama sekali bukanlah bagian dari rencanaku. Karena suatu kejadian, aku tiba-tiba berada di sana." dia menggeleng dan kembali tersenyum, tulus.
Remus mengernyit tidak percaya padanya.
"Aku tidak memintamu mempercayaiku, Remus. Aku hanya menceritakan apa yang bisa aku ceritakan untuk sekarang." lanjutnya, menekan kata terakhir dalam kalimatnya.
"Aku—hanya tidak mengerti." Remus menggeleng lemah, memijit batang hidungnya pelan, "Kau memegang rahasia terbesar kami. Aku takut jika—"
"Malam itu juga, aku sudah berjanji padamu." sergah Alice cepat, dia maju mendekati Remus, "Aku mengerti, Remus. Aku sangat mengerti." bisiknya saat berada dekat tersenyum perih begitu melihat manik hijau yang menatapnya dalam, dia mengerti tatapan itu, "Kau takut, bukan? Kau takut orang-orang meninggalkanmu." dia maju selangkah, sekarang wajahnya berada tepat di bawah wajah Remus yang menunduk menatapnya, "Ketakutanmu. Kau takut orang-orang takut padamu." lirihnya serak, hampir berbisik. Tangan kecilnya menyentuh pipi pemuda itu. Remus tersentak begitu sadar, dan menepis tangan Alice, lalu mundur beberapa langkah.
Remus menatap gadis itu marah, "Kau tidak mengerti apapun." desisnya, tercekat. Manik hijaunya menyalak tajam. "Apa yang—barusan kau lakukan padaku?" tanyanya heran, tidak percaya kenapa dia bisa membiarkan gadis itu maju dan berada terlalu dekat dengannya.
Alice terdiam menatap tatapan tajam Remus. Perih menguasai hatinya. Dia sangat mengerti tatapan tajam itu. Dia tahu. Alice bisa melihatnya. Selain rasa marah, bingung, dan sedih, ada satu lagi hal yang tak mampu ia pungkiri.
takut.
Tatapan sama yang dulu pernah ia miliki.
Merlin—sekarang dia merasa seperti berkaca pada mata emerald itu.
Alice tersenyum paksa saat membalas kembali kalimat Remus, "Maaf." bisiknya pelan, "Matamu—mengingatkanku pada seseorang."
Senyap menyelimuti mereka. Remus terlihat enggan untuk bicara.
"Kurasa ini akhir dari pembicaraan kita." senyum terpaksanya kembali, dia tidak ingin melanjutkan pembicaraan, "Aku sangat berharap hal ini tidak mempengaruhi pertemanan yang baru saja kita mulai." Alice menarik oksigen sebanyak yang paru-paru kecilnya bisa tampung. Memori tadi siang dengan Remus dan Peter berputar kembali dalam pikirannya, tanpa diinginkan menarik kembali perasaan menghimpit familiar yang telah terkunci rapat-rapat dalam relung hatinya yang terdalam.
Gadis itu memberikan senyum sedih dan berjalan menjauh, merentangkan jarak di antara mereka berdua.
Sebelum Remus berbisik lirih, memanggilnya, "Alice—"
Alice berhenti berjalan.
Remus menatap pemilik surai hitam yang menjadi permasalahan dia dan sahabat-sahabatnya, "do you really—understand?" desah Remus bertanya. Terpaku, manik emeraldnya melebar saat melihat kepala gadis di hadapannya bergerak, mengangguk, tanpa menoleh menatapnya.
"Because we are the same, Remus." jawab Alice, entah kenapa sekian detik yang menjadi vakum ini terasa sangat menghimpit, " I know what it feels like to be feared." lanjutnya lirih, sebelum berjalan lagi. Meninggalkan seorang pemuda yang mengingatkannya pada dirinya sendiri.
Remus masih bisa mendengar hentakan langkah Alice yang menggema saat dia telah menghilang di belokan. Mengerang frustasi dan khawatir. Pembicaraan mereka barusan sia-sia, dan dirinya masih tidak bisa sepenuhnya percaya dengan gadis sumber masalah yang tadi siang mengulurkan tangan pertemanan padanya. Dia menyadari nada sedih dalam kalimat gadis itu tadi, dan dia tidak bisa menyangkal bahwa ada rasa penasaran tentangnya.
Jam makan malam tiba. Murid-murid menyesakki aula besar untuk mengisi perut. Lukisan biru-putih yang semula menghias langit-langit tergantikan oleh beludru malam.
Alice duduk ditemani teman-teman ular barunya. Acuh tak acuh menanggapi beragam kalimat yang ditujukan padanya. Sudut matanya melirik deretan ular yang berjejer di sampingnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah meja asrama singa, mencari surai madu yang familiar. Di sanalah mereka, empat pemuda pentolan asrama singa sedang duduk di meja makan bersisian. Bercanda dan terlibat obrolan seperti biasanya.
Dia sedikit tersentak dari tatapannya ketika tiba-tiba sebelah tangan Malverick melingkar di belakang kepalanya, merangkul dan menarik gadis itu mendekat. Alice harus menahan diri agar tidak mendecak sebal dan meninju wajah pemuda sok akrab dengannya ini. Itu bukanlah perlakuan yang sopan untuk seorang wanita berusia empat puluh, tahu?
"Lihat! Bahkan gadis ini jauh lebih manis darimu, Betsy!" serunya pada Betsyeba yang menekuk wajahnya.
Sudut bibirnya berkedut menahan tawa. Dia membayangkan seperti apa wajah Betsy kalau tahu dia berusia empat puluh tahun—dan masih jauh lebih manis darinya.
Betsy menggeram, dan tidak butuh waktu lama untuk mereka terlibat adu mulut lagi. Blah, Alice bahkan tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan sedari tadi. Untuk apa bicara dengan sekumpulan ular-ular idiot yang mengelilinginya saat ini? Satu-satunya ular yang bisa dia hargai hanyalah Severus Snape.
Malverick melepaskannya saat akhirnya Alice mengeluarkan suara mengaduh dengan wajah meringis. Pemuda itu hanya menggumamkan 'maaf' sambil tersenyum kecil dan kembali adu mulut dengan Betsyeba—dan Avery, yang sedikit-sedikit ikut nimbrung. Alice mengedarkan matanya dan menghela nafas kecewa, tampaknya Snape tidak datang untuk makan malam. Dia menjejalkan suap terakhir makanannya, dan pamit untuk segera pergi ke kamar. Mungkin membaca salah satu buku favoritnya bisa membunuh waktu agar dia bisa tidur.
Dia berjalan, melewati lorong-lorong yang sepi—karena sebagian besar murid masih berada di aula besar—dan menaiki tangga-tangga yang bergerak, menuju lorong asrama dan mengucapkan kata sandinya. Maniknya sedikit melebar, terkejut karena mendapati seseorang sedang duduk di sofa hitam, bersantai dengan buku di tangan. Tidak butuh sedetik baginya untuk menyadari siapa yang sedang berada di tengah ruang rekreasi itu—dari rambut klimis hitamnya saja Alice sudah bisa menebaknya.
Sebisa mungkin berjalan dengan perlahan, dia menghampiri Severus sedikit mengendap, "Tidak makan?"
Sev tampak terkejut dengan kehadiran seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Sev mendengus. Apa hobi gadis ini selalu muncul secara dadakan dan mengejutkannya? Dia menatap gadis itu sebentar lalu kembali ke bukunya, "Tidak." jawabnya singkat.
"Aku tidak melihatmu makan sepanjang hari ini."
"Bukan urusanmu."
"Kenapa kau dingin sekali?"
Sev berpaling dari bukunya dan menatap gadis yang berdiri di sampingnya galak, "Dengar. Aku sedang membaca buku dan tidak ingin diganggu. Apa kau buta, Magnabad?"
Alice mengerucutkan bibir, manyun, "Aku tidak buta." dia menjatuhkan dirinya dan duduk di sebelah Sev, "Apa yang sedang kau baca?"
Sev mendesah pelan, merasa terganggu, "Confronting the faceless. Kalau kau tidak tahu, ini dibutuhkan untuk pelajaran pertahanan terhadap sihir hitam."
"Oh, aku sudah baca itu. Bagian favoritku tentang kutukan cruciatus." Alice tersenyum lebar saat melihat Sev mengerutkan dahi padanya, "Kenapa?"
"Kapan kau membacanya? Buku ini tidak diperjualbelikan, hanya ada di perpustakaan sekolah." kelabunya memicing saat senyuman gadis itu memudar, "Kecuali—jika kau sanggup membacanya kurang dari satu hari."
Alice terdiam. Dia sedikit menjauh dari posisi duduknya, "Well, aku punya koneksi. Pamanku seorang pengajar di Durmstrang, dan dia suka mengantarkan buku-buku yang menyangkut sihir hitam padaku." dia memikirkan pertanyaan untuk mengalihkan perhatian Sev, dan melirik pemuda itu, "Kau—menyukai sihir hitam, Snape?"
Tentu saja, dia sudah tahu jawabannya.
Sev menatap gadis itu, "Ya, lalu?" jawabnya sinis. "Mungkin kau juga akan menjauhiku seperti orang lain yang tidak tahu—"
"Kalau sihir hitam adalah seni yang indah, yes?"
Selama beberapa detik, Sev melotot tidak percaya pada Alice yang tersenyum lebar.
Senyuman lebar itu memudar, "Indah dan—sangat berbahaya." lanjutnya serius, "Tapi meskipun aku tahu betapa berbahayanya, tetap saja aku mempelajarinya. Semakin dilarang, semakin ingin orang mengetahuinya, don't you agree? Itu sudah menjadi sifat dasar manusia."
Sev terdiam sebentar, mencerna perkataan Alice, "Aku setuju jika semakin dilarang, maka semakin ingin orang mempelajarinya." seringaian muncul di wajah pucatnya, "Tapi hanya diperuntukkan bagi mereka yang siap dengan segala resikonya."
"Hmm—" Alice menatap langit-langit, berpikir sebentar, lalu menoleh cepat pada Severus sambil tersenyum, "memang rasa ingin tahu adalah sifat dasar manusia, namun butuh keberanian yang sangat besar untuk melewati garis batas larangan dan peraturan." senyumnya makin lebar, "Dan biasanya, sifat berani—atau nekat, actually— hanya dimiliki oleh sekelompok manusia—"
Kalimat Alice terinterupsi saat mendengar dengusan pemuda di sebelahnya, "Aku lebih suka menyebut mereka singa tolol tukang cari mati."
Alice terbahak, "Well—ternyata kau tahu jelas apa maksudku, Snape." matanya mengerling jahil, "Meskipun begitu, tidak semua Gryffindor tukang cari mati, kok."
"Memang, tapi mereka tukang cari gara-gara."
Gadis itu tergelak lagi, "Singa adalah raja hutan, simbol kepemimpinan—" tawa itu mereda dan terganti senyuman, "kesetiaan, kemakmuran, dan—tentu saja, keberanian." senyuman itu tetap awet meski Severus menatap tajam padanya, "Aku bukannya membangga-banggakan asrama singa, kau tahu."
Sev tersenyum sinis, "Kupikir kau ingin berubah haluan menjadi salah satu dari singa-singa itu." alisnya terangkat, "Ini baru hari pertama dan kau sudah bermasalah dengan—kau tahu siapa."
Alice terkekeh kecil, "Oh, ternyata gosip menyebar sangat cepat." dia berdiri dan berkacak pinggang menghadap Severus yang mendongak menatapnya, "Hanya adu mulut biasa dan sedikit atraksi dari Potter. Dia sangat marah padaku hingga mencengkram kerah, mengangkat, hingga menghempas seorang gadis manis sepertiku ke lantai batu." dia menggembungkan pipinya, "Dia kasar dan itu bukanlah perilaku seorang gentleman. Kupikir Potter adalah keluarga pureblood yang terhormat?"
"Aku tidak ingin membayangkan seberapa menyebalkannya dirimu hingga membuat Potter bertindak seperti itu." raut Sev tampak tidak percaya. Dia menggeleng dan menghela nafas, "Aku tidak begitu tahu, tapi sifat Potter memang sudah seperti itu."
Alis gadis itu terangkat, "Dia sudah bertindak kasar padamu sejak lama, kupikir dia sudah memperlakukanmu lebih kasar—mengingat kau satu gender dengannya dan musuh bebuyutannya." matanya memicing heran, "Kalimatmu tadi—bukanlah sebuah pembelaan untuknya, kan?"
Dengusan pelan terdengar, "Aku tidak membelanya. Aku hanya cukup kaget dia bisa bertindak seperti itu pada seorang gadis—apalagi kau kecil. Setahuku dia tidak akan berbuat sejauh itu. Sulit dipercaya kau bisa membuat Potter marah hingga menyakitimu."
Alice melipat kedua tangannya, mengalihkan pandangan dari wajah Sev, "Kupikir wajar saja dia bertindak sampai seperti itu padaku." Alice kembali menatap Severus, "Kau—tidak ingin mengetahui apa masalahnya? Aku dengan senang hati memberitahukannya padamu. Kita berdua sudah menjadi target mereka, tahu?" sebelah matanya mengedip.
Severus mendesah pelan, "Kalau maksudmu kau ingin kita bekerja sama—aku tidak mau. Itu hal yang konyol, Magnabad. Dan aku juga tidak perduli masalah diantara kalian."
"Aww—ayolah, Snape." mohon Alice dengan suara manja, kembali duduk di sebelah Sev, "Kau dan aku, jika dikombinasikan, sebenarnya bisa menjadi tim yang luar biasa." bibirnya melengkung membentuk senyuman, "Memangnya kau tidak ingin membalas perlakuan mereka padamu?"
Belasan detik Severus habiskan untuk berpikir.
"Tidak—" jawabnya tercekat, seolah kata itu tersangkut di tenggorokannya, "Bukankah sudah kubilang padamu sebelumnya? Aku tidak membutuhkan bantuan." kelabunya menatap tajam pada gadis di sebelahnya.
Alice tersenyum kecewa, "Jawabanmu seperti dipaksakan." dia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit dan memejamkan matanya, "Kupikir kau akan lebih bernafsu membalas dendam pada mereka, tapi ternyata tidak. Aku tidak menyangka kau seorang pengecut." kini dia tertawa mengejek.
"Aku bukanlah seorang pengecut. Aku hanya tidak perlu melakukan hal yang sama, karena itu akan membuatku sama saja seperti mereka."
Alice membuka matanya, masih menyandarkan kepala, dia melirik Sev yang sedang menatap perapian, "Kau benar." vakum menguasai keadaan selama beberapa detik. Klotakan-klotakan kecil dari kayu yang terbakar mengisi udara, "Ada pepatah mengatakan, semakin kau membenci seseorang, maka kau akan semakin mirip dengannya."
"Dan kau bisa menduga seberapa tidak inginnya aku menjadi sama seperti mereka, bukan?" Sev ikut menyandarkan punggungnya.
"Apakah itu artinya kau tidak membenci mereka?"
Severus menoleh hanya untuk mendapati Alice sedang tersenyum kearahnya, pipi gadis itu menempel pada bantalan sofa, "Tentu saja."
"Tentu saja apa?" goda Alice jahil. Severus mendengus kesal dan bangkit berdiri.
"Tentu saja aku benci mereka!" serunya sambil berjalan menjauh, menaiki tangga dan berhenti di atas untuk melanjutkan kalimatnya. Matanya bertemu dengan manik Alice yang masih duduk santai di sofa dengan seringaian jahilnya, "Tapi aku juga tidak suka menjadi sama seperti mereka, seperti yang kubilang." dan sosok hitam itu hilang di belokan kanan, ke arah asrama laki-laki.
Alice menatap perapian dan tertawa kecil.
"Ah—aku sampai lupa kalau tadinya ingin menulis pesan."
Yilmaz,
Bagaimana kabarmu dan yang lain? Apakah kakakku baik-baik saja?
Ini adalah malam ketigaku di masa ini dan malam pertamaku menjadi murid Hogwarts. Yah, aku terlempar ke masa 18 tahun dari waktu tujuanku sebelumnya. Hahaha, awalnya aku menyesal, tapi ternyata tidak terlalu buruk juga. Kau tahu tidak? Aku satu asrama dengan Severus Snape—oke jangan terkejut, yang kumaksud memang Severus yang itu. Dia masih sekolah dan ehm—aku satu asrama dengannya. Ya. Kau tidak salah baca. Aku masuk Slytherin, Yilz.
Oh—aku sungguh bisa menebak ekspresi wajahmu saat ini.
Dasar pembenci Slytherin.
Anyway, kurasa situasi ini tidak terlalu melenceng dari rencana awal. Di masa ini masih ada Voldy—eh maksudku, kau-tahu-siapa. Jeez, siapa sangka kalau di masa depan dia adalah tokoh kartun antagonis terpopuler di dunia sihir saat kita masih bocah ingusan dulu? Hahaha! Merlin, aku bisa dikutuk olehnya kalau dia baca tulisanku ini.
Aku cukup senang sekali berada di sini. Sungguh luar biasa masa ini yang berbeda dari jaman kita berasal. Hogwarts masih tetap sama, tapi tetap saja menakjubkan sekali, Yilz! Coba saja kau bisa ikut…tapi siapa yang akan mengurusi Kementrian? Awwie~ dunia sihir bisa kacau kalau kita berdua tidak ada.
Oh ya, Snape masih remaja, dan tentu saja pasti ada kakek buyut dari buyutku di sini. James Potter, who else? Aku pikir dia gentle karena dia father dari Harry yang dulu semasa kecil cerita kepahlawanannya diceritakan oleh Dad, tapi ternyata…dia bisa cukup kasar. Apalagi pada seorang gadis 16 tahun yang manis nan mungil sepertiku. (Oke, tahan dulu wajah mau-muntahmu.)
Err…sebenarnya wajar saja dia bersikap kasar padaku. Dia mengangkat dan menghempaskanku ke lantai batu di Viaduct Courtyard. Kurasa sah-sah saja dia memperlakukanku seperti itu. Aku telah menipunya di malam saat aku terlempar dengan bonus mengejek salah satu sahabatnya. Waktu itu memang ejekanku keterlaluan—tapi hei…kakek buyutku itu tidak akan membelanya jika dia tahu masa depan…
Kau ingat peta perampok usang yang sering kita gunakan dulu? Yeah, James dan teman-temannya yang membuat peta itu. Ingat kalimat yang muncul saat peta itu dibuka?
"Moony, Wormtail, Padfoot and Prongs. Purveyors of Aids to Magical Mischief Makers—Are proud to present: THE MARAUDER'S MAP"
Rite. They're Marauders. James Potter is Prongs, Padfoot is Sirius Black, Wormtail is Peter Pettigrew, and Moony is Remus Lupin.
Kita harus berterima kasih pada mereka karena menciptakan peta itu, Yilz!
Okay, sekarang kau sudah tahu ceritanya. Itu jika sihir kita berhasil…
Aku akan memberitahu padamu cerita yang lain nanti.
~Mad Doll
Alice menguap begitu menyelesaikan pesannya. Dia ragu apakah pesannya ini akan sampai pada sahabatnya di masa depan. Ditatapnya buku coklat dengan goresan artistik yang meliuk di covernya. Itu adalah benda sihir yang awalnya hanyalah buku biasa. Baru seminggu yang lalu dia membeli dua buku yang sama dan kemudian melakukan sihir kombinasi bersama Yilmaz, menjadikan buku itu kembar dan saling terhubung.
Tujuannya satu, agar mereka bisa saling berkomunikasi antara masa lalu di tempat Alice sekarang dan masa depan.
Masalah pertama adalah, karena masalah perbedaan ruang waktu, buku itu hanya bisa menjadi sang 'pengirim' atau sang 'penerima', tidak bisa keduanya sekaligus. Dengan kata lain, buku yang Alice pegang sekarang adalah buku 'pengirim', dan Yilmaz punya buku 'penerima'. Yilmaz tidak bisa mengirim pesan pada Alice. Dia hanya bisa membaca tulisan Alice di buku 'penerima'.
Masalah kedua, mereka tidak tahu apakah cara komunikasi satu arah yang menembus ruang waktu bisa dilakukan. Jadi ada kemungkinannya Yilmaz tidak dapat menerima pesan.
Masalah ketiga, tidak ada cara untuk Alice agar bisa tahu kalau buku sihir mereka ternyata berhasil. Oke, itu masalahnya sendiri.
Alice mendesah pelan. Tidak ada cara lain, dia sudah berjanji akan selalu menulis pesan pada Yilmaz, walaupun dia tidak tahu apakah sihir mereka ternyata berhasil.
Alice menaruh buku itu di balik bantal dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Gadis-gadis yang menjadi teman sekamarnya sudah terlelap entah sejak kapan. Dia memejamkan matanya, mencoba mengingat apa saja yang telah dia lakukan untuk melaksanakan rencananya.
Ingatannya kembali berlabuh pada dua buku kembar itu. Sihir kombinasi yang dia lakukan bersama sahabat sehidup-sematinya. Sihir ikatan—sihir yang membuat dua benda menjadi terikat dan berhubungan. Alice mencampur darahnya dengan Yilmaz dan digoreskan pada kedua buku itu, menjadikan mereka sang pemilik. Itu bukan kali pertama mereka, jadi melakukan sihir itu cukup mudah.
Alice menghela nafas lelah, lalu akhirnya tidur.
Beberapa hari berlalu dan Alice sudah mulai terbiasa dengan lingkungan barunya. Kakinya mematut-matut dengan irama pada bangku kayu di kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, menunggu profesornya yang datang terlambat. Suasana kelas cukup riuh, karena adanya penggabungan kelas antara asrama ular dan singa. Ini adalah yang kedua kalinya bagi Alice, yang pertama adalah kelas Transfigurasi.
Alice tersenyum ramah pada Marauders yang kini duduk sangat jauh darinya. Sirius melihat senyumannya dan langsung pasang raut tidak suka. Remus tersenyum—meski sepertinya itu senyuman terpaksa— Peter mengangguk pelan kearahnya dan James hanya menatapnya datar. Tidak terlalu mengejutkan bagi Alice, dia sudah bisa menduga kalau Remus menceritakan pembicaraan mereka beberapa hari yang lalu. Setelah kejadian itu, Alice tidak mencari masalah dengan mereka. Ada beberapa kesempatan saat dirinya berpapasan dengan Marauders, namun tidak ada yang terjadi. Hanya sebuah senyuman singkat dari kedua pihak, minus Sirius yang tetap bermuka sebal.
Alice menoleh ke belakang, dan mendapati Severus sedang membaca untuk membunuh waktu. Lama kelamaan dia mulai bosan juga, harus menunggu profesornya terlambat begini. Alice akhirnya memilih untuk duduk bersama Severus yang sendirian. Pemuda itu hanya melirik sebal saat Alice duduk tanpa izin di sebelahnya. Memang pada dasarnya bangku ini disusun dua-dua, sih.
Severus mendesah pelan, "Apa maumu kali ini? Selama tiga hari kau tidak henti-hentinya mengikuti—atau lebih tepat kukatakan, mengangguku." ujarnya menekan kata terakhir.
Alice mengerucutkan bibir, memulai akting kekanakannya, "Memang apa salahnya, sih? Kita berdua kan sudah menjadi target—"
"Magnabad—" geram Sev, kini menoleh dan menatap kesal pada gadis di sampingnya, "Sudah kubilang, mau kau menjadi target mereka pun, aku tidak perduli. Aku tidak ingin bekerja sama denganmu. Itu konyol. Berhenti mengangguku."
Alice mendengus, "Tapi akhir-akhir ini mereka tidak berbuat yang aneh-aneh padaku—atau padamu."
Buku di tangan Sev berbunyi saat pemuda itu menutupnya dengan kesal, "Lalu? Baguslah mereka tidak berbuat yang tidak-tidak. Sudah cukup, jangan ganggu aku." ujarnya kembali melahap bukunya.
Alice tidak berbicara lagi, dia hanya diam saja dan kembali melemparkan pandangan ke arah kwartet yang berada cukup jauh dari tempat duduknya dan Severus. Dia sedikit terkejut begitu melihat James yang menatap ke arahnya dengan tajam. Dia bahkan bisa melihat aura gelap keluar dari James. Tapi apa yang membuat lelaki Potter di ujung sana seperti itu, Alice sama sekali tidak tahu. James mendecih pelan dan memalingkan muka begitu menyadari Alice melihat ke arahnya.
Alice mengedikkan bahu tidak mengerti, tapi jelas dia menyadari ada sesuatu yang aneh baru saja terjadi.
Baru saja dia berpikir akan mati kebosanan, pintu kelas terbuka dan akhirnya profesor yang telat itu datang. Rasanya belasan menit terasa begitu lama. Profesor Filippe Blake datang dengan penampilan terlalu rapi, beberapa detik kemudian muncul seorang gadis berambut merah yang mengikutinya. Alice mengerutkan dahi—rambut merah panjang, apakah dia Lily Evans? Agak sulit melihat jelas wajahnya karena dia duduk di tempat paling belakang, apalagi matanya minus dua.
Alice melirik ke samping begitu sudut matanya menangkap gerakan Sev menutup bukunya.
"Apakah profesor itu memang selalu datang terlambat?" Alice mencoba membuka pembicaraan.
"Tidak, dia sangat jarang telat. Tapi jika dia terlambat, selalu terjadi hal yang menarik." jawab Sev tidak menoleh.
Alis gadis itu terangkat naik, "Menarik—seperti apa?" tanyanya terdengar penasaran.
Sev menoleh padanya, menyeringai, "Kau akan tahu." dia kembali menatap ke depan, profesor Blake sedang terlihat mempersiapkan sesuatu di mejanya. Sev tersenyum licik sebelum memulai lagi, "Aku senang dia terlambat pada kelas gabungan Slytherin-Gryffindor. Pasti akan terjadi sesuatu yang seru kali ini."
Alice tersenyum lebar, "Sepertinya kau akan melakukan sesuatu yang tidak terduga, Snape?"
Tawa sinis yang pelan keluar dari bibir Sev, "Entahlah, cara profesor Blake mengajar termasuk kategori berbahaya."
Gadis di sebelahnya mengerti arti tersembunyi dalam kalimat pemuda tadi, "Apa dia memperbolehkan murid-muridnya mempraktekkan kutukan? Really?"
Sev menaikkan alis sambil melirik lawan bicaranya, "Ya, kadang-kadang."
"I see. Aku tidak sabar dengan kejutannya." Alice tersenyum tertarik.
Seluruh perhatian di kelas terarah pada profesor Blake ketika pria paruh baya itu berdeham cukup nyaring. Profesor Blake memperhatikan wajah-wajah muridnya dan tersenyum misterius. Alice melirik Sev yang tubuhnya sedikit menegang sambil menyeringai. Sepertinya pemuda itu sangat menanti-nantikan pelajaran kali ini.
Profesor Blake mengakhiri senyum misteriusnya yang membuat murid-muridnya penasaran, beberapa bahkan berwajah cemas. "Hari ini, kita akan belajar di luar ruangan. Tidak ada yang bertanya dan segera ikuti aku."
Murid-murid dengan berbisik-bisik mengikuti profesornya ke luar ruangan. Mereka dibawa melewati tangga besar yang menuju lapangan luas di luar kastil. Sebagian dari kumpulan singa pemberani terlihat bersemangat, naluri mereka bisa tahu akan ada pelajaran yang menantang. Alice kembali menoleh pada pemuda suram di sebelahnya dan tersenyum begitu melihat Sev menyeringai bersemangat. Perasaan Sev sangat membuncah saat ini dan Alice bisa merasakannya.
Dulu, dia juga seperti itu, sih. Makanya Alice bisa mengerti.
"Padahal langit sangat cerah begini, masa mau dinodai dengan kutukan?" Alice menghela nafas, pura-pura tidak bersemangat.
Sev melirik padanya sinis, "Kalimatmu tadi itu sangat ambigu."
Alice tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya jahil, "Oh ayolah, tadi aku cuma bercanda."
Sev hanya mendengus pelan sebagai balasan. Alice mengedikkan bahu.
Profesor Blake berdeham, "Hari ini, kita akan mempraktekkan double duelling. Pilihlah seseorang dari asrama yang sama sebagai partner, lalu buatlah barisan sesuai dengan asrama kalian. Bagi pasangan yang menang sampai akhir, bisa melawanku dan murid kesayanganku ini." jelasnya sambil menepuk pelan pundak seorang gadis berambut merah panjang di sampingnya.
Para murid langsung riuh sambil mencari-cari pasangannya. Hampir semua dari mereka berwajah sumringah membayangkan pertarungan. Kelompok anak-anak ular tersenyum licik pada kelompok singa muda yang balas menatap mereka lapar. Oh, sekarang Alice mengerti apa yang dimaksud Severus dengan 'menarik'.
Tidak butuh waktu lama bagi Alice untuk mencari partnernya, dia sudah ada di sebelahnya sedari tadi. Alice memegang lengan Sev begitu melihat pemuda itu akan menjauh darinya. Ternyata Sev bisa menebak Alice akan mengajaknya.
"Jangan kabur." Alice mengeratkan pegangan, "Ayolah~ pleaasee?" pintanya dengan suara manja.
Severus mengerutkan dahi padanya, lalu melemparkan pandangan ke sekeliling. Tadinya dia mau mengajak Malverick atau Avery, tapi keduanya sudah mendapat partner masing-masing. Sev kembali menatap Alice yang memandangnya seperti anak anjing. Dia mendesah pelan dan memijit batang hidungnya, pusing. Sedikit berpikir kenapa dia mendapat cobaan seperti ini.
Merlin, selain diganggu oleh seorang pemuda dari asrama singa, ternyata dia juga diganggu oleh seorang gadis dari asrama yang sama dengannya.
Alice tersenyum lebar saat mengerti 'gerakan pasrah' Sev. Dia melepas pegangannya, "Sebuah kesempatan yang bagus, bukan?"
Sev tetap memasang wajah muram. Kenapa dia harus berpasangan dengan gadis cilik di sampingnya ini? "Kau merusak mood-ku." desisnya galak.
Alice tertawa kecil, "Jangan galak begitu. Lihat." jarinya menunjuk ke arah kelompok asrama singa, "Sasaran empuk di depan mata."
Sev memandang arah yang ditunjuk Alice. Tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan licik, "Ha. Aku sudah menduga mereka akan berpasangan begitu."
Bibir Alice ikut melengkung, menatap dua pasangan yang tidak berada jauh di sebrang mereka berdua. Remus berpasangan dengan Peter, dan James berpasangan dengan Sirius. Sebenarnya Remus-Peter bukan targetnya, tapi Alice bisa melihat tatapan menusuk Severus begitu melihat duo pentolan Marauders itu.
"Aksi balas dendam?" tanya gadis di sebelahnya.
Sev menyeringai, "Entahlah, ini demi nilai. Aku hanya ingin mengalahkan mereka, Magnabad."
Alice tertawa lagi saat mendengar jawaban Sev yang tidak sesuai dengan seringai jahat yang menghias wajahnya itu. "Mengalahkan?" nada suara Alice terdengar sarkastik, "Menghancurkan, maksudmu?"
Sev menaikkan alis, seringaiannya makin lebar.
"Probably."
James dan Sirius tidak diragukan lagi telah maju ke jajaran final, mengalahkan setiap pasangan ular yang dihadapi, kecuali Alice dan Severus. Mereka belum dihadapkan dengan satu sama lain. Remus hampir dapat dikatakan seperti bertarung sendiri, dia mampu bertahan sambil melindungi Peter yang hanya memasang wajah takut sambil berdiri di belakang Remus. Setiap mereka bertarung, selalu ada teriakan Sirius yang kesal karena Peter yang tidak berguna dan teriakannya itu mengganggu konsentrasi Remus.
Sekarang hanya ada empat pasangan yang tersisa. Dua diantaranya yang mendapat poin paling banyak telah maju ke final dan sudah pasti akan saling bertanding. Mulciber-Avery dan Remus-Peter mendapat poin yang sama, dan mereka sedang bertanding untuk menentukan posisi juara ketiga.
"PETER!" teriak Remus menjerit khawatir pada partnernya, Peter, terjungkal ke belakang dengan keras karena terkena serangan duo Mulciber-Avery. Remus dengan tergopoh menghampiri temannya dan cekatan memasang perisai begitu Avery melancarkan mantra kembali ke arah mereka.
Mulciber tertawa mengejek, "Kau lawan yang cukup tangguh, Lupin, untuk maju hingga titik ini. Sayang temanmu itu tidak berguna!"
Anak-anak Slytherin ikut tertawa mengejek. Mereka yang berada di sebelah kiri arena riuh menertawai kepencundangan salah satu anggota Marauders itu. Berbanding terbalik dengan kelompok di sebelah kanan, anak-anak singa menatap mereka buas. Bahkan singa yang berambut hitam keriting sempat mengacungkan tongkat, namun tongkatnya keburu diambil oleh sang profesor.
Severus dan Alice hanya diam saat orang-orang di sekeliling mereka sedang sibuk tertawa.
Profesor Blake maju dan berdiri diantara kedua duo petarung. Tangan kirinya mengarah ke pasangan Slytherin, "Pemenangnya adalah Mulciber-Avery. Dengan begini, hanya ada dua pasang yang tersisa." jelasnya, menyudahi pertandingan.
Kedua kelompok bertepuk tangan, hanya saja tepuk tangan yang berasal di sebelah kiri arena lebih keras. Sirius yang kesal langsung mengomeli Peter yang dibela oleh Remus begitu kedua anak singa itu kembali ke kelompoknya. James berusaha menenangkan partner garangnya itu dan mengingatkannya kalau ada lawan berbahaya yang akan mereka hadapi.
.
.
.
Profesor Blake tidak menunda waktu lagi dan langsung memulai pertandingan selanjutnya. Sorakan dan teriakan dukungan dari kelompok Gryffindor mengisi udara saat James dan Sirius melangkah mantap ke dalam arena tanpa rasa takut dan percaya diri. Berbeda dengan yang terjadi di sebrang, tidak ada teriakan konyol dari arah kelompok Slytherin, namun anak-anak ular tersenyum licik begitu Severus dan Alice melangkah masuk ke dalam arena.
James memasang ekspresi waspada begitu Alice entah kenapa berjalan lebih dekat ke arahnya, padahal Severus sudah berhenti melangkah. Sirius juga melakukan hal yang sama. Keduanya diam, namun terkejut dan heran saat Alice melewati mereka berdua, berjalan dengan tenang menuju kandang singa. Semua mata tertuju pada gadis itu, bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan.
Tidak ada suara yang terdengar. Anak-anak singa sedang menahan nafas sambil kebingungan kenapa seorang gadis ular datang.
Alice tersenyum lembut pada Remus yang terkejut saat mata mereka bertemu. Gadis itu berhenti di hadapan dua pemuda yang baru saja selesai bertarung. Dia menatap pada lengan kanan Peter, "Kau tidak apa-apa, Peter?" tanyanya lembut dan khawatir.
Semua singa melotot setengah tidak percaya.
"Ti—tidak apa." jawab Peter, masih terkejut dengan sikap Alice.
Gadis itu berganti menatap Remus, "Kau tidak apa-apa?" tanyanya masih dengan nada lembut yang penuh kekhawatiran.
Remus tersenyum canggung, "Ya, tidak usah cemas."
Alice tersenyum tipis, dia mengeluarkan tongkatnya dan mengarahkannya pada lengan kanan Peter, "Jangan ditahan begitu, Peter. Nanti kau tidak bisa makan dan melakukan pekerjaan dengan benar, kecuali kalau kau kidal." dia tertawa kecil, lalu sebuah sinar hijau keemasan menyala di ujung tongkat sihirnya.
Seketika itu juga semua orang mengerti apa yang sedang dilakukan gadis ular itu di sana.
It's just that they can't understand how could a snake like her—
Remus sedikit tersentak begitu Alice dengan cepat mengarahkan tongkat sihirnya ke depan dadanya. Rasa hangat perlahan muncul di dadanya, lalu sensasinya menyebar ke seluruh tubuh. Alice tersenyum lembut kembali begitu melihat Remus yang memejamkan mata, menikmati rasa hangat yang menyelubunginya.
—being really kind to some young lions.
"Painful, isn't it?" tanyanya berbisik lirih. Remus kembali tersadar dan tidak tahu harus berkata apa saat melihat Alice tersenyum getir menatapnya.
"You must learn to share the pain, little one. After all, that's what friends are for, right?"
Cahaya sihir itu hilang dan Alice kembali tersenyum, kini senyuman ceria menghias wajahnya. "Nah, selesai. Tidak sakit lagi, kan? Sekarang aku masih harus bertanding, maaf soal anak dari kelompokku yang kasar, ya."
Alice memutar tubuhnya dan berjalan kembali masuk ke dalam arena. Dia mengangguk sambil melambai begitu mendengar Remus berterima kasih padanya. Tidak memperdulikan tatapan-tatapan heran di sekelilingnya, dia dengan tenang melewati dua pemuda pentolan asrama singa yang menjadi lawannya.
.
.
.
Dahi Lily Evans mengkerut bingung begitu menatap seorang gadis ular yang berjalan ke arah kandang penuh dengan singa. Lebih terkejut dan heran lagi saat gadis itu dengan tidak terduga menggunakan sihir untuk menyembuhkan dua anak singa di sana. Kedua matanya menatap curiga—apa sebenarnya yang sedang terjadi? Lily tahu dia adalah murid baru, tapi bukankah seharusnya Alicia-something itu sedang dalam kondisi buruk dengan empat pemuda konyol pentolan asrama singa? Lily pernah mendengar kejadian heboh saat murid baru itu melawan James dan anak buahnya saat di hari pertama dia masuk, karena itu seharusnya hubungan dia dan mereka sedang dalam kondisi tidak baik.
Tapi—yang barusan dilakukannya tadi bertolak belakang dengan apa yang dia pikirkan.
Lily sangat yakin saat Potter dan Black melangkah maju dengan menantang. Terlihat jelas di mata keduanya ada rasa marah ketika melihat gadis ular di hadapan mereka. Dia yakin sekali kalau dua orang itu membenci siapa-itu-namanya? Alicia-something? dan itu ada tatapan paling buas milik keduanya yang Lily pernah lihat.
Apa murid baru itu hubungannya hanya buruk dengan James dan Sirius, tapi tidak dengan Remus dan Peter?
Lily mendesah bingung.
Ternyata ada yang lebih menguras otak dari memikirkan seberapa keras kepalanya Potter.
.
.
.
tbc ya? hohoho
pertandingannya di chapter depan ya? atau mau flashback dulu? pembicaraannya Alice sama Dumbledore, trus masa lalunya kan belum ._.
anyway, sebenarnya saya matok waktu nggak lebih dari satu bulan lewat dua minggu/chapter, tapi untuk yang setelah ini kayaknya bakal lebih lama lagi updatenya….gomen ;_;)…saya harus menghadapi UN sebentar lagi orz maaf ya readers…puasin diri dulu sama ff lain aja dulu gih ya? banyak kok fic JPSS/SBRL yang bisa muasin hasrat /PLAK
mohon maaf bila ada kesalahan penulisan kata ya /sujud
Review ya? ;)
