-Konnichiwaaaaaaaaa~-
Maaf sudah lama sekali cerita pertamaku ini hiatus… aku kurang ada waktu untuk meng-update cerita… sooo… gomenasai!
Please enjoy my simple story! ^_^
Chapter 4
"Invitation"
(Ichigo)
"Aww, kepalaku..."
Aku terbangun di tempat yang tak kukenal, tapi saat kubuka mataku, aku tak bisa melihat apapun selain kegelapan yang menutupi pandanganku. Apa aku masih bermimpi? Ah, tidak, ini hanya sesuatu yang menghalangi pandanganku. Tidak berat, tapi juga tidak ringan.
"Lho?"
Tunggu sebentar, benda apa ini yang kurasakan di tanganku? Rasanya lembut dan kenyal... apa mungkin bantal? tidak mungkin...ini pasti benda lain...rasanya berbeda...
"Apa ini?"
Kuremas benda itu beberapa kali, tapi belum juga mengenali apa sebenarnya benda itu. Maklumlah, otakku belum nyambung karena baru bangun tidur. Tapi entah kenapa aku jadi ingin terus mengulangi perbuatanku. Kuremas dua, tiga kali lagi, sampai—
"Kyaa!"
Mendengar jeritan dengan nada aneh itu, saklar dalam otakku langsung tersambung seluruhnya.
"Apa-apaaan kau ini?!"
Sesosok manusia yang unik berdiri di hadapanku.
Dia gadis yang umurnya kira-kira sama denganku, masih muda. Ia mengenakan jubah hitam bertudung dengan kain hitam tipis sekadar untuk menutupi tubuhnya yang...mantap. Rambutnya ungu gelap, begitu pula dengan kedua matanya. Selain diriku sendiri, belum pernah aku melihat ada orang lain yang bermata seperti itu. Walau cuma sebelah sih...
Gadis itu menunduk memandang lantai dengan malu-malu, sesekali matanya melirikku. Wajahnya mengalami penuh emosi dan seluruh wajahnya memerah hingga ke telinganya, dan kedua tangannya menyilang untuk melindungi dadanya yang besar. Tunggu…dada…? Aku segera sadar apa yang baru saja kuremas dengan tanganku tadi. Pada saat yang sama aku menyadari, walaupun terlambat, aku sudah berbuat sangat salah padanya, siapapun dia.
"Kau ini...siapa?"
Itu adalah kata-kata yang pertama kuucapkan. Bukan permintaan maaf. Aku sama sekali tak mengenalnya...tapi aku merasakan perasaan familiar, seakan aku sebenarnya sudah mengenalnya sejak lama sekali. Rasanya akhir-akhir ini aku sering merasakan perasaan seperti itu.
Mendengar pertanyaanku ini, si gadis malah menelengkan kepalanya dengan bingung.
"Apa Master tidak mengenaliku?" tanyanya sambil cemberut.
"Master? Panggilan macam apa itu?" aku bertanya balik. "Kenapa kau memanggilku begitu?"
"Kau jahat, Master." Sahutnya seperti merajuk. "Padahal Master sudah menyebut namaku."
Pikiranku mulai bekerja selagi ia mengibaskan rambutnya dan menghela nafas panjang. Gadis itu hanya memejamkan matanya dan diam, tak memberiku jawaban yang kuperlukan. Tunggu. Pikir dulu...
Menyebut namanya? Rasanya aku seperti ingat sesuatu...oh,tentu saja.
Suara gadis itu. Dia mengatakan padaku untuk menyebut namanya. Aku ingat...
"Apa kau ini...Kaladbolg?" tanyaku pelan.
Gadis itu membuka matanya saat kusebut nama itu. Tak salah lagi, ini dia.
"Benar, kan?" tanyaku lagi.
Ia mengangguk.
"Kaukah yang selama ini berbicara dalam diriku?"
Ia mengangguk lagi dengan lebih bersemangat.
"Jadi...kaukah kekuatanku?" aku kembali bertanya.
Ia lagi-lagi mengangguk, tapi lalu ia berbicara.
"Kau benar. Akulah kekuatanmu, Master." katanya pelan. "Namaku Kaladbolg."
" Kaladbolg..."
Aku menjulurkan tangan dan meraih bahunya, dan senang tanganku bisa menyentuhnya. Hangat...ini bukan ilusi atau khayalanku saja. Dia nyata...dan ia adalah bagian dari diriku. Aku merasa senang sekali. Rasanya seperti bertemu dengan sahabat terdekat yang tak terpisahkan, seperti saudara yang terlupakan...tidak, jauh lebih dari itu. Aku seperti menemukan satu bagian dari jiwaku. Aku menatap matanya yang ungu gelap. Begitu misterius...seperti diriku.
"Iya...sebutlah namaku terus, Master. Aku adalah kekuatanmu."
Aku tak bisa menahan senyumku.
"Mulai hari ini..." ucapku pelan. "Aku mohon bantuanmu, Kaladbolg."
Hari ini semua murid diwajibkan masuk sekolah, karena mulai besok sekolah akan diliburkan untuk sementara. Penyebabnya tentu saja kasus pembunuhan yang masih panas-pananya dibicarakan di seluruh penjuru kota Karakura ini. Pada awalnya kukira hari ini sudah mulai libur, tapi pihak sekolah masih menahan kami satu hari lagi. Sungguh menyebalkan...
Tapi tak apalah, lagipula aku masih punya urusan penting dengan seseorang...dengan Sasuke, si murid baru itu.
Aku punya banyak hal yang ingin kutanyakan.
Sebenarnya, malam kemarin itu aku terjatuh pingsan sebelum mendengar apapun yang ingin dikatakannya. Pagi itu aku mendapati diriku sudah diperban di banyak tempat seperti korban kecelakaan oleh adikku. Dan dia mengatakan padaku bahwa temanku yang membawa diriku pulang memberitahukan kalau aku baru saja dihajar habis-habisan oleh sekelompok geng berandalan, makanya sampai luka parah begini.
Dasar orang itu, membuat alasan yang merendahkan diriku saja. Aku tak mungkin bisa kalah dari berandalan manapun di kota ini.
Makanya, hari ini aku pergi ke sekolah walaupun Yuzu bilang padaku agar istirahat saja karena aku masih terluka. Aku akan buat perhitungan dengannya. Aku mendatangi bangku tempatnya duduk pada kesempatan pertama.
"Hei, kau. Kenapa kau berbohong?" tanyaku dengan kasar."Yuzu bilang aku terluka karena diserang berandalan, dan dia bilang kau yang memberitahukan itu padanya. Benar,kan?!"
Sasuke hanya mengangkat bahu, ia nyaris sama sekali tak terpengaruh oleh kemarahan dalam suaraku. Ia mulai bicara dengan dingin, dia tahu sikap sopannya sudah tak mempan lagi padaku.
"Apa boleh buat. Kalau kuberitahu yang sebenarnya, pasti dia tidak akan percaya." Kata si murid baru datar. "Lagipula, kau memang diserang, kan?"
"Dia takkan percaya itu." Kataku dengan nada berbahaya. "Dia sudah tahu aku pernah mengalahkan semua berandalan di kota ini. Dia pasti curiga..."
"Huh, bisa saja kau sekali-sekali kalah, kan?" sahut Sasuke sinis. "Kau ini manusia,bukan dewa. Wajar kalau kalah."
"Kau...!"
Aku menarik kerah bajunya yang berjubah. Emosiku memuncak.
"Dengar." Bisikku mengancam. "Kalau kau melibatkan adikku kedalam semua hal yang tak masuk akal ini, kau takkan kumaafkan."
"Hah. Memangnya kenapa kalau kau takkan memaafkanku?" balas Sasuke dingin. "Aku sama sekali tak peduli."
"Dasar kau—!"
Sudah terlanjur tak suka dengan sikapnya, aku melayangkan tinjuku ke wajah pucat pemuda itu. Biar dia tahu apa yang akan kulakukan jika nyawa adikku sedang dipertaruhkan. Apapun konsekuensinya, aku takkan menyeretnya ke dalam bahaya yang kini telah menjadi bebanku juga.
Pukulanku tak pernah mencapai wajah pucatnya yang menyebalkan. Tangan seseorang yang familiar menahanku sebelum itu bisa mengenainya.
"Hentikan, kalian berdua." Ternyata Naruto. "Kalau mau berkelahi jangan disini."
Karena Naruto memegang pergelangan tanganku tanpa niat sedikitpun untuk melepaskannya, akupun menyerah. Kulepaskan tanganku yang satu dari kerah baju Sasuke dengan kasar.
"Baiklah..."
Naruto melepaskanku. Aku segera berbalik, setelah melempar pandangan tajam pada Sasuke, yang balas menatapku dingin. Aku beranjak dari sana, menuju bangkuku...
"Hei. Ada apa dengan kalian?" Naruto menghampiriku. "Apa sesuatu terjadi kemarin? Untunglah kalian bisa kembali dengan selamat..."
"Tak ada apa-apa. Kami hanya...bertengkar biasa. Jangan cemas..." jawabku berbohong.
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa..." gumam Naruto.
"Apa?" tanyaku, perhatianku teralih.
"Kau lihat sendiri,kan? Ini bukannya tidak ada apa-apa." Bisiknya pelan. "Makhluk-makhluk itu. Ada yang tidak beres dengan mereka...mereka bukan manusia."
"Entahlah...aku juga tidak begitu mengerti..."
Naruto memperhatikanku. Kami sudah berteman sangat lama, jadi dia pasti tahu sifatku seperti aku tahu sifatnya. Kalau aku sedang lebih pendiam dari biasanya, biasanya aku tidak sedang mood untuk diajak bicara apalagi bercanda. Makanya dia juga diam sekarang.
"Nah, coba tebak, Ichigo..." Naruto berubah ceria selagi ia berusaha mengganti topik pembicaraan. "Hari ini akan ada murid pindahan baru lagi datang ke kelas kita."
"Eh? Lagi ?"
Jarang-jarang ada banyak murid pindahan ke sekolah kami ini, ke Akademi Fayres. Kebanyakan muridnya orang Jepang, tapi justru karena itulah, saat orang asing bergabung disini, mereka jadi tenar. Biasalah, orang luar selalu terlihat unik dibandingkan dengan orang lokal, menurut pandangan kebanyakan orang. Kemarin dari Eropa, sekarang dari mana?
Aku akui, ini cukup menggugah rasa penasaranku. Padahal biasanya aku sama sekali tak tertarik.
"Asalnya darimana?" tanyaku.
"Ha! Tumben kau mau tahu." Naruto bersedekap dengan gaya sok penting. "Pihak OSIS baru saja diberitahu kalau murid baru ini amat sangat jenius, sehingga ia diperbolehkan memilih kelas manapun yang ia mau. Beruntung kelas kita yang dipilihnya."
Keluar juga besar kepalanya, mentang-mentang dia anggota OSIS yang kedudukannya tinggi di sekolah ini. Yah, dia memang tak pernah terlalu membangga-banggakannya, paling hanya bercanda saja seperti padaku sekarang.
"Dia orang Inggris-kah? Spanyol? Atau—"
"Nggak usah jauh-jauh." Naruto melambaikan tangannya tak sabar. "Dia berasal dari negara timur tenggara yang dekat dengan kita!"
"Eh? Maksudmu—"
"Ya! dia berasal dari Indonesia!" kata Naruto. "Jarang-jarang,kan? Bukan asli orang Indonesia, tetapi orang Jepang blasteran Indonesia yang dibesarkan di Indonesia!"
Indonesia...negara yang terkenal karena banyak hal, baik positif maupun negatif. Aku tidak tahu banyak tentang mereka karena aku jarang menonton berita, tapi aku tahu mereka adalah orang-orang yang bisa menjadi hebat saat mereka sungguh-sungguh berniat. Walaupun saat ini belum, tapi aku yakin suatu hari nanti...
"Benar. Jarang sekali..."
"Tidak hanya itu. Kau tahu apa yang paling membuatku senang?"Naruto nyengir.
Aku menatapnya curiga. Pikiran bocah ini takkan jauh dari gadis, aku sudah paham pola pikirnya. Jadi yang pasti membuatnya bersemangat adalah...
"...Dia pasti seorang gadis...kan?"
"Seratus, Ichigo." Naruto mengacungkan jempolnya.
"Dasar kau ini..."
Aku ingin protes, tapi saat itu Ketua Kelas kami, Naito, menyuruh semuanya duduk, untuk menyambut si murid baru yang jenius. Ia datang bersama wali kelas kami, mungkin untuk diperkenalkan secara resmi. Beberapa murid bahkan sampai mengintip ke luar jendela kelas, sampai Naito harus menyuruh mereka duduk kembali. Aku hanya bisa menahan Naruto agar tidak melakukan hal yang sama...
Setibanya di depan pintu kelas, mereka berhenti. Setelah pembicaraan yang tak bisa kutangkap, hanya wali kelas kami, Pak Lloyd, yang memasuki kelas. Murid baru itu menunggu di luar.
"Selamat pagi, anak-anak. Kelas kita kedatangan murid baru,dia akan bergabung dengan kalian mulai hari ini. Tapi, dia ingin terlebih dulu bertemu dengan seseorang di kelas ini sebelum memperkenalkan diri."
Suasana kelas hening sejenak, lalu mulai penuh oleh bisikan murid-murid yang merasa penasaran terhadap apa yang dikatakan oleh wali kelas kami itu.
"Siapa?"
"...Mungkin kenalannya."
"Wah, beruntung sekali ya dia!"
"Iya, benar...!"
Aku melirik Naruto yang duduk di sebelahku, dan ia hanya mengangkat bahu. Yang benar saja. Pasti bukan aku juga. Tak mungkin ada orang Indonesia yang kenal denganku...
"Kurosaki, sekarang keluarlah."
" Hah?"
"Ya, kau, Kurosaki." Kata Pak Lloyd. "Dia ingin bertemu denganmu."
"A-aku?" aku menunjuk diriku sendiri.
Mungkin telingaku salah dengar.
"Ya, Kurosaki. Kau." Ulang wali kelas kami. "Sekarang pergilah keluar. Dia menunggumu."
Aku menoleh pada Naruto minta bantuan, namun setelah ekspresi terkejut yang tidak biasa, dia hanya memberiku pandangan sudah-cepat-lakukan-saja, yang sama sekali tidak membantuku. Aku hanya menghela nafas, tak punya pilihan. Siapa sih dia, si murid baru ini? memangnya dia kenal aku?
Aku melangkah melewati ambang pintu, dan—
Melalui refleks yang terbentuk dari berkali-kali perkelahian, kepalaku mengelak ke samping, menghindari sebuah pukulan yang mengarah padanya.
Belum puas, pemilik tangan itu melakukan gerakan untuk membantingku. Tapi, aku yang sudah siap, bisa menangkap tangannya dan menghentikan gerakannya.
"Oh, kau sudah tambah kuat sejak enam tahun yang lalu." Kata pemilik suara itu. "Aku bersyukur."
Apa? Suara ini...
Ini mustahil, tapi aku tak bisa salah mengenali suaranya.
Tidak salah lagi, dia—
"Tatsuki?!"
"Salam kenal, aku Tatsuki Arisawa Shabrina. Senang bertemu dengan kalian semua."
Begitulah, dengan sopannya murid baru dari Indonesia ini memperkenalkan dirinya. Tapi, hanya aku yang tidak terkesan dengan perkenalan dirinya...karena aku sudah mengenalnya sejak dulu. Karena ia teman masa kecilku.
Rambutnya coklat gelap, kulitnya tak terlalu putih tapi juga tidak gelap, dan matanya coklat gelap. Khas orang Asia Tenggara sekali. Baju yang ia kenakan juga sangat bermotif khas negaranya...apa itu namanya? Batik?Dia menempatkan dirinya di bangku yang tak jauh dari bangkuku. Mata coklatnya menatapku dengan menilai, seakan ingin tahu bagaimana diriku sekarang.
Cih, menyebalkan. Aku tak suka dipandangi orang, walaupun itu teman atau sahabatku.
"Merepotkan..." aku menghela nafas.
Gadis itu pernah tinggal di kota Fayres ini beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku masih umur dua belas tahun...saat diriku masih lemah dan tak mampu berbuat apapun. Gara-gara mataku yang aneh ini, sebelah ungu dan sebelah hijau, aku sering dijadikan sasaran oleh anak-anak berandalan. Aku sering dipukuli dan diganggu...sampai ia datang.
Tatsuki. Ia mengalahkan semua anak berandalan itu dengan tenaga yang sebelumnya aku kira tidak pernah ada pada perempuan manapun. Ia adalah penyelamatku, sejak saat itu kami berteman.
Agar aku tak terus-terusan bergantung padanya, dia mengajariku bela diri untuk mempertahankan diri dari orang yang ingin menyakitiku.
Kami terus bersahabat...sampai hari itu tiba. Ia kembali ke negaranya karena kedua orangtuanya tiba-tiba meninggal , aku sendirian lagi.
"Ukh..."
Selagi berpikir begitu, rasa sakit yang tajam menusuk dadaku. Rasanya seperti ditikam-tikam, sakit sekali.
Efek luka yang kuterima dari pertarungan kemarin masih amat terasa. Wajar, sebab ini baru sehari setelahnya, luka itu belum menutup dengan benar. Aku hanya bisa menekan dadaku dengan harapan rasa sakitnya berkurang sedikit. Awalnya sih manjur, tapi lama-lama aku bisa merasakan sesuatu merembes ke baju kemeja hitamku. Yang membuat ini lebih buruk, luka gigitan makhluk itu di bahuku juga mulai terasa pedih. Panas. Apa seperti di film-film, aku juga akan berubah menjadi makhluk penghisap darah seperti mereka?
"Hei, Ichigo, kau pucat." Ucap Naruto tiba-tiba. "Kau sakit?"
"Ti...tidak..."
Aku berbohong, jelas. Untung saja kemejaku hitam, jadi darahku yang merembes ke baju tak akan kelihatan. Aku bisa merasakan pandanganku mengabur, entah sampai kapan aku bisa bertahan. Untuk menahan agar tidak mengerang saja sudah setengah mati, rasa sakitnya makin menggila. Kudengar suara langkah kaki mendekati bangkuku...
"Ichigo."
Sebelum aku bisa mengenali suara siapa itu, aku tak bisa merasakan apa-apa lagi selain nafasku yang tersengal-sengal dan rasa sakit di badanku. Dan semuanya jadi gelap.
—
Ah, bodohnya aku...jadi keras kepala itu benar-benar tidak bagus. Ini badanku terasa kaku, dan tidak bisa membuka mataku, tapi yang bisa kulihat hanya hitam. dalam kegelapan, kenapa terasa begitu sepi dan sunyi ya?
Melelahkan...rasanya aku ingin beristirahat...sebentar saja.
"...go..."
Suara...?
"...chigo..."
Suara siapa ini...?
"Ichigo...!"
Apa aku mengenalnya? Kenapa suara itu makin keras...?
"Buka matamu, bodoh!"
Aku tersentak, kubuka mataku lebar-lebar. Segera saja aku mendapati kalau diriku sedang berada di sebuah ruangan yang cukup besar, dua kali lipat dari kamarku. Aku sedang berbaring di sebuah ranjang empuk dengan ditutupi selimut merah gelap. Aku masih belum bisa bergerak, tapi bisa kurasakan kalau aku bertelanjang dada -yang diperban lagi- dibalik orang yang berteriak tadi...
"Kau tidak apa-apa, Ichigo?"
Aku kaget mendengar suara ini. Dia Tatsuki, si murid baru di kelasku. Ia duduk di sebelah ranjangku di sebuah kursi kayu berlengan. Ia mengamatiku dengan cemas, seakan aku orang yang sedang sekarat...ah, iya sih, aku memang merasa seperti mau mati tadi.
"Kalau luka parah, sebaiknya jangan memaksakan diri..." kata Tatsuki segera. "Terasa kan, akibatnya."
"Uh...tempat ini..." aku memaksa diri duduk di tempat tidurku. "Kau yang membawaku kesini? Dimana ini?"
"Ya. Tempat ini adalah..."
"Apa?"
"...Markas Besar Black Lotus."
"..."
Perlu waktu beberapa saat sampai saklar di otakku nyambung.
"APA?!" aku berteriak histeris, di luar kebiasaanku.
"Oh, ayolah, jangan lebay seperti itu..." Tatsuki menggelengkan kepala.
"Ja...jadi...kau juga?" aku menunjuknya dengan telunjukku yang gemetar. "Kau juga... Valkyrie seperti Sasuke?"
"Ya, benar."
Ini...benar-benar tak disangka. Pertama, teman masa kecilku, Tatsuki, kembali ke Jepang setelah lama pulang ke tempat asalnya, Indonesia. Kedua, dia masuk dan bergabung sebagai murid baru di sekolahku. Dan terakhir, dia juga Valkyrie, orang-orang organisasi Black Lotus yang bertujuan untuk menhilangkan kesenjangan kekuatan antara manusia dan makhluk lain...
"Kau...tak mungkin serius." Kataku pelan.
"Serius lah." Balas Tatsuki pelan. "Ini semua nyata. Kita harus bertarung."
"Untuk apa?!"
"Melindungi umat manusia!"
Aku tersentak. Melindungi umat manusia...kedengarannya seperti kata-kata karakter film yang penuh khayalan dan imajinasi. Aku ingin membantahnya, tapi lalu kuakui ia benar. Setelah semua hal yang kulihat...tak ada alasan untuk tak percaya. Hanya saja...
"Kau Tatsuki...kan?" aku bertanya penuh keraguan. "Tatsuki...temanku dulu?"
"Tentu saja." Ia tersenyum. "Kau meragukan teman masa kecilmu?"
"Bukan begitu...tapi..."
"Ehem, ehem."
Suara batuk yang disengaja itu memotong percakapan kami. Kami berdua menoleh, dan ternyata sumbernya berasal dari Sasuke, yang muncul begitu saja entah darimana. Aku tak tahu dia berada di dekat kami sampai ia bersuara.
"Bukannya aku mau mengganggu reuni kecil kalian..." katanya dengan nada tak peduli. "Tapi bukankah ini saatnya untuk menyembuhkan lukanya, Arisawa?"
Arisawa. Ia memanggilnya dengan nama belakang, jadi artinya mereka berdua tidak terlalu akrab. Tatsuki juga tidak terlihat terlalu senang dipanggil seperti itu oleh si pria dingin.
"Ya. Akan segera kulakukan..." ucap Tatsuki singkat.
Dia menoleh padaku.
"Maaf... Ini akan sedikit sakit."
"Eh?!"
DUGG!
Sebelum aku bisa mengatakan apapun lagi belakang kepalaku serasa dihantam dengan amat keras...
Dan semuanya pun kembali gelap.
Pingsan lagi, pingsan lagi. Kenapa akhir-akhir ini aku jadi sering tak sadarkan diri? Seperti orang penyakitan saja nih.
Kurasa tadi ada seseorang yang tak kelihatan memukul belakang kepalaku sampai pingsan. Bukan Tatsuki atau Sasuke, tapi orang lain. Sampai sekarang sakitnya masih terasa, ditambah lagi kepalaku juga pusing.
"...Sakit..." aku mengerang pelan. "...Apa yang terjadi?"
"Aku membuatmu pingsan supaya aku bisa lebih mudah membawamu."
Sebuah suara yang asing berbicara di dekatku. Aku masih belum membuka mata, semuanya gelap. Tapi aku bisa merasakan beberapa pasang mata mengamatiku dari berbagai arah.
"Kau terlalu keras memukulnya." Terdengar suara Sasuke. "Bisa-bisa otaknya rusak."
"Tak mungkin. Aku menahan diri." Kata suara asing itu lagi.
"Apa dia akan baik-baik saja?" kali ini suara Tatsuki yang bicara.
"Ayolah. Dia takkan mati semudah itu kalau kata-kata Ketua Cort benar." Si suara asing terdengar agak jengkel. "Lagipula, kau sendiri kan yang menyembuhkannya? Kau seharusnya lebih tahu dari kami."
"Kalian bicara apa?"
Aku akhirnya membuka mata. Tapi masih saja gelap. Rupanya ruangan ini memang sengaja digelapkan.
"Ah, kau baik-baik saja, Ichigo?" tanya suara Tatsuki.
"Tentu saja..."
"Hei, Uryuu, tolong nyalakan lampunya..." Tatsuki menyuruh entah pada siapa.
"Tunggu, Arisawa!" suara Sasuke tiba-tiba memprotes. "Kau tahu kami tak suka cahaya..."
"Nyalakan."
"Oh, baiklah..."
Terdengar suara jentikan jari, dan semuanya langsung saja jadi terang. Perlu beberapa waktu sampai mataku bisa terbiasa dengan penerangan mendadak ini...terlalu silau.
Aku bisa melihat Tatsuki...lalu Sasuke, dan seorang lagi...
Seorang pemuda berbadan tinggi dengan rambut coklat dan kacamata persegi. Ia juga mengenakan jas putih panjang yang menutupi tubuhnya, mengingatkanku akan penampilan seorang profesor. Rasanya aku pernah melihatnya...
Aku ingat. Dia orang yang berbicara dengan Sasuke saat kami akan menyusup ke dalam rumah sakit St. Zwinger, yang tak sengaja kusenggol. Jadi, dia salah satu dari mereka juga. Aku tidak heran...
"Kau sudah tidak apa-apa, Ichigo?" tanya Tatsuki lagi.
"Ah, tentu saja..."
Walau agak telat, aku mulai memperhatikan sekelilingku. Ruangan ini berbeda dengan yang sebelumnya, disini lebih pantas disebut bangsal rumah sakit, karena bentuk ranjangnya dan warna putih yang mendominasi pemandangan disana. Tapi selimut putih yang melapisi tubuhku tidak tercium rumah sakit sama sekali. Lebih berbau seperti parfum aku mencermati tubuhku yang sudah sembuh total tanpa luka sedikitpun, aku menyadari satu hal lagi. Ini...hal yang paling penting...!
Aku sama sekali tidak pakai baju...! Ada yang telah melucuti pakaianku! Uh, jangan bilang...
"Dimana...bajuku...?" aku bertanya dengan suara gemetar.
"Wah, kau sadar lebih cepat dari yang kuduga." Kata pemuda yang tadi disebut Uryuu itu. "Kau memasuki cahaya pemulihan Metatron, Complete Healing, tentu saja semua bajumu harus dilepas."
"A...Apa kau bilang?!"
Aku menoleh dengan penuh horor pada Tatsuki.
"Eh...Tatsuki..." tanyaku takut-takut. "Kau tidak lihat, kan?"
Walaupun pandanganku masih agak buram, aku bisa melihat wajah Tatsuki merona merah. Dia baru mau membuka mulutnya untuk menjawab, akan tetapi Uryuu mendahuluinya.
"Mana mungkin dia tidak lihat! Cahaya pemulihan itu kan berasal dari SF-nya, Metatron!"
"Jadi—"
"I-i-itu tidak benar, Ichigo!" Tatsuki tergagap.
"Apanya yang tidak benar,heh..." Sasuke bergabung dalam pembicaraan. "Kalau kami tidak menutup matanya disaat terakhir, mungkin dia sudah lihat semua." Dia menyeringai penuh maksud.
"APA?!"
"Dan, kau tahu, Kurosaki..." ucap Uryuu. "Dia sepertinya kelewat bersemangat." Ia tertawa terbahak-bahak, kelihatan tak cocok dengan imej dirinya yang tenang.
"Kalian!"
Disaat wajahku dan Tatsuki sudah sama merahnya, sebuah pukulan mendarat di kepala Sasuke dan Uryuu. Pukulan itu berasal dari seorang pria yang baru saja muncul di ruangan itu, sepertinya dimaksudkan hanya untuk menegur saja.
"Sudah bercandanya!" Seru orang itu tegas. "Memalukan sekali melihat Valkyrie yang bersikap seperti kalian!"
Pria itu sudah dewasa, kuperkirakan umurnya udah tiga puluh lebih. Tinggi badannya menyamai Uryuu yang tinggi, dan ia kekar. Wajahnya seperti veteran perang, penuh bekas luka, dan rambutnya yang agak runcing berwarna hitam. Walau begitu, mata coklatnya tampak ramah ketika ia tersenyum padaku.
"Perkenalkan, namaku Asuma Sarutobi, Komandan Divisi I." Sapanya. "Kau pastilah Ichigo Kurosaki."
"Y-ya..."
Setelah ia memastikan Tatsuki dan Uryuu tak bertengkar lagi, ia menarik mereka berdua menjauh, menuju pintu satu-satunya di kamar itu.
"Sasuke, kau juga keluar. Teman baru kita perlu privasi dengan pakaiannya." Katanya pelan. "Kita punya banyak hal yang harus kita bicarakan dengannya setelah itu."
"Baiklah, baiklah..." sahut Sasuke malas-malasan. "Aku juga tak ada minat menontonnya pakai baju..."
Mereka semua pergi, meninggalkanku dalam ruangan serba putih itu sendirian.
Aku mencari-cari pakaianku, dan saat itu juga kutemukan mereka di meja samping ranjangku. Bajuku yang basah kena darah telah diganti dengan baju putih bersih, sedangkan celana, jaket dan yang lainnya masih lengkap. Setelah aku selesai berpakaian, mataku menangkap sebuah cermin di dinding dekat pintu ruangan itu. Kurasa aku perlu melihat bagaimana tampangku setelah semua yang kualami hari ini...
Jantungku serasa mau copot saat kulihat pantulanku di cermin menyeringai penuh taring, rambutku menjadi seputih salju. Bagian putih mataku telah berubah menjadi hitam, seakan diisi kegelapan. Aku menghembuskan nafas, dan pantulanku menghembuskan uap putih yang tebal, membuat permukaan kaca jadi buram...Tak percaya, aku menggosok kaca itu. Setelah kulihat lagi, ternyata itu cuma perasaanku saja. Rambutku oranye seperti biasa, mata dan wajahku juga normal-normal saja. Pasti pikiranku terganggu karena hal-hal sinting yang terjadi padaku hari ini, hahaha...
Suara alarm yang nyaring mengagetkanku yang masih bercermin. Datangnya entah darimana, seakan dinding dan lantai itu sendiri yang mengeluarkan suara itu. Suara derap langkah kaki juga terdengar ramai diluar ruangan ini, dan beberapa detik kemudian pintu ruangan itu terbuka.
"Kau beruntung, Ichigo Kurosaki." Kata Uryuu, hanya sendirian. "Waktu untuk membuktikan kekuatanmu telah tiba."
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Para Abyss mulai menyerang kota ini. Kita harus mengalahkan mereka untuk melindungi kota ini."
"Tapi..."
Aku baru mau protes saat Uryuu melemparkan sebuah kalung dengan sebuah oktagram hitam tergantung di rantainya.
"Terimalah. Itu dari Ketua Tertinggi." Kata Uryuu. "Beliau bilang, sebenarnya itu milikmu sejak awal."
"Sejak awal?"
"Ya. Sudah tak ada waktu lagi..." Uryuu mundur dari ambang pintu. "Kita akan bicara setelah urusan ini selesai...kami akan memberitahumu segalanya..."
Uryuu tersenyum sebelum ia melanjutkan.
"Tentang Valkyrie dan Vampire..."
#Tambahan: Bagi yang mengharapkan aksi Naruto, harap sabar karena gilirannya masih cukup lama :v
CHAPTER 4 ENDS
