I'm Not Doll Princess
Chapter 4 : Punch
Balasan Review
Mihawk607 : Yups, selamat bertemu lagi juga. Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak ya. Makasih sudah nak tilik fic Nao.
Miji695 : Terimakih. Pokoknya ada janji yang mengikat mereka, dan entah chapter kapan Nao beritahu. Sedikit-sedikit pokoknya akan terungkap.
Namikazexo : Makasih dan ini dia chapter 4, selamat membaca. Douzo.
Edachan02 : Ya, Sasuke berusaha mengelak. Tinggal tunggu waktu sampai panah Hinata menancap di hatinya. Hahahaha.
Hinata hime : Virus cintanya belum menyebar. Kita lihat nanti sebetapa out of caracter seorang Uchiha Sasuke hanya karena Hinata.
Ana : Ini Naruhina, so meski mungkin nanti Hinata dekat dengan Sasuke pada akhirnya cintanya tetap berlabuh ke Naruto.
Mawarputih : Iya, silahkan baca chapter 4 dan temukan jawabannya.
Deandra : Oh, nonono. Naruto membiarkan Hinata memakai make up tebal bukan karena alasan itu. Cinta? Lebih tepatnya belum. Nanti di ceritakan kok tenang. Ini dia chapter 4 selamat membaca dan ditunggu reviewnya.
Guest1 : Mereka punya masa lalu rumit pokoknya, nantikan saja karena semua akan dikupas sedikit demi sedikit.
Ila : Makasih, jangan lupa review kembali setelah membaca ya.
Qqq : Nao aja yang nulis juga bingung. Yang jelas mereka romantis untuk ukuran kakak dan adik. Nanti akan ada penjelasan detailnya hanya saja tidak instan. Sedikit sedikit.
Karlina : Ehem sedikit Nao jelaskan. Naruto sayang Hinata, tapi lebih dari adik hanya saja ia tak sadar. Sasuke suka Hinata hanya saja ia mengelak dan Hinata? Sepertinya ~ ya~
NillaariezqysekarrSarry470 : Iya, ini sudah kok.
Oortaka : wuah? Tebakanmu ada benarnya, alasan dia gila salah satunya adalah obat itu tapi itu merupakan alasan lain. Karena alasan utamanya belum Nao ungkapkan. Anda peka juga, nice. Nao selalu buat yang rumit-rumit karena fic Nao semuanya berat. Segi empat tentu antara Naruto ke Sakura, Sakura ke Sasuke, Sasuke ke Hinata dan Hinata ke Naruto. Bagaimana?
Tsukikohimechan : dan apa yang dia lihat? Silahkan baca saja, ne?
Ullehime : Makasih. Nao juga NHL tapi bukan sejati karena Nao bisa baca SasuHina tapi nggak bisa baca NaruSaku, aneh ya?
Whitelily : ok
Nawaha : Ada alasan kenapa dia berkepribadian seperti itu. Dan bagi kamu yang baru pertama kali baca fic Nao pasti bingung. Karena ketiga fic Nao kurang lebih main chara punya lebih dari satu kepribadian meski bukan DID. Dan Natsu? maaf karena kelamaan di Fairy Tail jadi kebiasaan. Dia main chara di Fairy Tail. Gomen.
Apocalypse201 : Makasih pujiannya, nantikan terus ya. Selamat membaca.
Endahs442 : Iya, banyak sekali misteri. Hubungan antara Namikaze, Uchiha dan Hyuuga (yang belum disinggung)
Akayuki1479 : Tapi entah kenapa bikin melting kan? Dan ya~ karena sangat membosankan kalau sikap main chara baik dan gitu" aja. Khas Nao lah lebih tepatnya.
NamikazeRael : Banyak yang terjadi dimasa lalu hingga Hinata gila dan Naruto seperti itu. Makasih sudah bilang ini keren, tapi kalau mau yang lebih maaf promo. Baca juga Good Morning, Vampire milik Nao. Sekali lagi terimakasih.
Salsal Hime : Baca saja ne? Meski sebenernya Nao gatal juga pengen buru-buru ngungkapin.
Luvhinaru : Makasih, Nao saja sampai gigit jari. Iya ini dia chapter 4. Kamu sampai review dua kali? Maaf karena lama update ya.
HL : Iya, siap.
Mey lovenolaven : Ya~ bagaimana ya menjawabnya. Sepertinya iya karena mereka nggak mirip kan? Sebagai pria sepertinya Naruto cemburu, tapi jika sebagai kakak maka akan lain artinya, seperti over protect. Silahkan berspekulasi.
Desyy : Yups, Nao juga merasa begitu. Sikap Naruto dan Sasuke mirip tapi jika dilihat betul-betul mungkin mendingan Sasuke. Iya nggak apa baru nemu coz sangat banyak fic di Naruto yang di update/publish setiap hari bahkan jamnya.
.
.
.
Warning : Don't Like Don't Read
.
Rate : T
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort
Pair : [Naruto N. Hinata H] Sasuke U, Haruno S
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei
.
.
.
Naruto menempelkan bibirnya ke mata kanan Hinata dengan lembut. Seolah mengatakan pada gadis itu untuk berhenti menangis. Namun hal itulah yang membuat lelehan demi lelehan air mata Hinata tak kunjung reda. Ciuman itu bak pemicu bom. Membobol pertahanan seorang Hinata, merusak sarafnya Hingga tanpa sadar bibirnya berucap . . .
"Naruto-kun?"
Dan dibalik pintu ruang kesehatan, Sasuke menyembunyikan diri. Pintu yang terdapat sebuah kaca tembus pandang itu menghantarkannya pada sebuah adegan yang harusnya tidak ia lihat dan suara yang harusnya tidak ia dengar.
"Naruto-kun?"
...
Mata Sasuke terbelalak tak kala melihat adegan itu. Mata hitamnya melihat dengan jelas bagaimana Naruto menahan amarah hingga dengan gilanya pemuda itu mencium adiknya. Catat dan garis bawahi kata adik. Silahkan pikir Sasuke gila, tapi ia laki-laki normal dimana ia masih bisa membedakan tatapan kasih sayang atau cinta. Mata dan sikap Naruto barusan jelas-jelas bukan tatapan seorang kakak, melainkan sosok lain, meski Sasuke belum seratus persen yakin kalau tatapan itu tatapan seorang pria. Naruto benar-benar membangun dinding yang sangat tebal dengan tingkat transparansi minimal dimana tak akan ada orang yang bisa melihatnya.
Dan yang lebih membuatnya terbelalak adalah, alunan suara merdu dari bibir Hinata. Gadis kecil dengan gangguan mental yang biasa memanggil sang kakak dengan suffix –nii kini sudah melantunkan suffix lain yang tidak pernah terbayang di otak cerdasnya.
"Naruto-kun?"
Begitulah Hinata menyebutnya. Nafas Sasuke mendadak tercengat saat itu pula. Ia bahkan sampai lupa bernafas, namun dengan cepat ia sadar dan bergerak menyembunyikan diri. Jantungnya berpicu dan dadanya kini serasa sesak. Bahkan ia tak sadar kalau tangannya sudah mengepal, mencengkeram sebuah tas kecil bermotif bunga lavender.
Flashback
"Tidak bisakah kau diam!" bentaknya
Hinata menoleh, dan ketika ia sudah menoleh sempurna, sepasang mata onyx itu membelalak sempurna.
Sasuke terdiam. Suara yang harusnya memaki gadis dihadapannya seakan direnggut dan pita suaranya seolah mati. Wajah itu, wajah putih bak porselin itu begitu terluka, dan mata mutiara itu begitu sayu. Liquid bening membasahi wajahnya dan bibirnya ia gigit guna menahan isakan yang semakin menjadi-jadi. Tidak hanya itu guncangan yang melanda batin seorang Sasuke, melainkan sebuah dengungan halus yang memanggilnya . . .
"Sasuke-kun"
"Cantik" puji Sasuke dalam hati secara tidak sadar
Sasuke terperanjat, sadar apa yang baru saja ia katakan dalam hati. Ia berusaha mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, menyembunyikan rona merah yang sudah tersirat tipis di kedua belah pipi tirusnya. Jantungnya bergetar, menggema hingga telinganya bahkan bisa mendengar suara dentuman tersebut. Ingin rasanya ia memaki namun lidahnya mendadak kelu.
"Apa-apaan ini?" tanya Sasuke dalam hati
Hinata menatap memelas pada Sasuke, seolah mengadu, meminta bantuan atau sekedar sandaran, namun pemuda itu tak bergeming. Meski tanpa sepengetahuannya nyatanya Sasuke dapat dengan jelas melihat segala raut wajah sendu Hinata melalui ekor matanya.
"Jangan menatapku" rapal Sasuke dalam hati
Sasuke mencoba memutar badan, namun tanpa sengaja onyxnya malah menangkap sesuatu lain.
Kaki memar Hinata.
Sasuke pun terbalalak.
Merasa diacuhkan, Hinata tertunduk. Salah besar ia mengharapkan sang Uchiha itu bersimpati padanya. Tiba-tiba bayangan akan mata hitam, mata yang serupa dengan milik Sasuke kembali menghantuinya. Mata yang selalu mengintimidasinya dan memaksanya masuk kedalam perangkap dunia lain. Hinata menggeleng, berusaha mengenyahkan bayangan mata itu hingga sebuah sentuhan halus menyentaknya.
Hinata terbelalak tak kala tangan Sasuke menyentuh kakinya. Bahkan entah sejak kapan pemuda itu sudah melepas sepatu dan kaos kaki miliknya. Mengusap lukanya dengan obat merah dengan sangat lembut. Hinata tak bergeming dibuatnya. Ingin sekali ia berucap, namun ia terlalu takut.
Tak ada yang saling bicara, baik Sasuke maupun Hinata. Tak ada yang tahu kenapa sang Uchiha itu memperlakukannya lembut. Sentuhan Sasuke benar-benar lembut, sangat berbeda dengan tindak tanduknya biasanya.
Perlahan-lahan mata Hinata menyipit, menatap Sasuke dengan perasaan yang sulit digambarkan. Gambaran akan mata hitam itu sirna dan kini ada secuil perasaan senang di sudut hatinya. Dan entah kenapa hal itu membuatnya teringat akan sosok sang kakak. Hatinya mencelos, nyatanya sang kakak yang biasanya selalu ada untuknya kini mengacuhkannya hanya karena kejadian tempo malam.
"Kenapa?" tanya Hinata
Sasuke terdiam sejenak.
"Kau bertanya padaku atau pada siapa?" tanyanya datar
"Kenapa dia tak ada disaat seperti ini?" tanya Hinata
"Kenapa kau bertanya padaku? Apa kau pikir aku ini cenayang yang bisa membaca pikiran kakakmu?" tanya Sasuke balik
Hinata semakin menajamkan pandangannya pada Sasuke.
"Bukankah kau yang mengatakannya? Kau bilang aku tidak mengerti. Kau bilang Naruto-nii akan meninggalkanku. Apa aku salah?" kata Hinata
"Kau mau menyalahkanku?" tanya Sasuke dingin
"Bukan. Aku hanya ingin mengerti" jawab Hinata mulai menundukkan wajahnya
"Sejak kapan kau ingin mengerti? Padahal jelas-jelas kaulah yang menolak untuk mengerti" jawab Sasuke
DEGH
Hinata terbelalak. Penyataan Sasuke barusan seolah menamparnya secara keras. Menyadarkannya pada sebuah kenyataan bahwasanya selama ini memang dialah yang menolak untuk mengerti. Dialah yang selalu menepis keganjalan apapun dari sikap sang kakak. Dan dia juga yang memilih menerima dan menutup telinganya. Matanya kembali berair, dadanya pun sesak. Kilasan akan sikap kasar Naruto memenuhi ingatannya, dan semakin membuat liquid bening itu berjatuhan. Menetes dan tanpa ia sadari membasahi wajah sang Uchiha yang kini sudah menengadahkan wajahnya dengan raut terkejut.
"Hiks, hiks" isak Hinata
Satu tetes, dua tetes. Liquid bening itu terus membasahi wajah Sasuke. Dapat dirasakannya liquid itu yang terasa hangat dipipi, dan enah kenapa dadanya serasa sesak. Bibir Sasuke terbuka, ingin mengatakan sesuatu, namun tangis Hinata yang semakin menjadi-jadi benar-benar meluluh lantarkan kalimatnya. Apalagi wajah cantik itu, sungguh membuat otaknya kosong.
"Hiks" isak Hinata
"Kenapa?" isaknya lagi
TAP
Sasuke menyentuh pipi kanan Hinata dengan tangan kanannya, dan itu sukses menyentak gadis itu hingga tangisnya berhenti. Diusapkannya ibu jarinya pada pipi Hinata, menyapu sang liquid dan membersihkannya dengan sangat lembut. Mata Hinata pun membulat sempurna.
"Berhenti menjadi cengeng" ucap Sasuke lembut namun terkesan dingin
"Kau tahu kenapa banyak orang membencimu?" tanya Sasuke secara retoris
"Karena semua benci melihat gadis lemah nan cengeng yang selalu bersembunyi dibalik bayang-bayang sang kakak. Katakan kalau mereka iri, namun seseorang yang lemah akan membuat orang lain melihat sisi lain diri mereka yang mereka benci. Sadar tidak sadar, namun begitulah hukumnya" papar Sasuke
"Tapi ada beberapa kasus dimana sesorang membencimu tanpa alasan" lanjut Sasuke
"Sepertiku contohnya" lanjut Sasuke dalam hati
"Dan kalau kau ingin mengerti, keluarlah dari zonamu. Kejam memang namun kau harus mengetahui akan hal itu" kata Sasuke kemudian
Hinata membisu. Zona. Ia sangat mengerti akan maksud dari perkataan tersebut. Namun keluar dari Zona tidak semudah yang dikatakan. Keluar dari sana, sama saja dengan membunuh. Bibir Hinata bergetar menyadarinya.
Semua perkataan Sasuke seakan menusuknya, menohoknya sampai ke ulu hati. Menjalar ke ingatannya dan memecahkan gembok sebuah pintu yang menyimpan sketsa masa lalunya. Sketsa berwarna yang ia ubah sendiri menjadi abu-abu. Sebuah keputusan yang ia ambil diusia belia dan berdampak besar pada hidupnya.
Sasuke bangkit, ia sudah selesai memperban luka Hinata. Ia pun menarik tangannya dari wajah Hinata, namun tiba-tiba saja tangan gadis itu mencegahnya.
"Aku tidak akan meninggalkan Naruto-nii" kata Hinata tanpa memperlihatkan wajahnya
"Apa?"tanya Sasuke dalam hati
"Aku akan selalu berada disampingnya" lanjut Hinata
"Tidak masalah jika semua orang membenciku, tidak masalah jika aku menjadi bodoh. Pada dasarnya aku memang seperti ini. Jadi tidaklah sulit bagiku" kata Hinata
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke tidak mengerti, karena perkataan Hinata terkesan ambigu
Hinata tidak menjawab. Gadis itu menahan isakannya, menengadahkan wajahnya dan kini tersenyum tulus padanya. Senyum yang sanggup membungkan seorang Uchiha Sasuke hingga pemuda itu lagi-lagi tak bisa mengeluarkan kalimatnya. Wajahnya yang putih dengan rona merah akibat terlalu banyak menangis serta rambut indigonya yang tergerai sempurna, membuatnya benar-benar terlihat sangat cantik di mata Sasuke.
Dan setelah itu Hinata meminta Sasuke mengambilkan peralatannya karena ia tidak ingin kembali ke kelas. Biasanya Sasuke akan menolak, namun karena otaknya blank, ia mengangguk dengan cepat dan melesat keluar dari ruang kesehatan.
Diluar, Sasuke menyandarkan bahunya di dinding. Mengatur nafas dan detak jantungnya yang menggila. Bayangan akan senyum di wajah cantik Hinata kembali membayanginya.
"Aku bisa gila" gumamnya
Flashback End
Sasuke mempererat cengkeramannya, hingga dadanya serasa panas dan ingin meledak. Dan ketika tangannya melemas, akhirnya ia memilih pergi. Meninggalkan kedua Namikaze bersaudara tersebut.
Sementara di dalam.
Naruto terbelalak mendengar panggilan Hinata. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dan ketika gadis itu mengulangi panggilannya yang kedua kali, sontak ia mendorong bahu Hinata hingga sang adik terhempas di ranjang.
"Apa yang kau katakan?" tanya Naruto
"Naruto-nii" panggil Hinata seraya berusaha bangun
"Bukan, kau tidak memanggilku dengan sebutan –nii barusan" kata Naruto mengkoreksi
Hinata bangun, ia menyibakkan rambutnya yang berantakan. Namun belum sempat rambutnya tertata rapi, Naruto sudah mencengkeram bahunya, kemudian mengguncangnya.
"Katakan Hinata, apa yang kau katakan? tidak, apa yang kau lakukan? huh?" tanya Naruto menaikkan oktaf
Hati Hinata mencelos. Meski tadi ia menguatkan diri, namun kenyataan kalau sang kakak bermain kasar seolah mengejeknya. Menghinanya hingga titik terendah dan menodai sketsa abu-abu di ingatannya. Ingin rasanya menangis, namun entah kenapa air matanya kali ini tak mau turun untuk sekedar membanjiri wajahnya. Ia hanya diam mematung sementara Naruto terus mengguncang tubuhnya.
"Hinata, jawab aku!" bentaknya
Namun Hinata masih diam. Karena menurutnya itu lebih baik daripada ia terpancing dan keluar dari zonanya. Zona yang ia ciptakan untuk sang kakak. Dan jika zona itu hancur, baik dia maupun Naruto takkan pernah bisa kembali lagi.
"Jangan diam saja, cepat jawab aku!" bentak Naruto
"Maaf" ucap Hinata kemudian dengan suara lirih. Meski begitu, Naruto masih bisa mendengarnya dan menghentikan tindakannya.
Untuk sejenak, keduanya diam. Naruto tertunduk dengan masih mencengkeram bahu sang adik dan Hinata menatap Naruto dengan pandangan kosong. Bahkan ketika menit demi menit berlalu, dan matahari sudah mulai berada di ufuk barat, keduanya masih berada diposisi yang sama. Tak ada yang tahu apa yang tengah dipikirkan kedua insan tersebut. Yang jelas semua begitu rumit.
"Jangan pernah katakan itu lagi" kata Naruto dengan suara serak
"Kumohon" pintanya nanar
Naruto mengangkat wajahnya, mempertemukan iris saphirenya dengan amethys sang adik. Dan ketika mata keduanya bertemu, hati Naruto mencelos ketika tak melihat pancaran dari mata Hinata. Ia tahu Hinata frustasi, tapi ia jauh lebih frustasi. Pandangannya melembut, seolah menarik simpati dari sang lawan untuk menatapnya dengan pandangan serupa.
"Kau akan selalu jadi adikku"
"Kan?" lanjut Naruto
"Nata" panggil Naruto
Seketika pandangan mata Hinata kembali, digulirkannya pandangannya untuk membalas tatapan Naruto.
DEGH
Hati Hinata serasa dicubit kesekian kali. Bagaikan panah yang dilesatkan arjuna di medan perang bharatayuda, panah itu pula melesat dengan kecepatan sepersekian detik menancap di hatinya. Membuat luka kecil. Dan meskipun kecil, luka tetaplah luka yang mana akan perlu waktu untuk mengobatinya. Namun masalahnya, tidak hanya sekali dua kali. Namun berkali-kali. Tengoklah luka disisi lain hatinya, menganga lebar. Hinata menggigit bibir dalamnya, menahan gejolak yang sering menggerogotinya.
"Hn" jawab Hinata kemudian
Mata Naruto pun berair dan dijatuhkannya kepalanya di bahu Hinata. Tak lama kemudian, dapat Hinata rasakan bahunya basah. Naruto menangis. Dada Hinata semakin terasa sakit. Lagi-lagi seperti ini. Ia mengulurkan kedua tangan kemudian perlahan-lahan mulai mendekap sang kakak. Ditepuknya punggung lebar itu pelan guna menenangkan, namun yang ada malah Naruto mendekapnya erat. Hinata terkejut, namun melihat sebetapa posesifnya sang kakak akhirnya ia memilih diam.
Untuk yang kesekian kalinya. Naruto memeluk Hinata, sangat erat seolah tak ingin Hinata pergi meninggalkannya.
"Tetaplah berada disisiku" bisik Naruto
.
Kediaman Namikaze. Kushina tengah berada di ruang keluarga. Tempat biasanya keluarganya bersantai hanya untuk menikmati secangkir teh dan cookies buatannya sambil melihat pemandangan taman bunga di luar. Tempat biasanya canda tawa menghiasi dan saksi bisu betapa bahagia dan sempurnanya keluarga mereka meski banyak orang sering mencibir anak gadisnya karena berbeda. Kushina adalah ibu rumah tangga yang selalu ceria, bahkan tak jarang saking kelewat ceria ia bisa melayangkan spatula.
Namun kali ini, alih-alih melakukan kegiatan cerianya seperti menyulam atau berkebun, ia malah duduk di sudut sofa seraya menggenggam gagang telfon yang ia tempelkan di telinga dengan erat. Ruangan yang biasanya penuh akan cahaya menjadi gelap. Bahkan tirai pun tak dibukanya. Hanya cahaya dari senja sore yang menjadi penerangan satu-satunya di ruang itu. Kepalanya pun tertunduk.
"Dia melakukannya" kata Kushina pada seseorang di seberang telfon
"Tidak, baru kemarin dia melakukannya" jelas Kushina dan genggamannya pun mengerat
"Ya, dia masih meminumnya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Sungguh" adunya
"Tidak, jangan, aku tak ingin hal itu. Dia sudah cukup baik-baik saja selama ini. Aku hanya ingin satu hal" lanjut Kushina
"Aku mengandalkanmu" tukasnya kemudian
TUT
TUT
Sambungan diputus. Kushina pun mendongak, sorot matanya keruh dan tak lama kemudian ia sudah meneteskan air mata. Diraihnya sebuah bingkai figura foto di meja, dan dipandanginya foto Naruto dan Hinata kecil yang tengah tersenyum atau lebih tepatnya hanya Naruto yang tersenyum. Di foto itu, Naruto kecil menarik kedua pipi Hinata agar gadis kecil itu tersenyum. Kushina ingat dengan jelas kalau foto itu diambil saat Naruto masuk ke bangku sekolah dasar dan harus meninggalkan Hinata dirumah. Hinata merengek ingin mengenakan seragam seperti milik Naruto namun lantaran stock terbatas maka Hinata tidak bisa mendapatkannya. Maka dari itu, Naruto meminjamkan topinya pada Hinata. Alih-alih senang, Hinata malah cemberut. Jadilah Naruto memaksa Hinata tersenyum dan Kushina memotret mereka diam-diam.
Kushina tersenyum mengingat momen manis itu. Buah hatinya memang menjadi keindahan tersendiri di hatinya. Terutama senyum si sulung. Bagi Kushina, apapun akan ia lakukan asalkan Naruto terus tersenyum.
"Maaf" gumam Kushina
"Maafkan ibu" gumam Kushina lagi
Naruto dan Hinata pulang ke rumah. Begitu keduanya masuk, Kushina-lah orang pertama yang menyambutnya dengan senyum. Kushina mengangkat alisnya melihat Hinata yang bersembunyi dibalik punggung Naruto. Heran, akhirnya ia mengintip si bungsu dan terkejutlah ia melihat perubahan Hinata.
"Hi-na-ta" panggil sang ibu tak percaya
"Aku pulang" ucap Hinata
"Ah, selamat datang sayang" kata Kushina menarik Hinata kedalam pelukannya
"Hanya Hinata?" tanya Naruto
"Apa kau mau dipeluk juga?" tanya Kushina innocent
"Tidak. Aku lebih memilih dipeluk Hinata daripada ibu" jawab Naruto enteng kemudian melenggang pergi dari sana, meninggalkan Kushina yang mengumpat
"Anak itu" umpatnya
Hinata terkekeh. Ia melirik Naruto yang sudah menapaki tangga menuju lantai dua dan tersenyum menyadari kalau sang ibu masih uring-uringan tidak jelas.
Beralih ke kediaman Uchiha. Di ruang kerjanya, sang kepala keluarga Uchiha tengah menyandarkan punggung di kursi kebesarannya. Ia memijit pangkal hidungnya seraya memutar-mutar kursi. Mengabaikan kertas-kertas berisikan resume medis dan berbagai macam resep yang telah ia tulis. Pintu diketuk, Fugaku mempersilahkan seseorang itu masuk. Dan kini masukklah Itachi membawa secangkir teh hangat. Menyadari siapa yang masuk, buru-buru Fugaku memberesi semua kertas yang ada dan memasukkannya ke laci. Ia tersenyum pada putra sulungnya dan mempersilahkannya duduk di sofa.
"Jangan terlalu memporsir diri, ayah" kata Itachi
"Ibu khawatir" lanjutnya
"Kalau dia khawatir pasti dia yang membawakan teh itu" kata Fugaku sedikit merajuk
"Bungsu belum pulang jadi ibu lebih mengkhawatirkan dia" jelas Itachi mengundang kekehan Fugaku
"Oh ya ayah. Sebenarnya apa yang ayah kerjakan sampai-sampai harus rela meninggalkan schedule di rumah sakit? Ayah tahu? aku jadi sangat sibuk" tanya serta komplain Itachi
"Bukankah kau digaji untuk itu?" tanya sang ayah balik
"Ayah pandai sekali memerasku" keluh Itachi
Lagi-lagi Fugaku terkekeh.
Sasuke pulang. Begitu masuk rumah, bukannya menyapa sang ibunda, ia malah melenggang pergi begitu saja ke kamar. Bahkan bantingan keras daun pintu sanggup Mikoto dengar dari lantai bawah. Mikoto hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sasuke. Tapi ia juga tak akan marah. Bagaimanapun Sasuke putranya, ada cara yang lebih baik daripada memarahinya. Dan percayalah kalau hal itu hanya ada di pikiran aneh seorang Uchiha Mikoto, ibuda dari Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke.
Di kamarnya, Sasuke melempar tasnya asal. Ia membanting dirinya di kasur dan menghadap langit-langit. Dihelanya nafas dengan frustasi. Mengingat apa yang sudah dilakukannya beberapa jam lalu hingga berujung seperti ini.
"Sial" umpatnya
"Sasuke-kun"
Lagi-lagi bayangan wajah cantik Hinata melesat ke pikirannya. Bak cahaya yang membelah bagian bumi, secepat itu pula bayangan Hinata kembali merasukinya. Mata bulannya yang sendu, menyiratkan berbagai macam perasaan dan suaranya yang bergetar sarat akan luka dan kepedihan. Dada Sasuke kembali sesak, ia mengcengkeram kemejanya, meredakan gejolak yang entah kenapa dalam hitungan jam sudah sangat sering bertegur sapa dengannya.
"Cantik"
Mata Sasuku terbelalak. Ia terdiam sejenak.
"Cantik? Tidak, maksudku dia bisa berpenampilan normal?" tanya Sasuke entah pada siapa
Sasuke pun bangkit, mendudukkan kembali dirinya dan menautkan kedua tangannya. Otak cerdasnya mulai berpikir. Mencerna dan mempertanyakan bagaimana seorang Hinata yang berpredikat gila bisa berpenampilan normal bahkan bicara pun normal layaknya gadis pada umumnya. Sasuke memiringkan kepalanya dengan alis bertaut, otaknya yang sudah konslet atau Hinata yang sedang dalam masa kewarasan?
"Tidak mungkin. Aku pasti berhayal. Tapi jelas-jelas dia tadi terlihat normal bahkan bisa bicara dengan baik. Atau karena penampilannya normal maka apapun yang ia ucapkan terlihat normal?" tanya Sasuke lagi
"Tidak masalah jika semua orang membenciku, tidak masalah jika aku menjadi bodoh. Pada dasarnya aku memang seperti ini. Jadi tidaklah sulit bagiku"
Sasuke terdiam sejenak ketika sebuah kalimat dari Hinata terngiang di kepalanya. Bagaimanapun kalimat tersebut terkesan ambigu. Karena baginya, tak ada adik didunia ini yang sangat bodoh bersedia menukarkan apapun demi sang kakak yang bahkan sering melukainya. Baik secara batin maupun fisik. Lebih tepatnya itu tidak normal. Kalaupun Hinata mengidap brocon maka tingkah lakunya sudah pasti posesif tapi nyatanya gadis itu tidak seperti itu.
"Tapi aku pernah melihatnya mencium punggung Naruto" gumam Sasuke
"Mungkinkah?" tebak Sasuke dalam hati
"Tch! Apa yang sebenarnya aku pikirkan? Dan kenapa aku harus memikirkannya? Apa urusanku?" kata Sasuke menyadarkan diri
"Tch! Aku butuh air dingin" umpatnya
.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit. Sudah pasti kebanyakan orang sudah tenggelam dalam mimpi masing-masing. Hawa di awal musim semi memang masih terasa sedikit dingin, namun tak menjadi alasan bagi sebagian kecil orang masih membuka matanya dan begadang diluar sana dengan alasan masing-masing. Ada yang berkutat dengan pekerjaan, menunggu bus terakhir, atau bahkan menikmati dunia malam sekalipun. Sementara jalanan sudah lenggang. Jumlah kendaraan pun bisa dihitung dengan jari dan kini tak ada suara-suara bising membengkakkan telinga lagi setidaknya untuk beberapa jam kedepan.
Di sebuah mansion yang terletak di kawasan perumahan Elite kota Konoha, lebih tepatnya kediaman Namikaze, kedua orang masih membuka matanya. Hinata dan Naruto. Ya, keduanya tengah duduk saling memunggungi dan bersandar di balkon jeruji yang memisahkan kamar keduanya. Kedua pasang mata berbeda iris itu menatap bulan yang tengah tersenyum diatas sana. Jari jemari keduanya pun saling bertaut, meresapi dan menyalurkan kehangatan pada diri masing-masing. Sebuah kebiasaan lama yang sering mereka lakukan.
"Ne, Hinata" kata Naruto membuka suara
"Ya?"
"Maafkan aku" kata Naruto
"Jangan mengatakannya lagi" sahut Hinata
"Tapi aku tetap ingin mengatakannya" kekeh Naruto
"Naruto-nii sudah terlalu banyak mengatakannya" sahut Hinata
"Aku –"
"Sudahlah, aku sudah memaafkan. Dan itu sudah berlalu" kata Hinata memotong pembicaraan
"Ne, Hinata" panggil Naruto lagi
Naruto terdiam sejenak, dan ia pun menggenggam tangan Hinata semakin erat.
"Apa kau muak denganku?" tanya Naruto tiba-tiba
DEGH
"Apa yang Naruto-nii katakan?" tanya Hinata sambil menahan suaranya yang mendadak bergetar
"Suatu saat jika waktunya tiba kau pasti akan meninggalkanku. Benar bukan?" tanya Naruto
"Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu" jawab Hinata lembut meski nyatanya pandangan matanya berubah menjadi sendu dan terluka
"Tapi bagaimana jika aku tiba-tiba meninggalkanmu?" tanya Naruto
"Maksudnya?" tanya Hinata tak paham
"Bagaimana jika tiba-tiba aku pergi? Apa kau akan pergi juga?" tanya Naruto
Hinata menggigit bibir bawahnya.
"Apa jika aku memintamu tinggal kau akan tinggal?" tanya Naruto egois
"Tak perlu kau pinta pun aku akan terus melakukannya" jawab Hinata dalam hati
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Hinata kemudian
"Tidak. Hanya saja akhir-akhir ini perasaanku tidak enak. Seperti kau akan terpisah dariku" jelas Naruto
"Hinata"
"Hmm?"
"Aku . . . menyayangimu" lanjut Naruto seraya mengeratkan genggamannya
Dada Hinata sesak saat itu pula. Harusnya ia senang karena sang kakak menyanyaginya. Harusnya ia senang karena sang kakak mengatakan alasan ia berubah, tapi kenapa hatinya merasa lebih sakit? Sayang? Kenapa hati Hinata sangat sakit ketika mendengarnya? Seolah sudut hatinya tidak mengharapkan kata itu atau memang tidak pernah?
"Ada apa denganku?" tanya Hinata dalam hati
.
Konoha International High School. Seperti biasanya, Naruto bergandengan tangan dengan Hinata. Menyusuri koridor menuju kelas. Dan rutinitas yang sama pula terjadi. Bisikan demi bisikan dan cibiran demi cibiran. Namun kali ini, Hinata tak berusaha menutup telinganya.
'Kalian lihat? Sepertinya mereka akur lagi'
'Pasti gadis gila itu sudah mengguna-guna sang kakak agar tak berpaling'
'Riject'
'Autis'
Naruto berhenti sejenak. Ia menarik Hinata ke sampingnya dan menatap nyalang semua yang sudah berani bergunjing. Tatapannya begitu dingin dan menusuk. Jelas sekali ia tidak main-main. Hei, ia Namikaze. Tak ada yang tidah tahu seberapa berpengaruhnya keluarganya di kota bahkan negara ini. Mereka yang ditatappun berangsur-angsur pergi, mulut mereka memang sekali-kali harus dikunci.
"Jangan hiraukan mereka" kata Naruto
"Hmm" angguk Hinata
Mereka kembali menyusuri koridor. Dan entah kebetulan atau apa, Sakura dan Ino tengah bercanda di depan sana. Kedua gadis ceria itu saling mengumpati dan melempar pukulan-pukulan kecil. Entah apa yang tengah mereka bicarakan hingga berakhir seperti itu. Melihat Sakura, sontak saja Naruto teringat akan kejadian kemarin, saat Sakura menunggunya hanya untuk memberitahu keadaan sang adik. Tak terasa seulas senyum samar mengembang di wajah Naruto. Pemuda itu menanggalkan tangannya dan berjalan lebih cepat mendekati Sakura. Tak mempedulikan wajah tertegun sosok yang tadi digandengnya.
"Anou, permisi" sapa Naruto dengan senyum tulusnya
"Are? Siapa ya?" tanya Ino innocent
"Namikaze?" tanya Sakura
"Ada yang bisa kubantu?" tanya Sakura lagi
"Tidak. Hanya saja aku ingin mengatakan terimakasih atas yang kemarin" jelas Naruto to the point
"Oh" jawab Sakura santai namun –
"HEHHHH! NAMIKAZE!" teriak Ino membuat semua mata pasang mata menatap mereka
"Kau? Adikmu itu sangat ca hmmpt–" lanjut Ino namun langsung dibungkam Sakura
"Maaf, dia sedikit eror pagi ini" kata Sakura tertawa canggung sambil membekap Ino sekuat tenaga
Ino berusaha lepas dari bekapan maut Sakura, matanya sudah melotot karena kesulitan bernafas, dan saat itu pula secara tidak sengaja ia melihat Hinata berdiri mematung tak jauh dari mereka. Sontak saja Ino berbinar dan melepaskan bekapan Sakura dengan kekuatan super. Bahkan ia tidak peduli ketika tubuh sang sahabat limbung dan hampir terjungkal.
Sakura oleng, namun ketika tubuhnya hampir saja menyentuh lantai. Sebuah lengan kekar berhasil menopangnya. Sakura terbelalak. Kini wajah Naruto sudah berada sangat dekat dengannnya. Bahkan poni pemuda itu menggelitik dahi, hidung serta matanya.
Sementara Ino . . .
"Hime-sama!" teriak Ino seraya memeluk Hinata erat
Hinata diam saja, tubuhnya yang memang mematung semakin membisu. Didepan sana, dihadapannya, dengan kedua matanya sang kakak tengah mendekap seseorang. Tidak, lebih tepatnya gadis lain. Dada Hinata sesak dan ulung hatinya sakit. Bahkan bernafaspun rasanya sakit.
"Hime-sama!" teriak Ino semakin mempererat pelukannya
Semua pasang mata kini menatap Ino dan Hinata. Pasalnya panggilan Ino barusan bagaikan petir di pagi buta. Bahkan mereka tak menghiraukan sang pangeran yang sedang terpesona dengan mata lembayung dari gadis musim semi di dekapannya.
'Hime-sama?'
'Hime-sama?'
'Hime-sama?'
"Lepaskan aku" pinta Hinata datar
Sontak saja Ino melepaskan Hinata, seperti biasa ia meminta maaf seraya memperlihatkan deretan gigi putihnya. Namun cengiran itu tak bertahan lama lantaran netranya menangkap perubahan mimik Hinata. Pandangan Hinata begitu kecewa dan terluka. Alis Ino bertaut, dan diikutinya arah pandangan mata amethye itu. Disana, ia melihat Naruto yang tengah membantu Sakura berdiri. Dan menurutnya, tidak ada yang aneh.
"Hinata" panggil Ino seraya menoleh namun sayang Hinata sudah tak ada lagi disana
"Eh? Kemana dia pergi?" tanya Ino bingung
Naruto berdiri canggung. Ia berusaha mengalihkan pandangan matanya dari mata lembayung Sakura yang baru saja menghipnotis dirinya. Sakura memainkan mimiknya beberapa kali, menghilangkan semu merah yang tadi sempat bertengger di wajahnya.
"Haruno-san" panggil Naruto setelah berhasil menenangkan diri
"Ya?"
"Aku tahu kalau aku kurang sopan sebelumnya. Tapi aku bukan orang yang mengacuhkan seseorang yang telah berbuat baik maksudku pada adikku. Jadi . . ." kata Naruto terpotong
"Sebagai rasa terimakasihku, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan malam?" tawar Naruto
"Jangan dipikirkan, aku ihklas kok" tawa Sakura
"Tapi aku merasa terbebani" jawab Naruto
"Eh? Tapi bagaimana kalau fansmu marah? Kau tahu aku tak suka berurusan dengan sepertimu" bisik Sakura takut-takut
"Akan kupastikan mereka tidak akan tahu" jawab Naruto pasti kemudian tersenyum
Setelah keduanya berjanji, akhirnya Naruto kembali. Begitu ia melihat Hinata tidak ada, barulah ia panik. Pemuda itu melesat pergi melewati Ino yang sudah membuka bibirnya. Melihat kepergian Naruto, Ino hanya mengangkat bahu acuh.
Kelas 2-1, Hinata duduk di bangkunya. Sedari tadi tangannya terus bergerak, menuliskan satu kata yang sama, tak peduli meski satu halaman sudah penuh. Bahkan ia tak sadar kalau sejak tadi Sasuke memperhatikannya. Sejak pemuda itu masuk kelas, ia sudah menemukan Hinata menunduk dengan mata menerawang.
Sasuke menopang dagunya, menatap sosok gadis boneka yang tengah larut dengan pikirannya. Bukan karena ia tertarik. Melainkan lebih ke heran dan penasaran. Pasalnya baru kemarin ia melihat Hinata terlihat normal tapi kalau dilihat lagi Hinata tidaklah normal. Ditelusurinya setiap jengkal wajah gadis itu. Mulai dari rambutnya yang dikucir kuda, make up tebal, bulu mata tebal, eye shadow mengerikan, bulatan merah di pipi dan bibirnya yang merah merona. Tak ada yang spesial dari gadis itu. Tapi kenapa ia bisa bereaksi berlebihan kemarin? Apa Hinata memang punya guna-guna seperti yang orang cibirkan?
"Hei, sebenarnya, apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke kemudian
"Kemarin" lanjutnya dalam hati
"Eh" Hinata sadar kemudian menoleh, ketika ia melihat Sasuke tengah menatapnya sontak saja ia terkejut. Siapa yang tidak terkejut apalagi wajah Sasuke terbilang cukup dekat dan pertanyaannya, sejak kapan?
Hinata buru-buru menutup bukunya, namun tangan Sasuke menghentikannya. Hinata menarik bukunya dari tangan pemuda itu, tapi Sasuke menariknya. Bukan karena penasaran, melainkan menagih jawaban. Reaksi Hinata berlebihan, ia menarik buku itu sangat keras hingga membuat Sasuke mengernyit. Sebelah alisnya naik, dan kini ia jadi penasaran. Sasuke pun menarik balik buku itu dengan keras. Saking kerasnya, tubuh Hinata terhempas dan menabrak dadanya. Berungtunglah karena Uchiha Sasuke memiliki relfek yang bagus. Dengan sigap ia menahan tubuhnya jadi ia dan Hinata tidak terjungkal ke belakang. Karena keadaan kelas yang masih sepi, tak ada teriakan atau pekikan terkejut. Keduanya terdiam sejenak. Bahkan kini jantung Sasuke sudah berdetak kencang. Mata Hinata pun membulat.
"Apa ini?" tanya Hinata dalam hati
"Tch! Sial!" umpat Sasuke dalam hati
Namun . . .
"Bukunya/bukunya" kata Hinata dan Sasuke dalam hati secara bersamaan
Hinata bangkit, ia menopang tubuhnya dengan menumpu salah satu tangannya di dada Sasuke, sementara tangannya yang lain mencoba meraih buku miliknya. Sasuke bergerak cepat, ia menaikkan tangannya tinggi-tinggi hingga tak terjangkau Hinata. Hinata tak mau kalah, ia berusaha menjangkaunya, tak peduli kalau Sasuke menahan sesak karena gadis itu terlalu kuat menekan dada bidangnya. Sasuke menaikkan kedua tangannya, hingga kini posisinya seperti tengah mengurung Hinata.
"Kembalikan" pinta Hinata
"Aku bilang kembalikan" pinta Hinata lagi
Sasuke sudah membuka buku tersebut dan tepat di halaman yang tadi Hinata corat-coret. Belum sempat netranya menangkap keseluruhan coretan itu, Hinata merobek halaman itu. Sontak saja Sasuke terkejut. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah tindakan Hinata selanjutnya. Gadis itu meremas kertas tersebut dan bersiap memakannya. Sasuke berusaha bangkit namun sulit lantaran Hinata masih menindihnya.
"Sial" umpatnya
Gumpalan kertas itu sudah berada di ujung bibir Hinata, namun begitu ia hendak memakannya, Sasuke bangkit dan menarik tangannya.
"Apa ini? Kenapa kau takut sekali?" tanya Sasuke
"Lepaskan!" ronta Hinata
"Kau menyembunyikan sesuatu?" selidik Sasuke
"Bukan urusanmu!" bentak Hinata
DEGH
Sasuke terperanjat. Baru saja, seorang Hinata. Catat dan garis bawahi dengan baik. Seorang Hinata membentaknya. Terlebih oktafnya naik. Hinata yang biasanya bercicit kini bisa membentaknya.
Kesempatan ini pula yang Hinata gunakan untuk menarik tangannya dan segera memakan kertas itu. Dan ketika Sasuke telah sadar dari keterkejutannya, kertas itu sudah melewati kerongkongan Hinata. Onyx Sasuke berkedip beberapa kali. Heran sekaligus takjup akan aksi heroik Hinata.
Kini Hinata sudah duduk seperti sedia kala di bangkunya, begitupula dengan Sasuke. Sejak kejadian beberapa menit lalu, Sasuke tak berani menatap atau sekedar meliriknya. Karena terbawa penasaran, ia sampai terbawa suasana. Bahkan tadi ia tak mencerna dengan betul bagaimana posisi mereka. Mengingatnya saja entah kenapa wajah Sasuke sudah memanas. Antara malu, kesal, dan entahlah. Ia sulit menjelaskannya.
"Tch! Apa yang tadi itu? apa aku gila?" tanya Sasuke dalam hati
"Dan tulisan apa tadi itu? –kun? Naruto-kun? Dan dan, setelahnya tadi apa?" tanya Sasuke dalam hati kemudian
Naruto datang. Nafas pemuda itu terengah-engah, namun begitu melihat sang adik duduk manis di bangkunya bersama Sasuke, ia tenang. Tentu ia tenang, karena Sasuke sudah menjelaskannya, kalau pemuda itu tak melakukan apapun pada sang adik. Jadi sepertinya ia tak boleh keras kepala.
.
Senja sore, disebuah kamar. Seorang pemuda tengah berbenah diri. Sejak jam lima sore tadi ia memilah-milah baju yang akan ia kenakan. Bahkan ranjang king size miliknya sudah dipenuhi banyak pakaian. Naruto memandang pakaiannya dengan raut frustasi. Kalau begini ia jadi bertanya kapan terakhir kali ia membeli baju. Tak bisa menentukan pilihan, akhirnya ia menyeret sang adik yang tengah bermain boneka kedalam kamarnya. Hinata berdiri mendekap boneka musangnya seraya menatap ranjang sang kakak bingung.
"Hinata, menurutmu mana yang bagus?" tanya Naruto
"Semua bagus" jawab Hinata polos
"Yang paling bagus" koreksi Naruto dengan nada merajuk
"Menurutku kaos putih dan jaket oranye ini bagus. Naruto-nii terlihat tampan memakai warna oranye" jawab dan puji Hinata sekaligus
"Yosh! Pilihan yang bagus" kata Naruto senang
Hati Hinata mencelos mendengar reaksi Naruto. Padahal ia baru saja memujinya.
Dan disinilah semua akan berubah. Roda kakak beradik mereka akan berputar dan seiring berjalannya waktu masa lalu akan menampakkan taringnya. Pukulan yang kedua bagi Hinata, karena hari ini dua kali ia diacuhkan oleh sang kakak. Atau mungkin pukulan yang ketiga? Keempat? Entahlah yang jelas pukulan kali ini lebih menyakitkan dari biasanya.
Naruto menyambar kaos putih berlogo adidas dan memakainya di kamar mandi. Ketika ia keluar seperti dugaannya kalau Hinata masih berada disana. Dengan senyum mengembang ia mendekati sang adik, merentangkan kedua tangannya seraya mengedikkan pandangannya. Hinata sangat mengerti akan kode itu. Dengan lembut, ia meraih jaket oranye sang kakak dan mulai memakaikannya.
Dan kini Hinata tengah berusaha menarik resleting jaket yang sedari tadi nyangkut. Jemari mungilnya sedikit kesulitan melakukannya, bahkan setetes peluh sudah membasahi pelipisnya. Naruto hanya diam seraya menggigit pipi dalamnya. Tak ada niatan untuk membantu sang adik. Menurutnya lucu melihat Hinata yang seperti itu. Hinata menautkan alisnya, ia menarik nafas dalam sebelum pada akhirnya.
SRETTT
DEGH
Kedua pasang berbeda iris itu saling tatap dengan pandangan terkejut. Pasalnya karena terlalu kuat menarik resleting jaket tersebut, Hinata menariknya sampai ia berjinjit dan wajahnya mendongak. Dan akibat tarikannya pula Naruto yang sedari tadi berdiri tegak jadi sedikit membungkuk dan kini kedua wajah mereka berada dalam jarak yang terbilang ekstrim. Bahkan bibir Naruto sudah menyentuh bibir Hinata meski hanya sedikit. Hidung mereka bersentuhan. Dapat Naruto rasakan nafas sang adik yang teratur dan menggelitik wajahnya. Mungkin jika ia atau Hinata menggerakkan bibir, ciumanpun tak dapat dihindari.
Naruto menjauhkan diri, didorongnya Hinata sepelan mungkin. Mengambil jarak aman dan mulai menetraliris detak jantungnya yang tiba-tiba menggila. Darahnya berdesir dan ada perasaan lain disana. Menggetarkan seluruh badan hingga bulu kuduknya meremang. Dihelanya nafas beberapa kali.
Sementara Hinata, ia memegangi dadanya yang tak jauh berbeda dengan Naruto. Bahkan tubuhnya sudah terasa lemas. Ingin sekali ia lari dari sini, namun ia takut kalau-kalau dirinya limbung dan ambruk seketika.
"Apa ini? kenapa lagi? tidak. kumohon jangan. Jangan berdegup" kata Hinata dalam hati
"Jangan dan tidak boleh" lanjutnya dalam hati
"Anou, Hinata. Aku harus pergi sekarang. Terimakasih atas bantuannya" kata Naruto seraya melewati Hinata begitu saja
"Kirim pesan kalau kau ingin sesuatu" lanjutnya diambang pintu kemudian benar-benar pergi
Dan ketika pintu kayu itu tertutup sempurna, tubuh Hinata pun merosot. Gadis itu memegangi dadanya yang menggila. Tatapannya kosong dan menerawang.
Naruto mengendarai Lamborghini Aventador miliknya dengan kecepatan diatas rata-rata. Wajahnya masih memerah. Ia mengeraskan volume musiknya. Berharap melupakan kejadian tadi. Untung saja ia segera sadar kalau tidak ia tak tahu apa yang terjadi. Naruto menggelengkan kepalanya, membuang nafas kasar kemudian memasang kembali fokusnya ke jalan. Melajukan sang Aventador membelah jalanan kota Konoha yang kini sudah dihiasi lampu yang perlahan-lahan menyala.
Di sebuah Cafe. Sakura tengah mengaduk-aduk jus stowberry kedua yang dipesannya. Ia menatap jalanan diluar melalui kaca bening. Karena posisinya yang dilantai dua, pemandangan hiruk pikuk kota terlihat lebih jelas. Sesekali ia menghela nafas. Andai saja yang mengajaknya Sasuke.
"Tunggu, apa yang kupirkan? Si tidak sopan itu bukan tipeku" elak Sakura
Di depan Cafe, Lamborghini Huracan dark blue berhenti. Sasuke keluar seraya menggerutu. Sebelah tangannya menahan smart phone di telinga dan tangan yang lain menekan tombol mengunci mobil. Bibirnya komat-kamit tak bersuara menyumpahi seseorang disebarang sana. Begitu ia masuk ke dalam cafe, hampir semua pasang mata di lantai satu menatapnya. Kagum lebih tepatnya. Pasalnya penampilannya jauh dari kesan rapih. Ia hanya mengenakan kaos dan luaran tanpa lengan dengan hoodie serta celana jeans selutut.
"Iya, baka Aniki. Aku sudah sampai, kau mau apa huh?" tanya Sasuke pada Itachi diujung telfon
"Apa? aku harus membeli makanan kawai seperti itu? yang lain saja!" sentak Sasuke
"Tch! Baiklah" umpat Sasuke memutus sambungan
"Maaf, Macaroon-nya tolong" kata Sasuke dengan nada tidak bersahabat
Selama menunggu pesanannya, Sasuke memutar onyxnya. Melihat keadaan Cafe yang katanya bagus dan merupakan favorite sang kakak. Ia mengganguk, menurutnya tidak buruk. Netranya terus mengedar hingga ketika ia mendongak melihat lantai dua yang luasnya hanya sebatas sepertiga dari lantai satu, ia mengernyit. Disana, ia melihat sosok gadis musim semi yang sudah menandaskan dua gelas jus. Gadis yang setahunya pernah berdebat dengan Naruto dan berani menantangnya.
"Silahkan, tuan"
"Eh?"
"Terimakasih. Ini uangnya" kata Sasuke mengambil pesanannya kemudian pergi
Tak lama setelah kepergian Sasuke, Naruto datang. Lagi-lagi pengunjung Cafe heboh. Wajah kebaratan milik Naruto benar-benar menyedot perhatian. Rambut spike blonde yang berantakan ditambah setelan cerah yang ia kenakan menampilkan kesan gentle dan ceria. Melihatnya saja sudah bisa membuat siapapun ikut tersenyum. Namun mereka harus gigit jari tak kala Naruto naik ke lantai dua dan duduk dihadapan gadis musim semi.
"Maaf lama" kata Naruto
"Tidak" elak Sakura
"Tidak dan kau menandaskan tiga gelas jus?" tanya Naruto membuat Sakura sedikit salah tingkah. Naruto terkekeh melihatnya. Gadis ganas itu bisa malu juga rupanya.
Mereka mulai memesan dan berbincang. Sesekali Naruto terkekeh akibat reaksi tidak biasa dari Sakura. Dan Sakura hanya tertawa canggung menanggapi. Mereka terus bercakap hinga pembicaraan berakhir pada Sakura yang menanyakan tentang Hinata.
"Oh ya, Namikaze" kata Sakura
"Naruto. Panggil aku Naruto dan aku akan memanggilmu Sakura" kata Naruto
"Oh ya, Nam- Naruto aku ingin tanya. Adikmu, maksudku Hinata. Dia . . . bagaimana ya aku menjelaskannya. Dia cantik" puji Sakura
"Begitukah?" tanya Naruto polos
"Teganya, kau ini kan kakaknya" komen Sakura
"Apa kau yang membersihkan make up-nya" tanya Naruto dengan suara berat
"Uhm"
"Why?"
"Itu, etto . . . aku dan Ino menemukannya terjerembab dan wajahnya lecet dan kotor jadi mau tidak mau ya~" kata Sakura entah kenapa menjadi sedikit takut
Naruto terdiam sejenak. Otaknya kembali mengingat kejadian di ruang kesehatan. Pikirannya terlalu kalut saat itu, jadi setelahnya ia tidak menanyakan apapun perihal bagaimana Hinata bisa berakhir di sana. Bahkan setelahnya Hinata juga tidak menjelaskan. Naruto pun terhenyak karena baru menyadari hal itu.
"Terjerembab? Dimana? Bagaimana bisa?" tanya Naruto
"Itu, kau tidak mendengar apapaun dari Hinata?" tanya Sakura balik
"Jawab saja"
"Aku tidak berhak menjawabnya, kurasa akan lebih baik kau mendengarnya langsung. Kalau aku memberitahumu mungkin Hinata akan marah padaku" jawab Sakura ala kadarnya
Naruto Terhenyak. Bukan karena jawaban Sakura, melainkan bagaimana Sakura menghargai sang adik bahkan sampai memikirkan perasaannya. Selama ini tak ada yang memperlakukan Hinata dengan baik, gadis itu selalu di perlakukan berbeda bahkan dihina dan dicemooh. Tapi Sakura, ia tidak seperti itu. Meski ia akui perawakannya sedikit ganas dan bermulut tajam, tapi hatinya tak buruk atau bisa dibilang baik. Hati Naruto menghangat. Seutas senyum pun tersungging di bibirnya.
"Terimakasih" ucap Naruto
"Untuk?" jawab Sakura
"Maksudku terimakasih untuk tidak menutup mata pada Hinata dan bersedia menolongnya" jelas Naruto
"Oh, tidak masalah. Hinata itu kan gadis baik. Dia tak seperti yang dirumorkan. Tutur katanya halus. Dia cantik pula. Sungguh seperti Hime-sama" kata Sakura mengundang kekehan Naruto
"Ibu juga memanggilnya begitu" kekeh Naruto
Makanan datang. Sebuah steak daging. Keduanya berhenti sejenak, mengambil sepasang garpu dan pisau kemudian memotongnya. Sakura yang masih penasaran pun tak kunjung memakan dagingnya. Ia mencongdongkan tubuhnya ke depan dan berbisik.
"Oh ya, kenapa kau tak suruh saja Hinata menghapus make up-nya?" bisik Sakura sukses menghentikan tangan Naruto yang sedang memotong daging
"Kalau aku bisa sudah kulakukan" jawab Naruto datar namun penuh makna
Sakura hanya mengangguk dan ber oh ria. Ia sama sekali tidak menyadari arti sepenuhnya dari kalimat Naruto tersebut.
Kembali ke kediaman Namikaze. Sore ini, Kushina dan Hinata pergi berdua, bahkan Kushina rela menyetir sendiri. Sepanjang perjalanan, ia melirik Hinata yang sedari tadi hanya memandang ke arah luar seraya mendekap boneka musangnya. Bibir Kushina pun menyunggingkan senyum getir. Matanya sedikit berkaca-kaca namun ia menahan diri untuk tidak menangis.
Mobil BMW Hitam yang Kushina kendarai sampailah di sebuah rumah bergaya minimalis yang berada di pinggir kota Konoha. Letaknya cukup jauh, mengingat ia harus melalui jalan berkelak-kelok hanya demi ke tempat ini. Ia keluar dari mobil, dan dibukakannya pintu sebelah Hinata. Namun Hinata tak kunjung keluar, gadis itu malah memeluk bonekanya erat.
"Hinata, keluarlah" pinta Kushina
Akhirnya dengan mengumpulkan semua keberaniannya Hinata pun keluar. Ditatapnya rumah berukuran sedang itu. Angin dari laut pun berhembus, menerbangkan bau khas pantai ke daratan. Hinata ingat tempat ini. Kushina pun menggandengnya, menuntunnya untuk segera masuk rumah.
Di dalam, Hinata duduk di sebuah kursi putih yang sangat empuk. Bahkan saking empuknya ingin rasanya ia segera menuju ke alam mimpi namun ditepisnya keinginan itu kuat-kuat. Karena ia ingin tahu kenapa ia dibawa kesini. Seingatnya ia akan kesini paling tidak dua bulan sekali. Bulan lalu ia sudah berkunjung, harusnya jadwalnya masih bulan depan jadi kenapa?
Tiba-tiba, bayangan akan mata hitam menyergap ingatan Hinata. Ia menggelang pelan, semakin ia coba untuk tidak mengingat bayangan itu bagaikan delusi yang terus memaksa masuk ke otaknya. Hinata menggeleng lagi dan menahan diri untuk tidak menggigil. Mau tidak mau ia harus berhadapan dengan mata itu lagi. Dari luar, suara derapan sepatu mulai terdengar, samar. Namun seiring detik berlalu, suaranya semakin jelas. Begitu pintu terbuka, Hinata menggigit bibir bawahnya, sarafnya sudah menegang. Dan ketika orang itu sudah menunjukkan dirinya, wajah Hinata berubah datar.
"Selamat sore" sapa seseorang itu
"Kau sudah datang, Fugaku" sapa Kushina ramah
"Maaf aku sedikit terlambat. Ada sedikit kekacauan di rumah sakit" jelas Fugaku
"Pasienkah?" tebak Kushina
"Lebih tepatnya keluargaku" keluh Fugaku
"Mikoto tak pernah berubah" kekeh Kushina
"Itachi benar-benar duplikatnya, kepalaku sampai pusing ketika mereka menjahili Sasuke" cerita Fugaku
"Kau punya keluarga yang bahagia" komen Kushina ambigu
Fugaku terdiam sejenak. Ia berjalan menuju meja kerjanya, meletakkan tas yang ia bawa dan mulai duduk di kursi samping Hinata.
"Hinata-chan. Bagaimana kabarmu?" tanya Fugaku
"Baik, Fugaku-san" jawab Hinata
"Kau sudah banyak berubah" komen Fugaku
"I-iya" cicitnya
"Oh ya, bagaimana dengan sekolahmu? Ini tahun keduamu kan? apa kau sudah terbiasa disana?" tanya Fugaku
"Hm. Naruto-nii selalu menjagaku" jawab Hinata
"Naruto-nii?" tanya Fugaku yang dijawab anggukan Hinata
"Nah, kalau begitu sekarang pegang ini. Kau tahu cara memainkannya kan?" tanya Fugaku memberi sebuah kincir mainan pada Hinata
Hinata mulai memutar memutar mainan itu, satu menit, dua menit ia terus memutarnya. Mata polosnya berangsur-angsur berubah menjadi sendu dan keruh, tanda dimana ia sudah diluar kesadarannya. Dan tak butuh waktu lama, putaran kincir mainan itu melemah dan ketika putaran tersebut berhenti, Hinata sudah tertidur.
.
Jam 20:00 waktu setempat. Naruto sudah pulang, begitu ia bergabung ke meja makan. Ia mengernyit, melihat meja yang berantakan dan sang ibu yang berusaha mendekap Hinata. Sedangkan Minato, ia berusaha meminumkan obat penenang pada Hinata yang ditepis gadis itu hingga gelas yang dipegang Minato jatuh dan pecah. Ruang makan kacau balau. Hinata benar-benar menggila. Tangannya menggapai apapun yang bisa ia gapai dan mengacak-acaknya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriak Hinata
"Hinata, tenanglah" pinta Kushina
"AKU MAU PERGI! AKU MAU MENCARI NARUTO-NII!" teriaknya
"Ap-apa ya-yang ter-jadi?" tanya Naruto terbata
"Eh?" Hinata diam, gadis itu menoleh dan berbinar melihat sang kakak
"Naruto-nii" panggil Hinata seraya lari dari dekapan sang ibu
Hinata berlari, tak peduli kalau kakinya harus menginjak pecahan gelas atau piring. Ia menerjang ke pelukan Naruto. Mendekap sang kakak dengan kuat seraya mengelus-eluskan pipinya ke dada bidang sang kakak. Naruto terperanjat, ia mengedip beberapa kali, mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Netranya bergulir, menagih jawaban dari kedua orang tuanya, namun yang ada mereka hanya memasang senyum lega. Naruto sungguh tak mengerti.
"Naruto-nii akhirnya pulang, Hinata kangen" rengeknya
"Eh? Bukannya baru beberapa jam aku meninggalkanmu?" tanya Naruto
"Kapan? aku tidak ingat. Aku tunggu dari tadi Naruto-nii tidak pulang-pulang. Kemana saja? kenapa tidak mengajakku?" tanya Hinata bertubi-tubi
"Eh? Bukannya kau yang memakaikan jaketku tadi?" tanya Naruto
"Hmm, benarkah?" tanya Hinata seraya mendongak menatap Naruto
Melihat tatapan mata polos Hinata, Naruto yang awalnya bingung akhirnya tersenyum. Ia mengusap pipi Hinata sejenak dan menepuk poni ratanya.
"Makanya, jangan pelupa" canda Naruto sukses membuat senyum mengembang di wajah Hinata
Sementara sang ayah dan ibu mengangguk atas jawaban Naruto yang berhasil mengalihkan Hinata.
Malamnya, setelah kejadian menghebohkan tadi, Naruto mengobati luka di kaki Hinata. Namun ketika hendak meninggalkan sang adik, Hinata tak mau ditinggal. Ia meminta Naruto menemaninya sampai ia tertidur. Dengan senang hati Naruto melakukannya. Pemuda itu bersenandung seraya membelai rambut Hinata. Dipandanginya wajah ayu Hinata tanpa make up. Naruto pun tersenyum sejenak, namun detik berikutnya wajahnya berubah menjadi mengerikan. Beruntunglah Hinata sudah terlelap.
Naruto memandang intens Hinata, manik birunya menyala di tengah kegelapan. Didekatkannya wajahnya ke wajah Hinata. Mata itu menelusur, menyusuri setiap jengkal wajah sang adik yang tampah sempurna. Hidung mancung, pipi gembil yang mudah merona dan jangan lupakan bibir mungilnya.
"Tidak. Kau tidak boleh tidak memakainya. Kau tidak boleh pergi. Cukup sekali aku kehilangan. Jadi tidak untuk kali kedua" gumam Naruto
Dan malam itu, Naruto kembali mengecup pipi sang adik. Menekan bibirnya dan merasakan betapa lembutnya pipi sang adik. Ia benar-benar menikmati kelembutan yang dirasakan bibirnya. Hingga setetes liquid bening lolos dari matanya yang terpejam, jatuh dan membasahi mata Hinata. Dan tanpa ia sadari, mata amethys yang tengah tertutup itu bergetar.
.
.
.
Aku bahagia kau berada disisiku
Aku bisa tersenyum karena kau berada disisiku
Aku akan selalu berdoa bahwa kau akan selalu menjadi adikku
Terimakasih
Karenamu aku merasa hangat
Karenamu aku memiliki kekuatan
Dan jangan pernah lepaskan tanganku
Meski aku tak dapat menggenggammu lagi
.
Namikaze Naruto
.
.
.
To Be Continue
Mina-san, apa kabar? Maaf baru bisa update. Minggu kemarin dua hari full Nao ada acara dan benar-benar libur dua hari nggak kerasa libur. #maaf curhat.
Uhm, bagaimana menurut kalain chapter ini? Sudah Nao singgung mengenai Hinata. Dan pastilah sebagian sudah bisa menebaknya. Dan anehnya, kenapa semua bertanya tentang bagaimana masa lalu NaruHina, kenapa tidak ada yang tanya secara spesifik seperti kenapa dengan Naruto?
Semoga porsi misterinya pas. Maaf kalau ada kesalahan penulisan, ejaaan, nama atau istilah. Maaf jika feelnya kurang, Tapi bagaimanapun Nao sudah berusaha semampunya. Maaf juga karena tak balas Review lewat PM, karena menurut Nao itu akan perlu waktu lama. Jadi Nao tulis saja di setiap chapter. Dan kenapa di awal? Bukan maksud untuk pamer hlo ya. Karena Nao juga reader, kalau di akhir pasti kemungkinan dibacanya kecil. Bukan begitu?
Kiranya sekian cakap-cakap dari Nao. Terimakasih sudah berkenan membaca dan mengikuti. Sekali lagi saran Nao, harap tinggalkan jejak. Karena Nao akan sangat berterimakasih.
See you next chapter.
Best Regards
Nao Vermillion
