Naruto © Kishimoto Masashi

Lovely Girl © Haruno Aoi

Setting: AU

Warning: crack, OC, OOC, tema pasaran

Tidak suka? Terserah Anda ^^v

.

.

.

* Lovely Girl *

.

.

.

Yume keluar dari kamarnya sambil menggosok matanya dan sebelah tangan memeluk boneka beruang coklatnya. Surai merah kehitamannya tergerai di punggungnya, poninya yang rata dan tebal menutupi keningnya. Piyama ungu mudanya yang hangat dan bergambar beruang coklat membuatnya tampak lebih montok daripada seharusnya. Senyum menghiasi wajah imutnya tatkala ia menghirup aroma sedap dari arah dapur dengan rakus.

Suasana pagi seperti inilah yang sangat dirindukannya ketika Mama harus bekerja di luar kota selama beberapa hari. Dan sejak Mama pulang dari pekerjaannya di luar kota tempo hari, tidurnya selalu nyenyak sebab tidak harus menginap di apartemen Bibi Sakura. Apalagi Mama sudah menjanjikannya liburan karena tidak bisa membawakan oleh-oleh untuknya, juga sebagai hadiah ulang tahunnya yang tertunda.

Bocah lima tahun itu membawa langkahnya menuju dapur dan senyumnya semakin merekah menemukan Mama sedang mengaduk susu cokelat kesukaannya.

"Mamaaa…," panggilnya riang sambil berlari kecil.

Karin tersenyum lembut sembari meletakkan segelas susu untuk Yume di meja makan, di antara hidangan sarapan yang tampak menggiurkan. "Sudah merapikan tempat tidur?" tanyanya.

"Sudah," jawab Yume seraya tersenyum lebih lebar dan menduduki kursinya di meja makan.

"Tapi…," Karin mengamati Yume dengan memasang tampang seolah tengah berpikir keras, "kelihatannya putri Mama ini belum mandi," godanya.

Yume sedikit cemberut mendengarnya. "Masih dingin, Ma…," rengeknya.

Karin mengerti akan daya tahan tubuh Yume di musim dingin yang lebih lemah dibandingkan musim lainnya, karena itu ia tidak akan memaksa. Meskipun mandi dengan air hangat, udara di musim dingin memang tetap membuat Yume menggigil. Karena masuk taman kanak-kanak masih musim semi mendatang, biasanya Yume akan mandi saat siang hari. Dalam jangka waktu tersebut, ia tengah bekerja di rumah sakit terdekat dan menitipkan Yume pada Sakura yang sebagai perawat kebetulan lebih sering dinas malam.

Sebagai balasan, Karin mencium kedua pipi chubby Yume dengan sayang bercampur gemas. Ia hanya senang menggoda putrinya, apalagi jika responnya adalah pipi yang menggembung dan bibir mengerucut. Rasanya ia tidak rela untuk berangkat ke rumah sakit bila melihat Yume yang berekspresi seperti itu.

Namun, uang tidak akan datang dengan sendirinya bila tidak diperjuangkan. Yume adalah alasan baginya untuk terus melanjutkan hidup dan perjuangan. Ia selalu bekerja tanpa kenal lelah sejak memutuskan untuk menjadi orang tua tunggal bagi putrinya. Ia bahkan masih tetap mencari nafkah sampai seminggu sebelum melahirkan Yume.

Seperti biasa, Karin menuangkan sedikit cairan pembunuh kuman di telapak tangan Yume dan menyuruh putrinya itu untuk menggosok kedua tangannya sampai kering sebelum menyentuh makanannya. Yume selalu mengingat akan kebiasaan baik yang diajarkan oleh Mama, ia juga melakukannya bila harus makan sendirian di rumah.

Matanya berbinar saat mulai menyendok irisan tomat di dalam mangkuk sup iganya. Ia mengunyahnya dengan lahap, lalu tersenyum karena Mama memandanginya.

"Nanti siang panaskan makanannya lagi. Kalau takut tumpah, minta bantuan Bibi Sakura. Yang terpenting, Yume harus makan tepat waktu."

Hampir setiap hari Yume mendengar wejangan serupa dari Karin. Ia hanya mengangguk karena mulutnya penuh nasi dan daging. Dilihatnya Mama sudah selesai menyantap sarapan dan bergerak ke sana kemari menyiapkan tas sekaligus peralatan kerja.

"Kalau mau makan tomat atau buah lainnya dari kulkas, harus dicuci lagi dan tunggu sampai tidak terlalu dingin. Jangan makan es krim sebelum makan nasi. Apalagi sampai naik kursi untuk buka freezer, bahaya. Kalau kebetulan Bibi Sakura sedang tidak sibuk, minta bantuan padanya saja. Di kulkas masih ada pudding sama yoghurt kalau Yume ingin camilan, roti gandum juga ada di meja makan."

Yume masih mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Karin sambil mengamati setiap gerak-gerik wanita yang telah melahirkannya tersebut. Sesaat kemudian Mama mengambil piring dan mangkuk bekas makan Yume, tidak lupa gelas yang isinya sudah tandas. Setelah itu, Mama mencuci semua perlengkapan makan yang sudah kosong di bak cuci.

Mamanya adalah pekerja keras. Kata Bibi Sakura, mamanya adalah wonder woman, wanita super.

"Ingat, jangan main terlalu jauh. Kalau bosan, masih ada buku mewarnai yang kemarin Mama belikan."

Terkadang Yume merasa kesepian, apalagi kalau Mama bekerja sampai melewatkan makan malam bersamanya. Namun di usianya saat ini ia sudah mengerti kalau Mama bekerja demi dirinya. Ia jadi teringat Papa dan selalu bertanya-tanya, mengapa Mama dan Papa tidak tinggal bersama? Mengapa ia tinggal bersama Mama di sini, dan Papa tinggal di sana? Lalu, sekarang Papa sedang apa? Apakah juga sedang sarapan seperti dirinya dan Mama barusan?

Yume ingin bertemu Papa lagi. Tetapi, waktu itu Papa kelihatan tidak senang saat Yume datang. Apakah Papa benci Yume?

~ooo~

Sasuke tampak tidak setenang biasanya. Setibanya di kantor ia sudah harus berada di ruang meeting karena menerima informasi dari orang tak dikenal, yang mengatakan bahwa data rancangan produk terbarunya bocor. Setelah ditelusuri, ternyata hard disk berisi data rancangan dan video fashion show tempo hari hilang. Selain dirinya, ruangan rapat sudah dipenuhi wajah-wajah orang penting, yaitu general manager serta semua kepala bagian yang berkumpul dengan wajah tegang dan masam.

Baru kali ini ia mengalami kasus serupa selama dua periode produksi secara berturut-turut. Ini merupakan kasus kebocoran kedua setelah kekacauan sebelumnya bisa ditangani tanpa menimbulkan kerugian bagi perusahaan. Hal tersebut otomatis membuat Sasuke curiga, sepertinya ada orang dalam yang menjadi dalang di balik semua ini, pasti ada yang mengkhianati perusahaannya. Karena itu, ia selaku direktur utama merasa harus turun tangan.

Tidak seperti kasus sebelumnya yang masih bisa merancang ulang desain tanpa harus mengganti bahan baku, saat ini proses produksi secara besar-besaran hampir selesai dan kurang dari seminggu produk akan diluncurkan ke pasar, sehingga rancangan tidak mungkin diganti lagi. Tentu saja tidak ada yang bersedia menanggung kerugian, apalagi untuk ukuran produksi dalam partai besar perusahaan fashion yang dikepalai oleh Sasuke. Untuk pengkhianat adalah masalah kedua bagi Sasuke, sekarang yang terpenting adalah tentang produk terbarunya.

"Kita harus bertindak secepat mungkin! Waktu kita hanya tinggal satu minggu!" Suara Sasuke menggelegar. Tatapannya setajam belati. Ekspresinya yang menyeramkan membuat sebagian rekan kerjanya gemetaran dan berkeringat dingin.

"Bagian marketing, Nara-san, cepat selidiki pasar dan cari tahu apa sudah ada yang membajak rancangan kita! Kalau perlu, bentuk tim khusus dan turun langsung ke pasar! Saya butuh laporannya setiap hari!"

Dari Nara Shikamaru yang tampak kurang antusias, pandangan menusuk Sasuke beralih kepada lelaki bermata lebar. Yang menjadi objek penglihatannya hanya terpaku tanpa mampu berkata-kata.

"Bagian desain, Lee-san, saya ingin desain keseluruhan terbaru disiapkan dalam waktu tiga hari dengan raw materials berbeda, sebagai antisipasi bila rancangan kita sudah diendus oleh kompetitor! Kita tidak boleh kalah cepat dari mereka! Saya percaya Anda dan tim pasti bisa menyelesaikannya sebelum deadline. Presentasi darurat akan diadakan tiga hari dari sekarang dengan menggunakan raw samples dan manekin."

Tatapan tajam Sasuke beralih ke arah lelaki bertubuh tambun yang menjabat sebagai purchasing director, Akimichi Chouji.

"Bagian purchasing, Akimichi-san, segera hubungi supplier kain dan kancing setelah ada laporan dari bagian desain! Kita butuh dalam partai besar! Saya tidak mau ada keterlambatan! Produksi juga harus dipercepat!" Sasuke menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya, "Untuk urusan penyelidikan kasus ini, saya dan Yakushi-san akan menanganinya langsung." Sasuke melirik Yakushi Kabuto selaku general manager perusahaannya. "Kalian cukup berkonsentrasi pada instruksi yang saya berikan. Baik, rapat bubar!"

Sasuke meninggalkan ruang meeting terlebih dahulu diikuti general manager sekaligus sekretaris pribadinya. Wajahnya yang gusar tampak mengerikan, dan sesekali ia akan memijit pelipisnya sendiri. Kasus ini benar-benar menguras kesabarannya, apalagi ia masih harus menghadiri rapat bulanan. Heck, saat ini rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya di suatu tempat yang kedap suara.

~ooo~

Seusai pemotretan, Ino dan Naruto makan siang bersama di sebuah restoran yang terletak paling dekat dengan studio. Mereka tidak hanya berdua karena ada Sai sang fotografer dan Shion yang menjabat sebagai salah seorang manajer di studio pemotretan tersebut. Keadaan restoran cukup lengang meskipun sudah memasuki jam makan siang.

"Sayang sekali Sasuke tidak bisa memenuhi ajakanku," celetuk Ino.

"Bagaimana kalau lain kali kita dinner berenam?" sahut Naruto seusai menyeruput chocolate milkshakenya.

"Berenam?" Shion memandang Naruto yang duduk di seberangnya dengan kening mengernyit. Pertanyaannya mewakili dua orang lainnya.

Naruto tersenyum simpul sebelum menjawab, "Keberatan?"

"It's none of my business," balas Shion acuh tak acuh seraya melanjutkan, "Well, I think no problem. Right, Bunny?" Shion menoleh ke arah Sai yang duduk di sebelah kanan, yang seketika tersenyum singkat setelah mendapatkan persetujuan.

"Nah, berarti kau akan membawa pasanganmu?" Ino menyunggingkan senyum misterius.

"Boleh dibilang begitu." Jawaban Naruto yang terdengar santai merupakan pembenaran untuk tebakan Ino. Ia melirik Shion sebelum melanjutkan menyantap pastanya.

"Okay, we'll see," gumam Ino yang kemudian menyeruput vanilla lattenya.

"Kukira kau tidak akan memesan minuman selain teh tawar seperti Sasuke…." Sai sudah ingin menyinggungnya sejak waitress mengantarkan pesanan.

"Dia memang sering kasih saran ke aku untuk lebih banyak mengonsumsi minuman berkhasiat seperti seduhan teh atau jus buah dan sayur. Tapi mau bagaimana lagi, aku 'kan sukanya ngopi. Biarin deh Sasuke ngomel atau ngedumel kayak apapun."

Sai hanya manggut-manggut sembari tersenyum lebih lebar. Ia jadi membayangkan bagaimana sepupunya yang pecandu teh itu tengah menggerutu dan mendadak berubah cerewet hanya karena minuman. Mungkin akan semakin menggelikan bila menyaksikan Sasuke berdebat dengan Ino lantaran teh atau minuman berkhasiat lainnya. "Biasanya kalau sudah berkutat di meja kerja, Sasuke sering lupa waktu. Sebagai calon Nyonya Uchiha yang baik, seharusnya saat ini kau mengantarkan makan siang untuknya."

Ino terkekeh. "Pria Uchiha bukan cuma Sasuke, 'kan?" tanyanya retoris pada lelaki bermarga Uchiha di seberang mejanya.

Naruto hanya menyunggingkan senyum miring andalannya sembari mengerling ke arah Shion.

~ooo~

Sudah memasuki jam tidur ketika ponsel Sasuke yang berada di atas nakas bergetar. Ia yang hampir rebahan lebih memilih untuk menjawab telepon setelah melihat layar ponsel touchnya.

"Bagaimana?" tanyanya tanpa basa basi.

"Selama jangka waktu yang sudah Anda informasikan, ada beberapa dokter bernama Karin di seluruh sekolah menengah di Sapporo."

Sasuke berusaha menekan rasa gelisahnya. "Lantas?" Ia mulai tak sabar karena seseorang di seberang sana membuatnya menunggu.

"Kami juga sudah mencocokkan identitas mereka dengan data dari Anda sekaligus foto yang Anda berikan. Tetapi…,"

Sasuke sama sekali belum menyiapkan dirinya untuk berita terburuk.

"tidak ada di antara mereka yang bermarga sama dengan wanita bernama Karin yang Anda maksud, selain itu wajah mereka juga tidak menunjukkan kemiripan."

Sasuke menghela napas panjang sambil meremas rambutnya. Secara mendadak kepalanya terasa pusing. "Komisi kalian akan segera kutransfer," ujarnya lesu. Ia langsung menutup sambungan sebelum mendengar balasan dari lawan bicaranya.

Sasuke memang bodoh karena baru mencarinya sekarang. Akibatnya, ia benar-benar kehilangan jejak Karin. Apalagi, ternyata Karin berdusta padanya mengenai mutasi ke salah satu sekolah menengah di Sapporo, Hokkaido. Waktu itu Sasuke sempat menduga bahwa Karin hanya berusaha menghindarinya, tetapi ia ingin percaya pada mantan dokter sekolahnya tersebut.

Dimanakah tempat tinggal Karin selama ini? Benarkah saat itu Karin meninggalkannya karena tengah mengandung darah dagingnya? Karena Karin memikirkan masa depannya, makanya wanita itu lebih memilih untuk menghindarinya?

Apa benar kalau Yume adalah putrinya? Jika dihitung sejak kepergian Karin dari sisinya, ada kemungkinan bahwa pengakuan Yume memang benar adanya. Lantas, jika memang benar, bisa dikatakan bahwa selama hampir enam tahun Karin menanggung semuanya sendiri, tanpa dirinya yang seharusnya bertanggung jawab.

Sasuke memejamkan matanya dengan frustasi. Ada penyesalan mendalam sekaligus perasaan bersalah yang menggelayuti hatinya, dan terasa semakin menyesakkan jika mengingat adanya kemungkinan besar bahwa dirinya merupakan ayah biologis dari Yume. Berarti selama ini Karin berjuang seorang diri, tanpa suami, kecuali jika di sana ia dinikahi oleh pria berhati baik yang mampu menerima keadaannya saat itu. Hati Sasuke seolah terhujam belati berkali-kali bila memikirkannya lebih jauh.

Pandangan Sasuke tergugah oleh sebentuk cincin platina yang melingkari jari manisnya. Memangnya apa yang bisa dilakukannya setelah menemukan Karin dan mendapatkan penegasan bahwa Yume adalah putrinya?

Pasti semuanya tidak akan serunyam ini bila waktu itu Sasuke mencoba menahan kepergian Karin.

~ooo~

Merupakan kebiasaan bagi Yume untuk menanti kepulangan Mama. Seperti biasa, ia menunggu di taman terdekat dari kediamannya, yang selalu dilewati Karin saat berangkat dan pulang kerja. Yume duduk manis di bagian atas papan seluncur dengan pandangan mengarah pada jalan. Biasanya ia akan pulang bila hingga hampir petang Mama belum kelihatan. Tetapi, saat ini langit baru terbias cahaya jingga, dan Mama sudah janji akan pulang sebelum matahari tenggelam.

Tiba-tiba Yume merasa cemas ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti tak jauh darinya, ia takut. Kata Mama, di luar banyak orang jahat, makanya Yume tidak boleh main terlalu jauh dari apartemen. Ia khawatir kalau paman berambut cerah yang baru keluar dari mobil itu adalah penculik. Paman yang mengenakan kaca mata hitam itu kelihatan tersenyum pada Yume, tapi bocah itu malah beringsut mundur ke tempat yang sedikit tersembunyi dari pandangan.

"Halo, Cantik…," sapanya yang kemudian tersenyum lebar.

"Ojisan orang jahat?" tanya Yume polos tanpa berani memandang lelaki tinggi itu.

Paman tak dikenal itu tertawa geli. Belum sempat menjawab, sebuah seruan mengalihkan perhatian dua orang tersebut. Wajah Yume langsung sumringah. Ia merasa lega karena yang dilihatnya adalah Mama yang berjalan cepat ke arahnya, dan ia tidak menunggu lama untuk menyerukan panggilan. Ia meluncur ke bawah dan bersiap lari untuk meraih Mama. Namun, tanpa disangka ia didahului oleh paman yang secara tiba-tiba bergerak memeluk Mama.

Yume terpaku di tempat, sementara Karin masih terbelalak dan belum mampu berkata-kata.

"Aku merindukanmu…," ujar lelaki itu, "sangat."

Suara itu … Karin yakin pernah mendengarnya, sering malah. Walaupun lebih berat, tetapi Karin masih ingat bahwa pemilik suara itu adalah….

.

.

.

Go koui, arigatou gozaimashita:

nara kazuki (^^), Lollytha-chan (^^), prazanthichan (Salam kenal juga ^^), Yamanaka Emo (^^), Aiiko Aiiyhumi (^^)

Terima kasih banyak semuanya. Terima kasih juga silent readers….

Note:

Ada bagian yang terinspirasi dari suatu novel. Pada chapter satu ada sedikit potongan lirik lagu Sang Mantan punya Nidji, waktu itu lupa cantumin dan sekarang malas edit chapter itu lagi. Hohoho.

REVIEW, ya…. ^^