-Chapter 3: Fact-

Bulan bersinar terang bersama sang bintang. Menghiasi sang langit yang gelap gulita. Menunjukkan betapa indahnya langit jika malam hari tiba. Kini, Miyuki Kazuya berada di ruangan pelatih untuk membicarakan stategi buat latih tanding besok. Sedangkan Sawamura hanya berada didalam kamar asyik telpon-telponan dengan sang kekasih.

"Moshi moshi, Ei-chan"

"Wakana, apakah kau baik-baik saja? Apakah ada yang terluka?" ucap Sawamura khawatir.

"aku tak apa. Ngomong-ngomong, apakah kau baik-baik saja?"

"tentu saja! Kamu kira siapa aku? Hehehe"

"hai hai. Ano ne Ei-chan, apakah... umn... Miyuki-san tidak apa-apa?"

"apa yang kau maksud Wakana? Aku tak paham."

"maksudku, punggung Miyuki-san."

"ahh.. punggungnya sudah ku obati. Dia sangat ceroboh. Hanya terjatuh saja bisa seperti itu."

Dari sebrang telpon, Wakana terkejut mendengar perkataan Sawamura. Jelas-jelas Miyuki hanya bilang terjatuh-memang kenyataannya terjatuh-dan tidak menceritakan hal yang sebenarnya terjadi. mungkin Miyuki tidak ingin membuat Sawamura khawatir. Tapi bagaimana pun juga, Wakana tetap merasa bersalah kepada Miyuki dan menceritakan hal yang terjadi. mengingkari perkataan yang dikatakan Miyuki tadi pagi.


"Eijun, ayo bangun! Kau tidak mau ikut bertanding?" ujar Miyuki sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sawamura.

"hahhhh?"

"uwah! Eijun ada apa dengan mu? Kau terlihat seperti panda" ujar Miyuki setelah melihat kantung mata Sawamura yang cukup besar dan hitam seperti panda.

"aku hanya tidak bisa tidur.." ujar Sawamura sambil mengusap-usap matanya.

"baka Eijun. Sudah tau mau bertanding malah tidak tidur. Sudahlah cepat cuci muka sana." Titah sang catcher.

Sawamura pun berusaha membangkitkan dirinya dari kantuk. Ia menyesali perbuatannya yang terus memikirkan perkataan Wakana semalaman. Ia sungguh tak tau harus bersikap seperti apa terhadap Miyuki. Rasanya sungguh canggung

Hari ini dilapangan baseball SMA Seido, terdapat latih tanding antara Seido dan Seiko semua penonton dibuat melongo oleh pertandingan yang sungguh ketat dan hingga inning ke-8 skor pun masih seri, 5 - 5. Diawal inning ke-9, saatnya Seiko menyerang. Sawamura yang sebagai pitcher sudah mendapatkan 2 out tapi semua base telah terisi. Dibase ke-3 ada Ogawa-pitcher Seiko- dan saat ini yang memukul adalah sang kapten dari Seiko, Masu.

Sawamura melempar sekuat yang dia bisa, akan tetapi Masu dapat memukulnya meskipun tidak home run. Ogawa langsung berlari kearah home base tapi disana Miyuki telah menerima bola yang seharusnya sudah menandakan out. Tapi Ogawa terus berlari tidak memikirkan hal itu, ia terus berlari hanya berpikir bahwa ia harus sampai di base. Ia terus terus berlari hingga menabrak Miyuki. Miyuki terlempar dengan punggung yang menabrak tanah itu pertama kali. Setelah terjatuh Miyuki hanya melirik Ogawa dan mengangkat tangannya yang masih memegang bola dengan erat. Wasit pun berkata 'out' yang berarti kini sudah 3 out dan harus berganti posisi.

Setelah wasit berkata out, Sawamura langsung menghampiri Miyuki. Membantunya bangun dan berjalan kearah bangku pemain. Kini semua pemain menatap kearah Miyuki yang sedang terduduk. Dengan melihat Miyuki seperti itu, Haruichi sebagai pemukul ke-3 bertekat untuk mengakhiri pertandingan agar Miyuki bisa cepat istirahat.

Ogawa sebagai pitcher hingga inning terakhir mengeluarkan semua kekuatan untuk lemparannya terhadap Haruichi, tapi sayang sekali haruichi mendapatkan home run dan pertandingan berakhir di inning 9 dengan skor 5 – 6.

Setelah pertandingan selesai, semua anggota tim seido disuruh berkumpul di gedung olahraga. Kataoka-kantoku mereview pertandingan hari ini dan menanyakan keadaan Miyuki yang hanya di balas dengan 'aku baik-baik saja'. Kataoka-kantoku pun membubarkan pertemuan hari ini dan juga beliau meliburkan latihan besok agar semua anggota bisa beristirahat terutama untuk Miyuki. Sawamura dan Miyuki pun langsung kembali ke kamar mereka.

"Miyuki-senpai, apakah kau benar baik-baik saja?" tanya Sawamura mereka kini sedang berganti baju.

"aku baik-baik saja, Sawamura. Sungguh." Ujar Miyuki dengan tersenyum. Dan lagi-lagi Sawamura terpesona dengan senyuman itu.

"ta-tapi lihatlah perbannya! Berdarah!" ujar Sawamura menunjuk perban yang ia lilitkan kemarin dipunggung Miyuki menjadi warna merah.

"ini tak sakit, Sawamura. Jangan khawatir." Ujar Miyuki.

"diamlah Kazuya! Akan ku ambilkan perban yang baru dan cepat bukalah perban itu!" ujar Sawamura yang kini meninggalkan Miyuki sendirian dikamar.

Sawamura telah kembali dengan membawa kan perban yang baru. Kini ia mengobati luka Miyuki lagi plus menggantikan perbannya. Kini ia telah berada di hadapan Miyuki. Mengikat ujung akhir dari perban tersebut.

"nee, Kazuya..."

"apa?"

"apakah kau benar-benar terjatuh ketika mendapatkan luka ini?"

"aku benar-benar terjatuh Eijun. Percayalah."

"apakah kau terjatuh karena terlempar?"

Pertanyaan Sawamura membuat Miyuki terdiam seketika. Ia sudah menyuruh Wakana untuk tidak menceritakan hal yang terjadi.

"mengapa kau tak menceritakan hal yang sebenarnya?" tapi Miyuki tetap terdiam.

"mengapa kau menolongku, Kazuya?" dan Miyuki pun tetap terdiam.

"mengapa?!" kini suara Sawamura meningkat 1 oktaf. Tapi Miyuki tetap terdiam.

"KATAKAN KAZUYA! KATAKAN!" Sawamura sudah tidak bisa menahan emosinya. Ia marah karna Miyuki tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Ia sebal karna Miyuki hanya diam. Tapi yang dapat Miyuki rasakan adalah ada sebuah kepala yang bersadar dibahunya, membuat bahunya basah dan suara isak tangis mulai terdengar.

"mengapa Kazuya... mengapa?"

Miyuki yang dari tadi terdiam akhirnya angkat bicara.

"karena aku menyukaimu. Aku tidak menceritakannya karna kau pasti akan menangis. Aku tak ingin kau mengkhawatirkanku. Kamu sudah punya Wakana kan? Kamu tak seharusnya seperti ini Eijun. Mengkhawatirkanku adalah hal yang salah, aku–"

Perkataan Miyuki terhenti karena sebuah tamparan melayang dipipinya. Miyuki tertunduk dengan memegang pipinya.

"SALAH DARI MANA, BAKAZUYA?!" teriak Sawamura.

"sudah kukatakan, kalau kamu punya Wakana. Jadi kamu mengkhawatirkanku adalah hal yang salah. Kamu seharusnya mengkhawatirkan Wakana. Bukan aku yang hanya sekedar kakak kelasmu saja." Jelas Miyuki.

"Ka-kakak kelas katamu?" pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan oleh Miyuki.

"kalau begitu, aku ini siapa? Hanya sekedar adik kelasmu?" tanya Sawamura.

"kau orang spesial bagiku." Jawab Miyuki singkat.

"AKU MENGANGGAPMU ORANG SPESIAL JUGA, KAZUYA!" teriakan yang terlontar itu membuat Miyuki terkejut.

"bukankah orang spesial bagimu itu... Wakana? Dia teman masa kecilmu yang berharga, pacar yang sangat kau cintai. Orang sepertiku tidak pantas kau anggap sebagai orang spesial dalam hidupmu." Jelas Miyuki.

"Aku membaca majalah, dimajalah itu terdapat foto seorang 'catcher' yang dibilang bisa menangkap segala jenis lemparan dan bisa membawa Seido ke masa kejayaan. 'Catcher' itu memberiku sebuah mimpi baru... 'aku ingin bermain dengannya', 'aku ingin ia menangkap lemparanku', 'aku ingin 'berpasangan' dengannya.', 'aku ingin mendapat pujian darinya.'. Karena 'catcher' itu, kini aku berada di Seido. Bagiku, 'catcher' itu sangat spesial. Tapi ketika aku memasuki Seido, aku memiliki rival yang tangguh. Dan rivalku merebut 'catcher' itu. Ia selalu bermain dengannya, bahkan sering mendapat pujian darinya. Sakit hati melandaku. Aku berusaha melupakan 'catcher' itu, dan mencari yang baru. Dan sekarang aku sudah melupakan catcher itu. Tapi mengapa baru kemarin Catcher itu telah menyatakan perasaannya padaku? Senpai, apakah kau mau membuatku sakit hati lagi?" Sarkas. Akhir dari cerita itu terdengar sangat sarkasme di telinga Miyuki.

Didepan pintu kamar itu, Wakana mendengar semuanya. Apa yang dia lakukan di Seido malam-malam begini? Tentu saja ingin menemui pacarnya dan mengucapkan selamat secara langsung karna telah menang latih tanding tadi. Tapi ia malah mendengar percakapan ini.


Beberapa hari telah berlalu semenjak kejadian itu. Semua anggota Seido merasakan beberapa kejanggalan disekitar mereka. Satu, si berisik Sawamura itu tidak berisik. Dua, Miyuki akhir-akhir ini tidak bersikap jail. Tiga, Miyuki dan Sawamura sering melamun. Dan yang terakhir, Sawamura dan Miyuki tidak berbincang sama skali.

Kuramochi yang sebagai mantan teman sekamar Sawamura dan wakil kapten, berusaha untuk berbicara dengan mereka. Tetapi tidak ada yang meresponnya. Kini, Kuramochi muak dengan tingkah mereka berdua. Dengan sengaja, Kuramochi mengumpulkan Sawamura dan Miyuki di kantin asrama untuk membicarakan hal ini bersama-sama.

"jadi, ada apa dengan kalian?" tanya Kuramochi. Tapi Sawamura dan Miyuki hanya terdiam.

"kalau salah satu dari kalian tidak ada yang angkat bicara. Aku akan bicara dengan kantoku agar kalian di liburkan hingga kalian berbaikan." Ancam Kuramochi. Ancaman itu berhasil membuat Sawamura untuk angkat bicara.

"aku hanya menceritakan apa yang kurasakan dulu, Mochi-senpai." Jawab Sawamura.

"ohhh jadi kau sudah menceritakannya Sawamura?" tanya Kuramochi.

"Jadi kau sudah tau dari dulu Kuramochi?!" tanya Miyuki dengan nada yang perlahan naik 1 oktaf.

"umn. Tapi Sawamura memintaku untuk tutup mulut karena kau dulu sering sekali bersama Furuya."

Miyuki tidak bisa mengelak. Yang Kuramochi katakan itu benar. Dulu, ia lebih sering bersama Furuya daripada Sawamura. Ia mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Sawamura, itu juga benar. Tapi mengapa Miyuki lebih dekat dengan Furuya? Kenapa bukan Sawamura? Itu karena Miyuki masih tidak yakin dengan perasaan yang ia rasakan. Pada saat itu semua pikiran Miyuki hanya berpusat pada Sawamura. Ia berusaha menghilangkan Sawamura dari pikirannya dengan mendekati Furuya. Ya. Melampiaskannya ke Furuya. Dan memberi harapan palsu kepada Furuya.

"Miyuki-senpai, Suki."

"hahaha, ano Furuya, aku ini laki-laki lho." Jawab Miyuki dengan nada garing.

"demo senpai..."

"gomen ne Furuya."

"apakah ada orang yang kau sukai, senpai?"

"mungkin."

'mungkin' adalah kalimat terakhir Miyuki sebelum meninggalkan Furuya. Tanpa berpindah tempat, Furuya menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

"jadi, dulu... Sawamura benar-benar menyukai ku?" tanya Miyuki.

"ya. Kau saja yang terlalu bodoh. Tidak peka. Semua orang tau kalau dulu Sawamura menyukaimu. Haha. Tapi sayang nya sekarang tidak." Ujar Kuramochi.

"senpai, aku ijin pergi dulu." Ujar Sawamura lalu meninggalkan ruangan itu.


Meskipun Sawamura angkat bicara. Tapi Kuramochi tetap mengatakannya ke kantoku dan berbohong kalau dari mereka tidak ada yang angkat bicara. Ini semua demi kebaikan mereka. Kuramochi ingin mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Karena ini masalah yang bersangkutan dengan hati. Ia tak ingin kedua teman karibnya itu sakit hati.

Hening. Itu yang menggambarkan suasana di kamar nomor 02. Mereka sama-sama terpuruk karena tidak dibolehkan untuk bermain baseball. Dan mereka saling menyalahkan satu sama lain.

"BaKazuya! Ini semua salahmu! Gara-gara kamu aku jadi ikut-ikutan di liburkan!" ujar Sawamura dengan nada marah.

"daripada kau marah-marah saja Sawamura... mau kah kau ikut pergi jalan-jalan denganku? Mumpung lagi libur." Ajak Miyuki. Tapi ajakan itu ditolak Sawamura dengan sebuah gelengan.

"kita akan mampir untuk bermain baseball juga." Kalimat itu berhasil membuat Sawamura menganggukkan kepalanya. Dan mereka pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan.

"sekarang change-up." Sawamura pun mengeluarkan kuda-kuda untuk melempar change-up miliknya. Dan dengan mudah Miyuki pun menangkap lemparan itu.

"nice pitch." Bukan Sawamura kalau tak tersenyum lebar bila dipuji dengan Miyuki. Pujian dari Miyuki itu bagaikan emas yang sangat sulit untuk didapatkan. Puas bermain baseball, Miyuki mengajak Sawamura untuk berkunjung ke taman akuarium bawah laut. Melihat banyak ikan-ikan laut yang berada disana. Memandangi betapa indahnya lautan bila dilihat dari bawah. Dengan lembut, Miyuki menggandeng tangan Sawamura.

"Eijun, aku tak bermaksud untuk menyakitimu. Sungguh." Mendengar kalimat itu, Sawamura pun langsung berusaha untuk melepas gandengan tangan Miyuki. Tapi Miyuki malah mengeratkan gandengannya. Ia tak mengijinkan Sawamura untuk pergi. Ia sudah tidak ingin ada kesalah-pahaman diantara ia dan Sawamura.

"Eijun, ijinkan aku menjelaskannya." Tapi Sawamura tetap memberontak untuk melepas gandengannya. Dan semua itu sia-sia. Karena kini Miyuki mendekapnya cukup erat.

"sebelumnya aku minta maaf. Kumohon, dengarkan pernjelasku terlebih dahulu." Bisik Miyuki disamping telinga Sawamura. Tidak bisa mengelak, Sawamura hanya mengangguk. Tapi, tiba-tiba saja ponsel Sawamura pun berbunyi. Terlihat disana bahwa Wakana sedang menelponnya. Melihat ini Miyuki melepaskan dekapnya dan membiarkan Sawamura mengangkat telpon tersebut. Dan sedikit menjauh dari Miyuki.

"moshi moshi..."

"Ei-chan, apakah kau sudah berbaikan dengan Miyuki-san?" Sawamura terkejut mendengar kalimat itu. Bagaimana Wakana tau kalau ia dan Miyuki lagi bertengkar. Tidak mungkin kan kalau Kuramochi memberitahu Wakana. Atau jangan-jangan...

"maaf Ei-chan, aku mendengar percakapanmu dengan Miyuki-san beberapa hari lalu." Untuk kedua kalinya, Sawamura terkejut. Itu adalah rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun.

"ano ne Ei-chan... apakah kau benar-benar menyukaiku? Jawablah dengan jujur. Aku tak akan marah. Sungguh." Meskipun Sawamura hanya mendengarkan tapi ia tau kalau orang yang berada disebrang telpon ini mengatakannya dengan raut wajah sedih.

"gomen Wakana, aku tak bermaksud untuk menyakitimu... sungguh." Dari kejauhan Miyuki melihat Sawamura memasang raut wajah sedih. Ia mendatangi Sawamura.

"ini semua salah Miyuki." Lanjut Sawamura. Miyuki yang mendengar kalimat itu langsung berhenti padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk menggapai Sawamura. Miyuki tak ingin melangkah untuk maju. Ia lebih baik diam di tempat. Mendengar percakapan dari 2 manusia berbeda jenis itu.

"kumohon Wakana... izinkan aku... izinkan aku lebih lama bersamamu... hingga aku bisa melupakan Miyuki-senpai." Miyuki tidak berada disebelah Sawamura, tapi ia dapat mendengar perkataan Sawamura yang barusan. Ngomong-ngomong, bukankah Sawamura telah melupakan Miyuki? Itu kan yang ia katakan waktu itu? Trus apa yang barusan Miyuki dengarkan? 'hingga aku bisa melupakan Miyuki-senpai'? Benarkah Sawamura belum bisa melupakan Miyuki?

Berjuta-juta tanda tanya mendatangi otak Miyuki. Ia sama skali tak bisa menebak apa yang dipikirkan pitcher kesayangannya itu. Disebrang telpon itu, terdengar kalimat 'ya' dengan diiringi isak tangis. Wakana mengijinkan Sawamura untuk tetap bersamanya. Wakana benar-benar bahagia ketika dulu Sawamura menembaknya. Tapi kenyataannya, ia hanya dijadikan tempat pelampiasan. Mengapa Wakana melakukan ini? Bukankah ini cinta yang tulus darinya untuk Sawamura? Membiarkan dirinya sendiri tersakiti untuk orang yang ia cintai.

"Arigatou Wakana. Mulai sekarang... aku akan berusaha... berusaha untuk membalas perasaanmu. Terima kasih." Kalimat itu ditutup oleh bunyi telpon yang ditutup. Miyuki lalu mendatangi Sawamura, bertingkah seperti ia tidak mendengar apapun. Bertanya siapa yang menelpon dan membahas tentang apa. 'Wakana', 'itu bukan urusanmu' hanya itu yang muncul dari mulut Sawamura.

"nee, Eijun." Panggil Miyuki.

"apa? Kalau kau menanyakan aku benar-benar suka sama Wakana... maka jawabannya ya." Jawab Sawamura. Sejak kapan dia bisa membaca pikiran?, batin Miyuki.

"hahaha" tawa Miyuki garing.

"kita bisa pulang sekarang senpai? Aku sudah lelah. Ini juga sudah sangat malam." Pertanyaan Sawamura hanya dibalas dengan anggukkan oleh Miyuki. Miyuki pun menggandeng tangan Sawamura selama perjalanan pulang.


Kuramochi yang dari tadi khawatir tentang pasang battery yang tak kunjung pulang itu akhirnya menunggu didepan pintu kamar mereka. Ia berharap rencananya yang meminta mereka diliburkan itu berhasil dan membuat mereka berbaikan. Dan orang yang dirasani pun akhirnya datang dengan baik-baik saja. Kuramochi khawatir bila mereka tak pulang dan berakhir di Love Ho-

Mereka bukan pasangan kekasih. Hanya pasangan battery. Dan teman sekamar. Tidak lebih. Bakal jadi masalahkan bila pasangan battery bertengkar dan tak kunjung berbaikan? Dan dilihat cara mereka waktu pulang... sepertinya sudah berbaikan bukan? Maksudku, bergandengan.

"sepertinya kalian lagi masuk dunia kalian sendiri ya? Daritadi di tungguin gak pulang-pulang, eh ternyata malah mesra-mesraan." Goda Kuramochi. Miyuki dan Sawamura yang baru sadar dengan keberadaan Kuramochi langsung melepaskan tangan mereka. Rona merah terlihat diwajah Sawamura.

"SI-SIAPA YANG MESRA-MESRAAN?!" teriak Sawamura.

"diamlah Bakamura. Ini sudah malam!" jawab Miyuki.

"Jadi... apakah kalian sudah berbaikan? Tanya Kuramochi blak-blakan.

"Sudah kok. Mochi-senpai tenang aja. Berhubung kami sudah berbaikan. Kuharap aku besok bisa kembali ke lapangan, berdiri diatas mound dan melempar bola kearah nya." Sawamura pun melirik Miyuki. 'baiklah.' Jawaban singkat dari Kuramochi sebelum meninggalakn Sawamura dan Miyuki.

Eijun, kamu bahkan belum mendengarkan penjelasku karna dia menelponmu. Kamu bahkan berbohong dengan berkata kamu telah melupakanku dan menyukainya. Aku telah berusaha untuk menggungkapkan perasaan yang membendung selama 1 tahun ini. Tapi ini kah yang aku dapat? Begitu tersakitikah kamu hingga melakukan semua ini?

~TBC~

Hai hai~ kuharap kalian juga baper baca chapter ini ;;; jadi bisa ngerti perasaanku /ditabok

Ngomong-ngomong, saya mau tanya dikit" boleh? :'Da kalau aku mau bikin merchandice Daiya buat ku jual... kira-kira kalian mau gak? :'Da dan kira-kira kalian mau dalam bentuk apa? :'D trus gambar bisa request ^^a lagi butuh uang buat ngebut cosu /dibunuh

Aku Cuma tanya lho, belum tentu kejadian. Tapi aku butuh saran kalian ^^a bila berkenan tolong review yaaa~ terima kasih~

Salam cinta dari Ndong(❤^ ・^)ノ⌒❤

Bagaimana nasib Wakana?

Dan

Mengapa Sawamura melakukan hal tersebut?

Favorite and follow for the next chapter!

MEZASE! ZENKOKU SEI HA!