Naruto © Masashi Kishimoto
Characters: Hatake Kakashi (18), Uchiha Obito (18), Nohara Rin (18)
Pairing: Slight ObiRin, KakaObiRin Friendship
Rate: T
Five Senses
Vision.
Hujan adalah substansi pembawa berkah bagi mereka yang membutuhkan.
Hujan membasahi dataran yang tandus. Hujan memberikan cadangan air tanah untuk para makhluk hidup. Hujan mendatangkan pelangi dan penghargaan terhadap hangatnya sinar matahari yang datang kemudian.
Kakashi menyukai fenomena dalam keadaan udara yang satu ini.
Tapi tidak sekarang.
Terutama saat mereka diserang belasan ANBU dan shinobi dengan level Jounin dari Kirigakure. Terutama saat Kakashi yakin bahwa hujan kali ini tidak bersifat natural, namun merupakan hasil dari Ninjutsu lawan. Taktik yang cukup efektif, terutama jika salah satu partisipan dalam pertempuran hidup-mati kali ini mengandalkan elemen api.
Hujan turun semakin deras membatasi pergerakan, penglihatan dan penciuman Kakashi. Ia beruntung ketiga indera miliknya itu lebih tajam dari orang biasa.
Kakashi pun menjaga Obito agar selalu ada di area pandangannya. Para shinobi ber-elemen air bukanlah lawan ideal untuk Obito. Kakashi tahu Obito berusaha untuk melakukan hal yang sama di tengah-tengah kekacauan itu. Dan lagi, Kakashi tidak perlu cemas, karena ia hanya perlu untuk membuka mata kirinya agar Obito bisa melihat apa yang ia lihat.
"Kakashi! Rin... apa kau melihat Rin?!" Remaja berdarah panas itu berseru kepada partner-nya, "Dimana dia?!"
Sebuah ledakan kembali terjadi dan Obito berteriak marah. Kakashi masih sempat untuk menghela nafas.
(Berhenti menggunakan Gōkakyū-mu, bodoh!)
Kakashi tahu, karena sejak tadi ia juga memikirkannya.
Rin, yang perlahan menjauh dari pandangannya dan Obito karena desakan musuh. Rin, yang sekarang berjuang seorang diri dan mungkin merasakan kepanikan mulai melanda karena ia tidak bisa melihat kedua rekannya, dan Rin yang pancaran chakra-nya semakin melemah.
Tapi setidaknya. Kakashi masih bisa merasakan keberadaannya di kejauhan. Mangekyou-nya berputar dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari sebelumnya.
Ia harus menemukan Rin—kau harus menemukan Rin! (Obito sekarang berteriak dalam kepalanya, membuat Kakashi mulai berpikir apakah Sharingan dilengkapi dengan kemampuan telepati).
Jadi Kakashi memejamkan kedua matanya, dan Obito membantu.
.
.
.
"Tunggu aku, Rin..."
.
.
.
"Apa kau ada di sana? Kami pasti akan menemukanmu."
.
.
.
"... Hanya beberapa meter di hadapanmu, sialan!" Teriakan parau Obito memaksa kedua matanya untuk bekerja kembali.
Kakashi menyalurkan hampir seluruh chakra yang dimilikinya di tangan kanan. Ia melesat menghabisi satu, dua, empat shinobi sebelum ia akhirnya sampai ke tempat Rin.
Rin hanya bisa melihat sekelebat cahaya biru yang menyilaukan mata sebelum sebuah lengan yang kuat melingkar di pinggangnya dan menariknya pergi. Kecemasan sempat melanda Kakashi ketika ia menemukan Rin yang kehilangan kesadaran, namun lega karena nyawanya tidak terancam. Pandangan Kakashi sendiri mulai kabur karena cadangan chakra-nya sendiri yang menipis.
Namun Kakashi tetap memaksa kedua matanya untuk terus terbuka. Hanya karena ia tidak ingin melepaskan pandangannya lagi dari Rin dan agar Si Uchiha berisik itu juga bisa melihatnya.
"Kita berhasil menyelamatkannya, Obito."
.
.
.
Ketika Rin kembali membuka mata, hal pertama yang dikenalinya adalah wajah bermasker yang dihiasi sebuah senyum tak terlihat. Kakashi duduk bersila di hadapan Rin dengan postur santai yang menyembunyikan keletihan luar biasa.
Tangan yang besar dan sedikit kasar meremas tangan mungilnya dengan lembut, "Hei... kau sudah aman sekarang."
Perlahan, mata Rin beralih ke atas dan melihat satu lagi wajah familiar yang dihiasi senyum lebar. Ia lalu menyadari bahwa dirinya tengah berbaring di pangkuan Obito.
"Bagaimana—" Rin mencoba untuk berbicara, namun kata-katanya terhentikan oleh tawa Obito yang datang kemudian, begitu bebas dan tanpa beban.
Tawa lepas itu segera disusul helaan nafas serta intonasi monoton yang familiar, "Kenapa kau bisa tertawa seperti itu, dango-baka... kau sadar kan kalau bantuan tidak datang secepatnya kita benar-benar kacau."
"Bukan salahku kalau stamina-mu payah, ero-baka. Mungkin kau masih harus banyak latihan, Kakashi-kun."
"Hm. Mau coba satu ronde denganku di sini? Maksudku, sekarang juga?"
"Oooh, aku tidak takut... serang aku kapanpun kau siap, ojii-san. Aku yakin kau akan jatuh tersandung kakimu sendiri."
Rin tidak tahu kapan tepatnya ia kembali dihanyutkan oleh kegelapan, namun pertengkaran kedua rekan setimnya yang tidak pernah berubah sejak mereka masih duduk di bangku Akademi itu bertindak sebagai pengantar tidur tak terganggunya sampai ia tiba di Konoha.
.
.
.
Epilogue.
Rin terbangun dalam sebuah kamar kecil di rumah sakit.
Kakashi berada tidak jauh darinya, duduk santai bersandar pada kursi alumunium dengan buku oranye yang khas terselip di satu tangan. Rin tidak bisa melihat wajahnya. Obito mendominasi satu lagi tempat tidur kosong di sebelah Rin dengan seragam Jounin lengkap. Ia tampaknya tidak mengalami cedera serius, hanya memanfaatkan ranjang yang ada sebagai fasilitas tidur siangnya.
Dengkuran halus yang lalu terdengar memastikan asumsi Rin. Medic-nin itu berusaha menahan tawa.
Gerakan-gerakan kecil yang dibuat Rin menarik atensi Kakashi dari alam fantasi.
"Kau tidur sambil terus tersenyum," Kakashi berbicara dengan Icha-Icha yang menutupi bagian bawah wajahnya dan sang kunoichi pun menyadari bahwa Kakashi telah menurunkan maskernya.
"Mimpi indah?"
Sebelah mata Kakashi menghilang menjadi satu lengkung menyenangkan. Rin tahu bahwa, saat ini, Kakashi tengah tersenyum bahagia—mungkin lega—dan Rin pun mengangguk, menampakkan gestur serupa.
"Tentu saja... karena ada Kakashi dan Obito di dalamnya."
Fin.
A/N: Vision adalah bagian terakhir dari Five Senses. Terima kasih banyak untuk: Freeya Lawliet, skyesphantom, Patto-san, avamura dan chocovic-chu yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan me-review chapter-chapter sebelumnya :)
Sampai jumpa di fic lainnya!
