Story belong Lhyn Hatake

Cast Belong them self

Chanbaek/BaekYeol – GS

. .

CHILDREN NOT ALOWED!

.

Chap 3

"Kau sudah bicara dengan Chanyeol?" Park Nayoung, sang nyonya besar keluarga Park menatap putrinya dengan lembut.

Yixing yang sedang memantau alat tensi darah mendongak menatap Ummanya. "Ne, tapi belum semua."

"Kenapa?"

"Baekhyun ada dikamar Chanyeol saat aku datang dan ada sedikit… umm keributan, Darahmu rendah, Umma jangan terlalu banyak berpikir dan beraktifitas." Yixing memberi tahu hasil pemeriksaannya pada sang Umma.

"Kau jangan terlalu keras pada Chanyeol," Nayoung mengusap rambut panjang putrinya.

"Aku harus keras Umma, aku banyak mengacaukan perusahaan selama tiga tahun ini. Banyak klien yang jadi ragu, perusahaan pesaing juga semakin kuat, aku tak mau kalau kita sampai harus mengurangi pegawai hanya karena aku. Ini tempat Chanyeol bukan tempatku." Yixing menunduk, merasa bersalah pada banyak pihak.

Saat Appanya meninggal, Chanyeol belum menyelesaikan stratanya dan dia masih berusia dua puluh tahun. Sekarang Chanyeol hampir mendapatkan gelar masternya dan dia sudah tiga tahun lebih tua dari saat itu. Yixing hanya seorang dokter yang terpaksa memimpin perusahaan demi keluarganya dan demi memberi Chanyeol sedikit waktu untuk menyelesaikan pendidikannya.

"Tak ada yang akan menyalahkanmu, kau sudah berusaha dengan keras dan percaya pada Chanyeol dia bisa memperbaiki semuanya."

"Aku percaya padanya Umma, itu sebabnya dia harus segera bergabung dengan perusahaan saat putri keluarga Huang datang," Yixing tersenyum pada Ummanya. "Tapi Umma, umm… ini soal Baekhyun. Apa menurut Umma dia dan Chanyeol tidak akan umm…" Yixing ragu untuk mengatakan hal berikutnya, dia menatap Ummanya bingung.

"Sepertinya Umma mengerti maksudmu, Umma juga kadang memikirkan mereka. Mereka dekat sejak kecil dan tak ada yang bisa memahami Chanyeol lebih dari Baekhyun. Menjauhkan mereka saat tunangan Chanyeol datang itu hal yang buruk. Suatu saat ketika mereka dewasa dan menemukan pasangan hidup masing-masing, secara alami mereka akan mulai memikirkan hal yang berbeda."

"Tapi Umma, pagi tadi aku umm…" Yixing masih ragu untuk mengatakan hal yang dia lihat pagi tadi. "kupikir Baekhyun tidur dikamar Chanyeol," dia berusaha memilih opsi yang lebih nyaman dikatakan.

"Ya, mereka memang sering seperti itukan?"

"Tapi mereka sudah dewasa sekarang Umma!" Yixing mulai kesal.

"Sejak kecil Appamu sangat keras pada Chanyeol, Baekhyun adalah satu-satunya kelonggaran yang Appa berikan padanya. Umma atau kamu sama sekali tak pernah berusaha membela Chanyeol, hanya Baekhyun yang melakukannya kan? Bahkan untuk memeluk Chanyeol pun kita tak pernah mencoba. Hanya Baekhyun yang bisa memeluk Chanyeol. Jadi untuk hal ini Umma harap kau pun memberi kelonggaran seperti Appamu."

Yixing mengangguk, masih ragu.

"Bagaimana kabar Joonmyung? Sudah lama dia tak kemari."

Yixing mendesah pelan, rasa rindu mulai kembali merambati dadanya. " Dia masih harus mengurus cabang Dubai, sekitar dua minggu lagi baru bisa kembali."

Nayoung mengusap pundak putrinya maklum. "Umma percaya padamu karena Umma tahu Joonmyun akan banyak membantumu."

Yixing tersenyum. "Kurasa kita pantas menaikkan gajinya begitu perusahaan mulai stabil."

"Ya dan kalian bisa cepat menikah." Nayong menggoda putrinya dengan tepat dan Yixing tersenyum malu karenanya.

.

.

BAEKHYUN POV

"Baekhyun! Baekhyun!"

Itu suara Kyungsoo memanggilku dari kejauhan dengan derap langkah kakinya yang terdengar semakin mendekat.

"Baekhyun!" pintu terbuka dan yeoja dengan pipi tembam itu muncul dengan napas terengah.

Aku mengernyit, Kyungsoo tampak tak baik. Kulemparkan handuk yang sedari tadi kugunakan untuk mengeringkan rambut ke kasur dan mendekatinya, "Kenapa Soo?"

"Kau sudah dengar… Itu… emmm… tuan muda…"

"Chanyeol?"

"Dia… akan bertunangan~" Kyungsoo menggumam lirih dan menatapku takut-takut seakan aku sebuah petasan yang sumbunya telah tersulut.

"Oh. Ya aku sudah tahu, hari ini keluarga mereka akan datangkan?"

"Baekhyun… kau tak apa-apa?" nada Kyungsoo mengusikku, aku tersenyum padanya dan mengangguk pelan.

"Tapi aku tak bisa membantumu menyiapkan semuanya untuk nanti malam, aku akan keluar seharian."

"Tak apa, aku mengerti," Kyungsoo memelukku dan kurasa pelukan ini adalah hal yang benar-benar kubutuhkan. Aku menikmatinya.

"Aku harus kekamar Chanyeol," aku melepaskan pelukkannya. "Kalau tidak dia tak mau turun untuk sarapan."

Aku menyisir rambut basahku sebentar sementara Kyungsoo mengamatiku dengan pandangan iba hingga kami keluar dari kamar bersama. Kami berpisah diujung pertama lorong kamar kami, Kyungsoo menuju kedapur sementara aku ke ruang peralatan, mengambil vacuum cleaner dan beberapa perlengkapan lain sebelum naik ke kamar Chanyeol.

Kamar Chanyeol dilantai dua bagian timur dari bangunan berlantai empat ini. Salah satu kamar paling besar dengan balkon luas yang sangatku sukai. Matahari pagi disana sangat indah dan hangat saat musim semi.

Aku mengetuk pintu dan masuk. Chanyeol jarang mengunci pintu, karena pada dasarnya tak banyak yang cukup berani untuk masuk ke wilayah pribadi Chanyeol. Seringnya Chanyeol mengunci pintu adalah saat dia berniat mengurungku didalam atau saat dia marah.

Tak ada Chanyeol, namun suara dari kamar mandi menjelaskan keberadaannya. Aku bergerak kearah tempat tidur, merapikannya dan membersihkannya dengan baik, merapikan tempat-tempat lain dari sudut kesudut kamar besar itu, membuka pintu balkon, dan membawa barang-barang kotor kedepan pintu, seorang maid akan mengambilnya nanti.

"Sudah selesai?"

Aku berbalik kearah asal suara maskulin itu terdengar. Chanyeol berdiri didepan pintu kamar mandinya dengan sebuah handuk yang menggantung di pinggangnya. SIAL!. Ini bukan yang pertama, tapi bukan berarti aku sudah terbiasa. Saat kecil kami sering mandi bersama, tapi kegiatan seperti itu berhenti saat kami mulai remaja. Kami telah dewasa sekarang, dan dengan tubuh dewasanya Chanyeol sangat mempesona. SIAL!.

"Bodoh!" aku berbalik, menghindari pemandangan menggoda iman. "Kubilang bawa baju gantimu kalau mandi!"

"Kau yang bodoh, inikan kamarku." Chanyeol bergerak, suara langkah kakinya mendekatiku dan tak lama kedua tangannya tiba dipundakku. Ah! Jantungku, tolong tenang sedikit!. Tangan Chanyeol membawa pundakku menuju lemari pakaiannya.

Apa lagi ulahnya kali ini?

"Ambilkan bajuku?"

"Apa?"

"Ambilkan bajuku, aku menunggu disini dan jangan berbalik."

"Apa? Chanyeol kau—"

"Cepat! Kau mau aku seperti ini terus? Dasar gadis mesum."

"Yak!" sial aku tak bisa berbalik untuk memukul kepala besarnya!

Tarik napas dan lepaskan perlahan. Aku membuka lemari paling bawah, meraih sebuah celana dalam dan memberikannya kebelakang.

Set.

Sial! Aku tahu dia sengaja menjatuhkan handuknya!

Okeh! Fokus. Aku membuka pintu besar diatas dimana celananya disimpan. Celana panjang, celana pendek, celana kain, celana jeans, celana olahraga dan celana-celana lainnya. Aku mengambil satu asal dan memberikannya kebelakang. Bergeser selangkah dan membuka lemari kaos miliknya. Mengambil satu dengan cepat dan kembali memberikannya kebelakang.

Bukannya meraih kaos itu, dua lengan kuat justru melingkar dipinggangku. Ah, namja ini… bisa kurasakan tubuhnya yang menempel padaku, dan bibir dingin yang terasa basah menempel di pundakku.

"Wajahmu memerah, kau tampak manis Baeki."

"Kubunuh kau setelah ini."

Chanyeol terkekeh. Dia melepas pinggangku dan meraih kaosnya. Aku menunggu beberapa saat sebelum yakin untuk berbalik. Dia sudah memakainya, sebuah jeans selutut dan kaos hijau muda. Rambutnya basah, membuat reflex ku mengambil sebuah handuk lembut dan mulai mengeringkannya lalu menyisirnya.

Baru kemudian menyeret tubuh jangkung itu keluar kamarnya turun kebawah menuju meja makan. Dua orang sudah menunggu disana.

"Pagi Umma, pagi Yixing Unnie," sapaku, sejujurnya untuk mewakili Chanyeol.

Chanyeol mengambil tempat duduk disisi kiri Ummanya dan aku duduk disisinya. Ini harus kulakukan, Park Chanyeol. Pria aneh yang sulit makan tanpa aku disampingnya.

Seperti biasa, ada begitu banyak menu diatas meja. Aku melirik pancake kecoklata lalu mengambil dua potong untuk Chanyeol dan untukku sendiri, Chanyeol tak pernah mempermasalahkan apapun makanan yang kuberikan padanya. "Kau mau madu?" tawarku. Chanyeol mengangguk, matanya mengawasiku. "Teh? Kopi? Susu?"

"Teh."

"Chanyeol, Yixing sudah memberi tahumu kalau nanti malam keluarga Huang akan kesini?" aku menatap Umma Chanyeol saat wanita itu bicara.

"Hemm," Chanyeol menjawab singkat.

"Jangan pergi kemanapun, Umma berharap kau bisa memberi kesan yang baik didepan mereka."

Kali ini Chanyeol tak menjawab, wajahnya berubah mengeras dan aku memperhatikan dia yang berhenti mengunyah, meminum tehnya dan berdiri. Menyeretku ikut serta meninggalkan meja makan.

Sial!

"Yeol, aku belum makan!" ini serius, baru sepotong pancakeku berkurang dipiring. Tapi Chanyeol terus menarik tanganku, membawanya ketangga. "Chanyeol tunggu," aku memaksa berhenti.

"Apa?" serunya tak sabar. Moodnya memburuk.

"Aku harus pergi."

"Oke. Kemana?"

"Maksudku AKU, hanya aku. Kau dengar Ummamu tadi, kau harus tetap dirumah."

Chanyeol kembali tak menjawab, tapi matanya menyipit, dia mulai marah dan itu membuatku waspada.

"Yeol, kumohon… aku tak bisa disini malam ini." Aku berharap karena ini akan jadi malam menyedihkan untukku. Aku tak mau, belum mau bertemu dengan siapapun gadis itu.

Dia melepaskan tanganku dan berjalan cepat menuju kamarnya. Meninggalkanku bergeming sendirian ditengah tangga. Dia marah. Aku mengatakan hal yang salah di saat yang salah.

.

.

Begitu keluar dari mansion Park yang besar itu aku segera memesan menu sarapan di café. Setelahnya berputar-putar di area perbelanjaan tanpa arah dan tujuan hingga membuat kakiku pegal dan makan siang di kedai ice cream lalu duduk sendirian ditaman dibawah sebuah pohon untuk menghindari terik matahari.

Tak lama aku mulai merasa bosan dan memutuskan untuk menonton film, hingga saat matahari mulai turun aku masuk kesauna umum dan mulai terbengong disana dengan sepiring telur didepanku.

Hari yang panjang dan aku terus memikirkan Chanyeol. Dia tak menghubungiku walau hanya dengan sebuah pesan. Aku mencoba menelpon Kyungsoo sore tadi dan dia terdengar sangat sibuk. Apa Chanyeol juga sibuk? Apa dia sudah bertemu dengan yeoja calon tunangannya dan mereka sedang bersama? Seperti apa yeoja itu? Cantikkah?

Aku melirik jam di dinding sauna umum. Pukul Sembilan lebih. Aku memang memilih sauna yang tak jauh dari mansion Park, tapi tetap saja untuk pulang aku harus menggunakan bus. Yah. Sebelum tertinggal bus terakhir aku memilih pulang.

"Baekhyun kau sudah pulang?" Jongdae muncul begitu saja saat aku memasuki gerbang. Dia tampak terburu-buru. "Semua orang mencarimu!"

"Ha? Kenapa?"

"Tuan muda menghilang, semua orang berpikir dia bersamamu."

"Tidak. Kau lihat pagi tadi aku pergi sendirikan?" aku membela diri dengan cepat.

"Iya, sudah kukatakan itu pada nyonya besar, tapi sebaiknya kau masuk."

Aku mengangguk dan berlari kecil kearah bangunan besar itu. Sial Chanyeol! Apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa dia menghilang dan sejak kapan?

Aku masuk keruang depan dan bergegas keruang tamu. Tapi ruangan itu kosong, bukankah seharusnya hari ini ada tamu? Atau mereka diruangan lain? Apa aku harus kekamar Chanyeol? Tapi kalau Chanyeol dikamarnya, Jongdae tak mungkin bilang Chanyeol menghilangkan?

Aku jadi melangkahkan kakiku menuju kamarku, tiba-tiba saja kepalaku pusing dan aku merasa lelah padahal seharian aku hanya duduk diam.

"Baekhyun!" aku mendengar suara Yixing memanggilku, dan aku menemukan yeoja itu berdiri diluar didekat kolam renang. Aku memutari koridor kaca tempatku berada dan menemuinya.

Dia tidak sendiri, dia bersama seorang yeoja yang cantik, sangat cantik. Tinggi dan langsing, anggun dalam balutan dress panjangnya yang indah.

"Dia Huang Zitao, putri sahabat Appa dari china." Ujar Yixing, seakan tahu maksud pandanganku. "Zitao, ini Byun Baekhyun. Putri paman Byun kepala pelayan dirumah ini." Dan Yixing memperkenalkan kami.

Aku membungkuk memberi salam dan dia balas membungkuk dengan sangat anggun. "Senang bertemu denganmu," ujarku dan dia hanya membalas dengan senyuman tipis.

"Kami mencari Chanyeol, apa kalian bersama?" Yixing mengakhiri inspeksiku pada yeoja ini.

Aku menggeleng, "Tidak, aku sendirian seharian ini. Aku permisi Unnie."

Aku meninggalkan mereka dan kembali menuju kamarku. Perasaanku jadi sangat rumit, gadis itu cantik, apa Chanyeol akan menyukainya?

"Baekhyun!" seseorang menyebut namaku lagi. Kali ini Kyungsoo yang sedang berdiri didepan pintu kamar kami. Dia terlihat lega melihatku datang.

"Kenapa kau disini, tidak masuk Soo?"

"Semua orang mencari tuan muda."

"Iya aku tahu."

"Dan dia ada didalam."

"Apa?" aku melotot.

"Tuan muda ada didalam, aku masuk dan melihatnya tadi." Kata Kyungsoo, dia terlihat bingung.

"Kau sudah memberitahu seseorang?"

"Belum, kurasa dia mencarimu."

Aku mengangguk. "Tunggu disini, aku akan mengusirnya," ujarku geram, tapi kemudian tersenyum menenangkan pada Kyungsoo. Kuharap dia percaya dia bisa mengandalkanku. Tapi…

Baru saja aku membuka pintu saat Chanyeol menarikku dari dalam dan menekap bibirku dengan bibirnya.

"Emmphh!" seruku terkejut. Chanyeol menghimpitku diantara dinding dan tubuhnya, diantara kedua lengannya. Hanya tanganku yang terasa lemah yang membatasi tubuhku dan tubuhnya.

Bibirnya menuntutku, mendesakku dengan cepat, membuatku tak sempat memikirkan apapun kecuali membiarkannya. Menggigit dan menyesap, lidahnya mendesak semakin dalam.

"Emmpphhh…!" aku mencoba mendorong rahangnya yang keras. "Pintu!" dalam sedetik usahaku berhasil dan satu kata lolos. Chanyeol paham karena beberapa saat kemudian aku mendengar suara pintu kamarku yang ditutup…

Cklik.

Dan terkunci.

Aku gelagapan, Chanyeol semakin menuntut, tapi paru-paruku kini lebih menuntut. Dengan napas yang kian memendek aku kembali mencoba mendorong rahangnya. Dia mengalah, menarik lidahnya dan membawa bibirnya ke rahangku, menciuminya dengan posesif menuju leherku.

"Yeollhh… kenapa kau disinih?"

"…"

"Kauh seharusnyah temui diahh, diahh gadis yang chantik,,,shhhhh" aku meringis, sebuah gigitan membuat tubuhku bergetar.

Dan tiba-tiba saja tubuhku terjatuh, Chanyeol membawaku tanpa sadar dan kini menghimpitku diatas kasur, bibirnya terus berkelana sementara tangannya membuat kancing bajuku tak bersisa.

"Yeol!" aku terkejut menyadari tubuh bagian atasku tak berpelindung sekarang, "Hentikkan, aku bisa berteriak!"

"Dan bukan hanya Kyungsoo yang melihat kita?" dia berbisik tepat didepan kedua payudaraku.

Sial dia benar!

"Kau tidak menemuinya?" aku berusaha bertanya dengan baik.

"Sudah," dan dia menjawab dengan sangat singkat.

"Yeollhh!" aku mendesah antara kesal dan nikmat.

"Yixing menyuruhku menemuinya dan aku sudah menemuinya. Apalagi? Kau ingin aku kesana dan mencolok matanya?" dia menatapku kesal dan kembali mencium bibirku dengan menuntut, seakan menjejalkan lidahnya kedalam mulutku saja tak cukup. Dia terus menyesapinya, membelai ruang dalam mulutku tanpa sisa.

Aku menggeliat tak nyaman, ada yang aneh dengan tubuhku, seakan menikmati gerakan kedua tangan Chanyeol pada kedua payudaraku. Chanyeol memijatnya lembut, memainkan kedua puttingku dengan dua ibu jarinya. Tubuhku menegang, dia memasukkan satu puttingku kedalam mulutnya.

Terasa panas, basah saat lidahnya yang kasar telah tiba disana. Tanganku berpegang kuat pada pundak kokohnya.

"Arhhh!" sial tubuhku mengejang, dia menghisap putingku dengan kuat. Napasku memburu tajam, ini berbahaya.

"Yeoll… jangan terlalu jauhhhh eemmmhhh," aku memperingatkannya, berusaha mendorong kepalanya menjauh dari dadaku.

Chanyeol melepaskan diriku. Dia menatapku dengan tatapan ganjil. Penuh harap dalam keputus asaan. Dia kebingungan, matanya ketakutan dan sebuah hasrat membara didalam sana.

"Aku tak ingin berhenti," ujarnya. "Apa yang akan kau lakukan?"

Ya tuhan! Apa yang harus kulakukan?

Aku memejamkan mataku dan saat membukanya lagi iris mata Chanyeol masih disana. Dengan tatapan yang sama.

"Aku… aku tak akan menghentikanmu." Putusku tenggelam di dalam kegelapan mata itu. Aku menyerah, pada sahabat kecilku. Mungkin telah menyerah sejak lama.

Chanyeol kembali menciumku, menciumi setiap jengkal tubuhku dengan lembut dan memuja. Tak terlewatkan, dia menekuninya senti demi senti. Memperlakukan kedua payudaraku dengan sayang, menyesap bibirku dengan manis. Tubuhku tak berhenti bergetar, setiap sentuhan Chanyeol membawa efek yang sangat kuat.

Dia melepaskan pakaian kami satu persatu dengan sabar dan memelukku erat saat helai terakhir pergi dari tubuh kami. Panas tubuh kami menyatu dan berpusar menuju pusat dibawah perut kami. Aku bisa merasakan hasrat yang semakin kuat darinya, hasrat yang menguat di setiap napasnya. Detak jantung kami yang saling bersahutan dan napas kami menyatu.

Pagi tadi kurasakan malu dan canggung melihatnya dalam balutan sehelai handuk. Tapi kini rasa malu itu menguap sedikit demi sedikit, terganti rasa takjub melihat Chanyeol yang begitu keras didepanku. Jantungku begitu berisik, melompat-lompat tak terkendali.

Chanyeol kembali mencium bibirku, menggigitnya pelan sebelum meninggalkannya dan turun kebawah menciumi leherku, terus kebawah menciumi perutku hingga akhirnya dia tiba pusatku.

"Yeol!" aku melompat kebelakang. Ya tuhan! Dia menciumnya juga.

Chanyeol terkekeh, dia menarikku lagi dan menenggelamkan dirinya disana. Diselangkanganku. Aku gelagapan merasakan Chanyeol menciumi paha dalamku hingga kewanitaanku. Menggigit dan menghisap diriku.

"Yeolllhhh…"

Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan, pundak kokoh Chanyeol dibawah sana, terlalu jauh untuk kugunakan, tapi aku menemukan surai hitamnya dan menariknya.

"Yeoollhhh…"

Aku terus mendesah. Chanyeol seakan tengah menghisapku kuat-kuat, lidahnya membelai dengan kasar bermain dengan cepat. Sesuatu dalam perutku berputar-putar, semakin turun dan semakin turun.

Aku tak tahan! Rasanya ingin meledak! Rasanya begitu kuat! Rasanya…

"Aaagghhh!" aku pecah berantakan! Tubuhku melengkung kaku. Mataku terpejam kuat, napasku terputus dan kurasa jantungku meledak berhenti berdetak.

"Baekhyun…" Chanyeol memanggilku lembut, tangannya mengusap keningku hingga kepipiku. Dia menghapus keringatku, kurasa.

Aku membuka mata dan melihat dia yang tersenyum puas. "Kau orgasm, Sayang."

Aku mengangguk lemah masih terengah. Orgasm pertamaku dalam hidup dan itu karena Chanyeol. Chanyeol memelukku erat, mengusap rambutku yang berantakan.

"Ini akan sakit, tapi pundakku milikmu," Chanyeol mengecupi pipiku. "Kau memilikiku."

Aku paham maksudnya dan aku bisa merasakan dia tengah menempatkan sesuatu dibawah sana dan entah apa yang menggerakkanku, aku membuka kakiku semakin lebar. Tubuhku kembali menegang saat merasakan sesuatu yang keras menyentuhku tepat disana dan mulai memasukkiku. Terasa mendesakku.

"Yeol!" aku berjengit, meremas pundaknya. Mulai terasa perih tapi Chanyeol terus mendorong dan mendorong lagi. "Chanyeol hentikan!"

Chanyeol berhenti, wajahnya meninggalkan leherku dan menatapku dengan pandangan yang menyala. "Apa sakit?"

"Tidak, tapi kurasa itu mentok .. Yeol!" Chanyeol mendorongnya lagi dan aku merasakan perih yang mengoyak!

"Tidak ada mentok Sayang… ini baru setengah dan kau akan menerimaku sepenuhnya, tenanglah… aku pelan-pelan," dia membelai wajahku.

Aku mengangguk dan Chanyeol mencium keningku sayang. Napasku putus-putus dan… ya tuhan! Dia mendorongnya lagi… mataku memejam… perih semakin terasa… lagi dia mendorongnya lagi dan lagi. Perih, sakit seakan Chanyeol tengah mengirisku di dalam sana. Mulutku terbuka, ingin mengehentikannya tapi… tidak!

Aku harus bertahan!

"Ughhh…" satu isakan lolos.

"Baekhyun…" dia memanggilku lembut, membuatku membuka mata dan melepaskan gigiku dari kulitnya. Ya tuhan! Aku menggigitnya. Dan tanganku yang mencengkram pundaknya sedikit melemas. "Aku sudah masuk, Sayang. Kau baik-baik saja?"

Aku menatapnya yang memandangku khawatir dan aku mengangguk meyakinkanya. Benarkah? Tubuh kami nyatu? Dan tak perlu orang lain untuk menjawabnya karena aku sendiri yang merasakan bagaimana milik Chanyeol terasa sesak didalam diriku.

"Boleh aku menariknya?"

Aku mengangguk lagi.

Dia menariknya perlahan tapi saat kupikir miliknya akan terlepas dia mendorongnya lagi.

"Yeollhh!" aku mengeram dan mencengkram bahunya kuat-kuat. Dan dia melakukannya lagi, menariknya dan mendorongnya. Semakin lama-semakin cepat, tapi anehnya tidak terasa semakin sakit. Sebaliknya, itu terasa semakin nikmat.

Kami menggila. Dengan tubuh yang menyatu, bergerak semakin liar dan semakin panas. Seakan tanpa batas, terus bergerak menggapai nikmat, mencari kepuasan yang semakin mendekat. Tubuhku berguncang dalam hentakkan-hentakan pinggul Chanyeol yang semakin cepat. Aku mengerang, memanggil namanya berulang-ulang.

Dan pada puncaknya, aku kembali merasakan tubuhku meledak. Meledak penuh kenikmatan yang Chanyeol bawa untukku. Dan kami lemas, Chanyeol terjatuh diatasku setelah kurasakan ledakkannya didalam sana.

Dia berguling kesamping dan memelukku. Tenaga kami terkuras untuk sebuah ledakan yang menakjubkan. Sekarang hanya napas kami yang saling memburu, keringat yang bersatu dan usapan-usapan lembutnya yang menenangkanku.

Saat kupikir kami tak mampu bicara, dalam napasnya yang terengah dia berbisik dekat telingaku.

"Aku mencintaimu."

Aku tak mampu membalasnya, tenagaku habis. Tapi aku yakin dia mengetahuinya, bahwa aku juga mencintainya… sangat mencintainya.

Dan mataku terpejam, lelah.

.

.

.TBC.

Aku kembali untuk mengucapkan terimakasih banyak bagi Fav dan Follownya, juga setiap Riview yang masuk yang sangat berarti untukku dari :

Chenma, Neli Amelia, Yeolbeeeeee94, Voustagram, Ervyanaca, Aerii, Parkbaexh614, Hana89, , Holieyeoli, Chanbaekhunlove, Keenz, bebekjail, Azure281, Byunliv, Ohbyunpark, Rly, Seulbiseul40, Park youngie, Sabrina614, Chanbaek Noona, Chankybaek, Leana Wu, Jichan Me, TKsit, Chanbaek lopelopelope, HK69, Leeminoznurhayati.

.

QnA : Beberapa pertanyaan seperti 'Kapan NC' dan 'Siapa tunangan Chanyeol' sudah terjawab di cerita. Dan ini pertanyaan lainnya :

Q : Kenapa kakaknya Chanyeol Yixing bukan yang lain?

A : Aku suka Yixing dengan aura tenang dan dewasanya, Yixing akan jadi kakak yang baik bagi Chanyeol dan Baekhyun.

Q : Kapan Yifan keluar?

A : Coba baca ulang chap 1 dibagian ChanBaek main kerumah Sehun. Untuk sementara porsi Yifan memang belum banyak.

Untuk pertanyaan lain yang tidak dijawab, mungkin pertanyaanmu akan di jawab cerita chap berikutnya.