Chapter 4
POV: Sasuke
"Jadi, yang dikatakan para pemuja Itachi itu benar?" tanya Karin, senin berikutnya, saat aku (lagi-lagi) menoleh keluar jendela. Tentu saja aku tak melihat Sakura di bawah sana. Tapi karena itu lah aku terus menatap lapangan kosong itu, memperhatikan anak-anak kelas 1B sedang berolahraga. Aku bisa mengenali putri Hyuga sebagai salah satu dari mereka.
Aku mengedikkan bahu. "Mungkin kenyataannya lebih parah," kataku, tak sengaja terdengar muram.
"Kalau begitu bagus dong!" komentar Suigetsu. "Dia bisa bergabung dengan kita saat di club!"
Aku tak menanggapinya.
Jugo berdehem. "Kupikir tidak ada seorang kakak yang senang jika adiknya punya kebiasaan buruk. Sekali pun kakaknya memiliki kebiasaan yang sama," katanya pada Suigetsu.
Aku mendecih. "Dia belum jadi adikku!" tukasku. "Dan aku tak berharap dia jadi adikku."
"Heeh? Padahal kemarin, kau sangat menyukainya, mengatainya punya kelebihan atau apa lah," kata Karin. "Masa hanya karena dia sering ke club, kau langsung tak mau mengakuinya!"
Aku menurunkan pandanganku, ke mejaku yang berlapis kaca dengan sebuah kertas sketsa terjepit di bawahnya. Sketsa seorang gadis cantik yang sedang bermain piano. Gambaran ibuku. "Kurasa, aku hanya belum siap menerimanya sebagai adikku," kataku pelan. "Aku sama sekali tidak membencinya."
"Yap! Dia sudah jatuh cinta pada gadis merah jambu itu!" Tiba-tiba saja Suigetsu menyimpulkan seenak jidat. Aku dan Karin meliriknya sebal. "Karena itu lah dia tidak siap jadi kakak Sakura."
"Aku memang tidak mengerti rasanya jadi seorang kakak!" kata Karin, tak sengaja menaikkan suaranya hingga Kurenai-Sensei memperhatikan kami. "Tapi mana ada kakak yang mencintai adiknya!"
"Itu sudah banyak terjadi. Di film, manga, dan semacamnya!" Suigetsu bersikeras. "Lagipula kau lihat sendiri bagaimana cara Sasuke memandang gadis itu dua hari yang lalu!"
"Uhm, penuh cinta sekali!" komentar Jugo.
Aku mendengus dan memutar bola mataku. Mereka bertiga bahkan tidak menyadari Kurenai-Sensei sudah berdehem-dehem menegur mereka. Hingga akhirnya wanita itu marah dan membentak mereka. "Karin, Suigetsu, Jugo, lanjutkan obrolan kalian di luar!" bentaknya. Seisi kelas langsung menatapnya, kaget. "Kau juga, Sasuke!"
Aku menatapnya heran. "Kau lihat sendiri, kan, Sensei? Aku sama sekali tidak terlibat!" kataku, membela diriku tanpa membela teman-temanku. Habisnya aku sangat kesal. Entah karena apa.
"Justru karena aku melihatnya dan mendengarnya sendiri, aku tahu kau terlibat. Sekarang keluar!" katanya keras.
Aku mendecih dan berdiri, tak lupa menendang mejaku. Kami berempat pun berjalan keluar kelas dengan lesu.
Naruto ©MasashiKishimoto
My Strange Sister ©VannCafl
Pairing: Sasuke x Sakura
Genre: School, Family, romance.
Rate: M
Sesampainya di dalam lift yang hanya diisi oleh kami berempat, Karin menatapku takut-takut. "Sasuke, apa kah kau memang menyukai adikmu sendiri?" tanyanya, nyaris terdengar mencicit. "Habisnya kau tidak menanggapi kami, juga tidak membela kami, tadi."
"Dia sedang marah," tukas Suigetsu.
"Aku tak marah!" jelasku. Memangnya aku terdengar marah, hah? Aku ini orang yang sangat penyabar, tau!
"Haah.." Suigetsu menghela nafas. "Aku tau kau marah. Karena tebakanku ternyata sangat benar. Lagi pula, dia memang cantik. Wajar saja kau jatuh cinta."
Aku mendecih lagi. "Aku tidak marah," tekanku sekali lagi. "Kalaupun ada yang membuatku marah, itu karena kalian tidak datang ke rumahku, kemarin. Memangnya kalian menghabiskan hari libur kalian di mana, hah?"
"Kami pergi ke butik untuk mencari baju yang pas untuk menghadiri pernikahan ayahmu," jawab Jugo, membuat hatiku sedikit melunak.
"Mungkin juga untuk menghadiri pernikahanmu dengan Sakura," timpal Suigetsu, bersamaan dengan Karin yang berkata, "Tadinya kami ingin merahasiakan ini darimu."
"Oke, jadi warna apa yang kalian pilih?" tanyaku, mengacuhkan perkataan Suigetsu. Atau aku akan marah-marah lagi.
"Hitam-putih," jawab Jugo. "Kami masih ragu pernikahan ini adalah kebahagiaanmu atau kedukaanmu."
Oke, tindakan mereka berhasil membuatku terharu. Tapi tak juga. "Ini adalah kebahagiaanku," kataku. "Tapi aku suka perpaduan hitam dan putih. Terimakasih!"
"Kenapa jadi kebahagiaan—" Mulut Suigetsu langsung ternganga. "Jadi kau senang satu rumah dengan gadis yang kau sukai.. supaya.. aku tak sanggup menjelaskannya."
Jugo mengangguk-angguk. "Siapa yang sanggup kalau jawabannya senista itu?"
"Hei, hentikan. Nanti Sasuke marah lagi, loh!" peringat Karin, dengan suara marah.
Suigetsu tersenyum tipis. Tiba-tiba saja ia menekan Karin ke dinding besi lift, dan mengurung gadis itu dengan kedua lengannya. "Melihatmu marah membuatku merindukan gairahmu," bisiknya pelan, tapi cukup keras untuk Jugo dan aku dengar.
Kurasa karena perjalanan kami ke lantai satu yang lumayan jauh, serta tanpa gangguan karena tidak ada yang menggunakan lift saat jam pelajaran begini, yang membuat Suigetsu jadi tak sabaran begitu.
Aku melihat sedikit ketakutan di wajah Karin dan segera menyingkirkan Suigetsu dari depannya. "Jangan membuat para gadis ketakutan!" kataku sebal.
Suigetsu cemberut. "Dia hanya sedikit takut karena kami melakukannya di fasilitas umum," kata Suigetsu. "Dia kan selalu suka bermesraan di tempat sepi."
Aku melihat angka satu pada monitor menyala dan pintu lift terbuka. "Kedengarannya sangat Karin," komentarku. "Sekarang, ayo kita bermain biliar!"
"Sudah kuduga kita akan membolos," keluh Jugo.
"Tapi itu lebih baik daripada berjalan-jalan tanpa juntrungan sampai pelajaran Kurenai habis!" kataku, membela keinginanku.
"Mengaku saja lah, Sasuke! Kau hanya ingin menyegarkan pikiranmu, kan?" ejek Suigetsu. Karin tergelak. "Yah, Sasuke memang selalu bermain bliar setiap kali ia stress!" timpal gadis itu.
"Oh, diamlah!"
POV: Sakura
"Tahu kah kau, alasan mengapa kau kupanggil ke sini?" tanya Tsunade, saat aku memasuki ruangannya, di lantai 4, tempat para ruangan guru berada. Saking banyaknya jumlah mereka, mereka mengambil tiga lantai hanya untuk ruang guru.
"Untuk memaksaku latihan intensif?" tebakku. Aku menatapnya bosan. "Aku tak tahu Tsunade. Aku bukan esper!"
Tsunade langsung memukul mejanya dengan kekuatan super yang kurasa mampu mematahkan meja kayu. Tapi karna mejanya terbuat dari.. entahlah.. marmer, mungkin? Meja itu tidak rusak sedikitpun. "Panggil aku 'Sensei'!" bentaknya. Kemudian ia berdehem dan mencoba menenangkan diri. "Setelah mendengar sebuah berita dari dewan siswa, aku ragu kau masih bisa latihan denganku."
Mataku langsung terbelalak. "Memangnya apa yang kau dengar sampai kau mau mengusirku, Tsunade?" tanyaku, saat mengerti ke mana arah pembicaraannya.
Dia menyebarkan banyak foto ukuran kecil di atas meja. Aku melangkah mendekat agar bisa melihat lebih jelas foto-foto itu dan terkaget sendiri. Karena foto-foto itu menunjukkan aktivitasku di club. "Aku hanya bermain di tempat temanku, apa masalahnya?" tanyaku keras.
"Itu lah masalahnya! Kau, seorang siswi dari Konoha Gakuen yang disiplin, bermain di tempat seperti itu!" jelasnya.
Aku menggeleng-geleng. "Itu lah kenapa aku tidak pernah melihat satu pun muridmu di sana!" kataku, tak percaya. Kecuali Sasuke dan teman-temannya.
Tsunade mengangguk. "Dan karena kebijakan sekolah yang kutulis sendiri, aku terpaksa mengeluarkanmu!" katanya. "Lagipula nilaimu sangat rendah. Bahkan tidak mencapai sedikit pun standar kelas Z."
Aku mendengus. "Nilai mereka cukup bagus," akuku. "Kalian saja yang tidak mengapresiasi mereka. Sementara di sekolah yang tidak lebih bergengsi, dengan biaya yang lebih murah, mereka bisa mendapat kelas yang lebih baik, tanpa deskriminasi."
"Kami membuat sistem seperti ini agar mereka berpacu!" bentak Tsunade. "Bukan salah kami mereka ditempatkan di sana."
Aku langsung berteriak frustasi. "Arrrgh! Aku tak mengerti jalan pikiran kalian!" bentakku. "Aku akan segera keluar dari kelas ini dan mencari guru balet lain, dan mengalahkan semua muridmu di pertandingan!"
Dengan menghentak-hentakkan kaki, aku keluar dari ruangan sialan yang ternyata JAUH lebih mewah daripada kelas A. Dasar! Tidak ada yang namanya keadilan di tempat ini!
Dan sekarang? Apa yang akan aku lakukan?
a) mengambil semua barangku di kelas sembari menangis sesugukan.
b) berlari mencari anak-anak keparat yang sudah mengadukan tingkahku pada Tsunade dan menghajar mereka semua.
c) langsung pulang ke rumah dan mengadukan tingkah Tsunade pada ibuku, dan bidadari pembelaku itu akan balik menuntut sekolah ini.
d) berjalan santai kembali ke kelas, mengikuti pelajaran sampai sekolah berakhir dan mengurus pindah ke sekolah baru setelahnya.
e) cabut dari sekolah dan menghubungi Sai.
Yah, tentu saja jawabannya yang terakhir. Sai selalu punya waktu untukku. bahkan saat jam sekolah seperti ini, dia akan bolos demi menghiburku.
To be continued
