Piknik - 2

Tujuan mereka setelah meletakkan barang di villa keluarga adalah ke pantai yang jaraknya tak terlalu jauh. Jino dan Yoogeun sudah berlarian. Keempat orang dewasa lainnya hanya memperhatikan. Mereka mengambil posisi di bawah pohon.

Menggelar tikar. Menyiapkan camilan. Duduk dengan manis disana. Kedua orang tua Kyuhyun memilih menemani Yesung masih masih merasa mual. Sementara Kyuhyun menemani kedua putranya.

"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Kyuhyun untuk yang kesekian kalinya.

Sudah tiga kali Kyuhyun berlari dari tempatnya bermain bersama kedua jagoan itu ke tempat mereka bersantai hanya untuk bertanya begitu. Membuat ayah dan ibunya gemas. Dan membuat Yesung bingung.

"Aku baik-baik saja. Hanya perlu sedikit beristirahat. Apa kau lelah? Mau kugantikan?" Yesung bertanya polos.

"Tidak" Kyuhyun mengacak rambut halus Yesung. Tidak sopan memang, mengingat Yesung lebih tua empat tahun darinya. "Hanya segera beritahu aku saat kau perlu sesuatu. Aku khawatir"

Yesung mengangguk. Masih merasa bingung sebenarnya. Tapi dia hanya membiarkan Kyuhyun berbuat semaunya. Perutnya masih terasa seperti diaduk-aduk.

"Kau perlu minyak angin Yesungie?" Nyonya Cho bertanya setelah Kyuhyun pergi.

Yesung menggeleng, "Aku sudah membelinya tadi, Nyonya. Juga sudah ku gunakan"

"Cha, kemarilah. Berbaringlah sebentar" Yesung tersenyum mendengar perkataan Tuan Cho.

"Tidak apa-apa, Tuan. Aku hanya ingin bersandar saja"

"Baiklah. Jangan memaksakan dirimu. Jika masih sakit segera beritahu kami"

"Ne"

Yesung akhirnya memilih bersandar di pohon kelapa di belakangnya. Matanya memandang jauh ke depan. Otaknya berpikir tentang rencana apa yang harus dia lakukan setelah ini.

Sejujurnya, orang tuanya di Cheonan sudah beberapa kali memintanya segera menikah. Membangun rumah tangga dengan orang pilihan Yesung. Tak masalah laki-laki atau perempuan. Yang jelas itu membuat Yesung bahagia.

Dan Yesung pun tak menampik jika dia juga ingin menikah. Tigapuluh empat tahun bukanlah usia yang muda lagi. Sudah saatnya dia menikah.

Namun Yesung masih saja belum menemukan orang yang dicintainya selain Kyuhyun. Yeah, namja manis itu menyukai majikannya sejak beberapa tahun lalu. Sempat dipendamnya dalam-dalam perasaan itu karena Kyuhyun sudah menikah. Namun perlahan kembali muncul setelah dua tahun ini mereka semakin dekat.

Orang tuanya juga sudah berkata berulang kali untuk tidak berharap kepada Kyuhyun. Yesung merasa Kyuhyun masih mencintai mendiang istrinya. Lagipula Kyuhyun itu straight, bukan bi sepertinya.

Pemikiran-pemikiran yang berputar di kepalanya membuat Yesung mengantuk hingga akhirnya tertidur. Angin pantai membuatnya sedikit rileks.

"Ne appa. Sebentar lagi. Bukankah aku sudah berjanji akan menikah di usia 35 atau 36 tahun?" Yesung sibuk melakukan telepon dengan kedua orang tuanya di teras villa. Topiknya masih sama, pernikahan.

"Ne, aku tidak lagi mengharapkannya jadi eomma dan appa bisa memilihkan calon pendamping untukku. Aku percaya pada kalian" sejujurnya sangat berat mengatakan hal itu. Namun Yesung tak punya pilihan.

Yesung adalah anak sulung. Adiknya tidak mau menikah jika Yesung belum menikah. Padahal sang adik sudah melamar kekasihnya. Sedangkan kedua orang tuanya sudah sangat ingin memiliki cucu.

Yesung sudah membicarakan soal ini. Jika yang Yesung nikahi nanti seorang laki-laki, maka mereka akan mengadopsi bayi dari panti asuhan. Sekali lagi orang tuanya tidak mempermasalahkan hal itu.

"Ne, jaga diri kalian. Mungkin 5 sampai 6 bulan ke depan aku akan mengundurkan diri. Setelah memastikan mereka menemukan perawat penggantiku"

Setelahnya sambungan telepon di tutup. Betapa terkejutnya Yesung saat melihat Kyuhyun berada di belakangnya. Menatapnya dengan pandangan yang tak mampu diartikan.

"Kyu-Kyu" panggil Yesung.

"Apa kau akan pergi? Kau akan mengundurkan diri? Kau mau meninggalkan kami?" Kyuhyun bertanya lirih. Sepenuhnya sadar dengan pertanyaannya.

"Ya-ya. Aku akan mengundurkan diri setelah kalian menemukan perawat penggantiku"

Kyuhyun tiba-tiba mencengkeram bahu Yesung, "Tidak akan ada. Tidak akan ada siapapun yang bisa menggantikanmu. Tidak akan ada yang sepertimu"

"Kyu-"

"Jangan pergi. Kami sudah terbiasa dengan keberadaan mu. Akan sangat aneh jika orang lain yang melakukan tugasmu. Aku yakin eomma, appa, Jino dan Yoogeun pasti tidak akan setuju jika kau mengundurkan diri" Kyuhyun berusaha meyakinkan Yesung agar tidak mengundurkan diri. Lima bulan lagi, enam bulan lagi, bahkan lima tahun lagi pun, Kyuhyun tidak akan membiarkan Yesung mengundurkan diri.

"Orang tuaku ingin aku segera kembali ke Cheonan, Kyu. Mereka akan menjodohkan ku"

Kyuhyun terdiam. Lidahnya kelu. Namun hatinya berontak, seolah ingin berkata jika Kyuhyun tidak ingin Yesung dijodohkan. Namun mati-matian Kyuhyun menahan kalimat itu.

"Kajja kita masuk. Anak-anak menunggumu di kamar" ucap Yesung kemudian melangkah masuk ke dalam.

"Tolong temani anak-anak sebentar. Aku...masih ingin di luar"

Yesung mengangguk, "Baiklah, jangan terlalu lama di luar. Angin malam tidak baik untuk kesehatan"

Kyuhyun hanya mengangguk. Kepalanya mendongak menatap langit malam begitu Yesung masuk. Otaknya kembali berputar.

Kenapa dia tak mau Yesung pergi? Kenapa dia merasa tak rela Yesung dijodohkan? Kenapa?

"Lima sampai enam bulan lagi ya" gumamnya. "Vic, apa kau akan setuju jika aku menahannya bersama kami? Apa kau tidak akan marah?"

Kyuhyun kembali tenggelam dalam lamunan yang panjang. Memikirkan segala kemungkinan. Memikirkan semua hal. Terutama memikirkan bagaimana caranya agar Yesung tetap bersama mereka selain cara itu.

Cara yang dipikirkan Kyuhyun memang sangat ampuh, namun itu pilihan terakhir. Banyak yang harus dipersiapkan.

Sebisa mungkin dia akan meyakinkan Yesung agar tidak mengundurkan diri.

Tepat pukul 1 malam Kyuhyun baru memasuki kamarnya. Matanya kembali menangkap pemandangan yang sangat biasa baginya. Yesung bersandar dengan kedua putranya di samping kiri dan kanannya dan ponsel yang tergeletak.

Senyumnya merekah saat mengetahui jika yang sedang dibuka di ponsel Yesung adalah dongeng sebelum tidur. Kali ini ceritanya tentang dua orang anak yang tersesat kemudian bertemu dengan petani muda yang baik.

Ah! Fokus Kyuhyun beralih pada sosok si namja manis yang begitu menyayangi dan disayangi anak-anaknya. Kyuhyun tak bisa membayangkan jika Yesung benar-benar mengundurkan diri dan pergi dari mereka, pergi darinya.

Sesuatu dalam dirinya menolak tegas hal itu. Yesung adalah bagian dari keluarganya, bagian dari dirinya.

Kyuhyun melangkah perlahan mendekati ketiga makhluk menggemaskan itu. Melepas dekapan putra-putranya pada Yesung . Dengan begitu perlahan, Kyuhyun menggendong tubuh kurus itu dan membawanya ke kamarnya, kamar mereka berdua.

Yesung sama sekali tidak terusik. Padahal biasanya namja itu sensitif dengan sesuatu yang mengusik tidurnya. Setelah membaringkan Yesung, Kyuhyun pun berbaring di sampingnya dengan posisi menghadap ke arahnya.

"Aku tau kau terbangun" ucap Kyuhyun pelan, setengah gemas dengan pengasuh anaknya ini.

Kelopak mata Yesung bergerak-gerak sebelum akhirnya terbuka. "Da-darimana kau tau aku terbangun?" tanyanya.

Kyuhyun mengulurkan tangannya hingga Yesung berhadapan dengannya. Jadi, posisi mereka saat ini, saling berhadapan dengan posisi miring.

"Aku tau hampir semua hal tentangmu. Kau sensitif bahkan saat tidur"

"Kukira aku sudah berakting dengan baik" gumam Yesung.

"Aktingmu sangat baik. Bahkan aku pun sempat mengira kalau kau masih tidur" tangan Kyuhyun terulur memainkan poni Yesung.

"Lalu? Yang membuatmu jadi tau aku tidak tidur?"

Kyuhyun tersenyum kecil, "Wajahmu"

"Huh?"

"Tidak ada orang tidur yang bisa memerah sampai ke telinga Yesungie" goda Kyuhyun.

Yesung membulatkan matanya, "A-aku tidak merona!"

"Kau tidak merona, tapi memerah"

Yesung refleks menutup telinganya menggunakan tangan. Refleks membuat Kyuhyun tertawa.

"A-aku harus segera kembali ke kamar"

Kyuhyun menahan Yesung yang sudah akan beranjak. "Ini kamarmu. Jadi kau tidak boleh pergi"

"Tapi-"

"Kau dengar aku Kim soon to be Cho Yesung? Kau tidak boleh pergi"

Yesung seketika blank. Ucapan Kyuhyun kembali membuatnya berdebar.

"A-haha. Haha. Pasti sudah terlalu banyak orang yang kau gombali. Kau jadi pandai menggombal sekarang" ucapnya kikuk.

"Tidak. Hanya padamu. Kapan kau pernah mendengar aku bercerita tentang aku yang mengumbar rayuan kesana kemari? Tak pernah kan?"

"Memang tak pernah"

Kyuhyun mencubit hidung Yesung gemas. "Tidak pernah. Dan kau masih meragukanku?"

"Aku tidak meragukanmu!"

"Lalu?"

Yesung diam, "Eum, hanya menebak"

Setelahnya hening. Mereka hanya saling memandang. Ah, lebih tepatnya hanya Kyuhyun yang memandangi Yesung. Sedangkan Yesung lebih ke memandang secara acak. Terlalu gugup melihat pandangan Kyuhyun padanya.

"Hyung, liat aku"

"Hah? Ap-apa"

"Kau benar-benar ingin pergi dari sini? Meninggalkan anak-anak? Meninggalkan kedua orang tuaku? Dan...meninggalkan aku?"

"Bukan keinginanku. Sejujurnya aku masih ingin bersama kalian tapi orang tuaku ingin aku segera menikah. Adikku berjanji tidak akan menikah sebelum aku menikah"

Kyuhyun menghela nafas. "Baiklah. Kajja tidur"

Yesung hanya mengangguk. Hatinya sakit saat Kyuhyun terlihat biasa saja. Akhirnya dia hanya menurut dan memejamkan mata.

-Keesokan harinya-

Hari ini mereka berniat pergi jalan-jalan lagi. Yesung sudah baikan. Perutnya sudah kembali normal. Tapi pagi ini, tuan muda Cho Kyuhyun membuat keributan pagi-pagi.

"Yesungie! Pinjam ponsel. Ponselku entah dimana"

"Dasar ceroboh. Telpon pakai ponselku. Aku akan mencarinya"

Kyuhyun tersenyum. Jarinya bergerak lincah di atas layar ponsel Yesung. Kemudian menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Yoboseyo, Kim ahjumma. Ah ini Cho Kyuhyun. Apa Kim ahjusshi sedang bersamamu?"

Yesung terkejut saat Kyuhyun malah menelepon kedua orang tuanya. Bahkan kedua orang tua Kyuhyun pun bingung dengan kelakuan anaknya. Sedangkan kedua putranya hanya memandang sang ayah dengan polos.

"Ah ahjusshi. Maafkan aku mengganggu pagi-pagi. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Aku, Cho Kyuhyun, meminta restu pada kalian untuk menikahi putra sulung kalian" Kyuhyun mengatakannya dengan tatapan yang terarah pada Yesung yang sedang terkejut. "Putra kalian bilang dia akan segera mengundurkan diri lima-enam bulan lagi. Dan aku tak ingin hal itu terjadi. Aku tak ingin Yesung pergi dariku, dari keluarga kami. Untuk itu, ijinkan aku menikahinya ahjusshi. Oh. Ahjusshi jangan khawatir, aku tentu saja mencintainya"

Kyuhyun tersenyum sangat lembut. Yesung sudah sangat memerah disana. Kedua orang tuanya pun hanya menggelengkan kepalanya.

"Ah, ahjusshi bisa berbincang dengan orang tuaku dulu. Ada yang harus kuselesaikan dengan putra ahjusshi"

Kyuhyun menyerahkan ponsel Yesung pada orang tuanya dan berjalan menghampiri namja manis itu. Memeluknya dengan erat.

"Kau tidak bisa pergi dariku. Seumur hidupmu akan kau habiskan denganku. Membesarkan Jino dan Yoogeun bersama. Mengadopsi satu atau dua anak lagi jika kau mau. Kau tidak akan menikah dengan orang lain karena kau akan menikah denganku"

"Kyu-"

"Ssshh, aku tidak menerima penolakan. Aku mencintaimu"

"Tapi, Victoria-"

"Victoria pasti setuju. Kau masih ingat apa yang dikatakan Vic padamu?"

"Dia-dia memintaku mengurusmu dan anak-anak"

"Jadi?"

"Ta-tapi-"

Chup!

"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Dan aku mencintaimu. Ah, aku mungkin tak bisa melupakan Vic, bagaimanapun juga dia yang melahirkan anak-anakku dan pernah menjadi orang yang sangat kucintai. Maaf soal itu"

"Ya! Kenapa kau minta maaf. Justru aku akan sangat marah dan pergi darimu jika kau melupakan Vic. Bagaimanapun Vic sudah baik sekali membiarkanku mencintaimu tanpa membocorkan rahasia ku ini pada orang lain. Aku merasa bersalah karena mencintai suaminya" cerocos Yesung.

Sadar apa yang dia katakan, Yesung langsung melepas pelukan mereka dan menjauh. Sayangnya Kyuhyun kembali menariknya dan memeluk pinggangnya.

"Kau sudah mengatakan kau mencintaiku. Tandanya kau menerima lamaranku, kan?"

"Ti-tidak. Siapa yang bilang begitu?"

"Aku tidak menerima penolakan sayang. Besok lusa kita menemui orang tuamu"

"Ya! Dasar seenaknya"

"Kenapa? Aku hanya berusaha menjadikanmu milikku seutuhnya"

Dan mereka kembali terlibat perdebatan kecil. Tanpa menghiraukan kedua orang tua dan dua anak-anak yang mulai bosan mendengar perdebatan tak penting itu.

END

YEEEEEE AKHIRNYA END~~

Maapkeun kalo ngga sesuai ekspektasi wkwkwkwk

Biglove, Clou3elf