A/N:

Terima kasih untuk yang sudah berkenan memberikan review baik itu saran atau kritik, terima kasih untuk yang sudah mem-fav atau follow

Mohon maaf belum bisa membalas satu per satu

Maaf juga saya lama update. Beberapa hari lalu mengerjakan project LN bersama Kimono'z.

Judulnya Marry Sunshine, bercerita tentang Naruto dan Hinata juga tentunya. Sekalian promo ya hehehe ...

Barangkali ada yang berminat LNnya silakan PM Nai XD.


Disclaimer:

Naruto dan segala karakter yang saya pinjam di fic ini adalah milik Masashi Kishimoto

Cerita ini milik saya


WARNING!

Konten dewasa!

Untuk yang merasa masih anak-anak, atau remaja belum cukup umur, atau orang dewasa yang memiliki hasrat tinggi dan belum memiliki penyaluran yang halal, silakan pergi jauh-jauh ya

Tidak ada nilai moral yang bisa Anda ambil dari fic ini kecuali Anda telah dewasa dan mampu berpikir jernih!

Jangan memaksa ya ...


ForgetMeNot09

presents

.

.

.

ENDLESS LUST

.

.

.


Part 4

Hinata berjalan tergesa-gesa. Pasalnya ia sudah terlambat dari waktu yang ia janjikan kepada Karin. Padahal, ia sudah mempersiapkan diri sejak siang hari. Bukannya antusias, Hinata hanya malas melakukan segala sesuatu dalam waktu yang mepet hingga memaksa dirinya untuk terburu-buru. Biasanya jika seperti itu, ada saja satu hal yang lupa ia kerjakan, atau minimal salah.

Ia sudah menyetrika baju yang akan dipakai, menggantungnya di balik pintu kamar dan memasang alarm untuk berjaga-jaga. Namun nyatanya semua itu seperti tidak berarti. Kalau sudah menghabiskan waktu dengan Hinami, ia seakan lupa akan semuanya.

"Ya Tuhan."

Hinata mengeluh. Ia mendongak menatap langit yang tertutup mendung. Sialnya, hujan mulai turun cukup deras. Wanita itu menepi, mengambil payung lipat dari tas selempangnya dan melanjutkan berjalan. Dalam hati ia berdoa semoga saja hujan tidak semakin deras.

Kaki-kaki jenjangnya menapak cepat. Memasuki sebuah jalan sempit yang menurutnya merupakan jalan pintas untuk menuju apartemen Karin. Lokasi apartemen itu sulit diakses dengan angkutan umum, itu sebabnya Hinata memilih berjalan kaki.

Mobil?

Hinata menggeleng. Sudah lama mobilnya ia jual. Beberapa tahun lalu saat ia berada dalam kondisi terpuruk, tak ada penghasilan sama sekali, dan ia harus menghidupi diri sendiri dan Hinami. Mendadak Hinata menangis. Ia menitikkan air mata. Ia menatap langit jauh di depan. Ufuknya terlihat begitu gelap, segelap keadaan rumah tangganya saat itu.

"Ya Tuhan, mengapa aku harus kembali teringat akan kenangan pahit itu?"

Ia bergumam dan dengan cepat menghapus air mata. Bibirnya memasang senyuman sendu.

"Setidaknya aku masih punya Hinami," pikirnya.

Hinata kembali mempercepat langkah. Sedikit merasa mengantuk. Maklum saja, beberapa hari ini ia mulai bekerja membantu Neji untuk mengumpulkan informasi dan data sebanyak mungkin tentang seorang pria bernama Naruto. Hinata berkeliling dari satu tempat hiburan ke tempat hiburan lain, dari satu komplek perumahan ke komplek lain, bahkan dari rumah salah seorang korban pemerkosaan Naruto ke rumah korban yang lain. Itu semua ia tempuh dengan kendaraan umum dan sisanya jalan kaki. Wajar saja jika sekarang ia merasakan sakit di bagian paha dan betisnya.

Sayangnya, sejauh ini ia bergerak, belum satu pun informasi penting yang ia dapatkan. Di tempat hiburan, ia sama sekali tidak mendapatkan informasi apa pun tentang orang itu. Di komplek perumahan juga ia nyaris tak mendapatkan informasi. Hanya beberapa orang yang mengaku kenal dengan Naruto, dan gilanya, saat Hinata bertanya di mana mereka mengenal pria itu, mereka memberika jawaban sama.

"Belakangan ini dia sering muncul di televisi."

Jawaban yang sungguh membuat Hinata tercengang. Wanita itu hanya bisa pasrah. Ia mengangguk dan berlalu pergi.

Kakinya terhenti tepat di sebuah apartemen mewah. Apartemen dengan warna dinding merah bata, menjulang setinggi enam lantai. Hinata berdecak kagum. Padahal pekerjaan Karin tak jauh berbeda dengan dirinya, pun gaji mereka berdua bisa dikatakan sama. Namun, wanita Uzumaki itu mampu membayar biaya apartemen semewah ini?

Mungkin ia anak orang kaya yang mendapatkan warisan sekian banyak hingga tak pernah habis tujuh turunan. Hinata tertawa dalam hati. Menertawakan pikirannya yang konyol.

Perlahan ia melangkah menuju pintu apartemen, sedikit berjinjit karena khawatir terkena cipratan air yang dihasilkan oleh tapak kakinya. Sampai di depan pintu apartemen, ternyata Karin sudah menunggunya. Wanita berambut merah itu terlihat antusias. Heran, padahal Hinata sendiri merasa biasa saja. Namun, tidak ingin melukai perasaan Karin, Hinata tersenyum.

"Terima kasih Hinata, kau mau datang kemari. Ayo kita naik ke apartemenku."

Hinata mengangguk. Mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai dua. Sebelum pintu lift terbuka, Karin berhenti.

"Aduh, Hinata, aku lupa membeli sabun. Aku ke supermarket di seberang dulu ya, kamu masuk saja dulu."

"Ta-tapi ..."

Karin mendoroong tubuh Hinata masuk ke lift yang pintunya terbuka sembari memberikan kartu sebagai kunci masuk ke apartemen. Hinata yang tidak bisa menolak, terpaksa menurut.

Keluar dari lift ia sibuk mencari-cari. Matanya berbinar senang ketika melihat sebuah nomor yang cocok dengan nomor yang tertulis di kartu dalam genggamannya.

Ia masuk ke dalam apartemen tersebut. Awalnya ia tak bisa melihat apa pun. Semuanya tampak gelap. Hinata meraba-raba dinding di dekat pintu dan berhasil menyalakan saklar lampu. Ia tercengang. Ruang depan tidak terlalu luas, tetapi penataan yang baik mampu memperlihatkan sisi elegan dari ruang tersebut. Sebuah sofa merah menyala berada di bagian tengah dengan meja kaca yang cukup kecil dihadapannya. Warnanya mengingatkan Hinata pada rambut Karin. Hinata tersenyum dan berjalan masuk. Ia mendudukkan diri di atas sofa tersebut kemudian bersandar. Rasanya melelahkan berjalan dari rumah tinggalnya ke apartemen ini. Wanita itu mengatur napasnya yang terasa berat seraya memejamkan mata.

Sejenak berlalu, telinganya menangkap sebuah suara. Seperti suara barang berat berdebum ke lantai. Merasa penasaran, Hinata berjalan mengendap-endap sampai dekat pintu kamar. Ia menempelkan telinganya ke daun pintu. Suara gemerisik tertangkap pendengarannya.

Tiba-tiba saja Hinata merasa gugup dan sedikit takut. Bagaimana jika yang ada di dalam bukanlah tikus seperti perkiraannya sejak awal melainkan pencuri atau bahkan psikopat?

"Tidak ... tidak ...," ia bergumam meyakinkan diri sendiri.

Tangannya memegang kenop pintu dan memutarnya. Ketika berhasil membuka pintu, suara-suara aneh itu mendadak lenyap. Suasana kamar yang gelap memaksa Hinata memincingkan mata untuk menajamkan penglihatannya. Wanita itu berjalan ke tengah ruangan, mengedarkan pandangannya dan tak menemukan satu pun perkara yang ganjil. Sambil menghela napas lega, Hinata berbalik. Niatnya berjalan keluar kamar mendadak terhenti saat tubuhnya terdorong paksa ke belakang. Hinata berteriak. Tubuhnya menghempas, membentur tepian ranjang.

"Ah ...," ia mengerang kesakitan. Matanya terpejam erat berusaha meredam rasa sakit di bagian punggung.

Belum cukup kesadarannya kembali, Hinata mendengar suara kain yang dirobek. Sontak ia membelalakkan mata. Ametisnya membulat melihat siluet pria yang sangat ia kenal.

"Deidara-san?"

"Hai, Hinata."

Seringai di bibir pria pirang itu cukup memberitahu Hinata untuk segera bertindak. Namun terlambat, ia sadar tubuhnya sudah berada dalam kekangan kuat laki-laki itu. Kedua tangannya terangkat dan tertahan oleh tangan Deidara. Pun kedua kakinya yang tertahan lutut kekar Deidara.

"Apa yang kau lakukan?"

Pria itu mengabaikan pertanyaannya. Ia tampak sibuk mengencangkan kekangan di setiap titik terkuat Hinata. Hinata menitikkan air mata. Deidara sepertinya tahu benar di mana letak kelemahannya. Kedua tangan dan kaki saat ini tak mampu ia gerakkan. Mendadak Hinata menyesali keputusannya dulu yang memilih mengurangi jadwal latihan beladirinya.

Sementara Deidara tertawa puas, seakan sesuatu yang ia inginkan selama ini akhirnya bisa ia dapatkan. Pria itu menciumi pipi halus Hinata, merunut hingga di lapis bibirnya. Dengan rakus Deidara menciumi bibir Hinata, lidahnya mendorong memaksa masuk tetapi Hinata bergeming. Dalam keadaan seperti itu Deidara kalut, semakin ia mendorong semakin Hinata bertahan. Sampai pada laki-laki itu menggigit ganas bibir ranum sang wanita. Hinata yang mengaduh terpaksa membuka sedikit celah yang dimanfaatkan dengan baik oleh Deidara. Pria itu memasukkan lidahnya demi mendapatkan kepuasan dari rongga mulut Hinata.

Hinata meronta. Kejadian barusan membawa ingatan menyakitkan akan perlakuan kasar yang pernah dia terima. Seakan memori buruk itu memberikan kekuatan baru pada tubuh lemahnya, Hinata berhasil melepaskan tangan. Sekuat mungkin ia dorong tubuh yang berkali lebih berat dari dirinya. Nasib baik masih berpihak padanya. Deidara sempat menjauhkan bibir dari bibir Hinata. Saat yang dimanfaatkan dengan baik oleh sang wanita.

"Tolong!"

Hinata berteriak dengan sisa suara yang ia miliki. Dalam hati berharap ada pertolongan Tuhan yang diberikan padanya.

"Siapa pun, tolong aku!" Ia berdoa dalam hati. Air mata kian deras, membuat wanita itu kian kelelahan.

Deidara yang mendengarnya menjadi beringas. Dengan kuat ia serang lagi bibir Hinata.

"Hmpphh ..."

Tapi tidak bertahan lama. Tubuh pria itu ambruk saat sebuah pukulan mengenai tengkuknya, membuatnya kehilangan kesadaran.

Bugh! Bugh!

Hinata memejamkan mata. Ia berterimakasih pada Tuhan atas pertolongan yang tidak pernah ia sangka. Wanita itu bangkit dengan tertatih, berharap bisa melihat malaikat penolong yang telah menyelamatkan dirinya. Namun, pemandangan lain justru membuat ametisnya kian membulat. Sepertinya sang penolong belum puas dengan efek yang ia timbulkan. Pukulan demi pukulan tetap mengenai tubuh Deidara. Sekejam apa pun pria brengsek itu padanya, Hinata tetaplah manusia dengan hati lembut yang enggan melihat orang lain tersakiti.

"Hentikan! Hentikan!"

Ia turun dari ranjang dan berusaha mendekati pria yang telah menolongnya. Untunglah suara yang lebih mirip bisikan itu cukup didengar oleh sang penolong. Hinata tersenyum sedih, matanya sempat melirik tubuh Deidara yang kondisinya sangat mengenaskan.

Ia hendak berjalan menghampiri sang penolong, sebelum langkahnya terhenti. Rasanya ia mengenal sosok itu. Laki-laki dengan tubuh tinggi atletis dan rambut acak-acakan. Dalam temaram, Hinata mampu menebak warna kuning dari rambut pria itu. Perlahan akal menyentaknya, menamparnya dengan sebuah kenyataan akan sosok penolong tersebut. Hinata menggigit bibir. Ia tahu siapa laki-laki itu. Langkahnya menjadi berlawanan arah, ia berjalan mundur dan perlahan. Kedua tangan meremas lapis pakaiannya yang terkoyak. Degup jantungnya melaju, bulu kuduknya meremang. Sedikit mengutuk diri sendiri karena terlampau cepat berterima kasih pada Tuhan.

Ah, sial!

Ternyata benar laki-laki itu adalah pria yang berada dalam daftar terakhir orang yang ingin Hinata temui secara langsung. Lihat saja, seiring langkah lebarnya mendekat pada Hinata, seringai di bibir tipisnya pun semakin tajam.

Sampai tubuh mungil itu tersudut di dinding, ia tak lagi punya ruang untuk berlari.

"Kau rupanya."

Bisikan parau laki-laki itu benar-benar membuatnya bergidik. Hinata menelan ludah kasar. Rasanya ingin ia berteriak tapi tak mampu, apalagi berlari. Tubuhnya sudah terlalu lemah akibat ulah Deidara beberapa saat lalu.

Akhirnya wanita itu pasrah. Apa pun yang terjadi, ia pasti mati kali ini.

"Ada apa? Kau takut?"

Pria itu telah berdiri menjulang di hadapannya. Hinata mendongak untuk menatap langsung azure yang sempat membuatnya terpana malam itu. Azure itu masih sama, jernih, refleksi dari langit biru di musim panas. Namun tak ada kilau di dalamnya.

Kelam.

Hampa.

Tiba-tiba dagu Hinata terangkat, ia dibawa mendekat. Entah malaikat apa yang sedang menaungi pria itu, diciumnya bibir Hinata dengan lembut. Disesapnya pelan. Tak ada kata kasar seperti yang pernah ia dengar dari para korban.

"Nghh ..."

Tanpa sadar Hinata mengerang. Ia menikmati sentuhan ini. Bibir itu memang gabas, tapi sentuhannya teramat lembut.

Tanpa sadar pula bahwa lelaki itu menyeringai senang.

"Kau tertangkap, kucing kecilku," gumamnya dalam hati.

...

Ia tersenyum senang. Tubuh wanita yang saat ini berada di bawahnya begitu menggiurkan. Bibirnya seakan tak pernah kenyang mengecap seluruh lapis kulit putih yang halus. Dari belah pipi turun ke bibir, terhenti beberapa lama pada bongkahan dada yang ia nikmati dengan penuh perasaan, lantas merunut hingga ke perut ramping sang wanita. Terkadang giginya juga tak mau ketinggalan. Erangan wanita itu sarat kesedihan, tapi ia mengabaikan. Lenguhan wanita itu penuh kesakitan, tapi ia tak acuhkan. Yang ada dalam pandangannya saat ini adalah tubuh molek dengan lekuk yang begitu sempurna dan pasti akan menjaminkan kepuasan bagi birahinya yang telah lama berpuasa.

Baru kali ini, Naruto seakan benar-benar menikmati mangsanya. Mungkin sebab ia terlalu lama tidak melampiaskan nafsu. Terlebih kondisi saat ini berbeda. Naruto yang memang punya dendam sejak kejadian yang nyaris melumpuhkan masa depannya, merasa di atas angin. Memanfaatkan kondisi lemah wanita itu, ia ikat kedua tangan dan kakinya pada sudut ranjang. Sedikit banyak ia yang memang menguasai beberapa teknik melumpuhkan itu mampu membuat sang wanita tak berkutik dan menyerah penuh pada kuasanya.

Seperti biasa, insting binatangnya lantas meraja ketika mangsa sudah di depan mata. Dengan beringas ia merobek lapis garmen terakhir yang membatasi dirinya dengan tubuh bagian bawah wanita itu. Ia melihat jelas bagaimana ametis sang wanita membulat, air matanya semakin menganak sungai. Tak ada iba sedikit pun menggugah Naruto. Ia memasang seringai kejam dan tanpa perasaan menghunjamkan kejantanannya ke kewanitaan mangsanya. Ia merasa puas saat mendengar rintihan tertahan dari bibir wanita itu.

Naruto tahu, wanita itu sudah tidak tersegel, tetapi baginya saat ini itu tidak penting. Kepuasan yang sempat terhenti kini ia rasakan lagi. Terlebih menatap wanita berambut indigo yang meronta ingin berontak namun tak mampu.

Naruto tertawa puas.

Hentakan demi hentakan keras sengaja ia berikan. Seakan tak hanya mencari kepuasan tetapi juga pelampiasan dendam. Yang membuatnya semakin erat memejamkan mata, merasakan sensasi nikmat di sekujur tubuhnya. Hingga sampai pada pelepasan terakhir, ia tak menghentikan seringainya.

...

Hinata terbangun dalam sebuah ruangan gelita. Pandangannya menyusuri kegelapan, berharap ia bisa tahu di mana dirinya berada. Namun sepertinya kamar ini asing. Bukan kamar Karin yang ia kunjungi, apalagi kamarnya sendiri.

Ia memaksa tubuhnya untuk duduk. Kepalanya pening, sekujur badan terasa sakit. Wanita itu mendesah, ia ingat benar apa yang membuatnya seperti ini. Sudah terlalu lama Hinata tidak berhubungan intim. Sejak bercerai dengan suaminya, Hinata tak pernah membiarkan tubuhnya disentuh pria lain. Bukan saklek, tapi wanita itu memang punya prinsip dan keyakinan sendiri.

Hinata memandang hubungan seksual adalah hubungan yang sakral. Tak bisa dilakukan seenaknya dan pada sembarang orang. Menurut Hinata, hubungan itu harus dilakukan dengan landasan kasih sayang, bukan pelampiasan nafsu semata. Maka ketika teman-teman kantornya dulu mengajak ia untuk melakukan hal itu, ia dengan tegas menolak. Tak peduli jika kemudian ia mendapat julukan orang yang berpikiran kuno.

Ametisnya melirik selimut tebal yang menutup rapat tubuhnya. Kemudian beranjak pada ruam merah di pergelangan tangannya. Ruam bekas jeratan tali yang sangat kuat. Ia menyibak selimut, menatap nanar pada tubuhnya yang telanjang bulat. Jejak merah memenuhi permukaan kulit putihnya. Hingga mata itu sampai pada pergelangan kaki. Bekas yang ditimbulkan lebih pekat sebab ia lebih banyak menggunakan tenaga kaki untuk melepaskan diri.

Perlahan ia membungkuk, mengusap pergelangan kaki. Hinata meringis, rasanya perih.

Sejenak ia berdiam. Air mata mulai melelehi pipi halusnya. Ia benci seperti ini, ia benci menjadi lemah, ia benci ketika ada pria yang melecehkannya dan ia tak mampu berbuat apa pun untuk mempertahankan diri.

Terlebih perlakuan kasar laki-laki kriminal itu. Bagaikan sebuah penghinaan yang luar biasa bagi dirinya.

Namun ia cepat mengusap pipinya yang basah. Ia tak punya waktu untuk ini. Ia harus pulang, ia harus merawat Hinami dan ia harus melanjutkan kehidupannya. Terutama mencari segala cara untuk menjebloskan laki-laki itu ke penjara.

Wanita itu mengedarkan pandangan. Ruangan ini cukup luas. Tidak banyak barang berserakan di dalamnya. Dindingnya putih gading dengan beberapa poster grup rock terkenal yang tergantung. Di sudut sana terlihat sebuah tempat bekas perapian,

dan ...

laki-laki yang tertidur di atas sofa kumal tepat di hadapan perapian tua itu.

Hinata meneguk ludah. Ia pikir ia bisa melarikan diri tapi ternyata tidak semudah itu. Matanya mencari-cari keberadaan pakaiannya.

Ah!

Ada di dekat tempat laki-laki itu tidur. Perlahan wanita itu beranjak dari tempat tidur, berjinjit mendekat dan mulai memunguti pakaian tersebut.

Sayang, tatapannya nyalang.

Ini tidak bisa disebut pakaian. Koyak di semua tempat dan tak lagi layak untuk dikenakan. Hinata mendengus dalam hati. Dengan apa ia akan menutup tubuhnya sementara ia melarikan diri?

Hinata mendesah. Melirik ke arah lemari kayu di seberang ruangan, matanya berbinar. Tetap mengendap ia mendekati lemari itu dan membukanya. Sembari menoleh ke arah keberadaan laki-laki berambut kuning itu, ia mengambil salah satu kaos hitam yang tergantung di dalam lemari.

Tanpa pikir panjang Hinata memakainya. Aneh memang, kaos itu lebih tepat disebut sebagai rok.

Apa pun!

Yang pasti saat ini kaki-kaki jenjang wanita itu telah berlari kecil menuruni tangga.

Begitu kuat degup jantungnya, nyaris membuat ia kehabisan tenaga. Namun Hinata keras kepala. Ia harus bisa meloloskan diri dari laki-laki itu untuk kemudian mencari bukti demi menjebloskannya ke penjara.

Saat tangannya mencapai kenop pintu depan, Hinata berhenti. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di pikirannya saat ini.

Tunggu!

Jika ia hendak mencari bukti, bukankah rumah tinggal laki-laki itu adalah tempat yang tepat?

Hinata mendesah. Bingung antara ingin mensyukuri atau menyesali keadaan ini, keberadaannya di sini.

Wanita itu berbalik. Matanya tetap menatap waspada. Kendati laki-laki itu ada di lantai atas, bukan berarti dia tidak mampu mendengar langkah kaki di lantai bawah. Apalagi ia terkenal sebagai belut yang mampu dengan mudah meloloskan diri dari kejaran polisi.

Hinata menyeberangi ruang tengah dan terhenti di bagian belakang rumah. Sebuah ruangan yang luas tertangkap pandangannya. Ruangan itu terbuka, atau sengaja dibiarkan terbuka. Ia melangkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Melihat jengkal demi jengkal isi ruangan itu. tidak ada yang menarik dari tempat itu. Cahayanya remang, dinding dan lantainya penuh debu. Hinata bahkan sempat menutup hidung agar tidak ada debu yang masuk saluran napasnya hingga memaksa ia batuk.

Satu yang menarik dari tempat ini. Adalah buku yang berjajar rapi di sebuah rak besar, tepat di dinding bagian selatan ruangan.

Ametis Hinata berbinar. Siapa sangka seorang kriminal punya koleksi buku sebanyak ini.

Atau?

Dahinya terkernyit.

"Justru itu hal yang paling mungkin," gumamnya.

"Hal apa yang paling mungkin?"

Tubuh Hinata seketika menegang mendengar suara bariton tepat di belakangnya.

Ia menoleh cepat.

"!"

.

.

.

TBC


PS: Silakan PM Nai kalau ada yang berminat LN nya ^^