Hwarang The Begining Fanfiction (BL vers)

Cast : Sunwoo (Park Seojoon), Jidwi (Park Hyunsik), Sooho (Choi Minho), Banryu (Do Jihan)

Dics : karakter bukan milik saya, tapi cerita ini asli milik saya nanodayo :v

Note : masuk epa 15 yah.. tentu saja dengan alur yang sidikit(banyak) berbeda :) OOC parah, typo bertebaran, alur maju mundur cantik :v

.

.

Mengandung konten Yaoi/Gay/Homo

HOMOPHOBIC JUST GO

.

DLDR

.

HAPPY READING

"Aku. Akulah Raja Silla !"

Semua yang ada disana tercengang kaget melihat Sunwoo. Terlebih lagi untuk Jidwi dan para Hwarang. Mereka sungguh tak percaya ini akan terjadi.

Setelah pengakuan itu, para tahanan diperintahkan oleh Pangeran untuk kembali ke penjara. Sedangkan Sunwoo mengikuti Pangeran menuju ruangannya. Namun sebelum Sunwoo pergi ia sempat menatap Jidwi, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.

Skip Time

Saat ini para Hwarang tengah duduk termenung di dalam tahanan. Suasana gelap dan sunyi menerpa mereka. Gelap karena penerangan ruangan itu hanya pelita dan sunyi karena tahanan rakyat dibedakan dengan mereka.

Jidwi duduk bersandar lesu, wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran yang amat ketara. Sedangkan Suho dan Banryu tengah sibuk dengan pertengkaran absurd mereka.

"Kita harus melakukan sesuatu. Dia bisa mati." Ujar Suho gusar sembari mondar-mandir disana.

"Apa kau benar-benar yakin dia Raja Silla? Dan juga, sejak kapan kau peduli orang lain selain aku?" Banryu membalas dengan nada tak suka.

"Ya tentu saja. Kalau dia nanti mati Ratu akan marah padaku, lalu Ratu tidak akan mempercayaiku lagi. Lalu setelah itu aku tidak akan melihat senyum manis Ratu lagi. Oh tidak itu buruk." Suho menjawab gusar tanpa merasakan aura yang dikeluarkan Banryu.

"Oh jadi Ratu sekarang mainanmu ya?" Banryu menyeringai kejam sembari berjalan mendekati Suho.

"Oh eh? Anu sayang, maksudnya bukan begitu. Hehe aku bercanda." Suho yang baru sadar apa yang diucapkannya tadi hanya mundur perlahan menjauhi Banryu.

"Baguslah jika kau bercanda. Karena kalau kau serius ucapkan selamat tinggal pada pusakamu sayanghh.. eunghh." Banryu berbisik mesra disertai desahan tepat ditelinga Suho. Tangan Banryu juga mengelus lembut selangkangan Suho. Suho yang telah terpojok didinding hanya menelan ludah gugup menatap Banryu. Ia bersumpah desahan Banryu sangat menggoda, namun sekarang bukannya terangsang malah Suho ketakutan setengah mati menghadapi Banryu yang begini.

"Hehe mian sayang. Sebaiknya kau duduk, capek kan berdiri sayang." Suho terkekeh paksa.

Untungnya Banryu menuruti Suho tanpa pikir panjang lalu duduk disamping Jidwi yang tampak tak mengindahkan kehadirannya dan Suho. Banryu pun menepuk pundak Jidwi memberi semangat.

"Aku benci mengatakan ini. Tapi percayalah, dia akan baik-baik saja. Kaeserangmu itu lebih kuat dari yang kau bayangkan." Ujar Banryu datar.

"Aku tahu. Terima kasih Banryu." Jidwi merespon singkat sembari tersenyum kecil.

"Wow sayang, kau sudah akrab dengan Jidwi? Insting uke ya? Hahaha." Mulut ember Suho kembali menyerocos walaupun tadi sempat dibuat bungkam oleh Banryu.

"Diamlah atau pusakamu ku musnahkan sekarang." Balas Banryu dengan wajah memerah sembari menarik Suho untuk duduk disampingnya.

"Jangan bersuara lagi." Lanjut Banryu setelah Suho duduk disampingnya. Sedangkan Suho hanya mengangguk takut dan memeluk Banryu tanpa suara.

Jidwi yang melihat pasangan disampingnya tersenyum kecil. Setidaknya ia tak sendirian, ada Banryu dan Suho yang menemani serta menghiburnya dengan tingkah absurd mereka.

Sangat lama mereka menanti Sunwoo. Jidwi sudah gelisah sedari tadi. Bahkan Suho sudah jatuh tertidur dibahu Banryu.

Namun tak lama setelah itu suara hentakan kaki terdengar. Jidwi segera berdiri setelah melihat Sunwoo yang dikawal oleh prajurit dan jenderal dari Pangeran.

"Besok pagi akan dimulai. Pastikan tubuhmu sehat kala itu." Ujar Jenderal Pangeran kepada Sunwoo setelah memasuki penjara. Lalu ia menguncinya rapat. Dan setelah itu mereka pergi meninggalkan Hwarang.

Jidwi yang sejak tadi sudah diam segera memeluk Sunwoo dan bertanya banyak hal.

"Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Jidwi bertanya cepat sembari memeriksa tubuh Sunwoo.

"Semua baik-baik saja sayang. Tenanglah." Sunwoo berujar santai sembari membawa Jidwi untuk duduk. Ia duduk bersandar dengan kaki terbuka berselonjor lalu menarik Jidwi untuk duduk diantara pahanya. Kemudian ia memeluk Jidwi dari belakang.

"Apa maksudmu? Jelaskan padaku mengapa kau mengaku Raja? Lalu apa yang membuatmu lama sekali kemari?" Jidwi memutar badannya menghadap Sunwoo dwngan mulutnya yang tak henti bertanya kepada Sunwoo.

Sunwoo terkekeh pelan, namun tetap menjawab pertanyaan itu.

"Tentu saja aku harus melindungi adikku." Sunwoo berkata santai sembari mengelus rambut Jidwi.

"Juga melindungimu." Lanjut Sunwoo berbisik di telinga Jidwi.

"Kau membuatku takut." Jidwi langsung memeluk leher Sunwoo erat. Wajahnya ia benamkan pada leher Sunwoo.

"Hahaha sejak kapan pria dingin seperti mu takut?" Sunwoo bertanya jenaka sembari memeluk pinggang Jidwi.

"Lupakan. Lalu apa yang Pangeran itu katakan padamu tadi? Jawab aku dengan jujur." Jidwi melepaskan pelukan mereka lalu mengeluarkan perintah mutlak khasnya.

"Baiklah baiklah." Sunwoo sempat mencuri ciuman dibibir Jidwi lalu melanjutkan ceritanya.

"Ia menginginkan pertarungan satu lawan satu. Yaitu aku dan dia. Tenang saja aku aka. Menang sayang." Sunwoo berkata lembut saat dilihatnya wajah Jidwi memerah marah.

"Jika aku menang maka kita berserta tahanan lain akan dipulangkan." Sunwoo kembali berucap.

"Jadi kau benar-benar Raja?" Entah sejak kapan Suho bangun dan mendengarkan cerita Sunwoo.

"Astaga kau membuatku kaget." Sunwoo berkata setelah menarik napas dalam karena kaget akan Suho.

"Tapi kau bisa menganggapnya begitu selama kita belum pulang." Sunwoo berujar lagi.

"Apa kau yakin akan menang? Kau tahu keahlian pedangmu tidaklah sehebat itu." Kali ini Banryu yang mengeluarkan suaranya.

"Aku harus menang. Karena banyak yang akan kulindungi." Ujar Sunwoo sembari menatap Jidwi penuh cinta.

Jidwi yang ditatap seperti itu hanya menunduk malu. Tangan Sunwoo bergerak mengangkat dagu Jidwi. Menatap bola mata indah Jidwi. Lalu mendaratkan bibir nya diatas bibir Jidwi.

Sunwoo bergerak melumat lembut bibir Jidwi. Tangan Sunwoo kembali memeluk erat pinggang ramping Jidwi.

"Eumhh.." Jidwi mendesah pelan ketika lidah nakal Sunwoo memaksa menerobos kedua belah bibirnya. Laku lidah itu menyapa lidahnya untuk diajak bermain.

Sedangkan tangan Jidwi kembali memeluk erat leher Sunwoo. Mereka terus berciuman tanpa menghiraukan kedua pasanga mata lain disana yang tengah menonton mereka.

Glup

Suho menelan ludah gugup. Ia ingin seperti itu juga bersama Banban nya.

"Sayang, aku-"

"Tidak. Tidurlah atau pusakamu cedera." Belum sempat Suho menyelesaikan ucapannya, Banryu sudah menyela dan mengancamnya.

Melihat itu Suho kembali mengangguk takut. Ia pun hanya bisa bersandar lalu memeluk Banryu manja. Untung saja Banban nya masih mau dipeluk olehnya. Namun ia tetap tak bisa kembali tidur. Ia ingin bibir. Banban nya. Poor Suho :v

Banryu yang melihat Suho gelisah hanya menghela nafas lelah. Ia tahu Suho tak akan kembali tidur selama belum mendapatkan bibirnya. Untuk kali ini pun Banryu merasa harus mengalah.

Banryu mendongakkan kepalanya untuk menatap Suho. Lalu membawa wajah Suho mendekat padanya.

Cup cup

"Sudah cukup kan? Sekarang tidurlah." Banryu mengecup bibir Suho, lalu berpindah ke kening Suho.

"Hehe gomawo sayang." Suho pun membalas mencium bibir dan kening Banryu. Lalu memeluk erat Banryu dan memejamkan matanya.

Beralih kepada pasangan Sunwoo dan Jidwi. Mereka sudah tidak lagi ciuman. Namun sekarang mereka tampak menatap satu sama lain dengan penuh cinta. Poaisi mereka berhadapan dengan dahi yang beradu.

"Apapun yang terjadi kau harus menang." Jidwi berujar pelan sembari mengelus pipi Sunwoo.

"Iya iya sayang. Nah sekarang ayo tidur. Jangan sampai kau kelelahan besok dan tidak melihatku berperang." Sunwoo mengecup bibir Jidwi lalu mengubah posisi Jidwi kembali menjadi membelakanginya sehingga dapat dipeluk dari belakang oleh Sunwoo.

"Yang berkata seperti itu harusnya aku." Ujar Jidwi mengelus pipi Sunwoo lalu menyentuh tangan Sunwoo yang tengah melingkar diperutnya.

"Ah aku lupa sesuatu.." Ujar Sunwoo tiba-tiba.

"Apa it- eunghh.."

Ah ternyata Sunwoo tengah mengerjai leher Jidwi. Membuat tanda baru disana.

"Janganh terlalu ketara euhh.." Jidwi kembali berucap susah payah akibat titik sensitif dilehernya dikerjai oleh Sunwoo. Tangan Jidwi mencengkram erat tangan Sunwoo yang berada dilehernya.

Sedangkan Sunwoo tak memperdulikan Jidwi. Ia tetap sibuk dengan kegiatannya.

"Sudahh sudah. Kau harus tidur." Jidwi menolak pelan kepala Sunwoo.

"Setelah semua selesai kita lanjutkan dengan bebas." Jidwi membujuk Sunwoo yang kini tengah memasang wajah merajuknya.

"Baik baik. Kau menang sayang." Sunwoo merajuk lucu.

Tak lama mereka pun tidur dengan nyamannya.

Skip Time

Esok paginya Sunwoo tenga bersiap untuk berperang. Ia memeriksa perlengkapan nya.

"Ini pertarungan konyol. Masih ada waktu untuk menyerah." Suho berucap.

"Ini lebih baik dari pada diam tak berbuat apa-apa." Sunwoo menjawab percaya diri.

Sunwoo pun berjalan mendekati Jidwi yang masih terduduk diam. Sunwoo mengecup dahi, mata, pipi hingga bibir Jidwi secara bergantian.

"Aku akan baik-baik saja. Aku akan menang." Sunwoo meyakinkan Jidwi. Namun Jidwi hanga menatap Sunwoo dengan pandangan memohon.

Sunwoo mengacak rambut Jidwi sembari tersenyum lembut. Lalu Sunwoo kembali berjalan mendekati Suho.

"Jaga dia selama aku berperang."

"Tentu." Suho menjawab mantap.

Lalu bertepatan setelah itu para pengawal masuk. Lalu membukakan pintu tahanan dan membawa Sunwoo.

"Jangan mati." Jidwi berucap tiba-tiba.

Sunwoo menoleh dan menatap Jidwi dengan senyuman menenangkan. Lalu ia kembali melanjutkan jalannya menuju luar.

Skip Time

Kini seluruhnya telah berkumpul di lapangan istana. Baik itu tahanan, Hwarang, maupun rakyat Baekje. Mereka berkumpul untuk melihat pertarungan Pangeran Chang dengan Raja Silla.

Pangeran beserta Sunwoo telah berdiri ditengah-tengah perkumpulan itu. Mereka bertatapan tajam layaknya setajam pedang mereka.

"Aku adalah Putra Mahkota Baekje. Chang imnida." Pangeran memperkenalkan diri dengan tegas yang disambut siraak gembira rakyat Baekje.

"Sudah tahu." Sunwoo menjawab menyebalkan.

Pangeran Chang menggeram marah melihat Sunwoo.

"Ck anak itu." Jidwi berdecak kesal melihat tingkah menyebalkan Sunwoo.

"Kita akan bertarung sesuai kesepakatan." Ucap Pangeran sembari menundukkan kepalanya kepada Sunwoo. Yang dibalas langsung oleh Sunwoo.

Dengan itu mereka memulai pertarungannya. Masing-masing dari mereka mulai menarik pedangnya. Dan pertarungan pun dimulai.

Mereka bertarung gesit. Sayatan pedang pertama kedua dan ketiga di berikan Pangeran kepada Sunwoo. Sunwoo kalah gesit saat memainkan pedang.

Setiap sayatan yang diberikan Pangeran kepada Sunwoo, setiap itu pula Jidwi gelisah dan tak hentinya menatap Sunwoo.

Namun pada ayunan pedang berikutnya, Sunwoo berhasil melukai lengan Pangeran.

Setelah cukup lama, mereka sama-sama babak belur. Namun Sunwoo masih bisa membalas dengan tangan kosong. Hingga Pangeran terbaring tak berdaya.

"Kau mengakui kalah?" Sunwoo mengacungkan pedangnya ke leher Pangeran.

Pangeran hanya mengangguk pelan. Sunwoo yang melihat itu menarik kembali pedangnya.

Lalu para prajurit membantu Pangeran berdiri.

"Sesuai janjiku. Kalian bebas. Lalu Baekje serta Silla resmi berdamai." Titah Pangeran.

Para tahanan pun bersorak gembira. Jidwi pun tersenyum lega dibuatnya.

Skip Time

Setelah pertarungan usai, Jidwi segera menghampiri Sunwoo. Lalu membawanya pergi dari sana, setelah sebelumnya Sunwoo berbincang dengan adiknya.

Jidwi membawa Sunwoo ke tempat pemandian kerajaan. Tanpa berkata apa-apa Jidwi memeriksa luka Sunwoo.

Dengan telaten Jidwi membilas luka dilengan Sunwoo.

"Ouchh perih sayang." Sunwoo merintih pelan.

Jidwi hanya diam dengan tetap membersihkan sisa darah di lengan Sunwoo. Lalu membalutnya dengan kain bersih.

"Buka celanamu." Perintah Jidwi mutlak.

"Eh untuk apa? Apa kita akan melakukannya disini?" Sunwoo bertanya dengan mata berbinar.

Dengan kesal Jidwi menepuk paha Sunwoo yang terkena sayatan pedang Pangeran tadi.

"Oichh sakit sayang. Santai saja jangan marah begitu." Sunwoo meringis pelan sembari tetap memubuka celananya. Menyisakan celana pendeknya.

Jidwi pun kembali membersihkan luka itu dengan perlahan dan telaten. Terkadang iya juga meniup luka Sunwoo untuk mengurangi rasa sakitnya.

Sedangkan Sunwoo hanya tersenyum melihat Jidwi.

Setelahnya Jidwi membalut luka itu. Lalu mengelusnya lembut. Sejurus kemudian Jidwi menatap Sunwoo tajam.

Sunwoo yang ditatap seperti ith hanya menggaruk kepalanya bingung dan canggung. Ia tahu Jidwi akan memarahinya setelah ini. Namun,

Hup

Ternyata Jidwi memeluk Sunwoo erat.

"Kukira aku akan kehilanganmu." Ucap Jidwi pelan. Ia mengeratkan pelukannya pada leher Jidwi.

"Aku kembali sayang. Untukmu." Sunwoo membalas pelukan Jidwi tak kalah erat. Ia menyadari betapa tadi ia membuat kekasihnya amat khawatir dan takut. Namun semua berjalan lancar. Sunwoo bisa kembali merasakan pelukan hangat kekasihnya.

Skip Time

Setelah berpamitan, mereka pun kembali untuk menuju Silla. Mereka pulang dengan membawa kebahagiaan.

Namun apa yang terjadi, sampai memasuki perbatasan Silla ternyata Pangeran kembali memburu mereka. Tentu saja alasannya karena Pangeran masih tak terima kalah saat itu.

Sunwoo sempat kembali panik karena mereka kalah jumlah saat berperang. Namun untunglah disaat yang sama Tuan Wi Hwa datang tepat waktu. Ia yang saat itu sekuda bersama Jidwi dapat bernafas lega.

Hingga akhirnya Pangeran Baekje kembali pulang daripada mengambil resiko. Begitu pula mereka kembali pulang. Para Hwarang yang dibawa Tuan WiHwa mengawal rakyat hingga sampai dikawasan kerajaan.

Sunwoo melambatkan laju kuda mereka. Dan itu membuat Jidwi heran.

"Ada apa? Apa lukamu sakit? Biar aku yang memegang kendali kuda ini." Jidwi berkata khawatir.

Namun Sunwoo hanya menggeleng lalu memeluk Jidwi dari belakang. Menaruh dagunya dipundak Jidwi.

"Aku merindukanmu." Sunwoo berkata manja.

"Bukankah kita bersama saat ini?" Jidwi menjawab dengan kekehan pelan sembari mengelua pipi Sunwoo.

"Hm iyaa. Aku tak ingin cepat-cepat pulang. Aku masih ingin berdua denganmu."

"Sebaiknya kita cepat. Jangan membuat Ibuku msemakin marah dengan terlambatnya kita. Entah apa nanti yang akan dilakukan Ibu padamu." Jidwi berkata demikian sembari mengecup pipi Sunwoo sayang.

"Hm aku tahu. Tak usah dipikirkan itu. Aku dan kau akan baik-baik saja sayang." Sunwoo berujar lembut sembari mengecup bibir Jidwi.

Skip Time

Mereka kembali ke rumah Hwarang. Semua Hwarang masih tengah makan malam. Namun tidak dengan Jidwi dan Sunwoo, setelah makan tadi mereka berjalan menuju koridor belakang rumah Hwarang yang sepi. Tak ada yang kesana saat malam karena gelap. Namun itu lah yang diincar oleh mereka.

Mereka berpelukan di tengah koridor. Berbagi kehangatan satu sama lain.

"Saranghae. Saranghamnida." Sunwoo berucap mesra sembari memeluk pinggang Jidwi.

"Nado. Nado saranghamnida." Balas Jidwi tak kalah mesra sembari memeluk leher Sunwoo erat.

Wajah mereka terlampau dekat, hingga masing-masing dapat merasakan deru nafasnya. Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman panas yang menggairahkan.

Sunwoo melumat bibir Jidwi seakan tak ada hari esok untuk mencicipi bibir manis itu. Sedangkan Jidwi terlihat kesusahan mengimbangi permainan bibir nakal sang kekasih.

"Dor !" Seseorang berteriak sembari menepuk bahu Jidwi. Sontak membuat Jidwi kaget dan kembali menggigit bibir Sunwoo tak sengaja.

"Aarghhh appo.." Sunwoo meringis perih dan segera melepas pelukannya dan mengipasi bibirnya yang terasa perih dan panas.

"Gyahahaha." Gelak tawa Suho terdengar.

"Jadi kau yang membuatku kaget hah?" Jidwi berkata galak kepada Suho. Ia ingin kembali memarahi Suho namun ia urungkan ketika mendengar rintihan Sunwoo.

"Sakit? Maafkan aku." Jidwi berkata menyesal sembari menjilat darah yang keluar dari bibir Sunwoo.

"Kau terlalu berisik. Lihat akibat perbuatanmu." Banryu yang berada disamping Suho berkata datar.

"Hehe maaf. Aku dalam keadaan antara sengaja dan tak sengaja tadi." Suho mengatakan alasan konyol.

"Sudah tak apa sayang." Sunwoo menyakinkan Jidwi. Laku Sunwoo menatap Suho tajam.

"Ini yang kesekian kalinga kau mengikuti kami dan menggangu. Apa masalahmu?" Sunwoo mengeluarkan aura hitam dan berkata tajam pada Suho.

"Eh eh santai kawan. Aku juga butuh tempat sepi untuk menikmati Banban ku." Tepat setelah berkata seperti itu Banryu menginjak kaki Suho kuat.

"Hati-hati dengan ucapanmu atau pusakanmu taruhannya." Banryu berkata tajam dan meninggalkan Suho disitu.

"Kyaa. Sayang jabgan marah. Aku hanya bercanda." Sontak Suho mengejar Banryu dan meninggalkan SunJi yang kembali cengo.

"Yak kembali kau Kim Suho !" Teriak Sunwoo kesal.

"Sudah sudah. Kemari." Jidwi menenangkan Sunwoo dan menariknya untuk duduk ditepi sambil menatap kolam disana.

"Jangan berteriak. Kau akan mengundang yang lain kemari." Jidwi berkata lembut.

"Mereka itu menyebalkan. Terutama si Suho itu. Sakit. Sayangkuuuu." Sunwoo merengek manja.

Jidwi yang melihag itu tersenyum kecil. Ia pun dengan segera mencium bibir Sunwoo. Menghisap dan menjilat bibir Suho yang tadi ia gigit. Ia merasa dejavu saat melakukan ini. Baru kemarin rasanya ia mengobati bibir Sunwoo dengan cara ini, sekarang malah ia lakukan lagi. Dan penyebabnya pun sama, yaitu oleh pasangan absurd tadi.

Mereka menikmati kemesraan itu hingga tengah malam. Entah apa yang terjadi besok mereka tak peduli. Yang terpenting kini mereka dapat bersama lagi. Itu sudah lebi dari cukup.

.

.

.

.

.

.

End for this chap~

Gomen update telat. Joy baru selesai nonton eps 15 tadi dan langsung nulis ini..

Maaf kalau banyak typo.. Joy Cuma koreksi sekali doang tadi..

Oh iya Joy ga balas review chap kemarin, tapi Joy udah baca semua review ko.. Joy hargai semua review nya.. semoga readers suka sama chap ini dan Joy sebisa mungkin bikin chap ini ga membosankan..

Semoga suka sama chap ini ya.. review ya